Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Monday, October 24, 2016

NEGARA YANG SALAH, BUKAN PAK HARTO...!!!

Indonesian Free Press -- Pengantar blogger:

Dalam sejarah pembangunan Indonesia paska kemerdekaan, Indonesia memiliki dua 'yurisprudensi', yaitu model Soekarno dan model Soeharto.

Perlu diketahui bahwa Soekarno menganut prinsip non-kooperatif dengan modal asing. Dengan slogannya yang terkenal 'go to hell with your aids', Soekarno bahkan rela menolak tawaran menggiurkan Amerika untuk membuka lebih luas pasar mobil di Indonesia bagi mobil-mobil Amerika dengan imbalan pembangunan jalan hot mix lintas Sumatra. Ironisnya, tidak lama kemudian Soekarno justru membuka pasar mobil Indonesia untuk Jepang setelah Soekarno menemui para pemimpin Jepang dan mendapat 'hadiah' seorang geisha yang kemudian diperistrinya dan diganti namanya menjadi Ratnasari Dewi.

Soekarno juga terkenal dengan pernyataannya bahwa kekayaan alam Indonesia hanya akan dioleh oleh putra-putri Indonesia sendiri setelah mereka mampu.

Sebaliknya, Soeharto sebaliknya memilih kooperatif dengan mengundang modal asing untuk mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia, dengan langkah strategisnya yang terkenal dengan mengeluarkan UU PMA tahun 1969. Salah satu implementasi dari UU ini yang penting adalah perluasan ijin eksploitasi emas (ijin awalnya sudah diberikan Soekarno) di Papua selama 30 tahun.

Dengan alasan masing-masing, faktanya adalah model Pak Harto-lah yang berhasil mengangkat Indonesia dari keterpurukan ekonomi dan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang disegani di dunia internasional.

Perbedaan model kepemimpinan kedua pemimpin tersebut bisa dianalogikakan dengan seorang petani miskin yang memiliki tanah subur yang luas. Soekarno adalah petani yang 'idealis' yang tidak mau berbagi dengan tetangganya yang kaya, sehingga sepanjang hidupnya tetap menjadi petani miskin. Sementara Soeharto mengajak tetangganya untuk turut mengolah tanahnya dengan imbalan bagi hasil. Akibatnya terjadi 'pertambahan nilai' dari tanah yang dalam konteks nasional terjadi pertumbuhan ekonomi, dan dalam jangka panjang terjadi peningkatan kesejahteraan.

Pada dekade 1990-an, ketika Soeharto menjadi lebih religius seiring dengan semakin tua usianya, beliau pun sadar untuk mengganti model ekonomi yang terlalu terbuka terhadap modal asing. Apalagi setelah melihat dampak kebijakan Paket Oktober 1993 yang dikeluarkan oleh menteri-menteri ekonomi Mafia Barkeley agen neo-liberalisme. Saat itu, di saat pertumbuhan ekonomi yang pesat karena dampak pembangunan infrastruktur yang digalakkan Soeharto, para menteri ekonomi itu justru menarik peredaran uang. Akibatnya ekonomi macet dan dunia usaha, terutama pengusaha kecil-menengah pribumi, mengalami kehancuran.

Maka Soeharto pun memecat para menteri agen neo-liberalisme dengan menteri-menteri baru yang lebih dipercayainya dan bukan sebagai agen neo-liberalisme asing, di antaranya Fuad Bawazier yang diangkat menjadi Menteri Keuangan. Soeharto juga telah memutuskan untuk tidak memperpanjang ijin eksploitasi emas Papua oleh Freeport. Dan karena itulah maka beliau dijatuhkan oleh gerakan 'Reformasi', yang semua pengamat politik internasional sepakat adalah gerakan yang didalangi oleh Amerika.

Berikut ini adalah tulisan penulis dan wartawan Bambang Tri di statusnya yang menarik di Facebook:

APAKAH PAK HARTO MEMBERIKAN PERINTAH LANGSUNG MEMBANTAI MASSA PKI ?
TIDAK ADA BUKTI UNTUK MENUDUH SEPERTI ITU, KECUALI KALAU KITA MAU MAIN SPEKULASI LAGI SEPERTI MENUDUH PAK HARTO DALANG G 30 S/PKI ?
ATAU SITUASI DI LAPANGAN MEMANG SUDAH PANAS KARENA PROVOKASI PKI SEBELUM G 30 S ?
ATAU SEMUA ITU TERPAKSA DILAKUKAN TENTARA UNTUK MENGEJAR AIDIT YANG BERLINDUNG DI TENGAH-TENGAH MASSA PKI SEBAGAI TAMENG PELARIAN-NYA?
ATAU MEMANG KEPUTUSAN POLITIK ANGKATAN DARAT SUDAH MENJADI DOKTRIN BARU UNTUK MENGEKSEKUSI SEBANYAK MUNGKIN ANGGOTA PKI YANG MEREKA YAKINI TERLIBAT SECARA TIDAK LANGSUNG DALAM PEMBANTAIAN PARA JENDERAL MEREKA ?
APAKAH PAK HARTO SEORANG BISA MENCEGAH BADAI PUTING BELIUNG YANG MEMBAYANGI DATANG-NYA PEMBANTAIAN MASSAL ITU ?
SEKALI LAGI PADA SAAT ITU PAK HARTO BUKAN-LAH SUPERMAN ATAU PENYIHIR YANG BISA MENGHENTIKAN KEMARAHAN RAKYAT PADA PERISTIWA 30 SEPTEMBER.
TIDAK JUGA BUNG KARNO DAN PAK NASUTION.
JUSTERU YANG BISA MENEBUS NYAWA CALON KORBAN PEMBANTAIAN ADALAH AIDIT DAN SELURUH PIMPINAN PUNCAK PKI, JIKA MEREKA BERANI MELAKUKAN APA YANG DILAKUKAN SUDISMAN DENGAN URAIAN TANGGUNGJAWAB-NYA DI DEPAN MAH MIL LUB…
“PKI tidak terlibat sebagai partai, tapi karena semua itu dilakukan oleh oknum-oknum PKI, maka saya sebagai pimpinan Partai MENGAMBIL OPER TANGGUNGJAWAB !”
ORANG SEPERTI SUDISMAN LAH YANG BISA MENCEGAH PEMBANTAIAN MASSAL JIKA KITA MELIHAT DARI SISI PKI-NYA.
Dari sisi militer, Pak Nasution dan dari sisi politik, Bung Karno.
PAK HARTO TERJEBAK DALAM SITUASI YANG MEMAKSA-NYA BERTINDAK SEPERTI APA YANG DIA LAKUKAN.
BUKAN PAK HARTO YANG SELALU GEMBAR-GEMBOR DENGAN BANGGA BAHWA PKI TELAH DIBANTAI, MELAINKAN PARA BAWAHAN PAK HARTO :
Sarwo Edhie bilang dia telah membantai 3 JUTA PKI.
Soemitro bilang bahwa 1 nyawa jenderal harus ditebus 100.000 nyawa PKI.
Herman Sarens Sudiro bilang pernah melindas 100 orang PKI dengan tank.
SUNGGUH MULUT BESAR YANG BISA MERUGIKAN PAK HARTO.
Anehnya ada penulis pasca Soeharto yang bernama Rum Aly, yang tergila-gila kepada angka SARWO EDHIE yang bombastis dan sukar dipercaya itu.
Oh Rum Aly …Rum Aly……….
Kalaupun iya (saya yakin tidak), memang Pak Harto aktor intelektual pembunuhan massal terhadap PKI, maka semua orang yang setuju dengan tindakan itu harus MENGAMBIL OPER TANGGUNG JAWAB…SEPERTI SUDISMAN.
PAR KONSTITUSI (BERDASARKAN KONSTITUSI) TINDAKAN PAK HARTO BISA DIBENARKAN, HUKUM-NYA DARURAT MILITER.
NEGARA BOLEH MELAKUKAN KEKERASAN ATAS PERINTAH KONSTITUSI.
YANG TIDAK BOLEH ADALAH MELAKUKAN PENYIKSAAN.
EKSEKUSI LANGSUNG DENGAN PELURU TAJAM BUKAN-LAH PENYIKSAAN.
PERSIS SEPERTI DALIL PARA PEMBELA PKI YANG MEYAKINI TIDAK TERJADI PENYIKSAAN DI LUBANG BUAYA.
Soal jumlah, PKI cuma membunuh 9 orang perwira AD, kok Pak Harto membalasnya dengan membunuh ribuan orang ?
Jawaban terbaik untuk itu adalah bahwa pembalasan itu sudah dipersiapkan ANGKATAN DARAT jauh sebelumnya dan Pak Harto hanya mengemban tugas pelaksanaan saja karena PERISTIWA G 30 S.
KALAUPUN PAK HARTO YANG TERBUNUH DAN YANI YANG SELAMAT, NASIB PKI TIDAK AKAN LEBIH BAIK.
Salah seorang Amerika yang mempunyai hubungan paling dekat
dengan Angkatan Darat Indonesia ialah George Benson, penasihat civic action untuk Angkatan Darat Indonesia.
Ia mempunyai hubungan pribadi yang erat dengan Yani dan banyak perwira dari SUAD.
Sebelum Benson kembali ke Amerika Serikat pada Juli 1965, ia mengadakan jamuan makan siang dengan Yani dan Parman.
Menurut Benson, Yani memberi jaminan kepadanya bahwa Angkatan Darat secara padu antikomunis.
Yani menjelaskan bahwa ia dan staf umumnya telah mengangkat 120
komandan batalyon di seluruh tanah air dan dalam pandangan mereka
semuanya bisa dipercaya. Menurut Benson, Yani juga mengatakan,

“Kami mempunyai senjata, dan kami tidak membolehkan senjata jatuh
ke tangan mereka [komunis]. Karenanya jika terjadi bentrokan, kami
akan membersihkan mereka semua.” (DPM, hal 273)

SOAL KELAPARAN MASSAL DI RUMAH-RUMAH TAHANAN, TIDAK HANYA MEREKA YANG MENGALAMI, SELURUH RAKYAT LAPAR KARENA KEBANGKRUTAN EKONOMI WARISAN BUNG KARNO.

SEPERTI DULU BUNG KARNO MENGEJEK PROPAGANDA ANGKATAN DARAT DENGAN KATA-KATA: SILET LAGI…SILET LAGI…dalam soal jumlah korban ini pun orang bisa mencibir ANGKA-ANGKA YANG TERLALU BESAR…
TIGA JUTA…TIGA JUTA…..DARI HONGKONG ?????????
BENGAWAN SOLO DAN SUNGAI BRANTAS DIPENUHI MAYAT PKI DAN MERAH OLEH DARAH MEREKA….
MANA FOTO-NYA…SATU LEMBAR SAJA…?????
KUBURAN MASSAL…KUBURAN MASSAL…MARI KITA BONGKAR DAN KITA HITUNG JUMLAH KEPALA-NYA….JANGAN CUMA DIBESAR-BESARKAN DI DEN HAAG SAJA !!!

