Sekjen Perhimpunan Ulama Muqawama Internasional di Lebanon menyebut klaim Arab Saudi terkait serangan rudal pejuang Yaman ke kota suci Mekah, tidak berdasar.
Syeikh Maher Hammoud, Sekjen Perhimpunan Ulama Muqawama Internasional di Lebanon (29/10) mengatakan, Saudi berbohong terkait serangan rudal Yaman ke kota Mekah. Menurutnya, hal itu dilakukan Riyadh untuk membangkitkan kemarahan Muslimin atas pasukan Ansarullah, Yaman.
Syeikh Maher Hammoud menambahkan, klaim absurd dan kebohongan semacam itu disampaikan untuk memprovokasi Muslimin agar melawan Ansarullah, Yaman.
Kementerian Pertahanan Yaman, Kamis (27/10) malam mengabarkan ditembakknya rudal balistik Burkan-1 ke arah bandara King Abdulaziz di kota Jeddah, Barat Saudi.
Sumber-sumber media Saudi, dengan tujuan untuk menipu opini publik dunia, Jumat (28/10) mengklaim, sebuah rudal balistik milik pasukan Yaman diluncurkan dari kota Saada, Utara negara itu ke kota suci Mekah.
Realitasnya, komite-komite rakyat dan militer Yaman selalu menyerang pangkalan-pangkalan militer Saudi di beberapa wilayah dengan rudal, dalam aksi balasan atas kejahatan koalisi Riyadh yang sejak Maret 2015 melancarkan agresi militer luas ke Yaman.
Showing posts with label Arab Saudi. Show all posts
Showing posts with label Arab Saudi. Show all posts
Monday, October 31, 2016
Inggris: Rudal Ansarullah Yaman Targetkan Jeddah, Bukan Mekkah
Pernyataan yang dirilis pada Minggu (31/10/2016) juga menegaskan bahwa rudal scud yang ditembakkan oleh Yaman menargetkan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, bukan kota Mekkah. Demikian dilaporkan televisi al-Mayadeen, Lebanon.
"Pada tanggal 27 Oktober, sebuah rudal scud diluncurkan dari wilayah yang dikuasai oleh Ansarullah Yaman. Rudal ini tampaknya menargetkan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah. Rudal itu dicegat oleh sistem pertahanan udara Arab Saudi," kata pernyataan tersebut.
Arab Saudi mengklaim bahwa rudal yang ditembakkan oleh Ansarullah Yaman menargetkan kota suci Mekkah. Riyadh ingin membangkitkan kemarahan kaum Muslim dan melancarkan propaganda terhadap Ansarullah.
Koalisi pimpinan Saudi menuding Ansarullah Yaman ingin menyerang kota Mekkah, namun gerakan ini membantah keras tudingan tersebut.
"Pada tanggal 27 Oktober, sebuah rudal scud diluncurkan dari wilayah yang dikuasai oleh Ansarullah Yaman. Rudal ini tampaknya menargetkan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah. Rudal itu dicegat oleh sistem pertahanan udara Arab Saudi," kata pernyataan tersebut.
Arab Saudi mengklaim bahwa rudal yang ditembakkan oleh Ansarullah Yaman menargetkan kota suci Mekkah. Riyadh ingin membangkitkan kemarahan kaum Muslim dan melancarkan propaganda terhadap Ansarullah.
Koalisi pimpinan Saudi menuding Ansarullah Yaman ingin menyerang kota Mekkah, namun gerakan ini membantah keras tudingan tersebut.
Friday, October 14, 2016
Awal Berakhirnya Hubungan Arab Saudi-Mesir ?
Pemerintah Mesir mendukung draf Rusia terkait kondisi Suriah, namun Abdullah al-Moallimi, duta besar Arab Saudi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengkritik sikap Kairo dan menyebutnya sangat menyakitkan. Setelah pengumuman sikap Mesir ini, perusahaan Aramco berencana menghentikan pengiriman bantuan minyak Arab Saudi ke Kairo.
Selain itu, aktivitas televisi al-Arabiya di Kairo segera ditutup menyusul tensi kedua negara. Mesir adalah negara Arab terbesar, namun negara ini sejak lama kehilangan perannya sebagai kekuatan besar dan pemimpin di kawasan. Faktor utamanya adalah eskalasi krisis ekonomi yang melilit Kairo, di mana pemerintahan Abdel Fattah el-Sisi pun tidak terkecuali.
Berkuasanya el-Sisi di Mesir, kebutuhan ekonomi Kairo serta kecenderungan politik Arab Saudi khususnya penentangannya terhadap Ikhwanul Muslimin serta upaya Riyadh mencegah kehancuran konstelasi kekuatan regional mendorong kedua negara memperkokoh hubungan bilateralnya.
Ketika kudeta tahun 2013 meletus di Mesir, Arab Saudi adalah negara pertama yang mengakui secara resmi kudeta militer terhadap Mohammad Morsi dan mengucapkan selamat atas terbentuknya pemerintahan baru di Kairo. Arab Saudi bahkan dengan berani menyebut kekerasan militer pada Agustus 2013 terhadap pendukung Morsi yang mengakibatakn ribuan warga Mesir tewas dan terluka sabagai perang anti terorisme.
Dari sisi ekonomi, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait, tiga investor Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) kurang dari satu pekan dari kudeta tahun 2013 berjanji mengucurkan dana 12 miliar dolar untuk membantu perekonomian Mesir. Paket bantuan tersebut dikemas dalam bentuk hutang, investasi dan produksi minyak.
Bantuan finansial Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait membuat cadangan devisa Bank Sentral Mesir pada Agustus 2013 bertambah menjadi 18,9 miliar dolar. Angka ini tercatat tertinggi sejak November 2011. Pada November 2013, berbagai media melaporkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjamin dana kontrak senjata Mesir dan Rusia senilai dua miliar dolar. Bantuan ini pun berlanjut di era pemerintahan el-Sisi.
Langkah lain Arab Saudi mendukung pemerintahan el-Sisi adalah mencantumkan Ikwanul Muslimin di list kelompok teroris di samping al-Qaeda dan Front al-Nusra. Langkah ini dilakukan pada Januari 2014 bersama Uni Emirat Arab dan Kuwait.
Mengingat langkah-langkah tersebut, Abdel Fattah el-Sisi setelah berkuasa pada Juli 2014 melakukan kunjungan luar negeri pertama ke Aljazair dan Agustus 2014 ke Arab Saudi. Selama dua tahun lalu, el-Sisi beberapa kali berkunjung ke Arab Saudi dan berunding dengan petinggi Riyadh. Pejabat Arab Saudi setelah berkuasanya el-Sisi juga beberapa kali melakukan kunjungan ke Kairo, di antaranya kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz pada April 2016.
Meski keduanya memiliki hubungan luas, namun Kairo dan Riyadh terlibat friksi serius terkait sejumlah isu regional khususnya krisis Suriah. Meski pemerintah Mesir di terlibat perang di Yaman dalam koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, namun partisipasinya sangat kecil dan terbatas. Menurut sejumlah pengamat, Mesir terlibat perang di Yaman demi kelangsungan bantuan ekonomi Arab Saudi.
Friksi serius Mesir dan Arab Saudi terkait krisis Suriah. Setelah berkuasanya Abdel Fattah el-Sisi, pemerintah Mesir berulang kali menekankan bahwa krisis Suriah adalah isu internal dan tidak dapat diselesaikan dengan intervensi asing. Dalam kasus ini, Kairo berbeda dengan Riyadh.
Friksi ini membuat pemerintah el-Sisi mendukung draf yang diusung Rusia terkait krisis Suriah, hal ini tentu saja membuat geram Riyadh. Realitanya adalah meski pemerintah Mesir tergantung pada Arab Saudi karena menghadapi krisis ekonomi, namun Kairo masih belum bisa melupakan masa lalunya meski tengah dililit kendala ekonomi. Mesir tidak bersedia berada di bawah kekuasaan dan pengaruh Arab Saudi yang sebagian pemimpinnya masih mentah dan kurang pengalaman. Bagi Mesir, nama Gamal Abdul Nasser membuat mereka sangat bangga.
Selain itu, aktivitas televisi al-Arabiya di Kairo segera ditutup menyusul tensi kedua negara. Mesir adalah negara Arab terbesar, namun negara ini sejak lama kehilangan perannya sebagai kekuatan besar dan pemimpin di kawasan. Faktor utamanya adalah eskalasi krisis ekonomi yang melilit Kairo, di mana pemerintahan Abdel Fattah el-Sisi pun tidak terkecuali.
Berkuasanya el-Sisi di Mesir, kebutuhan ekonomi Kairo serta kecenderungan politik Arab Saudi khususnya penentangannya terhadap Ikhwanul Muslimin serta upaya Riyadh mencegah kehancuran konstelasi kekuatan regional mendorong kedua negara memperkokoh hubungan bilateralnya.
Ketika kudeta tahun 2013 meletus di Mesir, Arab Saudi adalah negara pertama yang mengakui secara resmi kudeta militer terhadap Mohammad Morsi dan mengucapkan selamat atas terbentuknya pemerintahan baru di Kairo. Arab Saudi bahkan dengan berani menyebut kekerasan militer pada Agustus 2013 terhadap pendukung Morsi yang mengakibatakn ribuan warga Mesir tewas dan terluka sabagai perang anti terorisme.
Dari sisi ekonomi, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait, tiga investor Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) kurang dari satu pekan dari kudeta tahun 2013 berjanji mengucurkan dana 12 miliar dolar untuk membantu perekonomian Mesir. Paket bantuan tersebut dikemas dalam bentuk hutang, investasi dan produksi minyak.
Bantuan finansial Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait membuat cadangan devisa Bank Sentral Mesir pada Agustus 2013 bertambah menjadi 18,9 miliar dolar. Angka ini tercatat tertinggi sejak November 2011. Pada November 2013, berbagai media melaporkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjamin dana kontrak senjata Mesir dan Rusia senilai dua miliar dolar. Bantuan ini pun berlanjut di era pemerintahan el-Sisi.
Langkah lain Arab Saudi mendukung pemerintahan el-Sisi adalah mencantumkan Ikwanul Muslimin di list kelompok teroris di samping al-Qaeda dan Front al-Nusra. Langkah ini dilakukan pada Januari 2014 bersama Uni Emirat Arab dan Kuwait.
Mengingat langkah-langkah tersebut, Abdel Fattah el-Sisi setelah berkuasa pada Juli 2014 melakukan kunjungan luar negeri pertama ke Aljazair dan Agustus 2014 ke Arab Saudi. Selama dua tahun lalu, el-Sisi beberapa kali berkunjung ke Arab Saudi dan berunding dengan petinggi Riyadh. Pejabat Arab Saudi setelah berkuasanya el-Sisi juga beberapa kali melakukan kunjungan ke Kairo, di antaranya kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz pada April 2016.
Meski keduanya memiliki hubungan luas, namun Kairo dan Riyadh terlibat friksi serius terkait sejumlah isu regional khususnya krisis Suriah. Meski pemerintah Mesir di terlibat perang di Yaman dalam koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, namun partisipasinya sangat kecil dan terbatas. Menurut sejumlah pengamat, Mesir terlibat perang di Yaman demi kelangsungan bantuan ekonomi Arab Saudi.
Friksi serius Mesir dan Arab Saudi terkait krisis Suriah. Setelah berkuasanya Abdel Fattah el-Sisi, pemerintah Mesir berulang kali menekankan bahwa krisis Suriah adalah isu internal dan tidak dapat diselesaikan dengan intervensi asing. Dalam kasus ini, Kairo berbeda dengan Riyadh.
