Showing posts with label Turki. Show all posts
Showing posts with label Turki. Show all posts

Thursday, October 6, 2016

PM Irak: Ikut Campur Militer Turki di Irak Bisa Picu Perang

PM Irak: Ikut Campur Militer Turki di Irak Bisa Picu Perang
Perdana Menteri (PM) Irak, Haider al-Abadi, memperingatkan risiko pecahnya perang regional sebagai imbas ikut campurnya militer Turki di wilayah Irak utara. Komentar Abadi ini menyusul desakan parlemen Irak pada Turki agar menarik sekitar 2 ribu tentaranya dari Irak utara.

Kedua negara ini bersitegang yang dipicu krisis Suriah dan munculnya kelompok Islamic State (ISIS) di Irak. Ketegangan makin memanas, di mana masing-masing pihak memanggil duta besar yang bertugas di Baghdad dan Ankara.

Parlemen Turki pada pekan lalu setuju memperpanjang kehadiran militer Ankara di Irak utara selama satu tahun untuk memerangi ISIS. Namun, parlemen Irak mengutuknya dan mendesak Turki menarik ribuan tentaranya dari Irak utara yang dianggap Baghdad sebagai “agresi”.

”Kami telah meminta pihak Turki lebih dari sekali untuk tidak campur tangan dalam masalah Irak dan saya takut sepak terjang Turki bisa berubah menjadi perang regional,” kata Abadi yang disiarkan stasiun televisi Pemerintah Irak, hari Rabu (5/10/2016), seperti dikutip Reuters.

”Perilaku Kepemimpinan Turki ini tidak dapat diterima dan kami tidak ingin masuk ke konfrontasi militer dengan Turki,” lanjut Abadi.

Sementara itu, Turki mengklaim kehadiran militernya di Irak atas undangan Masoud Barzani, Presiden Pemerintah Daerah Kurdi, yang menjalin hubungan solid dengan Ankara. Sebagian besar tentara Turki berada di sebuah pangkalan di Bashiqa, wilayah utara Mosul, di mana mereka membantu melatih milisi Peshmerga Kurdi Irak dan para milisi Sunni.

Wakil Perdana Menteri Turki, Numan Kurtulmus, mengatakan penyebaran tentara Turki diperlukan setelah ISIS menduduki sebagian wilayah Irak sejak 2014. “Kehadiran (militer) Turki di Bashiqa atau operasi sekarang di wilayah Suriah tak pernah ditujukan untuk menduduki atau campur tangan urusan dalam negeri negara-negara ini,” katanya.

Wednesday, September 21, 2016

TERBARU: Kedubes Israel di Turki Diserang, 1 Tewas

Setidaknya satu orang tewas dalam serangan bersenjata di Kedutaan Besar (Kedubes) Israel di Turki. Serangan tersebut beriringan dengan terdengarnya suara tembakan di ibukota Turki, Ankara.

Seperti dikutip Daily Express dari lembaga penyiaran Turki Haber Turk, Rabu (21/9/2016), satu orang dilaporkan tewas dalam serangan terhadap kedutaan Israel di ibukota Turki itu.

Belum diketahui apakah ada korban luka setelah dua orang berusaha untuk memasuki gedung kedubes. Media setempat mengatakan polisi telah ditelpon ke lokasi setelah dua tersangka dilaporkan berada di tempat kejadian. Israel juga memiliki kedutaan besar di Istanbul.

Sebelumnya, sejumlah kedutaan negara asing di Turki ditutup atas alasan keamanan. Tercatat Inggris dan Jerman telah menutup kedutaan besarnya di Turki karena mendapatkan laporan akan ada serangan selama peryaan Idul Adha.

Tuesday, September 20, 2016

Tiga Rudal Jelajah Rusia Hantam Ruang Operasi Turki, AS, Saudi, Inggris dan Mossad di Aleppo

Tiga Rudal Jelajah Rusia Hantam Ruang Operasi Turki, AS, Saudi, Inggris dan Mossad di Aleppo
Menurut sumber informasi di Aleppo, tiga rudal jenis kaliber ditembakkan oleh kapal-kapal Rusia, menarget ruang operasi teroris di Dera Izzat, barat Aleppo di pegunungan Simon, yang terkenal dengan gunung bebatuan dan daerah gua kuno. (Baca juga: Rusia Berhasil Uji Coba Rudal Antar Benua)

Sumber itu juga menunjukkan bahwa “ruang operasi berisi 30 perwira terkemuka dari Turki, Amerika Serikat, Arab Saudi, Qatar, Inggris dan Mossad, yang menjalankan operasi teroris di Aleppo dan Idlib. (Baca juga: MEMANAS.. Rudal Kaliber Rusia Siap Hancurkan Jantung Kota Turki dan Saudi)

Sementara itu, sekitar 100 penduduk sipil berhasil melarikan diri dari daerah timur Aleppo, meskipun di bawah ancaman teroris. (Baca juga: Rusia Mampu Hancurkan London Dalam 13 Menit dan New York 40 Menit ; VIDEO)

Adapun situasi saat ini berdasarkan laporan sumber di lapangan, mengatakan bahwa tentara Suriah berhasil menewaskan 20 pemberontak dalam dua hari terakhir di distrik 1070, di mana ada penembak jitu yang menembaki warga sipil yang berada di wilayah Hamdania. - ArrahmahNews

Monday, August 22, 2016

Turki Persilahkan Rusia Gunakan Pangkalan Incirlik

Turki Persilahkan Rusia Gunakan Pangkalan Incirlik
Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan, Turki tidak akan keberatan jika Rusia ingin menggunakan pangkalan udara Incirlik untuk misi anti-teror terhadap Daesh di Suriah.