Sunday, October 9, 2016

MENGAPA SOEHARTO BUKAN TARGET PKI?

Indonesian Free Press -- HANTU PERTANYAAN INI LAH YANG MEMBUAT PARA PEMBENCI SOEHARTO MENGAIS-KAIS POTONGAN INFO APA SAJA, BAIK YANG BENAR MAUPUN YANG SALAH UNTUK MENCURIGAI PAK HARTO SEBAGAI DALANG G 30 S/PKI.

Jawaban paling bagus adalah memang target PKI bukan Soeharto. Target PKI adalah Yani-Nasution.

Jenderal-jenderal yang lain itu cuma dijadikan pelabi alias cover agar gerakan nampak sepenuhnya sebagai gerakan internal ANGKATAN DARAT.

Bisa dipastikan, Aidit sendiri tidak percaya ada-nya Dewan Jenderal yang bakal melakukan Kup terhadap Bung Karno. Aidit selalu sadar akan PROVOKASI ANGKATAN DARAT dan tidak mau gegabah untuk percaya akan adanya Dewan Jenderal itu.

Tapi justeru AIDIT yang memanfaatkan isu Dewan Jenderal itu untuk MENDAHULUI MEMUKUL ANGKATAN DARAT.

Aidit memanfaatkan info politik bahwa Bung Karno sudah berketetapan hati untuk menyingkirkan Ahmad Yani dan Nasution karena dianggap anti Nasakom dan anti China sekaligus.

Bung Karno sendiri sudah menggertak berkali-kali untuk menyingkirkan jenderal yang anti Nasakom dan membuat trik-trik untuk memancing mereka mengaku dan kemudian mengalah kepada Bung Karno.

Sementara itu, Bung Karno juga punya pikiran untuk menggunakan Pak Harto sebagai calon kuat pengganti Yani dan Pranoto Reksosamodra sebagai pengganti Nasution.

Mungkin Pak Harto sendiri tidak menyangka bahwa itu berarti akan terjadi penculikan dan sebagainya, namun lebih dalam konteks politik untuk mendukung Nasakom.

Mungkin Pak Harto juga mendiskusikan hal ini kepada Pak Yani dan Nasution dan kedua Jenderal ini nampaknya juga siap berkompromi dengan Bung Karno asal politik Angkatan Darat bisa berlanjut di tangan Pak Harto.

“KALAU TERJADI APA-APA, KAMU IKUT MAS HARTO SAJA….” Kalimat Yani kepada Benny Moerdani dapat difahami dalam konteks RESTU YANI kepada Pak Harto.

Nasution sendiri sudah merasa dirinya adalah target nomor satu untuk disingkirkan PKI melalui Bung Karno.Pak Nas amat mungkin bisa menerima prospek menjadi DUBES DI AMERIKA maupun Di RUSSIA.

Yani dan Nasution percaya Soeharto bisa mewarisi garis politik ANGKATAN DARAT, sampai tiba saat-nya memukul PKI HABIS-HABISAN. Satu hal yang luput dari mata Aidit adalah, Soeharto dengan Kostrad-nya adalah jantung Angkatan Darat untuk menyabot operasi ganyang Malaysia.

Aidit terlalu paranoid kepada Yani dan Nasution, sebagaimana Bung Karno paranoid kepada Nasution. AIDIT MEREMEHKAN PAK HARTO KARENA TIDAK TAHU PERAN PAK HARTO MENJALANKAN POLITIK RAHASIA YANI-NASUTION.

Maka dari itu Latief dengan cerdik berusaha melibatkan Pak Harto dalam gerakan.

Pak Harto lebih cerdik lagi, DIAM TIDAK MENJAWAB APA-APA KECUALI YANG UMUM-UMUM SAJA KEPADA LATIEF.

Pak Harto hanya mempercayai INTEL-INTEL KOSTRAD dan selalu bertindak taat rantai komando kepada Yani dan Nasution dan terus-menerus mewaspadai kemungkinan PKI mendahului dan menyiapkan pukulan telak kepada mereka sesuai perintah Yani dan Nasution.
Maka dari itu Pak Harto bukan jenis jenderal yang suka setor muka ke istana.

PAK HARTO MENJAGA JARAK YANG SEHAT DENGAN SEMUA PARTAI POLITIK.
PAK HARTO ADALAH TENTARA PROFESIONAL. BUKAN JENDERAL YANG SUKA WIRA-WIRI NYEPETI MATA ALIAS WIRANTO !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!(ca/BT)


Catatan: dicopas dari status Facebook Bambang Tri.

Saturday, September 3, 2016

Siapa Bilang Militer Tidak Boleh Kudeta?

Indonesian Free Press -- Seorang teman lama yang berhasil meraihpangkat Kolonel TNI mengatakan kepadaku bahwa TNI adalah bagiandari pemerintah. Temanku yang lain, kali ini teman di Facebook yang pensiunan jendral bintang tiga mengatakan bahwa TNI tidak boleh memberontak dan kudeta.
Bagiku pendapat keduanya itu seperti pendapat militer neoliberal yang hanya mengikuti 'standar demokrasi' ala George Soros, yaitu militer berada di bawah dan tunduk kepada pemerintahan sipil yang dipilih secara 'demokratis'. Bagiku, semua itu omong kosong. Biarkan orang-orang yahudi Mamrika dan Eropa ngomong seperti itu. Tapi ini adalah Indonesia, Bung!

Indonesia adalah negara 'militer'. Para raja dan pemimpin negeri ini di masa lalu adalah para panglima perang. Airlangga, Ken Arok, Raden Wijaya, Gadjah Mada, Raden Patah, Fathahillah, Teuku Umar, Raja Hasanuddin, Pangeran Nuku, Pangeran Diponegoro, hingga Presiden Soeharto dan Presiden SBY, adalah para pemimpin militer.


Sepanjang sejarah Indonesia juga diwarnai pemberontakan-pemberontakan dan kudeta militer: Pemberontakan Kuti, Sora dan Nambi pada jaman Majapahit, Pemberontakan Untung Suropati dan Pemberontakan Trunojoyo di jaman kolonial, hingga pemberontakan PRRI/Permesta paska kemerdekaan.

Indonesia adalah negara di mana militer menjadi bagian tak terpisahkan dari rakyat dan pemerintahan. Para anggota militer eks militer Jepang PETA dan Belanda KNIL menjadi ujung tombak dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama paska kemerdekaan dalam mempertahankan kemerdekaan dari upaya penjajahan kembali oleh kolonialis Belanda/Inggris. Ketika pemerintahan Presiden Soekarno menyerah kepada Belanda dalam Agresi Belanda II tahun 1948 sehingga secara 'de jure' negara Indonesia telah berakhir, militer di bawah kepemimpinan Jendral Soedirman tetap bertahan mempertahankan kemerdekaan hingga pada akhirnya berhasil memaksa

Belanda untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Kemudian, ketika situasi negara diwarnai kekacauan politik akibat konstitusi parlementer sehingga Indonesia tidak bisa melakukan pembangunan, militer berinisiatif mendorong Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Presiden untuk mengembalikan UUD 1945 sebagai konstitusi.

Militer Indonesia adalah pelindung eksistensi negara Indonesia dan palang pintu terakhir pertahanan negara Indonesia. Sementara pemerintah, sebagaimana terjadi di banyak negara sepanjang sejarah manusia dan juga terbukti dalam peristiwa Agresi Militer Belanda II, bisa tergelincir dan bahkan menjadi pengkhianat negara. Maka pada saat itulah peran militer diperlukan untuk melindungi negara, bila perlu dengan melakukan kudeta.

Ini adalah standar politik yang sudah biasa. Ketika pemerintah melakukan penyimpangan, militer campur tangan untuk mengembalikan haluan negara. Ini terjadi di Romawi di bawah kepemimpinan Julius Caesar, Perancis di bawah Napoleon Bonaparte, Perancis di bawah Jendral de Gaulle, Spanyol di bawah Jendral Franco, hingga Thailand di bawah kepemimpinan Jendral Prayuth saat ini.

Kita tentu tidak ingin mengulangi kondisi politik era sistem pemerintahan parlementer dimana energi bangsa negara dihabiskan untuk mengatasi persaingan partai-partai politik. Kita tidak ingin seperti Bangladesh, yang hanya karena persaingan pribadi dua orang wanita (Perdana Menteri Sheikh Hasina dan pemipin oposisi Khalida Zia), selama belasan tahun negara itu dilingkupi pergolakan politik, sementara kondisi rakyat semakin memprihatinkan.

Jadi, pada saat rakyat Indonesia mempertanyakan kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini yang dianggap telah melenceng jauh dari kepatutan dan mengancam eksistensi negara Indonesia, maka TNI patut untuk melakukan tindakan berupa pengambil-alihan kekuasaan sementara. Bahkan, tidak hanya patut, hal ini telah menjadi kewajiban moral TNI.(ca)

Monday, August 22, 2016

JANGAN ASAL NJEPLAK...

Indonesian Free Pess -- Saya selalu menyukai status-status Bambang Tri di Facebook. Menurut saya sebagian besar tulisan-tulisannya itu sangat informatif. Saya tidak peduli dengan kontroversi yang melingkupi dirinya yang membuatnya banyak dimusuhi orang, mulai dri para jokower hingga pendukung Prabowo seperti Jonru.

Bagi saya, apa yang telah diberikan oleh Bambang Tri jauh lebih bernilai dibandingkan kontroversi yang melingkupinya. Bravo Bambang Tri. Semoga Tuhan memberkati.

Berikut ini adalah salah satu status Bambang Tri di Facebook.

---------------------------------

NGGAK USAH NGOMONG PAK HARTO ANTEK AMERIKA....

BUNG KARNO JUGA IYA....LEWAT RED DRIVE PROPOSAL TAHUN 1946......
TANPA BANTUAN AMERIKA.......KOMISI TIGA NEGARA NGGAK BAKAL BELA INDONESIA....AMERIKA, BELGIA, AUSTRALIA...

