Presiden Iran Hassan Rouhani turut memberikan komentar mengenai dua calon Presiden Amerika Serikat (AS) saat ini. Rouhani menyebut, warga AS diberikan pilihan yang jelek dan buruk dalam pemilu kali ini.
Di mata Rouhani, Donald Trump ataupun Hillary Clinton sama buruknya. Dia juga menyebut debat capres AS yang berlangsung beberapa waktu lalu menunjukan bahwa kurangnya moralitas di AS.
"Amerika mengklaim memiliki lebih dari 200 tahun demokrasi, dan mereka telah melakukan 50 kali pemilihan Presiden, tapi tidak ada moralitas di negara itu," kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan langsung oleh televisi pemerintah.
"Anda melihat debat Presiden, bagaimana mereka berbicara , bagaimana mereka menuduh dan mengejek (satu sama lain)," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Minggu (23/10).
Rouhani mengatakan, beberapa kepala negara telah bertanya kepada dirinya mengenai dua capres AS, saat dia menghadiri Sidang Umum DK PBB. Dia mengatakan para kepala itu menanyakan mana yang lebih ia sukai, Hillary atau Trump, dan ia menjawab tidak ada.
"Saya lalu mengatakan, apakah saya harus harus memilih antara yang buruk dan lebih buruk atau lebih buruk dan buruk kepada mereka," tukasnya. - Sindo
Showing posts with label Iran. Show all posts
Showing posts with label Iran. Show all posts
Sunday, October 23, 2016
Friday, October 14, 2016
Pilot Inggris Diperbolehkan Tembak Jatuh Jet Rusia di Suriah
Pilot-pilot angkatan udara Inggris dikabarkan mendapatkan lampu hijau untuk menembak jatuh jet Rusia saat melakukan misi terbang di Suriah dan Iran jika mereka merasa terancam. Kabar terbaru ini dilaporkan oleh media The Sunday Times.
"Hal pertama yang dilakukan oleh pilot Inggris adalah mencoba untuk menghindari situasi dimana perang udara terjadi. Anda menghindari wilayah aktivitas Rusia. Namun jika pilot ditembak atau ia percaya akan ditembak, ia bisa membela diri," kata sebuah sumber di Markas Tetap Bersama Inggris (PJHQ) kepada The Sunday Times.
"Kita sekarang tengah menghadapi situasi di mana seorang pilot tunggal, terlepas dari kebangsaanya, dapat memiliki dampak strategis terhadap kejadian di masa depan," katanya lagi seperti dikutip dari Zero Hedge, Jumat (14/10/2016).
Jet tempur Tornado milik Inggris akan dipersenjatai dengan roket pencari panas AIM-132. Roket ini memiliki jangkauan yang lebih panjang dari roket lainnya, sehingga pilot angkatan udara Inggris bisa menembak jatuh pesawat musuh tanpa harus melihat target.
"Sampai sekarang, jet Tornado telah dilengkapi dengan 500lb bom yang dipandu via satelit yang tidak mempunyai atau hanya sedikit menimbulkan ancaman perang di udara. Tapi pada minggu-minggu terakhir situasi telah berubah. Kita perlu menanggapinya dengan sesuai," ujar sebuah sumber di Departemen Pertahan Inggris.
Namun, sumber lain mengatakan bahwa situasi semakin parah. "Kami perlu melindungi pilot kami tapi pada saat yang sama kami mengambil langkah lebih dekat dengan perang. Hanya perlu menembak jatuh satu pesawat dalam perang di udara maka seluruh lanskap akan berubah," katanya.
"Hal pertama yang dilakukan oleh pilot Inggris adalah mencoba untuk menghindari situasi dimana perang udara terjadi. Anda menghindari wilayah aktivitas Rusia. Namun jika pilot ditembak atau ia percaya akan ditembak, ia bisa membela diri," kata sebuah sumber di Markas Tetap Bersama Inggris (PJHQ) kepada The Sunday Times.
"Kita sekarang tengah menghadapi situasi di mana seorang pilot tunggal, terlepas dari kebangsaanya, dapat memiliki dampak strategis terhadap kejadian di masa depan," katanya lagi seperti dikutip dari Zero Hedge, Jumat (14/10/2016).
Jet tempur Tornado milik Inggris akan dipersenjatai dengan roket pencari panas AIM-132. Roket ini memiliki jangkauan yang lebih panjang dari roket lainnya, sehingga pilot angkatan udara Inggris bisa menembak jatuh pesawat musuh tanpa harus melihat target.
"Sampai sekarang, jet Tornado telah dilengkapi dengan 500lb bom yang dipandu via satelit yang tidak mempunyai atau hanya sedikit menimbulkan ancaman perang di udara. Tapi pada minggu-minggu terakhir situasi telah berubah. Kita perlu menanggapinya dengan sesuai," ujar sebuah sumber di Departemen Pertahan Inggris.
Namun, sumber lain mengatakan bahwa situasi semakin parah. "Kami perlu melindungi pilot kami tapi pada saat yang sama kami mengambil langkah lebih dekat dengan perang. Hanya perlu menembak jatuh satu pesawat dalam perang di udara maka seluruh lanskap akan berubah," katanya.
Thursday, October 13, 2016
Iran Kirim Dua Kapal Perang ke Laut Yaman
Angkatan Laut Iran telah menyebarkan armada kapal perangnya ke perairan internasional untuk misi yang mencakup kehadiran di perairan lepas pantai selatan Yaman.
Tasnim News melaporkan pada Kamis (13/10), bahwa Armada 44 Iran, yang terdiri kapal perusak Alvand dan kapal perang logistik Bushehr, telah dikirim ke Teluk Aden dan Selat Bab el-Mandeb untuk melindungi kapal-kapal perdagangan negara itu melawan pembajakan di zona tidak aman. Armada Iran ini akan menuju perairan dekat Somalia dan Tanzania setelah melalui Samudera Hindia.
Setelah membuat panggilan pelabuhan di Tanzania, armada 44 akan berlayar di sepanjang pantai timur Afrika jika cuaca memungkinkan, dan dijadwalkan untuk berlayar hingga ke pantai barat Afrika Selatan, di Samudera Atlantik Selatan.
Kehadiran armada Iran di Teluk Aden bertepatan dengan keputusan AS untuk langsung terlibat dalam perang koalisi Saudi melawan Yaman.
Pada hari Kamis, militer AS melancarkan serangan rudal untuk menghancurkan situs radar pesisir di Yaman sebagai pembalasan atas serangan rudal yang diduga dari sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS.
Sebelumnya kapal perang destroyer AS, USS Nitze, menyerang tiga situs radar milik pejuang Houthi Yaman dengan rudal Tomahawk. Pentagon menyatakan serangan rudal ini sebagai balasan setelah kapal perang AS, USS Mason, atas izin dari Presiden Obama.
Pihak Tentara Yaman dan pejuang Houthi mengatakan bahwa Tuduhan AS terhadap Houthi adalah disengaja demi membuka jalan bagi keterlibatan langsung negara itu dalam agresi Saudi ke Yaman.
“Tuduhan-tuduhan ini sama sekali tidak berdasar! Tentara Yaman maupun pasukan rakyat Yaman tidak ada hubungannya dengan tindakan ini. Tuduhan AS ini sengaja dibuat dalam konteks menciptakan pembenaran palsu untuk membuka jalan bagi koalisi pimpinan Saudi untuk meningkat serangan agresi mereka terhadap Yaman dan menutupi kejahatan yang terus dilakukan oleh koalisi agresi terhadap rakyat Yaman, “kata pejabat militer tersebut kepada kantor berita Yaman, SABA.
Tasnim News melaporkan pada Kamis (13/10), bahwa Armada 44 Iran, yang terdiri kapal perusak Alvand dan kapal perang logistik Bushehr, telah dikirim ke Teluk Aden dan Selat Bab el-Mandeb untuk melindungi kapal-kapal perdagangan negara itu melawan pembajakan di zona tidak aman. Armada Iran ini akan menuju perairan dekat Somalia dan Tanzania setelah melalui Samudera Hindia.
Setelah membuat panggilan pelabuhan di Tanzania, armada 44 akan berlayar di sepanjang pantai timur Afrika jika cuaca memungkinkan, dan dijadwalkan untuk berlayar hingga ke pantai barat Afrika Selatan, di Samudera Atlantik Selatan.
Kehadiran armada Iran di Teluk Aden bertepatan dengan keputusan AS untuk langsung terlibat dalam perang koalisi Saudi melawan Yaman.
Pada hari Kamis, militer AS melancarkan serangan rudal untuk menghancurkan situs radar pesisir di Yaman sebagai pembalasan atas serangan rudal yang diduga dari sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS.
Sebelumnya kapal perang destroyer AS, USS Nitze, menyerang tiga situs radar milik pejuang Houthi Yaman dengan rudal Tomahawk. Pentagon menyatakan serangan rudal ini sebagai balasan setelah kapal perang AS, USS Mason, atas izin dari Presiden Obama.
