Showing posts with label Amerika Serikat. Show all posts
Showing posts with label Amerika Serikat. Show all posts

Thursday, November 10, 2016

7 Janji Kampanye Donald Trump yang Paling Berbahaya

7 Janji Kampanye Donald Trump yang Paling Berbahaya
Pemilu Amerika Serikat membuat kejutan besar. Donald Trump, yang kurang diunggulkan pengamat dan lembaga survei, tampil sebagai pemenang sekaligus terpilih sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat.

Dari berbagai analisa, banyak yang menyebut kunci kemenangan Trump adalah gaya retorik populisnya yang mengecam globalisasi dan perdagangan bebas. Dia menjanjikan Amerika Serikat kembali menjadi Negara besar. Namun, di balik retorika populis itu, beberapa janji kampanye miliarder real estate ini menyimpan bahaya. Berikut 7 kampanye paling berbahaya Donald Trump.

1. Membangun tembok tinggi di perbatasan AS-Meksiko dan melakukan deportasi massal

Saat memulai kampanyenya, Donald Trump pernah berjanji akan membangun tembok tinggi di perbatasan AS-Meksiko. Tujuannya, tentu saja, untuk membendung arus pengungsi dari benua Amerika Latin. Tidak hanya itu, Trump juga berjanji akan mendeportasi massal 11 juta imigran tanpa dokumen resmi di AS. Dia juga berencana menambah tiga kali lipat petugas imigrasi AS.

2. Melarang Muslim masuk AS

Setelah serangan penembakan di San Bernardino, California, pada tahun 2015 lalu, Trump berjanji akan menutup pintu masuk Amerika Serikat bagi orang-orang Islam. Tidak hanya itu, dia juga mengawasi dan menutup Mesjid-Mesjid di AS. Tidak berhenti di situ, dia juga menyarankan adanya database untuk semua orang Islam yang tinggal di AS.

3. Membongkar Obamacare

Donald Trump pernah sesumbar bahwa di hari pertama pemerintahannya dia akan meminta Kongres untuk segera mencabut UU Perlindungan Pasien dan Perawatan yang Terjangkau atau sering disebut Obamacare. Sebagai gantinya, Trump akan menyusun sistim asuransi kesehatan berorientasi pasar. Padahal, terlepas dari kekurangannya, Obamacare telah memberikan asuransi kesehatan yang disubsidi pemerintah kepada 16,9 juta orang warga AS. UU ini mengharuskan pemerintah membantu setiap warga negara yang berpenghasilan rendah untuk membayar premi asuransinya.

4. Memotong pajak perusahaan dan klas menengah

Di balik retorika populisnya, Trump sebetulnya sangat pro-bisnis. Dia berencana memangkas pajak bagi semua perusahaan dan klas menengah AS. Trump juga berencana mengurangi golongan tarif dari sebelumnya 7 golongan menjadi hanya tiga, serta memangkas batas atas tarif yang selama ini sebesar 39,6 persen menjadi 33 persen. Bagi Trump, sektor bisnis sangat berjasa bagi ekonomi AS, sehingga perlu diberi keringanan pajak.

5. Membatalkan perjanjian Iklim Paris

Perjanjian Paris, yang diteken oleh 195 negara, menyepakati untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius (2C) dan berupaya menekan hingga 1,5C. Belakangan, dalam kampanyenya, Trump berusaha menyangkal semua perjanjian itu. Menurut dia, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa manusia bertanggung-jawab atas perubahan iklim. Bagi Trump, perubahan iklim itu hanya mitos. Dia juga bilang, mitos itu sengaja diciptakan oleh pemerintah Tiongkok untuk menghajar manufaktur AS.

6. Memperkuat militer AS

Trump berjanji akan membuat militer AS semakin kuat dan semakin raksasa. Dengan begitu, tidak satupun pihak luar yang berani mengganggu negeri Paman Sam itu.
Dalam janji kampanyenya, Trump bilang akan memperbanyak pasukan, pesawat dan kapal perang di Filipina. Dia juga berencana memperkuat kekuatan militer AS di kawasan lain. Yang lebih mengerikan, Trump berulangkali meminta ahli politik internasional untuk mempertanyakan mengapa AS tidak diperbolehkan menggunakan senjata nuklir.

7. Memangkas anggaran Planned Parenthood

Trump juga berjanji akan memotong semua dana federal untuk Planned Parenthood, yang telah memberikan layanan kesehatan, termasuk aborsi, kepada jutaan perempuan AS. Malahan, dalam banyak kampanye, retorika Trump justru menyerang hak untuk memilih aborsi. Menurut dia, perempuan yang memilih aborsi harus dihukum.

Monday, October 24, 2016

Rudal "Setan 2" Rusia yang Bisa Hancurkan Area Seukuran Texas

Rudal "Setan 2" Rusia yang Bisa Hancurkan Area Seukuran Texas
Rusia memperkenalkan senjata nuklir pembunuh baru yang dikenal dengan nama rudal RS-28 Sarmat  atau dikenal sebagai rudal “Setan 2”. Senjata nuklir baru Rusia yang menakut-nakuti Barat ini diklaim bisa menghancurkan area seukuran Texas, Amerika Serikat (AS) maupun Prancis hanya dengan serangan tunggal.

Klaim itu dilaporkan media Inggris, Daily Mirror, dalam laporan yang mengutip ahli senjata militer, Senin (24/10/2016) malam.

Pemerintah Presiden Vladimir Putin hendak mempekenalkan rudal “Setan 2” ini untuk menggantikan rudal “SS-18 Satan” atau dikenal sebagai rudal “Setan 1”. Senjata super-nuklir Rusia ini akan jadi penghuni baru gudang senjata nuklir Topol.

Gambar senjata berbahaya Rusia tersebut telah dipublikasikan secara online oleh Makeyev Rocket Design Bureau. Dalam gambar itu, rudal “Setan 2” atau “Satan 2” dikemas dengan 16 hulu ledak nuklir.

Kenalkan Rudal Setan 2 Rusia yang Bisa Hancurkan Area Seukuran Texas

Senjata itu rencananya akan diluncurkan ke publik pada 2018. Rudal “Setan 2” diklaim akan membuat bom atom AS yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki terlihat seperti “popguns”.

Dalam publikasi gambar rudal “Setan 2” secara online, ada pesan tertulis yang sisipkan di samping gambar. ”Sesuai dengan Keputusan Pemerintah Rusia ‘On the State Defense Order for 2010 and the planning period 2012-2013’ Makeyev Rocket Design Bureau diperintahkan untuk memulai desain dan pengembangan pada Sarmat,” bunyi pesan itu.

”Pada bulan Juni 2011, Kementerian Pertahanan Rusia menandatangani kontrak negara untuk pembangunan (rudal) Sarmat ini,” lanjut pesan itu.

”Para calon sistem rudal strategis yang sedang dikembangkan untuk menciptakan penangkal nuklir terjamin dan efektif untuk pasukan strategis Rusia,” imbuh pesan dari Makeyev Rocket Design Bureau.

Peluncuran gambar rudal berbahaya Rusia ini terjadi di saat ketegangan antara Moskow dan Washington sedang memanas. Sejumlah pihak, termasuk mantan pejabat Kementerian Pertahanan Rusia bahkan menyebut Rusia dan AS sudah memasuki era Perang Dingin baru. - Sindo

Sunday, October 23, 2016

Presiden Iran: Pemilu AS Tawarkan Calon Presiden yang Jelek dan Buruk

Presiden Iran: Pemilu AS Tawarkan Calon Presiden yang Jelek dan Buruk
Presiden Iran Hassan Rouhani turut memberikan komentar mengenai dua calon Presiden Amerika Serikat (AS) saat ini. Rouhani menyebut, warga AS diberikan pilihan yang jelek dan buruk dalam pemilu kali ini.

Di mata Rouhani, Donald Trump ataupun Hillary Clinton sama buruknya. Dia juga menyebut debat capres AS yang berlangsung beberapa waktu lalu menunjukan bahwa kurangnya moralitas di AS.

"Amerika mengklaim memiliki lebih dari 200 tahun demokrasi, dan mereka telah melakukan 50 kali pemilihan Presiden, tapi tidak ada moralitas di negara itu," kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan langsung oleh televisi pemerintah.

"Anda melihat debat Presiden, bagaimana mereka berbicara , bagaimana mereka menuduh dan mengejek (satu sama lain)," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Minggu (23/10).