Seperti dikutip laman Farsnews, Ahad (21/8/2016), setelah Iran mengizinkan pesawat pembom Rusia lepas landas dari pangkalan udara Nojeh di Hamedan, sekarang pemerintah Turki juga mempersilahkan Rusia menggunakan pangkalan Incirlik untuk kampanye udara terhadap teroris di Suriah.

Menurut Yildirim, meskipun Rusia belum menyampaikan permintaan resmi untuk memanfaatkan fasilitas militer Incirlik, namun negara itu dapat menggunakan wilayah Turki untuk menyerang basis-basis teroris di Suriah.

"Turki membuka pangkalan udara Incirlik untuk melawan teroris Daesh. Mereka sedang digunakan oleh Amerika Serikat dan Qatar. Negara-negara lain mungkin juga ingin menggunakan pangkalan itu termasuk Jerman," kata Yildirim seperti dikutip televisi Russia Today.

"Jika perlu, pangkalan Incirlik dapat dipakai," tegasnya.

Dia juga dengan tegas membantah laporan media yang mengklaim bahwa Moskow telah menekan Ankara untuk penggunaan pangkalan tersebut dan mengatakan informasi itu tidak benar.

Yildirim menyatakan keraguan bahwa Rusia akan benar-benar perlu menggunakan pangkalan udara Turki, mengingat pasukan Rusia sudah memiliki dua pangkalan udara lokal untuk memulai misi di Suriah, di mana mereka sekitar 100-150 kilometer lebih dekat dengan target, jadi Incirlik tidak akan memberikan keuntungan strategis. - ParsToday

Tuesday, August 16, 2016

Bom Nuklir B-61 AS di Turki Tak Aman

Bom Nuklir B-61 AS di Turki Tak Aman
Direktur Kebijakan Pertahanan dan Pengendalian Senjata pada staf  Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih era Presiden Bill Clinton memperingatkan bahwa bom nuklir B-61 yang ditempatkan di Turki tidak aman dan mudah direbut “jihadis”. Senjata nuklir taktis AS itu ditempatkan di Pangkalan Udara Incirlik, Turki.

”Tidak ada do-overs dalam sejarah, tetapi ada pelajaran,” kata mantan pejabat top Gedung Putih bernama Steve Andreasen itu.

”Bagaimana jika komandan pangkalan di Incirlik Turki telah memerintahkan pasukannya di sekitar perimeter pangkalan untuk mengubah senjata mereka pada tentara AS yang kabarnya menjaga bunker penyimpanan senjata nuklir AS di sana?,” lanjut dia, seperti dikutip dari Sputniknews, Senin (15/8/2016).

Kekhawatiran disampaikan Andreasen setelah rezim Pemerintah Presiden Turki Tayyip Erdogan frustasi dengan menyalahkan AS sebagai bagian dari upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 lalu. Turki hingga kini bersikeras mendesak AS mengekstradisi ulama Fethullah Gulen yang dituding Turki sebagai salah satu dalang upaya kudeta militer.

Erdogan pernah menyebut Gulen hanya “pion” dalam rencana upaya kudeta di Turki. Komentar Erdogan itu bias, mengingat Gulen sudah sekian tahun tinggal di AS. Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja Turki, Soylu Suleyman, dalam sebuah wawancara mengatakan; “AS berada di balik kudeta”.

Komentar itu berlanjut dengan pemberitaan surat kabar pro-pemerintah Turki yang menyebut jendereal top AS dalang utama kudeta lengkap dengan foto yang dipajang di halaman depan.

Senjata nuklir taktis AS yang ditempatkan di Incirlik, Turki, memiliki kekuatan 100 kali dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima saat Perang Dunia II. Senjata berbahaya itu rawan direbut kelompok radikal, mengingat lokasi pangkalan udara Incirlik hanya 60 mil (97 km) dari basis ISIS atau Daesh di perbatasan Suriah-Turki.

”Kami berada dalam untuk bentangan panjang ketidakpastian politik di Turki, diperburuk oleh meningkatnya anti-Amerikanisme,” kata Andreasen. "Setiap senjata nuklir yang disimpan di sana lebih cenderung mempersulit daripada meningkatkan arus politik dalam negeri dalam bermain,” imbuh dia.

Wednesday, August 10, 2016

Turki Disebut Bakal Didepak dari Aliansi, Ini Reaksi NATO

Turki Disebut Bakal Didepak dari Aliansi, Ini Reaksi NATO
Media Turki Haber Turk, melansir tulisan spekulatif yang menyebut ada rencana rahasia untuk mendepak Turki dari kenanggotaan NATO. Laporan itu direspons cepat oleh NATO dengan memuji Turki sebagai sekutu berharga.

Tulisan di media Turki itu muncul setelah Pemerintah Presiden Tayyip Erdogan jadi bulan-bulanan kecaman Barat atas tindakan “pembersihan” besar-besaran usai upaya kudeta militer 15 Juli lalu. Kudeta yang digagalkan rakyat Turki itu menewaskan ratusan orang.

Reaksi cepat NATO itu disampaikan juru bicaranya Oana Lungescu, yang diterbitkan di situs resmi NATO.”Mengingat laporan spekulatif pers mengenai sikap NATO, mengenai kudeta yang gagal di Turki dan keanggotaan NATO Turki, biarkan saya menekankan posisi yang sangat jelas (dari) NATO,” katanya.

”Turki adalah sekutu berharga, yang membuat kontribusi besar untuk upaya bersama NATO,” lanjut Lungescu.