Pihak Tentara Yaman dan pejuang Houthi mengatakan bahwa Tuduhan AS terhadap Houthi adalah disengaja demi membuka jalan bagi keterlibatan langsung negara itu dalam agresi Saudi ke Yaman.
“Tuduhan-tuduhan ini sama sekali tidak berdasar! Tentara Yaman maupun pasukan rakyat Yaman tidak ada hubungannya dengan tindakan ini. Tuduhan AS ini sengaja dibuat dalam konteks menciptakan pembenaran palsu untuk membuka jalan bagi koalisi pimpinan Saudi untuk meningkat serangan agresi mereka terhadap Yaman dan menutupi kejahatan yang terus dilakukan oleh koalisi agresi terhadap rakyat Yaman, “kata pejabat militer tersebut kepada kantor berita Yaman, SABA.
Tuesday, September 27, 2016
Iran Perkuat Sistem Persenjataan Paska Kucuran Dana AS ke Israel
Iran semakin bertekad untuk memperkuat pertahanan setelah perjanjian keamanan AS-Israel yang memberikan Israel bantuan $38 miliar selama 10 tahun. Ini adalah bantuan terbesar Amerika untuk Israel sepanjang sejarah.
Dalam wawancara dengan televisi Iran, Jendral Mohammad Hossein Bagheri, kepala staff gabungan Iran, mengatakan bahkan perjanjian AS-Israel itu ‘akan membuat kami semakin bertekad untuk memperkuat kekuatan pertahanan negara ini’. Demikian katanya di sela-sela acara parade militer tahunan, seperti dilaporkan Associated Press, Rabu lalu (21 September).
Pertengahan bulan ini Amerika dan Israel menandatangani perjanjian keamanan yang memberikan Israel $38 miliar dalam jangka waktu 10 tahun, atau $3,8 miliar per-tahun. Ini adalah bantuan keamanan terbesar Amerika yang diberikan kepada Israel.
Iran sendiri adalah musuh utama Israel, tidak mengakui eksistensi negara zionis itu dan mendukung lawan-lawan Israel seperti Hamas dan Hezbollah. Iran bahkan aktif terlibat menggagalkan proyek zionis internasional dalam konflik Suriah.
Dalam parade militer di kota pelabuhan Bandar Abbas di Teluk Parsia itu Iran menggelar senjata-senjata barunya, termasuk rudal Zulfighar yang diklaim memiliki jangkauan hingga 750 kilometer dan bisa membawa beberapa hululedak independen yang bergerak menjangkau sasaran sendiri.
Dalam parade itu Zulfiqar diangkut dengan kendaraan pengangkut yang membawa banner bertuliskan pernyataan pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, bahwa Iran akan merudal kota Tel Aviv dan Haifa jika Israel berani menyerang Iran.
Media setengah resmi Iran yang dekat dengan Tentara Pengawal Revolusi ‘Tasnim’ menyebutkan rudal tersebut adalah rudal ballistik dengan hulu ledak ‘cluster’. Namun tidak diberikan penjelasan lebih detil lagi. Sedangkan media Iran lainnya ISNA, menyebut bahwa rudal ini berdaya jangkau 700 kilometer.
Zulfiqar sendiri diambil dari nama pedang Nabi Muhammad S.A.W yang diberikan kepada sepupu dan menantunya Imam Ali bin Abu Thalib yang oleh para mengikut Shiah dianggap sebagai Imam pertama pengganti Nabi Muhammad.
Parade militer di Bandar Abbas digelar setiap tahun untuk memperingati Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 yang menewaskan lebih dari sejuta orang. Kala itu Irak yang dibantu oleh Amerika, Israel dan beberapa negara Arab, menyerang Iran yang baru mengalami revolusi menumbangkan regim Shah Pahlevi yang pro Amerika, tahun 1979. Tahun ini adalah parade yang ke-36. - ArrahmahNews
Dalam wawancara dengan televisi Iran, Jendral Mohammad Hossein Bagheri, kepala staff gabungan Iran, mengatakan bahkan perjanjian AS-Israel itu ‘akan membuat kami semakin bertekad untuk memperkuat kekuatan pertahanan negara ini’. Demikian katanya di sela-sela acara parade militer tahunan, seperti dilaporkan Associated Press, Rabu lalu (21 September).
Pertengahan bulan ini Amerika dan Israel menandatangani perjanjian keamanan yang memberikan Israel $38 miliar dalam jangka waktu 10 tahun, atau $3,8 miliar per-tahun. Ini adalah bantuan keamanan terbesar Amerika yang diberikan kepada Israel.
Iran sendiri adalah musuh utama Israel, tidak mengakui eksistensi negara zionis itu dan mendukung lawan-lawan Israel seperti Hamas dan Hezbollah. Iran bahkan aktif terlibat menggagalkan proyek zionis internasional dalam konflik Suriah.
Dalam parade militer di kota pelabuhan Bandar Abbas di Teluk Parsia itu Iran menggelar senjata-senjata barunya, termasuk rudal Zulfighar yang diklaim memiliki jangkauan hingga 750 kilometer dan bisa membawa beberapa hululedak independen yang bergerak menjangkau sasaran sendiri.
Dalam parade itu Zulfiqar diangkut dengan kendaraan pengangkut yang membawa banner bertuliskan pernyataan pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, bahwa Iran akan merudal kota Tel Aviv dan Haifa jika Israel berani menyerang Iran.
Media setengah resmi Iran yang dekat dengan Tentara Pengawal Revolusi ‘Tasnim’ menyebutkan rudal tersebut adalah rudal ballistik dengan hulu ledak ‘cluster’. Namun tidak diberikan penjelasan lebih detil lagi. Sedangkan media Iran lainnya ISNA, menyebut bahwa rudal ini berdaya jangkau 700 kilometer.
Zulfiqar sendiri diambil dari nama pedang Nabi Muhammad S.A.W yang diberikan kepada sepupu dan menantunya Imam Ali bin Abu Thalib yang oleh para mengikut Shiah dianggap sebagai Imam pertama pengganti Nabi Muhammad.
Parade militer di Bandar Abbas digelar setiap tahun untuk memperingati Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 yang menewaskan lebih dari sejuta orang. Kala itu Irak yang dibantu oleh Amerika, Israel dan beberapa negara Arab, menyerang Iran yang baru mengalami revolusi menumbangkan regim Shah Pahlevi yang pro Amerika, tahun 1979. Tahun ini adalah parade yang ke-36. - ArrahmahNews
Friday, September 9, 2016
Pangeran Arab Saudi Tawarkan $500000 Bagi Teroris yang Beraksi di Iran
Saudi Arabia ingin memindahkan medan perang yang dilancarkannya ke Iran, setelah petualangannya di Suriah dan Yaman mengalami kegagalan. Hal ini sekaligus akan memberikan pukulan langsung ke Iran setelah gagal dalam perang proksi melawan Iran di kedua wilayah itu.
Seperti dilaporkan Veterans Today, 5 September, Saudi Arabia bekerjasama dengan Israel telah mengubah kantor-kantor diplomatiknya di kawasan menjadi jaringan mata-mata untuk menggerakkan para teroris beroperasi di wilayah Iran.
Mengutip media Lebanon Al-Manar laporan itu menulis, “Sejumlah sumber mengkonfirmasikan bahwa Saudi Arabia telah merekrut kelompok-kelompok teroris untuk menghantam keamanana nasional Iran.” Terkait dengan hal itu Menhan Saudi Arabia Pangeran Mohammed bin Salman telah menawarkan hadiah senilai $500.000 bagi bagi para teroris yang beraksi di Iran.
“Saudi dengan bekerjasama dengan Israel telah mengubah kedutaan-kedutaan besarnya menjadi jaringan mata-mata untuk menghantam Iran. Mereka berusaha untuk memindahkan operasi teroris ke wilayah Iran,” tulis laporan itu.
Hal itu berkaitan dengan kegagalan ‘petualangan’ Saudi Arabia di Suriah, dan terakhir di Yaman. Yang terakhir terjadi setelah para pejuang Yaman berhasil menembakkan rudal-rudal ballistiknya yang tidak bisa dihentikan Saudi dan koalisi pimpinananya, sehingga menimbulkan kerusakan hebat pasukan koalisi Saudi di Yaman.
Terakhir, para pejuang Yaman menembakkan rudal Borkan, rudal yang memiliki daya jangkau hingga 800 km, jauh ke wilayah Saudi Arabia.
Seperti dilaporkan Veterans Today dalam laporan itu, rudal ballistik baru bernama Borkan 1 berhasil ditembakkan ke wilayah Ta’if yang kaya minyak. Kota ini berada 700 kilometer di dalam wilayah Saudi Arabia.
“Fakta bahwa Yaman berhasil menembakkan rudal sejauh itu, telah mengubah nasib peperangan di Yaman. Kini Ibukota Saudi Riyadh berada dalam jangkauan serangan rudal Yaman,” tulis Veterans Today.
