Showing posts with label China. Show all posts
Showing posts with label China. Show all posts

Saturday, October 22, 2016

Kapal Perang AS Masuk ke Laut China Selatan


Kapal Perang AS Masuk ke Laut China Selatan
Sebuah kapal perang perusak Amerika Serikat nekat patroli di dekat pulau-pulau yang diklaim oleh China di Laut China Selatan pada hari Jumat. Aksi kapal perang AS USS Decatur itu sebagai aksi menentang klaim China di Laut China Selatan.



Para pejabat AS mengatakan aksi kapal perang USS Decatur itu sebagai tindakan terbaru Washington terhadap China yang membatasi hak kebebasan navigasi di perairan strategis. Patroli berlangsung di dekat Kepulauan Paracel.

Patroli kapal perang USS Decatur itu pertama kali dilaporkan Reuters, Sabtu (22/10/2016). Kapal perang perusak itu sengaja patroli di dekat perairan yang diklaim oleh China, tapi tdak melebihi batas teritorial 12 mil laut dari pulau-pulau yang diklaim China.

Pentagon mengatakan kapal USS Decatur melakukan transit secara rutin tanpa pengawalan kapal dan tanpa insiden.

Baca juga : 3 Sinyal Perang Nuklir akan Segera Dimulai


Gedung Putih juga sudah mengkonfirmasi patroli kapal perang AS itu. ”Operasi ini menunjukkan bahwa negara-negara pantai mungkin tidak sah membatasi hak navigasi, kebebasan dan penggunaan yang sah di laut, bahwa AS dan semua negara berhak untuk latihan di bawah hukum internasional,” kata juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, dalam sebuah jumpa pers.

Patroli kapal perang AS terbaru ini merupakan penentangan keempat Washington atas klaim maritim berlebihan oleh China di Laut China Selatan pada tahun lalu.

Sementara itu, Pemerintah China marah dan memprotes patroli kapal perang AS. Kementerian Pertahanan China menyebut patroli kapal perang AS itu sebagai tindakan ilegal dan provokatif.

Dalam sebuah pernyataan di situsnya, kementerian itu mengatakan dua kapal perang China telah memperingatkan kapal perang AS agar meninggalkan lokasi patroli. Militer China bersumpah akan meningkatkan patroli udara dan laut sesuai dengan kebutuhan.

Dua kapal China yang dikerahkan untuk memperingatkan kapal perang AS agar hengkang dari lokasi patroli adalah kapal perang Guangzhou dan Luoyang.

”Ini adalah perilaku ilegal yang serius, dan sengaja berperilaku provokatif. Kementerian Pertahanan China tegas menentang ini dan telah mengajukan pernyataan (protes) serius pada pihak AS,” bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan China. - Sindo

Friday, October 14, 2016

Rusia Bangun Sistem Pertahana Rudal dengan China

Rusia Bangun Sistem Pertahana Rudal dengan China
Rusia dan China akan bekerjasama dan memperkuat hubungan militer mereka. Hal ini dibuktikan setelah pejabat militer kedua negara mengumumkan akan melakukan latihan pertahanan rudal dalam jangka waktu tiga bulan ke depan.

Berita ini muncul pasca Rusia menyepakatai kerjasama dengan Turki dan mengumumkan strategi militer terkoordinasi dalam perang Suriah dan pembangunan pipa gas baru di antara kedua negara.

Dalam sebuah forum keamanan di Beijing minggu ini, pejabat senior China dan Rusia sepakat bahwa mereka harus melawan upaya Amerika Serikat (AS) untuk membangun perisai pertahanan anti rudal. As berencana membangun perisai pertahanan anti rudal di Korea Selatan (Korsel) untuk mengantisipasi serangan Korea Utara (Korut).

"Sistem pertahanan rudal sangat merusak kepentingan keamanan nasional China dan Rusia. Chian dengan tegas menentang dan sangat mendesak AS dan Korsel untuk mempertimbangkan kembali pilihan mereka," bunyi pernyataan bersama petinggi militer Rusia Letnan Jenderal Viktor Poznikhir,  dan China Mayor Jenderal Cai seperti dikutip dari Express, Jumat (14/10/2016).

Poznikhir bahkan menuduh Pentagon mengembangkan sistem pertahanan rudal untuk menyerang musuh-musuhnya. "Jika salah satu dari gladiator mengambil perisai, itu akan memberinya keuntungan yang nyata dan membuat dia berpikir bahwa dia akan bisa menang, terutama jika ia menyerang pertama kali. Apa yang akan dilakukan gladiator lain? Tentu ia juga akan mengambil perisai dan juga pedang panjang dan kuat," katanya.

Hubungan antara Rusia dan AS tengah berada di bawah tekanan sebagai akibat dari serangan udara Rusia di Suriah, yang dinilai melanggar gencatan senjata kesepakatan kedua negara.

Thursday, October 6, 2016

Petinggi Militer AS: Perang Dunia III Hampir Pasti Terjadi

Petinggi Militer AS: Perang Dunia III Hampir Pasti Terjadi
Para pejabat militer Amerika Serikat (AS) menyatakan sebuah perang skala penuh antara negara-negara hampir pasti terjadi dan akan sangat mematikan. Peringatan ini muncul seiriing kebijakan China dan Rusia meningkatkan kemampuan militernya.