”Turki mengambil bagian penuh dalam keputusan berdasarkan konsensus Aliansi seperti (saat) kita menghadapi tantangan keamanan terbesar dalam satu generasi,” sambung dia. ”Keanggotaan Turki (di) NATO  tidak dipertanyakan.”

”Aliansi kami berkomitmen untuk pertahanan kolektif dan didirikan pada prinsip-prinsip demokrasi, kebebasan individu, hak asasi manusia dan supremasi hukum,” imbuh dia.

Laporan yang mengusik keanggotaan Turki di NATO juga seiring dengan “lengket”-nya Pemerintah Erdogan dengan Pemerintah Rusia. Erdogan telah menemui Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memulihkan hubungan yang sempat rusak setelah penembakan pesawat tempur Moskow oleh Ankara tahun lalu.

Menurut Lungescu, aliansi tetap mengandalkan Turki. ”NATO mengandalkan kontribusi terus-menerus Turki dan Turki dapat mengandalkan solidaritas dan dukungan dari NATO,” katanya.

“Sekretaris Jenderal NATO berbicara dengan Menteri Luar Negeri Turki pada malam kudeta dan kemudian dengan Presiden Erdogan, sangat mengutuk kudeta dan mengulangi dukungan penuh untuk lembaga-lembaga demokratis Turki,” ujar Lungescu, seperti dikutip Mirror, semalam (10/8/2016).

”Dia menyatakan dukungan untuk pemerintah terpilih dari Turki dan menghormati keberanian dari orang-orang Turki. Dia juga menyampaikan belasungkawa bagi mereka yang telah kehilangan nyawa selama upaya kudeta,” imbuh juru bicara NATO itu.

Ankara-Moskow Bangun Mekanisme Penyelesaian Konflik Suriah

Ankara-Moskow Bangun Mekanisme Penyelesaian Konflik Suriah
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengatakan, pihaknya dan Rusia sedang berusaha  membangun mekanisme penyelesaian konflik di Suriah. Pejabat tinggi kedua negara akan segera bertemu untuk membahas hal ini.

Pertemuan ini digelar setelah membaiknya hubungan kedua negara, yang ditandai dengan dilakukannya pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Tayyip Erdogan di St Petersburgh, Rusia, kemarin.

"Turki akan membangun mekanisme yang kuat dengan Rusia untuk mencoba menemukan solusi di Suriah dan delegasi dari Kementerian Luar Negeri, militer dan intelijen akan pergi ke Rusia untuk menggelar pembicaraan mengenai hal ini," ucap Cavusoglu, seperti dilansir Reuters pada Rabu (10/8).

Di kesempatan yang sama, Cavusoglu juga mengatakan, Rusia akan mengangkat embargo pada produk Turki dan jika diperlukan, perjanjian tambahan akan ditandatangani untuk memastikan pekerjaan pada proyek pipa gas TurkStream.

Putin dan Erdogan kemarin mengambil langkah besar menuju normalisasi hubungan, dengan mengumumkan percepatan dalam perdagangan dan energi. Pertemuan keduanya adalah pertemuan pertama paska insiden penembakan Su-35 sembilan lalu di perbatasan Suriah-Turki.

Tuesday, August 9, 2016

Turki Tingalkan Barat, Erdogan Dekati Rusia

turki-tingalkan-barat-erdogan-dekati-rusia
Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan kepada media Prancis, Le Monde, bahwa dia merasa Turki ditinggalkan sekutu Barat-nya, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa yang tak peka pada situasi politik di Ankara setelah upaya kudeta. Sebaliknya, Erdogan memuji Rusia yang justru simpatik pada Turki.

Komentar Erdogan itu muncul sehari sebelum dia bertemua Presiden Putin di Saint Petersburg, Rusia hari Selasa.



”Seluruh dunia bereaksi terhadap serangan terhadap Charlie Hebdo. Perdana Menteri kami bergabung berunjuk rasa di jalan-jalan Paris,” kata Erdogan, mencontohkan simpati Turki atas serangan teror di Prancis pada Januari 2015.

”Saya akan berharap bahwa para pemimpin dunia Barat akan bereaksi (terkait upaya kudeta) dengan cara yang sama dan tidak puas diri dengan beberapa klise,” sindir Erdogan.

Presiden Turki ini kesal pada sekutu Barat-nya yang terus mengecam “pembersihan” di Turki terhadap semua pihak yang terlibat upaya kudeta pada 15 Juli 2016 lalu.

Erdogan lantas memuji Presiden Rusia Vladimir yang meneleponnya untuk menyampaikan belasungkawa. Dia senang bahwa Putin tidak seperti Barat yang mengkritiknya atas “pembersihan” baik di korps militer maupun sipil yang terkait upaya kudeta.

”Padahal semua orang Eropa bertanya; mengapa begitu banyak tentara ditahan, mengapa begitu banyak PNS dipecat?,” kata Erdogan.

”Dunia Barat mencoba untuk mengecualikan Rusia; kami tidak. Kami memiliki insiden pesawat Rusia (pesawat Rusia ditembak jatuh oleh dua pesawat Turki di perbatasan Turki-Suriah pada 24 November 2015), tapi kunjungan 9 Agustus ini telah direncanakan jauh sebelum upaya kudeta. Pertemuan ini akan menandai langkah baru dalam hubungan antara kedua negara,” kata Erdogan, seperti dikutip dari EurActiv, Rabu (10/8/2016). - Sindo

Erdogan: Barat Tidak Berempati pada Turki Paska Kudeta Gagal

erdogan-barat-tidak-berempati-pada-turki
Presiden Turki, Tayyip Erdogan kembali menunjukan rasa kesalnya kepada pemimpin negara Barat. Dalam sebuah wawancara dengan Le Monde, Erdogan menyebut, negara Barat tidak memiliki empati kepada Turki dan gagal menunjukan simpati pada Turki paska upaya kudeta yang gagal bulan lalu.

