Sekjen Perhimpunan Ulama Muqawama Internasional di Lebanon menyebut klaim Arab Saudi terkait serangan rudal pejuang Yaman ke kota suci Mekah, tidak berdasar.
Syeikh Maher Hammoud, Sekjen Perhimpunan Ulama Muqawama Internasional di Lebanon (29/10) mengatakan, Saudi berbohong terkait serangan rudal Yaman ke kota Mekah. Menurutnya, hal itu dilakukan Riyadh untuk membangkitkan kemarahan Muslimin atas pasukan Ansarullah, Yaman.
Syeikh Maher Hammoud menambahkan, klaim absurd dan kebohongan semacam itu disampaikan untuk memprovokasi Muslimin agar melawan Ansarullah, Yaman.
Kementerian Pertahanan Yaman, Kamis (27/10) malam mengabarkan ditembakknya rudal balistik Burkan-1 ke arah bandara King Abdulaziz di kota Jeddah, Barat Saudi.
Sumber-sumber media Saudi, dengan tujuan untuk menipu opini publik dunia, Jumat (28/10) mengklaim, sebuah rudal balistik milik pasukan Yaman diluncurkan dari kota Saada, Utara negara itu ke kota suci Mekah.
Realitasnya, komite-komite rakyat dan militer Yaman selalu menyerang pangkalan-pangkalan militer Saudi di beberapa wilayah dengan rudal, dalam aksi balasan atas kejahatan koalisi Riyadh yang sejak Maret 2015 melancarkan agresi militer luas ke Yaman.
Showing posts with label Yaman. Show all posts
Showing posts with label Yaman. Show all posts
Monday, October 31, 2016
Inggris: Rudal Ansarullah Yaman Targetkan Jeddah, Bukan Mekkah
Pernyataan yang dirilis pada Minggu (31/10/2016) juga menegaskan bahwa rudal scud yang ditembakkan oleh Yaman menargetkan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, bukan kota Mekkah. Demikian dilaporkan televisi al-Mayadeen, Lebanon.
"Pada tanggal 27 Oktober, sebuah rudal scud diluncurkan dari wilayah yang dikuasai oleh Ansarullah Yaman. Rudal ini tampaknya menargetkan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah. Rudal itu dicegat oleh sistem pertahanan udara Arab Saudi," kata pernyataan tersebut.
Arab Saudi mengklaim bahwa rudal yang ditembakkan oleh Ansarullah Yaman menargetkan kota suci Mekkah. Riyadh ingin membangkitkan kemarahan kaum Muslim dan melancarkan propaganda terhadap Ansarullah.
Koalisi pimpinan Saudi menuding Ansarullah Yaman ingin menyerang kota Mekkah, namun gerakan ini membantah keras tudingan tersebut.
"Pada tanggal 27 Oktober, sebuah rudal scud diluncurkan dari wilayah yang dikuasai oleh Ansarullah Yaman. Rudal ini tampaknya menargetkan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah. Rudal itu dicegat oleh sistem pertahanan udara Arab Saudi," kata pernyataan tersebut.
Arab Saudi mengklaim bahwa rudal yang ditembakkan oleh Ansarullah Yaman menargetkan kota suci Mekkah. Riyadh ingin membangkitkan kemarahan kaum Muslim dan melancarkan propaganda terhadap Ansarullah.
Koalisi pimpinan Saudi menuding Ansarullah Yaman ingin menyerang kota Mekkah, namun gerakan ini membantah keras tudingan tersebut.
Friday, October 14, 2016
Houthi: AS Bersiap Invasi Yaman
Pemimpin gerakan Houthi Ansarullah Yaman memperingatkan bahwa militer AS sedang mempersiapkan alasan untuk melakukan tindakan agresi terhadap negara Arab yang dilanda perang itu.
Dalam pidato televisi pada hari Kamis (13/10), Abdul Malik Badreddin al-Houthi mengecam serangan rudal terbaru Washington terhadap tiga situs radar seluler di pantai Laut Merah Yaman, mengatakan bahwa bangsa dan angkatan bersenjata Yaman harus tetap waspada dan siaga sepenuhnya untuk menghadapi penjajah.
“AS setelah meletakkan dasar untuk membuat sebuah langkah invasif terhadap [pesisir barat] Provinsi Hudaydah,” kata pernyataan itu, menambahkan, “Melalui langkah ini, AS berusaha menekan dan melecehkan rakyat Yaman.”
“Bangsa Yaman akan mempertahankan wilayah, kebebasan dan kemerdekaannya, melihat hal itu sebagai haknya untuk menggunakan cara yang sah melawan invasi kekerasan,” kata pemimpin Houthi.
Pemimpin Houthi membuat komentar ini pada peringatan ulang tahun munculnya perjuangan senjata14 Oktober 1963, yang memaksa Inggris menarik diri dari Yaman selatan.
Pernyataan Houthi ini menanggapi pengumuman Pentagon yang mengatakan bahwa tiga situs radar Yaman di pantai Laut Merah negara itu telah dihancurkan oleh serangan rudal AS. Pentagon sebelumnya telah menyatakan bahwa USS Mason, kapal perusak berpemandu-rudal, telah diserang Yaman untuk kedua kalinya dalam empat hari terakhir.
Dalam pidato televisi pada hari Kamis (13/10), Abdul Malik Badreddin al-Houthi mengecam serangan rudal terbaru Washington terhadap tiga situs radar seluler di pantai Laut Merah Yaman, mengatakan bahwa bangsa dan angkatan bersenjata Yaman harus tetap waspada dan siaga sepenuhnya untuk menghadapi penjajah.
“AS setelah meletakkan dasar untuk membuat sebuah langkah invasif terhadap [pesisir barat] Provinsi Hudaydah,” kata pernyataan itu, menambahkan, “Melalui langkah ini, AS berusaha menekan dan melecehkan rakyat Yaman.”
“Bangsa Yaman akan mempertahankan wilayah, kebebasan dan kemerdekaannya, melihat hal itu sebagai haknya untuk menggunakan cara yang sah melawan invasi kekerasan,” kata pemimpin Houthi.
Pemimpin Houthi membuat komentar ini pada peringatan ulang tahun munculnya perjuangan senjata14 Oktober 1963, yang memaksa Inggris menarik diri dari Yaman selatan.
Pernyataan Houthi ini menanggapi pengumuman Pentagon yang mengatakan bahwa tiga situs radar Yaman di pantai Laut Merah negara itu telah dihancurkan oleh serangan rudal AS. Pentagon sebelumnya telah menyatakan bahwa USS Mason, kapal perusak berpemandu-rudal, telah diserang Yaman untuk kedua kalinya dalam empat hari terakhir.
Thursday, October 13, 2016
Iran Kirim Dua Kapal Perang ke Laut Yaman
Angkatan Laut Iran telah menyebarkan armada kapal perangnya ke perairan internasional untuk misi yang mencakup kehadiran di perairan lepas pantai selatan Yaman.
Tasnim News melaporkan pada Kamis (13/10), bahwa Armada 44 Iran, yang terdiri kapal perusak Alvand dan kapal perang logistik Bushehr, telah dikirim ke Teluk Aden dan Selat Bab el-Mandeb untuk melindungi kapal-kapal perdagangan negara itu melawan pembajakan di zona tidak aman. Armada Iran ini akan menuju perairan dekat Somalia dan Tanzania setelah melalui Samudera Hindia.
Setelah membuat panggilan pelabuhan di Tanzania, armada 44 akan berlayar di sepanjang pantai timur Afrika jika cuaca memungkinkan, dan dijadwalkan untuk berlayar hingga ke pantai barat Afrika Selatan, di Samudera Atlantik Selatan.
Kehadiran armada Iran di Teluk Aden bertepatan dengan keputusan AS untuk langsung terlibat dalam perang koalisi Saudi melawan Yaman.
Pada hari Kamis, militer AS melancarkan serangan rudal untuk menghancurkan situs radar pesisir di Yaman sebagai pembalasan atas serangan rudal yang diduga dari sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS.
Sebelumnya kapal perang destroyer AS, USS Nitze, menyerang tiga situs radar milik pejuang Houthi Yaman dengan rudal Tomahawk. Pentagon menyatakan serangan rudal ini sebagai balasan setelah kapal perang AS, USS Mason, atas izin dari Presiden Obama.
Pihak Tentara Yaman dan pejuang Houthi mengatakan bahwa Tuduhan AS terhadap Houthi adalah disengaja demi membuka jalan bagi keterlibatan langsung negara itu dalam agresi Saudi ke Yaman.
“Tuduhan-tuduhan ini sama sekali tidak berdasar! Tentara Yaman maupun pasukan rakyat Yaman tidak ada hubungannya dengan tindakan ini. Tuduhan AS ini sengaja dibuat dalam konteks menciptakan pembenaran palsu untuk membuka jalan bagi koalisi pimpinan Saudi untuk meningkat serangan agresi mereka terhadap Yaman dan menutupi kejahatan yang terus dilakukan oleh koalisi agresi terhadap rakyat Yaman, “kata pejabat militer tersebut kepada kantor berita Yaman, SABA.