Mayor Jenderal William Hix memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan senjata canggih akan mempercepat laju perang. Peringatan ini datang setelah Rusia dan China mengerahkan pasukan militer konvesional dalam jumlah besar, sementara Korea Utara (Korut) melakukan uji coba nuklir meskipun telah dijatuhi sanksi oleh PBB.

"Konflik konvesional di masa depan akan sangat mematikan serta cepat, dan kita tidak memiliki stopwatch. Kecepatan di mana mesin dapat membuat keputusan di masa depan akan menantang kemampuan kita untuk mengatasinya, menuntut hubungan baru antara manusia dan mesin," katanya seperti dikutip dari laman Express, Kamis (6/10/2016).

Hix merujuk pada kemajuan teknologi China dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Ia pun memperingatkan bahwa perkembangan tersebut harus memaksa Gedung Putih untuk mempersiapkan diri dalam skala yang belum pernah dilihat militer AS sejak perang Korea.

Sementara petinggi militer AS lainnya, Letnan Jenderal Joseph Anderson, mengatakan AS menghadapi ancaman dari sebuah negara bangsa yang modern yang bertindak agresig dalam persaingan militer. Sedangkan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mark Milley mengatakan ancaman itu hampir pasti dan tentara AS harus bersedia untuk terlibat dalam perang cyber dan siap untuk bertarung di perkotaan yang kompleks. Dia menambahkan: "Meskipun kami sudah siap sekarang, kita akan ditantang."

Katharina McFarland, bertindak asisten sekretaris militer untuk akuisisi, logistik, dan teknologi senjata mengklaim masa depan perlu dirancang lebih baik. "Sebagai seorang insinyur, saya pikir dalam hal antarmuka yang sederhana - tidak peduli apa helikopter, Anda bisa masuk dan mengoperasikannya."

Friday, September 30, 2016

China: Jepang Main Api jika Patroli di Laut China Selatan

China: Jepang Main Api jika Patroli di Laut China Selatan
Kementerian Pertahanan China, mengatakan Jepang “bermain api” dengan rencananya untuk patroli di perairan sengketa di Laut China Selatan. Pernyataan keras Beijing ini muncul setelah Tokyo mengumumkan rencananya untuk patroli di kawasan itu dengan Amerika Serikat (AS).

Menteri Pertahanan Jepang, Tomomi Inada, telah mengumumkan bahwa Tokyo akan meningkatkan keterlibatannya di Laut China Selatan dengan menggelar latihan bersama bersama Angkatan Laut AS. Jepang juga ingin membantu meningkatkan kapasitas Angkatan Laut negara-negara di kawasan Laut China Selatan.

Pengumuman itu mendapat respons keras dari Kementerian Pertahanan China. ”Pengumuman itu bertujuan untuk mengacaukan situasi Laut China Selatan dan mencoba untuk mendapatkan keuntungan dari perairan bermasalah. Kami harus sungguh-sungguh mengatakan bahwa Jepang ini salah perhitungan,” kata juru bicara kementerian itu, Yang Yujun.

“Jika Jepang ingin melakukan patroli bersama atau latihan bersama di perairan yang dikelola oleh China, itu hanya seperti bermain dengan api, dan militer China tidak akan duduk dan menonton,” lanjut Yujun, seperti dikutip dari IB Times, Jumat (30/9/2016).

China mengklaim kedaulatan hampir seluruh kawasan Laut China Selatan dan telah mencela tindakan AS dan Jepang yang disebut Beijing sebagai aksi campur tangan. China juga menolak klaim parsial dari negara-negara di Asia Tenggara.

Beijing pada hari Senin lalu untuk pertama kalinya mengirim jet-jet tempur yang mendekati wilayah yang direspons militer Jepang dengan manuver “scramble”. Ada sekitar 40 pesawat jet tempur China yang bermanuver menuju Pasifik Barat untuk latihan tempur.

Monday, September 19, 2016

AS Tak Siap Perang Dengan Rusia dan China

AS Tak Siap Perang Dengan Rusia dan China
Surat kabar “The National Interest” berdasarkan pertemuan Komite Senat Angkatan Bersenjata Amerika, melaporkan bahwa Angkatan Bersenjata AS tidak siap melawan ancaman Rusia dan China.

Beberapa kepala staf militer dalam pertemuan tersebut berbicara tentang rendahnya semangat militer Amerika dalam bela negara.

Jenderal Mark A. Milley, Kepala Staf Angkatan Darat Amerika (CSA) mengumumkan bahwa sikapnya tidak berubah dan seperti sebelumnya ia menyakini bahwa pasukan yang berada di bawah komandonya untuk melaksanakan strategi keamanan tanpa harus mengambil banyak resiko, tidak cukup pengalaman.

Laksamana John Richardson, Kepala Staf Angkatan Laut AS pada pertemuan di Senat, mengatakan bahwa masalah yang sama juga terjadi pada Angkatan Laut.