Rouhani mengatakan, beberapa kepala negara telah bertanya kepada dirinya mengenai dua capres AS, saat dia menghadiri Sidang Umum DK PBB. Dia mengatakan para kepala itu menanyakan mana yang lebih ia sukai, Hillary atau Trump, dan ia menjawab tidak ada.

"Saya lalu mengatakan, apakah saya harus harus memilih antara yang buruk dan lebih buruk atau lebih buruk dan buruk kepada mereka," tukasnya. - Sindo

Saturday, October 22, 2016

Jenderal Inggris: Perang Nuklir NATO vs Rusia Bisa Terjadi dalam Waktu Setahun

Jenderal Inggris: Perang Nuklir NATO vs Russia Bisa Terjadi dalam Waktu Setahun
Mantan wakil komandan tertinggi NATO di Eropa, Jenderal Sir Richard Shirreff dari Inggris, mengatakan bahwa cerita yang ia kisahkan dalam buku fiksinya tentang sebuah perang nuklir melawan Rusia pada tahun 2017, didasarkan pada sebuah skenario yang “sama sekali tidak mustahil”.

Jenderal Shirreff merupakan wakil komandan tertinggi aliansi militer barat NATO dari tahun 2011 hingga 2014. Ia menuturkan bahwa pengalamannya di NATO dalam mengadakan latihan-latihan perang yang didasarkan pada konflik-konflik yang mungkin terjadi di masa depan membantunya dalam menyusun cerita dalam bukunya.

Baca juga : 4 Sinyal Rusia Siap Perang Nuklir


Dalam skenario Shirreff, tahun depan Rusia akan menduduki Ukraina untuk mendapatkan akses darat ke Crimea, lalu akan menyerang 3 negara Eropa Timur yang merupakan anggota NATO. Menurut Shirreff, Rusia akan menganggap NATO lemah, selain terdorong oleh persepsi Rusia bahwa NATO berupaya untuk mengepung mereka.

“Kita harus menilai Presiden Putin berdararkan perbuatannya, bukan kata-katanya”, ujar pensiunan jenderal itu pada BBC.

“Dia telah menyerang Georgia, dia telah menyerang Crimea, dia telah menyerang Ukraina. Dia menggunakan kekerasan dan tetap lolos,” lanjutnya.


Baca juga : 3 Cara Selamat Saat Perang Nuklir, Perang Dunia 3 Terjadi

Penuturan Shirreff itu dibantah oleh Russia Today (RT), yang menjelaskan bahwa serangan Rusia ke Georgia pada tahun 2008 silam merupakan respon Rusia atas agresi Georgia terhadap wilayah Ossetia Selatan yang diawali pembunuhan terhadap beberapa tentara penjaga kedamaian dari Rusia yang ditempatkan di wilayah berkonflik itu. Pasukan Rusia lalu berhasil mengalahkan tentara Georgia yang dilatih oleh NATO dan kemudian menarik diri dari Ossetia Selatan yang kemudian diumumkan oleh Moskow sebagai negara merdeka setelah melepaskan diri dari Georgia.

Berkenaan dengan “agresi milter Rusia ke Ukraina” pada tahun 2014 lalu, RT menjelaskan bahwa Rusia mengerahkan tentaranya yang berada di pangkalan militer di Crimea secara legal setelah terjadinya sebuah kudeta bersenjata di ibukota Ukraina, Kiev. Dalam sebuah referendum, rakyat Crimea memilih untuk kembali bergabung dengan Rusia dan berpisah dari Ukraina.

Dalam kesepakatan NATO, seandainya salah satu anggota NATO menghadapi serangan militer, maka seluruh anggota NATO harus ikut serta membela anggotanya itu. Diantara anggota NATO yang memiliki militer yang kuat adalah Amerika Serikat, Inggris dan Perancis. Menurut Shirreff, Rusia akan mengerahkan senjata nuklirnya untuk menghadapi respon NATO. Menurutnya, “penggunaan senjata nuklir oleh Rusia merupakan bagian inti dari strategi militer mereka.”

Hal tersebut tampak mengabaikan fakta bahwa tiga negara NATO juga merupakan pemilik persenjataan nuklir dan masih membuka kemungkinan penggunaannya dalam sebuah konflik militer. Selain itu, hanya satu negara di dunia yang pernah menggunakan bom nuklir dalam konflik militer, yaitu Amerika Serikat, yang menjatuhkan 2 bom nuklir di Jepang terhadap target sipil di penghujung Perang Dunia Kedua. Kedua bom atom itu yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki membunuh setidaknya 129,000 rakyat sipil.

“Semangat” penghancuran target sipil juga tercerminkan dalam sebuah film produksi media resmi Inggris BBC, yang menggambarkan sebuah konflik antara Rusia dan anggota NATO, dimana digambarkan penasehat-penasehat militer mempertimbangkan untuk menghancurkan kota-kota besar di Rusia menggunakan rudal Trident.

3 Cara Selamat Saat Perang Nuklir, Perang Dunia 3 Terjadi

perang nuklir
Manusia telah lolos dari dua pertempuran global: Perang Dunia I dan Perang Dunia II - yang ditutup dengan tragedi mengerikan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

Penduduk Bumi juga sudah melalui periode Perang Dingin, ketika dua kekuatan adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet saling bersitegang satu sama lain, dengan Blok Barat dan Blok Timur-nya, selama 1947-1991.

Saat ini, horor kembali membayangi. Situasi di Suriah, Irak, juga Semenanjung Korea memicu dugaan perang dalam skala global bisa jadi terjadi. Turki bahkan memprediksi bahwa perebutan kota Mosul dari ISIS, jika berlanjut sampai Suriah, berpotensi jadi cikal bakal Perang Dunia III.

Sejumlah perkembangan dunia juga mengarah ke kondisi mengkhawatirkan: panggilan pulang Presiden Rusia Vladimir Putin kepada warganya di seluruh dunia, juga peremajaan persenjataan nuklir AS demi mengimbangi kekuatan Rusia -- yang baru saja menguji coba rudal nuklir awal pekan lalu lalu.

Terkait dengan 'sinyal-sinyal Perang Dunia III' itu, rupanya sudah diprediksi oleh para penggemar teori konspirasi. Menurut mereka, perang nuklir akan terjadi pada masa mendatang -- jadi yang terparah sejak bom atom dijatuhkan di Hiroshima pada Agustus 1945.

Kala itu, saat AS dan Uni Soviat Perang Dingin, tujuh negara lainnya membangun kekuatan nuklir: Inggris, Prancis, China, India, Pakistan, Israel dan Korea Utara.

Menurut Federation of American Scientists, ada 15.350 hulu nuklir di dunia ini pada 2016. Dari angka itu, 90 persennya milik AS dan Rusia.

Sementara, mereka yang optimistis berpendapat, perang dunia tak akan terjadi. Baik AS, Rusia, maupun China masih memiliki saluran diplomatik yang bisa diandalkan untuk mencapai kesepakatan. Berbeda dengan sebelumnya, ada 'kekuatan lain' yang juga mempengaruhi persepsi penduduk Bumi: internet.

Namun, kalau pun benar Perang Dunia III yang diwarnai adu senjata nuklir bakal terjadi, masih ada peluang untuk selamat. Ada sejumlah trik yang memaksimalkan kesempatan manusia untuk bisa tetap hidup. Apa saja?

Berikut 3 tipsnya, seperti Liputan6.com kutip dari News.com.au, Selasa (18/10/2016).


1. Lokasi Teraman

Karena kekuatan nuklir paling banyak dimiliki negara-negara di Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere), maka tetap lah berada di bagian selatan ekuator (khatulistiwa).

Negara-negara seperti Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan dan Argentina memiliki temperatur yang tepat untuk menanam jenis tumbuhan yang bisa digunakan untuk bahan pangan. Dan mereka bukanlah target penyerangan.

Jika Anda warga Australia atau memutuskan untuk menjadi salah satu penduduknya, tempat terbaik di Benua Kanguru adalah Alice Spring. Lokasi itu dekat dengan fasilitas rahasia AS, di Pine Gap.

Menurut tulisan fiksi buku berjudul On The Beach yang ditulis Nevil Shute, Melbourne juga menjadi tempat aman. Jika benar perang nuklir pecah di Bumi bagian utara, ibukota negara bagian Victoria itu menjadi tempat terakhir radiasi menyebar.