Tasnim News melaporkan pada Kamis (13/10), bahwa Armada 44 Iran, yang terdiri kapal perusak Alvand dan kapal perang logistik Bushehr, telah dikirim ke Teluk Aden dan Selat Bab el-Mandeb untuk melindungi kapal-kapal perdagangan negara itu melawan pembajakan di zona tidak aman. Armada Iran ini akan menuju perairan dekat Somalia dan Tanzania setelah melalui Samudera Hindia.
Setelah membuat panggilan pelabuhan di Tanzania, armada 44 akan berlayar di sepanjang pantai timur Afrika jika cuaca memungkinkan, dan dijadwalkan untuk berlayar hingga ke pantai barat Afrika Selatan, di Samudera Atlantik Selatan.
Kehadiran armada Iran di Teluk Aden bertepatan dengan keputusan AS untuk langsung terlibat dalam perang koalisi Saudi melawan Yaman.
Pada hari Kamis, militer AS melancarkan serangan rudal untuk menghancurkan situs radar pesisir di Yaman sebagai pembalasan atas serangan rudal yang diduga dari sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS.
Sebelumnya kapal perang destroyer AS, USS Nitze, menyerang tiga situs radar milik pejuang Houthi Yaman dengan rudal Tomahawk. Pentagon menyatakan serangan rudal ini sebagai balasan setelah kapal perang AS, USS Mason, atas izin dari Presiden Obama.
Pihak Tentara Yaman dan pejuang Houthi mengatakan bahwa Tuduhan AS terhadap Houthi adalah disengaja demi membuka jalan bagi keterlibatan langsung negara itu dalam agresi Saudi ke Yaman.
“Tuduhan-tuduhan ini sama sekali tidak berdasar! Tentara Yaman maupun pasukan rakyat Yaman tidak ada hubungannya dengan tindakan ini. Tuduhan AS ini sengaja dibuat dalam konteks menciptakan pembenaran palsu untuk membuka jalan bagi koalisi pimpinan Saudi untuk meningkat serangan agresi mereka terhadap Yaman dan menutupi kejahatan yang terus dilakukan oleh koalisi agresi terhadap rakyat Yaman, “kata pejabat militer tersebut kepada kantor berita Yaman, SABA.
Tuesday, October 4, 2016
AL Yaman Akan Tenggelamkan Setiap Kapal Tempur Saudi dan Sekutunya
Angkatan laut dan pasukan penjaga pantai Yaman memperingatkan Arab Saudi bahwa mereka akan menargetkan setiap kapal perang dari koalisi pimpinan Arab Saudi yang berani memasuki wilayah perairan negara itu.
“Jika sampai kami menyaksikan gerakan apapun yang tidak terkoordinasi dekat wilayah perairan Yaman atau ada pelanggaran perbatasan laut kami, maka kapal perang dari Arab Saudi dan sekutunya akan hancur,” demikian bunyi pernyataan dari Angkatan laut Yaman, Selasa (04/10).
Pernyataan angkatan laut Yaman itu datang setelah tentara Yaman dan pasukan rakyat menargetkan dan menghancurkan kapal perang Emirat di perairan dekat Selat Bab al-Mandab pada hari Sabtu.
Kapal perang UEA menjadi target rudal Yaman di perairan pesisir Al-Mukha di provinsi Ta’iz. Beberapa laporan mengatakan kapal perang itu bukan milik tentara UEA namun telah disewa dari Amerika Serikat untuk perang Yaman.
Sekitar 22 angkatan laut UEA tewas dalam serangan itu. Kapal yang karam telah berulang kali menembakkan roket ke wilayah pemukiman di provinsi Ta’iz, menimbulkan korban dan kerusakan di sana.
“Jika sampai kami menyaksikan gerakan apapun yang tidak terkoordinasi dekat wilayah perairan Yaman atau ada pelanggaran perbatasan laut kami, maka kapal perang dari Arab Saudi dan sekutunya akan hancur,” demikian bunyi pernyataan dari Angkatan laut Yaman, Selasa (04/10).
Pernyataan angkatan laut Yaman itu datang setelah tentara Yaman dan pasukan rakyat menargetkan dan menghancurkan kapal perang Emirat di perairan dekat Selat Bab al-Mandab pada hari Sabtu.
Kapal perang UEA menjadi target rudal Yaman di perairan pesisir Al-Mukha di provinsi Ta’iz. Beberapa laporan mengatakan kapal perang itu bukan milik tentara UEA namun telah disewa dari Amerika Serikat untuk perang Yaman.
Sekitar 22 angkatan laut UEA tewas dalam serangan itu. Kapal yang karam telah berulang kali menembakkan roket ke wilayah pemukiman di provinsi Ta’iz, menimbulkan korban dan kerusakan di sana.
Monday, August 22, 2016
Pasukan Yaman Tembak Jatuh Helikopter Apache Saudi di Najran
Tentara Yaman dan pejuang Ansarullah terus menambah kemenangan mereka terhadap pasukan pro Saudi di Yaman, dan menimbulkan kerugian besar pada perangkat keras militer mereka, termasuk sebuah helikopter Apache buatan AS.
“Sistem pertahanan udara Yaman menghancurkan sebuah helikopter Apache di wilayah Najran,” ungkap FNA mengutip laporan berita dari sumber yang tidak disebutkan namanya pada Senin, (22/08) kemarin.
Belum ada rincian lebih lanjut mengenai insiden tersebut.
Sebelumnya pada hari Senin, seorang komandan senior Yaman mengumumkan bahwa tentara dan pasukan rakyat Yaman menimbulkan korban besar dalam pasukan pro-Saudi di provinsi Ma’rib, Ta’iz dan al-Jawf.
“Lebih dari 20 pasukan pro-Saudi tewas dalam penyergapan dari tentara Yaman dan pasukan rakyat,” kata Komandan Senior Ansarulla,h Ali al-Houthi, kepada FNA. - ArrahmahNews
“Sistem pertahanan udara Yaman menghancurkan sebuah helikopter Apache di wilayah Najran,” ungkap FNA mengutip laporan berita dari sumber yang tidak disebutkan namanya pada Senin, (22/08) kemarin.
Belum ada rincian lebih lanjut mengenai insiden tersebut.
Sebelumnya pada hari Senin, seorang komandan senior Yaman mengumumkan bahwa tentara dan pasukan rakyat Yaman menimbulkan korban besar dalam pasukan pro-Saudi di provinsi Ma’rib, Ta’iz dan al-Jawf.
“Lebih dari 20 pasukan pro-Saudi tewas dalam penyergapan dari tentara Yaman dan pasukan rakyat,” kata Komandan Senior Ansarulla,h Ali al-Houthi, kepada FNA. - ArrahmahNews
Tuesday, August 9, 2016
Serangan Udara Saudi Tewaskan 33 Warga Sipil Yaman
Setidaknya 30 warga sipil tewas dalam jet tempur Saudi yang menarget beberapa provinsi Yaman dalam pelanggaran terang-terangan dari gencatan senjata yang ditengahi PBB.
Pada hari Selasa, jet tempur Saudi membom beberapa sasaran di ibukota, Sana’a, termasuk pabrik makanan. Setidaknya 14 orang, termasuk tiga karyawan pabrik, telah kehilangan nyawa mereka dalam serangan itu, Televisi al-Masirah Yaman melaporkan.
Pesawat-pesawat tempur Saudi juga membom daerah di distrik Kushar barat laut provinsi Hajjah, menewaskan tiga orang dan melukai beberapa orang lainnya.
Di tempat lain, serangan udara Saudi menghantam pangkalan militer al-Sama di distrik Arhab, provinsi Sana’a serta pangkalan militer Hamza di provinsi Ibb. Dua warga sipil tewas dalam serangan udara di sebuah SPBU di Ibb.
Pesawat militer Saudi juga melakukan lima serangan di bandara Ta’izz. Pada hari yang sama, mereka juga menargetkan kabupaten Wazaiyah di provinsi itu, setidaknya tujuh orang dilaporkan tewas.
Jet tempur Saudi lebih lanjut meluncurkan lebih dari selusin serangan terhadap distrik Saqayn dan Sahar di provinsi utara Sa’ada dan markas besar Brigade Lapis Baja 310 di provinsi Amran.
Sedikitnya enam warga sipil tewas dalam penggerebekan serupa di wilayah Qatabir Sa’ada.
Pembicaraan untuk mengakhiri konflik Yaman sekali lagi tertunda selama akhir pekan, militan pro-Hadi mengumumkan operasi militer yang didukung Riyadh dekat Sana’a.