Richardson juga mengatakan, “jika kita terseret ke salah satu konfrontasi seperti ini, kita akan menang, namun kita membutuhkan waktu dan biaya yang, serta lebih banyak korban”

Wednesday, September 14, 2016

Pertunjukan Kekuatan Militer China di Samudra Pasifik

Kementerian pertahanan Cina menyatakan jet-jet tempur negara ini memasuki zona udara samudera Pasifik barat melalui teluk Bashi, dan di wilayah ini menggelar latihan perang.

Militer Cina dalam statemennya mengungkapkan bahwa pesawat pembom jenis H, jet tempur Sukhoi 30, dan pesawat pembawa bahan bakar ikut serta dalam manuver militer tersebut. Dalam statemennya, angkatan bersenjata Cina membantah tudingan sejumlah kalangan mengenai latihan perang ini, dan mengklaim pengiriman jet-jet tempur dalam manuver militer sesuai dengan aturan internasional, dan tidak melanggar ketentuan tentang zona udara dan laut.

AS dan Jepang mengkritik Cina yang menilai Beijing telah mengirimkan jet tempur dan kapal perangnya di luar area lautnya sendiri, dan melakukan manuver militer di sana. Bersamaan dengan digelarnya latihan perang Cina di kawasan samudera Pasifik barat, AS mengirimkan pesawat pembom dan kapal perang nuklir pembawa pesawat ke semenanjung Korea, serta menerbangkan pesawat bombernya di zona udara Korea Selatan. Pamer kekuatan yang ditunjukan Cina yang direaksi oleh AS, mengindikasikan persaingan adu kekuatan militer dan strategi antara Bejing dan Washington di kawasan Samudera Pasifik.

Pemerintah Cina mengkhawatirkan terjadinya transformasi terbaru di semenanjung Korea menjadi sarana bagi militer AS menancapkan pengaruhnya lebih kuat di kawasan tersebut. Apalagi, media Korea Selatan melaporkan sejumlah warga negara ini meminta Washington menempatkan sistem pertahanan rudal nuklir AS di negaranya setelah Korea Utara berhasil mengujicoba nuklir barunya yang kelima.

Manuver militer yang ditampilkan Cina di samudera Pasifik sebagai bentuk kesiapan Beijing menghadapi segala bentuk petualangan dan intervensi negara-negara transregional dalam transformasi di kawasan itu. Sejak setahun lalu, tensi friksi antara Beijing dan Washington mengenai sengketa antara AS dan negara-negara tetangga di kawasan semakin meningkat. Sikap mundur salah satu pihak akan dimanfaatkan oleh pihak lawan.

AS selama ini mendukung sejumlah negara yang terlibat konflik dengan Cina dalam sengketa kepemilikan wilayah di kawasan Laut Cina Selatan. Sikap tersebut memicu kemarahan Beijing. Cina memandang friksi laut Cina Selatan harus diselesaikan oleh negara-negara kawasan melalui dialog, dan Gedung Putih tidak berhak untuk mengintervensi masalah tersebut. Bejing menilai intervensi Washington hanya akan menambah kerumitan masalah.

Pasalnya, AS berupaya memanfaatkan friksi antara Cina dan negara-negara kawasan Laut Cina Selatan sebagai krisis antara Beijing dengan negara-negara yang mengklaim kepemilikan wilayah yang sama. Perselisihan antara Cina dan AS tersebut saat ini berujung persaingan adu kekuatan antara kedua negara. Kebijakan ekspansi pengaruh AS di kawasan Asia-Pasifik berseberangan dengan kebijakan menjaga stabilitas yang dilancarkan Cina. Masalah ini membutuhkan interaksi diplomasi lebih serius melebihi sebelumnya.

Thursday, September 8, 2016

China Buat Radar Kuantum yang Bisa Deteksi Jet Siluman

China Buat Radar Kuantum yang Bisa Deteksi Jet Siluman
Sebuah perusahaan China telah mengembangkan dan menguji sistem radar yang menggunakan belitan kuantum yang diklaim bisa mendeteksi peralatan militer berteknologi siluman termasuk pesawat jet.

Radar kuantum itu sudah diuji coba pada pertengahan Agustus 2016. Demikian laporan media Pemerintah China, Xinhua, yang dikutip Jumat (9/9/2016).

Radar kuantum China ini dikembangkan oleh Intelligent Perception Technology Laboratory of the 14th Institute di CETC, sebuah perusahaan pertahanan dan elektronik di China.

Sistem radar kuantum mampu mendeteksi target pada kisaran 100 kilometer di lingkungan dunia nyata. Perangkat ini menggunakan teknologi deteksi foton tunggal.

Masih menurut laporan media China, sistem radar itu menggunakan foton belitan kuantum untuk memberikan kemampuan deteksi yang lebih baik daripada sistem radar konvensional. Metode ini akan berguna untuk melacak target dengan penampang radar rendah, seperti pesawat jet modern berteknologi siluman.

Teknologi ini juga dapat digunakan dalam biomedis, karena radar kuantum membutuhkan energi yang lebih rendah dan dapat digunakan untuk penyelidikan non-invasif untuk objek dengan reflektifitas rendah, seperti mendeteksi sel-sel kanker.

