Monday, September 5, 2016

Tentara Suriah dan Hizbullah Siapkan Perang Besar di Perbatasan Israel

Tentara Suriah dan Hizbullah Siapkan Perang Besar di Perbatasan Israel
Tentara Suriah dan Gerakan Perlawanan Hizbullah Lebanon saat ini tengah mengkoordinasikan langkah-langkah akhir untuk meluncurkan operasi anti-terorisme gabungan skala besar di provinsi Quneitra, selatan Suriah. Hal ini diungkap oleh beberapa sumber militer pada hari Senin (05/09) kemarin.

“Tentara Suriah dan pejuang Hizbullah telah mengerjakan sebuah rencana bersama untuk mengakhiri militansi di Selatan Suriah, terutama di dekat Dataran Tinggi Golan,” kata sumber itu.

“Hizbullah telah mengerahkan sejumlah besar pasukannya di wilayah Quneitra yang menghubungkan Suriah ke wilayah pendudukan Golan,” tambah mereka.

Akhir bulan Agustus, Fatah al-Sham (nama baru front al-Nusra, kelompok teroris yang berafiliasi dengan al-Qaeda) menderita sejumlah besar korban tewas dan hancurnya peralatan militer akibat kekalahan yang berkelanjutan dalam serangan pasukan Tentara Suriah ‘di pusat-pusat mereka di Quneitra.

Tentara Arab Suriah menargetkan pusat-pusat pertemuan dan konsentrasi Fatah al-Sham dekat desa Um Batna Selatan kota al-Ba’ath, menewaskan beberapa teroris dan menghancurkan tiga kendaraan yang membawa sejumlah teroris dan volume besar senjata dan amunisi. - ArrahmahNews

Kuat Dugaan, Perang Laut AS-Cina akan Terjadi

Kuat Dugaan, Perang Laut AS-Cina akan Terjadi
Mantan Wakil Komandan Angkatan Laut, Amerika Serikat mengatakan, kemungkinan besar akan terjadi sebuah pertempuran laut antara Amerika dan Cina.

Kantor berita Sputnik (3/9) melaporkan, Seth Cropsey, mantan Wakil Komandan AL Amerika sekaligus anggota kelompok think tank yang berafiliasi ke kubu neokonservatif, Institut Hudson, dalam artikel kontroversialnya meminta pemerintah Barack Obama, Presiden Amerika untuk mengambil langkah-langkah yang "lebih militer" dalam menghadapi ekspansi Cina.

Seth Cropsey memprediksikan, perang Amerika dan Cina akan menjadi hal yang pasti dan Washington harus mengerahkan seluruh fasilitas untuk membatasi kemampuan militer Cina.

Ia menjelaskan, jika Cina tidak mematuhi aturan internasional, maka kita akan menyaksikan pertempuran laut antara Amerika dengan Angkatan Laut Cina, hal itu akan terjadi di saat pasukan AL Amerika dari segi kuantitas mengalami penurunan.

Mantan Wakil Komandan AL Amerika menambahkan, pemerintahan Obama sangat lamban dalam menngurangi kemungkinan terjadinya perang ini.

Sejumlah pejabat militer Amerika percaya bahwa dengan meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan dan dengan maksud untuk membatasi dampak-dampak perang yang pasti, maka Cina harus dikucilkan tanpa harus terjun ke dalam peperangan.

Hubungan Cina dan Amerika memburuk setelah Cina membangun beberapa pulau buatan di laut Cina Selatan.

Saudi Arabia Kerjasama Dengan Jasa Keamanan Israel Untuk Keamanan Haji

petugas haji arab saudi
Langkah Arab Saudi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan rezim Zionis Israel untuk menjaga keamanan jemaah haji, memicu kecaman dari Dunia Islam.

Kantor berita Qodsna (5/9) melaporkan, Syeikh Ekrima Sabri, Khatib Masjid Al Aqsa, Palestina memperingatkan masuknya perusahaan jasa keamanan G4S milik Israel ke tengah-tengah masyarakat Arab dan Islam.

Ia menegaskan, G4S tidak berhak melakukan aktivitas-aktivitas mata-mata dan keamanan terkait dengan jemaah haji.