Erdogan menuturkan, Barat dalam sejumlah kesempatan tidak memberikan dukungan kepada Turki, tapi justru melemparkan kritikan. Negara-negara Barat mengkritik sikap Ankara yang dinilai berlebihan menanggapi upaya kedeta gagal.



"Pemimpin Barat gagal untuk memberikan Turki dukungan yang diperlukan, menyusul kudeta militer dan lebih fokus pada pembersihan yang kami lakukan," ucap Erdogan dalam wawancara itu, seperti dilansir Sputnik pada Selas (9/8).

Pemimpin Turki itu menyatakan, satu-satunya negara yang menunjukan dukungan kepada Turki adalah Rusia. Menurut Erdogan, Presiden Rusia Vladimir Putin sejak awal lansung menunjukan dukungannya, dan tidak pernah sekalipun mengkritik kebijakan yang diambil Turki.

"Ketika Putin menelepon saya untuk (mengekspresikan) belasungkawa, ia tidak mengkritik saya untuk menembak atau menahan mereka yang diduga terkait dengan kudeta," kata Erdogan. Sementara itu, semua orang Eropa bertanya mengenai mengapa begitu banyak tentara yang ditahan, mengapa begitu banyak PNS yang kami pecat?" ucapnya.

Bagi Presiden Turki, ini adalah bukti bahwa mereka tidak memahami skala apa yang terjadi di negeri ini. "Alih-alih menunjukkan empati, para pemimpin Barat memiliki reaksi yang berlawanan. Ini membuat kita sedih dan itu tidak bisa diterima," tukasnya. - Sindo

Perwira Militer Turki Minta Suaka ke AS

perwira-militer-turki-minta-suaka-ke-as
Seorang perwira militer Turki yang bertugas untuk NATO di Amerika Serikat (AS) meminta suaka kepada negara itu setelah dipanggil pulang oleh pemerintah Turki pasca kudeta yang gagal bulan lalu. Permintaan suaka ini adalah yang pertama kalinya melibatkan seorang perwira militer Turki di AS setelah Ankara melakukan operasi pembersihan.

Dikatakan oleh pejabat AS, dalam kondisi anonim, perwira Turki yang meminta suaka bekerja di markas Komando Transformasi Bersama NATO. Markas tersebut terletak di Norfolk, Virginia. Mereka tidak menyebutkan nama maupun pangkatnya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (10/8/2016).

Namun, seorang pejabat kedutaan Turki di Washington mengatakan bahwa perwira Angkatan Laut Turki bernama Laksamana Mustafa Ugurlu telah gagal melapor kepada pihak berwenang setelah Ankara mengeluarkan perintah penahanannya bulan lalu.

"Pada tanggal 22 Juli, pada hari itu ia meninggalkan lencana dan ID-nya di markas dan setelah itu tidak ada yang mendengar apa-apa darinya," kata pejabat kedubes Turki yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Pejabat Turki mengaku tidak tahu terkait permintaan suaka itu. Sebuah artikel berita di situs NATO mengidentifikasi Ugurlu sebagai asisten komandan untuk staf komando dan kontrol, penempatan, dan ketahanan di Norfolk.

Selain Ugurlu, dua petugas tingkat rendah lainnya juga telah dipanggil kembali ke Turki. "Tapi tidak ada perintah penahanan bagi mereka. Salah satu dari mereka telah kembali, dan lainnya akan kembali segera," kata pejabat itu.

Friday, July 29, 2016

Amerika dan Saudi Dalang Penembakan Su-24 Rusia di Turki

Amerika Serikat dan Arab Saudi dituduh terlibat dalam penembakan jatuh pesawat jet pengebom Su-24 Rusia oleh Turki di perbatasan Suriah-Turki tahun lalu. Tuduhan disampaikan oleh  Willy Wimmer, mantan Wakil Presiden Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) kepada Sputnik Deutschland.

Pada 24 November 2015, pesawat tempur F-16 Turki menembak jatuh pesawat Su-24 Rusia yang sedang melaksanakan operasi anti-teror di Suriah. Dua pilot Rusia melakukan terjun payung setelah berhasil keluar dari pesawat Su-24. Namun, salah satu dari mereka ditembak dan dibunuh militan Turkmen di Suriah.


Insiden ini menyebabkan sengketa diplomatik antara Turki dan Rusia. Penembakan itu disimpulkan sebagai keputusan sepihak oleh Turki. Namun, Willy Wimmer berpendapat bahwa sebenarnya NATO dan pasukan Saudi terlibat dalam insiden tersebut.

”Menurut informasi (yang datang ke) saya, pesawat Airborne Early Warning and Control System (AWACS) dari Amerika Serikat dan Arab Saudi terlibat,” kata Wimmer, yang dilansir semalam (29/7/2016).

Pesawat AWACS adalah pesawat peringatan dini, d mana radar canggih yang dibawanya bisa mendeteksi pesawat musuh dan pesawat kawan.

”Pesawat seperti (pesawat) bomber Su-24 Rusia tidak mudah untuk ditembak dari langit. Anda perlu membidik, dan Anda hanya bisa melakukannya dengan pesawat AWACS,” lanjut dia.

Menurut Wimmer, dua pesawat AWACS yang terlibat dalam insiden itu masing-masing lepas landas dari sebuah pangkalan AS di Siprus, dan sebuah pangkalan udara di Arab Saudi.