Pada hari Minggu, penduduk kota-kota dekat Sana’a mengatakan serangan Saudi, datang sebagai penutup udara atas serangan darat yang dilakukan oleh tentara bayaran Riyadh, menewaskan hampir 10 warga sipil.
Hampir 10.000 orang telah tewas dan lebih dari 17.000 terluka sejak dimulainya agresi Saudi. Yaman mengatakan sebagian besar korban adalah warga sipil. - ArrahmahNews
Pada hari Selasa, jet tempur Saudi membom beberapa sasaran di ibukota, Sana’a, termasuk pabrik makanan. Setidaknya 14 orang, termasuk tiga karyawan pabrik, telah kehilangan nyawa mereka dalam serangan itu, Televisi al-Masirah Yaman melaporkan.
Pesawat-pesawat tempur Saudi juga membom daerah di distrik Kushar barat laut provinsi Hajjah, menewaskan tiga orang dan melukai beberapa orang lainnya.
Di tempat lain, serangan udara Saudi menghantam pangkalan militer al-Sama di distrik Arhab, provinsi Sana’a serta pangkalan militer Hamza di provinsi Ibb. Dua warga sipil tewas dalam serangan udara di sebuah SPBU di Ibb.
Pesawat militer Saudi juga melakukan lima serangan di bandara Ta’izz. Pada hari yang sama, mereka juga menargetkan kabupaten Wazaiyah di provinsi itu, setidaknya tujuh orang dilaporkan tewas.
Jet tempur Saudi lebih lanjut meluncurkan lebih dari selusin serangan terhadap distrik Saqayn dan Sahar di provinsi utara Sa’ada dan markas besar Brigade Lapis Baja 310 di provinsi Amran.
Sedikitnya enam warga sipil tewas dalam penggerebekan serupa di wilayah Qatabir Sa’ada.
Pembicaraan untuk mengakhiri konflik Yaman sekali lagi tertunda selama akhir pekan, militan pro-Hadi mengumumkan operasi militer yang didukung Riyadh dekat Sana’a.
Pada hari Minggu, penduduk kota-kota dekat Sana’a mengatakan serangan Saudi, datang sebagai penutup udara atas serangan darat yang dilakukan oleh tentara bayaran Riyadh, menewaskan hampir 10 warga sipil.
Hampir 10.000 orang telah tewas dan lebih dari 17.000 terluka sejak dimulainya agresi Saudi. Yaman mengatakan sebagian besar korban adalah warga sipil. - ArrahmahNews
Friday, July 29, 2016
Houthi : Tentara AS Tewas di Yaman
Mengutip bukti di lapangan, gerakan Houthi Ansarullah mengatakan seorang tentara AS telah tewas di Yaman.
Outlet berita milik gerakan ansarullah.com, pada hari Jumat dalam ‘Perang Media’ telah menerbitkan gambar yang membuktikan kehadiran Amerika di Yaman.
Gambar-gambar menunjukkan paspor Amerika dan akte kelahiran (lihat gambar di bawah ini) milik Tyler Nathaniel Caldwell dari Florida.
Tidak jelas dalam rangka apa prajurit AS tewas di Yaman.
Pada Mei, saluran televisi al-Masirah Yaman melaporkan bahwa Pasukan Khusus AS telah tiba di Yaman untuk berjuang bersama pasukan Emirat dalam operasi yang diduga melawan militan al-Qaeda di selatan negara itu.
Mengutip Tom Bawman, reporter Radio Pentagon, mengatakan bahwa pasukan telah tiba di Yaman pada tanggal 25 April.
Arab Saudi dan UEA pada tahun lalu memberikan dukungan keuangan dan militer untuk militan dalam menghadapi Houthi dan unit tentara Yaman yang telah mengambil alih keamanan negara setelah Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi mengundurkan diri sebagai presiden Yaman.
Penyebaran pasukan AS datang setahun setelah penarikan pasukannya dari Yaman.
Pada tanggal 21 Maret 2015, AS mengevakuasi pasukan yang tersisa di pangkalan militer al-Anad di Yaman selatan “karena situasi keamanan yang memburuk” sehari setelah al-Qaeda mengendalikan kota al-Houta.
Al-Qaeda telah menjadi lebih kuat di Yaman dengan mengambil keuntungan dari kekacauan yang diciptakan oleh perang Saudi, yang dimulai Maret 2015.
Riyadh meluncurkan perang untuk mengembalikan Hadi, sekutu setia Riyadh. Sekitar 10.000 orang telah tewas dalam agresi Saudi.
Sebelumnya pada bulan Juli, The Washington Post melaporkan bahwa AS telah memainkan perang dengan “tenang tapi mematikan” di Yaman melalui penjualan senjata yang terus berlangsung terhadap rezim Saudi, termasuk bom cluster.
Outlet berita milik gerakan ansarullah.com, pada hari Jumat dalam ‘Perang Media’ telah menerbitkan gambar yang membuktikan kehadiran Amerika di Yaman.
Gambar-gambar menunjukkan paspor Amerika dan akte kelahiran (lihat gambar di bawah ini) milik Tyler Nathaniel Caldwell dari Florida.
Tidak jelas dalam rangka apa prajurit AS tewas di Yaman.
Pada Mei, saluran televisi al-Masirah Yaman melaporkan bahwa Pasukan Khusus AS telah tiba di Yaman untuk berjuang bersama pasukan Emirat dalam operasi yang diduga melawan militan al-Qaeda di selatan negara itu.
Mengutip Tom Bawman, reporter Radio Pentagon, mengatakan bahwa pasukan telah tiba di Yaman pada tanggal 25 April.
Arab Saudi dan UEA pada tahun lalu memberikan dukungan keuangan dan militer untuk militan dalam menghadapi Houthi dan unit tentara Yaman yang telah mengambil alih keamanan negara setelah Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi mengundurkan diri sebagai presiden Yaman.
Penyebaran pasukan AS datang setahun setelah penarikan pasukannya dari Yaman.
Pada tanggal 21 Maret 2015, AS mengevakuasi pasukan yang tersisa di pangkalan militer al-Anad di Yaman selatan “karena situasi keamanan yang memburuk” sehari setelah al-Qaeda mengendalikan kota al-Houta.
Al-Qaeda telah menjadi lebih kuat di Yaman dengan mengambil keuntungan dari kekacauan yang diciptakan oleh perang Saudi, yang dimulai Maret 2015.
Riyadh meluncurkan perang untuk mengembalikan Hadi, sekutu setia Riyadh. Sekitar 10.000 orang telah tewas dalam agresi Saudi.
Sebelumnya pada bulan Juli, The Washington Post melaporkan bahwa AS telah memainkan perang dengan “tenang tapi mematikan” di Yaman melalui penjualan senjata yang terus berlangsung terhadap rezim Saudi, termasuk bom cluster.
Tuesday, July 26, 2016
Serangan Balasan Yaman Tewaskan Komandan AD Saudi
Komandan Unit Lapis Baja Korps 84 Angkatan Darat Arab Saudi dan beberapa perwira militer negara ini tewas setelah militer dan pasukan relawan Yaman meledakkan sebuah tank pasukan Saudi di Najran.
Serangan tersebut merupakan balasan terhadap pelanggaran berulang Arab Saudi terhadap kesepakatan gencatan senjata dan berbagai kejahatan pasukan agresor.
Menurut jaringan televisi al-Masirah, serangan militer Yaman terhadap sebuah tank militer Arab Saudi di distrik Rajla telah menewaskan seorang Komandan Unit Lapis Baja Korps 84 AD dan beberapa perwira militer negara Arab ini.
Di sisi lain, jet-jet tempur dan pasukan bayaran Arab Saudi telah beberapa kali melanggar gencatan senjata di banyak provinsi Yaman.
Sebuah sumber militer Yaman menyebutkan, pesawat-pesawat tempur rezim Al Saud terbang di atas Provinsi Saada, Marib, al-Jawf dan Sanaa.
Penyeberangan Haradh pada Senin (25/7/2016) juga menjadi sasaran serangan roket dan artileri pasukan bayaran Arab Saudi.
Agresi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman yang memperoleh lampu hijau dari Amerika Serikat dimulai sejak tanggal 26 Maret 2015.
Invasi militer tersebut telah merenggut nyawa sedikitnya 8.000 orang dan melukai belasan ribu lainnya.
Serangan itu juga telah memporak-porandakan infrastruktur penting Yaman termasuk rumah sakit, sekolah, bandara, pabrik, pelabuhan dan fasilitas publik lainnya.
Serangan tersebut merupakan balasan terhadap pelanggaran berulang Arab Saudi terhadap kesepakatan gencatan senjata dan berbagai kejahatan pasukan agresor.
Menurut jaringan televisi al-Masirah, serangan militer Yaman terhadap sebuah tank militer Arab Saudi di distrik Rajla telah menewaskan seorang Komandan Unit Lapis Baja Korps 84 AD dan beberapa perwira militer negara Arab ini.