Dan jika perang menyebar tanpa terkendali, pergilah ke Antarika. Di sana memang dingin, namun dengan bekal yang cukup serta shelter atau perlindungan, Anda bisa bertahan hidup selama beberapa bulan.


2. Bunker


Pemerintah AS telah mengeluarkan selebaran pada 2010 yang menyatakan siapapun warga yang berada di ground zero atau lokasi pertempuran nuklir bisa jadi tak punya kesempatan untuk selamat.

Jika kebetulan Anda berada beberapa kilometer dari lokasi ledakan nuklir, sinar terang yang terlihat bisa berarti tanda keberadaan gelombang kejut radiasi yang akan membunuh Anda dalam waktu cepat.

Seandainya Anda berada dalam kondisi itu, buka mulut Anda sehingga gendang telinga tak pecah. Mulailah berlari karena Anda masih memiliki peluang 10 hingga 15 menit untuk menyelamatkan diri dari radiasi.

Salah satu contoh bunker Nazi Jerman semasa Perang Dunia II. Bunker yang satu ini merupakan markas Pasukan Darat Jerman (OKH) di desa Mamerki, kawasan Masuria, Polandia. (Sumber Tomasz Waszczuk)

Jika Anda tahu di mana ada bunker, segera ke situ secepatnya. Tapi menurut para peneliti ada kemungkinan tempat seperti itu belum tentu aman.


3. Berlindung di Bawah Tanah


"Kita punya lebih dari senjata nuklir yang mampu menghancurkan dunia ini berkali-kali," kata Hillary Clinton pada tahun 2010 kala ia masih menjabat menjadi Menlu AS.

Namun, tak ada yang tahu apa arti dari 'menghapuskan kehidupan' atau menghancurkan Bumi. Namun, para ilmuan memprediksi, tak hanya kehancuran dan radiasi yang mengancam, asap besar yang muncul ledakan atomik mampu menutupi pancaran sinar matahari.

Akibatnya, akan terjadi perubahan cuaca mendadak yang terjadi selama beberapa waktu atau dikenal dengan musim dingin nuklir. Satu-satunya cara untuk selamat dari bencana itu adalah tinggal di bawah tanah. Sejumlah miliarder telah membangun bunker dengan segala kecanggihanya. Namun, efektivitasnya perlu dipertimbangkan

Sebegai contoh, Bikini Atol masih belum bisa ditinggali hingga 60 tahun setelah bom atom AS diujicobakan. Mungkin pembuat bunker perlu benar-benar menyusun strategi lebih mendalam lagi-- untuk memastikan tempat perlindungan itu bisa berfungsi semestinya. - Liputan6

Kapal Perang AS Masuk ke Laut China Selatan


Kapal Perang AS Masuk ke Laut China Selatan
Sebuah kapal perang perusak Amerika Serikat nekat patroli di dekat pulau-pulau yang diklaim oleh China di Laut China Selatan pada hari Jumat. Aksi kapal perang AS USS Decatur itu sebagai aksi menentang klaim China di Laut China Selatan.



Para pejabat AS mengatakan aksi kapal perang USS Decatur itu sebagai tindakan terbaru Washington terhadap China yang membatasi hak kebebasan navigasi di perairan strategis. Patroli berlangsung di dekat Kepulauan Paracel.

Patroli kapal perang USS Decatur itu pertama kali dilaporkan Reuters, Sabtu (22/10/2016). Kapal perang perusak itu sengaja patroli di dekat perairan yang diklaim oleh China, tapi tdak melebihi batas teritorial 12 mil laut dari pulau-pulau yang diklaim China.

Pentagon mengatakan kapal USS Decatur melakukan transit secara rutin tanpa pengawalan kapal dan tanpa insiden.

Baca juga : 3 Sinyal Perang Nuklir akan Segera Dimulai


Gedung Putih juga sudah mengkonfirmasi patroli kapal perang AS itu. ”Operasi ini menunjukkan bahwa negara-negara pantai mungkin tidak sah membatasi hak navigasi, kebebasan dan penggunaan yang sah di laut, bahwa AS dan semua negara berhak untuk latihan di bawah hukum internasional,” kata juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, dalam sebuah jumpa pers.

Patroli kapal perang AS terbaru ini merupakan penentangan keempat Washington atas klaim maritim berlebihan oleh China di Laut China Selatan pada tahun lalu.

Sementara itu, Pemerintah China marah dan memprotes patroli kapal perang AS. Kementerian Pertahanan China menyebut patroli kapal perang AS itu sebagai tindakan ilegal dan provokatif.

Dalam sebuah pernyataan di situsnya, kementerian itu mengatakan dua kapal perang China telah memperingatkan kapal perang AS agar meninggalkan lokasi patroli. Militer China bersumpah akan meningkatkan patroli udara dan laut sesuai dengan kebutuhan.

Dua kapal China yang dikerahkan untuk memperingatkan kapal perang AS agar hengkang dari lokasi patroli adalah kapal perang Guangzhou dan Luoyang.

”Ini adalah perilaku ilegal yang serius, dan sengaja berperilaku provokatif. Kementerian Pertahanan China tegas menentang ini dan telah mengajukan pernyataan (protes) serius pada pihak AS,” bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan China. - Sindo

3 Sinyal Perang Nuklir akan Segera Dimulai

3 Sinyal Perang Nuklir akan Segera Dimulai
Situasi terkini dunia mengingatkan banyak orang pada Perang Dingin (1947-1991), periode ketegangan politik dan militer antara Barat atau Amerika Serikat serta sekutunya, melawan Komunis yang dipimpin oleh Uni Soviet bersama negara-negara satelitnya.

Hubungan Negeri Paman Sam dan Rusia saat ini berada di titik paling rendah sejak Perang Dingin, menyusul pertentangan sikap antara pihak Gedung Putih dan Kremlin soal konflik Suriah.

AS mendukung pihak pemberontak yang ingin menggulingkan pemerintah. Di sisi lain, Rusia adalah sekutu terkuat Presiden Bashar al-Assad.

AS juga menuding Rusia melancarkan peretasan email sejumlah tokoh AS salah satunya, capres Partai Demokrat, Hillary Clinton - sebagai upaya mengintervensi.

 Baca juga : 4 Sinyal Rusia Siap Perang Nuklir

Rusia telah membantah tuduhan ini. Mereka justru balik menuding AS lah yang telah melakukan peretasan.

Sementara itu Rusia juga dilaporkan telah menangguhkan serangkaian pakta nuklir termasuk kesepakatan kerjasama simbolik untuk memangkas stok plutonium--bahan pembuatan senjata nuklir.

Kedua pemimpin, Barack Obama dan Vladimir Putin berkali-kali menggelar pertemuan tak resmi di tiap acara konferensi. Namun, tak satupun menghasilkan kata sepakat.

Di tengah konflik antarnegara 'superpower', ketegangan di sejumlah titik panas di sejumlah lokasi dunia, serangan teroris, dan sejumlah persoalkan lain -- sejumlah orang khawatir, Perang Dunia III bakal kembali terjadi.

Berikut 3 'sinyal' yang dianggap menandakan Perang Dunia III bisa saja terjadi, setidaknya pada masa depan:


1. Rusia Panggil Pulang Warganya

Rusia diklaim telah memerintahkan seluruh pejabatnya untuk memboyong keluarga mereka kembali pulang ke Tanah Air. Peringatan ini muncul seiring dengan meningkatnya ketegangan berlatar prospek perang global.

Sejumlah politisi dan tokoh tingkat tinggi Negeri Beruang Merah itu mengklaim telah menerima peringatan dari Presiden Vladimir Putin untuk membawa orang-orang yang mereka cintai kembali pulang ke Rusia.
Imbauan itu muncul setelah Putin membatalkan rencana kunjungannya ke Prancis menyusul 'kemarahan' yang muncul atas keterlibatan Moskow dalam perang Suriah.

Ternyata, pernyataan serupa tak hanya disampaikan Putin, namun juga mantan pemimpin Soviet, Mikhail Gorbachev. Ia memperingatkan bahwa dunia tengah berada dalam 'titik berbahaya' seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Rusia dan AS.

Menurut situs Rusia, Znak.com, seluruh staf administrasi, kepala daerah, anggota parlemen dari semua tingkatan dan karyawan perusahaan publik telah diperintahkan untuk mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah asing sesegera mungkin.