Wimmer menjelaskan bahwa menurut pedoman NATO, jika pesawat asing diyakini melanggar wilayah udara negara anggota NATO, maka kontak harus dibuat dengan pusat kontrol penerbangan yang tepat untuk menarik perhatian pilot pesawat asing yang membuat kesalahan.

Dalam kondisi damai, sebuah pesawat  militer diperbolehkan melakukan tindakan untuk memaksa sebuah pesawat nyasar melakukan pendaratan darurat.

”Apa yang terjadi di sana tidak sesuai dengan peraturan internasional dengan cara apapun. Mereka membuat pesawat Rusia jatuh karena mereka ingin,” ujar Wimmer.

Jaksa Turki: CIA dan FBI Latih Komplotan Kudeta

Seorang jaksa Turki menuduh CIA dan FBI memberikan pelatihan bagi para pengikut ulama Turki Fethullah Gulen yang tinggal di Amerika Serikat (AS). Para pengikut Gulen itulah yang dituduh sebagai komplotan yang berupaya kudeta 15 Juli 2016 lalu.

Jaksa Penuntut Umum Edirne telah menyiapkan dakwaan untuk menjerat 43 terdakwa yang dituduh terlibat kudeta yang gagal.


”CIA dan FBI memberikan pelatihan di beberapa mata pelajaran untuk kader yang dibesarkan di pusat-pusat kebudayaan milik gerakan Gulen,” bunyi dokumen jaksa yang dilansir Hurriyet.


Dokumen dakwaan tersebut menyatakan bahwa para loyalis Gulen menerima pelatihan dari AS dan menyusup ke lembaga peradilan dan keamanan di Turki.

”Upaya ini (gagal kudeta) bertujuan untuk melemahkan negara dengan semua lembaga dengan menyingkirkan pemerintah sepenuhnya. Mereka di dalam gerakan Gulen bekerja di lembaga peradilan dan keamanan dan menerima pelatihan tersebut, mengambil tugas ini dan berpindah ke dalam tindakan,” lanjut dokumen jaksa seperti dikutip dari kantor berita Anadolu, Sabtu (30/7/2016).

Media pro-Presiden Tayyip Erdogan, Yeni Safak juga melaporkan bahwa beberapa dinas rahasia asing lain ikut terlibat dalam pelatihan terhadap komplotan kudeta.

Hubungan antara Washington dan Ankara renggang setelah upaya kudeta militer Turki yang berhasil digagalkan. Beberapa media Turki dan pejabat pemerintah, termasuk menteri mengklaim bahwa AS sejatinya terlibat upaya kudeta. Namun, AS berkali-kali menyangkal tuduhan itu. - Sindo

Erdogan Cabut Gugatan terhadap Semua Penghina Dirinya

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membuat pengumuman mengejutkan bahwa dia akan mencabut gugatan terhadap semua orang yang telah menghinanya. Erdogan menyebut keputusannya itu sebagai “one-off gesture”.

Pengumuman itu dibuat Erdogan saat pidato di Istana Kepresidenan di Ankara. ”Untuk satu kali saja, saya akan memaafkan dan mencabut semua kasus terhadap banyak (orang) yang tidak menghormati dan melontarkan penghinaan terhadap saya,” ujar Presiden Erdogan.


”Saya merasa bahwa jika kita tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan benar, maka akan memberikan orang (merasa) berhak untuk menahan kami dengan tenggorokan. Jadi saya merasa bahwa semua faksi masyarakat, dan terutama politisi akan berperilaku sesuai dengan kenyataan yang baru ini, situasi yang sensitif,” katanya, seperti dikutip Sputniknews, Sabtu (30/7/2016).

Presiden Turki ini sebelumnya telah mengajukan tuntutan pidana terhadap ratusan wartawan dan tokoh masyarakat karena diduga menghina presiden. Salah satu contohnya adalah aktor dan kolumnis Orhan Aydin, yang membuat hinaan dalam opini di koran Solhaber.

Pengumuman ini datang dua minggu setelah upaya kudeta militer yang berhasil digagalkan. Upaya kudeta ini mengakibatkan hampir 250 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka.

Pada hari Jumat, Erdogan juga menegaskan bahwa bagaimanapun cara Ankara untuk menghukum pemberontak adalah masalah internal dan bukan urusan negara-negara asing. - Sindo

Militer Turki Promosikan 99 Kolonel Jadi Jendral

militer-turki-promosikan-99-kolonel-jadi-jendral
Dewan militer Turki mempromosikan 99 kolonel menjadi jenderal atau laksamana dan menempatkan 48 jenderal pensiun dalam rotasi tahunan. Promosi ini dilakukan meskipun jajaran petinggi militer telah sedikit berubah pasca kudeta militer yang gagal bulan ini.

Selain mengangkat para kolonel menjadi Jenderal, pertemuan tahunan Dewan Agung Militer yang diketuai oleh Perdana Menteri Binali Yildirim dan sejumlah petinggi militer ini juga memecat hampir 1.700 personel militer atas peran mereka dalam kudeta 15 Juli.

"Presiden Tayyip Erdogan menyetujui keputusan penting dewan, meninggalkan kepala angkatan bersenjata Hulusi Akar dan tentara, komandan angkatan laut dan angkatan udara di pos mereka," kata juru bicara Erdogan, Ibrahim Kalin secara terpisah seperti dikutip dari laman Reuters, Jumat (29/7/2016).

Sebuah pernyataan di situs angkatan bersenjata mengatakan bahwa disamping mempromosikan 99 kolonel, 16 jenderal dan laksamana juga dipromosikan serta 20 jenderal dan laksamana diperpanjang selama setahun. Pernyataan itu tidak menyinggung soal kudeta.