Sebelumnya, China juga meluncurkan satelit komunikasi kuantum pertama di dunia, yang menggunakan belitan kuantum untuk kriptografi.

Monday, September 5, 2016

Kuat Dugaan, Perang Laut AS-Cina akan Terjadi

Kuat Dugaan, Perang Laut AS-Cina akan Terjadi
Mantan Wakil Komandan Angkatan Laut, Amerika Serikat mengatakan, kemungkinan besar akan terjadi sebuah pertempuran laut antara Amerika dan Cina.

Kantor berita Sputnik (3/9) melaporkan, Seth Cropsey, mantan Wakil Komandan AL Amerika sekaligus anggota kelompok think tank yang berafiliasi ke kubu neokonservatif, Institut Hudson, dalam artikel kontroversialnya meminta pemerintah Barack Obama, Presiden Amerika untuk mengambil langkah-langkah yang "lebih militer" dalam menghadapi ekspansi Cina.

Seth Cropsey memprediksikan, perang Amerika dan Cina akan menjadi hal yang pasti dan Washington harus mengerahkan seluruh fasilitas untuk membatasi kemampuan militer Cina.

Ia menjelaskan, jika Cina tidak mematuhi aturan internasional, maka kita akan menyaksikan pertempuran laut antara Amerika dengan Angkatan Laut Cina, hal itu akan terjadi di saat pasukan AL Amerika dari segi kuantitas mengalami penurunan.

Mantan Wakil Komandan AL Amerika menambahkan, pemerintahan Obama sangat lamban dalam menngurangi kemungkinan terjadinya perang ini.

Sejumlah pejabat militer Amerika percaya bahwa dengan meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan dan dengan maksud untuk membatasi dampak-dampak perang yang pasti, maka Cina harus dikucilkan tanpa harus terjun ke dalam peperangan.

Hubungan Cina dan Amerika memburuk setelah Cina membangun beberapa pulau buatan di laut Cina Selatan.

Monday, August 22, 2016

Rusia Akan Membentuk Pakta Pertahanan Tandingan NATO

Rusia Akan Membentuk Pakta Pertahanan Tandingan NATO
Ketua Komisi Pertahanan, Parlemen Rusia mengusulkan pembentukan sebuah aliansi militer baru selain Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO, yang dianggotai Rusia, Cina, India dan Iran untuk memerangi terorisme.

United Press International (19/8) melaporkan, Vladimir Komoedov, Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Rusia, Jumat (19/8) menuturkan, sudah tiba waktunya untuk membentuk sebuah aliansi militer non-NATO untuk memerangi terorisme dengan dianggotai Rusia, Cina, India dan Iran.


KITCHEN SET MINIMALIS MODERN


Ia menambahkan, aliansi ini dapat mengalahkan kelompok-kelompok teroris di kawasan Timur Tengah.

Menurut Vladimir Komoedov, keempat negara ini bukan saja punya kapasitas militer, juga memiliki pengaruh politik yang besar.

Maria Zakharova, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Kamis (18/8) di Moskow mengatakan, perundingan Rusia, Iran dan Turki terkait krisis Suriah dan kawasan, efektif. - ParsToday

Friday, August 12, 2016

Tegang dengan China, AS Kirim 3 Pesawat Bomber Nuklir ke Pasifik

Tegang dengan China, AS Kirim 3 Pesawat Bomber Nuklir ke Pasifik
Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengirim tiga pesawat pengebom (bomber) nuklir ke kawasan Pasifik untuk pertama kalinya sejak ketegangan dengan China pecah. Ketegangan itu dipicu sengketa kawasan Laut China Selatan, di mana Beijing membangkang putusan Pengadilan Tetap Arbitrase yang tidak mengakui klaim China atas kawasan maritim itu.

Pesawat-pesawat bomber nuklir AS itu berbahaya, karena berpotensi membunuh semua orang di wilayah Pasifik jika senjata nuklir ditembakkan.

Selain soal krisis Laut China Selatan, ketegangan Washington dan Beijing juga dipicu rencana AS untuk menyebarkan sistem anti-rudal THAAD di Korea Selatan. China merasa, sistem anti-rudal THAAD AS tidak hanya untuk melindungi Korea Selatan dari ancaman serangan Korea Utara, tapi juga diarahkan pada Beijing.

Pengiriman tiga jenis pesawat pengebom nuklir strategis AS ke Pasifik ini sebagai upaya Washington untuk meyakinkan sekutu-sekutunya di Asia  di tengah meningkatnya “agresi” China di Laut China Selatan setelah kalah dalam Pengadilan Tetap Arbitrase di Den Haag.

Angkatan Udara AS pada hari Rabu telah mengumumkan ketiga jenis pesawat bomber nuklir yang dikerahkan, yakni Boeing B-52H Stratofortress, Rockwell B-1B Lancer, dan Northrup Grumman B-2A Spirit. Ketiga pesawat berbahaya itu akan beroperasi secara bersamaan di wilayah Komando Pasifik AS untuk mendukung misi Continuous Bomber Presence (CBP) dan Bomber Assurance and Deterrence (BAAD).