Jika gagal untuk melaksanakan perintah maka peluang mereka untuk mendapat promosi jabatan akan terancam. Demikian media lokal melaporkan.

Kendati demikian alasan pasti di balik imbauan pemerintah Rusia itu disebut belum sepenuhnya jelas. Namun perang sebagai indikator utama tak bisa dipungkiri.

"Ini semua adalah bagian dari langkah-langkah untuk mempersiapkan elite dalam menghadapi "perang besar"," ujar Analis Politik Rusia, Stanislav Belkovsky kepada Daily Star seperti dilansir Daily Mail.

2. Pergerakan AS Versus Rusia

Rusia dikabarkan telah memindahkan rudal berkemampuan nuklirnya ke dekat perbatasan Rusia-Polandia.

Rudal Iskander dikirim ke Kaliningrad, kawasan yang merupakan kantong Rusia di Laut Baltik--terletak di antara negara-negara anggota NATO, Polandia dan Lithuania.

Pejabat Polandia mendeskripsikan langkah ini sebagai salah satu 'isu penting'.

Negeri Beruang Merah juga baru saja meluncurkan misil barunya, Topol, yang diklaim sebagai yang tercepat sedunia.

Rusia meluncurkan misil itu dari kapal selam di Laut Barents pada Rabu 12 Oktober lalu. Peluncuran ini dilakukan setelah beberapa kali uji coba balistik dilakukan.

Hal tersebut disinyalir sebagai kesiapan Moskow menghadapi konflik internasional di masa depan. Demikian seperti dikutip dari Australian Network News, pada Jumat (14/10/2016).

Pada hari peluncuran, secara bersamaan militer Rusia juga menembakkan misil lainnya dari sebuah pulau di utara Rusia. Dan setelah itu, misil ketiga berupa roket nuklir diluncurkan dari kapal selam di utara laut Jepang.

Rusia juga disinyalir berniat membangkitkan lagi pangkalan militer era Soviet di Mesir, Kuba, dan Vietnam.

Sementara, pada Awal Oktober 2016, AS mengumumkan akan memperbarui sistem misil nuklirnya. Untuk bersiap menghadapi 'serangan' dari Moskow.

Menteri Pertahanan AS, Ash Carter juga telah meminta negara-negara NATO untuk memperbarui senjata nuklir mereka.

Kantor berita Prancis yang dikutip Morning Ledger melaporkan, AS berencana memperbaharui lebih dari 400 misil balistiknya. Termasuk mengganti nuklir Minuteman III yang kini berada di lokasi tersembunyi.

Pihak AS memperkirakan, jika Perang Dunia III pecah, semua akan berlangsung cepat. Hal itu dikemukakan dalam pertemuan tahunan Association of the US Army yang diadakan di Washington DC.

Pejabat militer AS yang datang ke pertemuan itu mengatakan, perlunya kesiapan menghadapi perang."Konflik konvensional di masa depan akan sangat mematikan dan cepat," kata Jenderal William Hix.

Hix juga menyebut perkembangan teknologi yang dicapai China dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Ia juga memperingatkan bahwa perkembangan tersebut adalah peringatan bagi Gedung Putih untuk mempersiapkan diri.

Pejabat Angkatan Darat lainnya, Letnan Jenderal Joseph Anderson mengatakan, "AS menghadapi ancaman dari negara-negara modern yang bersikap agresif dalam hal kompetisi dalam bidang militer.

Jenderal Mark Milley juga mengungkapkan hal senada. "Jika kita tak bersiap saat ini, tak terbayang tantangan apa yang akan kita hadapi."

3. Latihan Hadapi Perang Nuklir

Russia mengadakan latihan evakuasi besar-besaran untuk lebih dari 40 juta orang, sebagai langkah persiapan menghadapi perang nuklir pada awal Oktober 2016.

Lebih dari 200 ribu personel layanan darurat dan tentara dikerahkan, 50 ribu jenis peralatan akan digunakan dalam pelatihan itu.

Negara pecahan Uni Soviet itu beralasan, simulasi diperlukan menyusul kekhawatiran atas perang nuklir. Rusia menyalahkan pihak Barat sebagai pemicu konflik.

Latihan tersebut digelar oleh EMERCOM, Kementerian Darurat Rusia. "Latihan pada 4-7 Oktober diikuti lebih dari 40 juta orang, lebih dari 200 ribu petugas penyelamat profesional, dan 50 ribu perangkat," kata Direktur Departemen Pertahanan Sipil, Oleg Manuilov pada Interfax.

Soal ancaman nuklir juga dikabarkan di media-media Rusia.

"Jika pada suatu hari perang nuklir terjadi, semua orang harus tahu di mana shelter perlindungan bom berada. Sekarang Anda wajib mengetahuinya," kata TV pemerintah Rusia, NTV.

EMERCOM mengumumkan, bunker bawah tanah bisa menampung seluruh populasi di Moskow yang berjumlah 12 juta jiwa -- jika perang pecah.

Friday, October 21, 2016

AS Kerahkan Jet Tempur F-35 ke Jepang 2017

AS Kerahkan Jet Tempur F-35 ke Jepang 2017
Militer Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan bahwa pesawat-pesawat jet tempur F-35 akan dikerahkan ke markas militernnya di Iwakuni, Jepang, pada 2017. Media Jepang menyebut ada total 16 jet tempur F-35 yang akan dikerahkan AS.

”Diumumkan: Di masa mendatang Korps Marinir AS mengirim F-35 Lightning II ke MCAS Iwakuni pada tahun 2017,” bunyi pernyataan Angkatan Bersenjata AS di Jepang melalui akun Twitter-nya, @USForcesJapan, yang dikutip Sabtu (22/10/2016).

Kantor berita Jepang Kyodo, melaporkan Tokyo sudah menerima pemberitahuan dari Washington soal rencana pengerahan pesawat tempur tercanggih AS itu. ”AS secara resmi memberitahukan Jepang soal penyebaran  16 (unit) pesawat tempur F-35,” tulis Kyodo.

Pada gelombang pertama, sekitar 10 pesawat akan tiba di Iwakuni pada bulan Januari. Selanjutnya, pada gelombang kedua enam pesawat sisanya ditempatkan pada bulan Agustus 2017.

F-35 Lightning II, terutama yang dikembangkan oleh produsen AS Lockheed Martin, adalah bagian dari keluarga pesawat jet tempur siluman F-35 untuk segala cuaca. Pesawat tempur ini mengkhususkan diri sebagai penyerang objek di darat serta menjalankan misi pertahanan udara.

Belum jelas mengapa pangkalan militer di Iwakuni yang jadi tempet pengerahan jet tempur F-35 AS. Sebab, sebagian besar kekuatan militer AS di Jepang dipusatkan di pangkalan militer Okinawa, di mana ada sekitar 30 ribu personel militer AS yang ditampung.

Pangkalan militer AS di Okinawa telah beberapa kali jadi sasaran demonstrasi warga Jepang. Demontrasi beberapa kali oleh warga Jepang itu dipicu kematian wanita Jepang akibat dibunuh mantan marinir AS. - Sindo

Thursday, October 20, 2016

Duterte : Filipina Pisah dari Amerika Serikat

Duterte : Filipina Pisah dari Amerika Serikat
Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan menuntut penjelasan kepada Pemerintah Filipina terkait pengumuman Presiden Rodrigo Duterte yang menyatakan Filipina “pisah” dari AS. Komentar Duterte itu diumumkan saat sedang lawatan ke China pada hari Kamis.

Pemerintah AS merasa perlu meminta penjelasan dari Filipina karena komentar sensitif Duterte itu membingungkan. Departemen Luar Negeri AS menyebut pengumuman Duterte bertentangan dengan hubungan dekat kedua negara yang masih terjalin.

”Kami akan mencari penjelasan tentang apa yang presiden (Duterte) sampaikan tentang perpisahan dari AS,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri  AS, John Kirby, seperti dikutip Reuters, Jumat (21/10/2016). ”Ini tidak jelas bagi kami apa artinya dalam semua ramifikasi-nya.”


Seperti diberitakan sebelumnya, pengumuman bahwa Filipina ”pisah” dari AS disampaikan Duterte di depan 200 pelaku bisnis Manila dan Beijing di China.

”Di tempat ini, Anda yang terhormat, di tempat ini, saya mengumumkan perpisahan saya dari Amerika Serikat,” kata Duterte yang disambut tepuk tangan oleh ratusan orang di forum tersebut yang juga dihadiri Wakil Perdana Menteri China, Zhang Gaoli.