Syeikh Ekrima Sabri menilai penandatanganan kontrak Saudi dan Israel itu dilakukan dengan tujuan untuk menginfiltrasi masyarakat Arab dan Islam.

"Penggunaan jasa sebuah perusahaan Israel untuk melayani jemaah haji adalah perbuatan haram," ujarnya.

Untuk menjaga keamanan jemaah haji dan mengawasi mereka lewat gelang elektronik yang dipakainya di musim haji tahun ini, Saudi bekerjasama dengan perusahaan jasa keamanan Israel, G4S.

G4S terkenal dengan perlakuan tidak manusiawinya terhadap para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Riyadh, awal Juli lalu mengumumkan, jemaah haji pada musim haji tahun ini akan dilengkapi dengan GPS dan informasi pribadi dan medis mereka untuk menghindari terulangnya insiden Mina tahun lalu.

Akibat kelalaian Saudi dalam mengelola pelaksanaan manasik haji, pada 24 Desember 2015, ribuan haji tewas dalam tragedi yang terjadi di Mina.

Saturday, September 3, 2016

Siapa Bilang Militer Tidak Boleh Kudeta?

Indonesian Free Press -- Seorang teman lama yang berhasil meraihpangkat Kolonel TNI mengatakan kepadaku bahwa TNI adalah bagiandari pemerintah. Temanku yang lain, kali ini teman di Facebook yang pensiunan jendral bintang tiga mengatakan bahwa TNI tidak boleh memberontak dan kudeta.
Bagiku pendapat keduanya itu seperti pendapat militer neoliberal yang hanya mengikuti 'standar demokrasi' ala George Soros, yaitu militer berada di bawah dan tunduk kepada pemerintahan sipil yang dipilih secara 'demokratis'. Bagiku, semua itu omong kosong. Biarkan orang-orang yahudi Mamrika dan Eropa ngomong seperti itu. Tapi ini adalah Indonesia, Bung!

Indonesia adalah negara 'militer'. Para raja dan pemimpin negeri ini di masa lalu adalah para panglima perang. Airlangga, Ken Arok, Raden Wijaya, Gadjah Mada, Raden Patah, Fathahillah, Teuku Umar, Raja Hasanuddin, Pangeran Nuku, Pangeran Diponegoro, hingga Presiden Soeharto dan Presiden SBY, adalah para pemimpin militer.


Sepanjang sejarah Indonesia juga diwarnai pemberontakan-pemberontakan dan kudeta militer: Pemberontakan Kuti, Sora dan Nambi pada jaman Majapahit, Pemberontakan Untung Suropati dan Pemberontakan Trunojoyo di jaman kolonial, hingga pemberontakan PRRI/Permesta paska kemerdekaan.

Indonesia adalah negara di mana militer menjadi bagian tak terpisahkan dari rakyat dan pemerintahan. Para anggota militer eks militer Jepang PETA dan Belanda KNIL menjadi ujung tombak dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama paska kemerdekaan dalam mempertahankan kemerdekaan dari upaya penjajahan kembali oleh kolonialis Belanda/Inggris. Ketika pemerintahan Presiden Soekarno menyerah kepada Belanda dalam Agresi Belanda II tahun 1948 sehingga secara 'de jure' negara Indonesia telah berakhir, militer di bawah kepemimpinan Jendral Soedirman tetap bertahan mempertahankan kemerdekaan hingga pada akhirnya berhasil memaksa

Belanda untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Kemudian, ketika situasi negara diwarnai kekacauan politik akibat konstitusi parlementer sehingga Indonesia tidak bisa melakukan pembangunan, militer berinisiatif mendorong Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Presiden untuk mengembalikan UUD 1945 sebagai konstitusi.

Militer Indonesia adalah pelindung eksistensi negara Indonesia dan palang pintu terakhir pertahanan negara Indonesia. Sementara pemerintah, sebagaimana terjadi di banyak negara sepanjang sejarah manusia dan juga terbukti dalam peristiwa Agresi Militer Belanda II, bisa tergelincir dan bahkan menjadi pengkhianat negara. Maka pada saat itulah peran militer diperlukan untuk melindungi negara, bila perlu dengan melakukan kudeta.