AMERIKA BANTU INDONESIA MEREBUT IRIAN BARAT......AMERIKA OGAH BELA BELANDA......UNI SOVIET DIPERSILAKAN MEMASOK SENJATA KE INDONESIA....
BUNG KARNO TAHU.......KALAU TERLALU DEKAT DENGAN AMERIKA........NANTI INDONESIA KETULARAN DEMOKRASI AMERIKA......PRESIDEN HANYA BOLEH DUA PERIODE.....
BUNG KARNO MULAI MAIN MATA DENGAN CHINA .......
AMERIKA NGGAK BISA APA-APA.....MEMILIH PERANG DI VIETNAM....PERANG DI GARIS DEPAN.....MELINDUNGI JEPANG......YANG MASIH LEMAH DARI ANCAMAN CHINA.......
DI BAWAH BUNG KARNO......EKONOMI KOCAR-KACIR....
AMERIKA MELIRIK ANGKATAN DARAT.......LEWAT RAND CORPORATION......PAK HARTO TIDAK DIANGGEP......YANG DIGARAP PAK NAS, YANI, DAN SUWARTO (KOMANDAN SESKOAD).
PAK HARTO JADI MALING GENTHIRI......BELAJAR SAMBIL NGUPING......
SETELAH MENGHANCURKAN PKI.....PAK HARTO KASIH FREEPORT KE AMERIKA.......LANGSUNG DIKASIH 500 JUTA DOLLAR DAN 50.000 TON BERAS....
TAPI PAK HARTO MEMBATASI CUMA 30 TAHUN.....SAMPAI 1997.....AMERIKA NGGAK MAU RUGI........NGOMPORIN AMIEN RAIS CS DAN MEGAWATI DAN BENNY MOERDANI UNTUK REFORMASI.......AGAR FREEPORT TIDAK LEPAS.
NAH SELANJUT-NYA TAHU SENDIRI........JOKOWI-LUHUT-JK-MEGA-SBY-HENDRO PRIYONO SUDAH SEPAKAT.................FREEPORT HARUS DIJAGA SELAMA-LAMA-NYA......SUPAYA INDONESIA TETAP MISKIN....DAN HANYA MEREKA YANG KAYA RAYA......TUJUH TURUNAN PULA....
SEMOGA ANDA FAHAM !

Sunday, July 31, 2016

Kerusuhan Tanjungbalai Tahun 1998

Indonesian Free Press -- Tanggal 27 Mei 2016 genap 18 tahun runtuhnya Mafia yang dibangun oleh Abie Besok, gembong penyeludup Kota Tanjungbalai. Dan pada 27 Mei 1998 itu pula merupakan dimulai gerakan reformasi di Indonesia, dan saat itu awal runtuhnya mafia yang dibangun oleh Dr. Suwardi Salim alias Abie Besok di Tanjungbalai khususnya, dan Sumatera Utara pada umumnya.
Siapa tak kenal dengan Abie Besok, gembong penyelundup kelas kakap di Sumut yang tinggal di Tanjungbalai di tahun 90-an ke bawah? Jaringan Abie Besok yang konon dekat dengan Megawati Soekarnoputri ketika menjabat Presiden Indonesia.

Sepak terjang Abie Besok dalam penyelundupan Illegal logging tidak saja menguasai Sumut, tapi juga merambah ke Aceh, Riau, Jambi. Hutan-hutan di provinsi habis dibabat oleh mafioso ini, dan kayunya diekspor secara ilegal ke Malaysia melalui pelabuhan rakyat di Tanjungbalai.


Uang yang dihasilkan dari perambahan hutan di 4 provinsi ini membuat Abie Besok mampu membangun kekuasaannya dengan menundukkan para petinggi ABRI maupun sipil di negeri ini. Jalinan lobinya dengan para petinggi ABRI dan sipil tidak hanya di level provinsi tapi telah menjangkau ke tingkat pusat di DKI Jakarta.

Dengan kekuasaan yang dimilikinya, Abie Besok membangun kekuatan mafia di Tanjungbalai. Abie mampu menundukkan Ketua Pemuda Pancasila Tanjungbalai, M Kosasih, untuk bergabung dengannya. Abie memiliki tukang tukang pukul yang dikoordinir oleh 3 serangkai, yakni Edi Balon, Anwar Tembak, dan Rasyid Ridho. Anwar Tembak dan Rasyid Ridho berhasil jadi Ketua Pemuda Pancasila Tanjungbalai menggantikan M Kosasih ketika perpecahan di antara gembong penyeludup. M Kosasih belakangan lebih dekat dengan kelompok Felix Wijaya atau Aweng. Felix Wijaya membangun kelompok dengan menghimpun orang profesional, yakni Zaharuddin, SE, Ketua PMI Sumut yang kini menjabat Direktur Kantor PDAM Tirta Kualo Tanjungbalai, Rolel Harahap, SE, Mantan Ketua DPD KNPI Sumatera Utara yang kini menjabat Wakil Walikota Tanjungbalai, Amran Rasyid (Alm) Ketua Pemuda Alwasliyah Tanjungbalai, Ucok Aseng, H Romaynoor, SE, sekarang menjabat Ketua DPRD Tanjungbalai, dan beberapa tokoh pemuda lain.

Gebrakan kelompok Aweng berbeda jauh dengan gerakan yang dilakukan kelompok Abie Besok yang penuh nuansa premanisme. Siapa saja menghalangi penyelundupan yang dilakukan Boss Abi Besok, mereka sikat. Tidak peduli dia ABRI maupun Sipil. Tak terhitung jumlah wartawan yang menjadi korban kekerasan oleh kelompok Abie Besok. Berbeda dengan gerakan yang dilakukan kelompok Aweng. Mereka tidak andalkan otot, tapi mengandalkan otak. Makanya Felix Wijaya sebelum reformasi telah mengalihkan usaha di luar Tanjungbalai.

Tindakan yang dilakukan oleh kelompok Abie Besok menyimpan dendam bagi masyarakat Tanjungbalai. Karena waktu Abie Besok berkuasa, tidak ada yang berani mengganggu kekuasaannya. Abie Besok merupakan pelindung tangguh bagi kalangan etnis Chinese di Tanjungbalai. Masyarakat cina di Tanjungbalai tersenggol sedikit saja, langsung yang menyenggol berhadapan dengan aparat keamanan, atau setidaknya dengan kelompok Abie Besok.

Tapi akhirnya ketika kerusuhan massa terjadi pada 27 Mei 1998, warga cina menjadi korban amuk massa di Tanjungbalai. Amuk massa 27 Mei 1998 di Tanjungbalai adalah rentetan dari peristiwa amuk massa awal reformasi di kota-kota besar Indonesia. Jakarta bergejolak, pembakaran, penjarahan toko-toko milik warga cina di kota-kota besar merambat sampai ke Tanjungbalai. Walaupun dalam peristiwa ini di Tanjungbalai tidak ada korban jiwa, tapi ratusan rumah milik warga cina dibakar dan dihancurkan massa.

Penjarahan terjadi di setiap toko toko milik warga cina. Awal peristiwa itu dimulai dari 3 anak penyemir sepatu yang mendapat kekerasan dari pemilik toko di Jalan Sisingamangaraja, di mana anak tersebut menyemir sepatu di depan toko perabotan. Oleh si pemilik toko, anak tersebut diusir dengan cara menendangnya. Akibat kejadian ini, ketiga anak tersebut mengadukan ke H Buyung, pemilik Pesantren Modern Al-Falah di Tanjungbalai.

H Buyung cucu Ulama besar Sumut, H Tuan Tahir Abdullah, adalah tokoh pemuda yang peduli terhadap tindakan kekerasan, maksiat dan kezaliman di Tanjungbalai. Mendapat laporan dari ketiga orangtua anak tersebut, spontan H Buyung membawa ketiga anak itu ke Kantor DPRD Kota Tanjungbalai, untuk melaporkan bahwa telah terjadi tindak kekerasan terhadap anak. DPRD Tanjungbalaipun menggelar sidang terbatas dengan maksud menengahi persoalan itu agar jangan menjadi persoalan SARA.

Pada sidang terbatas yang digelar DPRD Tanjungbalai, kehadiran massa ke gedung DPRD tidak dapat dibendung. Gejolak pun mulai terjadi, sasaran ditujukan ke M Kosasih, Ketua Pemuda Pancasila, yang juga anggota DPRD Kota Tanjungbalai dari Golkar. Kaca-kaca jendela gedung DPRD Tanjungbalai mulai dilempari oleh massa, situasi di gedung pun mulai tak menentu. Teriakan "Bunuh Kosasih!" makin membahana diucapkan warga yang mulai kalap. Mereka menuduh Kosasih anteknya warga keturunan cina. Dalam situasi tidak menentu, M Kosasih terpaksa diselamatkan oleh Kapten (Pelaut) Teguh Widodo yang kala itu menjabat Komandan Pos Angkatan Laut Tanjungbalai Asahan.

Situasi pun tak terkendali. Massa yang berada di gedung DPRD Tanjungbalai terbagi 2. Ada yang tetap tinggal di gedung, dan sebagian lagi mendatangi toko perabot yang pemiliknya telah melakukan kekerasan ke 3 anak penyemir sepatu itu. Toko-toko milik warga cina di Tanjungbalai mendapat pengawalan dari Pemuda Pancasila lengkap dengan pakaian lorengnya.

Abie Besok dikawal Edi Balon, Anwar Tembak, dan Rasyid Ridho, serta para tukang pukulnya melakukan patroli di jalanan Tanjungbalai dengan mobil Jeep Willys terbuka. Masing-masing memiliki senjata api di tangan. Tindakan patroli yang dilakukan Abie Besok dan tukang pukulnya bukan membuat massa menjadi takut, malah menimbulkan kemarahan bagi massa yang telah menyimpan dendam. Tanpa dikomando, massa melakukan pelemparan-pelemparan terhadap rumah rumah milik warga cina. Pemuda Pancasila yang melakukan pengawalan rumah-rumah dan toko-toko warga cina, terpaksa menyelamatkan diri dengan membuka seragamnya, malah mereka turut bergabung dengan massa melempari dan membakar rumah dan toko-toko milik warga cina.

Situasi Tanjungbalai pun tidak terkendali, petugas keamanan dari Polres Tanjungbalai Asahan tak mampu mengamankan situasi. Mereka akhirnya menjadi penonton terhadap amuk massa di Tanjungbalai. Kelompok mafia yang dibina Abie Besok pun mulai bubar, masing-masing menyelamatkan diri. Dan tidak terlihat lagi batang hidung mereka. Situasi mulai aman ketika 1 pasukan TNI dari Korem 022/PT Pematang Siantar melakukan pengamanan dengan memblokir seluruh jalan yang masuk ke Tanjungbalai. Namun sebelumnya pasukan ini seperti memberi kesempatan ke massa untuk melakukan penjarahan, asal tidak melakukan pembakaran.

Tanggal 28 Mei 1998, keadaan Tanjungbalai baru tenang kembali. Walaupun akses menuju kota masih ditutup. Pengawalan diambil alih oleh pihak Polres Tanjungbalai Asahan dengan menurunkan personil Mobile Brigade. Dan di 28 Mei 1998 ini pula ratusan massa yang masih melakukan penjarahan ditangkapi oleh pihak keamanan dan dimasukkan penjara. Tanjungbalai kembali aman seperti sediakala. Namun penyeludupan yang dilakukan kelompok Abie Besok tetap berjalan, walaupun tidak sevulgar sebelumnya. Dan tindakan kelompok mafia yang dibentuk Abie Besok ini dalam melakukan kekerasan mulai berkurang, karena warga Tanjungbalai semakin berani melakukan perlawanan.