Friksi ini membuat pemerintah el-Sisi mendukung draf yang diusung Rusia terkait krisis Suriah, hal ini tentu saja membuat geram Riyadh. Realitanya adalah meski pemerintah Mesir tergantung pada Arab Saudi karena menghadapi krisis ekonomi, namun Kairo masih belum bisa melupakan masa lalunya meski tengah dililit kendala ekonomi. Mesir tidak bersedia berada di bawah kekuasaan dan pengaruh Arab Saudi yang sebagian pemimpinnya masih mentah dan kurang pengalaman. Bagi Mesir, nama Gamal Abdul Nasser membuat mereka sangat bangga.
Wednesday, October 12, 2016
Amerika Ikut Berperang Setelah Koalisi Arab Gagal Total
Amerika terpaksa harus ikut berperang dalam konflik Suriah setelah koalisi Arab yang dimotori Saudi Arabia dan Qatar mengalami kegagalan total karena sibuk bertengkar sendiri dan mengalami kehancuran di front Yaman.
"Setelah hancurnya kapal perang Uni Emirat Arab pada tanggal 1 Oktober, tentara negara-negara diktator-petrodollar segan untuk melanjutkan perang di Suriah dengan kekuatan sendiri. Adalah jelas bagi semua orang bahwa rudal yang menghancurkan kapal Uni Emirat itu adalah senjata yang sangat canggih yang tidak pernah terlihat di semua pertempuran. Rudal ini tidak ditembakkan oleh orang-orang Houthi atau para pendukung mantan presiden Ali Saleh, melainkan oleh Rusia yang secara diam-diam telah berada di Yaman sejak musim panas lalu," demikian tulis Thierry Meyssan di situs Voltairenet.org, 7 Oktober lalu.
Pendapat ini diperkuat setelah sehari kemudian, Sabtu (8 Oktober), Saudi Arabia yang panik, membom kerumunan orang-orang yang tengah berduka di Sana'a, mengakibatkan ratusan orang sipil tak berdosa tewas mengerikan.
Setelah 1,5 tahun berperang di Yaman, koalisi militer yang dipimpin Saudi Arabia tidak saja gagal total menaklukkan Yaman dan mendudukkan kembali pemimpin boneka pilihan mereka, namun juga memperlihatkan koordinasi yang buruk yang diwarnai persaingan pengaruh antara Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab. Sementara dalam beberapa waktu terakhir, perlawanan Yaman justru semakin intensif dan efektif.
Dengan senjata-senjata baru, seperti diklaim Meyssan berasal dari Rusia dan kemungkinan besar juga dari Iran, pasukan perlawanan Yaman mampu memberikan pukulan mematikan. Beberapa kali rudal-rudal ballistik yang ditembakkan Yaman menghancurkan pangkalan-pangkalan militer koalisi Saudi. Daya jangkau rudal-rudal ballistik itu pun semakin menakutkan Saudi. Beberapa waktu lalu sebuah rudal jatuh di Thaif di jantung Saudi Arabia, 700 km dari perbatasan Yaman. Ini menunjukkan bahwa kota-kota besar Saudi, termasuk ibukota Riyadh, berada dalam jangkauan rudal-rudal Yaman.
Setelah penembakan kapal perang Uni Emirat Arab tanggal 1 Oktober, pada tanggal 7 Oktober para pejuang Yaman menyerang pangkalan militer koalisi Saudi di Ma'rib, menewaskan tiga jendral, yaitu Abdulrab al-Shadadi, Shayef Ameri, dan Jendral Ali Hamisi, demikian seperti dilaporkan al-Masirah TV. Laporan itu menambahkan bahwa para pejuang juga menembakkan rudal ballistik ke pangkalan militer al-Faisal milik koalisi Saudi di dekat kota Khamis Mushait di tenggara Saudi Arabia, menewaskan sejumlah tentara koalisi.
Bila di Yaman, Saudi bertengkar dengan Uni Emirat Arab, di front Suriah Saudi Arabia bersaing dengan Qatar. Akibatnya, kelompok teroris dukungan Saudi, ISIS, terlibat pertempuran sporadis melawan kelompok teroris dukungan Qatar, Al Nusra. Pada saat yang sama, koalisi Suriah yang didukung Rusia dan Iran, semakin menunjukkan soliditas dan meraih kemajuan signifikan di medan perang. Kini, koalisi ini bahkan tengah melancarkan pukulan terakhir terhadap para teroris di Aleppo timur.
Melihat proyek besar menggulingkan Bashar al Assad yang telah dilakukan sejak tahun 2011 terancam gagal total dengan bebasnya kota Aleppo dari pemberontakan, Amerika pun 'turun gelanggang'. Setelah menggagalkan secara sepihak perjanjian gencatan senjata dengan Rusia dengan membom pasukan Suriah di Deir Azzour, Amerika kini tengah mempertimbangkan dengan serius rencana pemboman besar-besaran terhadap Suriah.
Rencana ini telah disosilisasikan kepada para anggota NATO pada bulan September lalu dan kini telah didukung oleh para pejabat, politisi dan media massa Amerika.
Menyadari bahaya dari serangan Amerika yang mau tidak mau bakal mengenai pasukan Rusia di Suriah, Rusia pun menambah kekuatannya di negara itu seperti sistem pertahanan udara Antey-2500, tiga kapal perang dan satu kapal induk yang akan tiba di lepas pantai Suriah bulan ini, serta penambahan armada udaranya. Rusia dikabarkan juga akan mengirim pasukan darat untuk membantu pembebasan Aleppo dari para teroris dukungan Amerika dan negara-negara Arab.
Melihat bahaya yang semakin mengancam dengan eskalasi yang tidak bisa diduga, Perancis pun melakukan langkah diplomatik untuk menurunkan ketegangan. Perancis pun menyusun draft resolusi DK-PBB yang diharapkan bisa menjembatani keinginan Amerika dan Rusia, namun ditolak Rusia yang melihat draft tersebut hanya menguntungakan para teroris.
Dalam draft resolusi itu Rusia dan Suriah dilarang melancarkan serangan udara ke Aleppo sehingga dipandang Rusia hanya menguntungkan para pemberontak-teroris yang kini terkepung di Aleppo timur. Sebaliknya, draft resolusi yang disusun Rusia juga ditolak Amerika. Maka kini publik dunia hanya bisa berharap adanya keajaiban yang bisa mencegah perang terbuka antara Amerika dan Rusia di Suriah. - Indonesian Free Press
"Setelah hancurnya kapal perang Uni Emirat Arab pada tanggal 1 Oktober, tentara negara-negara diktator-petrodollar segan untuk melanjutkan perang di Suriah dengan kekuatan sendiri. Adalah jelas bagi semua orang bahwa rudal yang menghancurkan kapal Uni Emirat itu adalah senjata yang sangat canggih yang tidak pernah terlihat di semua pertempuran. Rudal ini tidak ditembakkan oleh orang-orang Houthi atau para pendukung mantan presiden Ali Saleh, melainkan oleh Rusia yang secara diam-diam telah berada di Yaman sejak musim panas lalu," demikian tulis Thierry Meyssan di situs Voltairenet.org, 7 Oktober lalu.
Pendapat ini diperkuat setelah sehari kemudian, Sabtu (8 Oktober), Saudi Arabia yang panik, membom kerumunan orang-orang yang tengah berduka di Sana'a, mengakibatkan ratusan orang sipil tak berdosa tewas mengerikan.
Setelah 1,5 tahun berperang di Yaman, koalisi militer yang dipimpin Saudi Arabia tidak saja gagal total menaklukkan Yaman dan mendudukkan kembali pemimpin boneka pilihan mereka, namun juga memperlihatkan koordinasi yang buruk yang diwarnai persaingan pengaruh antara Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab. Sementara dalam beberapa waktu terakhir, perlawanan Yaman justru semakin intensif dan efektif.
Dengan senjata-senjata baru, seperti diklaim Meyssan berasal dari Rusia dan kemungkinan besar juga dari Iran, pasukan perlawanan Yaman mampu memberikan pukulan mematikan. Beberapa kali rudal-rudal ballistik yang ditembakkan Yaman menghancurkan pangkalan-pangkalan militer koalisi Saudi. Daya jangkau rudal-rudal ballistik itu pun semakin menakutkan Saudi. Beberapa waktu lalu sebuah rudal jatuh di Thaif di jantung Saudi Arabia, 700 km dari perbatasan Yaman. Ini menunjukkan bahwa kota-kota besar Saudi, termasuk ibukota Riyadh, berada dalam jangkauan rudal-rudal Yaman.
Setelah penembakan kapal perang Uni Emirat Arab tanggal 1 Oktober, pada tanggal 7 Oktober para pejuang Yaman menyerang pangkalan militer koalisi Saudi di Ma'rib, menewaskan tiga jendral, yaitu Abdulrab al-Shadadi, Shayef Ameri, dan Jendral Ali Hamisi, demikian seperti dilaporkan al-Masirah TV. Laporan itu menambahkan bahwa para pejuang juga menembakkan rudal ballistik ke pangkalan militer al-Faisal milik koalisi Saudi di dekat kota Khamis Mushait di tenggara Saudi Arabia, menewaskan sejumlah tentara koalisi.
Bila di Yaman, Saudi bertengkar dengan Uni Emirat Arab, di front Suriah Saudi Arabia bersaing dengan Qatar. Akibatnya, kelompok teroris dukungan Saudi, ISIS, terlibat pertempuran sporadis melawan kelompok teroris dukungan Qatar, Al Nusra. Pada saat yang sama, koalisi Suriah yang didukung Rusia dan Iran, semakin menunjukkan soliditas dan meraih kemajuan signifikan di medan perang. Kini, koalisi ini bahkan tengah melancarkan pukulan terakhir terhadap para teroris di Aleppo timur.
Melihat proyek besar menggulingkan Bashar al Assad yang telah dilakukan sejak tahun 2011 terancam gagal total dengan bebasnya kota Aleppo dari pemberontakan, Amerika pun 'turun gelanggang'. Setelah menggagalkan secara sepihak perjanjian gencatan senjata dengan Rusia dengan membom pasukan Suriah di Deir Azzour, Amerika kini tengah mempertimbangkan dengan serius rencana pemboman besar-besaran terhadap Suriah.
Rencana ini telah disosilisasikan kepada para anggota NATO pada bulan September lalu dan kini telah didukung oleh para pejabat, politisi dan media massa Amerika.
Menyadari bahaya dari serangan Amerika yang mau tidak mau bakal mengenai pasukan Rusia di Suriah, Rusia pun menambah kekuatannya di negara itu seperti sistem pertahanan udara Antey-2500, tiga kapal perang dan satu kapal induk yang akan tiba di lepas pantai Suriah bulan ini, serta penambahan armada udaranya. Rusia dikabarkan juga akan mengirim pasukan darat untuk membantu pembebasan Aleppo dari para teroris dukungan Amerika dan negara-negara Arab.
Melihat bahaya yang semakin mengancam dengan eskalasi yang tidak bisa diduga, Perancis pun melakukan langkah diplomatik untuk menurunkan ketegangan. Perancis pun menyusun draft resolusi DK-PBB yang diharapkan bisa menjembatani keinginan Amerika dan Rusia, namun ditolak Rusia yang melihat draft tersebut hanya menguntungakan para teroris.