Erdogan, yang lolos dari penangkapan dan kematian pada malam kudeta, mengatakan bahwa militer membutuhkan darah segar. Hal itu termasuk dengan memecat sekitar 40 persen dari laksamana dan jenderal Turki. - Sindo

Turki Akan Tutup Pangkalan Udara Akinci

Pemerintah Turki akan menutup Pangkalan Udara Akinci di dekat Ibu Kota Ankara. Alasannya, Pangkalan Udara Arkinci jadi markas de-facto untuk komplotan militer yang berupaya melakukan kudeta.

Rencana penutupan itu disampaikan Perdana Menteri Turki Binali Yildirim pada hari Jumat (29/7/2016).


”Saya menyatakan kepada semua orang yang sekarang berdiri di alun-alun Kazan (kota sebelah barat laut dari Ankara). Pangkalan Akinci ini, yang jadi sarang para pengkhianat, akan ditutup dan kami akan mengubahnya menjadi tempat bagi para martir kami yang meninggal (menyelamatkan) demokrasi selama upaya kudeta,” kata Yildirim, seperti dikutip Sputniknews.

Semua unit yang menampung peralatan militer komplotan kudeta, kata Yildrim, juga akan ditutup.

Pada tanggal 15 Juli 2016, sebuah faksi di militer Turki berusaha untuk menggulingkan Pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan. Pemerintah Turki menuduh Fethullah Gulen—mantan sekutu Erdogan yang berubah jadi musuh—yang tinggal di Amerika Serikat (AS) sebagai dalang upaya kudeta.
Setelah upaya kudeta digagalkan, Ankara meluncurkan pembersihan besar-besaran di korps militer, pemerintah, akademisi hingga media. Puluhan ribu orang ditahan dan dipecat karena dianggap terlibat dan mendukung upaya kudeta.

Bahkan, pembersihan besar-besaran itu juga ditargetkan di luar negeri termasuk di Indonesia. Di mana, sembilan sekolah yang dituduh terkait organisasi teroris Feto dan Fethullah Gulen diminta Pemerintah Turki agar ditutup.

Tuesday, July 26, 2016

Turki-Amerika Makin Panas, Pangkalan Amerika Terbakar

turki-amerika-makin-panas-pangkalan-amerika-terbakar
Hubungan Amerika dengan Turki semakin panas saja paska pecahnya kudeta gagal yang oleh Turki disebut didukung Amerika. Sebuah pangkalan militer Amerika di Turki terbakar tidak lama setelah media pendukung Presiden Erdogan menunjuk hidung seorang jendral Amerika terlibat dalam kudeta.

Veterans Today melaporkan, Senin (25 Juli), media pendukung Presiden Erdogan, Yeni Safak, pada hari Minggu (24 Juli) menyebutkan nama disertai foto
Jendral John F. Campbell sebagai perancang kudeta bersama pelarian politik Turki di Amerika, Fethullah Gullen. Jendral Campbell adalah Asisten Keamanan Panglima NATO.

Beberapa jam setelah munculnya laporan itu, pangkalan militer Amerika-NATO di Izmir terbakar hebat selama berjam-jam, meski sejumlah besar pemadam kebakaran, termasuk helikopter, dikerahkan. Veterans Today menyebut kebakaran itu sebagai 'kemungkinan sabotase' oleh kelompok-kelompok angi-Amerika di Turki.

Sebelumnya pada minggu lalu, Rabu (20 Juli), tiga personil militer Amerika dikeroyok sekelompok orang, demikian media-media lokal menyebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tengah dalam situasi yang sangat serius.

Polisi tengah menyidiki rangkaian peristiwa ini, sementara media-media setempat juga menyebutkan adanya kaitan peristiwa ini dengan sentimen anti-Amerika paska kudeta gagal.

Pangkalan militer Amerika yang terbakar diketahui tidak menyimpan sebagian dari 90 senjata nuklir taktis Amerika di Turki. Semua senjata nuklir itu diketahui disimpan di pangkalan udara Incirlik di selatan Turki. Aparat keamanan Turki sempat mengepung dan menggeledah pangkalan terakhir ini setelah diketahui komandan pangkalan ini terlibat dalam kudeta dan sejumlah pesawat tempur dan helikopter yang terlibat dalam kudeta tinggal landas dari pangkalan ini.

Turki 'Tawan' Personil Militer Amerika

Polisi Turki 'menawan' sekitar 1.500 personil militer Amerika beserta keluarganya di pangkalan udara NATO di Incirlik di selatan Turki. Bersama mereka terdapat puluhan bom nuklir taktis.

Seperti dilaporkan media berpengaruh Israel, DEBKAfile, 20 Juli lalu, setidaknya selama empat hari sejak terjadinya kudeta militer yang gagal tanggal 16 Juli, para personil militer Amerika itu berada dalam 'tawanan' Turki, tanpa aliran listrik dari luar. Akibatnya secara efektif tidak ada operasi
militer terhadap ISIS di Suriah dan Irak yang dilancarkan dari pangkalan ini.

Menurut laporan tersebut, kasus penawanan ini menjadi salah satu pembicaraan serius melalui telepon antara Presiden Barack Obama dengan Presiden Turki Thayyep Erdogan paska kudeta gagal tersebut. Erdogan menuntut Obama untuk mengekstradisi Fethullah Gullen, pelarian Turki yang tinggal di Amerika dan musuh utama Erdogan, yang dituduh sebagai dalang kudeta. Namun Obama menolak.

Penawahan personil militer Amerika itu, sebut DEBKAfile, dijadikan Erdogan untuk menggertak Amerika.