Di sisi lain, jet-jet tempur dan pasukan bayaran Arab Saudi telah beberapa kali melanggar gencatan senjata di banyak provinsi Yaman.
Sebuah sumber militer Yaman menyebutkan, pesawat-pesawat tempur rezim Al Saud terbang di atas Provinsi Saada, Marib, al-Jawf dan Sanaa.
Penyeberangan Haradh pada Senin (25/7/2016) juga menjadi sasaran serangan roket dan artileri pasukan bayaran Arab Saudi.
Agresi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman yang memperoleh lampu hijau dari Amerika Serikat dimulai sejak tanggal 26 Maret 2015.
Invasi militer tersebut telah merenggut nyawa sedikitnya 8.000 orang dan melukai belasan ribu lainnya.
Serangan itu juga telah memporak-porandakan infrastruktur penting Yaman termasuk rumah sakit, sekolah, bandara, pabrik, pelabuhan dan fasilitas publik lainnya.
Tuesday, April 14, 2015
Arab Saudi Kerahkan Apache di perbatasan Yaman
Irib - Juru bicara koalisi Arab anti-Yaman pimpinan Arab Saudi, mengkonfirmasikan penempatan helikopter Apache Arab Saudi di perbatasan dengan Yaman, sementara gerakan Ansarullah memperingatkan bahwa telah terbuka semua opsi untuk membalas agresi ke Yaman.
Tasnim News melaporkan, Ahmad al-Asiri dalam hal ini mengatakan, “Kami mengendalikan situasi dengan menggunakan artileri dan helikopter Apache.”
Ditegaskannya bahwa militer Arab Saudi tidak akan membiarkan militan menyerang melalui perbatasan dan bahwa perbatasan Arab Saudi aman, tenang dan tidak terpengaruh akibat agresi ke Yaman.
Namun fakta di lapangan Senin (14/4) berbeda dengan pernyataan al-Asiri, mengingat serangan anggota kabilah Takhya ke pangkalan militer al-Manara, Arab Saudi di provinsi Saada, telah membuat wilayah perbatasan Yaman dan Arab Saudi tidak aman bagi para agresor.
Sumber-sumber pemberitaan Yaman menyatakan, para pejuang suku Takhya di Provinsi Saada, Utara Yaman menyerang sebuah pangkalan militer di perbatasan Saudi. Dalam kontak senjata yang terjadi, pasukan suku Takhya membunuh 18 tentara Saudi dan menyita banyak senjata. Sejumlah pejuang suku Takhya juga tewas dalam pertempuran itu.
Serangan tersebut mengejutkan militer Arab Saudi.
Setelah kegagalan semua opsi dan politiknya di Yaman, Arab Saudi memilih opsi militer dan melancarkan serangan udara ke Yaman pada 26 Maret, dengan alasan mengembalikan kekuasaan sah mantan presiden Yaman yang berstatus buron, Abd Rabbuh Mansur al-Hadi.
A-Hadi, mengajukan surat pengunduran dirinya kepada parlemen Yaman pada 21 Januari 2015, dan segera disetujui parlemen. Namun al-Hadi menyatakan menarik kembali pengunduran dirinya pada 3 Maret 2015, setelah melarikan diri dari Sanaa menuju Aden dan mengumumkan pembentukan pemerintahan di Yaman selatan.
Tasnim News melaporkan, Ahmad al-Asiri dalam hal ini mengatakan, “Kami mengendalikan situasi dengan menggunakan artileri dan helikopter Apache.”
Ditegaskannya bahwa militer Arab Saudi tidak akan membiarkan militan menyerang melalui perbatasan dan bahwa perbatasan Arab Saudi aman, tenang dan tidak terpengaruh akibat agresi ke Yaman.
Namun fakta di lapangan Senin (14/4) berbeda dengan pernyataan al-Asiri, mengingat serangan anggota kabilah Takhya ke pangkalan militer al-Manara, Arab Saudi di provinsi Saada, telah membuat wilayah perbatasan Yaman dan Arab Saudi tidak aman bagi para agresor.
Sumber-sumber pemberitaan Yaman menyatakan, para pejuang suku Takhya di Provinsi Saada, Utara Yaman menyerang sebuah pangkalan militer di perbatasan Saudi. Dalam kontak senjata yang terjadi, pasukan suku Takhya membunuh 18 tentara Saudi dan menyita banyak senjata. Sejumlah pejuang suku Takhya juga tewas dalam pertempuran itu.
Serangan tersebut mengejutkan militer Arab Saudi.
Setelah kegagalan semua opsi dan politiknya di Yaman, Arab Saudi memilih opsi militer dan melancarkan serangan udara ke Yaman pada 26 Maret, dengan alasan mengembalikan kekuasaan sah mantan presiden Yaman yang berstatus buron, Abd Rabbuh Mansur al-Hadi.
A-Hadi, mengajukan surat pengunduran dirinya kepada parlemen Yaman pada 21 Januari 2015, dan segera disetujui parlemen. Namun al-Hadi menyatakan menarik kembali pengunduran dirinya pada 3 Maret 2015, setelah melarikan diri dari Sanaa menuju Aden dan mengumumkan pembentukan pemerintahan di Yaman selatan.
Monday, April 13, 2015
GP Ansor Minta Umat Islam Tak Terkecoh Konflik di Yaman
Okezone - Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) mengingatkan umat Islam Indonesia untuk tidak ikut-ikutan dalam konflik antara Arab Saudi dan Kelompok Syi'ah Houthi di Yaman. Karena Indonesia merupakan negara yang anti-perang dan mencintai perdamaian.
"Dalam pembukaan UUD 1945 negara Indonesia harus ikut aktif dan terlibat dalam upaya perdamaian dunia. Karena itu atas nama apapun, dan konflik apapun, kita tidak membenarkan cara-cara perang untuk menyelesaikan masalah. Karena akan memakan korban kemanusiaan," ujar Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Minggu (12/4/2015).
Namun pada sisi lain, GP Ansor sebagai organisasi sayap kepemudaan NU dan bangsa Indonesia, sangat menghormati prinsip-prinsip demokrasi dan HAM. Bagaimanapun, Presiden Yaman Abedrabbuh Mansour Hadi yang digulingkan oleh kelompok Syi'ah , Abdul Malek al Houthi, adalah Presiden yang dipilih secara demokratis. Karena itu, GP Ansor juga tidak membenarkan cara-cara kudeta dalam meraih kekuasaan. "Namun Ansor sangat lebih tidak membenarkan adanya peperangan untuk meraih kekuasaan," tegasnya.
Untuk itu, GP Ansor meminta konflik Arab Saudi dan Negara Teluk, kecuali Oman, dengan kelompok Syi'ah Houthi di Yaman tidak dikaitkan dengan sentimen konflik aliran Sunni, dan Syi'ah. Sebab antara Abedrabbuh Mansour al Hadi dan Abdul Malek al Houthi sesungguhnya adalah penganut Syi'ah Zaidiyyah. Jadi, konflik ini tidak ada kaitannya dengan sunni dan syi'ah.
"Melainkan lebih pada ketakutan dan ancaman kepentingan dan politik masing-masing negara, yang kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh ikut terlibat dan intervensi," ujarnya.
Karena itu, GP Ansor mengimbau bangsa Indonesia terutama umat Islam dan ulama Indonesia tidak terkecoh dan jangan mau ditunggangi kepentingan pihak lain. "Masak tokoh-tokoh Islam Indonesia ditunggangi kedutaan negara lain, untuk mendukung aksi perang yang mereka lakukan. Kita umat Islam Indonesia jangan mau dipakai orang lain," tukasnya.
Sebelumnya, sejumlah ulama menyambangi kediaman Duta Besar Arab Saudi. Kehadiran para ulama ini untuk menyatakan dukungan terhadap pemerintah Arab Saudi yang memimpin operasi Decisive Storm terhadap pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Bagi GP Ansor, perang bukanlah solusi. Apalagi, jika itu dari Arab Saudi maka ada kemungkinan biaya perangnya merupakan uang dari biaya haji. "Jangan-jangan duit yang dibuat biaya perang uangnya jamaah haji. Masak dana hasil umat Islam untuk perang sesama umat Islam," ungkap Nusron.
"Dalam pembukaan UUD 1945 negara Indonesia harus ikut aktif dan terlibat dalam upaya perdamaian dunia. Karena itu atas nama apapun, dan konflik apapun, kita tidak membenarkan cara-cara perang untuk menyelesaikan masalah. Karena akan memakan korban kemanusiaan," ujar Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Minggu (12/4/2015).
Namun pada sisi lain, GP Ansor sebagai organisasi sayap kepemudaan NU dan bangsa Indonesia, sangat menghormati prinsip-prinsip demokrasi dan HAM. Bagaimanapun, Presiden Yaman Abedrabbuh Mansour Hadi yang digulingkan oleh kelompok Syi'ah , Abdul Malek al Houthi, adalah Presiden yang dipilih secara demokratis. Karena itu, GP Ansor juga tidak membenarkan cara-cara kudeta dalam meraih kekuasaan. "Namun Ansor sangat lebih tidak membenarkan adanya peperangan untuk meraih kekuasaan," tegasnya.