Dalam draft resolusi itu Rusia dan Suriah dilarang melancarkan serangan udara ke Aleppo sehingga dipandang Rusia hanya menguntungkan para pemberontak-teroris yang kini terkepung di Aleppo timur. Sebaliknya, draft resolusi yang disusun Rusia juga ditolak Amerika. Maka kini publik dunia hanya bisa berharap adanya keajaiban yang bisa mencegah perang terbuka antara Amerika dan Rusia di Suriah. - Indonesian Free Press
Tuesday, October 11, 2016
Jenderal Soleimani: Mohammed bin Salman Bisa Membunuh Raja demi Merebut Takhta
Panglima Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Ghassem Soleimani mengatakan bahwa Pangeran Arab Saudi, wakil mahkota Mohammed bin Salman, begitu liar dan haus kekuasaan. Ia bahkan bisa membunuh ayahnya sendiri demi untuk merebut tahta.
Deputi Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, yang muda, anak ambisius Raja Salman bin Abdul Aziz yang juga menteri pertahanan begitu haus akan kekuasaan dan telah mengambil urusan negara ke tangannya dengan cara yang berani dan agresif hingga banyak yang percaya bahwa dia adalah ahli waris yang sebenarnya dan akan menggulingkan Putra Mahkota, Muhammad Bin Nayef, dengan satu atau lain cara dengan segera.

Dalam sebuah upacara di Teheran pada hari Rabu, Jenderal Soleimani mengatakan bahwa pangeran Saudi itu “sangat tidak sabar (untuk jadi raja) hingga ia bahkan mungkin bisa membunuh ayahnya sendiri, Raja Salman”.
Kenaikan pangkat Mohammed bin Salman telah dikelilingi oleh banyak intrik di istana, termasuk protes dari beberapa anggota kerajaan yang marah karena sang pangeran telah melompati garis suksesi.
Sumber Saudi mengungkap pada akhir Juni bahwa pangeran wakil mahkota muda Arab Saudi itu disarankan oleh UEA tentang bagaimana dia bisa memenangkan dukungan dari AS dan naik tahta pada akhir tahun.
Dua “sumber-sumber Saudi” telah mengatakan bahwa penguasa de facto UEA Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan, menasihati Mohammed mengenai strategi dua arah untuk menjadi pilihan yang lebih disukai Washington sebagai penguasa Saudi berikutnya.
Bin Zayed juga mengatakan bahwa bin Salman bahwa harus membuka “saluran komunikasi yang kuat” dengan Israel jika ia menjadi kandidat yang disukai Washington untuk menjadi raja.
Deputi Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, yang muda, anak ambisius Raja Salman bin Abdul Aziz yang juga menteri pertahanan begitu haus akan kekuasaan dan telah mengambil urusan negara ke tangannya dengan cara yang berani dan agresif hingga banyak yang percaya bahwa dia adalah ahli waris yang sebenarnya dan akan menggulingkan Putra Mahkota, Muhammad Bin Nayef, dengan satu atau lain cara dengan segera.

Dalam sebuah upacara di Teheran pada hari Rabu, Jenderal Soleimani mengatakan bahwa pangeran Saudi itu “sangat tidak sabar (untuk jadi raja) hingga ia bahkan mungkin bisa membunuh ayahnya sendiri, Raja Salman”.
Kenaikan pangkat Mohammed bin Salman telah dikelilingi oleh banyak intrik di istana, termasuk protes dari beberapa anggota kerajaan yang marah karena sang pangeran telah melompati garis suksesi.
Sumber Saudi mengungkap pada akhir Juni bahwa pangeran wakil mahkota muda Arab Saudi itu disarankan oleh UEA tentang bagaimana dia bisa memenangkan dukungan dari AS dan naik tahta pada akhir tahun.
Dua “sumber-sumber Saudi” telah mengatakan bahwa penguasa de facto UEA Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan, menasihati Mohammed mengenai strategi dua arah untuk menjadi pilihan yang lebih disukai Washington sebagai penguasa Saudi berikutnya.
Bin Zayed juga mengatakan bahwa bin Salman bahwa harus membuka “saluran komunikasi yang kuat” dengan Israel jika ia menjadi kandidat yang disukai Washington untuk menjadi raja.
Tuesday, October 4, 2016
AL Yaman Akan Tenggelamkan Setiap Kapal Tempur Saudi dan Sekutunya
Angkatan laut dan pasukan penjaga pantai Yaman memperingatkan Arab Saudi bahwa mereka akan menargetkan setiap kapal perang dari koalisi pimpinan Arab Saudi yang berani memasuki wilayah perairan negara itu.
“Jika sampai kami menyaksikan gerakan apapun yang tidak terkoordinasi dekat wilayah perairan Yaman atau ada pelanggaran perbatasan laut kami, maka kapal perang dari Arab Saudi dan sekutunya akan hancur,” demikian bunyi pernyataan dari Angkatan laut Yaman, Selasa (04/10).
Pernyataan angkatan laut Yaman itu datang setelah tentara Yaman dan pasukan rakyat menargetkan dan menghancurkan kapal perang Emirat di perairan dekat Selat Bab al-Mandab pada hari Sabtu.
Kapal perang UEA menjadi target rudal Yaman di perairan pesisir Al-Mukha di provinsi Ta’iz. Beberapa laporan mengatakan kapal perang itu bukan milik tentara UEA namun telah disewa dari Amerika Serikat untuk perang Yaman.
Sekitar 22 angkatan laut UEA tewas dalam serangan itu. Kapal yang karam telah berulang kali menembakkan roket ke wilayah pemukiman di provinsi Ta’iz, menimbulkan korban dan kerusakan di sana.
“Jika sampai kami menyaksikan gerakan apapun yang tidak terkoordinasi dekat wilayah perairan Yaman atau ada pelanggaran perbatasan laut kami, maka kapal perang dari Arab Saudi dan sekutunya akan hancur,” demikian bunyi pernyataan dari Angkatan laut Yaman, Selasa (04/10).
Pernyataan angkatan laut Yaman itu datang setelah tentara Yaman dan pasukan rakyat menargetkan dan menghancurkan kapal perang Emirat di perairan dekat Selat Bab al-Mandab pada hari Sabtu.
Kapal perang UEA menjadi target rudal Yaman di perairan pesisir Al-Mukha di provinsi Ta’iz. Beberapa laporan mengatakan kapal perang itu bukan milik tentara UEA namun telah disewa dari Amerika Serikat untuk perang Yaman.
Sekitar 22 angkatan laut UEA tewas dalam serangan itu. Kapal yang karam telah berulang kali menembakkan roket ke wilayah pemukiman di provinsi Ta’iz, menimbulkan korban dan kerusakan di sana.
Monday, October 3, 2016
Mimpi Negara Arab Pendukung Pemberontak Usir Rusia dari Suriah
Negara-negara Arab pendukung pemberontakan Suriah masih bermimpin untuk bisa mengusir Rusia dari negara itu. Sementara Amerika lebih realistis bahwa impian itu sulit terjadi.
Editor Ian Greenhalgh dalam laporannya di Veterans Today, 27 September, menyebutkan bahwa para pejabat keamanan Amerika mengakui bahwa sejumlah negara Arab seperti Saudi, Qatar, dan Kuwait masih bermimpi untuk bisa mengusir Rusia dari Suriah. Untuk itu mereka siap menggelontorkan senjata-senjata modern kepada para pemberontak.
Seorang pejabat Amerika mengatakan kepada Reuters bahwa Amerika telah menyimpan sejumlah besar senjata rudal jinjing (MANPAD) bagi para pemberontak Suriah untuk menghadapi pesawat-pesawat tempur Suriah dan Rusia. Rudal-rudal tersebut telah dipesan oleh negara-negara Arab pendukung pemberontakan, yang sudah bosan dengan perkembangan konflik yang tidak menguntungkan mereka setelah terlibatnya Rusia dalam konflik.
“Bosan dengan rencana Amerika, negara-negara Teluk atau Turki kemungkinan, cepat atau lambat akan menyetujui pengiriman MANPADS kepada kelompok-kelompok oposisi Suriah, pejabat Amerika mengatakan,” tulis laporan itu.
“Saudi selalu berfikir bahwa satu-satunya cara untuk mengusir Rusia adalah seperti yang terjadi di Afghanistan 30 tahun yang lalu, menegasikan kekuatan udara Rusia dengan mengirim MANPADS kepada para Mujahidin,” kata pejabat Amerika lainnya kepada Reuters.
Menurut pejabat tersebut, Amerika telah berusaha meyakinkan negara-negara Arab tersebut bahwa cara tersebut tidak cukup efektif, mengingat bahwa yang dihadapi saat ini adalah Rusia yang berbeda dengan Uni Sovyet di Afghanistan.
“Kita tidak berurusan dengan Uni Sovyet yang tengah mundur, melainkan pemimpin Rusia yang tengah bersemangat membangun kekuatan Rusia dan tidak mudah menyerah,” tambah pejabat itu merujuk pada Presiden Vladimir Putin.
Pada hari Senin (26 September), media Jerman Kölner Stadt-Anzeiger merilis video wawancara dengan seorang komandan kelompok Al-Nusra yang beridentitas “Abu Al-Ezz,” yang mengatakan bahwa Amerika dan sekutu-sekutunya telah memberikan bantuan artileri dan tank-tank kepada mereka.
“Amerika di fihak kami,” kata Al-Ezz dalam wawancara itu.
Menurutnya, Al Nusra dan para pemberontak menerima dana dari Saudi Arabia, Qatar dan Kuwait, untuk mendapatkan tank-tank dan artileri dari Libya yang dikirim ke Suriah melalui Turki. Namun, di antara senjata yang paling dibanggakannya adalah rudal anti-tank buatan Amerika TOW.
Jubir Kemenlu Amerika Mark Toner, ketika dimintai komentarnya tentang hal itu, hari Senin, mengatakan.
“Itu sepenuhnya bohong. Apapun yang dikatakannya (Al-Ezz) adalah bohong. Kami tidak akan pernah memberikan al-Nusra bantuan apapun,” kata Toner seraya menyebutkan bahwa siapapun yang menggelontorkan senjata ke Suriah hanya menumpahkan bahan bakar ke api.
“Menurut saya mereka yang berfikir bahwa ada penyelesaian militer di Suriah harus menyadari bahwa mereka keliru. Namun kami mengakui bahwa ada di antara mereka, bukan kami, yang mendukung berbagai kelompok oposisi di Suriah dan ingin mempersenjatai mereka. Dan sekali lagi, akibatnya adalah sebuah eskalasi konflik yang sebelumnya sudah mengerikan. Seperti pernah saya katakana, segalanya bisa berubah dari buruk menjadi semakin buruk,” tambah Toner.
Seorang pejabat Amerika lainnya mengatakan kepada Reuters, bahwa Amerika tidak ingin membiarkan pemberontak lemah di hadapan Rusia dan Suriah.
“Mereka berhak mempertahankan diri dan mereka tidak akan dibiarkan tanpa senjata di hadapan pemboman-pemboman (Rusia dan Suriah).”
Ini menunjukkan adanya keterpecah-belahan di antara pembuat kebijakan Amerika, seperti saat pesawat-pesawat tempur mereka menggempur pasukan Suriah, hanya sehari setelah Menlu Amerika John Kerry menandatangani kesepakan gencatan senjata dengan Rusia disertai operasi militer bersama untuk menumpas para teroris.
Editor Ian Greenhalgh dalam laporannya di Veterans Today, 27 September, menyebutkan bahwa para pejabat keamanan Amerika mengakui bahwa sejumlah negara Arab seperti Saudi, Qatar, dan Kuwait masih bermimpi untuk bisa mengusir Rusia dari Suriah. Untuk itu mereka siap menggelontorkan senjata-senjata modern kepada para pemberontak.
