Pemerintah Prancis marah atas klaim Polandia yang menyebut Mesir sudah menjual kapal perang Mistral buatan Prancis kepada Rusia. Kapal Mistral semula dibangun Prancis untuk Angkatan Laut Rusia namun kontrak dibatalkan sepihak oleh Prancis atas tekanan NATO.
Kemarahan Paris pada Polandia disampaikan Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian. Semula, Menteri Pertahanan Polandia Antoni Macierewicz mengklaim bahwa dua kapal Mistral Prancis yang dijual ke Mesir diam-diam dijual lagi kepada Rusia.
Klaim Menteri Polandia itu tidak disertai sumber informasi secara resmi. Namun, ada dugaan klaim yang disampaikan kepada para legislator Polandia itu berdasarkan posting dari media sosial yang beredar pada bulan lalu.
Rumor itu tidak pernah dikonfirmasi, meskipun beberapa sumber mengatakan bahwa Mesir dan Rusia melakukan negosiasi kesepakatan soal penjualan peralatan tempur.
Klaim Macierewicz ini dibuat di tengah perseteruan antara Prancis dan Polandia. Perseteruan itu muncul setelah Polandia pada awal bulan lalu tiba-tiba membatalkan kontrak pembelian 50 helikopter Aribus Caracal Prancis dengan nilai kontrak lebih dari USD3,5 miliar.
Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian mengkritik Menteri Pertahanan Polandia Antoni Macierewicz yang mengumbar rumor penjualan kapal perang Mistral oleh Mesir kepada Rusia setelah mengacaukan kesepakatan pembelian helikopter tempur Prancis.
“Kami cukup marah pada Polandia karena membatalkan kesepakatan untuk membeli helikopter Prancis. Ini adalah cara yang buruk untuk melakukan sesuatu,” kesal Le Drian seperti dikutip dari surat kabar Les Echos, Sabtu (5/11/2016).
Dia meyakinkan anggota parlemen Prancis bahwa kapal Mistral masih berada di Mesir. ”Situasi ini cukup tegang,” katanya.”Konfrontasi tidak akan mencegah Prancis dari memenuhi kewajibannya kepada Polandia,” katanya lagi. - Sindo
Showing posts with label Mesir. Show all posts
Showing posts with label Mesir. Show all posts
Friday, November 4, 2016
Friday, October 14, 2016
Awal Berakhirnya Hubungan Arab Saudi-Mesir ?
Pemerintah Mesir mendukung draf Rusia terkait kondisi Suriah, namun Abdullah al-Moallimi, duta besar Arab Saudi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengkritik sikap Kairo dan menyebutnya sangat menyakitkan. Setelah pengumuman sikap Mesir ini, perusahaan Aramco berencana menghentikan pengiriman bantuan minyak Arab Saudi ke Kairo.
Selain itu, aktivitas televisi al-Arabiya di Kairo segera ditutup menyusul tensi kedua negara. Mesir adalah negara Arab terbesar, namun negara ini sejak lama kehilangan perannya sebagai kekuatan besar dan pemimpin di kawasan. Faktor utamanya adalah eskalasi krisis ekonomi yang melilit Kairo, di mana pemerintahan Abdel Fattah el-Sisi pun tidak terkecuali.
Berkuasanya el-Sisi di Mesir, kebutuhan ekonomi Kairo serta kecenderungan politik Arab Saudi khususnya penentangannya terhadap Ikhwanul Muslimin serta upaya Riyadh mencegah kehancuran konstelasi kekuatan regional mendorong kedua negara memperkokoh hubungan bilateralnya.
Ketika kudeta tahun 2013 meletus di Mesir, Arab Saudi adalah negara pertama yang mengakui secara resmi kudeta militer terhadap Mohammad Morsi dan mengucapkan selamat atas terbentuknya pemerintahan baru di Kairo. Arab Saudi bahkan dengan berani menyebut kekerasan militer pada Agustus 2013 terhadap pendukung Morsi yang mengakibatakn ribuan warga Mesir tewas dan terluka sabagai perang anti terorisme.
Dari sisi ekonomi, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait, tiga investor Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) kurang dari satu pekan dari kudeta tahun 2013 berjanji mengucurkan dana 12 miliar dolar untuk membantu perekonomian Mesir. Paket bantuan tersebut dikemas dalam bentuk hutang, investasi dan produksi minyak.