Tahun 2000, barulah kelompok mafia pimpinan Abie Besok ini bubar total seiring adanya peraturan pemerintah yang melarang masuk barang-barang bekas dari luar negeri ke Indonesia, dan ditutupnya perjudian di seluruh bumi Nusantara. Kini Abie Besok hanya tinggal kenangan, Abie Besok pun jarang terlihat di muka umum. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kediamannya yang bernama gedung putih. Warga cina yang menjadi korban amuk massa 27 Mei 1998 tidak lagi mempercayai Abie, karena sebelum terjadi amuk massa, Abie melakukan pengutipan uang ke mereka untuk biaya pengamanan dengan menggunakan Pemuda Pancasila. Tapi hasilnya mereka menjadi korban. Rasa dendam dan duka yang dirasakan warga cina di Tanjungbalai masih terlihat dari sikap mereka. Banyak dari mereka yang tidak mau memperbaiki kerusakan di rumah dan toko akibat terjadinya amuk massa. Setiap melihat kerusakan itu, maka mereka akan teringat dengan peristiwa yang memilukan itu. Mari melawan lupa.(ca)


Keterangan: dicopas dari fanpage Facebook 'Tolak Jokowi'. Tulisan ini dimuat berkaitan dengan adanya kerusuhan berbau sara di Tanjungbalai, Sumut, pekan lalu.


Monday, June 27, 2016

SURAT UNTUK KECEBONG

Indonesian Free Press -- Saudara-saudara adalah korban cinta buta kepada Jokowi-JK.

Bahkan setelah kami tunjukkan dengan bukti-bukti tak terbantah bahwa Jokowi telah menipu kita semua soal ayah dan ibunya dalam riwayat hidup dia yang terdaftar di KPU.

Bahwa Jokowi anak PKI yang menghina PKI, karena dia tidak mengakui dirinya anak PKI.

Lalu ada Hendro Priyono, pembela Jokowi yang jelas bertanggungjawab atas kematian Munir dan pembantaian Warsidi di Talangsari, apakah saudara juga mencintai Hendro Priyono selamanya, hanya karena dia mendukung Jokowi ?


Lalu ada Luhut Panjaitan, MITRA BISNIS MEBEL DAN KAYU GELAP JOKOWI, apakah saudara mencintai Luhut Juga, karena Luhut begitu getol membela Jokowi.........?


Padahal Luhut inilah yang mendatangi KOREM SURAKARTA untuk menghapus dokumen orang tua Jokowi terkait PKI ?



Apakah saudara-saudara Kecebong juga akan jatuh cinta mati kepada Luhut yang ternyata punya paman PKI juga ?


Lalu ada si Togog, Nusran Wahid, pembohong yang dicap Gus Dur suka ngibul jadi anaknya Gus Dur itu ?
Apakah saudara-saudara kecebong akan mencintai TOGOG, cecunguk raja-raja sejak jaman Ramayana itu?


Saudara-saudara kecebong yang saya hormati, apa dosa Pak Harto kepada kalian, sehingga kalian rela MENGHUJAT-NYA SEBAGAI DALANG G 30 S /PKI ?


Padahal tidak ada seorangpun yang punya bukti bahwa Pak Harto dalang ?


Apakah kalian sudah membaca buku John Roosa, pembela PKI yang berani memastikan bahwa Pak Harto samasekali bukan dalang G 30 S/ PKI ?


Apakah kalian sudah membaca DOKUMEN SUPARDJO, bukti otentik yang menjelaskan bahwa PAK HARTO adalah musuh PKI nomor satu (bersama Jenderal Nasution) di mata BRIGJEN SUPARDJO.........JENDERAL UTAMA PKI ITU ?


Apakah kalian sudah tahu buku KOMPLOTAN DI JAKARTA KARYA REZNIKOV.....BAHWA BUNG KARNO YANG MENGKHIANATI PAK HARTO........DAN SEBELUMNYA PKI YANG MENGKHIANATI BUNG KARNO ?


Wahai saudara kecebong, mudah-mudahan kalian masih punya umur panjang untuk belajar sejarah dengan benar.......


Termasuk membaca sejarah orang-tua Jokowi yang jelas-jelas PKI........


Wahai saudara kecebong, JOKOWI ITU KUNYUK PENIPU NGGAK TAHU MALU, bagaimana mungkin kalian bisa jatuh cinta kepadanya, kalau KALIAN PUNYA OTAK ?
WASSALAM !


(Bambang Tri)

Tuesday, October 8, 2013

IN MEMORIAM PERANG YOM KIPPUR

Perang Yom Kippur yang terjadi tgl 6 Oktober sampai 25 Oktober 1973 merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah di antara 3 negara yang paling terlibat di dalamnya, yaitu Syria, Mesir dan Israel. Namun di antara ketiganya terdapat cara yang berbeda dalam peringatannya.

Di Mesir peringatan itu didominasi bentrokan berdarah antara pendukung Ikhwanul Muslimin dengan aparat keamanan dan massa anti-Ikwanul Muslimin yang menewaskan lebih dari 50 orang, merupakan pengulangan aksi-aksi demonstrasi berujung pembantaian oleh aparat keamanan yang dilakukan massa Ikwanul Muslimin sejak bulan Juli lalu. Di Syria peringatan dilakukan dalam berbagai bentuk seperti pameran seni, pertunjukan-pertunjukan, pemutaran film, konser, pawai hingga upacara bendera yang diadakan di puncak pegunungan Qasioun di dekat Damaskus yang dihadiri para pejabat tinggi Syria.

Bagi bangsa-bangsa Arab, perang tersebut membuktikan bahwa mereka sanggup mengalahkan Israel yang sebelumnya dianggap sebagai kekuatan yang tidak bisa dikalahkan. Sebaliknya bagi bangsa Israel, perang tersebut meruntuhkan kesombongan mereka sebagai kekuatan militer yang tidak terkalahkan oleh tetangga-tetangga sekaligus musuhnya orang-orang Arab.

Secara umum perang tersebut digambarkan sebagai upaya bersama Mesir dan Syria untuk merebut kembali wilayah mereka yang diduduki Israel sejak Perang 6 Hari tahun 1967. Mesir dan Syria awalnya berhasil mencapai tujuan mereka dengan mengusir Israel dari wilayah yang diduduki, yaitu Sinai (Mesir) dan Golan (Syria), namun akhirnya Israel berhasil menduduki kembali wilayah-wilayah tersebut. Namun ada banyak hal yang tidak ditulis dalam buku-buku sejarah dan dibahas oleh media-media massa umumnya, yaitu pengkhianatan pemimpin Mesir Anwar Sadat terhadap Syria (selengkapnya silakan lihat di sini http://cahyono-adi.blogspot.com/2012/09/sadat-khianati-syria-dalam-perang-yom.html), serta bantuan tanpa batas Amerika terhadap Israel, termasuk mengirim pesawat-pesawat tempur beserta pilotnya yang disamarkan hingga bantuan informasi inteligen dengan menggunakan peralatan paling canggih saat itu seperti pesawat pengintai SR-71 Blackbird. Dan satu lagi informasi penting namun luput dari perhatian publik, yaitu nyarisnya Israel menggunakan bom nuklir untuk menghentikan laju pasukan Syria dan Mesir.

Setelah perang itu, Mesir dan Syria yang sebelumnya adalah sekutu dekat hingga pernah menyatukan diri dalam satu negara, memilih jalan berbeda dalam hubungan mereka dengan Israel. Mesir memilih berdamai dengan Israel dengan imbalan mendapatkan kembali Sinai meski dengan kedaulatan yang tidak lagi utuh karena Israel juga diberi kewenangan campur tangan di wilayah itu. Imbalan lainnya adalah bantuan militer senilai miliaran dolar setiap tahun oleh Amerika. Sebaliknya Syria tetap memilih jalan perang, hingga sekarang. Pada tahun 1982, sekali lagi Syria terlibat perang terbuka melawan Israel saat membantu tetangga Arab-nya, Lebanon, yang diserang Israel. Namun kala itu Syria tidak lagi bersekutu dengan negara-negara Arab lainnya memerangi Israel, melainkan dengan Iran.

Pada perang itu Presiden Mesir Anwar Sadat dan Presiden Syria Hafez al Assad memiliki motif yang berbeda. Sadat hanya tidak ingin dipandang sebagai pemimpin "impoten" yang tidak berani melawan Israel dan mengembalikan Sinai yang diduduki Israel. Sementara Hafez benar-benar serius untuk mengalahkan Israel dan merebut kembali Golan.

Secara diam-diam Sadat bersepakat dengan PM Israel Golda Meier untuk membiarkan tentara Mesir merebut Sinai dan memberi kesempatan Israel mengkonsentrasikan kekuatannya menghadapi Syria. Hal ini dipenuhi Sadat dengan memerintahkan tentaranya berhenti dan duduk-duduk di Sinai, dan bukannya melanjutkan serangannya ke jantung Israel. Yang lebih parah lagi, Tentara Ke-III yang ditugaskan menyerang Sinai tidak didukung oleh kekuatan pasukan lainnya untuk menjaga jalur suplai. Akibatnya ketika tentara Israel menyerang balik, satuan itu terkepung sendirian, dan Mesir pun akhirnya setuju untuk gencatan senjata. Akibatnya Syria harus menanggung beban perang yang lebih berat lagi. Bertempur relatif sendirian menghadapi gabungan kekuatan Israel dan Amerika (dukungan kekuatan negara-negara Arab tidak cukup signifikan), Syria pun akhirnya mundur kembali dari Golan yang sempat direbutnya dari Israel. Dalam perang itu Syria harus kehilangan 6.000 tentaranya.

Dalam perang tersebut Israel yang kehilangan hampir 3.000 tentaranya memang berhasil membalikkan kemenangan Mesir dan Syria di awal perang menjadi kemenangan mereka di akhir perang. Namun predikat "kekuatan tak terkalahkan" yang disandang Israel berhasil diruntuhkan. Dan hal itu bertambah kuat setelah Hizbollah dan kelompok "Perlawanan" Lebanon berhasil mengusir Israel dari Lebanon tahun 2000 dan sekali lagi tahun 2006.

Sejak saat itu Israel tidak lagi memiliki kepercayaan diri untuk menyerang negara-negara tetangganya kecuali ada jaminan perlindungan dari Amerika.