Seorang pejabat Amerika mengatakan kepada Reuters bahwa Amerika telah menyimpan sejumlah besar senjata rudal jinjing (MANPAD) bagi para pemberontak Suriah untuk menghadapi pesawat-pesawat tempur Suriah dan Rusia. Rudal-rudal tersebut telah dipesan oleh negara-negara Arab pendukung pemberontakan, yang sudah bosan dengan perkembangan konflik yang tidak menguntungkan mereka setelah terlibatnya Rusia dalam konflik.
“Bosan dengan rencana Amerika, negara-negara Teluk atau Turki kemungkinan, cepat atau lambat akan menyetujui pengiriman MANPADS kepada kelompok-kelompok oposisi Suriah, pejabat Amerika mengatakan,” tulis laporan itu.
“Saudi selalu berfikir bahwa satu-satunya cara untuk mengusir Rusia adalah seperti yang terjadi di Afghanistan 30 tahun yang lalu, menegasikan kekuatan udara Rusia dengan mengirim MANPADS kepada para Mujahidin,” kata pejabat Amerika lainnya kepada Reuters.
Menurut pejabat tersebut, Amerika telah berusaha meyakinkan negara-negara Arab tersebut bahwa cara tersebut tidak cukup efektif, mengingat bahwa yang dihadapi saat ini adalah Rusia yang berbeda dengan Uni Sovyet di Afghanistan.
“Kita tidak berurusan dengan Uni Sovyet yang tengah mundur, melainkan pemimpin Rusia yang tengah bersemangat membangun kekuatan Rusia dan tidak mudah menyerah,” tambah pejabat itu merujuk pada Presiden Vladimir Putin.
Pada hari Senin (26 September), media Jerman Kölner Stadt-Anzeiger merilis video wawancara dengan seorang komandan kelompok Al-Nusra yang beridentitas “Abu Al-Ezz,” yang mengatakan bahwa Amerika dan sekutu-sekutunya telah memberikan bantuan artileri dan tank-tank kepada mereka.
“Amerika di fihak kami,” kata Al-Ezz dalam wawancara itu.
Menurutnya, Al Nusra dan para pemberontak menerima dana dari Saudi Arabia, Qatar dan Kuwait, untuk mendapatkan tank-tank dan artileri dari Libya yang dikirim ke Suriah melalui Turki. Namun, di antara senjata yang paling dibanggakannya adalah rudal anti-tank buatan Amerika TOW.
Jubir Kemenlu Amerika Mark Toner, ketika dimintai komentarnya tentang hal itu, hari Senin, mengatakan.
“Itu sepenuhnya bohong. Apapun yang dikatakannya (Al-Ezz) adalah bohong. Kami tidak akan pernah memberikan al-Nusra bantuan apapun,” kata Toner seraya menyebutkan bahwa siapapun yang menggelontorkan senjata ke Suriah hanya menumpahkan bahan bakar ke api.
“Menurut saya mereka yang berfikir bahwa ada penyelesaian militer di Suriah harus menyadari bahwa mereka keliru. Namun kami mengakui bahwa ada di antara mereka, bukan kami, yang mendukung berbagai kelompok oposisi di Suriah dan ingin mempersenjatai mereka. Dan sekali lagi, akibatnya adalah sebuah eskalasi konflik yang sebelumnya sudah mengerikan. Seperti pernah saya katakana, segalanya bisa berubah dari buruk menjadi semakin buruk,” tambah Toner.
Seorang pejabat Amerika lainnya mengatakan kepada Reuters, bahwa Amerika tidak ingin membiarkan pemberontak lemah di hadapan Rusia dan Suriah.
“Mereka berhak mempertahankan diri dan mereka tidak akan dibiarkan tanpa senjata di hadapan pemboman-pemboman (Rusia dan Suriah).”
Ini menunjukkan adanya keterpecah-belahan di antara pembuat kebijakan Amerika, seperti saat pesawat-pesawat tempur mereka menggempur pasukan Suriah, hanya sehari setelah Menlu Amerika John Kerry menandatangani kesepakan gencatan senjata dengan Rusia disertai operasi militer bersama untuk menumpas para teroris.
Friday, September 30, 2016
Arab Saudi Mengutuk Amerika Serikat
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengutuk undang-undang AS yang baru saja disahkan. Undang-undang itu memungkinkan keluarga korban 9/11 bisa menuntut Saudi atas kerugian yang mereka alami pada peristiwa tersebut. Pemerintah Saudi menyebut pengesahan undang-undang itu sebagai keprihatinan besar.
Kongres AS pada Rabu, 29 September 2016, menyetujui undang-undang yang akan memungkinkan para keluarga korban yang tewas dalam serangan tahun 2001 di Amerika Serikat untuk mencari ganti rugi dari Pemerintah Saudi.
"Erosi atas kekebalan berdaulat akan memiliki dampak negatif pada semua negara, termasuk Amerika Serikat," kata pernyataan resmi Pemerintah Saudi yang disampaikan melalui kantor berita negara SPA.
Saudi sempat mendiamkan masalah tersebut selama satu hari sebelum akhirnya mengeluarkan pernyataan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan harapan mereka bahwa Kongres AS akan memperbaiki undang-undang tersebut untuk menghindari konsekuensi serius yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi. Namun tak ada penjelasan, apa konsekuensi serius yang mereka maksud.
Proses JAFTA sudah berjalan selama beberapa lama di AS. Sebagian rakyat AS mencurigai keterlibatan Arab Saudi dalam kasus serangan teroris pada 9 September 2001 yang menewaskan hampir 3.000 orang. Kecurigaan itu muncul karena 15 orang dari 19 pelaku adalah warga negara Saudi. Pemerintah Saudi membantah tudingan tersebut.
Meski Pemerintah Saudi telah membiayai kampanye dan lobi-lobi agar undang-undang tersebut digagalkan, namun Kongres AS mementahkan harapan tersebut. Sehari setelah AS mengumumkan undang-undang tersebut, riyal Saudi jatuh terhadap dolar AS di pasar valuta asing berjangka.
Analis Saudi mengatakan, pengesahan undang-undang tersebut bisa memengaruhi perdagangan bilateral dan investasi dengan sekutu utama. Uni Emirat Arab juga menyampaikan, kekhawatirannya dengan keputusan AS.
Melalui tweet-nya, Anwar Gargash, Menteri Luar Negeri UEA, menyebut tindakan Kongres AS sebagai “preseden yang berbahaya dalam hukum internasional yang bisa merongrong prinsip kekebalan berdaulat dan masa depan investasi berdaulat di Amerika Serikat. - Viva
Kongres AS pada Rabu, 29 September 2016, menyetujui undang-undang yang akan memungkinkan para keluarga korban yang tewas dalam serangan tahun 2001 di Amerika Serikat untuk mencari ganti rugi dari Pemerintah Saudi.
"Erosi atas kekebalan berdaulat akan memiliki dampak negatif pada semua negara, termasuk Amerika Serikat," kata pernyataan resmi Pemerintah Saudi yang disampaikan melalui kantor berita negara SPA.
Saudi sempat mendiamkan masalah tersebut selama satu hari sebelum akhirnya mengeluarkan pernyataan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan harapan mereka bahwa Kongres AS akan memperbaiki undang-undang tersebut untuk menghindari konsekuensi serius yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi. Namun tak ada penjelasan, apa konsekuensi serius yang mereka maksud.
Proses JAFTA sudah berjalan selama beberapa lama di AS. Sebagian rakyat AS mencurigai keterlibatan Arab Saudi dalam kasus serangan teroris pada 9 September 2001 yang menewaskan hampir 3.000 orang. Kecurigaan itu muncul karena 15 orang dari 19 pelaku adalah warga negara Saudi. Pemerintah Saudi membantah tudingan tersebut.
Meski Pemerintah Saudi telah membiayai kampanye dan lobi-lobi agar undang-undang tersebut digagalkan, namun Kongres AS mementahkan harapan tersebut. Sehari setelah AS mengumumkan undang-undang tersebut, riyal Saudi jatuh terhadap dolar AS di pasar valuta asing berjangka.
Analis Saudi mengatakan, pengesahan undang-undang tersebut bisa memengaruhi perdagangan bilateral dan investasi dengan sekutu utama. Uni Emirat Arab juga menyampaikan, kekhawatirannya dengan keputusan AS.
Melalui tweet-nya, Anwar Gargash, Menteri Luar Negeri UEA, menyebut tindakan Kongres AS sebagai “preseden yang berbahaya dalam hukum internasional yang bisa merongrong prinsip kekebalan berdaulat dan masa depan investasi berdaulat di Amerika Serikat. - Viva
Tuesday, September 27, 2016
Al-Nusra : AS Mendukung Kami
Kelompok pemberontak Suriah, Al-Nusra mengakui, Amerika Serikat (AS) selama ini terus memberikan dukungan kepada mereka. Dukungan yang diberikan AS berupa senjata dan amunisi. Dukungan ini diberikan melalui negara ketiga.
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Jerman, Koelner Stadt-Anzeiger, salah satu komandan al-Nusra bernama Abu al-Ezz mengatakan, AS terus memberikan dukungan kepada semua kelompok oposisi di Suriah, termasuk al-Nusra. Namun, dukungan itu tidak diberikan secara langsung.
"Ya, AS mendukung oposisi (di Suriah), tetapi tidak secara langsung. Mereka mendukung negara-negara yang mendukung kami. Tapi, kami belum puas dengan dukungan ini," kata al-Ezz dalam wawancara tersebut, seperti dilansir Russia Today pada Selasa (26/9).
Menurutnya, kelompok militan harus menerima lebih banyak "senjata canggih" dari pendukung mereka untuk berhasil melawan pemerintah Suriah. "Pertarungan sulit. Kekuatan rezim sangat kuat dan mereka mendapat dukungan dari Rusia," jelasnya.
"Al-Nusra memenangkan pertempuran berkat roket TOW. Karena roket ini, kami memiliki kekuatan yang seimbang dengan rezim. Tank kami datang dari Libya melalui Turki, bersamaan dengan datangnya peluncur roket. Pasukan pemerintah memiliki keuntungan karena pesawat dan peluncur rudal, tetapi kami memiliki rudal TOW buatan Amerika, dan situasi di beberapa daerah berada di bawah kendali," ucapnya.
Ketika ditanya apakah rudal TOW memang diberikan AS untuk Al-Nusra atau mereka mendapatkannya dari kelompok pemberontak lainnya, Al-Ezz memastikan rudal tersebut memang diberikan AS untuk al-Nusra.
Dia menyebut bahwa ketika al-Nusra telah dikepung oleh Rusia dan Damaskus. Al-Nusra mendapatkan perlindungan dari sejumlah negara. "Kami memiliki personel dari Turki, Qatar, Arab Saudi, Israel dan Amerika. Mereka para ahli dalam penggunaan satelit, roket, pengintaian dan kamera keamanan termal," ungkapnya.
Ketika ditanya apakah instruktur militer AS benar-benar hadir di antara barisan anggoat militan, al-Ezz menjawab Amerika berada di pihak al-Nusra. Dia juga mengatakan bahwa al-Nusra telah dibayar untuk mencapai tujuan militer tertentu selama konflik Suriah.
"Kami mendapatkan 500 juta Pound Suriah dari Arab Saudi. Untuk merebut Sekolah Infanteri di al-Muslimiya pada tahun lalu, kami menerima 1,5 juta Dinar Kuwait dan USD 5 juta dari Saudi," paparnya. Ia memastikan, uang yang diberikan adalah dana dari pemerintah negara-negara yang bersangkutan dan bukan dari swasta. - Sindo
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Jerman, Koelner Stadt-Anzeiger, salah satu komandan al-Nusra bernama Abu al-Ezz mengatakan, AS terus memberikan dukungan kepada semua kelompok oposisi di Suriah, termasuk al-Nusra. Namun, dukungan itu tidak diberikan secara langsung.