Bantuan finansial Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait membuat cadangan devisa Bank Sentral Mesir pada Agustus 2013 bertambah menjadi 18,9 miliar dolar. Angka ini tercatat tertinggi sejak November 2011. Pada November 2013, berbagai media melaporkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjamin dana kontrak senjata Mesir dan Rusia senilai dua miliar dolar. Bantuan ini pun berlanjut di era pemerintahan el-Sisi.
Langkah lain Arab Saudi mendukung pemerintahan el-Sisi adalah mencantumkan Ikwanul Muslimin di list kelompok teroris di samping al-Qaeda dan Front al-Nusra. Langkah ini dilakukan pada Januari 2014 bersama Uni Emirat Arab dan Kuwait.
Mengingat langkah-langkah tersebut, Abdel Fattah el-Sisi setelah berkuasa pada Juli 2014 melakukan kunjungan luar negeri pertama ke Aljazair dan Agustus 2014 ke Arab Saudi. Selama dua tahun lalu, el-Sisi beberapa kali berkunjung ke Arab Saudi dan berunding dengan petinggi Riyadh. Pejabat Arab Saudi setelah berkuasanya el-Sisi juga beberapa kali melakukan kunjungan ke Kairo, di antaranya kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz pada April 2016.
Meski keduanya memiliki hubungan luas, namun Kairo dan Riyadh terlibat friksi serius terkait sejumlah isu regional khususnya krisis Suriah. Meski pemerintah Mesir di terlibat perang di Yaman dalam koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, namun partisipasinya sangat kecil dan terbatas. Menurut sejumlah pengamat, Mesir terlibat perang di Yaman demi kelangsungan bantuan ekonomi Arab Saudi.
Friksi serius Mesir dan Arab Saudi terkait krisis Suriah. Setelah berkuasanya Abdel Fattah el-Sisi, pemerintah Mesir berulang kali menekankan bahwa krisis Suriah adalah isu internal dan tidak dapat diselesaikan dengan intervensi asing. Dalam kasus ini, Kairo berbeda dengan Riyadh.
Friksi ini membuat pemerintah el-Sisi mendukung draf yang diusung Rusia terkait krisis Suriah, hal ini tentu saja membuat geram Riyadh. Realitanya adalah meski pemerintah Mesir tergantung pada Arab Saudi karena menghadapi krisis ekonomi, namun Kairo masih belum bisa melupakan masa lalunya meski tengah dililit kendala ekonomi. Mesir tidak bersedia berada di bawah kekuasaan dan pengaruh Arab Saudi yang sebagian pemimpinnya masih mentah dan kurang pengalaman. Bagi Mesir, nama Gamal Abdul Nasser membuat mereka sangat bangga.
Selain itu, aktivitas televisi al-Arabiya di Kairo segera ditutup menyusul tensi kedua negara. Mesir adalah negara Arab terbesar, namun negara ini sejak lama kehilangan perannya sebagai kekuatan besar dan pemimpin di kawasan. Faktor utamanya adalah eskalasi krisis ekonomi yang melilit Kairo, di mana pemerintahan Abdel Fattah el-Sisi pun tidak terkecuali.
Berkuasanya el-Sisi di Mesir, kebutuhan ekonomi Kairo serta kecenderungan politik Arab Saudi khususnya penentangannya terhadap Ikhwanul Muslimin serta upaya Riyadh mencegah kehancuran konstelasi kekuatan regional mendorong kedua negara memperkokoh hubungan bilateralnya.
Ketika kudeta tahun 2013 meletus di Mesir, Arab Saudi adalah negara pertama yang mengakui secara resmi kudeta militer terhadap Mohammad Morsi dan mengucapkan selamat atas terbentuknya pemerintahan baru di Kairo. Arab Saudi bahkan dengan berani menyebut kekerasan militer pada Agustus 2013 terhadap pendukung Morsi yang mengakibatakn ribuan warga Mesir tewas dan terluka sabagai perang anti terorisme.
Dari sisi ekonomi, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait, tiga investor Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) kurang dari satu pekan dari kudeta tahun 2013 berjanji mengucurkan dana 12 miliar dolar untuk membantu perekonomian Mesir. Paket bantuan tersebut dikemas dalam bentuk hutang, investasi dan produksi minyak.