Menurut laporan-laporan media Yaman, rudal Borkan 1 dibuat seluruhnya oleh para teknisi Yaman. Dibuat meniru rudal Scud buatan Rusia, rudal ini diklaim berdaya jangkau hingga 800 km. Menurut laporan itu, para pejabat militer Saudi terkejut dengan kecepatan rudal itu, yang disebut-sebut ‘melesat bak meteor’.
Sebelumnya Yaman diketahui sukses meluncurkan rudal-rudal ballistik buatan Rusia yang membawa kehancuran hebat bagi pasukan koalisi pimpinan Saudi Arabia yang tidak memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iran.
Seperti dilaporkan Veterans Today, 5 September, Saudi Arabia bekerjasama dengan Israel telah mengubah kantor-kantor diplomatiknya di kawasan menjadi jaringan mata-mata untuk menggerakkan para teroris beroperasi di wilayah Iran.
Mengutip media Lebanon Al-Manar laporan itu menulis, “Sejumlah sumber mengkonfirmasikan bahwa Saudi Arabia telah merekrut kelompok-kelompok teroris untuk menghantam keamanana nasional Iran.” Terkait dengan hal itu Menhan Saudi Arabia Pangeran Mohammed bin Salman telah menawarkan hadiah senilai $500.000 bagi bagi para teroris yang beraksi di Iran.
“Saudi dengan bekerjasama dengan Israel telah mengubah kedutaan-kedutaan besarnya menjadi jaringan mata-mata untuk menghantam Iran. Mereka berusaha untuk memindahkan operasi teroris ke wilayah Iran,” tulis laporan itu.
Hal itu berkaitan dengan kegagalan ‘petualangan’ Saudi Arabia di Suriah, dan terakhir di Yaman. Yang terakhir terjadi setelah para pejuang Yaman berhasil menembakkan rudal-rudal ballistiknya yang tidak bisa dihentikan Saudi dan koalisi pimpinananya, sehingga menimbulkan kerusakan hebat pasukan koalisi Saudi di Yaman.
Terakhir, para pejuang Yaman menembakkan rudal Borkan, rudal yang memiliki daya jangkau hingga 800 km, jauh ke wilayah Saudi Arabia.
Seperti dilaporkan Veterans Today dalam laporan itu, rudal ballistik baru bernama Borkan 1 berhasil ditembakkan ke wilayah Ta’if yang kaya minyak. Kota ini berada 700 kilometer di dalam wilayah Saudi Arabia.
“Fakta bahwa Yaman berhasil menembakkan rudal sejauh itu, telah mengubah nasib peperangan di Yaman. Kini Ibukota Saudi Riyadh berada dalam jangkauan serangan rudal Yaman,” tulis Veterans Today.
Menurut laporan-laporan media Yaman, rudal Borkan 1 dibuat seluruhnya oleh para teknisi Yaman. Dibuat meniru rudal Scud buatan Rusia, rudal ini diklaim berdaya jangkau hingga 800 km. Menurut laporan itu, para pejabat militer Saudi terkejut dengan kecepatan rudal itu, yang disebut-sebut ‘melesat bak meteor’.
Sebelumnya Yaman diketahui sukses meluncurkan rudal-rudal ballistik buatan Rusia yang membawa kehancuran hebat bagi pasukan koalisi pimpinan Saudi Arabia yang tidak memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iran.
Thursday, August 25, 2016
Video : AS Tak Terima Kapal Perangnya Dikejar Kapal IRGC Iran
Pihak Gedung Putih Amerika Serikat (AS) mengatakan, tindakan pencegatan dan pengejaran yang dilakukan oleh kapal perang perusak USS Nitze oleh empat kapal milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di Selat Hormuz tidak bisa diterima. Demikian disampaikan oleh juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, pada hari Kamis (25/08).
Kapal-kapal milik IRGC pada hari Selasa (23/08) telah mencegat dan mengejar kapal USS Nitze dengan kecepatan tinggi dan hanya berjarak sekitar 300 yard atau sekitar 274 meter. Menurut Pejabat dari Pentagon saat berbicara dengan nama anonim itu menyebutkan bahwa manuver kapal-kapal Iran sebagai insiden “tidak aman dan tidak profesional”.
“Tidak jelas apa maksud dari kapal Iran itu, tapi perilaku ini tidak dapat diterima,” kata Earnest kepada wartawan.
”Jenis-jenis tindakan seperti ini memiliki potensi meningkatkan ketegangan yang semestinya tidak perlu,” lanjut Earnest, seperti dikutip dari Sputniknews, Jumat (26/8/2016).
Akibat pencegatan dan pengejaran tersebut, kapal perang AS mengubah jalur untuk mengindari insiden berbahaya. AS menegaskan kapal perangnya berlayar di peraian internasional di Selat Hormuz.
Namun, IRGC curiga terhadap aktivitas militer AS di dekat perbatasan Iran. Pasukan Iran telah dikerahkan dalam latihan perang yang kerap digelar di kawasan Teluk. Tampak dalam sebuah video bahwa kapal perang AS dikejar oleh kapal perang milik pasukan garda Revolusi Iran.
Insiden laut antara AS dan Iran pernah terjadi pada bulan Januari lalu, dimana IRGC telah menahan 10 pelaut AS dengan dua kapal patrolinya yang memasuki wilayah perairan Iran secara ilegal. Namun, 10 pelaut AS itu kemudian dibebaskan 15 jam kemudian karena para pelaut itu mengakui kesalahannya.
Kapal-kapal milik IRGC pada hari Selasa (23/08) telah mencegat dan mengejar kapal USS Nitze dengan kecepatan tinggi dan hanya berjarak sekitar 300 yard atau sekitar 274 meter. Menurut Pejabat dari Pentagon saat berbicara dengan nama anonim itu menyebutkan bahwa manuver kapal-kapal Iran sebagai insiden “tidak aman dan tidak profesional”.
“Tidak jelas apa maksud dari kapal Iran itu, tapi perilaku ini tidak dapat diterima,” kata Earnest kepada wartawan.
”Jenis-jenis tindakan seperti ini memiliki potensi meningkatkan ketegangan yang semestinya tidak perlu,” lanjut Earnest, seperti dikutip dari Sputniknews, Jumat (26/8/2016).
Akibat pencegatan dan pengejaran tersebut, kapal perang AS mengubah jalur untuk mengindari insiden berbahaya. AS menegaskan kapal perangnya berlayar di peraian internasional di Selat Hormuz.
Namun, IRGC curiga terhadap aktivitas militer AS di dekat perbatasan Iran. Pasukan Iran telah dikerahkan dalam latihan perang yang kerap digelar di kawasan Teluk. Tampak dalam sebuah video bahwa kapal perang AS dikejar oleh kapal perang milik pasukan garda Revolusi Iran.
Insiden laut antara AS dan Iran pernah terjadi pada bulan Januari lalu, dimana IRGC telah menahan 10 pelaut AS dengan dua kapal patrolinya yang memasuki wilayah perairan Iran secara ilegal. Namun, 10 pelaut AS itu kemudian dibebaskan 15 jam kemudian karena para pelaut itu mengakui kesalahannya.
Monday, August 22, 2016
Rusia Akan Membentuk Pakta Pertahanan Tandingan NATO
Ketua Komisi Pertahanan, Parlemen Rusia mengusulkan pembentukan sebuah aliansi militer baru selain Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO, yang dianggotai Rusia, Cina, India dan Iran untuk memerangi terorisme.
United Press International (19/8) melaporkan, Vladimir Komoedov, Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Rusia, Jumat (19/8) menuturkan, sudah tiba waktunya untuk membentuk sebuah aliansi militer non-NATO untuk memerangi terorisme dengan dianggotai Rusia, Cina, India dan Iran.
Ia menambahkan, aliansi ini dapat mengalahkan kelompok-kelompok teroris di kawasan Timur Tengah.
Menurut Vladimir Komoedov, keempat negara ini bukan saja punya kapasitas militer, juga memiliki pengaruh politik yang besar.
Maria Zakharova, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Kamis (18/8) di Moskow mengatakan, perundingan Rusia, Iran dan Turki terkait krisis Suriah dan kawasan, efektif. - ParsToday
United Press International (19/8) melaporkan, Vladimir Komoedov, Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Rusia, Jumat (19/8) menuturkan, sudah tiba waktunya untuk membentuk sebuah aliansi militer non-NATO untuk memerangi terorisme dengan dianggotai Rusia, Cina, India dan Iran.
Ia menambahkan, aliansi ini dapat mengalahkan kelompok-kelompok teroris di kawasan Timur Tengah.
Menurut Vladimir Komoedov, keempat negara ini bukan saja punya kapasitas militer, juga memiliki pengaruh politik yang besar.
Maria Zakharova, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Kamis (18/8) di Moskow mengatakan, perundingan Rusia, Iran dan Turki terkait krisis Suriah dan kawasan, efektif. - ParsToday
Friday, April 17, 2015
Iran Ajak India, China dan Rusia Lawan Sistem Rudal NATO
MOSKOW - Iran mengajak Rusia, China dan India untuk melawan sistem perisai rudal NATO. Iran menyatakan siap bekerjasama dengan tiga negara itu untuk menghadapi ancaman NATO.