”Baik dalam militer, tidak hanya sosial, tetapi ekonomi juga. Amerika telah kehilangan,” lanjut Duterte.

”Saya sudah  menyesuaikan diri dalam aliran ideologi dan mungkin saya juga akan pergi ke Rusia untuk berbicara dengan (Presiden Vladimir) Putin dan mengatakan kepadanya bahwa ada tiga dari kita melawan dunia, China, Filipina dan Rusia. Ini satu-satunya cara,” ujar Duterte. - Sindo

Sunday, October 16, 2016

Ancaman Rusia yang Membuat Amerika Takut

Ancaman Rusia yang Membuat Amerika Takut
Baru-baru ini wacana tentang penyelidikan kejahatan perang oleh Rusia di Aleppo, Suriah, mengemuka dalam pemberitaan media-media massa internasional. Namun, tiba-tiba saja wacana yang digaungkan oleh para pejabat dan media-media massa utama Amerika ini lenyap seketika. Apa yang terjadi?.

Kejahatan perang Amerika sudah sedemikian besar di negara-negara Islam paska kampanye ‘perang melawan terorisme’ yang digaungkan oleh Presiden George ‘Dubya’ Bush, Jr tahun 2001. Dan publik dunia sudah terlalu cerdas untuk dikelabuhi. Maka, ketika Rusia menggertak untuk membongkar kejahatan-kejahatan itu, Amerika pun langsung bungkam.

“Jika tentang kejahatan perang, para pejabat Amerika harus mulai dengan Irak, kemudian ke Libya, pastikan kemudian ke Yaman, temukan apa yang terjadi di sana. Saya ingin katakan untuk meyakinkan bahwa hal ini sangat berbahaya, karena di belakang para pejabat Amerika itu adalah kejahatan-kejahatan perang yang banyak,” kata Jubir Kemenlu Rusia Maria Zakharova kepada televisi Rusia pekan lalu.

Secara khusus Maria Zakharova menyebut apa yang terjadi di Fallujah, dimana diduga Amerika telah membom kota di Irak ini dengan bom nuklir taktis yang dikenal dengan ‘bom kotor’, yaitu bom yang berisi sampah radioaktif. Akibatnya angka penderita cacat fisik di kota ini sangat tinggi.

“Saya katakan kepada mereka yang meributkan ‘kejahatan perang’ di Suriah. Mari kita lihat apa yang sudah mereka lakukan di Fallujah,” kata Zakharova.

Perang psikologis lainnya yang dilancarkan Rusia adalah mengancam akan menyerang personil-personil militer Amerika di Suriah yang diperkirakan jumlahnya mencapai ribuan personil. Jubir Kemenhan Rusia, beberapa waktu lalu mengatakan bahwa pihaknya telah mengetahui siapa saja dan dimana saja personil Amerika yang berada di Suriah. Meski tidak mengatakannya dengan langsung, ini adalah sebuah ancaman bahwa Rusia bisa menyerang personil-personil Amerika dengan dalih menyerang para teroris.

Rusia juga telah melakukan langkah-langkah militer taktis terkait dengan krisis Suriah yang membuat Amerika membatalkan, atau menangguhkan untuk sementara opsi militer setelah kegagalan gencatan senjata yang digagas antara Amerika dan Rusia. Di antara langkah itu adalah pengerahan tiga kapal perang ke lepas pantai Suriah dan sistem pertahanan Antey-2500 (varian S-300) di pangkalan laut.

Tartus, yang atas persetujuan pemerintah Suriah kini telah ditingkatkan menjadi pangkalan laut permanen Rusia. Tidak hanya itu, untuk pasukan Suriah sendiri Rusia juga telah mengirimkan sistem pertahanan udara Pantsir-S1 dan meriam kecepatan tinggi ZRPK guna menangkal kemungkinan serangan udara Amerika dan koalisinya.

Di hadapkan pada pilihan ‘menyerang secara ilegal’ karena tidak memiliki mandat PBB atau pemerintah berdaulat Suriah, dan pertahanan udara Rusia yang dilengkapi dengan rudal-rudal S-300 dan S-400, Pantsir-S1 dan ZRPK, Amerika pun harus membatalkan ‘pilihan kinetik’ yang sempat ramai dibicarakan para pejabat.

Amerika dan digaungkan oleh media-media barat. Alih-alih, Presiden Obama memerintahkan para diplomatnya untuk membahas penyelesaian politik Suriah dalam forum internasional di Laussane, Swiss, saat ini. (

Saturday, October 15, 2016

Rusia Gunakan Senjata Inflatable untuk Teknologi Satelit Barat

Rusia Gunakan Senjata Inflatable untuk Teknologi Satelit Barat
Rusia diam-diam menyebarkan senjata inflatable dalam upaya untuk mengelabui satelit Barat yang memantau gerakan militer Vladimir Putin. Senjata ini bisa membuat Barat berpikir Rusia memiliki jumlah tentara yang sangat besar.

Inflatable dalam arti harfiah adalah benda yang dapat digelembungkan. Terkait hal ini, angkatan udara Rusia menggunakan balon udara panas untuk menipu jet mata-mata agar berpikir Rusia mempunyai persenjataan yang lebih besar daripada sebenarnya. Rusia dipercaya menggunakan teknik ini terhadap MiG-31 dan Su-27 Fighter, tank T-72 dan tank tempur utama T-80, sistem rudal S-300.

Seperti dikutip dari Express, Jumat (14/10/2016), balon udara ini dipercaya mempunyai panjang hingga 200 meter dan dapat mengempis dalam hitungan menit. Keberadaan balon-balon ini menjadi alternatif yang fleksibel dan murah agar mesin-mesin perang tersebut terlihat nyata.

Senjata inflatable ini dibuat oleh Rusbal, sebuah perusahaan yang menyediakan Kementerian Pertahanan Rusia balon tank, jet, dan peluncur rudal. "Jika Anda mempelajari pertempuran besar dalam sejarah, Anda akan melihat bahwa tipuan memenangkannya setiap waktu. Tidak ada yang pernah pihak jujur itu menang," kata Aleksei Komarov, insinyur militer yang membantu menciptakan inflatables, mengatakan kepada New York Times.

Perusahaan ini tidak hanya mengkhususkan diri dalam menciptakan balon udara panas tetapi juga menghasilkan model senjata termasuk mesin radar ketinggian rendah.

Untuk sebuah tank T-80 yang mempunyai berat 154 pon, dikenakan biaya sekitar 10.000 pounds, dan paket ke dalam dua tas ransel. Sedangkan untuk seluruh batalyon tank palsu yang berjumlah 31 buah dikenakan biaya sekitar 300 ribu pounds dan hanya butuh dua setengah jam untuk menyiapkan.

Direktur Rusbal Maria Oparina mengakui ada "banyak skeptisisme" pada awalnya, tetapi sekarang perusahaan tersebut mengekspor balon di seluruh dunia. Perusahaan membuat sekitar 2 juta pounds dari balon tiup sistem rudal antipesawat S-300 untuk di jual ke Iran.

Friday, October 14, 2016

Putin kepada Barat: Kompromi atau Tanggung Konsekuensinya

Putin kepada Barat: Kompromi atau Tanggung Konsekuensinya
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengirim pesan kuat kepada Barat, khususnya kepada Amerika Serikat (AS). Putin mengatakan, Rusia siap berdialog dengan AS, namun berdialog dalam artian kompromi. Putin menegaskan, AS harus berkompromi.

"Ada kebutuhan untuk berperilaku seperti mitra dan mengambil kepentingan masing-masing dalam tanggung jawabnya. Kami siap untuk itu," kata Putin dalam sebuah forum ekonomi seperti dikutip dari laman Daily Express, Kamis (12/10/2016).

Mengaku khawatir dengan memburuknya hubungan dengan AS, Putin mengatakan Washington telah membiayai oposisi radikal Ukraina dan membantu kudeta di sana. Moskow kemudian dipaksa untuk melindungi etnis Rusia yang tinggal di Ukraina.