 
REF:
"War Self-Delusion"; FRANKLIN LAMB; Veterans Today; 4 Oktober 2013

Tuesday, October 1, 2013

Pentingnya Sejarah

Dina Y. Sulaeman*



Bulan Juli 2012, saat saya diundang ikut konferensi internasional Women and Islamic Awakening di Iran, saya datang ke perpustakaan Imam Ridha di kota Mashad, untuk mencari naskah Quran kuno untuk bahan disertasi suami saya yang sedang mendalami filologi di Unpad. Di sana saya bertemu dengan Mr.R, seorang kurator naskah kuno. Aneh sekali, Mr.R tidak mengenal istilah ‘filologi’. Dengan susah payah saya coba jelaskan apa itu filologi (ya iyalah susah, karena itu bukan bidang ilmu saya, dan saya harus menjelaskan dalam bahasa Persia). Setelah diskusi cukup lama, akhirnya ketahuan, pada dasarnya apa yang dilakukan Mr R selama ini pun adalah kerjaannya para filolog: eksaminasi, kodikologi, kritik teks, dll. Bahkan Mr R menunjukkan ke saya enam jilid buku yang masing-masingnya sangat tebal, isinya adalah kodikologi puluhan ribu naskah kuno.

Singkat cerita, Mr R bersedia membantu suami saya untuk mendapatkan naskah Quran kuno. Tiga bulan kemudian, setelah pihak perpustakaan rapat internal dan menyetujui permohonan kami, mereka pun mengirimkan data digital naskah Quran kuno era Imam Ali (dan diduga kuat naskah itu tulisan tangan Imam Ali).

Bulan ini, suami saya berkesempatan datang langsung ke perpustakaan tersebut dan bertemu dengan Mr.R untuk penelitian lanjutan. Dia juga sempat bertemu dengan Rektor Univ. Ferdowsi dan bertanya kepada sang Rektor, “Mengapa jurusan filologi tidak ada universitas ini dan di Iran pada umumnya?”

Jawaban sang rektor menarik sekali, “Kami belum menemukan alasan, mengapa studi filologi diperlukan secara khusus. Di sini tentu ada studi tentang naskah-naskah lama, tapi tidak sampai menjadi satu studi khusus. Itu terjadi karena kalangan akademisi Iran tidak mendapatkan kesulitan berarti ketika berhadapan dengan naskah-naskah lama Iran. Bahasa dan aksara dari naskah yang berusia seribu tahun, misalnya, masih dengan mudah dibaca oleh masyarakat terpelajar zaman sekarang, apapun bidang studi mereka.”

Nah, sekarang, pertanyaannya: mengapa Indonesia perlu filologi? Itu karena naskah-naskah lama Nusantara adalah sesuatu yang betul-betul asing; baik bahasanya ataupun aksaranya. Jangankan seribu tahun, yang seratus tahun sajapun sudah terasa sangat aneh. Tugas filolog adalah menguak isi naskah kuno dalam rangka memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya, untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat zaman sekarang.

Satu poin penting yang bisa ditarik dari cerita ini: masyarakat Indonesia zaman sekarang sangat teralienasi dari masa lalu. Padahal, yang dimaksud kuno dalam konteks Nusantara tidaklah lama-lama amat. Cukup 100 tahun yang lalu sudah dianggap kuno. Tapi berapa banyak dari kita yang mampu membaca naskah berusia 100 tahun? Di Iran, kitab syair berusia 1000 tahun pun masih bisa dibaca anak-anak muda zaman sekarang.



Diduga kuat, keterasingan memang secara sengaja dibuat oleh kolonial demi kepentingan keberlanjutan kolonialisme. Keterasingan ini membuat masyarakat Indonesia menjadi bangsa dengan kadar softpower sangat rendah. Bangsa ini mudah diguncang dan diobok-obok, gampang diotakut-takuti, kebersamaan-nya sangat rapuh, karena tak banyak yang mereka ingat dari masa lalu sebagai sumber kebanggaan.

Nah, ini nyambung dengan statusnya Hendi Jo: “Begitu seringnya bangsa ini dibodohi. Ketika pada 1920-an Prof. C.C Berg dari Leiden membawa naskah Kidung Sundayana (yang menceritakan peristiwa Perang Bubat) hasil editnya ke Jawa, orang-orang Sunda dan Jawa tanpa kritik tanpa selidik langsung mengamini. Maka sejak itu, mulailah cerita konflik Sunda-Jawa diturun-temurunkan dalam nada penuh kebencian. Kita secara tak sadar, masuk perangkap C.C Berg yang tak lain adalah akademisi peliharaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Sejarah memang tak cukup dibaca saja, tapi harus dianalisa, dipikirkan dan dikritisi.”

Nyambung juga dengan komen dari M Arief Pranoto dan Mas Hendrajit: “Dengan merujuk beberapa literatur dan artikel sejarah, ditemukan tahapan tak kalah penting dalam sebuah peperangan serta dianggap sebagai model berulang dalam kolonialisme, yaitu "pengaburan atau pembengkokan sejarah" leluhur bagi negara yang dijajah. Termasuk juga dari Raffles, yang menulis History of Java, yang kabarnya telah mengambil dokumen dan arsip-arsip penting dari Jawa ke Inggris. Dia kemudian mengolahnya lagi jadi tulisan dengan sudut pandangnya sendiri.”

Jadi, mempelajari sejarah sangatlah penting dalam rangka menyambungkan kembali masyarakat Indonesia zaman sekarang dengan masa lalu, dalam rangka mengumpulkan serpihan kebanggaan nasional yang sudah tercabik-cabik. Paradigma sebagai bangsa yang besar dan kuat perlu dibangun kembali, supaya tidak kecut menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang hingga kini masih menjajah kita lewat ekonomi, budaya, dll.


Dedicated to a philolog wanna be: Khairun Fajri Arief

Keterangan foto: naskah Quran kuno era Imam Ali (dan diduga kuat naskah itu tulisan tangan Imam Ali), di Museum Quran Razawi, Mashad (difoto oleh Otong Sulaeman, Sept 2013).


* Penulis adalah kandidat doktor politik internasional, peneliti Global Future Institute, penulis dan blogger aktif sekaligus ibu rumah tangga yang sukses. Tulisan-tulisannya bisa dilihat disini.

Saturday, December 1, 2012

Memaknai Kembali Khotbah Historis Sayyidah Zainab


Oleh: Emi Nur Hayati Ma'sum Sa'id

Sejak awal penciptaannya, wanita merupakan  bagian dari kehidupan seorang pria. Nabi Adam as tidak diciptakan sendirian, tapi di sampingnya ada seorang wanita bernama Hawa. Wanita memiliki peran penting dalam setiap kehidupan pria. Mulai dari Hawa yang menjadi pendamping Nabi Adam as sampai Sarah istri Nabi Ibrahim, Maryam ibunya Nabi Isa dan Barkhanah Ibu Nabi Musa, Sayyidah Khadijah istri Nabi Muhammad saw, Sayyidah Fathimah istri Imam Ali as sampai Sayyidah Zainab yang mendampingi saudaranya Imam Husein as dalam kebangkitan Asyura.

Peran Sayyidah Zainab as
Peran wanita dalam gerakan Tauhid dan Islam sama sekali tidak bisa dipungkiri. Puncaknya adalah gerakan dan kebangkitan Asyura yang dipimpin oleh Imam Husein as. Dalam kebangkitan Asyura Imam Husein as membawa semua keluarganya baik laki-laki maupun perempuan, besar dan kecil. Dalam kebangkitan Asyura peran perempuan di sini tidak kalah pentingnya dengan peran laki-laki. Ada beberapa perempuan yang karena keberanian, keimanan dan pengorbanannya mereka berhasil mencatat namanya dalam sejarah mulia kebangkitan Asyura dan yang terpenting adalah keberadaan saudara perempuan Imam Husein as yang bernama Zainab as.

Sayyidah Zainab as dalam kebangkitan Asyura selain sebagai jembatan penyambung dan pengemban risalah pasca syahadah Imam Husein as, beliau juga bertanggung jawab sebagai pemimpin para tawanan, perawat Imam Zainul Abidin as yang sedang sakit dan penjaga anak-anak dan para wanita.

Bila Sayyidah Khadijah as wanita pertama kali yang beriman kepada Rasulullah Saw. Ia juga berkorban selama sepuluh tahun dari awal kenabian sampai tahun kesepuluh hijriyah. Dengan setia mendampingi suaminya dalam menyebarkan ajaran Islam dengan segala beban dan kesulitan. Dalam peristiwa Karbala, Sayyidah Zainab as cucu beliau juga mendampingi saudaranya Imam Husein as menegakkan dan meluruskan ajaran kakeknya Rasulullah Saw. Ajaran yang sedang diselewengkan oleh manusia-manusia durjana seperti Muawiyah bin Abi Sufyan dan anaknya Yazid bin Muawiyah.


Bila wanita harus ditawan dan dikelilingkan di tengah-tengah kota karena untuk menegakkan agama Allah, wanita mana yang lebih layak untuk memainkan peran ini, kalau bukan pewaris Khadijah as. Perempuan yang selama ini setia mendampingi Rasulullah Saw dalam segala kesulitan dan tantangan demi menegakkan agama Allah. Pasca syahadah Imam Husein as, Sayyidah Zainab mengambil alih tanggung jawab risalah kakaknya yang telah syahid.

Beliau benar-benar menggunakan kesempatan yang ada mulai dari berkhotbah di pasar Kufah sampai di istana Ibnu Ziyad dan di Syam di hadapan Yazid bin Muawiyah. Dengan khotbahnya yang lantang bak ayahnya Imam Ali as yang sedang berkhotbah, Sayyidah Zainab as membuka setiap hati yang buta dan membongkar kejahatan dan kezaliman pemerintahan Bani Umayyah. Bila ajaran murni Rasulullah Saw sampai kini menyebar luas di tengah-tengah umat manusia itu karena jasa, keberanian dan kesabaran Sayyidah Zainab as dalam melanjutkan risalah kakeknya.

Di Majlis Ibnu Ziyad
Ibnu Ziyad berusaha menghina Ahlul Bait as dengan melemparkan sebuah pertanyaan, "Siapa wanita yang terkucil ini?" tidak ada yang menjawab dan ia mengulangi lagi pertanyaannya, kemudian salah satu pembantu Sayyidah Zainab menjawab, "Ini adalah Zainab putri Fathimah putri Rasulullah Saw." Ibnu Ziyad melanjutkan, "Aku bersyukur kepada Allah karena telah mempermalukan kalian, membunuh dan mengungkap kebohongan kalian."

Penghinaan ini dijawab dengan tegas oleh Sayyidah Zainab as, "Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kami dengan wujud nabinya Muhammad Saw dan mensucikan kami dengan sesuci-sucinya. Kalau kamu bilang kami dipermalukan, sesungguhnya yang dipermalukan adalah orang yang fasik. Kalau kamu bilang kami berbohong, sesungguhnya pelaku kezalimanlah yang berbohong, bukan kami dan segala puji bagi Allah."