"Ya, AS mendukung oposisi (di Suriah), tetapi tidak secara langsung. Mereka mendukung negara-negara yang mendukung kami. Tapi, kami belum puas dengan dukungan ini," kata al-Ezz dalam wawancara tersebut, seperti dilansir Russia Today pada Selasa (26/9).
Menurutnya, kelompok militan harus menerima lebih banyak "senjata canggih" dari pendukung mereka untuk berhasil melawan pemerintah Suriah. "Pertarungan sulit. Kekuatan rezim sangat kuat dan mereka mendapat dukungan dari Rusia," jelasnya.
"Al-Nusra memenangkan pertempuran berkat roket TOW. Karena roket ini, kami memiliki kekuatan yang seimbang dengan rezim. Tank kami datang dari Libya melalui Turki, bersamaan dengan datangnya peluncur roket. Pasukan pemerintah memiliki keuntungan karena pesawat dan peluncur rudal, tetapi kami memiliki rudal TOW buatan Amerika, dan situasi di beberapa daerah berada di bawah kendali," ucapnya.
Ketika ditanya apakah rudal TOW memang diberikan AS untuk Al-Nusra atau mereka mendapatkannya dari kelompok pemberontak lainnya, Al-Ezz memastikan rudal tersebut memang diberikan AS untuk al-Nusra.
Dia menyebut bahwa ketika al-Nusra telah dikepung oleh Rusia dan Damaskus. Al-Nusra mendapatkan perlindungan dari sejumlah negara. "Kami memiliki personel dari Turki, Qatar, Arab Saudi, Israel dan Amerika. Mereka para ahli dalam penggunaan satelit, roket, pengintaian dan kamera keamanan termal," ungkapnya.
Ketika ditanya apakah instruktur militer AS benar-benar hadir di antara barisan anggoat militan, al-Ezz menjawab Amerika berada di pihak al-Nusra. Dia juga mengatakan bahwa al-Nusra telah dibayar untuk mencapai tujuan militer tertentu selama konflik Suriah.
"Kami mendapatkan 500 juta Pound Suriah dari Arab Saudi. Untuk merebut Sekolah Infanteri di al-Muslimiya pada tahun lalu, kami menerima 1,5 juta Dinar Kuwait dan USD 5 juta dari Saudi," paparnya. Ia memastikan, uang yang diberikan adalah dana dari pemerintah negara-negara yang bersangkutan dan bukan dari swasta. - Sindo
Tuesday, September 20, 2016
Tiga Rudal Jelajah Rusia Hantam Ruang Operasi Turki, AS, Saudi, Inggris dan Mossad di Aleppo
Menurut sumber informasi di Aleppo, tiga rudal jenis kaliber ditembakkan oleh kapal-kapal Rusia, menarget ruang operasi teroris di Dera Izzat, barat Aleppo di pegunungan Simon, yang terkenal dengan gunung bebatuan dan daerah gua kuno. (Baca juga: Rusia Berhasil Uji Coba Rudal Antar Benua)
Sumber itu juga menunjukkan bahwa “ruang operasi berisi 30 perwira terkemuka dari Turki, Amerika Serikat, Arab Saudi, Qatar, Inggris dan Mossad, yang menjalankan operasi teroris di Aleppo dan Idlib. (Baca juga: MEMANAS.. Rudal Kaliber Rusia Siap Hancurkan Jantung Kota Turki dan Saudi)
Sementara itu, sekitar 100 penduduk sipil berhasil melarikan diri dari daerah timur Aleppo, meskipun di bawah ancaman teroris. (Baca juga: Rusia Mampu Hancurkan London Dalam 13 Menit dan New York 40 Menit ; VIDEO)
Adapun situasi saat ini berdasarkan laporan sumber di lapangan, mengatakan bahwa tentara Suriah berhasil menewaskan 20 pemberontak dalam dua hari terakhir di distrik 1070, di mana ada penembak jitu yang menembaki warga sipil yang berada di wilayah Hamdania. - ArrahmahNews
Sumber itu juga menunjukkan bahwa “ruang operasi berisi 30 perwira terkemuka dari Turki, Amerika Serikat, Arab Saudi, Qatar, Inggris dan Mossad, yang menjalankan operasi teroris di Aleppo dan Idlib. (Baca juga: MEMANAS.. Rudal Kaliber Rusia Siap Hancurkan Jantung Kota Turki dan Saudi)
Sementara itu, sekitar 100 penduduk sipil berhasil melarikan diri dari daerah timur Aleppo, meskipun di bawah ancaman teroris. (Baca juga: Rusia Mampu Hancurkan London Dalam 13 Menit dan New York 40 Menit ; VIDEO)
Adapun situasi saat ini berdasarkan laporan sumber di lapangan, mengatakan bahwa tentara Suriah berhasil menewaskan 20 pemberontak dalam dua hari terakhir di distrik 1070, di mana ada penembak jitu yang menembaki warga sipil yang berada di wilayah Hamdania. - ArrahmahNews
Labels:
Amerika Serikat,
Arab Saudi,
Israel,
Rusia,
Turki
Media Inggris: Budak Seks ISIS Dijual di Arab Saudi
Media Inggris, The Sun Online, melansir laporan yang menyebut para perempuan Yazidi Irak yang dijadikan budak seks oleh kelompok ISIS dijual di Arab Saudi. Laporan itu berdasarkan wawancara dari anggota Popular Mobilisation Units (PMU) Irak yang mengaku memiliki bukti berupa rekaman gambar di ponsel.
Arab Saudi sejatinya merupakan bagian dari koalisi internasional anti-ISIS yang dipimpin Amerika Serikat (AS).
“Petugas Investigasi kami terkejut pada gambar berikutnya, yang kami yakini itu perempuan Yazidi Irak yang diambil sebagai budak seks,” kata seorang juru bicara PMU Irak yang identitasnya dilindungi media Inggris tersebut.
PMU Irak adalah kelompok milisi Irak yang ikut memerangi kelompok Islamic State (ISIS) di Irak. ”Gambar itu lelang dari perempuan di Arab Saudi dan seksual eksplisit dari militan dan wanita di sebuah hotel,” lanjut juru bicara PMU Irak, yang dikutip semalam (20/9/2016).
”Data lokasi yang diamati pada file gambar bisa diaktifkan secara default pada banyak ponsel pintar,” katanya. ”Gambar lebih lanjut melibatkan anggota ISIS di wilayah Irak yang diduduki oleh ISIS, termasuk wilayah Mosul dan Baiji.”
Para milisi PMU Irak sekarang mati-matian berusaha melacak keluarga perempuan Yazidi dalam gambar tersebut dan berupaya melakukan penyelamatan. ”Kami sedang terlibat dengan anggota Yazidi kami untuk menemukan keluarga wanita, lokasi dan kondisi kesehatannya,” imbuh dia.
”Kami berharap untuk membebaskan dirinya dan semua perempuan Irak yang diambil sebagai budak seks oleh ISIS di Irak atau di luar Irak sebagai penegakan hak asasi manusia yang mereka (ISIS) tolak.”
Departemen Kehakiman Arab Saudi yang dimintai untuk berkomentar belum memberikan respons atas laporan itu. - Sindo
Arab Saudi sejatinya merupakan bagian dari koalisi internasional anti-ISIS yang dipimpin Amerika Serikat (AS).
“Petugas Investigasi kami terkejut pada gambar berikutnya, yang kami yakini itu perempuan Yazidi Irak yang diambil sebagai budak seks,” kata seorang juru bicara PMU Irak yang identitasnya dilindungi media Inggris tersebut.
PMU Irak adalah kelompok milisi Irak yang ikut memerangi kelompok Islamic State (ISIS) di Irak. ”Gambar itu lelang dari perempuan di Arab Saudi dan seksual eksplisit dari militan dan wanita di sebuah hotel,” lanjut juru bicara PMU Irak, yang dikutip semalam (20/9/2016).
”Data lokasi yang diamati pada file gambar bisa diaktifkan secara default pada banyak ponsel pintar,” katanya. ”Gambar lebih lanjut melibatkan anggota ISIS di wilayah Irak yang diduduki oleh ISIS, termasuk wilayah Mosul dan Baiji.”
Para milisi PMU Irak sekarang mati-matian berusaha melacak keluarga perempuan Yazidi dalam gambar tersebut dan berupaya melakukan penyelamatan. ”Kami sedang terlibat dengan anggota Yazidi kami untuk menemukan keluarga wanita, lokasi dan kondisi kesehatannya,” imbuh dia.
”Kami berharap untuk membebaskan dirinya dan semua perempuan Irak yang diambil sebagai budak seks oleh ISIS di Irak atau di luar Irak sebagai penegakan hak asasi manusia yang mereka (ISIS) tolak.”
Departemen Kehakiman Arab Saudi yang dimintai untuk berkomentar belum memberikan respons atas laporan itu. - Sindo
Monday, September 19, 2016
Ambisi Saudi Hancurkan Kota Suci Umat Islam
Kota Mekkah yang didalamnya penuh situs-situs suci bersejarah telah berubah menjadi kota metropolis yang menyilaukan, dimana tas Paris Hilton dapat dibeli oleh sejumlah kaum bangsawan. Demikian tertulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan teleSurtv pekan lalu.
Terletak di antara dua gunung terpencil, kota Mekkah berada di rongga sekitar 45 mil di pedalaman dari pelabuhan Laut Merah Jeddah, meski matahari bersinar terik, jutaan orang berduyun-duyun mendatangi kota suci itu untuk melakukan ritual ibadah haji.

Tetapi jika seorang jamaah haji yang mungkin pernah kesana sekitar dua dekade lalu, kemudian kembali ke tempat yang sebelumnya merupakan kota kecil disebuah gurun ini, hari ini, mereka pasti seolah tidak akan percaya ada banyak gedung pencakar langit menjulang tinggi yang bertebaran disana layaknya sebuah halusinasi dari pusat perbelanjaan metropolis yang menyilaukan dan hotel-hotel mewah. Sungguh! bahkan ada toko tas Paris Hilton di kota suci tersebut.
“Apa yang telah Saudi lakukan terhadap Mekkah benar-benar mengerikan,” kata seorang Muslim Inggris kepada The Spectator. “Ini adalah sebuah ritel ekstravaganza menuju ke Masjidil Haram. Selama menjalankan haji, hal terakhir yang saya lihat sebelum berbalik ke arah Ka’bah adalah toko Samsonite dan Haagen-Dazs. Mereka telah merubah Mekkah menjadi pusat perbelanjaan”.
Hampir 95 persen dari bangunan bersejarah kota ini telah dihancurkan oleh pemerintah Arab Saudi untuk membuat jalan bagi pengalaman haji mewah dan penuh komersialisasi yang merupakan kebanggaan dan sukacita dari Kerajaan saleh Arab Saudi.

Dulu, kota ini merupakan sebuah tempat suci dimana Nabi Muhammad selalu berkhotbah tentang kesetaraan, namun Saudi kini mengubahnya menjadi taman bermain untuk orang kaya, untuk menikmati gaya kapitalisme Barat.
Situs-situs yang berumur ribuan tahun dengan kepentingan sejarah besar telah hancur termasuk rumah di mana Nabi Muhammad lahir. Masjid Bilal, yang sudah ada hampir 1400 tahun yang lalu, juga telah dibuldoser dalam beberapa dekade terakhir. Dan yang sangat mengerikan adalah rumah milik istri yang paling dicintai Muhammad, Khadijah, sekarang oleh pemerintah Arab Saudi dijadikan WC umum, yang mungkin merupakan simbol yang tepat dari rezim Saudi.