Putin juga menyerang Prancis dengan menuduh mereka sengaja memancing Rusia untuk memveti resolusi PBB tentang Suriah dan mempertanyakan apakah Paris tengah menjajakan penawaran dari AS. Prancis telah mengusulkan resolusi di Dewan Keamanan PBB tanpa konsultasi dengan Moskow dan mengetahui bahwa Rusia akan menggunakan hak vetonya karena resolusi tersebut menyalahkan Damaskus atas semua kekerasan yang terjadi. Rusia pun dituding tidak tertarik untuk menghentikan kekerasan di Suriah.

"Seharusnya bukan mitra kami yang tersinggung oleh veto kami, tetapi kami yang seharusnya tersinggung. Kami harapkan kerjasama, kerja konstruktif dengan Prancis dan dengan anggota tetap Dewan Keamanan lainnya. Tapi apa yang terjadi?" tanya Putin.

"Saya tidak tahu apakah itu sesuai dengan kepentingan negara-negara Eropa atau tidak. Tapi apakah hanya untuk kepentingan ini pelayanan kebijakan luar negeri, atau mungkin bahkan kepentingan politik dalam negeri, dari sekutu mereka dalam hal ini AS? Saya tidak tahu. Apakah itu benar-benar peran negara yang serius bercita-cita untuk melakukan kebijakan independen dan disebuh negara besar. Saya tidak tahu," kata Putin.

Hubungan antara Barat dan Moskow telah memburuk sejak pendudukan Rusia di Ukraina bersama dengan ketegangan yang meningkat selama perang melawan ISIS di Suriah. - Sindo

Houthi: AS Bersiap Invasi Yaman

Houthi: AS Bersiap Invasi Yaman
Pemimpin gerakan Houthi Ansarullah Yaman memperingatkan bahwa militer AS sedang mempersiapkan alasan untuk melakukan tindakan agresi terhadap negara Arab yang dilanda perang itu.

Dalam pidato televisi pada hari Kamis (13/10), Abdul Malik Badreddin al-Houthi mengecam serangan rudal terbaru Washington terhadap tiga situs radar seluler di pantai Laut Merah Yaman, mengatakan bahwa bangsa dan angkatan bersenjata Yaman harus tetap waspada dan siaga sepenuhnya untuk menghadapi penjajah.

“AS setelah meletakkan dasar untuk membuat sebuah langkah invasif terhadap [pesisir barat] Provinsi Hudaydah,” kata pernyataan itu, menambahkan, “Melalui langkah ini, AS berusaha menekan dan melecehkan rakyat Yaman.”

“Bangsa Yaman akan mempertahankan wilayah, kebebasan dan kemerdekaannya, melihat hal itu sebagai haknya untuk menggunakan cara yang sah melawan invasi kekerasan,” kata pemimpin Houthi.

Pemimpin Houthi membuat komentar ini pada peringatan ulang tahun munculnya perjuangan senjata14 Oktober 1963, yang memaksa Inggris menarik diri dari Yaman selatan.

Pernyataan Houthi ini menanggapi pengumuman Pentagon yang mengatakan bahwa tiga situs radar Yaman di pantai Laut Merah negara itu telah dihancurkan oleh serangan rudal AS. Pentagon sebelumnya telah menyatakan bahwa USS Mason, kapal perusak berpemandu-rudal, telah diserang Yaman untuk kedua kalinya dalam empat hari terakhir.

Wednesday, October 12, 2016

Amerika Ikut Berperang Setelah Koalisi Arab Gagal Total

Amerika Ikut Berperang Setelah Koalisi Arab Gagal Total
Amerika terpaksa harus ikut berperang dalam konflik Suriah setelah koalisi Arab yang dimotori Saudi Arabia dan Qatar mengalami kegagalan total karena sibuk bertengkar sendiri dan mengalami kehancuran di front Yaman.

"Setelah hancurnya kapal perang Uni Emirat Arab pada tanggal 1 Oktober, tentara negara-negara diktator-petrodollar segan untuk melanjutkan perang di Suriah dengan kekuatan sendiri. Adalah jelas bagi semua orang bahwa rudal yang menghancurkan kapal Uni Emirat itu adalah senjata yang sangat canggih yang tidak pernah terlihat di semua pertempuran. Rudal ini tidak ditembakkan oleh orang-orang Houthi atau para pendukung mantan presiden Ali Saleh, melainkan oleh Rusia yang secara diam-diam telah berada di Yaman sejak musim panas lalu," demikian tulis Thierry Meyssan di situs Voltairenet.org, 7 Oktober lalu.

Pendapat ini diperkuat setelah sehari kemudian, Sabtu (8 Oktober), Saudi Arabia yang panik, membom kerumunan orang-orang yang tengah berduka di Sana'a, mengakibatkan ratusan orang sipil tak berdosa tewas mengerikan.

Setelah 1,5 tahun berperang di Yaman, koalisi militer yang dipimpin Saudi Arabia tidak saja gagal total menaklukkan Yaman dan mendudukkan kembali pemimpin boneka pilihan mereka, namun juga memperlihatkan koordinasi yang buruk yang diwarnai persaingan pengaruh antara Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab. Sementara dalam beberapa waktu terakhir, perlawanan Yaman justru semakin intensif dan efektif.

Dengan senjata-senjata baru, seperti diklaim Meyssan berasal dari Rusia dan kemungkinan besar juga dari Iran, pasukan perlawanan Yaman mampu memberikan pukulan mematikan. Beberapa kali rudal-rudal ballistik yang ditembakkan Yaman menghancurkan pangkalan-pangkalan militer koalisi Saudi. Daya jangkau rudal-rudal ballistik itu pun semakin menakutkan Saudi. Beberapa waktu lalu sebuah rudal jatuh di Thaif di jantung Saudi Arabia, 700 km dari perbatasan Yaman. Ini menunjukkan bahwa kota-kota besar Saudi, termasuk ibukota Riyadh, berada dalam jangkauan rudal-rudal Yaman.

Setelah penembakan kapal perang Uni Emirat Arab tanggal 1 Oktober, pada tanggal 7 Oktober para pejuang Yaman menyerang pangkalan militer koalisi Saudi di Ma'rib, menewaskan tiga jendral, yaitu Abdulrab al-Shadadi, Shayef Ameri, dan Jendral  Ali Hamisi, demikian seperti dilaporkan al-Masirah TV. Laporan itu menambahkan bahwa para pejuang juga menembakkan rudal ballistik ke pangkalan militer al-Faisal milik koalisi Saudi di dekat kota Khamis Mushait di tenggara Saudi Arabia, menewaskan sejumlah tentara koalisi.

Bila di Yaman, Saudi bertengkar dengan Uni Emirat Arab, di front Suriah Saudi Arabia bersaing dengan Qatar. Akibatnya, kelompok teroris dukungan Saudi, ISIS, terlibat pertempuran sporadis melawan kelompok teroris dukungan Qatar, Al Nusra. Pada saat yang sama, koalisi Suriah yang didukung Rusia dan Iran, semakin menunjukkan soliditas dan meraih kemajuan signifikan di medan perang. Kini, koalisi ini bahkan tengah melancarkan pukulan terakhir terhadap para teroris di Aleppo timur.

Melihat proyek besar menggulingkan Bashar al Assad yang telah dilakukan sejak tahun 2011 terancam gagal total dengan bebasnya kota Aleppo dari pemberontakan, Amerika pun 'turun gelanggang'. Setelah menggagalkan secara sepihak perjanjian gencatan senjata dengan Rusia dengan membom pasukan Suriah di Deir Azzour, Amerika kini tengah mempertimbangkan dengan serius rencana pemboman besar-besaran terhadap Suriah.

Rencana ini telah disosilisasikan kepada para anggota NATO pada bulan September lalu dan kini telah didukung oleh para pejabat, politisi dan media massa Amerika.

Menyadari bahaya dari serangan Amerika yang mau tidak mau bakal mengenai pasukan Rusia di Suriah, Rusia pun menambah kekuatannya di negara itu seperti sistem pertahanan udara Antey-2500, tiga kapal perang dan satu kapal induk yang akan tiba di lepas pantai Suriah bulan ini, serta penambahan armada udaranya. Rusia dikabarkan juga akan mengirim pasukan darat untuk membantu pembebasan Aleppo dari para teroris dukungan Amerika dan negara-negara Arab.

Melihat bahaya yang semakin mengancam dengan eskalasi yang tidak bisa diduga, Perancis pun melakukan langkah diplomatik untuk menurunkan ketegangan. Perancis pun menyusun draft resolusi DK-PBB  yang diharapkan bisa menjembatani keinginan Amerika dan Rusia, namun ditolak Rusia yang melihat draft tersebut hanya menguntungakan para teroris.