Di Majlis Yazid bin Muawiyah
Kedengkian dan kekufuran Yazid bin Muawiyah terungkap ketika para tawanan Ahlul Bait berdiri di depannya dan dengan kecongkakannya Yazid mengutak-atik gigi Imam Husein as dengan kayu yang ada di tangannya seraya berkata, "Oh seandainya nenek moyangku yang terbunuh di perang Badar dalam kondisi musyrik sekarang ada di sini menyaksikan kondisi keluarga Muhammad. Mereka akan terlihat gembira dan mengatakan kepadaku, terima kasih Yazid! Bani Hasyim telah bermain kekuasaan, tidak ada kabar gaib dan juga tidak ada wahyu yang turun. Aku bukan tergolong Khunduf (nenek moyang bani Umayyah ) bila aku tidak membalas dendam perilaku Muhammad dari anak-anaknya."

Di sini Yazid tidak saja membunuh Imam Husein as tapi juga berperang melawan Allah dan Rasulullah. Ia menganggap dirinya sebagai amirul mukminindan berposisi sebagai pengganti Rasulullah Saw tapi pada saat yang sama membalas dendam pekerjaan-pekerjaan Rasulullah yang membunuh para musyrikin di Badar. Ia mengagung-agungkan nenek moyangnya yang musyrik dan memusuhi Rasulullah Saw. Yazid mengutak-atik bibir Imam Husein as yang senantiasa diciumi oleh Rasulullah Saw. Mendengar kekufuran ini Sayyidah Zainab as tidak tinggal diam. Beliau segera mempermalukan dan membongkar kedok Bani Umayyah yang telah menyelewengkan Islamdengan pidato historisnya.

Sayyidah Zainab berkata:

"Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat Allah atas Rasul-Nya dan semua keluarganya. Benar Allah berfirman demikian, "Lantas  kesudahan orang–orang yang melakukan bermacam-macam kejahatan adalah sikap kufur dan memperolok-olok ayat-ayat Allah." (Surat ar-Rum: 10).

Hai Yazid! Kau pikir dengan menutup jalan darat dan udara untuk kami dan dengan mengelilingkan kami ke sana kemari bak tawanan, di hadapan Allah kami terhina dan kau terhormat? Kau pikir kemenanganmu atas kami karena kedudukanmu di hadapan Allah? Lantas kau bangga dan sombong memandang sekitarmu? Karena kau lihat dunia berpihak kepadamu, urusan berjalan sesuai dengan kehendakmu dan dengan mudah kau menguasai kami? Tunggu dulu pelan-pelan! Lupakah kau akan firman Allah yang berbunyi, "Dan jangan sekali-kali orang kafir menyangka bahwa tangguh yang Kami berikan kepada mereka lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami beri tangguh kepada mereka supaya bertambah-tambah dosa mereka. Dan bagi mereka azab yang menghinakan." (Surat Ali Imran: 178)

Kemudian Sayyidah Zainab mengingatkan Yazid dan orang sekelilingnya akan status mereka sebagai orang-orang yang dibebaskan oleh Rasulullah Saw dalam peristiwa Fathu Mekah (penaklukan kota Mekah).

"Hai anak orang-orang yang dibebaskan! Adilkah peraturan ini, di mana kau letakkan perempuan-perempuan dan pembantu-pembantumu di balik tabir sementara putri-putri Rasulullah kau bawa kesana kemari bak tawanan?Kau buka kerudung dan wajah mereka dan musuh-musuh membawanya dari kota satu ke kota lain sehingga orang-orang asing dan hina memandang wajah-wajah mereka? Sementara tidak ada bagi mereka laki-laki yang menjadi pimpinannya dan tidak punya pelindung yang melindungi mereka.

Bagaimana bisa diharapkan kasih sayang dari seorang (Hindun) yang telah mengunyah hati orang-orang suci kemudian memuntahkannya dan dagingnya tumbuh dari darah-darah syuhada? Bagaimana bisa berhenti permusuhan orang yang pandangannya kepada kami Ahlul Bait senantiasa penuh dengan permusuhan dan kedengkian? Kemudian tanpa ada rasa dosa dan dengan congkak mengatakan, "Seandainya nenek moyangku hadir di sini dan saking gembiranya pasti berteriak, "Yazid, terima kasih!"

Kini kau berkatasambil mengutak-atik gigi Aba Abdillah, penghulu para pemuda ahli surga. Bagaimana mungkin kau tidak akan mengatakan hal itu? Dengan menumpahkan darah putra-putra Rasulullah Saw dan bintang-bintang keluarga Abdul Muthalib, kau telah melukai hati-hati dan membakar akarkeutamaan dan takwa. Sekarang kau panggil nenek moyangmu dan kau pikir kau sedang memanggil mereka dan minta pujian dari mereka sementara kau lupa bahwa kau secepatnya akan menyusul mereka. Pada saat itu kau akan berharap, "Seandainya kau lumpuh dan bisu, tidak mengatakan apa yang telah kau katakan dan tidak berbuat apa yang telah kau perbuat."


Ya Allah tuntutlah hak kami dari mereka dan balaslah kejahatan orang-orang yang menzalimi kami! Turunkan kemarahan-Mu kepada orang-orang yang menumpahkan darah kami dan membunuh para sahabat kami!

Kemudian Sayyidah Zainab berkata kepada Yazid, "Hai Yazid, Demi Allah! dengan kejahatanmu ini kau telah menguliti kulitmu sendiri dan mencabik-cabik dagingmu sendiri. Dengan segera kau akan menghadap Rasulullah Saw dengan menanggung dosa. Dosa menumpahkan darah dan menodai kehormatan keluarganya. Pada hari itu Allah akan mengumpulkan Rasulullah Saw dengan keluarganya dan menuntut hak-hak mereka dari musuh-musuhnya."

"Jangan kau mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki." (Surat Ali Imran: 169).

Dan cukup bagimu, Allah Swt sebagai hakim, Rasulullah Saw sebagai penuntut dan Malaikat Jibril sebagai pendukung. Ketahuilah bahwa mereka yang menyiapkan sarana kejahatan ini dan menaikkan kamu di atas pundak kaum muslimin, akan segera menerima balasannya. Seburuk-buruk balasan bagi orang-orang zalim. Mereka akan segera tahu siapa yang lebih buruk dan pasukan mana yang lebih lemah."

Yazid dalam pandangan Sayyidah Zainab adalah manusia yang sangat rendah dan hina sehingga tidak layak menjadi orang yang diajak bicara oleh beliau. Tapi beliau terpaksa berbicara dengan Yazid seraya mengatakan:

"Bila musibah menyeretku ke sini dan terpaksa harus bicara denganmu, ketahuilah posisimu di mataku sangat rendah dan terhina. Sehingga sulit bagiku untuk menegur dan mengritikmu. Tapi aku harus bagaimana? Mata-mata kami menangis dan dada-dada kami terbakar.

Oh...sungguh aneh kejadian ini dan benar-benar aneh! Tentara Allah terbunuh di tangan tentara setan yang dibebaskan. Tangan-tangan kalian berlumuran darah kami. Daging-daging kami keluar dari mulut-mulut kalian. Badan-badan yang suci diserahkan kepada serigala-serigala dan binatang buas sahara.

Bila hari ini dengan membunuh dan menawan kami kau merasa beruntung, di Hari Perhitungan dengan mahal kau akan segera membayarnya.  Kau tidak akan menemukan sesuatu kecuali apa yang kau perbuat. "Sekali-kali Tuhanmu tidak akan menganiaya hamba-hamba-Nya." (Surat Fussilat: 46). Hanya kepada Allah kami mengeluh dan hanya kepada-Nya kami bersandar.

Hai Yazid, lakukan konspirasimu terhadap kami dan lakukan usahamu semaksimal mungkin! Demi Allah! Kau tidak akan bisa menghapus nama kami dan tidak bisa membunuh wahyu kami. Kau tidak akan bisa mencapai ketinggian kami. Kau tidak akan bisa mencuci perbuatan yang memalukan ini. Ketahuilah sesungguhnya pendapat dan pemikiranmu itu goyah dan masa-masamu pendek dan kelompokmu berceceran.

Pada hari itu seorang penyeru Allah berteriak, "Ingatlah sesungguhnya kutukan dan laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim." (Surat Hud:18)"

Diakhir khotbahnya Sayyidah Zainab berdoa:

"Maka segala puji bagi Allah yang menetapkan awal kehidupan kami dengan kebahagiaan dan ampunan. Menetapkan akhir kehidupan kami dengan syahadah dan rahmat. Kami memohon kepada Allah untuk menyempurnakan pahala kebaikannya atas syuhada kami. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Cukup bagi kami Allah, dan Dia adalah sebaik-baik wakil." (Balaghat an-Nisa, Ibnu Thifur, Maktab Bashirati)

Begitu besar tantangan dan musibah yang harus dihadapi Sayyidah Zainab. Dengan keimanan dan keyakinannya kepada Allah beliau tidak gentar menghadapi manusia-manusia hina dan durjana seperti Yazid bin Muawiyah dan lain-lainnya.

Bahkan ketika Sayyidah Zainab as ditanya Yazid, "Apa yang kau lihat di Karbala?"

Beliau menjawab dengan tegas, "Tidak ada yang kulihat kecuali keindahan".

Jawaban ini menunjukkan bahwa dengan segala kesulitan dan kesusahan, di depan musuh Sayyidah Zainab mengajarkan masalah keteguhan dan kesabaranbagi umat Islam. (IRIB Indonesia)

Keterangan: Dicopas dari IRIB Indonesia, Senin, 28 November 2011

Thursday, September 27, 2012

SADAT KHIANATI SYRIA DALAM PERANG YOM KIPPUR

Sesuai janji saya beberapa waktu lalu bahwa saya akan memaparkan sebagian dari fakta sejarah perjuangan bangsa Syria melawan kekuataan zionis Israel, berikut saya sampaikan fakta-fakta sejarah Perang Yom Kippur yang melibatkan Syria dalam perang hidup mati melawan Israel. Namun berbeda dengan versi "resmi", tulisan ini berdasarkan "edisi revisi", berasal dari file rahasia yang ditulis dubes Sovyet untuk Mesir Vladimir M. Vinogradov yang kemudian ditulis dalam sebuah artikel oleh penulis berdarah yahudi Israel Shamir yang dimuat di situs independen "Counterpunch" dengan judul "What Really Happened in the Yom Kippur War?".

Menurut tulisan itu Presiden Mesir Anwar Sadat telah mengkhianati Syria dalam Perang Yom Kippur tahun 1973 demi memenuhi ambisi pribadinya. Dalam pengkhianatannya terhadap Syria, Sadat bekerjasama dengan pemimpin Israel Golda Meir serta menlu Amerika Henry Kissinger.