Bantuan finansial Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait membuat cadangan devisa Bank Sentral Mesir pada Agustus 2013 bertambah menjadi 18,9 miliar dolar. Angka ini tercatat tertinggi sejak November 2011. Pada November 2013, berbagai media melaporkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjamin dana kontrak senjata Mesir dan Rusia senilai dua miliar dolar. Bantuan ini pun berlanjut di era pemerintahan el-Sisi.
Langkah lain Arab Saudi mendukung pemerintahan el-Sisi adalah mencantumkan Ikwanul Muslimin di list kelompok teroris di samping al-Qaeda dan Front al-Nusra. Langkah ini dilakukan pada Januari 2014 bersama Uni Emirat Arab dan Kuwait.
Mengingat langkah-langkah tersebut, Abdel Fattah el-Sisi setelah berkuasa pada Juli 2014 melakukan kunjungan luar negeri pertama ke Aljazair dan Agustus 2014 ke Arab Saudi. Selama dua tahun lalu, el-Sisi beberapa kali berkunjung ke Arab Saudi dan berunding dengan petinggi Riyadh. Pejabat Arab Saudi setelah berkuasanya el-Sisi juga beberapa kali melakukan kunjungan ke Kairo, di antaranya kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz pada April 2016.
Meski keduanya memiliki hubungan luas, namun Kairo dan Riyadh terlibat friksi serius terkait sejumlah isu regional khususnya krisis Suriah. Meski pemerintah Mesir di terlibat perang di Yaman dalam koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, namun partisipasinya sangat kecil dan terbatas. Menurut sejumlah pengamat, Mesir terlibat perang di Yaman demi kelangsungan bantuan ekonomi Arab Saudi.
Friksi serius Mesir dan Arab Saudi terkait krisis Suriah. Setelah berkuasanya Abdel Fattah el-Sisi, pemerintah Mesir berulang kali menekankan bahwa krisis Suriah adalah isu internal dan tidak dapat diselesaikan dengan intervensi asing. Dalam kasus ini, Kairo berbeda dengan Riyadh.
Friksi ini membuat pemerintah el-Sisi mendukung draf yang diusung Rusia terkait krisis Suriah, hal ini tentu saja membuat geram Riyadh. Realitanya adalah meski pemerintah Mesir tergantung pada Arab Saudi karena menghadapi krisis ekonomi, namun Kairo masih belum bisa melupakan masa lalunya meski tengah dililit kendala ekonomi. Mesir tidak bersedia berada di bawah kekuasaan dan pengaruh Arab Saudi yang sebagian pemimpinnya masih mentah dan kurang pengalaman. Bagi Mesir, nama Gamal Abdul Nasser membuat mereka sangat bangga.
Wednesday, April 1, 2015
Mesir Turunkan 2000 Pasukan Payung ke Yaman
LiputanIslam – Angkatan bersenjata Mesir dilaporkan telah menerjunkan 2,000 pasukan payungnya ke kawasan sekitar Pelabuhan al-Mukha, provinsi Ta’iz, Yaman. Demikian dilaporkan harian al-Rai terbitan Kuwait sembari menambahkan bahwa Mesir juga telah menempatkan sejumlah pasukannya yang lain di Selat Bab al-Mandeb dengan dalih demi menjaga keamanan di kawasan strategis tersebut.
Kantor berita Turki Anatolia mengutip pernyataan seorang pejabat yang meminta tidak disebutkan namanya bahwa pasukan koalisi Arab berencara mencegah masuknya pasukan Ansarullah ke Pelabuhan al-Mukha atau Selat Bab al-Mandeb agar milisi itu tidak menguasai dua lokasi penting tersebut.
Situs Newsweek yang berbasis di Amerika Serikat juga mengabarkan bahwa Mesir telah mengirim 2,000 pasukan ke Yaman, namun belum ada sumber resmi dari Mesir yang berkomentar mengenai berita ini.
Menurut Newsweek, tiga orang pejabat Mesir mengatakan kepada Associated Press bahwa Mesir dan Arab Saudi mulai masuk ke wilayah Yaman melalui wilayah Arab Saudi serta menguasai kawasan Pantai Laut Merah dan Laut Arab, dan meningkatkan serangan udara ke berbagai kota Yaman.