Dalam draft resolusi itu Rusia dan Suriah dilarang melancarkan serangan udara ke Aleppo sehingga dipandang Rusia hanya menguntungkan para pemberontak-teroris yang kini terkepung di Aleppo timur. Sebaliknya, draft resolusi yang disusun Rusia juga ditolak Amerika. Maka kini publik dunia hanya bisa berharap adanya keajaiban yang bisa mencegah perang terbuka antara Amerika dan Rusia di Suriah. - Indonesian Free Press

Tuesday, October 11, 2016

Professor AS: Washington Bisa Memulai Perang Nuklir di Suriah

Professor AS: Washington Bisa Menghasut Perang Nuklir di Suriah
Ketegangan yang tumbuh antara Amerika Serikat dan Rusia dapat menyebabkan perang nuklir dan menghancurkan umat manusia, demikian dikatakan seorang profesor dari Amerika.

Ketegangan antara Moskow dan Washington melonjak selama konflik Suriah, “ini bisa menjadi konflik nuklir yang akan menghancurkan umat manusia,” kata James Petras, yang memiliki beberapa buku tentang isu-isu politik Timur Tengah.

“Kita harus bergerak jauh dari hasutan perang Washington ke posisi yang bisa mendatangkan perdamaian dengan saling mewujudkannya, tapi saya tidak melihat itu, di masa sekarang atau dekat, baik Hillary Clinton atau Donald Trump sebagai presiden,” Petras mengatakan kepada Press TV, Selasa (11/10).

Mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev pada Senin, angkat bicara dan memperingatkan bahwa dunia telah sampai “diambang bahaya” karena ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat meningkat atas krisis Suriah.

“Saya pikir dunia telah mendekati ambang batas berbahaya. Saya lebih suka untuk tidak menyarankan skema tertentu, tapi saya ingin mengatakan: kita harus berhenti,” Gorbachev, 85, mengatakan kepada kantor berita Rusia RIA Novosti.

“Dialog [antara Rusia dan AS] harus dilanjutkan. Menghentikan dialog adalah kesalahan terbesar,” tambah Gorbachev, sebagai mantan pemimpin terakhir Uni Soviet mengawasi sebuah pengurangan dari dekade ketegangan dengan Amerika Serikat.

Gorbachev membantu mengakhiri Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat dan mendirikan arsitektur pengawasan senjata nuklir dalam serangkaian pertemuan profil tinggi dengan administrasi Presiden AS Ronald Reagan.

Hubungan antara Washington dan Moskow – sudah pada titik terendah sejak Perang Dingin selama konflik di Ukraina – telah memburuk lebih lanjut dalam beberapa hari terakhir karena AS menangguhkan perundingan gencatan senjata di Suriah dan menuduh Rusia mendalangi serangan cyber.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry pekan lalu menuduh Rusia dan pemerintah Assad melakukan kejahatan perang terhadap rakyat Suriah, dan menyerukan penyelidikan Moskow dan Damaskus  selama kampanye perang di Aleppo.

Sebagai tanggapan, militer Rusia memperingatkan Pentagon untuk tidak melakukan serangan udara terhadap posisi-posisi militer Suriah, dan menegaskan bahwa sistem pertahanan udara S-300 dan S-400 di Suriah telah aktif.

Moskow juga telah menghentikan serangkaian penawaran nuklir, termasuk pakta simbolis untuk memotong stok senjata plutonium di kedua negara.

Monday, October 10, 2016

AS dan Rusia Memanas, Gorbachev Sebut Dunia Dalam Bahaya

AS dan Rusia Memanas, Gorbachev Sebut Dunia Dalam Bahaya
Bekas pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, memperingatkan bahwa memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia telah membawa dunia ke titik berbahaya. Gorbachev menggarisbawahi ancaman Rusia yang akan menembak jatuh setiap jet tempur AS jika berani menyerang pasukan Suriah.

Ancaman Rusia itu, kata dia, menggambarkan situasi terburuk jika dibandingkan situasi Perang Dingin di masa lalu. ”Saya pikir dunia telah mencapai titik yang berbahaya,” kata Gorbachev kepada kantor berita RIA Novosti.

”Saya tidak ingin memberikan setiap resep beton, tapi saya ingin mengatakan bahwa ini perlu berhenti. Kita perlu memperbarui dialog. Menghentikan itu adalah kesalahan terbesar,” ujarnya, yang dikutip Selasa (11/10/2016).

AS telah menangguhkan bulan perundingan dengan Rusia soal krisis Suriah pada 3 Oktober 2016. Keputusan AS itu menyusul tuduhan bahwa Rusia merusak kesepakatan gencatan senjata dengan meluncurkan serangan udara tanpa henti di wilayah Aleppo yang dikuasai pemberontak Suriah.

Situasi kian memanas, setelah Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, menyerukan agar Rusia dan Pemerintah Suriah diselidiki atas dugaan melakukan kejahatan perang di Aleppo. Seruan John Kerry digemakan Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Marc Ayrault, kemarin.

Sebaliknya, Rusia memandang AS sudah bertindak bermusuhan terhadap Moskow. Puncaknya, Rusia menggelar latihan perang nuklir yang melibatkan 40 juta orang. Selain itu, Rusia diketahui sudah mengerahkan rudal nuklir Iskander-M ke Kalingningrad yang membuat negara-negara NATO di Baltik cemas.

”Hal ini diperlukan untuk kembali ke prioritas utama. Ini adalah perlucutan senjata nuklir, perang melawan terorisme, pencegahan bencana lingkungan,” kata Gorbachev, yang menyerukan AS dan Rusia dialog untuk menghindari perang.

Gorbachev memerintah Uni Soviet dari tahun 1985 sampai negara itu runtuh tahun 1991 dan berubah menjadi Rusia. Dia dianggap sebagai sosok yang mengakhiri Perang Dingin antara AS dan Rusia.

Dia jarang ikut campur dalam urusan politik sejak lengser. Tapi, dia kerap mengkritik Kremlin dan Barat atas runtuhnya hubungan kedua pihak. Pada tahun 2014 Gorbachev menyalahkan Amerika atas retorika anti-Rusia yang bisa memicu Perang Dingin baru. - Sindo

Thursday, October 6, 2016

Petinggi Militer AS: Perang Dunia III Hampir Pasti Terjadi

Petinggi Militer AS: Perang Dunia III Hampir Pasti Terjadi
Para pejabat militer Amerika Serikat (AS) menyatakan sebuah perang skala penuh antara negara-negara hampir pasti terjadi dan akan sangat mematikan. Peringatan ini muncul seiriing kebijakan China dan Rusia meningkatkan kemampuan militernya.

Mayor Jenderal William Hix memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan senjata canggih akan mempercepat laju perang. Peringatan ini datang setelah Rusia dan China mengerahkan pasukan militer konvesional dalam jumlah besar, sementara Korea Utara (Korut) melakukan uji coba nuklir meskipun telah dijatuhi sanksi oleh PBB.

"Konflik konvesional di masa depan akan sangat mematikan serta cepat, dan kita tidak memiliki stopwatch. Kecepatan di mana mesin dapat membuat keputusan di masa depan akan menantang kemampuan kita untuk mengatasinya, menuntut hubungan baru antara manusia dan mesin," katanya seperti dikutip dari laman Express, Kamis (6/10/2016).

Hix merujuk pada kemajuan teknologi China dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Ia pun memperingatkan bahwa perkembangan tersebut harus memaksa Gedung Putih untuk mempersiapkan diri dalam skala yang belum pernah dilihat militer AS sejak perang Korea.

Sementara petinggi militer AS lainnya, Letnan Jenderal Joseph Anderson, mengatakan AS menghadapi ancaman dari sebuah negara bangsa yang modern yang bertindak agresig dalam persaingan militer. Sedangkan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mark Milley mengatakan ancaman itu hampir pasti dan tentara AS harus bersedia untuk terlibat dalam perang cyber dan siap untuk bertarung di perkotaan yang kompleks. Dia menambahkan: "Meskipun kami sudah siap sekarang, kita akan ditantang."

Katharina McFarland, bertindak asisten sekretaris militer untuk akuisisi, logistik, dan teknologi senjata mengklaim masa depan perlu dirancang lebih baik. "Sebagai seorang insinyur, saya pikir dalam hal antarmuka yang sederhana - tidak peduli apa helikopter, Anda bisa masuk dan mengoperasikannya."