Menurut versi "resmi" Perang Yom Kippur yang dimulai tgl 6 Oktober 1973 dimulai dengan aksi serangan dadakan Mesir dan Syria secara serempak terhadap Israel. Pasukan Mesir berhasil menerobos Sinai (wilayah Mesir yang diduduki Israel sejak Perang 6 Hari tahun 1967) sejauh beberapa mil dan pasukan Syria menerobos Dataran Golan (wilayah Syria yang direbut Israel tahun 1967). Kedua serangan terpisah namun terkoordinasi rapi itu menimbulkan kerugian besar bagi Israel sekaligus menjadi momen pertama kalinya dimana Arab berhasil mengalahkan Israel. Namun kemudian Israel melakukan serangan balik dan berhasil memukul mundur Syria dari Golan dan mengancam balik ibukota Damaskus. Disusul kemudian serangan balik Israel atas Mesir yang berhasil menerobos Mesir dan mengepung Tentara Ketiga Mesir. Perang akhirnya berakhir melalui gencatan senjata yang disponsori Amerika dengan posisi tidak ada pihak yang menang maupun kalah.

Menurut Vinograd aksi serangan Mesir dan Syria yang menjadi awal peperangan sama sekali bukan aksi dadakan. Aksi tersebut telah diketahui, bahkan dirancang bersama oleh Sadat, Golda Meir dan Kissinger. Perencanaan bahkan mencakup penghancuran tentara Syria dan pengepungan Tentara Ketiga Mesir (1 Tentara terdiri dari beberapa korps, 1 korps terdiri dari beberapa divisi, dan 1 divisi berkekuatan sekitar 10.000 personil militer. Satu Tentara berkekuatan sekitar 200-300 ribu personil).
Jalannya peperangan juga menimbulkan banyak pertanyaan. Misalnya saja, mengapa tentara Mesir berhenti melakukan serangan setelah menerobos Sinai dan membiarkan Tentara Ketiga terpencil sendirian tanpa penjagaan? Mengapa Mesir membiarkan divisi tank Ariel Sharon menerobos pertahanan Mesir dan mengepung Tentara Ketiga? Mengapa tidak ada pasukan cadangan Mesir di Tepi Barat Terusan Suez yang bisa mencegah pengepungan Tentara Ketiga?

Tentang hal ini Vinogradov menulis: "Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab selama kita menganggap Sadat sebagai seorang patriot bagi bangsa Mesir. Pertanyaan-pertanyaan itu baru bisa dijawab seluruhnya jika kita mempertimbangkan adanya kolusi antara Sadat dengan pemimpin-pemimpin Israel dan Amerika yang masing-masing dari mereka mencoba meraih tujuan masing-masing. Suatu konspirasi di mana masing-masing pemain tidak mengetahui sepenuhnya tujuan pemain lainnya. Suatu konspirasi dimana masing-masing pemain berusaha meraih hasil yang lebih besar dari kesepakatan semula."

Ketika Sadat mulai menduduki jabatannya sebagai Presiden Mesir sepeninggal Gamal Abdul Nasser, ia menanggung beban moral yang tidak tertanggungkan: sebagai pecundang besar Perang 6 Hari tahun 1967. Ia adalah komandan pasukan Mesir dalam perang yang memalukan itu. Hanya dalam waktu 6 hari Israel bisa mencaplok Gaza dan Sinai dari Mesir, Dataran Golan dari Syria, dan mengusir Yordania dari Al Quds (Jerussalem). Dan bahkan ketika Arab belum sempat melakukan serangan balik untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang diduduki Israel, mereka sudah menerima tawaran gencatan senjata. Tentu saja hal itu terjadi karena lemahnya kepemimpinan para pemimpin Arab, atau telah terjadi konspirasi untuk keuntungan Israel.

Sadat tidak saja menanggung malu di hadapan rakyat Mesir, namun juga di hadapan seluruh bangsa Mesir mengingat Mesir adalah "pemimpin" di antara bangsa Arab karena kekuatan militer dan jumlah penduduknya. Beban itu baru bisa hilang jika ia bisa menunjukkan sebagai pemimpin yang berani dan tangguh dengan menyerang Israel.

Namun untuk memulai perang, Sadat tidak mendapat dukungan Uni Sovyet. Sebaliknya, ambisi pribadinya yang besar tercium oleh Henry Kissinger, menlu Amerika sekaligus seorang zionis sejati. Kissinger pun menawarkan solusi: Bersama Israel, Amerika mengijinkan Mesir menyerang Israel dan merebut kembali sebagian Sinai. Namun pada akhirnya Israel akan memukul balik Mesir ke perbatasan sebelum perang. Terakhir Amerika akan campur tangan untuk menfasilitasi gencatan senjata.

Di sisi lain Mesir terjalin perjanjian militer dengan Syria yang mewajibkan setiap perang yang melibatkan Mesir otomatis juga melibatkan Syria. Syria dipimpin oleh Haffez al Assad, juga komandan perang dalam Perang 6 Hari. Seperti Sadat, ia pun memiliki obsesi untuk menyerang Israel dan merebut kembali Dataran Golan milik Syria. Bedanya dengan Sadat, Haffez benar-benar menjadikan Golan sebagai musuh pribadinya dengan Israel yang tidak akan ditukarnya dengan apapaun.

Maka Mesir dan Syria pun terlibat dalam perencanaan serangan bersama terhadap Israel. Namun diam-diam Sadat telah membuat kesepakatan dengan Kissinger dan Golda Meir untuk mengorbankan Syria. Sebenarnya tidak hanya Syria, namun juga pasukan penjaga perbatasan Israel sebagaimana juga Tentara Ketiga Mesir.

Selama masa dekolonisasi setelah berakhirnya Perang Dunia 2, Amerika kehilangan pengaruhnya di Timur Tengah dengan minyaknya yang melimpah, Terusan Suez yang vital dan menguntungkan, serta penduduknya yang padat sebagai pasar. Sekutunya, Israel, harus didukung, namun negara-negara Arab juga semakin kuat. Israel harus dibuat flexibel dan sikap kerasnya terhadap negara-negara Arab harus diredam. Maka Israel harus dilindungi sekaligus dihancurkan arogansinya. Hal itu hanya bisa terjadi jika Mesir bisa "memukul keras" Israel untuk kemudian diselamatkan Amerika.

Di sisi lain Amerika juga membutuhkan bantuan Israel untuk mengukuhkan kedudukannya di Timur Tengah karena saat itu Amerika hanya mempunyai 2 sekutu, yaitu Israel dan Saudi Wahabiah. Jika pengaruh Amerika menguat di Timur Tengah, maka Israel pun ikut "terangkat derajatnya". Sementara Sadat kurang menyukai Uni Sovyet dan kekuatan-kekuatan progressif di negerinya, ia bisa dibujuk untuk bergabung dalam poros Amerika-Israel-Saudi. Sementara Syria, kekuatan Arab progressif yang masih teguh memusuhi Israel, bisa diatasi secara militer dan dihancurkan.

Maka setelah tercapai kesepakatan rahasia antara Sadat, Kissinger dan Meier, disusunlah sebuah skenario. Mesir akan dibiarkan menerobos Sinai dengan menyeberangi Terusan Suez dan Israel hanya akan mempertahankan lembah menuju Mittla and Giddi. Sementara untuk Syria diputuskan untuk dihancurkan secara militer. Itulah sebabnya Israel lebih banyak mengkonsentrasikan pasukannya di perbatasan timur dengan Syria daripada perbatasan barat dengan Mesir meski yang terakhir ini memiliki kekuatan militer jauh lebih besar. Adapun beberapa ribu tentara Israel yang ada di perbatasan Suez, sengaja dikorbankan.

Namun sebagaimana aksi-aksi konspirasi lainnya, tidak semua aspek berjalan sesuai rencana. Demikian juga dalam konspirasi Perang Yom Kippur. Tidak seperti yang diperkirakan, Uni Sovyet dengan mengabaikan resiko terlibat konflik dengan Amerika, ternyata sangat antusias membantu Arab dengan gelontoran senjata yang dikirim langsung dengan pesawat-pesawat pengangkut militernya. Dan senjata-senjata itu adalah yang termodern pada masanya, khususnya rudal-rudal anti tank. Masalah lainnya adalah ternyata senjata-senjata yang dikirimkan Sovyet ternyata jauh lebih unggul dibanding senjata Israel yang dipasok Amerika.

Sebelum Perang Yom Kippur, Israel sering mengolok-olok tentara Arab yang kebanyakan menderita penyakit phobi atau ketakutan terhadap tank. Mereka berlarian dari posnya jika mendengar atau melihat tank-tank Israel menuju ke posisi mereka. Namun dengan senjata-senjata anti-tank "Sagger" yang akurat dan cukup dipanggul oleh seorang tentara, Mesir tiba-tiba saja menjadi kampiunnya perang tank. Senjata satu itu bertanggungjawab atas hancurnya 800 sampai 1200 tank Israel.

Maka pasukan Mesir dengan "lenggang kangkung" menerobos Sinai. Gema "Arab mengalahkan Israel!" menggema di seluruh Arab dan bahkan dunia, namun itu justru membuat Sadat bingung. Untuk mencegah skenario lebih melenceng dari rencana, Sadat pun memerintahkan pasukan Mesir untuk berhenti. Mereka hanya diperintahkan untuk menunggu tentara Israel.

Namun saat itu Israel masih sibuk menghadapi Syria di front timur. Merasa aman dari ancaman Mesir, Israel pun mengerahkan seluruh kekuatannya menghadapi Syria. Syria yang awalnya sukses menerobos Golan, akhirnya terdesak mundur. Haffez al Assad meminta pasukan Mesir untuk maju demi mengurangi tekanan atas Syria, namun Sadat menolak. Tentara Mesir tetap diam tidak bergerak meski tidak ada satu unit pun tentara Israel menghadang mereka. Saat itu juga Haffez al Assad (ayah dari Presiden Bashar al Assad) sadar kalau Sadat telah mengkhianatinya.

Sebagaimana Sadat, para pemimpin Israel pun terkejut dengan perkembangan perang. Syria memang mundur, namun setiap meter kemajuan Israel harus dibayar dengan mahal. Hanya pengkhianatan Sadat lah yang telah menyelamatkan Israel dari Syria. Skenario penghancuran total pasukan Syria gagal dilakukan, namun Syria juga tidak mampu lagi melakukan offensif baru.

Israel kemudian mengalihkan konsentrasinya ke barat. Kali ini Golda Meir, yang kecewa pada Sadat yang telah menghancurkan tentaranya dengan terlalu kejam, memutuskan untuk menghukum Sadat. Ia pun memindahkan sebagian besar pasukannya yang telah dilengkapi dengan senjata-senjata terbaru Amerika, ke barat.

Kala itu Yordania, yang terlibat dalam peperangan dengan mengirimkan pasukan ekspedisi ke pihak Syria, mendapat kesempatan untuk memotong jalur transportasi Israel dari Utara ke Selatan. Raja Yordania Hussein pun mengajukan usulnya ke Sadat dan Haffez. Haffez dengan gembira menerima usul itu, namun Sadat menolak.