Ini adalah standar politik yang sudah biasa. Ketika pemerintah melakukan penyimpangan, militer campur tangan untuk mengembalikan haluan negara. Ini terjadi di Romawi di bawah kepemimpinan Julius Caesar, Perancis di bawah Napoleon Bonaparte, Perancis di bawah Jendral de Gaulle, Spanyol di bawah Jendral Franco, hingga Thailand di bawah kepemimpinan Jendral Prayuth saat ini.

Kita tentu tidak ingin mengulangi kondisi politik era sistem pemerintahan parlementer dimana energi bangsa negara dihabiskan untuk mengatasi persaingan partai-partai politik. Kita tidak ingin seperti Bangladesh, yang hanya karena persaingan pribadi dua orang wanita (Perdana Menteri Sheikh Hasina dan pemipin oposisi Khalida Zia), selama belasan tahun negara itu dilingkupi pergolakan politik, sementara kondisi rakyat semakin memprihatinkan.

Jadi, pada saat rakyat Indonesia mempertanyakan kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini yang dianggap telah melenceng jauh dari kepatutan dan mengancam eksistensi negara Indonesia, maka TNI patut untuk melakukan tindakan berupa pengambil-alihan kekuasaan sementara. Bahkan, tidak hanya patut, hal ini telah menjadi kewajiban moral TNI.(ca)

Koalisi Suriah Raih Kemenangan Penting di Aleppo dan Darayya-Damaskus

Indonesian Free Press -- Pada 31 Agustus lalu pasukan koalisi Suriah yang didukung angkatan udara Rusia berhasil merebut wilayah Qarasi, sebagian besar wilayah Al Amiriya dan bukit stategis Tal Al Sanoubrat, mengusir kelompok Jaish al-Fatah yang berada di antara Khan Tuman dan perkampungan Ramouseh Neighborhood di Aleppo. Sehari kemudian jalan yang menghubungkan Khan Tuman dan perkampungan Ramouseh itu berhasil dikuasai sepenuhnya oleh Suriah hingga ke bukit Um Qara.

Dalam operasi itu pasukan Suriah bersama Hezbollah menghancurkan sekitar 20 kendaraan perang pemberontak yang hendak memberikan bantuan suplai dan amunisi ke Ramouseh. Demikian seperti dilaporkan South Front-Veterans Today kemarin (2 Agustus). Menurut laporan itu sebanyak 50 pasukan koalisi pemerintah Suriah tewas, sementara pihak lawannya mencapai 100 militan tewas. Sebagian korban pemberontak yang tewas itu disebabkan oleh pemboman pesawat-pesawat Rusia.

Pasukan pemerintah Suriah dan koalisinya juga berhasil merebut kembali wilayah Souq al-Jibs sehingga memungkinkan pasukan pemerintah memberikan ancaman terhadap posisi pemberontak di proyek pembangunan Apartmenet 1070. Pada saat yang sama pasukan Suriah dan Hizbollah juga berhasil merebut Pangkalan Teknik Angkatan Udara. Menyusul keberhasilan itu, pasukan pemerintah bergerak maju ke arah Pangkalan Artileri Ramouseh.

Pembebasan Pangkalan Teknik Angkatan Udara memiliki arti penting karena memberikan menambah daya pemutus hubungan jalur yang menghubungkan Khan Tuman dan mengancam setiap upaya pemberontak untuk memberikan bantuan ke posisi-posisi mereka yang terkepung.

"Secara umum, perkembangan terakhir di Aleppo ini bisa disebut sebagai keberhasilan taktis pasukan pemerintah yang bisa mengarah pada kemenangan strategis di wilayah ini," tulis laporan itu.