Dalam pengumumannya, Angkatan Udara AS mengatakan bahwa pengerahan tiga pesawat bomber nuklir ke Pasifik sebagai kebutuhan untuk menangkal potensi lawan. Namun AS menolak untuk secara eksplisit menyebut nama China sebagai lawan utama di Pasifik.

Situs analis pertahanan, IHS Jane, menyatakan China jelas jadi lawan utama AS di Pasifik. ”Kekuatan militernya yang tumbuh menempatkan Beijing di sisi lain dari laras nuklir Amerika,” bunyi laporan situs analis pertahanan Barat itu, yang dikutip Sputniknews, Jumat (12/8/2016).

Tak mau kalah, China juga semakin gencar mengerahkan kapal-kapalnya ke wilayah sengketa Laut China Selatan. Langkah China ini menyusul pernyataan AS yang menyebut bahwa setiap upaya militerisasi di kawasan akan menyeberangi ”garis merah”.

Beijing telah mempertahankan kehadiran dua kapal kecil dan tiga kapal keamanan di sekitar Scarborough Shoal, salah satu wilayah sengketa utama di Laut China Selatan. Para pejabat AS yang akrab dengan laporan intelijen mengatakan kepada Washington Free Beacon bahwa sekarang ada lebih dari selusin kapal China di kawasan tersebut.

Taktik pengerahan kapal-kapal keamanan yang diikuti ratusan kapal nelayan Beijing ini mirip dengan taktik yang digunakan China dalam menghadapi Jepang dalam sengketa di Laut China Timur. - Sindo

Tuesday, August 9, 2016

Kapal Perang AS Mengunjungi China

kapal-perang-as-mengunjungi-china
Kapal perang USS Benfold Amerika Serikat (AS) tiba di pelabuhan Qingdao, China, sebagai upaya untuk membangun kepercayaan antara Angkatan Laut AS dan China. Kunjungan kapal perang AS ke China ini merupakan yang pertama kali sejak pengadilan Arbitrase Laut China Selatan di Den Haag memenangkan gugatan Filipina atas sengketa klaim wilayah Laut China Selatan.

Komandan kapal perang USS Benfold, Justin L. Harts, mengatakan kunjungan ini bertujuan untuk membangun hubungan.



”Para pelaut adalah pelaut di akhir hari, baik itu di Timur atau di Barat; kita semua menghadapi tantangan yang sama di laut. Kesamaan ini mempersatukan kita. Saya yakin bahwa pada akhir pekan kita akan melihat bahwa pelaut Amerika dan pelaut China sedekat seperti pelaut lainnya di laut lepas,” kata Harts, seperti dikutip dari situs US 7th Fleet’s, semalam (9/8/2016).

Setelah kedatangannya  pada hari Senin, kapal perang USS Benfold mengadakan latihan dengan Angkatan Laut China. Kunjungan kapal perang AS ini juga diklaim bertujuan untuk memberikan kesempatan pada pelaut China dan AS berinteraksi dan membangun hubungan melalui kepentingan maritim bersama.

China seperti diketahui marah dan tidak terima dengan putusan Pengadilan Tetap Arbitrase (PCA) soal sengketa Laut China Selatan yang keluar pada 12 Juli 2016 lalu. Putusan pengadilan di Den Haag itu menyatakan bahwa klaim teritorial China di Laut China Selatan tidak memiliki dasar hukum. Beijing juga dinyatakan melanggar kedaulatan Filipina.

Sejak putusan PCA muncul itu, China terus melakukan manuver untuk menjaga pulau-pulau buatan di Kelompok Spratly yang disengketakan. Beijing juga mendaratkan dua pesawat sipil di landasan baru pada terumbu Mischief dan Subi yang disengketakan serta mengirim pasukan coast guard (penjaga pantai) untuk memblokir kapal nelayan Filipina mencapai wilayah yang diperebutkan.

Hubungan AS dan China dalam beberapa hari terakhir juga terus memanas, setelah AS dan sekutunya—Jepang dan Australia—mendesak China tunduk pada putusan PCA. Media-media Pemerintah China bahkan mengobarkan retorika perang terhadap AS dalam editorialnya. - Sindo

Friday, July 29, 2016

AS Akan Kerahkan Satu Skuadron Bomber B-1 ke Guam

Pentagon Amerika Serikat (AS) berencana mengerhkan satu skuadron pesawat jet pengebom (bomber) jarak jauh B-1 ke Guam, pangkalan militer AS di Pasifik. Pengerahan pesawat bomber B-1 ke Guam ini akan menjadi yang pertama kali dalam satu dekade.

Guam berjarak sekitar 2.000 mil dari Laut China Selatan. Pesawat-pesawat pengebom jarak jauh itu akan diterbangkan dari Pangkalan Angkatan Udara Ellsworth di South Dakota bulan depan. Sebanyak 300 penerbang akan turut mendampingi pengerahan pesawat pengebom tersebut.


”Unit B-1 membawa perspektif yang unik dan tahun pertempuran diulang, ini pengalaman operasional dari Komando Pusat untuk Pasifik,” bunyi pernyataan  Angkatan Udara AS, seperti dikutip Sputniknews, Jumat (29/7/2016).