Namun, meski menjadi kasus yang sangat serius, hal ini luput dari perhatian pers Amerika, termasuk para politisi yang selama ini bersikap keras kepada pemerintah seperti Donald Trump. Kasus ini hanya menjadi laporan singkat media Rusia yang menulis judul: "Para penyidik Turki menggeledah pangkalan udara Incirlik dimana bom-bom nuklir Amerika berada.”

Penggeledahan itu, sebut DEBKAfile, dilakukan oleh para penyidik Kejaksaan Agung dengan kawalan ratusan personil polisi. Tidak disebutkan kapan penggeledahan itu dilakukan dan apakah penawanan tersebut masih berlangsung.

"Pangkalan itu berada di bawah kepungan sejumlah besar polisi, terputus aliran listrik selama beberapa hari kecuali beberapa generator lokal yang akan segera kehabisan bahan bakar. Tekanan ini tampaknya menjadi methode Erdogan untuk memaksa Washington untuk mengekstradisi Fethullah Gulen, yang dituduh telah memimpin percobaan kudeta gagal dari tempat pengasingannya di Pennsylvania, Amerika," tulis laporan itu.

Komandan pangkalan tersebut, Brigjen Bekir Ercan, telah ditangkap sebagai salah satu pemimpin kudeta yang telah mengirim sejumlah pesawat dan helikopter tempur untuk mendukung kudeta. Ia merupakan salah satu dari sekitar 6.000 personil militer yang ditangkap karena keterlibatan dalam kudeta.

Puluhan ribu orang telah ditangkap karena keterlibatan dalam kudeta, termasuk 9.000 polisi, 3.000 jaksa serta sejumlah dosen, guru dan wartawan senior.

Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menuduh Amerika terlibat dalama kudeta, minimal secara pasif, karena mengetahui pengerahan peralatan militer dari pangkalan tersebut untuk melakukan kudeta dan tidak melaporkannya kepada pemerintah Turki. Menteri Perburuhan Süleyman Soylu, bahkan secara terang-terangan mengatakan: “Amerika di belakang kudeta ini,” demikian seperti ditulisnya di akun Twitter miliknya.

Presiden Obama sendiri telah membantah desas-desus dirinya mengetahui rencana kudeta tersebut, meski hal itu sangat patut dipertanyakan mengingat kemampuan peralatan inteligen Amerika-NATO di Incirlik memungkinkan Amerika meretas semua saluran komunikasi di Turki.

Menurut laporan media Iran seperti dikutip Gilad Atzmon di blognya, Minggu (24 Juli), inteligen Rusia mengetahui rencana kudeta dan mengingatkan Erdogan beberapa saat sebelum tentara komando pemberontak menyerbu hotel peristirahatan Erdogan di Marmaris. Hal inilah yang telah menyelamatkan Erdogan dari kudeta.  - Cahyono Ady Blog

Turki: Jika Gulen Tidak Diekstradisi, Hubungan AS-Turki Memburuk

turki-jika-gulen-tidak-diekstradisi-hubungan-as-turki-memburuk
Menteri Luar Negeri Turki memperingatkan Amerika Serikat jika tetap menolak mengekstradisi Fethullah Gulen, Pemimpin gerakan Hizmet.

Kantor berita Reuters (25/7) melaporkan, Mevlut Cavusoglu, Menlu Turki, Senin (25/7) menegaskan, penolakan Amerika untuk mengekstradisi Fethullah Gulen yang dituduh terlibat dalam kudeta gagal di negara itu, akan menyebabkan hubungan bilateral dua negara memburuk.

Cavusoglu menambahkan, sejumlah duta besar Turki akan dipecat karena dituding terlibat dalam aksi kudeta 15 Juli lalu.

Pemerintah Ankara menganggap Gulen, yang saat ini mengasingkan diri di Amerika Serikat, sebagai pelaku utama kudeta di Turki.

Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Turki berulang kali meminta ekstradisi Gulen dari Amerika, namun Washington menekankan perlunya pengkajian aturan ekstradisi.

Gedung Putih mengumumkan, saat ini belum diambil keputusan terkait diterima atau tidaknya permintaan Turki tersebut. - Parstoday

Wednesday, July 20, 2016

21 Ribu Guru Dipecat Setelah Kudeta Gagal di Turki

Pembersihan besar-besaran oleh rezim Pemerintah Presiden Turki Tayyip Erdogan berlanjut sebagai “ganjaran” atas upaya kudeta militer. Kali ini, Turki mencabut izin 21.000 guru dan memerintahkan 1.577 dekan mengundurkan diri.

Data itu diungkap seorang pejabat Departemen Pendidikan kepada Reuters. Para pekerja di sektor pendidikan itu jadi target pembersihan oleh rezim Erdogan karena dicurigai terkait dengan ulama Fethullah Gulen yang dituduh dalang upaya kudeta.


Gulen saat ini tinggal di pengasingan di Pennsylvania, Amerika Serikat. Pemerintah Turki secara resmi sudah meminta agar Gulen dideportasi ke Ankara.

”Lisensi dari 21.000 guru yang bekerja di lembaga-lembaga swasta telah dibatalkan. Bahwa (dugaan) sebagian besar terkait dengan kegiatan teroris telah dipertimbangkan,” kata pejabat kementerian itu yang menolak diidentifikasi, Rabu (20/7/2016).

Laporan lain dari kantor berita yang dikelola negara Turki, Anadolu, menyatakan bahwa Kementerian Pendidikan telah memecat 15.200 tenaga pendidik.