Sementara itu pesawat-pesawat tempur Rusia terus melancarkan pemboman terhadap posisi pemberontak kelompok Jaish al-Fatah di Provinsi Idlib, yang menjadi basis pemberian bantuan bagi pemberontak di Aleppo. Serangan Rusia itu menghancurkan perlengkapan dan sumber daya manusia pemberontak di Taftanaz, Binnish, Sarmeen, Ariha, Saraqib, dan Jisr Al-Shughour dan sepanjang jalan antara Saraqib ke Aleppo. Sejumlah saksi mata menyebutkan setidaknya 2 konvoi pemberontak dihancurkan oleh pesawat-pesawat Rusia dan menewaskan sekitar 50 militan.

Di sisi lain, pemberontak melakukan offensif baru di wilayah Hama, terutama di kota Ma’an. Pertempuran sengit dikabarkan terjadi di kota ini.


Pemberontak Tinggalkan Daraya-Damaskus

Sementara itu media independen Voltaire.net melaporkan, 30 Agustus lalu, bahwa para pemberontak disertai 4.000 warga sipil di kota Daraya di Provinsi Damascus, telah menerima kesepakatan rekonsiliasi, dimana para pemberontak harus meninggalkan kota ini dan menyerahkan senjatanya.

Para anggota militan dan keluarganya diangkut dengan bus ke Provinsi Idlib, sementara warga sipil lainnya bersama 700 pemberontak yang memilih amnesty, ditempatkan di wilayah Damaskus. Ini menyusul keberhasilan pasukan Suriah memasuki kota ini pada 27 Agustus silam.

"Para pemberontak menyerahkan senjata berat dan menengah mereka, sedang yang dipindahkan ke Idlib hanya dibolehkan membawa senjata jinjing," tulis Voltaire.net.

Sejak serangan besar-besaran pemberontak ke Damaskus pada bulan JUli 2012, Daraya menjadi basis penting pemberontak di Provinsi Damaskus. Namun setelah pasukan Suriah mengepung Moadamiyyat al-Cham pada bulan Juli lalu, para pemberontak dan para penasihat militer dari negara-negara barat menjadi terancam dan memaksa mereka menerima tawaran amnesty dan penyerahan senjata.

Jatuhnya Daraya ke tangan pemerintah sekaligus mengakhiri Perang Ghouta Timur, yang pernah diwarnai insiden serangan senjata kimia yang menggemparkan dunia.(ca)

Friday, September 2, 2016

Media Massa-Media Massa 'Bajingan'

Indonesian Free Press -- Ini adalah tulisan yang paling tepat untuk menggambarkan dunia media massa internasional, tentunya termasuk Indonesia, ketika media massa hanya menjadi 'corong' kepentingan para penjahat. Tulisan ini adalah 'A Crooked Mile' yang ditulis penulis Rusia berdarah yahudi Israel Shamir, di situs 'The Unz Review' pada 24 Agustus 2016.

"Crookedness is a professional problem for the media," tulis Shamir.

Karena terlalu menarik untuk dihilangkan bagian-bagiannya, dan terlalu berharga untuk ditunda penyampaiannya, IFP sengaja menuliskannya secara berseri.

"Di masa lalu seorang jurnalis memiliki pilihan. Ia bisa bekerja di media massa pendukung Partai Buruh, Konservatif, atau Liberal. Saat ini tidak ada bedanya: semua media massa Inggris termasuk Guardian membenci Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh. Di Amerika semua media massa membenci Trump. Tidak ada lagi pilihan bagi para penulis atau pembaca!"

Shamir pun mengisahkan peristiwa kudeta di Rusia bulan Agustus 1991, lebih tepatnya 'drama kudeta' yang menjadi pemicu runtuhnya kekuasaan regim Uni Sovyet.

"Drama ini berlangsung selama tiga hari. Para master media massa memproduksi dan menyiarkan pertunjukan menarik tentang orang-orang yang bangkit melawan tirani, orang-orang yang nekad menahan tank-tank, dan penghancuran sebuah patung atau dua dari para penindas. Kita telah melihat pertunjukan yang sama di Maidan Kiev atau Lapangan Tahrir di Kairo, dana juga di Baghdad. Hasilnya adalah sama-sama menyedihkan," tulisnya lagi.