”Mereka akan memberikan kemampuan serangan yang signifikan, cepat yang memungkinkan kesiapan dan komitmen untuk penanggulangan kami, menawarkan jaminan untuk sekutu kami, dan memperkuat keamanan regional dan stabilitas di kawasan Indo-Asia-Pasifik,” lanjut Angkatan Udara AS.

Satu skudaron pesawat B-1 itu nantinya akan menggantikan pesawat-pesawat pengebom B-52 yang saat ini ditempatkan di Guam.

Penyebaran pesawat itu berada di bawah rencana Pentagon untuk menggeser setidaknya 60 persen dari kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan Laut ke Pasifik pada tahun 2020. Ini merupakan strategi yang berlaku sejak 2014.

”Kami mungkin tidak memiliki banyak kekuatan seperti yang kami inginkan, tetapi 60 persen dari kekuatan akan berada di wilayah Asia Pasifik,” kata Wakil Menteri Pertahanan AS, Bob Work. - Sindo

Friday, April 17, 2015

Jet Tempur China dan Rusia Acak-acak Langit Jepang

Sindo- Angkatan Udara Jepang mengatakan, pesawat jet tempur Rusia dan China mengacak-acak langit atau wilayah udara Jepang. Bahkan manuver pesawat jet tempur dua negara besar itu disebut Jepang telah meningkat tajam sejak Perang Dingin tiga dekade silam.

Pesawat jet pembom Rusia disebut beraksi di langit utara, sedangkan pesawat jet tempur China bermanuver di wilayah udara selatan Jepang.



Angkatan Pertahanan Diri Jepang menyatakan, pada tahun ini sampai dengan 31 Maret, pesawat jet tempur Jepang tercatat melakukan aksi 944 kali untuk menghalau manuver pesawat jet tempur dua negara besar itu.

Angka itu meningkat 16 persen pada tahun lalu untuk periode yang sama. Itu adalah jumlah tertinggi kedua dari data yang dicatat sejak tahun 1958. ”Ini merupakan peningkatan yang tajam,” bunyi pernyataan Angkatan Pertahanan Diri Jepang (SDF) yang disampaikan seorang juru bicara, dalam konferensi pers, seperti dikutip Reuters, Kamis (16/4/2015).

SDF tidak merinci secara khusus manuver masing-masing dari mliter Rusia dan China di dekat wilayah pertahanan udara Jepang. Hanya saja, pesawat jet tempur China disebut lebih serang terbang melalui wilayah udara Jepang menuju Pasifik Barat.

Selama ini, Jepang dan China bersitegang soal klaim pulau di Laut China Timur. Sedangkan dengan Rusia, Jepang bersengketa pulau-pulau kecil di dekat Hokaido.

Sementara itu, Komandan Pasukan Amerika Serikat  di Pasifik, Laksamana Samuel Locklear, mengatakan aktivitas militer Rusia telah kembali seperti era Perang Dingin dalam beberapa bulan terakhir. Locklear mengatakan kepada Kongres AS bahwa kapal perang Rusia dikerahkan di kawasan Asia-Pasifik.

Sedangkan pesawat pembom dan pesawat patroli Rusia, lanjut dia, sering masuk ke wilayah udara Jepang di dekat Hokkaido dan empat pulau kecil yang diklaim oleh kedua negara.

Iran Ajak India, China dan Rusia Lawan Sistem Rudal NATO

MOSKOW - Iran mengajak Rusia, China dan India untuk melawan sistem perisai rudal NATO. Iran menyatakan siap bekerjasama dengan tiga negara itu untuk menghadapi ancaman NATO.

”Saya ingin mendukung ide pengembangan kerja sama pertahanan multifaset antara China, Iran, India dan Rusia untuk melawan ekspansi NATO di wilayah timur dan perisai rudalnya yang dipasang di Eropa,” kata Menteri Pertahanan Iran, Jenderal Hossein Dehqan, di sebuah Konferensi Keamanan Internasional di Moskow, Kamis kemarin.

Setelah menyampaikan ajakan itu, Dehqan, seperti dikutip RIA Novosti mengatakan, bahwa Rusia, China dan Iran dapat mengadakan pembicaraan pertahanan tripartit.

”Kami membahas aspek-aspek tertentu dari keamanan regional. Sudah diusulkan untuk mengadakan pertemuan trilateral Rusia, Iran dan China,” ujar Dehqan usai bertemu dengan Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoigu. Sementara itu, NATO berdalih penyebaran sistem perisai rudal NATO di Eropa Timur karena meningkatnya ancaman rudal balistik serta ancaman nuklir Iran.

”Ancaman terhadap negara-negara NATO yang ditimbulkan oleh proliferasi rudal balistik terus meningkat. Kerangka kesepakatan (dari program nuklir Iran) tidak mengubah fakta itu,” kata juru bicara NATO, Oana Lungescu, seperti dilansir Sputnik

Tuesday, April 7, 2015

Amerika Merasa Terganggu dengan Sepak Terjang China

Kepala Pentagon, Ashton Carter
Sindonews - Amerika Serikat merasa terganggu dan prihatin dengan sepak terjang China dalam beberapa masalah. Menurut pentagon, AS dan China memang bukan sekutu, tapi keduanya tidak harus bermusuhan.