Di tengah kegilaan Saudi atas semua ini, adalah Makkah Royal Clock Tower yang menjulang. Menara jam bertanduk yang tingginya 1972 kaki dan dibangun di atas hampir 400 lokasi yang memiliki kepentingan budaya dan sejarah Islam.

Mungkin yang paling menjijikkan adalah pembukaan toko tas sosialita AS dan ahli waris Paris Hilton di Mecca Mall yang luas dikota ini. Sementara non-Muslim tidak diperbolehkan masuk di kota suci, rezim Saudi secara simbolik membuat pengecualian untuk Hilton.
Terletak di antara dua gunung terpencil, kota Mekkah berada di rongga sekitar 45 mil di pedalaman dari pelabuhan Laut Merah Jeddah, meski matahari bersinar terik, jutaan orang berduyun-duyun mendatangi kota suci itu untuk melakukan ritual ibadah haji.

Tetapi jika seorang jamaah haji yang mungkin pernah kesana sekitar dua dekade lalu, kemudian kembali ke tempat yang sebelumnya merupakan kota kecil disebuah gurun ini, hari ini, mereka pasti seolah tidak akan percaya ada banyak gedung pencakar langit menjulang tinggi yang bertebaran disana layaknya sebuah halusinasi dari pusat perbelanjaan metropolis yang menyilaukan dan hotel-hotel mewah. Sungguh! bahkan ada toko tas Paris Hilton di kota suci tersebut.
“Apa yang telah Saudi lakukan terhadap Mekkah benar-benar mengerikan,” kata seorang Muslim Inggris kepada The Spectator. “Ini adalah sebuah ritel ekstravaganza menuju ke Masjidil Haram. Selama menjalankan haji, hal terakhir yang saya lihat sebelum berbalik ke arah Ka’bah adalah toko Samsonite dan Haagen-Dazs. Mereka telah merubah Mekkah menjadi pusat perbelanjaan”.
Hampir 95 persen dari bangunan bersejarah kota ini telah dihancurkan oleh pemerintah Arab Saudi untuk membuat jalan bagi pengalaman haji mewah dan penuh komersialisasi yang merupakan kebanggaan dan sukacita dari Kerajaan saleh Arab Saudi.

Dulu, kota ini merupakan sebuah tempat suci dimana Nabi Muhammad selalu berkhotbah tentang kesetaraan, namun Saudi kini mengubahnya menjadi taman bermain untuk orang kaya, untuk menikmati gaya kapitalisme Barat.
Situs-situs yang berumur ribuan tahun dengan kepentingan sejarah besar telah hancur termasuk rumah di mana Nabi Muhammad lahir. Masjid Bilal, yang sudah ada hampir 1400 tahun yang lalu, juga telah dibuldoser dalam beberapa dekade terakhir. Dan yang sangat mengerikan adalah rumah milik istri yang paling dicintai Muhammad, Khadijah, sekarang oleh pemerintah Arab Saudi dijadikan WC umum, yang mungkin merupakan simbol yang tepat dari rezim Saudi.
Di tengah kegilaan Saudi atas semua ini, adalah Makkah Royal Clock Tower yang menjulang. Menara jam bertanduk yang tingginya 1972 kaki dan dibangun di atas hampir 400 lokasi yang memiliki kepentingan budaya dan sejarah Islam.

Mungkin yang paling menjijikkan adalah pembukaan toko tas sosialita AS dan ahli waris Paris Hilton di Mecca Mall yang luas dikota ini. Sementara non-Muslim tidak diperbolehkan masuk di kota suci, rezim Saudi secara simbolik membuat pengecualian untuk Hilton.
Friday, September 9, 2016
Pangeran Arab Saudi Tawarkan $500000 Bagi Teroris yang Beraksi di Iran
Saudi Arabia ingin memindahkan medan perang yang dilancarkannya ke Iran, setelah petualangannya di Suriah dan Yaman mengalami kegagalan. Hal ini sekaligus akan memberikan pukulan langsung ke Iran setelah gagal dalam perang proksi melawan Iran di kedua wilayah itu.
Seperti dilaporkan Veterans Today, 5 September, Saudi Arabia bekerjasama dengan Israel telah mengubah kantor-kantor diplomatiknya di kawasan menjadi jaringan mata-mata untuk menggerakkan para teroris beroperasi di wilayah Iran.
Mengutip media Lebanon Al-Manar laporan itu menulis, “Sejumlah sumber mengkonfirmasikan bahwa Saudi Arabia telah merekrut kelompok-kelompok teroris untuk menghantam keamanana nasional Iran.” Terkait dengan hal itu Menhan Saudi Arabia Pangeran Mohammed bin Salman telah menawarkan hadiah senilai $500.000 bagi bagi para teroris yang beraksi di Iran.
“Saudi dengan bekerjasama dengan Israel telah mengubah kedutaan-kedutaan besarnya menjadi jaringan mata-mata untuk menghantam Iran. Mereka berusaha untuk memindahkan operasi teroris ke wilayah Iran,” tulis laporan itu.
Hal itu berkaitan dengan kegagalan ‘petualangan’ Saudi Arabia di Suriah, dan terakhir di Yaman. Yang terakhir terjadi setelah para pejuang Yaman berhasil menembakkan rudal-rudal ballistiknya yang tidak bisa dihentikan Saudi dan koalisi pimpinananya, sehingga menimbulkan kerusakan hebat pasukan koalisi Saudi di Yaman.
Terakhir, para pejuang Yaman menembakkan rudal Borkan, rudal yang memiliki daya jangkau hingga 800 km, jauh ke wilayah Saudi Arabia.
Seperti dilaporkan Veterans Today dalam laporan itu, rudal ballistik baru bernama Borkan 1 berhasil ditembakkan ke wilayah Ta’if yang kaya minyak. Kota ini berada 700 kilometer di dalam wilayah Saudi Arabia.
“Fakta bahwa Yaman berhasil menembakkan rudal sejauh itu, telah mengubah nasib peperangan di Yaman. Kini Ibukota Saudi Riyadh berada dalam jangkauan serangan rudal Yaman,” tulis Veterans Today.
Menurut laporan-laporan media Yaman, rudal Borkan 1 dibuat seluruhnya oleh para teknisi Yaman. Dibuat meniru rudal Scud buatan Rusia, rudal ini diklaim berdaya jangkau hingga 800 km. Menurut laporan itu, para pejabat militer Saudi terkejut dengan kecepatan rudal itu, yang disebut-sebut ‘melesat bak meteor’.
Sebelumnya Yaman diketahui sukses meluncurkan rudal-rudal ballistik buatan Rusia yang membawa kehancuran hebat bagi pasukan koalisi pimpinan Saudi Arabia yang tidak memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iran.
Seperti dilaporkan Veterans Today, 5 September, Saudi Arabia bekerjasama dengan Israel telah mengubah kantor-kantor diplomatiknya di kawasan menjadi jaringan mata-mata untuk menggerakkan para teroris beroperasi di wilayah Iran.
Mengutip media Lebanon Al-Manar laporan itu menulis, “Sejumlah sumber mengkonfirmasikan bahwa Saudi Arabia telah merekrut kelompok-kelompok teroris untuk menghantam keamanana nasional Iran.” Terkait dengan hal itu Menhan Saudi Arabia Pangeran Mohammed bin Salman telah menawarkan hadiah senilai $500.000 bagi bagi para teroris yang beraksi di Iran.
“Saudi dengan bekerjasama dengan Israel telah mengubah kedutaan-kedutaan besarnya menjadi jaringan mata-mata untuk menghantam Iran. Mereka berusaha untuk memindahkan operasi teroris ke wilayah Iran,” tulis laporan itu.
Hal itu berkaitan dengan kegagalan ‘petualangan’ Saudi Arabia di Suriah, dan terakhir di Yaman. Yang terakhir terjadi setelah para pejuang Yaman berhasil menembakkan rudal-rudal ballistiknya yang tidak bisa dihentikan Saudi dan koalisi pimpinananya, sehingga menimbulkan kerusakan hebat pasukan koalisi Saudi di Yaman.
Terakhir, para pejuang Yaman menembakkan rudal Borkan, rudal yang memiliki daya jangkau hingga 800 km, jauh ke wilayah Saudi Arabia.
Seperti dilaporkan Veterans Today dalam laporan itu, rudal ballistik baru bernama Borkan 1 berhasil ditembakkan ke wilayah Ta’if yang kaya minyak. Kota ini berada 700 kilometer di dalam wilayah Saudi Arabia.
“Fakta bahwa Yaman berhasil menembakkan rudal sejauh itu, telah mengubah nasib peperangan di Yaman. Kini Ibukota Saudi Riyadh berada dalam jangkauan serangan rudal Yaman,” tulis Veterans Today.
Menurut laporan-laporan media Yaman, rudal Borkan 1 dibuat seluruhnya oleh para teknisi Yaman. Dibuat meniru rudal Scud buatan Rusia, rudal ini diklaim berdaya jangkau hingga 800 km. Menurut laporan itu, para pejabat militer Saudi terkejut dengan kecepatan rudal itu, yang disebut-sebut ‘melesat bak meteor’.
Sebelumnya Yaman diketahui sukses meluncurkan rudal-rudal ballistik buatan Rusia yang membawa kehancuran hebat bagi pasukan koalisi pimpinan Saudi Arabia yang tidak memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iran.
Monday, September 5, 2016
Saudi Arabia Kerjasama Dengan Jasa Keamanan Israel Untuk Keamanan Haji
Langkah Arab Saudi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan rezim Zionis Israel untuk menjaga keamanan jemaah haji, memicu kecaman dari Dunia Islam.
Kantor berita Qodsna (5/9) melaporkan, Syeikh Ekrima Sabri, Khatib Masjid Al Aqsa, Palestina memperingatkan masuknya perusahaan jasa keamanan G4S milik Israel ke tengah-tengah masyarakat Arab dan Islam.
Ia menegaskan, G4S tidak berhak melakukan aktivitas-aktivitas mata-mata dan keamanan terkait dengan jemaah haji.
Syeikh Ekrima Sabri menilai penandatanganan kontrak Saudi dan Israel itu dilakukan dengan tujuan untuk menginfiltrasi masyarakat Arab dan Islam.
"Penggunaan jasa sebuah perusahaan Israel untuk melayani jemaah haji adalah perbuatan haram," ujarnya.
Untuk menjaga keamanan jemaah haji dan mengawasi mereka lewat gelang elektronik yang dipakainya di musim haji tahun ini, Saudi bekerjasama dengan perusahaan jasa keamanan Israel, G4S.
G4S terkenal dengan perlakuan tidak manusiawinya terhadap para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.
Riyadh, awal Juli lalu mengumumkan, jemaah haji pada musim haji tahun ini akan dilengkapi dengan GPS dan informasi pribadi dan medis mereka untuk menghindari terulangnya insiden Mina tahun lalu.
Akibat kelalaian Saudi dalam mengelola pelaksanaan manasik haji, pada 24 Desember 2015, ribuan haji tewas dalam tragedi yang terjadi di Mina.
Kantor berita Qodsna (5/9) melaporkan, Syeikh Ekrima Sabri, Khatib Masjid Al Aqsa, Palestina memperingatkan masuknya perusahaan jasa keamanan G4S milik Israel ke tengah-tengah masyarakat Arab dan Islam.
Ia menegaskan, G4S tidak berhak melakukan aktivitas-aktivitas mata-mata dan keamanan terkait dengan jemaah haji.
Syeikh Ekrima Sabri menilai penandatanganan kontrak Saudi dan Israel itu dilakukan dengan tujuan untuk menginfiltrasi masyarakat Arab dan Islam.