Saudi dan beberapa negara Arab sekutunya, termasuk Mesir dan Sudan, melancarkan serangan udara ke Yaman sejak 26 Maret 2015 dengan ambisi mengembalikan kekuasaan di Yaman kepada presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi yang menjalin aliansi erat dengan rezim Saudi dan diperangi oleh Ansarullah yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman setelah sekian bulan menggerakkan revolusi rakyat. Belakangan juga terbetik laporan bahwa militer AS juga terlibat langsung dalam serangan ke Yaman.
Kantor berita Turki Anatolia mengutip pernyataan seorang pejabat yang meminta tidak disebutkan namanya bahwa pasukan koalisi Arab berencara mencegah masuknya pasukan Ansarullah ke Pelabuhan al-Mukha atau Selat Bab al-Mandeb agar milisi itu tidak menguasai dua lokasi penting tersebut.
Situs Newsweek yang berbasis di Amerika Serikat juga mengabarkan bahwa Mesir telah mengirim 2,000 pasukan ke Yaman, namun belum ada sumber resmi dari Mesir yang berkomentar mengenai berita ini.
Menurut Newsweek, tiga orang pejabat Mesir mengatakan kepada Associated Press bahwa Mesir dan Arab Saudi mulai masuk ke wilayah Yaman melalui wilayah Arab Saudi serta menguasai kawasan Pantai Laut Merah dan Laut Arab, dan meningkatkan serangan udara ke berbagai kota Yaman.
Saudi dan beberapa negara Arab sekutunya, termasuk Mesir dan Sudan, melancarkan serangan udara ke Yaman sejak 26 Maret 2015 dengan ambisi mengembalikan kekuasaan di Yaman kepada presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi yang menjalin aliansi erat dengan rezim Saudi dan diperangi oleh Ansarullah yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman setelah sekian bulan menggerakkan revolusi rakyat. Belakangan juga terbetik laporan bahwa militer AS juga terlibat langsung dalam serangan ke Yaman.
Monday, March 30, 2015
Kapal Perang Mesir Bombardir Aden
Irib - Reuters melaporkan bahwa kapal perang Mesir menembaki sejumlah kawasan di kota Aden yang terletak di selatan Yaman.
Menurut sumber ini, kapal perang yang berlabuh di pantai Yaman hari Senin (30/3) menembaki pos-pos militer dan pasukan rakyat Yaman di pelabuhan Aden.
Masih menurut sumber ini, pasukan yang berhasil merebut sejumlah daerah yang sebelumnya diduduki oleh kubu pro Mansur Hadi, mantan presiden Yaman menjadi target serangan kapal perang Mesir.
Sejak Kamis lalu hingga kini ketika serangan udara Arab Saudi ke Yaman digelar, belum ada laporan serangan ke Yaman melalui laut.
Kapal perang Mesir sejak pekan lalu tiba di Laut Merah melalui terusan Suez dan mengambil posisi di dekat kota Aden.
Sementara itu, sampai saat ini belum ada pejabat resmi Mesir yang memberikan komentar atas serangan tersebut, baik itu membenarkan atau menolak.
Menurut sumber ini, kapal perang yang berlabuh di pantai Yaman hari Senin (30/3) menembaki pos-pos militer dan pasukan rakyat Yaman di pelabuhan Aden.
Masih menurut sumber ini, pasukan yang berhasil merebut sejumlah daerah yang sebelumnya diduduki oleh kubu pro Mansur Hadi, mantan presiden Yaman menjadi target serangan kapal perang Mesir.
Sejak Kamis lalu hingga kini ketika serangan udara Arab Saudi ke Yaman digelar, belum ada laporan serangan ke Yaman melalui laut.
Kapal perang Mesir sejak pekan lalu tiba di Laut Merah melalui terusan Suez dan mengambil posisi di dekat kota Aden.
Sementara itu, sampai saat ini belum ada pejabat resmi Mesir yang memberikan komentar atas serangan tersebut, baik itu membenarkan atau menolak.