Wednesday, October 5, 2016

Rusia Sebar Kapal Tempur Rudal Antar Benua di Laut Mediterania

Rusia Sebar Kapal Tempur Rudal Antar Benua di Laut Mediterania
Rusia megkonfirmasi bahwa dua kapal perang Buyan kelas korvet, yang dilengkapi dengan rudal-rudal jelajah, sedang menuju ke Laut Mediterania untuk bergabung dengan pasukan AL yang telah ditempatkan di sana, menyusul panangguhan Amerika atas pembicaraan penghentian permusuhan untuk mencari jalan keluar dari krisis Suriah.

Juru bicara Armada Laut Hitam Rusia, Kolonel Nikolai Voskresensky, mengatakan kepada kantor berita Rusia TASS, pada Rabu, bahwa kapal perang Zelyony Dol dan Serpukhov telah meninggalkan pelabuhan mereka di Crimea pada Selasa sebagai bagian dari rotasi angkatan laut Moskow di wilayah tersebut.

Dua kapal yang dilengkapi dengan rudal-rudal jelajah, memulai perjalanan panjang dari pelabuhan Krimea Sevastopol pada 04 Oktober, “kini kapal-kapal itu telah melewati selat Laut Hitam dan akan memasuki perairan Mediterania di malam hari,” kata Voskresensky.

Kapal-kapal tersebut akan bergabung dengan Angkatan Laut Rusia “satuan tugas permanen di Mediterania sebagai bagian dari rotasi zona maritim lepas pantai,” tambah pejabat itu.

Kedua kapal akan kembali ke Mediterania setelah melakukan serangan rudal terhadap posisi pemberontak di Suriah pada 19 Agustus sebagai bagian dari penyebaran mereka sebelumnya di lepas pantai Suriah.

Pemindahan datang sehari setelah juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, mengatakan bahwa negaranya telah mengirim sistem pertahanan rudal S-300 ke Suriah dalam upaya untuk mempertahankan pangkalan Angkatan Laut Rusia di kota Tartus, Suriah.

Awal pekan ini, Washington menangguhkan partisipasinya dalam saluran bilateral dengan Moskow, yang didirikan untuk mempertahankan gencatan senjata di Suriah.

Pengumuman itu terjadi dua minggu setelah gencatan senjata terbaru yang ditengahi AS-Rusia di Suriah berakhir setelah penolakan Damaskus untuk memperpanjang kesepakatan sebagai hasil dari serangan udara yang dipimpin AS yang menargetkan pangkalan militer Suriah di Deir Ezzor.

Tuesday, October 4, 2016

Perang Terbuka Rusia vs Amerika Serikat di Langit Suriah Semakin Terbuka

Perang Terbuka Rusia vs Amerika Serikat di Langit Suriah Semakin Terbuka
Setelah gagalnya gencatan senjata di Suriah, kini tidak ada jalan lain yang nampak bagi Amerika dan Rusia kecuali berperang satu sama lain. Setelah Amerika menghentikan pembicaraan dengan Rusia setelah offensif Rusia di Aleppo terus berlanjut, Rusia balik mengancam Amerika.

Seperti dilaporkan Associated Press, Jubir Kemenlu Rusia Maria Zakharova, hari Sabtu lalu (1 Oktober) mengatakan bahwa tindakan Amerika menyerang pasukan Suriah akan mendapatkan reaksi keras dari Rusia. Ia menyebut reaksi Rusia tersebut sebagai ‘konsekuensi yang besar dan sangat menyakitkan tidak hanya di Suriah namun di seluruh kawasan’.

Dengan kata lain, Rusia mengancam perang terhadap Amerika.

“Mari kita berharap bahwa ancaman ini didengar oleh Washington karena, jangan salah, pernyataan itu berarti adalah ancaman perang,” tulis editor Thetruthseeker.co.uk tentang pernyataan Jubir Kemenlu Rusia itu.

Situs independent The Saker membuat analisa lebih dalam lagi tentang prospek konflik di Suriah paska kegagalan gencatan senjata yang disebabkan oleh serangan Amerika dan koalisinya terhadap pasukan Suriah di Deir Ezzor dan konvoi kemanusiaan di Aleppo. Dalam tulisan berjudul ‘The War Against Syria: Both Sides Go to “plan B”, The Saker menulis:

“Terkait dengan kegagalan kebijakan Amerika untuk menggulingkan regim Bashar al Assad, kini tiba saatnya bagi Amerika untuk melakukan perubahan fundamental: negosiasi atau perang. Awalnya John Kerry dan para pejabat Kemenlu mencoba bernegosiasi, namun Kemenhan berkehendak lain, secara khianat menghancurkan perjanjian gencatan senjata dengan membom pasukan Suriah. Pada titik ini John Kerry, (Samantha) Power dan para pejabat lainnya merasa tidak ada pilihan lain selain bergabung dengan Dephan untuk  berperang.”

Lalu The Saker pun memberikan analisanya tentang konsekuensi yang akan terjadi di Suriah. Pertama Amerika akan menggelontorkan senjata-senjata canggihnya (yang bisa diselundupkan ke Suriah), termasuk rudal-rudal jinjing MANPAD, TOW, Milan dan Javelins untuk menetralisir kekuatan udara dan pasukan tank Suriah-Rusia. Namun hal ini tidak akan berpengaruh secara fundamental di medan perang karena pesawat-pesawat pembom Rusia terbang di ketinggian yang tidak terjangkau MANPAD, dan Rusia juga bisa mengirim tank-tank T-90 dan tank-tank sekelas di atasnya yang resistan terhadap rudal anti-tank.

Sebaliknya, pilihan bagi Rusia jauh lebih banyak untuk memenangkan perang di Suriah tanpa campur tangan langsung Amerika karena Rusia masih bisa membom para pemberontak dengan rudal-rudal dan pesawat pembom jarak jauh. Rusia bahka bisa meningkatkan daya hancurnya dengan menggunakan bom-bom cluster, thermobaric, atau bahkan nuklir taktis. Kemudian untuk menyempurnakan kemenangan, Rusia bisa mengirim kontingen tempur setingkat batalion hingga resimen ke Suriah.

Karena tidak ada prospek lain untuk memenangkan perang di Suriah, maka Amerika dan sekutu-sekutunya tidak memiliki pilihan lain selain menerapkan zona larangan terbang (no fly zone) dan melancarkan pemboman besar-besaran ke Suriah. Namun, untuk itu Amerika harus menetralisir sistem pertahanan udara Rusia di Suriah, khususnya S-400 di pangkalan udara Khmeimim dan S-300 di atas kapal perang Rusia di lepas pantai Suriah. Dan itu berarti perang terbuka dengan Rusia.

Rusia Sebar S-300 di Suriah, Peringatan ke Amerika Serikat

Rusia Sebar S-300 di Suriah, Peringatan ke Amerika Serikat
Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan sistem rudal S-300 hanya untuk mempertahankan diri. Rusia secara signifikan memperkuat pertahanan udara di Suriah dengan mengerahkan sistem rudal darat ke udara.

Kementerian Pertahanan mengatakan rudal S-300 akan menjamin keamanan pangkalan Angkatan Laut Rusia di Tartus.

"Perlu kami sampaikan di sini bahwa S-300 semata-mata untuk mempertahankan diri, ini bukan ancaman ke pihak lain," kata Mayor Jenderal Igor Konashenkov, juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia.

"Saya tak paham mengapa pengerahan sistem rudal S-300 membuat khawatir mitra Barat kami," tambahnya.

Meski Rusia menyebutnya sebagai tindakan defensif, wartawan BBC mengatakan persenjataan mematikan ini adalah isyarat kepada Amerika bahwa negara itu akan membayar ongkos yang mahal jika mencampuri operasi militer Rusia atau Suriah.

Tahun lalu Rusia mengerahkan sistem rudal yang lebih canggih di Suriah, S-400.

Pada hari Senin (03/10) Washington membekukan perundingan dengan Rusia terkait masalah Suriah dengan menuding Moskow sengaja tidak mentaati komitmen perjanjian gencatan senjata.

Amerika menuduh Rusia dan Suriah meningkatkan serangan terhadap warga sipil dengan menjadikan rumah sakit dan bantuan kemanusiaan sebagai sasaran.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan menyesalkan keputusan Amerika.