"Ada kolusi antara regim lama Uni Sovyet dengan 'Masters of Discourse', antara KGB dan CNN. Sebuah komite darurat regim lama dibentuk yang bertindak seperti srigala tua. Mereka mengirim tentara dan tank-tank ke Moskow, namun tidak berani menangkap Yeltsin. Tank-tank tidak menembak ke arah demonstran dan hanya menjadi tontotan menarik," tambah Shamir.

Intinya, sama seperti halnya gerakan Arab Spring 2010-2011, Revolusi Ukraina Februari 2014, Reformasi Indonesia 1998, Revolusi Hijau Iran 2009 dan 'revolusi-revolusi warna' lainnya semua dikendalikan oleh para pemodal internasional dan penguasa di balik layar. Semua revolusi itu menampilkan pertunjukan yang menarik, heroik dan mengharukan, namun semua hasilnya (kecuali Revolusi Hijau Iran yang gagal) adalah menyedihkan bagi rakyat.

"Adalah menarik melihat aksi heroik orang-orang menghancurkan patung Felix Dzierzynski di Moscow (sama seperti patung Saddam Hussein di Baghdad), namun, kehidupan produktif dan aman di Rusia juga hancur. Kekayaan Uni Sovyet yang besar yang dikumpulkan oleh kerja keras generasi demi generasi rakyat Rusia, jatuh dan dibagi-bagikan kepada sekelompok 'oligarchs' yang umumnya adalah yahudi. Orang-orang kaya menjadi sangat kaya, sementara kelas menengahnya hancur."

"Angka harapan hidup warga Rusia jatuh menjadi hanya 58 tahun, 15 juta orang laki-laki dan perempuan meninggal oleh perubahan cepat yang buruk itu. Jumlah penduduk berkurang dengan cepat. Ada 150 juta warga Rusia sebelum revolusi 1991, angkanya menjadi 142 juta setelah revolusi, dan saat ini baru bisa mencapai 146 juta orang.

Dikurangi lagi dengan angka imigrasi, angkanya lebih kecil lagi. Industri telah hancur. Ilmu pengetahuan, seni, film, theatre, media massa juga hancur kecuali mereka yang dikendalikan para 'oligarchs.'"

"Mengapa jutaan warga Rusia yang berpendidikan bisa ditipu seperti ini?"

Shamir pun menyalahkan media massa. Ketika 'pengkhianat' Mikhail Gorbachev memutuskan menyerah kepada barat, ia membebaskan kontrol atas media massa yang sebelumnya terkendalikan dengan ketat oleh pemerintah. Agen-agen barat seperti Alexander N Yakovlev pun mengusai media massa, dan dalam beberapa tahun semua media massa Rusia melakukan rekayasa sosial dengan pesan sederhana: komunisme adalah kesalahan dan kejahatan, kapitalisme dan Amerika adalah kawan yang menyenangkan. Terima mereka, maka kita semua akan hidup seperti di Swiss.

"Rakyat Rusia sangat naif. Mereka tidak percaya media massa lama namun tidak memiliki imunitas terhadap media-media massa baru yang sama totaliternya dengan media-media massa lama. Hanya biasnya yang berubah. Mereka percaya bahwa Pravda telah berbohong, namun tidak percaya bahwa New York Times juga berbohong."

"Maka, saya percaya bahwa media massa bisa meyakinkan orang-orang untuk bertindak melawan kepentingan mereka sendiri."

Menurut Shamir, cerita yang sama dengan Rusia terjadi di Amerika. Media-media massa utama yang totaliter, yang terkonsentrasi pada beberapa orang yahudi, akan membawa Amerika ke neraka.

"Rakyat Amerika harus tahu bahwa mereka akan kehilangan negerinya. Koalisi minoritas (yahudi) akan memperkuat kekuasaan para bankir, militer dan penjahat. Pengalaman tahun 1991 mengajarkan saya bahwa sangat sulit melawan 'Masters of Discourse'. Namun tetap masih ada harapan, karena para bajingan itu telah membuang payung imparsialitasnya," tulis Shamir.(ca) ***

(bersambung)

Thursday, September 1, 2016

Kejahatan ISIS dan Para Pendukungnya Terbongkar di Irak

Indonesian Free Press -- Perginya gerombolan ISIS di kota-kota yang didudukinya di Irak membongkar kejahatan kelompok teroris yang didukung zionis internasional dan kaki tangannya: Amerika, Inggris, Saudi, Qatar, Turki, dll. Puluhan kuburan massal korban kekejaman ISIS ditemukan dengan jumlah korban diduga mencapai puluhan ribu orang.