"Penggunaan jasa sebuah perusahaan Israel untuk melayani jemaah haji adalah perbuatan haram," ujarnya.
Untuk menjaga keamanan jemaah haji dan mengawasi mereka lewat gelang elektronik yang dipakainya di musim haji tahun ini, Saudi bekerjasama dengan perusahaan jasa keamanan Israel, G4S.
G4S terkenal dengan perlakuan tidak manusiawinya terhadap para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.
Riyadh, awal Juli lalu mengumumkan, jemaah haji pada musim haji tahun ini akan dilengkapi dengan GPS dan informasi pribadi dan medis mereka untuk menghindari terulangnya insiden Mina tahun lalu.
Akibat kelalaian Saudi dalam mengelola pelaksanaan manasik haji, pada 24 Desember 2015, ribuan haji tewas dalam tragedi yang terjadi di Mina.
Monday, August 22, 2016
Pasukan Yaman Tembak Jatuh Helikopter Apache Saudi di Najran
Tentara Yaman dan pejuang Ansarullah terus menambah kemenangan mereka terhadap pasukan pro Saudi di Yaman, dan menimbulkan kerugian besar pada perangkat keras militer mereka, termasuk sebuah helikopter Apache buatan AS.
“Sistem pertahanan udara Yaman menghancurkan sebuah helikopter Apache di wilayah Najran,” ungkap FNA mengutip laporan berita dari sumber yang tidak disebutkan namanya pada Senin, (22/08) kemarin.
Belum ada rincian lebih lanjut mengenai insiden tersebut.
Sebelumnya pada hari Senin, seorang komandan senior Yaman mengumumkan bahwa tentara dan pasukan rakyat Yaman menimbulkan korban besar dalam pasukan pro-Saudi di provinsi Ma’rib, Ta’iz dan al-Jawf.
“Lebih dari 20 pasukan pro-Saudi tewas dalam penyergapan dari tentara Yaman dan pasukan rakyat,” kata Komandan Senior Ansarulla,h Ali al-Houthi, kepada FNA. - ArrahmahNews
“Sistem pertahanan udara Yaman menghancurkan sebuah helikopter Apache di wilayah Najran,” ungkap FNA mengutip laporan berita dari sumber yang tidak disebutkan namanya pada Senin, (22/08) kemarin.
Belum ada rincian lebih lanjut mengenai insiden tersebut.
Sebelumnya pada hari Senin, seorang komandan senior Yaman mengumumkan bahwa tentara dan pasukan rakyat Yaman menimbulkan korban besar dalam pasukan pro-Saudi di provinsi Ma’rib, Ta’iz dan al-Jawf.
“Lebih dari 20 pasukan pro-Saudi tewas dalam penyergapan dari tentara Yaman dan pasukan rakyat,” kata Komandan Senior Ansarulla,h Ali al-Houthi, kepada FNA. - ArrahmahNews
Tuesday, August 9, 2016
AS Akan Jual 150 Tank Abrams ke Saudi Senilai Rp15 Triliun
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyetujui rencana penjualan lebih dari 130 tank tempur Abrams, 20 kendaraan lapis baja dan peralatan militer lainnya senilai sekitar USD 1,15 miliar atau sekitar Rp15 triliun ke Arab Saudi. Hal itu disampaikan Pentagon hari Selasa.
Badan Kerjasama Keamanan dan Pertahanan AS yang mengawasi penjualan senjata asing mengatakan penjualan akan berkontribusi pada keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan mitra regional.
”Penjualan ini akan meningkatkan (RSLF) interoperabilitas Royal Saudi Land Force's (RSLF) dengan pasukan AS dan menyampaikan komitmen AS kepada Arab Saudi soal keamanan dan modernisasi angkatan bersenjata,” lanjut badan itu dalam pemberitahuannya kepada anggota parlemen yang diunggah di situsnya, sebagaimana dikutip Reuters, Rabu (10/8/2016).
Arab Saudi dan sekutu Teluk-nya telah campur tangan dalam perang saudara di Yaman pada bulan Maret 2015 setelah gerakan Houthi bersenjata hendak menggulingkan Presiden Yaman Abd Rabbo Mansour Hadi yang sempat mengungsi ke Saudi karena terdesak.
AS memang tidak secara langsung ikut campur dalam krisis Yaman. Namun, AS mendukung langkah Saudi dan sekutunya dalam memerangi kelompok Houthi Yaman. Peralatan tempur Saudi yang digunakan dalam perang di Yaman juga buatan AS.
Meski demikian Pemerintah Obama setuju soal rencana penjualan peralatan tempur AS kepada Arab Saudi, namun rencana ini masih membutuhkan persetujuan Kongres, yang bisa saja justru menghalanginya. Sindo
Badan Kerjasama Keamanan dan Pertahanan AS yang mengawasi penjualan senjata asing mengatakan penjualan akan berkontribusi pada keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan mitra regional.
”Penjualan ini akan meningkatkan (RSLF) interoperabilitas Royal Saudi Land Force's (RSLF) dengan pasukan AS dan menyampaikan komitmen AS kepada Arab Saudi soal keamanan dan modernisasi angkatan bersenjata,” lanjut badan itu dalam pemberitahuannya kepada anggota parlemen yang diunggah di situsnya, sebagaimana dikutip Reuters, Rabu (10/8/2016).
Arab Saudi dan sekutu Teluk-nya telah campur tangan dalam perang saudara di Yaman pada bulan Maret 2015 setelah gerakan Houthi bersenjata hendak menggulingkan Presiden Yaman Abd Rabbo Mansour Hadi yang sempat mengungsi ke Saudi karena terdesak.
AS memang tidak secara langsung ikut campur dalam krisis Yaman. Namun, AS mendukung langkah Saudi dan sekutunya dalam memerangi kelompok Houthi Yaman. Peralatan tempur Saudi yang digunakan dalam perang di Yaman juga buatan AS.
Meski demikian Pemerintah Obama setuju soal rencana penjualan peralatan tempur AS kepada Arab Saudi, namun rencana ini masih membutuhkan persetujuan Kongres, yang bisa saja justru menghalanginya. Sindo
Serangan Udara Saudi Tewaskan 33 Warga Sipil Yaman
Setidaknya 30 warga sipil tewas dalam jet tempur Saudi yang menarget beberapa provinsi Yaman dalam pelanggaran terang-terangan dari gencatan senjata yang ditengahi PBB.
Pada hari Selasa, jet tempur Saudi membom beberapa sasaran di ibukota, Sana’a, termasuk pabrik makanan. Setidaknya 14 orang, termasuk tiga karyawan pabrik, telah kehilangan nyawa mereka dalam serangan itu, Televisi al-Masirah Yaman melaporkan.
Pesawat-pesawat tempur Saudi juga membom daerah di distrik Kushar barat laut provinsi Hajjah, menewaskan tiga orang dan melukai beberapa orang lainnya.
Di tempat lain, serangan udara Saudi menghantam pangkalan militer al-Sama di distrik Arhab, provinsi Sana’a serta pangkalan militer Hamza di provinsi Ibb. Dua warga sipil tewas dalam serangan udara di sebuah SPBU di Ibb.
Pesawat militer Saudi juga melakukan lima serangan di bandara Ta’izz. Pada hari yang sama, mereka juga menargetkan kabupaten Wazaiyah di provinsi itu, setidaknya tujuh orang dilaporkan tewas.
Jet tempur Saudi lebih lanjut meluncurkan lebih dari selusin serangan terhadap distrik Saqayn dan Sahar di provinsi utara Sa’ada dan markas besar Brigade Lapis Baja 310 di provinsi Amran.
Sedikitnya enam warga sipil tewas dalam penggerebekan serupa di wilayah Qatabir Sa’ada.
Pembicaraan untuk mengakhiri konflik Yaman sekali lagi tertunda selama akhir pekan, militan pro-Hadi mengumumkan operasi militer yang didukung Riyadh dekat Sana’a.
Pada hari Minggu, penduduk kota-kota dekat Sana’a mengatakan serangan Saudi, datang sebagai penutup udara atas serangan darat yang dilakukan oleh tentara bayaran Riyadh, menewaskan hampir 10 warga sipil.
Hampir 10.000 orang telah tewas dan lebih dari 17.000 terluka sejak dimulainya agresi Saudi. Yaman mengatakan sebagian besar korban adalah warga sipil. - ArrahmahNews
Pada hari Selasa, jet tempur Saudi membom beberapa sasaran di ibukota, Sana’a, termasuk pabrik makanan. Setidaknya 14 orang, termasuk tiga karyawan pabrik, telah kehilangan nyawa mereka dalam serangan itu, Televisi al-Masirah Yaman melaporkan.
Pesawat-pesawat tempur Saudi juga membom daerah di distrik Kushar barat laut provinsi Hajjah, menewaskan tiga orang dan melukai beberapa orang lainnya.
Di tempat lain, serangan udara Saudi menghantam pangkalan militer al-Sama di distrik Arhab, provinsi Sana’a serta pangkalan militer Hamza di provinsi Ibb. Dua warga sipil tewas dalam serangan udara di sebuah SPBU di Ibb.
Pesawat militer Saudi juga melakukan lima serangan di bandara Ta’izz. Pada hari yang sama, mereka juga menargetkan kabupaten Wazaiyah di provinsi itu, setidaknya tujuh orang dilaporkan tewas.
Jet tempur Saudi lebih lanjut meluncurkan lebih dari selusin serangan terhadap distrik Saqayn dan Sahar di provinsi utara Sa’ada dan markas besar Brigade Lapis Baja 310 di provinsi Amran.
Sedikitnya enam warga sipil tewas dalam penggerebekan serupa di wilayah Qatabir Sa’ada.
Pembicaraan untuk mengakhiri konflik Yaman sekali lagi tertunda selama akhir pekan, militan pro-Hadi mengumumkan operasi militer yang didukung Riyadh dekat Sana’a.
Pada hari Minggu, penduduk kota-kota dekat Sana’a mengatakan serangan Saudi, datang sebagai penutup udara atas serangan darat yang dilakukan oleh tentara bayaran Riyadh, menewaskan hampir 10 warga sipil.
Hampir 10.000 orang telah tewas dan lebih dari 17.000 terluka sejak dimulainya agresi Saudi. Yaman mengatakan sebagian besar korban adalah warga sipil. - ArrahmahNews
Tuesday, July 26, 2016
Serangan Balasan Yaman Tewaskan Komandan AD Saudi
Komandan Unit Lapis Baja Korps 84 Angkatan Darat Arab Saudi dan beberapa perwira militer negara ini tewas setelah militer dan pasukan relawan Yaman meledakkan sebuah tank pasukan Saudi di Najran.
Serangan tersebut merupakan balasan terhadap pelanggaran berulang Arab Saudi terhadap kesepakatan gencatan senjata dan berbagai kejahatan pasukan agresor.
Menurut jaringan televisi al-Masirah, serangan militer Yaman terhadap sebuah tank militer Arab Saudi di distrik Rajla telah menewaskan seorang Komandan Unit Lapis Baja Korps 84 AD dan beberapa perwira militer negara Arab ini.
Di sisi lain, jet-jet tempur dan pasukan bayaran Arab Saudi telah beberapa kali melanggar gencatan senjata di banyak provinsi Yaman.
Sebuah sumber militer Yaman menyebutkan, pesawat-pesawat tempur rezim Al Saud terbang di atas Provinsi Saada, Marib, al-Jawf dan Sanaa.
Penyeberangan Haradh pada Senin (25/7/2016) juga menjadi sasaran serangan roket dan artileri pasukan bayaran Arab Saudi.
Agresi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman yang memperoleh lampu hijau dari Amerika Serikat dimulai sejak tanggal 26 Maret 2015.