Untuk itu, GP Ansor meminta konflik Arab Saudi dan Negara Teluk, kecuali Oman, dengan kelompok Syi'ah Houthi di Yaman tidak dikaitkan dengan sentimen konflik aliran Sunni, dan Syi'ah. Sebab antara Abedrabbuh Mansour al Hadi dan Abdul Malek al Houthi sesungguhnya adalah penganut Syi'ah Zaidiyyah. Jadi, konflik ini tidak ada kaitannya dengan sunni dan syi'ah.
"Melainkan lebih pada ketakutan dan ancaman kepentingan dan politik masing-masing negara, yang kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh ikut terlibat dan intervensi," ujarnya.
Karena itu, GP Ansor mengimbau bangsa Indonesia terutama umat Islam dan ulama Indonesia tidak terkecoh dan jangan mau ditunggangi kepentingan pihak lain. "Masak tokoh-tokoh Islam Indonesia ditunggangi kedutaan negara lain, untuk mendukung aksi perang yang mereka lakukan. Kita umat Islam Indonesia jangan mau dipakai orang lain," tukasnya.
Sebelumnya, sejumlah ulama menyambangi kediaman Duta Besar Arab Saudi. Kehadiran para ulama ini untuk menyatakan dukungan terhadap pemerintah Arab Saudi yang memimpin operasi Decisive Storm terhadap pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Bagi GP Ansor, perang bukanlah solusi. Apalagi, jika itu dari Arab Saudi maka ada kemungkinan biaya perangnya merupakan uang dari biaya haji. "Jangan-jangan duit yang dibuat biaya perang uangnya jamaah haji. Masak dana hasil umat Islam untuk perang sesama umat Islam," ungkap Nusron.
Tentara Yaman: Balasan Kami Akan Datang dan Mematikan
LiputanIslam – Juru bicara angkatan bersenjata Yaman Kolonel Ghalib Luqman menegaskan bahwa balasan atas serangan Arab Saudi terhadap rakyat dan fasilitas infrastruktur Yaman akan segera datang dengan hebat dan mematikan.
Dalam konferensi pers di Sanaa, ibu kota Yaman, Senin (13/4), Luqman menyatakan bahwa yang menjadi korban serangan udara Saudi tak lain adalah warga sipil. Menurutnya, serangan Saudi sejauh ini telah menewaskan 2,571 orang, melukai 3,897 orang, dan menghancurkan banyak fasilitas infrastruktur vital milik negara, dan dengan cara demikian Saudi bermaksud memaksa rakyat Yaman bertekuk lutut.
Dia menambahkan bahwa tentara Yaman tahu persis bahwa musuh utama mereka adalah kawanan teroris yang didukung oleh Saudi di Yaman, dan tentara Yaman juga sama sekali tidak pernah mengancam Saudi maupun negara lain. Karena itu bangsa Yaman “siap berkorban hingga titik darah penghabisan dalam menghadapi Saudi.”
“Kami tidak akan meminta izin siapapun dalam membalasan serangan Saudi maupun dalam hal bagaimana bentuk balasannya. Balasan akan datang dan lebih hebat daripada apa yang diperkirakan oleh sebagian orang…Balasan akan hebat dan mematikan. Saudi maupun Amerika Serikat bukanlah pihak yang menentukan balasan maupun bentuknya,” tandasnya, sebagaimana dilansir Alalam.
Dia juga menyebutkan bahwa al-Houthi adalah bagian dari elemen bangsa Yaman, dan “bagaimana juga mereka berbuat di dalam negara mereka sendiri”, sedangkan Saudi campur tangan di Yaman setelah melihat jaringan teroris al-Qaeda kocar-kacir.
Dia memastikan bahwa angkatan bersenjata Yaman masih solid dan sanggup melancarkan serangan balasan, “sebagaimana akan segera terbukti”. Dia mengingatkan bahwa tentara Yaman tersebar di seluruh penjuru Yaman meskipun Saudi gencar menebar serangan udara serta menyokong dua kelompok teroris al-Qaeda dan ISIS.
Dalam konferensi pers di Sanaa, ibu kota Yaman, Senin (13/4), Luqman menyatakan bahwa yang menjadi korban serangan udara Saudi tak lain adalah warga sipil. Menurutnya, serangan Saudi sejauh ini telah menewaskan 2,571 orang, melukai 3,897 orang, dan menghancurkan banyak fasilitas infrastruktur vital milik negara, dan dengan cara demikian Saudi bermaksud memaksa rakyat Yaman bertekuk lutut.
Dia menambahkan bahwa tentara Yaman tahu persis bahwa musuh utama mereka adalah kawanan teroris yang didukung oleh Saudi di Yaman, dan tentara Yaman juga sama sekali tidak pernah mengancam Saudi maupun negara lain. Karena itu bangsa Yaman “siap berkorban hingga titik darah penghabisan dalam menghadapi Saudi.”
“Kami tidak akan meminta izin siapapun dalam membalasan serangan Saudi maupun dalam hal bagaimana bentuk balasannya. Balasan akan datang dan lebih hebat daripada apa yang diperkirakan oleh sebagian orang…Balasan akan hebat dan mematikan. Saudi maupun Amerika Serikat bukanlah pihak yang menentukan balasan maupun bentuknya,” tandasnya, sebagaimana dilansir Alalam.
Dia juga menyebutkan bahwa al-Houthi adalah bagian dari elemen bangsa Yaman, dan “bagaimana juga mereka berbuat di dalam negara mereka sendiri”, sedangkan Saudi campur tangan di Yaman setelah melihat jaringan teroris al-Qaeda kocar-kacir.
Dia memastikan bahwa angkatan bersenjata Yaman masih solid dan sanggup melancarkan serangan balasan, “sebagaimana akan segera terbukti”. Dia mengingatkan bahwa tentara Yaman tersebar di seluruh penjuru Yaman meskipun Saudi gencar menebar serangan udara serta menyokong dua kelompok teroris al-Qaeda dan ISIS.
Sunday, April 12, 2015
Houthi Sedang Susun Rencana untuk Serang Saudi
Sindo - Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah mengaku mendapat kabar jika para pemimpin Houthi sedang merencanakan untuk melakukan serangan langsung terhadap Arab Saudi. Langkah ini diambil Houthi sebagai respon atas serangan bertubi-tubi yang dilakukan koalisi Teluk ke basis Houthi di Yaman.
Namun, menurut Nassralah, seperti dilansir Sputnik pada Selasa (7/4/2015), sampai saat ini para pemimpin Houthi belum memutuskan apakah mereka akan melakukan serangan itu, dan kapan akan dilancarkan. Dalam pandangannya, serangan itu sangat mungkin terjadi karena Houthi memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.
"Sampai sekarang, kepemimpinan yang bertanggung jawab atas aksi militer di Yaman belum memutuskan apakah akan menyebrangi selat Bab-el-Mandeb (yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden) dan meluncurkan serangan terhadap Arab Saudi, meskipun mereka memiliki kemampuan seperti itu," kata Nasrallah.
Di kesempatan yang sama, dIrinya kembali menyatakan bahwa Saudi dan sekutunya akan mengalami kekalahan yang memalukan jika terus melakukan serangan terhadap Yaman. Pemimpin Hizbullah itu menyerukan kepada Saudi untuk menghentikan serangan dan mulai menggunakan jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik di Yaman.
Menurutnya, pertempuran di Yaman tidak ditentukan oleh kekuatan militer, tapi oleh kekuatan rakyat. Ia meyakini, lama-kelamaan warga Yaman akan menentang pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, dan justru berbalik mendukung Houthi.
Namun, menurut Nassralah, seperti dilansir Sputnik pada Selasa (7/4/2015), sampai saat ini para pemimpin Houthi belum memutuskan apakah mereka akan melakukan serangan itu, dan kapan akan dilancarkan. Dalam pandangannya, serangan itu sangat mungkin terjadi karena Houthi memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.
"Sampai sekarang, kepemimpinan yang bertanggung jawab atas aksi militer di Yaman belum memutuskan apakah akan menyebrangi selat Bab-el-Mandeb (yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden) dan meluncurkan serangan terhadap Arab Saudi, meskipun mereka memiliki kemampuan seperti itu," kata Nasrallah.
Di kesempatan yang sama, dIrinya kembali menyatakan bahwa Saudi dan sekutunya akan mengalami kekalahan yang memalukan jika terus melakukan serangan terhadap Yaman. Pemimpin Hizbullah itu menyerukan kepada Saudi untuk menghentikan serangan dan mulai menggunakan jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik di Yaman.