Seperti dilaporkan Veterans Today, 30 Agustus lalu, kantor berita Associated Press mengklaim telah mengidentifikasi setidaknya 72 kuburan massal korban kekejaman ISIS di Irak dan Suriah. Dari jumlah itu, 17 kuburan massal berada di Suriah dan sisanya di Irak, dengan jumlah korban keseluruhan antara 5 ribu hingga 15 ribu orang. Namun para aktifis menyebut masih ada ribuan korban kekejaman ISIS yang masih terkubur di sejumlah kuburan massal dan tidak diketahui keberadaannya.

Informasi tersebut diperoleh dari AllSource, perusahaan penyedia jasa satelit yang mengidentifikasi jejak kuburan massal dari gambar satelit berdasarkan kesaksian masyarakat. Sejumlah kelompok sosial juga membantu identifikasi kuburan massal. Bahkan para anggota ISIS sendiri sering membanggakan aksi kejinya telah membantai orang-orang yang mereka anggap sebagai 'kafir' dan  'pengkhianat'.

"Mereka (ISIS) menyembelih, menembak, melindas dengan mobil, dan segala teknik pembunuhan lainnya, dan mereka bahkan tidak mencoba menyembunyikannya," kata Sirwan Jalal, tokoh Kurdi Irak yang ditunjuk melakukan penyidikan pembantaian massal terhadap warga Kurdi oleh ISIS.

Peristiwa pembantaian terbesar yang terdokumentasi adalah pembantaian di Kamp Militer Speicher di Tikrit pada Juni 2014, ketika ISIS membantai antara 1.000 hingga 1.700 calon taruna Angkatan Udara Irak. Tiga puluh enam pelaku pembantaian telah dihukum gantung bulan Agustus lalu.

Hanya dua hari sebelum pembantaian itu, di Ramadi juga terjadi pembantaian massal. AllSource mengkonfirmasi keberadaan kuburan massal yang telah dilaporkan para korban selamat kepada Human Rights Watch.

“Saya adalah tawanan nomor '43'. Saya dengar mereka mengatakan ‘615,’ dan kemudian salah seorang anggota ISIS berkata, "kita akan makan enak malam ini". Kemudian yang lainnya mengatakan, "Apakah sudah siap?", dijawab ‘Ya,’ dan kemudian mulai terdengar berondongan senjata,” demikian kesaksian seorang pembantaian massal di Ramadi yang selamat, kepada Human Right Watch.

Kepada HRW ia mengatakan berhasil menyelamatkan diri dengan berpura-pura mati, kemudian menyelinap pergi di malam hari bersama 15 korban selamat lainnya.

Dengan pertempuran yang masih berlangsung di sejumlah tempat, seperti di Hardan yang mayoritas dihuni warga Kurdi, otoritas setempat tidak berkesempatan untuk menguburkan dengan layak, apalagi mendokumentasikan para korban pembantaian-pembantian massal yang terjadi.

"Saya kenal dengan para korban di sana. Kebanyakan adalah teman dan tetangga," kata Arkan Qassem, penduduk desa di luar kota Hardan kepada Associated Press.

“Sangatlah sulit melihat mereka setiap hari," tambahnya, merujuk pada kuburan massal yang masih terlihat jelas bekas-bekasnya di Hardan.

Karena ISIS tidak hanya membunuhi kelompok tertentu seperti Shiah, Kurdi, Yazidi, bahkan orang-orang Sunni sendiri, diperkirakan terdapat ratusan kuburan massal yang tidak diketahui dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diidentifikasi.

“Ini seperti tetesan air di samudra untuk menemukan kuburan-kuburan massal di Suriah,” kata Ziad Awad, wartawan The Eye of the City yang terbit di kota Deir ez-Zor, Suriah, yang kini berada di dalam kepungan ISIS.(ca)