Invasi militer tersebut telah merenggut nyawa sedikitnya 8.000 orang dan melukai belasan ribu lainnya.
Serangan itu juga telah memporak-porandakan infrastruktur penting Yaman termasuk rumah sakit, sekolah, bandara, pabrik, pelabuhan dan fasilitas publik lainnya.
Serangan tersebut merupakan balasan terhadap pelanggaran berulang Arab Saudi terhadap kesepakatan gencatan senjata dan berbagai kejahatan pasukan agresor.
Menurut jaringan televisi al-Masirah, serangan militer Yaman terhadap sebuah tank militer Arab Saudi di distrik Rajla telah menewaskan seorang Komandan Unit Lapis Baja Korps 84 AD dan beberapa perwira militer negara Arab ini.
Di sisi lain, jet-jet tempur dan pasukan bayaran Arab Saudi telah beberapa kali melanggar gencatan senjata di banyak provinsi Yaman.
Sebuah sumber militer Yaman menyebutkan, pesawat-pesawat tempur rezim Al Saud terbang di atas Provinsi Saada, Marib, al-Jawf dan Sanaa.
Penyeberangan Haradh pada Senin (25/7/2016) juga menjadi sasaran serangan roket dan artileri pasukan bayaran Arab Saudi.
Agresi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman yang memperoleh lampu hijau dari Amerika Serikat dimulai sejak tanggal 26 Maret 2015.
Invasi militer tersebut telah merenggut nyawa sedikitnya 8.000 orang dan melukai belasan ribu lainnya.
Serangan itu juga telah memporak-porandakan infrastruktur penting Yaman termasuk rumah sakit, sekolah, bandara, pabrik, pelabuhan dan fasilitas publik lainnya.
Tuesday, April 14, 2015
Arab Saudi Kerahkan Apache di perbatasan Yaman
Irib - Juru bicara koalisi Arab anti-Yaman pimpinan Arab Saudi, mengkonfirmasikan penempatan helikopter Apache Arab Saudi di perbatasan dengan Yaman, sementara gerakan Ansarullah memperingatkan bahwa telah terbuka semua opsi untuk membalas agresi ke Yaman.
Tasnim News melaporkan, Ahmad al-Asiri dalam hal ini mengatakan, “Kami mengendalikan situasi dengan menggunakan artileri dan helikopter Apache.”
Ditegaskannya bahwa militer Arab Saudi tidak akan membiarkan militan menyerang melalui perbatasan dan bahwa perbatasan Arab Saudi aman, tenang dan tidak terpengaruh akibat agresi ke Yaman.
Namun fakta di lapangan Senin (14/4) berbeda dengan pernyataan al-Asiri, mengingat serangan anggota kabilah Takhya ke pangkalan militer al-Manara, Arab Saudi di provinsi Saada, telah membuat wilayah perbatasan Yaman dan Arab Saudi tidak aman bagi para agresor.
Sumber-sumber pemberitaan Yaman menyatakan, para pejuang suku Takhya di Provinsi Saada, Utara Yaman menyerang sebuah pangkalan militer di perbatasan Saudi. Dalam kontak senjata yang terjadi, pasukan suku Takhya membunuh 18 tentara Saudi dan menyita banyak senjata. Sejumlah pejuang suku Takhya juga tewas dalam pertempuran itu.
Serangan tersebut mengejutkan militer Arab Saudi.
Setelah kegagalan semua opsi dan politiknya di Yaman, Arab Saudi memilih opsi militer dan melancarkan serangan udara ke Yaman pada 26 Maret, dengan alasan mengembalikan kekuasaan sah mantan presiden Yaman yang berstatus buron, Abd Rabbuh Mansur al-Hadi.
A-Hadi, mengajukan surat pengunduran dirinya kepada parlemen Yaman pada 21 Januari 2015, dan segera disetujui parlemen. Namun al-Hadi menyatakan menarik kembali pengunduran dirinya pada 3 Maret 2015, setelah melarikan diri dari Sanaa menuju Aden dan mengumumkan pembentukan pemerintahan di Yaman selatan.
Tasnim News melaporkan, Ahmad al-Asiri dalam hal ini mengatakan, “Kami mengendalikan situasi dengan menggunakan artileri dan helikopter Apache.”
Ditegaskannya bahwa militer Arab Saudi tidak akan membiarkan militan menyerang melalui perbatasan dan bahwa perbatasan Arab Saudi aman, tenang dan tidak terpengaruh akibat agresi ke Yaman.
Namun fakta di lapangan Senin (14/4) berbeda dengan pernyataan al-Asiri, mengingat serangan anggota kabilah Takhya ke pangkalan militer al-Manara, Arab Saudi di provinsi Saada, telah membuat wilayah perbatasan Yaman dan Arab Saudi tidak aman bagi para agresor.
Sumber-sumber pemberitaan Yaman menyatakan, para pejuang suku Takhya di Provinsi Saada, Utara Yaman menyerang sebuah pangkalan militer di perbatasan Saudi. Dalam kontak senjata yang terjadi, pasukan suku Takhya membunuh 18 tentara Saudi dan menyita banyak senjata. Sejumlah pejuang suku Takhya juga tewas dalam pertempuran itu.
Serangan tersebut mengejutkan militer Arab Saudi.
Setelah kegagalan semua opsi dan politiknya di Yaman, Arab Saudi memilih opsi militer dan melancarkan serangan udara ke Yaman pada 26 Maret, dengan alasan mengembalikan kekuasaan sah mantan presiden Yaman yang berstatus buron, Abd Rabbuh Mansur al-Hadi.
A-Hadi, mengajukan surat pengunduran dirinya kepada parlemen Yaman pada 21 Januari 2015, dan segera disetujui parlemen. Namun al-Hadi menyatakan menarik kembali pengunduran dirinya pada 3 Maret 2015, setelah melarikan diri dari Sanaa menuju Aden dan mengumumkan pembentukan pemerintahan di Yaman selatan.
Monday, April 13, 2015
GP Ansor Minta Umat Islam Tak Terkecoh Konflik di Yaman
Okezone - Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) mengingatkan umat Islam Indonesia untuk tidak ikut-ikutan dalam konflik antara Arab Saudi dan Kelompok Syi'ah Houthi di Yaman. Karena Indonesia merupakan negara yang anti-perang dan mencintai perdamaian.
"Dalam pembukaan UUD 1945 negara Indonesia harus ikut aktif dan terlibat dalam upaya perdamaian dunia. Karena itu atas nama apapun, dan konflik apapun, kita tidak membenarkan cara-cara perang untuk menyelesaikan masalah. Karena akan memakan korban kemanusiaan," ujar Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Minggu (12/4/2015).
Namun pada sisi lain, GP Ansor sebagai organisasi sayap kepemudaan NU dan bangsa Indonesia, sangat menghormati prinsip-prinsip demokrasi dan HAM. Bagaimanapun, Presiden Yaman Abedrabbuh Mansour Hadi yang digulingkan oleh kelompok Syi'ah , Abdul Malek al Houthi, adalah Presiden yang dipilih secara demokratis. Karena itu, GP Ansor juga tidak membenarkan cara-cara kudeta dalam meraih kekuasaan. "Namun Ansor sangat lebih tidak membenarkan adanya peperangan untuk meraih kekuasaan," tegasnya.
Untuk itu, GP Ansor meminta konflik Arab Saudi dan Negara Teluk, kecuali Oman, dengan kelompok Syi'ah Houthi di Yaman tidak dikaitkan dengan sentimen konflik aliran Sunni, dan Syi'ah. Sebab antara Abedrabbuh Mansour al Hadi dan Abdul Malek al Houthi sesungguhnya adalah penganut Syi'ah Zaidiyyah. Jadi, konflik ini tidak ada kaitannya dengan sunni dan syi'ah.
"Melainkan lebih pada ketakutan dan ancaman kepentingan dan politik masing-masing negara, yang kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh ikut terlibat dan intervensi," ujarnya.
Karena itu, GP Ansor mengimbau bangsa Indonesia terutama umat Islam dan ulama Indonesia tidak terkecoh dan jangan mau ditunggangi kepentingan pihak lain. "Masak tokoh-tokoh Islam Indonesia ditunggangi kedutaan negara lain, untuk mendukung aksi perang yang mereka lakukan. Kita umat Islam Indonesia jangan mau dipakai orang lain," tukasnya.
Sebelumnya, sejumlah ulama menyambangi kediaman Duta Besar Arab Saudi. Kehadiran para ulama ini untuk menyatakan dukungan terhadap pemerintah Arab Saudi yang memimpin operasi Decisive Storm terhadap pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Bagi GP Ansor, perang bukanlah solusi. Apalagi, jika itu dari Arab Saudi maka ada kemungkinan biaya perangnya merupakan uang dari biaya haji. "Jangan-jangan duit yang dibuat biaya perang uangnya jamaah haji. Masak dana hasil umat Islam untuk perang sesama umat Islam," ungkap Nusron.
"Dalam pembukaan UUD 1945 negara Indonesia harus ikut aktif dan terlibat dalam upaya perdamaian dunia. Karena itu atas nama apapun, dan konflik apapun, kita tidak membenarkan cara-cara perang untuk menyelesaikan masalah. Karena akan memakan korban kemanusiaan," ujar Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Minggu (12/4/2015).
Namun pada sisi lain, GP Ansor sebagai organisasi sayap kepemudaan NU dan bangsa Indonesia, sangat menghormati prinsip-prinsip demokrasi dan HAM. Bagaimanapun, Presiden Yaman Abedrabbuh Mansour Hadi yang digulingkan oleh kelompok Syi'ah , Abdul Malek al Houthi, adalah Presiden yang dipilih secara demokratis. Karena itu, GP Ansor juga tidak membenarkan cara-cara kudeta dalam meraih kekuasaan. "Namun Ansor sangat lebih tidak membenarkan adanya peperangan untuk meraih kekuasaan," tegasnya.
Untuk itu, GP Ansor meminta konflik Arab Saudi dan Negara Teluk, kecuali Oman, dengan kelompok Syi'ah Houthi di Yaman tidak dikaitkan dengan sentimen konflik aliran Sunni, dan Syi'ah. Sebab antara Abedrabbuh Mansour al Hadi dan Abdul Malek al Houthi sesungguhnya adalah penganut Syi'ah Zaidiyyah. Jadi, konflik ini tidak ada kaitannya dengan sunni dan syi'ah.
"Melainkan lebih pada ketakutan dan ancaman kepentingan dan politik masing-masing negara, yang kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh ikut terlibat dan intervensi," ujarnya.
Karena itu, GP Ansor mengimbau bangsa Indonesia terutama umat Islam dan ulama Indonesia tidak terkecoh dan jangan mau ditunggangi kepentingan pihak lain. "Masak tokoh-tokoh Islam Indonesia ditunggangi kedutaan negara lain, untuk mendukung aksi perang yang mereka lakukan. Kita umat Islam Indonesia jangan mau dipakai orang lain," tukasnya.
Sebelumnya, sejumlah ulama menyambangi kediaman Duta Besar Arab Saudi. Kehadiran para ulama ini untuk menyatakan dukungan terhadap pemerintah Arab Saudi yang memimpin operasi Decisive Storm terhadap pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Bagi GP Ansor, perang bukanlah solusi. Apalagi, jika itu dari Arab Saudi maka ada kemungkinan biaya perangnya merupakan uang dari biaya haji. "Jangan-jangan duit yang dibuat biaya perang uangnya jamaah haji. Masak dana hasil umat Islam untuk perang sesama umat Islam," ungkap Nusron.
Subscribe to:
Posts (Atom)






