Menurutnya, pertempuran di Yaman tidak ditentukan oleh kekuatan militer, tapi oleh kekuatan rakyat. Ia meyakini, lama-kelamaan warga Yaman akan menentang pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, dan justru berbalik mendukung Houthi.
Usai 1.200 Serangan Udara, Yaman Akan Digempur dari Darat
Sindo - Setelah meluncurkan 1.200 serangan udara di Yaman untuk memerangi milisi Houthi, Arab Saudi dan koalisi Teluk yang dipimpinnya bersiap untuk meluncurkan perang darat. Demikian disampaikan juru bicara operasi militer Koalisi Teluk, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri.
“Pasukan koalisi telah meluncurkan 1.200 serangan sejauh ini. Tujuan dari serangan udara ini untuk menghancurkan pertahanan udara Houthi, kamp-kamp dan rudal balistik,” kata Asseri, seperti dikutip Arab News, Minggu (12/4/2015).
Ketika ditanya, apakah perang darat akan diluncurkan koalisi, Jenderal Asseri menjawab; ”Ya, kami akan melakukannya sesuai, sesuai dengan rencana, ketika tujuan dari serangan udara terpenuhi. Ada tujuan tertentu di mana pasukan koalisi bekerja untuk melindungi orang-orang Yaman dan pemerintah yang sah,” katanya mengacu pada pemerintah Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi.
Menurutnya, pasukan koalisi bekerja untuk mengganggu pergerakan milisi Houthi di darat. Hal itu untuk menggagalkan pasokan logistik untuk pertahanan milisi pemberontak Yaman itu. ”Kami telah secara akurat menerapkan operasi udara, dan dengan erat mengikuti pergerakan target di darat. Oleh karena itu, jumlah serangan udara meningkat, “ ujarnya.
Jenderal Saudi itu menambahkan, bahwa pasukan Koalisi Teluk telah menumpas militan Houthi di Saada, Emran, Sanaa, Shabwah, Baizaa, Al-Zaalah dan Aden.
”Kami pantau gerakan militan Houthi untuk mencegah mereka menempatkan kehidupan masyarakat di bawah risiko,” imbuh dia mengadu pada laporan bahwa Houthi menggunakan fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, stadion dan kamp-kamp pengungsi untuk menyimpan senjata.
“Pasukan koalisi telah meluncurkan 1.200 serangan sejauh ini. Tujuan dari serangan udara ini untuk menghancurkan pertahanan udara Houthi, kamp-kamp dan rudal balistik,” kata Asseri, seperti dikutip Arab News, Minggu (12/4/2015).
Ketika ditanya, apakah perang darat akan diluncurkan koalisi, Jenderal Asseri menjawab; ”Ya, kami akan melakukannya sesuai, sesuai dengan rencana, ketika tujuan dari serangan udara terpenuhi. Ada tujuan tertentu di mana pasukan koalisi bekerja untuk melindungi orang-orang Yaman dan pemerintah yang sah,” katanya mengacu pada pemerintah Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi.
Menurutnya, pasukan koalisi bekerja untuk mengganggu pergerakan milisi Houthi di darat. Hal itu untuk menggagalkan pasokan logistik untuk pertahanan milisi pemberontak Yaman itu. ”Kami telah secara akurat menerapkan operasi udara, dan dengan erat mengikuti pergerakan target di darat. Oleh karena itu, jumlah serangan udara meningkat, “ ujarnya.
Jenderal Saudi itu menambahkan, bahwa pasukan Koalisi Teluk telah menumpas militan Houthi di Saada, Emran, Sanaa, Shabwah, Baizaa, Al-Zaalah dan Aden.
”Kami pantau gerakan militan Houthi untuk mencegah mereka menempatkan kehidupan masyarakat di bawah risiko,” imbuh dia mengadu pada laporan bahwa Houthi menggunakan fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, stadion dan kamp-kamp pengungsi untuk menyimpan senjata.
Meski Gemas, Saudi Tak Mau Perang dengan Iran
Sindo - Arab Saudi menegaskan tidak mau dan tidak sedang berperang dengan Iran dalam konflik Yaman. Kendati demikian, Saudi mengaku gemas dengan Iran yang mereka anggap terus mendukung kelompok pemberontakHouthi di Yaman.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Saud Al Faisal dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius di Riyadh, hari Minggu. Faisal kembali mendesak Iran untuk menghentikan dukungannya terhadap milisi Houthi di Yaman.
Menurut Faisal, agresi militer di Yaman oleh 10 negara Koalisi Teluk yang dipimpin Saudi sejak 26 Maret 2015 semata-mata untuk memenuhi permintaan Presiden Yaman yang sah, yakni Abed Rabbo Mansour Hadi. “Peran Iran di Yaman membuat gemas, dan telah menyebabkan peningkatan kekerasan di negara itu,” kata Faisal.
”Bagaimana Iran bisa meminta kami untuk menghentikan pertempuran di Yaman. Kami datang ke Yaman untuk membantu otoritas yang sah, dan Iran tidak bertanggung jawab atas Yaman,” katanya lagi, seperti dikutip Arab News, Senin (13/4/2015).
Sementara itu, Menlu Laurent Fabius, secara resmi menyampaikan dukungan agresi militer Koalisi Teluk terhadap Houthi di Yaman, yang diberi nama “Operation Decisive Storm” itu.
”Mengenai Yaman, kami di sini untuk menunjukkan dukungan kami, terutama dukungan politik untuk Pemerintah Saudi,” kata Fabius kepada wartawan, sebelum melakukan pertemuan dengan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan unit tentara loyalis mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, telah berupaya mengkudeta pemerintah Presiden Mansour Hadi. Sampai saat ini milisi Houthi dan pasukan loyalis Salah terus berperang dengan pasukan loyalis Presiden Hadi yang dibantu Koalisi Teluk.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Saud Al Faisal dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius di Riyadh, hari Minggu. Faisal kembali mendesak Iran untuk menghentikan dukungannya terhadap milisi Houthi di Yaman.
Menurut Faisal, agresi militer di Yaman oleh 10 negara Koalisi Teluk yang dipimpin Saudi sejak 26 Maret 2015 semata-mata untuk memenuhi permintaan Presiden Yaman yang sah, yakni Abed Rabbo Mansour Hadi. “Peran Iran di Yaman membuat gemas, dan telah menyebabkan peningkatan kekerasan di negara itu,” kata Faisal.
”Bagaimana Iran bisa meminta kami untuk menghentikan pertempuran di Yaman. Kami datang ke Yaman untuk membantu otoritas yang sah, dan Iran tidak bertanggung jawab atas Yaman,” katanya lagi, seperti dikutip Arab News, Senin (13/4/2015).
Sementara itu, Menlu Laurent Fabius, secara resmi menyampaikan dukungan agresi militer Koalisi Teluk terhadap Houthi di Yaman, yang diberi nama “Operation Decisive Storm” itu.
”Mengenai Yaman, kami di sini untuk menunjukkan dukungan kami, terutama dukungan politik untuk Pemerintah Saudi,” kata Fabius kepada wartawan, sebelum melakukan pertemuan dengan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan unit tentara loyalis mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, telah berupaya mengkudeta pemerintah Presiden Mansour Hadi. Sampai saat ini milisi Houthi dan pasukan loyalis Salah terus berperang dengan pasukan loyalis Presiden Hadi yang dibantu Koalisi Teluk.
Diterjang Mortir Houthi, Tiga Serdadu Saudi Tewas
Sindo - Pemberontak Houthi Yaman melakukan serangan mortir di wilayah perbatasan Yaman dan Arab Saudi. Sebanyak tiga serdadu Saudi tewas diterjang mortir milisi Houthi Yaman.
Departemen Pertahanan Saudi mengatakan, serangan mortir terjadi Jumat lalu sebelum pesawat yang sarat dengan bantuan medis tiba di Ibu Kota Sanaa, Yaman, pada Sabtu kemarin. Sanaa sendiri masih dikuasai pemberontak Houthi.
Menurut departemen itu, insiden yang menewaskan tiga serdadu penjaga perbatasan Saudi terjadi di wilayah Najran, perbatasan Yaman dan Saudi. Pasukan Saudi telah membalas serangan itu dengan rentetan tembakan.
Kementerian Pertahanan Saudi mengklaim telah menewaskan sekitar 500 milisi Houthi Yaman di sepanjang wilayah perbatasan sejak agresi militer di Yaman dimulai akhir bulan lalu.
Sejak agresi militer terhadap Houthi di Yaman berlangsung lebih dari dua minggu, Saudi mulai curiga bahwa pasukan Iran ikut bertempur di Yaman untuk membela milisi Houhti. Kecurigaan Saudi muncul setelah dua perwira militer Iran dilaporkan ditangkap di Kota Aden selatan.