Sunday, March 8, 2015
Pasukan Mesir Membunuh 70 Militan dan Menangkap 118
Pasukan pemerintah Mesir membunuh 70 militan dan menangkap 118 lainnya dalam sejumlah serangan udara dan darat ke wilayah bergolak Semenanjung Sinai dalam beberapa pekan terakhir.
Juru bicara militer, Brigadir Jenderal Mohammad Samir, pada Ahad (8/3) mengatakan bahwa para militan terbunuh dalam operasi di kota el-Arish, di dekat kota perbatasan Rafah, dan juga di kota Sheikh Zuweid.
Ditambahkannya bahwa sejumlah anggota kelompok teroris Takfiri Ansar Bait al-Ansar termasuk di antara para korban tewas dan 23 di antara mereka yang tertangkap adalah buron aparat keamanan Mesir.
Militer Mesir menyatakan bahwa sedikitnya 172 militan tewas dalam operasi gabungan antara polisi dan militer di Semenanjung Sinai pada bulan Februari. Adapun kota Sheikh Zuweid dan Rafah adalah termasuk di antara kota di el-Arish yang mencatat korban terbanyak dalam sebulan terakhir.
Juru bicara militer, Brigadir Jenderal Mohammad Samir, pada Ahad (8/3) mengatakan bahwa para militan terbunuh dalam operasi di kota el-Arish, di dekat kota perbatasan Rafah, dan juga di kota Sheikh Zuweid.
Ditambahkannya bahwa sejumlah anggota kelompok teroris Takfiri Ansar Bait al-Ansar termasuk di antara para korban tewas dan 23 di antara mereka yang tertangkap adalah buron aparat keamanan Mesir.
Militer Mesir menyatakan bahwa sedikitnya 172 militan tewas dalam operasi gabungan antara polisi dan militer di Semenanjung Sinai pada bulan Februari. Adapun kota Sheikh Zuweid dan Rafah adalah termasuk di antara kota di el-Arish yang mencatat korban terbanyak dalam sebulan terakhir.
Monday, February 23, 2015
Prancis kirim kapal induk ke timur tengah untuk perangi ISIS
BBC - Prancis mengirim satu-satunya kapal induk yang mereka miliki ke Timur Tengah untuk memerangi kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).
Media Prancis memberitakan kapal induk Charles de Gaulle berada di Teluk Persia dan jet-jet mereka melakukan misi pertama untuk menyerang para pejuang ISIS di Irak, hari Senin (23/02).
Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian sudah mengunjungi kapal induk ini.
Beberapa waktu lalu Presiden Francois Hollande mengumumkan pengiriman kapal induk ini ke Timur Tengah untuk mendukung operasi militer negara-negara pimpinan Amerika Serikat, setelah terjadi serangan di Paris Januari silam.
Pesawat-pesawat tempur Prancis yang berada di kawasan sudah ambil bagian dalam serangan menumpas ISIS sejak September lalu.
Kehadiran kapal induk ini memperbesar skala keterlibatan Prancis dalam operasi militer melawan ISIS.
Menurut media Prancis terdapat sekitar 2.000 personel militer di kapal tersebut, yang didukung oleh satu kapal selam dan dua kapal fregat, di antaranya dikirim oleh militer Inggris.
Lavrov: Amerika Pemicu Kekacauan di Timur Tengah
Irib - Menteri Luar Negeri Rusia menuding sikap Amerika yang ingin menguasai dunia secara tidak langsung menjadi pemicu kekacauan dan semakin berkembangnya ektrimisme di Timur Tengah.
Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia hari Senin (23/2) dalam sidang istimewa Dewan Keamanan PBB tentang perdamaian dan keamanan internasional mengatakan, “Serangan udara Koalisi Internasional yang dipimpin Amerika di Suriah dan Irak, agresi Amerika ke Irak di tahun 2003 dan intervensi militer dii Libya tahun 2011 menjadi penyebab munculnya krisis di kawasan Timur Tengah.”
Menlu Lavrov menegaskan bahwa saat ini Timur Tengah dan Afrika Utara mengalami kekacauan dan munculnya kelompok-kelompok ekstrim di kawasan ini bersumber dari instabilitas keamanan.
PBB, menurutnya harus memainkan peran positif demi menyelesaikan masalah internasional.