”Saya ingin mendukung ide pengembangan kerja sama pertahanan multifaset antara China, Iran, India dan Rusia untuk melawan ekspansi NATO di wilayah timur dan perisai rudalnya yang dipasang di Eropa,” kata Menteri Pertahanan Iran, Jenderal Hossein Dehqan, di sebuah Konferensi Keamanan Internasional di Moskow, Kamis kemarin.
Setelah menyampaikan ajakan itu, Dehqan, seperti dikutip RIA Novosti mengatakan, bahwa Rusia, China dan Iran dapat mengadakan pembicaraan pertahanan tripartit.
”Kami membahas aspek-aspek tertentu dari keamanan regional. Sudah diusulkan untuk mengadakan pertemuan trilateral Rusia, Iran dan China,” ujar Dehqan usai bertemu dengan Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoigu. Sementara itu, NATO berdalih penyebaran sistem perisai rudal NATO di Eropa Timur karena meningkatnya ancaman rudal balistik serta ancaman nuklir Iran.
”Ancaman terhadap negara-negara NATO yang ditimbulkan oleh proliferasi rudal balistik terus meningkat. Kerangka kesepakatan (dari program nuklir Iran) tidak mengubah fakta itu,” kata juru bicara NATO, Oana Lungescu, seperti dilansir Sputnik
”Saya ingin mendukung ide pengembangan kerja sama pertahanan multifaset antara China, Iran, India dan Rusia untuk melawan ekspansi NATO di wilayah timur dan perisai rudalnya yang dipasang di Eropa,” kata Menteri Pertahanan Iran, Jenderal Hossein Dehqan, di sebuah Konferensi Keamanan Internasional di Moskow, Kamis kemarin.
Setelah menyampaikan ajakan itu, Dehqan, seperti dikutip RIA Novosti mengatakan, bahwa Rusia, China dan Iran dapat mengadakan pembicaraan pertahanan tripartit.
”Kami membahas aspek-aspek tertentu dari keamanan regional. Sudah diusulkan untuk mengadakan pertemuan trilateral Rusia, Iran dan China,” ujar Dehqan usai bertemu dengan Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoigu. Sementara itu, NATO berdalih penyebaran sistem perisai rudal NATO di Eropa Timur karena meningkatnya ancaman rudal balistik serta ancaman nuklir Iran.
”Ancaman terhadap negara-negara NATO yang ditimbulkan oleh proliferasi rudal balistik terus meningkat. Kerangka kesepakatan (dari program nuklir Iran) tidak mengubah fakta itu,” kata juru bicara NATO, Oana Lungescu, seperti dilansir Sputnik
Tuesday, April 14, 2015
Israel Sewot Rusia Kirim Rudal S-300 ke Iran
Okezone – Rusia memutuskan untuk mengakhiri pelarangan dengan mengirim sistem pertahanan antirudal jenis S-300 ke Iran. Israel pun sewot karena kesepakatan program nuklir dengan negara-negara Barat hanya akan memperkuat militer Iran.
Sebagaimana diketahui, Iran dan negara-negara Barat telah menemui kata sepakat mengenai program nuklir. Intinya, negara Barat yang dipimpin Amerika Serikat (AS) melarang Iran untuk membuat reaktor nuklir. Namun, sejak awal Israel tidak setuju dengan kesepakatan itu.
Ketakutan Israel pun terjawab, Rusia memutuskan untuk mengirimkan sistem pertahanan antirudal jenis S-300. Menurut Menteri Urusan Strategis Yuval Steinitz, hal itu akan membuat pertahanan militer Iran semakin tangguh.
"Alih-alih, menuntut Iran berhenti dari kegiatan teroris yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan seluruh dunia, kesepakatan itu justru membuat Iran membeli senjata canggih yang hanya akan meningkatkan agresinya," kata Steinitz, seperti diberitakan IB Times, Selasa (14/4/2015).
Pada 2010, sistem pertahanan anti rudal tersebut batal dikirim karena tekanan dari AS dan Israel sebagai bentuk hukuman kepada Iran. Namun, Pemerintah Rusia mengatakan Presiden Vladimir Rutin telah menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri hukuman kepada Iran.
Sebagaimana diketahui, Iran dan negara-negara Barat telah menemui kata sepakat mengenai program nuklir. Intinya, negara Barat yang dipimpin Amerika Serikat (AS) melarang Iran untuk membuat reaktor nuklir. Namun, sejak awal Israel tidak setuju dengan kesepakatan itu.
Ketakutan Israel pun terjawab, Rusia memutuskan untuk mengirimkan sistem pertahanan antirudal jenis S-300. Menurut Menteri Urusan Strategis Yuval Steinitz, hal itu akan membuat pertahanan militer Iran semakin tangguh.
"Alih-alih, menuntut Iran berhenti dari kegiatan teroris yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan seluruh dunia, kesepakatan itu justru membuat Iran membeli senjata canggih yang hanya akan meningkatkan agresinya," kata Steinitz, seperti diberitakan IB Times, Selasa (14/4/2015).
Pada 2010, sistem pertahanan anti rudal tersebut batal dikirim karena tekanan dari AS dan Israel sebagai bentuk hukuman kepada Iran. Namun, Pemerintah Rusia mengatakan Presiden Vladimir Rutin telah menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri hukuman kepada Iran.
Monday, April 13, 2015
Tegang dengan Saudi, Iran Hentikan Umrah
Okezone - Iran menghentikan semua perjalanan jemaah haji kecil atau umrah ke Arab Saudi pada Senin (13/4/2015). Hal itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara kedua negara.
Laporan penghentian perjalanan umrah ke Tanah Suci itu diberitakan stasiun televisi pemerintah Iran yang dilansir AP. Selain masalah ketegangan diplomatik, tindakan pemerintah Iran itu juga dipicu laporan dugaan pelecehan dua jemaah umrah asal Iran saat bepergian melalui Bandara Jedah bulan Maret lalu.
Juru bicara Kementerian Kebudayaan Iran, Hossein Nooshabadi, mengatakan kepada televisi pemerintah Iran, bahwa haji kecil akan ditunda sampai pemerintah Saudi menerapkan sikap yang kuat untuk kasus (pelecehan) ini. ”Hukuman mati harus berlaku untuk kasus ini,” katanya.
Laporan dugaan pelecehan terhadap jemaah umrah asal Iran itu telah memicu protes di Kedutaan Besar Saudi di Teheran pada Sabtu pekan lalu.
Sekitar 500 ribu warga Iran mengunjungi Arab Saudi setiap tahun untuk melakukan ibadah haji kecil. Mereka selalu mengunjungi Mekkah dan Madinah, dua situs suci Islam. Sedangkan untuk ibadah haji, sekitar 100 ribu warga Iran rutin tiap tahun berangkat ke Saudi.
Ketegangan antara Iran dan Saudi dipicu oleh agresi militer Koalisi Teluk pimpinan Saudi terhadap Houthi Yaman. Iran yang dikenal sebagai sekutu Houthi dituding Saudi ikut mendukung kelompok pemberontak yang ingin mengkudeta pemerintah sah Yaman itu. Namun, Iran berkali-kali menyangkalnya.
Laporan penghentian perjalanan umrah ke Tanah Suci itu diberitakan stasiun televisi pemerintah Iran yang dilansir AP. Selain masalah ketegangan diplomatik, tindakan pemerintah Iran itu juga dipicu laporan dugaan pelecehan dua jemaah umrah asal Iran saat bepergian melalui Bandara Jedah bulan Maret lalu.
Juru bicara Kementerian Kebudayaan Iran, Hossein Nooshabadi, mengatakan kepada televisi pemerintah Iran, bahwa haji kecil akan ditunda sampai pemerintah Saudi menerapkan sikap yang kuat untuk kasus (pelecehan) ini. ”Hukuman mati harus berlaku untuk kasus ini,” katanya.
Laporan dugaan pelecehan terhadap jemaah umrah asal Iran itu telah memicu protes di Kedutaan Besar Saudi di Teheran pada Sabtu pekan lalu.
Sekitar 500 ribu warga Iran mengunjungi Arab Saudi setiap tahun untuk melakukan ibadah haji kecil. Mereka selalu mengunjungi Mekkah dan Madinah, dua situs suci Islam. Sedangkan untuk ibadah haji, sekitar 100 ribu warga Iran rutin tiap tahun berangkat ke Saudi.
Ketegangan antara Iran dan Saudi dipicu oleh agresi militer Koalisi Teluk pimpinan Saudi terhadap Houthi Yaman. Iran yang dikenal sebagai sekutu Houthi dituding Saudi ikut mendukung kelompok pemberontak yang ingin mengkudeta pemerintah sah Yaman itu. Namun, Iran berkali-kali menyangkalnya.
Akhirnya Rusia Cabut Larangan Pengiriman Rudal S-300 ke Iran
LiputanIslam - Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya mencabut larangan penjualan senjata pertahanan udara canggih S-300 ke Iran. Demikian keterangan pers pemerintah Rusia menegaskan.