Juru bicara operasi militer Koalisi Teluk, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri, mengatakan, bahwa koalisi tidak mengesampingkan kemungkinan keterlibatan pasukan Iran dalam perang di Yaman. Hal itu dia sampaikan dalam konferensi pers di Riyadh, seperti dilansir Al Arabiya, Minggu (12/4/2015).
Menurut Reuters, para milisi lokal loyalis Presiden Yaman, Abed Rabbo Mansour Hadi, menyatakan, bahwa dua perwira militer Iran yang ditangkap itu merupakan perwira elite di korps Garda Revolusi Republik Islam.
Seorang anggota milisi setempat mengatakan, kedua perwira militer Iran itu berpangkat kapten dan kolonel. "Keduanya ditangkap di dua wilayah yang berbeda," kata seorang anggota milisi loyalis Presiden Hadi yange berbicara dalam kondisi anonim.
Departemen Pertahanan Saudi mengatakan, serangan mortir terjadi Jumat lalu sebelum pesawat yang sarat dengan bantuan medis tiba di Ibu Kota Sanaa, Yaman, pada Sabtu kemarin. Sanaa sendiri masih dikuasai pemberontak Houthi.
Menurut departemen itu, insiden yang menewaskan tiga serdadu penjaga perbatasan Saudi terjadi di wilayah Najran, perbatasan Yaman dan Saudi. Pasukan Saudi telah membalas serangan itu dengan rentetan tembakan.
Kementerian Pertahanan Saudi mengklaim telah menewaskan sekitar 500 milisi Houthi Yaman di sepanjang wilayah perbatasan sejak agresi militer di Yaman dimulai akhir bulan lalu.
Sejak agresi militer terhadap Houthi di Yaman berlangsung lebih dari dua minggu, Saudi mulai curiga bahwa pasukan Iran ikut bertempur di Yaman untuk membela milisi Houhti. Kecurigaan Saudi muncul setelah dua perwira militer Iran dilaporkan ditangkap di Kota Aden selatan.
Juru bicara operasi militer Koalisi Teluk, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri, mengatakan, bahwa koalisi tidak mengesampingkan kemungkinan keterlibatan pasukan Iran dalam perang di Yaman. Hal itu dia sampaikan dalam konferensi pers di Riyadh, seperti dilansir Al Arabiya, Minggu (12/4/2015).
Menurut Reuters, para milisi lokal loyalis Presiden Yaman, Abed Rabbo Mansour Hadi, menyatakan, bahwa dua perwira militer Iran yang ditangkap itu merupakan perwira elite di korps Garda Revolusi Republik Islam.
Seorang anggota milisi setempat mengatakan, kedua perwira militer Iran itu berpangkat kapten dan kolonel. "Keduanya ditangkap di dua wilayah yang berbeda," kata seorang anggota milisi loyalis Presiden Hadi yange berbicara dalam kondisi anonim.
Para Ulama Indonesia Dukung Serangan Arab Saudi ke Yaman
VIVA - Para Ulama Indonesia menyatakan dukungan terhadap serangan Arab Saudi terhadap kelompok Houthi di Yaman. Hal itu disampaikan dalam keterangan pers pada Sabtu 11 April 2015.
Bertempat di kediaman Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Mustafa Ibrahim Al-Mubarok yang berada di Menteng, Jakarta Pusat, para ulama Indonesia mengungkapkan dukungannya.
Salah satu perwakilan dari ulama Indonesia, Maman Abdurrahman yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Islam (Persis) mengaku sangat khawatir terhadap keamanan dan ketertiban di Yaman.
"Maka sudah selayaknya, negara tetangga dalam hal ini Arab Saudi untuk melindungi Yaman," kata Maman.
Lebih lanjut, ia mengatakan, namun tetap hal utama adalah perdamaian. Namun, jika kata Ishlah tak menemui hasil maka tindakan dapat dilakukan. Ironisnya, serangan ke Yaman ini tak hanya merenggut nyawa tak berdosa tapi juga merusak ekonomi dan keamanan.
Hal senada diungkapkan Imam Besar mesjid Istiqlal, Ali Mustofa Ya’qub. Ia mengatakan bahwa umat muslim di Indonesia mendukung terhadap apa yang dilakukan kerajaan Arab Saudi. Bahkan ia mengklaim Al-quran juga membenarkan atas tindakan yang telah dilakukan Arab Saudi.
"Yang mengatakan, jika ada kelompok yang memberontak terhadap pihak lain, maka damaikanlah, tapi kemudian jika tidak mau berdamai, maka kemudian perangilah kelompok yang tidak mau berdamai,” kata Ali Mustofa.
Kemudian Ali mengatakan, di dalam hadits telah tersirat jika ada umat di agama mu yang menzalimi dan dizalimi, maka kewajiban untuk menolong yang dizalimi. "Ini adalah bagian dari menolong dari yang dizalimi."
Lalu, dari Majelis Ulama Indonesia, Cholil Ridwan mengatakan bahwasanya ini terkait juga dengan ideologi. Houthi dengan ideologi Syiah dan ideologi muslim di Indonesia sama dengan Yaman dan Arab Saudi.
"Arab Saudi juga merupakan kampung kita yag kedua, maka kita harus mendukung Arab Saudi," kata Cholil.
Namun beberapa ulama ini juga tetap menyayangkan dengan timbulnya korban jiwa dari rakyat sipil yang tak berdosa. Para ulama ini mewakili umat muslim di Indonesia juga mengucapkan bela sungkawa akibat korban yang ditimbulkan.
Bertempat di kediaman Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Mustafa Ibrahim Al-Mubarok yang berada di Menteng, Jakarta Pusat, para ulama Indonesia mengungkapkan dukungannya.
Salah satu perwakilan dari ulama Indonesia, Maman Abdurrahman yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Islam (Persis) mengaku sangat khawatir terhadap keamanan dan ketertiban di Yaman.
"Maka sudah selayaknya, negara tetangga dalam hal ini Arab Saudi untuk melindungi Yaman," kata Maman.
Lebih lanjut, ia mengatakan, namun tetap hal utama adalah perdamaian. Namun, jika kata Ishlah tak menemui hasil maka tindakan dapat dilakukan. Ironisnya, serangan ke Yaman ini tak hanya merenggut nyawa tak berdosa tapi juga merusak ekonomi dan keamanan.
Hal senada diungkapkan Imam Besar mesjid Istiqlal, Ali Mustofa Ya’qub. Ia mengatakan bahwa umat muslim di Indonesia mendukung terhadap apa yang dilakukan kerajaan Arab Saudi. Bahkan ia mengklaim Al-quran juga membenarkan atas tindakan yang telah dilakukan Arab Saudi.
"Yang mengatakan, jika ada kelompok yang memberontak terhadap pihak lain, maka damaikanlah, tapi kemudian jika tidak mau berdamai, maka kemudian perangilah kelompok yang tidak mau berdamai,” kata Ali Mustofa.
Kemudian Ali mengatakan, di dalam hadits telah tersirat jika ada umat di agama mu yang menzalimi dan dizalimi, maka kewajiban untuk menolong yang dizalimi. "Ini adalah bagian dari menolong dari yang dizalimi."
Lalu, dari Majelis Ulama Indonesia, Cholil Ridwan mengatakan bahwasanya ini terkait juga dengan ideologi. Houthi dengan ideologi Syiah dan ideologi muslim di Indonesia sama dengan Yaman dan Arab Saudi.
"Arab Saudi juga merupakan kampung kita yag kedua, maka kita harus mendukung Arab Saudi," kata Cholil.
Namun beberapa ulama ini juga tetap menyayangkan dengan timbulnya korban jiwa dari rakyat sipil yang tak berdosa. Para ulama ini mewakili umat muslim di Indonesia juga mengucapkan bela sungkawa akibat korban yang ditimbulkan.
Parlemen Putuskan Pakistan Netral di Konflik Yaman
VIVA - Pemungutan suara di parlemen Pakistan mengindikasikan, bahwa negara itu tidak akan bergabung dalam operasi militer, yang digelar oleh koalisi negara-negara Arab Teluk yang dipimpin Arab Saudi.
Dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 10 April 2015, parlemen Pakistan memutuskan dengan suara bulat, meloloskan sebuah resolusi yang menegaskan netralitas negara itu dalam konflik di Yaman.
Sesi gabungan parlemen telah memperdebatkan isu di Yaman selama sepekan terakhir, sebelum akhirnya meloloskan resolusi yang diusulkan oleh Menteri Keuangan Ishaq Dar, pada Jumat siang.
Resolusi itu menyatakan keinginan, bahwa Pakistan harus mempertahankan netralitas, walau menegaskan kembali dukungan besar Pakistan bagi Kerajaan Arab Saudi.
Para anggota parlemen setuju Pakistan harus baru membahu dengan Saudi, dalam kasus terjadinya pelanggaran terhadap integritas teritorial negara itu, atau ancaman terhadap Makkah dan Madinah.
Hasil pemungutan suara, Jumat, terjadi setelah kunjungan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif ke Islamabad, serta pertemuan PM Pakistan Nawaz Sharif dengan pemimpin Turki.