Sementara itu, Dewan Pendidikan Tinggi Turki telah memerintahkan agar 1.577 dekan di seluruh perguruan tinggi—baik negeri maupun swasta—di seluruh negeri untuk mengundurkan diri.

Selain itu, 399 karyawan di Kementerian Keluarga dan Sosial juga telah telah dilucuti dari tanggung jawab mereka pada hari Selasa kemarin. Sebanyak 257 orang yang bekerja di kantor perdana menteri juga dipecat.

Cara Erdogan Lolos dari Bidikan Pesawat Tempur F-16

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan naik pesawat jet pribadi saat terbang pulang dari Marmaris ke Istanbul beberapa jam setelah kudeta militer berlangsung dibidik oleh dua pesawat jet tempur F-16. Namun, pesawat Erdogan tiba-tiba menyelinap hilang dari bidikan jet tempur yang dipiloti militer pengkudeta.

Dua jet tempur F-16 yang membidik pesawat jet mewah Erdogan Gulfsream sejatinya sudah siap dengan tembakan rudal Sidewinder.
Namun, pilot pengkudeta tidak sempat menembakannya dalam momen langka yang hanya beberapa menit itu.

Arda Mevlutoglu, seorang wartawan Turki yang mengkhususkan diri di bidang militer memberikan analisa lolosnya Erdogan dari upaya pembunuhan oleh jet-jet tempur canggih itu.

Menurutnya, pilot Presiden Erdogan sudah mempunya rencana cerdik. Sang pilot, katanya, mengalihkan transponder radio pesawat untuk dicocokkan dengan sebuah pesawat sipil, sehingga pesawat Gulfstream secara efektif "menyamar" sebagai pesawat sipil. Hal ini terjadi, karena saat itu langit di dekat Istanbul juga ramai lalu lalang pesawat sipil atau pesawat komersial.

Ketika penyamaran itu sukses, muncul pesawat pesawat tempur yang dipiloti pasukan loyalis Erdogan. Pilot tempur itu lantas mengejar dua pesawat jet tempur F-16 pemberontak yang sempat membidik pesawat Erdogan.

Erdogan sendiri ketika ditanya soal ancaman penembakan jatuh pesawatnya saat kudeta, menolak menjelaskan “tipu muslihat” pilot pesawatnya. Dia hanya berujar bahwa hanya ada “kecelakaan komunikasi”.

Kudeta militer yang berakhir dengan kegagalan telah menewaskan hampir 300 tentara pemberontak, pasukan loyalis, polisi dan warga sipil. Ketika kudeta pecah, kota Istanbul mirip medan tempur, di mana bermunculan jet tempur, tank dan beberapa helikopter militer.

Setelah Erdogan lolos dari upaya pembunuhan, para pasukan loyalisnya membalas dengan menyerang pesawat-pesawat pemberontak. Laporan sejumlah media Turki menyebut pilot-pilot loyalis Erdogan menembak jatuh helikopter pemberontak dan mengebom landasan pacu untuk mencegah pesawat pemberontak lainnya melakukan lepas landas.

Ada beberapa contoh dalam sejarah kudeta militer di mana pesawat tempur canggih memainkan peran penting. Kini, pasca-kudeta militer gagal, Angkatan Udara Turki—salah satu yang terbesar dan paling modern di Eropa—dalam proses perombakan besar-besaran, sehingga mau tidak mau kekuatan militer Turki akan berkurang.

”Tampaknya para pemberontak sangat teratur, terutama di Angkatan Udara,” kata Arda Mevlutoglu, mengacu pada langkah militer Turki yang memilih opsi Angkatan Udara sebagai “motor” kudeta, kepada The Daily Beast, Selasa (19/7/2016).

Pasukan Anti-Erdogan setidaknya menguasai empat jet tempur F-16, empat KC-135 tanker udara, sepasang helikopter Blackhawk , enam pesawat angkuat C-160 dan C-130 dan banyak pesawat militer lain. Data ini belum termasuk laporan 42 helikopter militer Turki yang hilang dari markas dan sejumlah kapal Angkatan Laut yang bertugas di Laut Merah.

Ahli penerbangan Italia, David Cenciotti, menuliskan analisa situasi lalu lintas kontrol udara Ankara dan sekitarnya saat kudeta pecah, dalam sebuah blog di The Aviationist . Menurutnya, pukul 22.00 pada malam hari tanggal 15 Juli 2016, sepasang jet tempur F-16 bersenjata telah lepas landas dari pangkalan udara Akinci, sebelah utara dari Ankara.

Pengendali lalu lintas udara, tampaknya berpihak pada pemberontak, dengan berkomunikasi via radio dengan rekannya di bandara Esenboga di Ankara. Menurutnya, ketika jet-jet F-16 pemberontak terbang tinggi di atas Ankara, koordinasi dengan kontrol lalu lintas udara lokal tidak akan mungkin terjadi.

Seorang mantan perwira militer Turki kepada Reuters, juga pernah mengungkap ancaman dua jet tempur F-16 pemberontak terhadap pesawat Erdogan saat dalam penerbangan pulang dari Marmaris ke Istanbul.

”Setidaknya dua F-16 melecehkan pesawat Erdogan ketika berada di udara,” katanya. Mantan perwira militer yang memiliki pengetahuan tentang peristiwa itu, mengaku tidak tahu mengapa dua jet tempur F-16 pemberontak itu tidak menembak pesawat Erdogan.

Sebaliknya, pesawat Presiden Turki itu mencapai tujuan sebelum fajar tanpa mengalami kerusakan pada hari Sabtu. ”Mengapa mereka tidak menembak itu adalah sebuah misteri,” imbuh mantan pejabat militer Turki yang menolak diidentfikasi itu. - Sindo