“Dekrit Presiden mencabut larangan pengangkutan melalui wilayah Rusia, termasuk pengangkutan udara, dan eksport dari wilayah Federasi Rusia ke Republik Islam Iran, baik melalui udara maupun laut, atas sistem pertahanan udara S-300,” demikian pernyataan tersebut seperti dilaporkan kantor berita RIA Novosti yang dilansir Russia Today, Senin (13/4).
Dekrit tersebut ditandatangani Presiden Vladimir Putin. Presiden sebelumnya, Medvedev, membatalkan penjualan senjata itu tahun 2010 setelah adanya larangan dari PBB. Iran dan Rusia menandatangani kontrak penjualan 5 sistem pertahanan udara S-300 pada tahun 2007 senilai $800 juta. Dengan dekrit ini dipastikan Iran akan bisa segera memiliki rudal-rudal canggih S-300, meski saat ini belum ada konfirmasi tentang kapan pengiriman itu akan dilakukan.
Akibat pembatalan itu hubungan kedua negara memburuk dan Iran menuntut Rusia ke arbitrase internasional di Genewa dengan tuntutan ganti rugi $4 miliar.
Setelah bertahun-tahun negosiasi, pada bulan Februari 2015 lalu Rusia menawarkan kepada Iran senjata pengganti yang sepadan, yaitu Antey-2500. Iran menjawab akan mempertimbangkannya. Iran sendiri kemudian diketahui berhasil mengembangkan senjata pengganti buatan sendiri Bavar 373 yang diklaim Iran lebih canggih dibandingkan S-300.
Terakhir kali Rusia mengirim S-300 ke luar negeri adalah tahun 2010, sebanyak 15 unit yang dikirim ke Cina. Sejak saat itu produksi senjata ini dihentikan setelah produsennya, Almaz-Antey, memproduksi sistem pertahanan udara yang lebih canggih, S-400. Cina juga menjadi negara yang mendapat kehormatan untuk menjadi pembeli pertama S-400 systems.
Saat ini S-300 dianggap sebagai satu sistem pertahanan udara tercanggih di dunia dan telah digunakan oleh beberapa negara, seperti Aljazair, Azerbaijan, Belarusia, Siprus, Kazakhstan dan Vietnam. Rusia disebut-sebut juga memiliki senjata ini, meski belum terkonfirmasi oleh pejabat setempat.
“Dekrit Presiden mencabut larangan pengangkutan melalui wilayah Rusia, termasuk pengangkutan udara, dan eksport dari wilayah Federasi Rusia ke Republik Islam Iran, baik melalui udara maupun laut, atas sistem pertahanan udara S-300,” demikian pernyataan tersebut seperti dilaporkan kantor berita RIA Novosti yang dilansir Russia Today, Senin (13/4).
Dekrit tersebut ditandatangani Presiden Vladimir Putin. Presiden sebelumnya, Medvedev, membatalkan penjualan senjata itu tahun 2010 setelah adanya larangan dari PBB. Iran dan Rusia menandatangani kontrak penjualan 5 sistem pertahanan udara S-300 pada tahun 2007 senilai $800 juta. Dengan dekrit ini dipastikan Iran akan bisa segera memiliki rudal-rudal canggih S-300, meski saat ini belum ada konfirmasi tentang kapan pengiriman itu akan dilakukan.
Akibat pembatalan itu hubungan kedua negara memburuk dan Iran menuntut Rusia ke arbitrase internasional di Genewa dengan tuntutan ganti rugi $4 miliar.
Setelah bertahun-tahun negosiasi, pada bulan Februari 2015 lalu Rusia menawarkan kepada Iran senjata pengganti yang sepadan, yaitu Antey-2500. Iran menjawab akan mempertimbangkannya. Iran sendiri kemudian diketahui berhasil mengembangkan senjata pengganti buatan sendiri Bavar 373 yang diklaim Iran lebih canggih dibandingkan S-300.
Terakhir kali Rusia mengirim S-300 ke luar negeri adalah tahun 2010, sebanyak 15 unit yang dikirim ke Cina. Sejak saat itu produksi senjata ini dihentikan setelah produsennya, Almaz-Antey, memproduksi sistem pertahanan udara yang lebih canggih, S-400. Cina juga menjadi negara yang mendapat kehormatan untuk menjadi pembeli pertama S-400 systems.
Saat ini S-300 dianggap sebagai satu sistem pertahanan udara tercanggih di dunia dan telah digunakan oleh beberapa negara, seperti Aljazair, Azerbaijan, Belarusia, Siprus, Kazakhstan dan Vietnam. Rusia disebut-sebut juga memiliki senjata ini, meski belum terkonfirmasi oleh pejabat setempat.
Sunday, April 12, 2015
Meski Gemas, Saudi Tak Mau Perang dengan Iran
Sindo - Arab Saudi menegaskan tidak mau dan tidak sedang berperang dengan Iran dalam konflik Yaman. Kendati demikian, Saudi mengaku gemas dengan Iran yang mereka anggap terus mendukung kelompok pemberontakHouthi di Yaman.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Saud Al Faisal dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius di Riyadh, hari Minggu. Faisal kembali mendesak Iran untuk menghentikan dukungannya terhadap milisi Houthi di Yaman.
Menurut Faisal, agresi militer di Yaman oleh 10 negara Koalisi Teluk yang dipimpin Saudi sejak 26 Maret 2015 semata-mata untuk memenuhi permintaan Presiden Yaman yang sah, yakni Abed Rabbo Mansour Hadi. “Peran Iran di Yaman membuat gemas, dan telah menyebabkan peningkatan kekerasan di negara itu,” kata Faisal.
”Bagaimana Iran bisa meminta kami untuk menghentikan pertempuran di Yaman. Kami datang ke Yaman untuk membantu otoritas yang sah, dan Iran tidak bertanggung jawab atas Yaman,” katanya lagi, seperti dikutip Arab News, Senin (13/4/2015).
Sementara itu, Menlu Laurent Fabius, secara resmi menyampaikan dukungan agresi militer Koalisi Teluk terhadap Houthi di Yaman, yang diberi nama “Operation Decisive Storm” itu.
”Mengenai Yaman, kami di sini untuk menunjukkan dukungan kami, terutama dukungan politik untuk Pemerintah Saudi,” kata Fabius kepada wartawan, sebelum melakukan pertemuan dengan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan unit tentara loyalis mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, telah berupaya mengkudeta pemerintah Presiden Mansour Hadi. Sampai saat ini milisi Houthi dan pasukan loyalis Salah terus berperang dengan pasukan loyalis Presiden Hadi yang dibantu Koalisi Teluk.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Saud Al Faisal dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius di Riyadh, hari Minggu. Faisal kembali mendesak Iran untuk menghentikan dukungannya terhadap milisi Houthi di Yaman.
Menurut Faisal, agresi militer di Yaman oleh 10 negara Koalisi Teluk yang dipimpin Saudi sejak 26 Maret 2015 semata-mata untuk memenuhi permintaan Presiden Yaman yang sah, yakni Abed Rabbo Mansour Hadi. “Peran Iran di Yaman membuat gemas, dan telah menyebabkan peningkatan kekerasan di negara itu,” kata Faisal.
”Bagaimana Iran bisa meminta kami untuk menghentikan pertempuran di Yaman. Kami datang ke Yaman untuk membantu otoritas yang sah, dan Iran tidak bertanggung jawab atas Yaman,” katanya lagi, seperti dikutip Arab News, Senin (13/4/2015).
Sementara itu, Menlu Laurent Fabius, secara resmi menyampaikan dukungan agresi militer Koalisi Teluk terhadap Houthi di Yaman, yang diberi nama “Operation Decisive Storm” itu.
”Mengenai Yaman, kami di sini untuk menunjukkan dukungan kami, terutama dukungan politik untuk Pemerintah Saudi,” kata Fabius kepada wartawan, sebelum melakukan pertemuan dengan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan unit tentara loyalis mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, telah berupaya mengkudeta pemerintah Presiden Mansour Hadi. Sampai saat ini milisi Houthi dan pasukan loyalis Salah terus berperang dengan pasukan loyalis Presiden Hadi yang dibantu Koalisi Teluk.
Thursday, April 9, 2015
Khamenei : Kejahatan Saudi Ala Zionis di Yaman Harus Dihentikan
LiputanIslam -Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan peringatan keras terhadap pemerintah Arab Saudi terkait serangannya terhadap Yaman. Bersamaan dengan ini, Presiden Iran Hassan Rouhani memastikan rakyat Yaman tidak mungkin takluk di depan serangan Saudi.
Khamenei secara blak-blakan menyebut serangan Arab Saudi ke Yaman mirip dengan serangan tentara Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza serta merupakan “kejahatan dan pembasmian massal yang layak diperkarakan ke mahkamah internasional” .