Keprihatinan AS dengan sejumlah perilaku China itu diungkapkan Menteri Pertahanan AS atau Kepala Pentagon, Ashton Carter, saat jadi pembicara di sebuah acara di Arizona State University, Senin waktu AS.



Carter mengatakan, kebijakan Presiden AS, Barack Obama, tetap berkomitmen untuk membantu menjaga perdamaian di wilayah Asia.

Namun, kata Carter, Washington merasa terganggu oleh sepak terjang China dalam beberapa masalah, seperti kebijakan anggaran pertahanan China yang melonjak, cyber space dan sengketa wilayah regional (sengketa maritim).

”Kami dan banyak negara lain sangat prihatin tentang beberapa kegiatan yang dilakukan China,” kata Carter, seperti dikutip AFP, Selasa (7/4/2015). "Anggaran buram pertahanan, kiprahnya di dunia maya, dan perilakunya di berbagai tempat seperti di Laut China Selatan dan Laut China Timur telah memicu sejumlah pertanyaan serius.”

Masih menurut Carter, eskalasi ketegangan antara AS dan China tidak perlu terjadi dan harus dihindari. ”AS dan China bukan sekutu, tapi kita tidak harus bermusuhan. Sebuah konstruktif dari hubungan AS yang kuat, sangat penting untuk keamanan dan kemakmuran global,” imbuh Carter.

Sunday, April 5, 2015

Militer China siap Luncurkan 3 Kapal Selam Terbaru

Okeznoe – Angkatan Laut China dilaporkan telah mempersiapkan tiga kapal selam bertenaga nuklir untuk memperkuat armadanya. Ketiga kapal selam nuklir ini memiliki kemampuan untuk menembakkan misil anti-kapal supersonic.


Ketiga kapal selam tersebut merupakan kapal selam serang Tipe-093G terbaru. Kapal selam itu merupakan versi peningkatan dari Tipe-093 yang telah digunakan angkatan laut China sejak beberapa tahun lalu. Peningkatan yang diberikan pada Tipe-093G antara lain modifikasi pada lambung kapal dan sistem peluncur misil vertikal.

China baru memperkenalkan kapal selam bertenaga nuklir mereka pada 2009, walaupun diduga telah mengembangkan teknologi tersebut sejak 1970-an. Saat ini China dikabarkan memiliki kapal selam serang dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan Amerika Serikat.

"Dilihat dari desain kapal, Tipe-093G seharusnya memiliki kapabilitas anti-kapal dan kemampuan untuk menghadapi kapal selam. Kemungkinan, dalam waktu dekat, kapal selam ini juga akan ditingkatkan dengan kemampuan untuk menyerang target di darat dengan rudal jelajah.," kata Ahli Senior Angkatan Laut China, Yin Zhuo, kepada China Daily, yang dikutip dari The Independent, Senin (6/4/2015).

Seperti yang telah diketahui, militer China sedang mengalami peningkatan kekuatan secara besar-besaran tahun ini. Anggaran belanja militer China meningkat jauh dari anggaran militer 2014. Angkatan laut China juga dilaporkan semakin memperkuat armada mereka di wilayah Samudera Hindia dan Laut China Selatan.

Saturday, April 4, 2015

Kesepakatan nuklir Iran : Iran Tak Boleh Bangun Reaktor Nuklir Selama 15 Tahun

Okezone – Iran dan enam negara besar (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China) sepakat untuk menandatangani kesepakatan nuklir Iran pada Kamis 2 April di Laussane, Swiss.

“Ini adalah keputusan yang penting sebelum perjanjian damai. Kami akan memulai untuk merumuskannya kesepakatan damai tersebut,” ujar Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE), Federica Mogherini, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (3/4/2015).


Para diplomat dari masing-masing negara telah melakukan perundingan selama delapan hari untuk membahas program nuklir Iran. Inti dari kesepakatan mereka adalah Iran diperbolehkan untuk tetap memproduksi uranium demi kepentingan pembangkit listrik di negaranya.

Namun, Iran akan mematuhi batas maksimal produksi uraniumnya. Selain itu, Iran harus mengurangi jumlah reaktor nuklirnya dan tidak diperbolehkan untuk membangun reaktor nuklir baru dalam jangka waktu 15 tahun.

Kesepakatan itu belum merupakan keputusan final. Para diplomat masih akan merumuskan perjanjian damai yang sifatnya permanen.

Kesepakatan damai ini setidaknya dapat membuat Iran terhindar dari sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan UE.

Friday, February 27, 2015

China Berencana Tempatkan Pasukan di Luar Negeri



VIVA - Rancangan undang-undang baru China yang akan menjadi kerangka hukum pengiriman pasukan ke luar negeri, untuk menjalani misi kontra-terorisme akan segera disahkan.

Dikutip dalam laporan Reuters, Jumat, 27 Februari 2015, beberapa pakar mengatakan RUU Anti-Terorisme akan mengatasi kekhawatiran para petinggi militer, tentang tidak adanya mekanisme formal menjalankan operasi.