Thursday, February 19, 2015
Qatar tarik dubes dari Mesir terkait serangan Libya
BBC - Qatar menarik duta besarnya untuk Mesir karena pertikaian mengenai serangan udara terhadap sasaran kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di Libia.
Qatar menyatakan keberatannya terhadap aksi militer sepihak Mesir kepada negara anggota Liga Arab lainnya, yang dapat dipandang menimbulkan risiko jatuhnya korban sipil.
Hubungan antara Doha dan Kairo menegang dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah Qatar mendukung Presiden Mohammed Morsi dan Ikhwanul Muslimin sebelum digulingkan militer Mesir pada tahun 2013.
Jaringan televisi milik Qatar, Al Jazeera, juga menjadi sumber utama ketegangan karena pemerintah Mesir menuduhnya menjadi corong para pendukung Morsi dan beberapa wartahan Al Jazzera dihukum di Mesir.
Angkata Udara Mesir membom markas ISIS di Libia pada hari Senin awal pekan ini sebagai balasan atas pemenggalan 21 warga Kristen Koptik Mesir yang diculik.
Setelah pertemuan di Kairo pada hari Rabu (18/02), Liga Arab mengeluarkan pernyataan yang menekankan "pemahaman menyeluruh" tentang serangan udara dan mendukung desakan Mesir bagi pencabutan embargo senjata PBB terkait pemasokan senjata bagi angkatan bersenjata Libia.
Wednesday, February 18, 2015
Pesawat Libya kembali ke Tripoli setelah Mesir tutup ruang udaranya
ANTARA News, Kairo - Satu pesawat terbang komersial dengan tujuan Istanbul terpaksa kembali ke Tripoli setelah Mesir melarang terbang di ruang udaranya, kata sumber-sumber bandar udara dan maskapai.
Belum ada komentar segera dari Mesir yang melancarkan serangan-serangan udara pada Senin atas sasaran-sasaran yang disangka menjadi sarang Negara Islam di Libya, sehari setelah kelompok itu menyiarkan satu video yang memperlihatkan pemenggalan para pengikut Kristen Koptik Mesir.
Larangan tersebut akan memaksa Libya, yang di dalam negerinya sedang berkecamuk perang saudara, ke arah isolasi lebih jauh sementara Turki merupakan salah satu dari sedikit negara yang pesawat-pesawat Libya masih boleh terbang ke sana. Maskapai-maskapai asing telah meninggalkan produsen minyak itu.
Maskapai-maskapai Libya yang terbang ke Turki perlu melintasi ruang udara Mesir untuk menghindari Siprus sementara negara Uni Eropa telah memberlakukan larangan terbang karena alasan-alasan keamanan.
Pesawat terbang Libyan Airline tinggal landas menuju Istanbul dari bandara Matiga tetapi kembali setelah Mesir memberitahu maskapai tersebut bahwa pesawat itu tidak diizinkan memasuki ruang udara Mesir, menurut maskapai dan bandara tersebut di laman mereka.
Maroko sebelumnya menyatakan telah menangguhkan semua penerbangan antara kota-kota Maroko dan Libya karena kekhawatiran keamanan.
"Penghentian sementara disebabkan oleh ketaksesuaian dari penerbangan yang berangkat dari bandara Libya dengan standar internasional" kata pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri dan Perhubungan Maroko.
Maroko juga telah memutuskan untuk menutup wilayah udaranya bagi semua pesawat Libya, tambahnya.
Maskapai-maskapai asing menghentikan penerbangan ke Libya Juli lalu ketika satu faksi yang disebut Fajar Libya menyerang satu grup lawannya yang menguasai bandar udara utama Tripoli, mengendalikan ibu kota negara itu setelah pertempuran selama beberapa bulan. Bandara itu dan sebanyak 20 pesawat rusak dalam pertempuran tersebut, kata para pejabat.
Pesawat-pesawat Turkish Airlines sempat kembali tahun lalu terbang ke Misrata, sebelah timur Tripoli. Tetapi maskapai itu menghentikan penerbangan-penerbangan bulan lalu karena serangan-serangan atas bandara tersebut, bagian dari perseteruan antara faksi-faksi bermusuhan yang telah bertempur untuk memperebutkan kekuasaan sejak Muammar Gaddafi digulingkan pada 2011.
Subscribe to:
Posts (Atom)