“Dengan menginvasi Yaman, Saudi telah melakukan kesalahan fatal dan mencoba menanamkan satu tradisi baru di kawasan…Membunuhi anak-anak kecil, menghancurkan rumah-rumah, sarana infratsruktur dan kekayaan nasional sebuah negara adalah kejahatan besar.” ungkapnya dalam sebuah acara peringatan kelahiran Fatimah Zahra ra puteri Nabi Muhammad saw di Teheran, ibu kota Iran, Kamis (9/4/2015), sebagaimana dilansir IRNA.
Dia memastikan bahwa serangan ke Yaman itu tidak akan menghasilkan kemenangan bagi Saudi dan malah akan berdampak buruk dan mencelakakan Saudi sendiri.
“Saudi pasti akan akan rugi dan celaka dalam masalah ini, dan sama sekali tidak bisa menang,” tegasnya.
Dia menambahkan, “Alasan untuk prediksi ini jelas, sebab kekuatan militer kaum Zionis beberapa kali lebih besar daripada Saudi, dan Gazapun juga merupakan kawasan kecil, namun ternyata Zionis gagal, sementara Yaman adalah negara yang luas dengan jumlah penduduk puluhan juta… Saudi pasti akan terpukul dan tersungkur hidungnya ke tanah.”
Khamenei kemudian menegaskan, “Saya mengingatkan bahwa gerakan kejahatan di Yaman harus dihentikan.”
Lebih jauh Khameni mengecam dukungan Amerika Serikat (AS) terhadap invasi Saudi ke Yaman.
“Sudah menjadi watak AS, dalam semua kasus, berpihak kepada yang zalim, bukan kepada pihak yang teraniaya. Namun merekapun dalam masalah juga akan terpukul dan kandas,” ungkapnya.
Dia membantah keras tuduhan bahwa Iran campurtangan di Yaman.
“Kejahatan mereka adalah mengacaukan keamanan angkasa Yaman. Mereka menggalang intervensi di Yaman dengan alasan bodoh yang tertolak, baik di mata Allah maupun di mata bangsa-bangsa dan logika internasional. Mereka tidak menganggap tindakan itu sebagai campurtangan dan malah menuduh Iran,” tegasnya.
Menurut Khamenei, ada grand design untuk menyulap Yaman menjadi Libya kedua.
“Beruntung, mereka gagal mewujudkan ambisi ini, sebab para pemuda mukmin, simpatik dan menaruh keyakinan kepada jalan dan metode Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib ra), baik yang Syiah maupun yang Sunni, Zaidiyah dan Hanafiyah, berdiri menghadang mereka dan akan senantiasa demikian, dan mereka akan menang,” tandasnya.
Pernyataan senada juga dilontarkan di tempat terpisah oleh Presiden Iran Hassan Rouhani. Dia memastikan rakyat Yaman tidak mungkin dapat ditaklukkan oleh serangan Saudi dan sekutunya.
Pada pertemuan perayaan hari teknologi nuklir Iran di Teheran dia menegaskan bahwa tekad rakyat Yaman terlampau besar untuk dapat ditundukkan oleh agresi militer Saudi. Karena itu, sebagaimana dilaporkan Alalam, dia menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam agresi itu supaya “kembali dan meninggalkan jalan mereka yang salah, serta membuka cakrawala dialog yang melibatkan semua pihak di Yaman.”
“Mari kita siapkan cakrawala dialog di Yaman… Semua pihak hendaknya mengetahui bahwa masa depan Yaman ada di tangan anak-anak bangsa Yaman sendiri,” serunya.
Khamenei secara blak-blakan menyebut serangan Arab Saudi ke Yaman mirip dengan serangan tentara Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza serta merupakan “kejahatan dan pembasmian massal yang layak diperkarakan ke mahkamah internasional” .
“Dengan menginvasi Yaman, Saudi telah melakukan kesalahan fatal dan mencoba menanamkan satu tradisi baru di kawasan…Membunuhi anak-anak kecil, menghancurkan rumah-rumah, sarana infratsruktur dan kekayaan nasional sebuah negara adalah kejahatan besar.” ungkapnya dalam sebuah acara peringatan kelahiran Fatimah Zahra ra puteri Nabi Muhammad saw di Teheran, ibu kota Iran, Kamis (9/4/2015), sebagaimana dilansir IRNA.
Dia memastikan bahwa serangan ke Yaman itu tidak akan menghasilkan kemenangan bagi Saudi dan malah akan berdampak buruk dan mencelakakan Saudi sendiri.
“Saudi pasti akan akan rugi dan celaka dalam masalah ini, dan sama sekali tidak bisa menang,” tegasnya.
Dia menambahkan, “Alasan untuk prediksi ini jelas, sebab kekuatan militer kaum Zionis beberapa kali lebih besar daripada Saudi, dan Gazapun juga merupakan kawasan kecil, namun ternyata Zionis gagal, sementara Yaman adalah negara yang luas dengan jumlah penduduk puluhan juta… Saudi pasti akan terpukul dan tersungkur hidungnya ke tanah.”
Khamenei kemudian menegaskan, “Saya mengingatkan bahwa gerakan kejahatan di Yaman harus dihentikan.”
Lebih jauh Khameni mengecam dukungan Amerika Serikat (AS) terhadap invasi Saudi ke Yaman.
“Sudah menjadi watak AS, dalam semua kasus, berpihak kepada yang zalim, bukan kepada pihak yang teraniaya. Namun merekapun dalam masalah juga akan terpukul dan kandas,” ungkapnya.
Dia membantah keras tuduhan bahwa Iran campurtangan di Yaman.
“Kejahatan mereka adalah mengacaukan keamanan angkasa Yaman. Mereka menggalang intervensi di Yaman dengan alasan bodoh yang tertolak, baik di mata Allah maupun di mata bangsa-bangsa dan logika internasional. Mereka tidak menganggap tindakan itu sebagai campurtangan dan malah menuduh Iran,” tegasnya.
Menurut Khamenei, ada grand design untuk menyulap Yaman menjadi Libya kedua.
“Beruntung, mereka gagal mewujudkan ambisi ini, sebab para pemuda mukmin, simpatik dan menaruh keyakinan kepada jalan dan metode Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib ra), baik yang Syiah maupun yang Sunni, Zaidiyah dan Hanafiyah, berdiri menghadang mereka dan akan senantiasa demikian, dan mereka akan menang,” tandasnya.
Pernyataan senada juga dilontarkan di tempat terpisah oleh Presiden Iran Hassan Rouhani. Dia memastikan rakyat Yaman tidak mungkin dapat ditaklukkan oleh serangan Saudi dan sekutunya.
Pada pertemuan perayaan hari teknologi nuklir Iran di Teheran dia menegaskan bahwa tekad rakyat Yaman terlampau besar untuk dapat ditundukkan oleh agresi militer Saudi. Karena itu, sebagaimana dilaporkan Alalam, dia menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam agresi itu supaya “kembali dan meninggalkan jalan mereka yang salah, serta membuka cakrawala dialog yang melibatkan semua pihak di Yaman.”
“Mari kita siapkan cakrawala dialog di Yaman… Semua pihak hendaknya mengetahui bahwa masa depan Yaman ada di tangan anak-anak bangsa Yaman sendiri,” serunya.
Iran Tuduh Arab Saudi Lakukan Genosida di Yaman
Okezone - Imam Besar Iran, Ayatollah Ali Khameini menyatakan serangan udara yang dilakukan oleh Koalisi Teluk yang dipimpin Arab Saudi di Yaman adalah sebuah genosida. Tokoh Iran itu juga megatakan bahwa Arab Saudi dan sekutunya tidak akan meraih kemenangan di Yaman.
“Agresi oleh Arab Saudi terhadap Yaman dan penduduknya yang tak berdosa adalah sebuah kesalahan. Tindakan tersebut telah membuat contoh yang buruk di wilayah itu.” Kata Khameini, seperti dikutip Reuters, Kamis (9/4/2015).
“Ini adalah kejahatan dan genosida yang dapat dihukum di pengadilan internasional,” tegas Khameini. “Riyadh tidak akan meraih kemenangan pada agresi ini.”
Kecaman juga diserukan oleh Presiden Iran, Hassan Rouhani, yang menegaskan kesalahan yang terus menerus dilakukan Arab Saudi dengan memerangi sekte Syiah di Timur Tengah.
“Anda telah mencobanya (memerangi Syiah) di Libanon, dan menyadari kesalahan Anda. Anda mencobanya di Suriah, dan menyadari kesalahan Anda. Anda akan segera menyadari Anda membuat kesalahan di Yaman,” ujar Rouhani.
Iran dikabarkan telah mengirimkan dua kapal perangnya ke Yaman untuk membantu kelompok Syiah, Houthi. Arab Saudi juga menuduh Iran membantu melatih dan mempersenjatai kelompok Houthi.
Iran membantah semua tuduhan ini, dan bersikeras menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur politik.
“Agresi oleh Arab Saudi terhadap Yaman dan penduduknya yang tak berdosa adalah sebuah kesalahan. Tindakan tersebut telah membuat contoh yang buruk di wilayah itu.” Kata Khameini, seperti dikutip Reuters, Kamis (9/4/2015).