Pengaturan pada Pasal 76 itu, merupakan sebagian kecil dari UU yang dimaksudkan untuk memperkuat upaya memerangi terorisme di dalam negeri, seperti diumumkan pada November 2014 lalu.

RUU itu telah menjalani pembahasan kedua oleh sebuah komite di parlemen, dan mungkin akan disetujui pada beberapa pekan atau bulan mendatang. Belum banyak orang China yang menjadi sasaran serangan terorisme di luar negeri.

Walau begitu, China memiliki banyak kepentingan terkait investasi di sektor energi, proyek konstruksi dan pertambangan pada banyak negara di dunia, termasuk Timur Tengah dan Afrika yang tidak stabil karena konflik bersenjata.

Resiko terkait berbagai proyek investasi China itu telah dibahas sejak 2011, ketika ribuan orang pekerja asal China harus dievakuasi dari Libya, selama terjadinya pemberontakan terhadap Moammar Kadhafi.

Pasal 76 akan memberi kewenangan bagi militer, untuk melakukan operasi kontra-terorisme di luar negeri, dengan persetujuan dari negara yang terkait.
"Ini merupakan evoluasi dalam cara berpikir China pada upaya kontra-terorisme," kata Daveed Gartenstein-Ross, peneliti kontra-terorisme yang berbasis di Washington DC

Diplomat China Perlihatkan Dukungan Bagi Rusia Soal Ukraina


VIVA - Barat harus mempertimbangkan kekhawatiran Rusia, atas masalah keamanan mereka terkait persoalan Ukraina. Demikian disampaikan Duta Besar China untuk Belgia, Qu Xing pada Kamis 26 Februari 2015.

Xing yang dikutip Reuters, Jumat 27 Februari 2015, mengkritik kompetisi yang terjadi antara Rusia dan Barat, terkait krisis Ukraina, mendesak Barat meninggalkan mentalitas 'zero-sum' dengan Rusia.

Dia merujuk pada sebuah teori ekonomi, yang merepresentasikan situasi di mana kemenangan satu pihak adalah kekalahan bagi lawannya. "Barat harus meninggalkan mentalitas zero-sum dan mempertimbangkan kekhawatiran nyata Rusia," ujar Xing.

Menurut Xing, intervensi eksternal menambah buruk krisis, serta memperingatkan bahwa Moscow akan merasa diperlakukan tidak adil, jika Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, tidak mengubah pendekatan.

Komentar Xing itu memperlihatkan pemahaman China atas posisi Rusia, setelah sebelumnya Beijing secara umum tidak terlihat ingin mendukung Rusia atas krisis di Ukraina.

China selama ini tampak berhati-hati, untuk tidak terseret dalam konflik antara Rusia dan Barat tentang masa depan Ukraina, dengan mengatakan ingin mengembangkan kerja sama yang bersahabat dengan Ukraina.

Sebaliknya juga menyebut menghormati independensi, kedaulatan, dan integritas teritorial Rusia. Xing menyampaikan komentarnya, seiring dengan pembicaraan yang berlangsung antara AS dan Eropa, untuk menambah sanksi bagi Rusia.

Pada Senin 23 Februari 2015, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menuduh Barat berusaha mendominasi, serta memaksakan ideologi mereka pada pihak lain.

Xing mengeluarkan kritik keras pada AS, dengan mengatakan keterlibatan Washington di Ukraina, akan menjadi gangguan dalam kebijakan luar negerinya.

"AS tidak bersedia melihat kehadirannya di mana pun dilemahkan, tetapi faktanya adalah sumber daya mereka terbatas, dan akan menjadi pekerjaan sulit untuk menjaga pengaruhnya dalam urusan eksternal," ucap Xing.

Persaingan Barat & Rusia Sumber Masalah di Ukraina

 


Okezone, BEIJING – Duta Besar China untuk Belgia, Qu Xing, melihat persaingan antara negara-negara Barat dengan Rusia merupakan sumber masalah krisis Ukraina saat ini. Dia meminta negara Barat untuk meninggalkan mentalitas “zero sum” yang hanya mencari pemenang dan mulai melihat posisi Rusia yang khawatir mengenai keamanan nasional mereka.


Menurutnya, intervensi yang dilakukan oleh negara-negara asing mempercepat terjadinya krisis dan memperingatkan mungkin Moskow merasa tidak diperlakukan secara adil jika Barat tidak mengubah pendekatan mereka.

“Barat harusnya meninggalkan mentalitas ‘zero sum game’ mereka dan mempertimbangkan kekhawatiran Rusia mengenai isu keamanannya,” kata Qu, sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (27/2/2015).

Negara Barat sedang membicarakan pengetatan sanksi terhadap Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Segei Lavrov menuduh Barat sedang berusaha mendominasi dan memaksakan ideologi mereka pada seluruh dunia.
Pernyataan sang dubes ini menunjukkan pengertian China atas posisi Rusia. Kedua negara telah bertemu dalam banyak isu-isu internasional, namun jarang sekali China mendukung Rusia mengenai konflik di Ukraina.