Para pemimpin Pakistan juga telah bertemu dengan pejabat Saudi di Riyadh, selama dua pekan terakhir, sementara pemimpin militer Pakistan berdiskusi dengan Iran dan Mesir.
Pakistan bersama dengan Turki, menempatkan diri sebagai mediator perdamaian dalam konflik di Yaman, menyerukan agar PBB dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) mengambil peran aktif, dalam dialog untuk mengakhiri konflik.
Arab Saudi telah memulai serangan udara di Yaman sejak 25 Maret, menyasar kelompok pemberontak Houthi yang berhasil mendesak keluar Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi dari ibukota Sanaa.
Dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 10 April 2015, parlemen Pakistan memutuskan dengan suara bulat, meloloskan sebuah resolusi yang menegaskan netralitas negara itu dalam konflik di Yaman.
Sesi gabungan parlemen telah memperdebatkan isu di Yaman selama sepekan terakhir, sebelum akhirnya meloloskan resolusi yang diusulkan oleh Menteri Keuangan Ishaq Dar, pada Jumat siang.
Resolusi itu menyatakan keinginan, bahwa Pakistan harus mempertahankan netralitas, walau menegaskan kembali dukungan besar Pakistan bagi Kerajaan Arab Saudi.
Para anggota parlemen setuju Pakistan harus baru membahu dengan Saudi, dalam kasus terjadinya pelanggaran terhadap integritas teritorial negara itu, atau ancaman terhadap Makkah dan Madinah.
Hasil pemungutan suara, Jumat, terjadi setelah kunjungan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif ke Islamabad, serta pertemuan PM Pakistan Nawaz Sharif dengan pemimpin Turki.
Para pemimpin Pakistan juga telah bertemu dengan pejabat Saudi di Riyadh, selama dua pekan terakhir, sementara pemimpin militer Pakistan berdiskusi dengan Iran dan Mesir.
Pakistan bersama dengan Turki, menempatkan diri sebagai mediator perdamaian dalam konflik di Yaman, menyerukan agar PBB dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) mengambil peran aktif, dalam dialog untuk mengakhiri konflik.
Arab Saudi telah memulai serangan udara di Yaman sejak 25 Maret, menyasar kelompok pemberontak Houthi yang berhasil mendesak keluar Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi dari ibukota Sanaa.
Saudi Tolak Seruan Iran untuk Gencatan Senjata di Yaman
VIVA - Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Saud al-Faisal pada Minggu kemarin menolak seruan Iran agar segera mengakhiri serangan udara untuk memberantas kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Menurut al-Faisal, Iran tidak sepatutnya mencampuri konflik yang terjadi di Yaman.
Kantor berita Reuters Minggu, 12 April 2015 melansir Saudi kini tengah berupaya membendung pergerakan kelompok Houthi agar tidak bertindak lebih jauh.
"Bagaimana mungkin Iran meminta kami untuk menghentikan peperangan di Yaman. Justru, kami datang ke Yaman untuk membantu pemerintahan yang sah dan Iran tidak berwenang di Yaman," tutur al-Faisal ketika memberikan keterangan pers bersama Menlu Prancis, Laurent Fabius.
Saudi kerap menuding Iran ikut campur dalam konflik di Yaman dengan secara diam-diam membantu kelompok pemberontak Houthi. Sebagai bukti, Saudi mengklaim telah menangkap dua perwira militer Iran di tengah kota Aden bagian selatan.
Dua perwira militer Iran yang ditangkap dituding merupakan penasihat pemberontak Houthi.
"Satu berpangkat kapten dan satu lainnya berpangkat kolonel. Keduanya ditangkap di dua wilayah yang berbeda," ujar juru bicara operasi militer Koalisi Teluk, Brigadir Jenderal Ahmed Asiri ketika memberikan keterangan pers.
Namun, hal itu dibantah oleh Iran. Kantor berita Iran, IRNA melaporkan Pemerintah Teheran tidak memiliki pasukan militer apa pun di Yaman.
"Kami tidak memiliki kekuatan militer macam itu di Yaman," ujar Wakil Menlu, Hossein Amir Abdollahian.
Sementara itu, lewat dari dua pekan serangan udara Saudi, lebih dari 600 orang di Yaman tewas terbunuh. Sebanyak 22 ribu orang terluka dan lebih dari 100 ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Kantor berita Reuters Minggu, 12 April 2015 melansir Saudi kini tengah berupaya membendung pergerakan kelompok Houthi agar tidak bertindak lebih jauh.
"Bagaimana mungkin Iran meminta kami untuk menghentikan peperangan di Yaman. Justru, kami datang ke Yaman untuk membantu pemerintahan yang sah dan Iran tidak berwenang di Yaman," tutur al-Faisal ketika memberikan keterangan pers bersama Menlu Prancis, Laurent Fabius.
Saudi kerap menuding Iran ikut campur dalam konflik di Yaman dengan secara diam-diam membantu kelompok pemberontak Houthi. Sebagai bukti, Saudi mengklaim telah menangkap dua perwira militer Iran di tengah kota Aden bagian selatan.
Dua perwira militer Iran yang ditangkap dituding merupakan penasihat pemberontak Houthi.
"Satu berpangkat kapten dan satu lainnya berpangkat kolonel. Keduanya ditangkap di dua wilayah yang berbeda," ujar juru bicara operasi militer Koalisi Teluk, Brigadir Jenderal Ahmed Asiri ketika memberikan keterangan pers.
Namun, hal itu dibantah oleh Iran. Kantor berita Iran, IRNA melaporkan Pemerintah Teheran tidak memiliki pasukan militer apa pun di Yaman.
"Kami tidak memiliki kekuatan militer macam itu di Yaman," ujar Wakil Menlu, Hossein Amir Abdollahian.
Sementara itu, lewat dari dua pekan serangan udara Saudi, lebih dari 600 orang di Yaman tewas terbunuh. Sebanyak 22 ribu orang terluka dan lebih dari 100 ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Militer dan Ansarullah Bebaskan Kota Al Qafr dari Al Qaeda
Irib - Militer Yaman dengan kerja sama pasukan gerakan perlawanan rakyat, Ansarullah berhasil membersihkan kota Al Qafr di Provinsi Ibb, pusat negara itu dari anasir-anasir teroris Al Qaeda.
Situs berita Yemen Press (12/4) melaporkan, militer Yaman dengan kerja sama Ansarullah saat ini tengah berusaha memperketat kepungan atas kelompok teroris Al Qaeda di wilayah Al Tawahi, Provinsin Aden, Selatan Yaman.
Militer Yaman dan Ansarullah berhasil menduduki kediaman Syeikh Al Barh, Pemimpin Al Qaeda yang merupakan lokasi awal dimulainya aksi-aksi teror terhadap pusat-pusat keamanan di Selatan Yaman dan menyanderanya.
Stasiun televisi Al Manar, Lebanon melaporkan, tengah malam lalu akibat serangan Arab Saudi ke wilayah Yaman, lebih dari 15 warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak di wilayah Al Jund, Provinsi Taiz, Selatan Yaman, tewas.
Menurut Al Manar, jumlah korban tewas mungkin akan terus bertambah, pasalnya kondisi sebagian dari mereka yang terluka, kritis.
Menghadapi serangan-serangan luas jet-jet tempur Saudi ke Yaman, militer dan pasukan rakyat negara itu terus meraih kemajuan di wilayah Selatan dan berhasil membebaskan sejumlah besar wilayah dari tangan anasir-anasir teroris Al Qaeda.
Situs berita Yemen Press (12/4) melaporkan, militer Yaman dengan kerja sama Ansarullah saat ini tengah berusaha memperketat kepungan atas kelompok teroris Al Qaeda di wilayah Al Tawahi, Provinsin Aden, Selatan Yaman.
Militer Yaman dan Ansarullah berhasil menduduki kediaman Syeikh Al Barh, Pemimpin Al Qaeda yang merupakan lokasi awal dimulainya aksi-aksi teror terhadap pusat-pusat keamanan di Selatan Yaman dan menyanderanya.
Stasiun televisi Al Manar, Lebanon melaporkan, tengah malam lalu akibat serangan Arab Saudi ke wilayah Yaman, lebih dari 15 warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak di wilayah Al Jund, Provinsi Taiz, Selatan Yaman, tewas.
Menurut Al Manar, jumlah korban tewas mungkin akan terus bertambah, pasalnya kondisi sebagian dari mereka yang terluka, kritis.
Menghadapi serangan-serangan luas jet-jet tempur Saudi ke Yaman, militer dan pasukan rakyat negara itu terus meraih kemajuan di wilayah Selatan dan berhasil membebaskan sejumlah besar wilayah dari tangan anasir-anasir teroris Al Qaeda.
Subscribe to:
Posts (Atom)


