“Ini adalah kejahatan dan genosida yang dapat dihukum di pengadilan internasional,” tegas Khameini. “Riyadh tidak akan meraih kemenangan pada agresi ini.”
Kecaman juga diserukan oleh Presiden Iran, Hassan Rouhani, yang menegaskan kesalahan yang terus menerus dilakukan Arab Saudi dengan memerangi sekte Syiah di Timur Tengah.
“Anda telah mencobanya (memerangi Syiah) di Libanon, dan menyadari kesalahan Anda. Anda mencobanya di Suriah, dan menyadari kesalahan Anda. Anda akan segera menyadari Anda membuat kesalahan di Yaman,” ujar Rouhani.
Iran dikabarkan telah mengirimkan dua kapal perangnya ke Yaman untuk membantu kelompok Syiah, Houthi. Arab Saudi juga menuduh Iran membantu melatih dan mempersenjatai kelompok Houthi.
Iran membantah semua tuduhan ini, dan bersikeras menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur politik.
Arab Saudi Larang Kapal Iran ke Yaman
Okezone - Pemerintah Iran telah mengirim dua kapal menuju Yaman. Namun, Arab Saudi dengan tegas melarang kapal Iran tersebut memasuki Perairan Yaman.
Hal itu disampaikan Juru Bicara Militer Arab Saudi untuk Operasi Anti-Kelompok Houthi di Yaman, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri, seperti dikutip Al Arabiya, Kamis (9/4/2015).
Jenderal Asseri mengatakan, kapal-kapal perang Iran hanya berhak berlayar di perairan internasional, bukan ke wilayah teritorial Yaman. Asseri yang berbicara kepada wartawan di Riyadh, Rabu 8 April 2015, merespons kebijakan militer Iran yang telah mengirim dua kapal perang ke Teluk Aden.
Asseri menegaskan, selama misi “Operation Decisive Storm” di Yaman, Koalisi Teluk berhak menanggapi setiap upaya Iran untuk mempersenjatai Kelompok Houthi.
Namun, Iran sendiri berkali-kali membantah bahwa mereka mempersenjatai Kelompok Houthi di Yaman. Iran justru menyerukan dialog damai dan menentang intervensi militer asing di Yaman.
Sebagaimana diketahui, media Pemerintah Iran telah mengonfirmasi Kapal Logistik Bushehr dan Kapal Perusak Alborz telah meninggalkan Kota Pelabuhan Bandar Abbas, Iran Selatan, menuju Perairan Yaman. Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Habibollah Sayyari juga membenarkan pengiriman dua kapal perang itu.
“Armada ke-34 mengirim (dua kapal perang) untuk misi menjamin keamanan jalur pelayaran Iran dan melindungi kepentingan Republik Islam Iran di laut lepas,” kata Sayyari, seperti dikutip Tehran Times, Kamis (9/4/2015).
Meski Iran menentang agresi militer koalisi Teluk di Yaman, Sayyari tidak menjelaskan apakah pengiriman dua kapal perang Iran itu untuk mengintervensi agresi Koalisi Teluk terhadap Houthi di Yaman. Dia hanya menegaskan bahwa misi kapal perang Iran tersebut untuk menjamin kepentingan maritim Iran dari kapal-kapal bajak laut.
Hal itu disampaikan Juru Bicara Militer Arab Saudi untuk Operasi Anti-Kelompok Houthi di Yaman, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri, seperti dikutip Al Arabiya, Kamis (9/4/2015).
Jenderal Asseri mengatakan, kapal-kapal perang Iran hanya berhak berlayar di perairan internasional, bukan ke wilayah teritorial Yaman. Asseri yang berbicara kepada wartawan di Riyadh, Rabu 8 April 2015, merespons kebijakan militer Iran yang telah mengirim dua kapal perang ke Teluk Aden.
Asseri menegaskan, selama misi “Operation Decisive Storm” di Yaman, Koalisi Teluk berhak menanggapi setiap upaya Iran untuk mempersenjatai Kelompok Houthi.
Namun, Iran sendiri berkali-kali membantah bahwa mereka mempersenjatai Kelompok Houthi di Yaman. Iran justru menyerukan dialog damai dan menentang intervensi militer asing di Yaman.
Sebagaimana diketahui, media Pemerintah Iran telah mengonfirmasi Kapal Logistik Bushehr dan Kapal Perusak Alborz telah meninggalkan Kota Pelabuhan Bandar Abbas, Iran Selatan, menuju Perairan Yaman. Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Habibollah Sayyari juga membenarkan pengiriman dua kapal perang itu.
“Armada ke-34 mengirim (dua kapal perang) untuk misi menjamin keamanan jalur pelayaran Iran dan melindungi kepentingan Republik Islam Iran di laut lepas,” kata Sayyari, seperti dikutip Tehran Times, Kamis (9/4/2015).
Meski Iran menentang agresi militer koalisi Teluk di Yaman, Sayyari tidak menjelaskan apakah pengiriman dua kapal perang Iran itu untuk mengintervensi agresi Koalisi Teluk terhadap Houthi di Yaman. Dia hanya menegaskan bahwa misi kapal perang Iran tersebut untuk menjamin kepentingan maritim Iran dari kapal-kapal bajak laut.
Arab Saudi Usir Pesawat Sipil Iran
Okezone - Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) mengusir pesawat Iran ketika melintasi wilayah udaranya pada Kamis 9 April 2015.
Pesawat tersebut membawa 260 peziarah asal Iran untuk melakukan ibadah umrah di Arab Saudi. Insiden itu dikhawatirkan akan memperpanas ketegangan antara Arab Saudi dengan Iran.
“Pesawat tersebut masuk wilayah Arab Saudi tanpa izin. Harusnya pesawat itu didaftarkan terlebih dahulu dalam daftar penerbangan,” demikian bunyi situs resmi GACA, seperti dilansir Arabian Business, Kamis (9/4/2015).
GACA menilai pesawat Iran itu tidak memiliki izin untuk memasuki wilayah Arab Saudi. Selain itu, pilot pesawat juga sempat menolak kontak komunikasi dengan air traffic control (ATC) yang ada di Arab Saudi. Pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi terkait insiden ini.
Arab Saudi dan Iran masih terlibat ketegangan terkait krisis di Yaman. Selain itu, konflik Sunni dan Syiah juga sering menjadi ganjalan hubungan kedua negara.
Pesawat tersebut membawa 260 peziarah asal Iran untuk melakukan ibadah umrah di Arab Saudi. Insiden itu dikhawatirkan akan memperpanas ketegangan antara Arab Saudi dengan Iran.
“Pesawat tersebut masuk wilayah Arab Saudi tanpa izin. Harusnya pesawat itu didaftarkan terlebih dahulu dalam daftar penerbangan,” demikian bunyi situs resmi GACA, seperti dilansir Arabian Business, Kamis (9/4/2015).
GACA menilai pesawat Iran itu tidak memiliki izin untuk memasuki wilayah Arab Saudi. Selain itu, pilot pesawat juga sempat menolak kontak komunikasi dengan air traffic control (ATC) yang ada di Arab Saudi. Pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi terkait insiden ini.
Arab Saudi dan Iran masih terlibat ketegangan terkait krisis di Yaman. Selain itu, konflik Sunni dan Syiah juga sering menjadi ganjalan hubungan kedua negara.
Wednesday, April 8, 2015
Iran Kirim Kapal Perang Dekat Perairan Yaman
Kompas - Iran mengirimkan dua kapal perang ke perairan bebas dekat Aden, Yaman, yang menurut seorang perwira tinggi angkatan laut Iran ialah untuk melindungi negaranya dari bajak laut.
Televisi berbahasa Inggris milik Pemerintah Iran, Press TV, menyiarkan pernyataan Laksamana Habibollah Sayyari yang menyatakan kapal itu merupakan bagian dari perlindungan terhadap bajak laut.
"Untuk menjaga rute laut bagi kapal-kapal Iran di wilayah tersebut," katanya.
Namun, manuver ini dilakukan berbarengan dengan meningkatnya serangan udara pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi terhadap kelompok pemberontak Houthi.
Selain itu, Amerika Serikat telah mempercepat pasokan senjata kepada pasukan koalisi Arab Saudi.
Berbicara di Riyadh kemarin, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Anthony Blinken menyatakan, "Kami telah mempercepat pasokan senjata. Kami juga meningkatkan pertukaran informasi intelijen dan membangun koordinasi bersama serta perencanaan di pusat operasi Arab Saudi."
Di Aden sendiri, hari ini (8/4/2015), pertempuran kembali meletus saat pasukan pemberontak Houthi kembali menyerang kota itu.
Mereka berniat merebut Aden dari penguasaan Pemerintah Yaman dan milisi pro-Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi.
Televisi berbahasa Inggris milik Pemerintah Iran, Press TV, menyiarkan pernyataan Laksamana Habibollah Sayyari yang menyatakan kapal itu merupakan bagian dari perlindungan terhadap bajak laut.
"Untuk menjaga rute laut bagi kapal-kapal Iran di wilayah tersebut," katanya.
Namun, manuver ini dilakukan berbarengan dengan meningkatnya serangan udara pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi terhadap kelompok pemberontak Houthi.
Selain itu, Amerika Serikat telah mempercepat pasokan senjata kepada pasukan koalisi Arab Saudi.
Berbicara di Riyadh kemarin, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Anthony Blinken menyatakan, "Kami telah mempercepat pasokan senjata. Kami juga meningkatkan pertukaran informasi intelijen dan membangun koordinasi bersama serta perencanaan di pusat operasi Arab Saudi."
Di Aden sendiri, hari ini (8/4/2015), pertempuran kembali meletus saat pasukan pemberontak Houthi kembali menyerang kota itu.
Mereka berniat merebut Aden dari penguasaan Pemerintah Yaman dan milisi pro-Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi.
Iran Tidak Ijinkan Inspeksi Situs Militernya
Irib - Menteri Pertahanan Iran menolak sejumlah laporan palsu media yang mengklaim bahwa inspektur internasional akan diijinkan mengakses situs militer Iran berdasarkan pada kesepahaman yang tercapai baru-baru ini antara Tehran dan enam kekuatan dunia soal program nuklir Republik Islam.
Brigadir Jenderal Hossein Dehqan, Rabu (8/4) membantah laporan media Barat bahwa di bawah ketentuan peningkatan inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran akan mengijinkan para inspektor IAEA memeriksa situs militer di seluruh negeri.
"Tidak tercapai kesepakatan tersebut dan pada dasarnya, meninjau pusat-pusat militer termasuk di antara garis merah dan tidak ada ada peninjauan ke pusat-pusat [militer] yang akan diijinkan," kata Dehqan, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Iran.
Iran dan Kelompok 5+1 - Rusia, Cina, Perancis, Inggris, Amerika Serikat dan Jerman - bersama dengan para pejabat dari Uni Eropa mencapai kesepahaman terkait program nuklir Tehran setelah perundingan maraton selama delapan hari di Swiss, Kamis pekan lalu.
Brigadir Jenderal Hossein Dehqan, Rabu (8/4) membantah laporan media Barat bahwa di bawah ketentuan peningkatan inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran akan mengijinkan para inspektor IAEA memeriksa situs militer di seluruh negeri.
"Tidak tercapai kesepakatan tersebut dan pada dasarnya, meninjau pusat-pusat militer termasuk di antara garis merah dan tidak ada ada peninjauan ke pusat-pusat [militer] yang akan diijinkan," kata Dehqan, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Iran.
Iran dan Kelompok 5+1 - Rusia, Cina, Perancis, Inggris, Amerika Serikat dan Jerman - bersama dengan para pejabat dari Uni Eropa mencapai kesepahaman terkait program nuklir Tehran setelah perundingan maraton selama delapan hari di Swiss, Kamis pekan lalu.
Tuesday, April 7, 2015
AS Pasang Badan atas Ancam Iran terhadap Saudi dan Sekutu Teluk
Sindonews - Amerika Serikat (AS) komitmen pasang badan atau membela negara-negara Teluk (GCC), terutama Arab Saudi untuk setiap potensi ancaman dari Iran. Pemerintah Barack Obama menegaskan pembelaaan terhadap sekutu Teluknya sebagai kebijakan luar negeri AS.
Komitmen AS untuk melindungi negara-negara Teluk itu disampaikan Deputi Penasihat Keamanan Nasional AS, Ben Rhodes. Menurutnya, pembelaan AS terhadap sekutu Teluk sesuai dengan pidato Obama dalam sidang Majelis Umum PBB dua tahun lalu.
“Apa yang menjadi dasar jika Anda mendapati situasi, di mana salah satu mitra kami seperti Arab Saudi terancam dari agresi eksternal katakanlah melalui Iran, kita akan datang ke pertahanan mereka,” katanya, seperti dilansir Al Arabiya, Selasa (7/4/2015).
Rhodes meyakinkan sekutu Teluk bahwa kesepakatan nuklir Iran dan enam negara kekuatan dunia yang tercapai di Lausanne pekan lalu adalah kesepekatan yang “bagus”.
”Kami akan terus menjelaskan secara singkat pada mereka tentang rincian perjanjian dan membuat sesuatu yang jelas, bahwa (kesepakatan) itu bertujuan memaksakan pembatasan yang sangat penting dari program nuklir Iran,” lanjut Rhodes.
Tak lama setelah pengumuman kesepakatan nuklir Teheran, Obama mengundang pemimpin negara-negara Teluk untuk melakukan pertemuan puncak. Dalam pertemuan itu, Obama menjamin keamanan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk.
“Itu akan menjadi tujuan dari pertemuan puncak di Camp David, di mana presiden akan bersidang untuk membahas apakah ada cara yang kita dapat meyakinkan sekutu kami dalam meningkatkan keamanan. Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan mereka untuk menjamin keamanan mereka,” imbuh Rhodes
Komitmen AS untuk melindungi negara-negara Teluk itu disampaikan Deputi Penasihat Keamanan Nasional AS, Ben Rhodes. Menurutnya, pembelaan AS terhadap sekutu Teluk sesuai dengan pidato Obama dalam sidang Majelis Umum PBB dua tahun lalu.
“Apa yang menjadi dasar jika Anda mendapati situasi, di mana salah satu mitra kami seperti Arab Saudi terancam dari agresi eksternal katakanlah melalui Iran, kita akan datang ke pertahanan mereka,” katanya, seperti dilansir Al Arabiya, Selasa (7/4/2015).
Rhodes meyakinkan sekutu Teluk bahwa kesepakatan nuklir Iran dan enam negara kekuatan dunia yang tercapai di Lausanne pekan lalu adalah kesepekatan yang “bagus”.
”Kami akan terus menjelaskan secara singkat pada mereka tentang rincian perjanjian dan membuat sesuatu yang jelas, bahwa (kesepakatan) itu bertujuan memaksakan pembatasan yang sangat penting dari program nuklir Iran,” lanjut Rhodes.
Tak lama setelah pengumuman kesepakatan nuklir Teheran, Obama mengundang pemimpin negara-negara Teluk untuk melakukan pertemuan puncak. Dalam pertemuan itu, Obama menjamin keamanan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk.
“Itu akan menjadi tujuan dari pertemuan puncak di Camp David, di mana presiden akan bersidang untuk membahas apakah ada cara yang kita dapat meyakinkan sekutu kami dalam meningkatkan keamanan. Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan mereka untuk menjamin keamanan mereka,” imbuh Rhodes
Saturday, April 4, 2015
Kesepakatan nuklir Iran : Iran Tak Boleh Bangun Reaktor Nuklir Selama 15 Tahun
Okezone – Iran dan enam negara besar (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China) sepakat untuk menandatangani kesepakatan nuklir Iran pada Kamis 2 April di Laussane, Swiss.
“Ini adalah keputusan yang penting sebelum perjanjian damai. Kami akan memulai untuk merumuskannya kesepakatan damai tersebut,” ujar Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE), Federica Mogherini, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (3/4/2015).
Para diplomat dari masing-masing negara telah melakukan perundingan selama delapan hari untuk membahas program nuklir Iran. Inti dari kesepakatan mereka adalah Iran diperbolehkan untuk tetap memproduksi uranium demi kepentingan pembangkit listrik di negaranya.
Namun, Iran akan mematuhi batas maksimal produksi uraniumnya. Selain itu, Iran harus mengurangi jumlah reaktor nuklirnya dan tidak diperbolehkan untuk membangun reaktor nuklir baru dalam jangka waktu 15 tahun.
Kesepakatan itu belum merupakan keputusan final. Para diplomat masih akan merumuskan perjanjian damai yang sifatnya permanen.
Kesepakatan damai ini setidaknya dapat membuat Iran terhindar dari sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan UE.
“Ini adalah keputusan yang penting sebelum perjanjian damai. Kami akan memulai untuk merumuskannya kesepakatan damai tersebut,” ujar Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE), Federica Mogherini, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (3/4/2015).
Para diplomat dari masing-masing negara telah melakukan perundingan selama delapan hari untuk membahas program nuklir Iran. Inti dari kesepakatan mereka adalah Iran diperbolehkan untuk tetap memproduksi uranium demi kepentingan pembangkit listrik di negaranya.
Namun, Iran akan mematuhi batas maksimal produksi uraniumnya. Selain itu, Iran harus mengurangi jumlah reaktor nuklirnya dan tidak diperbolehkan untuk membangun reaktor nuklir baru dalam jangka waktu 15 tahun.
Kesepakatan itu belum merupakan keputusan final. Para diplomat masih akan merumuskan perjanjian damai yang sifatnya permanen.
Kesepakatan damai ini setidaknya dapat membuat Iran terhindar dari sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan UE.
Subscribe to:
Posts (Atom)




