Dalam pengakuannya kepada Vinogradov kemudian, Sadat memberikan jawaban yang tidak rasional menurut Vinogradov. Soal berhentinya tentara Mesir di Sina, Sadat berdalih ia tidak ingin pasukannya menghabiskan energi mencari tentara Israel. Sedang mengenai proposal Raja Hussein Sadat mengaku tidak percaya dengan kemampuan tempur pasukan Yordania. Jika Yordania diserang Israel maka Mesir terpaksa harus menyelamatkannya.

Padahal bahkan para pemimpin Israel bisa memastikan, jika saja pasukan Mesir maju, dengan mudah mereka akan membebaskan seluruh Sinai dan Gaza dari pendudukan Israel. Vinogradov menulis bahwa diamnya pasukan Mesir adalah karena Sadat menunggu Amerika turun tangan. Namun yang datang ternyata adalah hukuman Israel.

Kala itu Tentara Ketiga Mesir berada 40 km dari posisi pasukan pendukungnya, Tentara Kedua. Padahal seorang kadet militer yang masih hijau saja tahu, hal itu sangat membahayakan. Membiarkan satu pasukan besar tanpa pelindung di garis belakangnya sama saja dengan menghancurkan pasukan itu. Musuh bisa dengan mudah menerobos dan kemudian mengepung pasukan tersebut hingga hancur perlahan-lahan. Sebagaimana terjadi pada Tentara Ketiga Jerman dalam Perang Dunia II yang terkepung oleh pasukan Uni Sovyet justru ketika tengah mengepung kota Stalingrad. Seluruh pasukan berkekuatan lebih dari 300.000 tentara itu pun hancur dan hanya 90.000 tentara tersisa yang ditawan Uni Sovyet.

Maka pasukan Israel di bawah komando Ariel Sharon menerobos "pertahanan" Mesir sekaligus memotong jalur transportasi antara Tentara Kedua dengan Tentara Ketiga sekaligus secara efektif menjadikan Tentara Ketiga terkepung di Sinai. Tidak hanya itu, tank-tank Ariel Sharon bahkan menyebarangi Terusan Suez dan mengancam kota-kota utama Mesir. Pada saat ini Amerika baru bertindak untuk "menyelamatkan Mesir".

Gencatan senjata pun ditetapkan melalui Konperensi Genewa yang diboikot Syria. Dan sejak saat itu terjadi perubahan orientasi politik luar negeri Mesir yang sangat tajam. Sadat menjauhi Uni Sovyet dan mendekati Amerika, sikap politik yang selanjutnya ditiru oleh pemimpin-pemimpin Arab lainnya. Ia bahkan berkoar-koar bahwa Sovyet tidak serius membantunya dalam perang.

Selain Amerika yang menangguk keuntungan politis, Sadat juga demikian halnya. Ia muncul sebagai "pahlawan baru Arab" yang berhasil mengalahkan Israel. Kamun ia tidak bisa berlama-lama menikmati kemenangannya, peluru-peluru tajam tentaranya yang merasa dikhianati, menembus jantungnya dan menewaskannya tidak lama kemudian.


Tuesday, August 28, 2012

HUBUNGAN KOTOR INGGRIS DAN DIKTATOR-DIKTATOR ARAB

Sudah lama saya sebenarnya ingin mengupas banyak tentang sejarah kelam raja-raja tiran Arab. Apalagi dengan adanya krisis Syria dimana dua penguasa Arab, Saudi dan Qatar memainkan peran antagonis yang menyesakkan dada siapapun yang mencintai kebenaran dengan bantuan mereka terhadap para pemberontak. Dan alhamdulillah, obsesi saya terbantukan oleh munculnya sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Finian Cunningham, wartawan senior independen Inggris berjudul "Britain’s barbaric ‘special relationship’ with Arab dictators" yang muncul di situs favorit saya, thetruthseeker.co.uk tgl 27 Agustus lalu. Tulisan berikut ini merupakan ringkasan dari artikel tersebut.

Foto-foto di media massa yang memperlihatkan perdana menteri Inggris David Cameron menyambut hangat raja Bahrain Hamad Khalifa di kantor Cameron di Downing Street 10 minggu lalu, menimbulkan pesan yang menyayat hati masyarakat, terutama Inggris, yang menganggap Inggris sebagai kampiun demokrasi dan perlindungan HAM.

Cameron yang lebih tegap dan tinggi dengan jas dan dasinya yang "modern" menjabat tangan Hamad khalifa dengan pakaian jaman pertengahannya, sangat tepat menggambarkan hubungan Inggris dengan negara-negara Arab bekas jajahannya sebagai hubungan "patron-client" alias tuan dan pelayannya.
Betapa berbudayanya, pemimpin Inggris mengundang seorang raja badui berbincang-bincang di tempat yang menjadi simbol demokrasi dan kebudayaan, membicarakan hal-hal yang tidak begitu penting melainkan hal-hal tentang kepentingan Inggris.

Dalam agenda pertemuan tersebut, menurut media-media liberal Inggris seperti "Guardian", David Cameron menyinggung masalah HAM yang kini tengah menjadi sorotan dunia di Bahrain. Namun hal yang lebih utama gagal disinggung-singgung oleh media massa, yaitu hubungan bisnis antara kedua negara.

Seperti biasa, Inggris berhasil memainkan perannya sebagai negara yang mengedepankan hubungan bisnis sekaligus pejuang demokrasi dan HAM. Dan seperti biasa, sang "client" diberi kesempatan untuk mempertahankan diri dari tuduhan pelanggar HAM dengan dalih "memiliki prinsip dan nilai-nilai moral sendiri" yang "agak berbeda" dengan nilai-nilai barat.

Usai pertemuan, menlu Bahrain Shaikh Khalid Al Khalifa yang tidak lain saudara kandung sang raja, sebagaimana semua jabatan strategis lainnya di kerajaan yang dipegang oleh saudara dan kerabat raja, mengatakan bahwa agenda utama pertemuan adalah membicarakan "stabilitas kawasan". Stabilitas di sini tentu bukan berarti kestabilan kepentingan rakyat di kawasan melainkan kepentingan bisnis negara-negara barat dan kestabilan politik penguasa diktator Arab di kawasan itu.

Jujur saja, Inggris tidak pernah peduli dengan masalah HAM dan demokrasi di Bahrain dan juga di manapun di dunia. Sebaliknya Inggris-lah salah satu negara yang paling banyak melanggar HAM dan demokrasi di dunia. Di masa lalu saat Inggris menjadi negara terbesar dan terkuat di dunia, ia adalah juara pelanggaran HAM dan demokrasi. Kini ia menempati posisi runner-up di bawah Amerika.

Dinasti al-Khalifa yang kini menguasai Bahrain, sebagaimana juga dinasti-dinasti Arab lainnya, 200 tahun yang lalu diangkat oleh Inggris menjadi penguasa untuk mendukung kepentingan Inggris. Mereka semuanya pada awalnya hanyalah orang-orang suku badui terbelakang yang tidak mengerti baca tulis, namun sangat berguna bagi Inggris dalam mempertahankan kekuasaannya. Dengan kebodohannya itu mereka tidak segan-segan melakukan hal-hal di luar nalar kemanusiaan. Para orang-orang tua di Bahrain masih bisa mengingat dengan jelas bagimana dahulu raja mengirimkan preman dan tukang pukul untuk memunguti pajak dari rakyat-rakyat miskin. Sesekali terdengar kabar seorang bangsawan menculik wanita cantik dari kalangan jelata untuk dijadikan gundik.

Kekejian seperti itu mungkin tidak pernah lagi terdengar saat ini, namun bentuk-bentuk kekejian lain yang lebih "canggih" menggantikannya. Kerajaan memanipulasi kekuasaan melalui pemilu "main-main" dan menguasai semua sumber ekonomi terutama minyak, dan hanya menyisakan sedikit untuk rakyatnya. Dan sementara sebagian besar rakyat Bahrain hidup dalam kemiskinan, diskriminasi pekerjaan serta pengangguran, raja dan keluarganya hidup dalam istana mewah yang dibangun di atas tanah gusuran, memperkaya diri dengan bisnis kotor dan praktik-praktik korupsi dengan perusahaan-perusahaan, perbankan dan industri minyak asing.

Rakyat Bahrain telah berulangkali memprotes ketidak adilan ini. Mereka menginginkan pemerintah yang dipilih oleh mereka sendiri dan bekerja untuk kepentingan rakyat. Ini adalah tuntutan demokrasi dan HAM yang mendasar,

Selama beberapa dekade rakyat asli Bahrain yang mayoritas beragama Shiah, berulangkali menyampaikan penolakannya atas regim korup Al-Khalifa yang Sunni yang dilindungi oleh Inggris dengan kekuatan militernya. Pada tahun 1950-an hingga 1960-an tentara Inggris yang ditempatkan di negeri ini sering melakukan penembakan terhadap para demonstran.

Saat Inggris memberikan hadiah kemerdekaan kepada Bahrain tahun 1971, Inggris meninggalkan Bahrain dari pintu depan, namun diam-diam kembali melalui pintu belakang. Aparat keamanan Baharain misalnya, sampai saat ini masih dipimpin oleh perwira inteligen Inggris. Dan dengan itu semua polisi Bahrain berhasil menjadi salah satu polisi paling brutal di dunia. Salah satu intel Inggris yang menjadi pemimpin polisi Bahrain adalah Kolonel Ian Henderson antara tahun 1968 hingga 1998. Selama kepemimpinannya itulah ribuan rakyat Bahrain ditahan dan disiksa, sebagian bahkan melalui tangan Henderson sendiri.

Inggris juga menerapkan metode lain untuk berkuasa sebagaimana telah dilakukan di tempat-tempat lain, yaitu mengeksploitir perbedaan di dalam masyarakat. Di Bahrain Inggris sengaja menciptakan sentimen Shiah-Sunni dengan memberikan dukungan tanpa batas pada penguasa Sunni di atas penderitaan rakyat yang Shiah.

Untuk memperkuat "kebijakan" dikotomi Shiah-Sunni ini Inggris sengaja mendatangkan pekerja-pekerja Sunni dari berbagai negara untuk mengisi jabatan di lembaga-lembaga publik maupun perusahaan-perusahaan besar di Bahrain.



(bersambung)

Friday, August 17, 2012

PERANG "JARING LABA-LABA" BENT JBEIL

Setelah Israel menarik diri dari Lebanon Selatan bulan Mei 2000, setelah bertahun-tahun menderita akibat serangan gerilyawan Hizbollah, pemimpin Hizbollah Sayyed Hassan Nasrallah berpidato di kota Bent Jbeil, Lebanon Selatan. Di hadapan ribuan rakyat Lebanon yang bergembira paska hengkangnya Israel, Sayyed Nasrallah berkata:

"Setiap warga Lebanon yang ditahan di penjara Israel, Insya Allah, akan kembali kepada keluarganya. Barak (PM Israel kala itu, Ehud Barak) dan pemerintahannya tidak mempunyai pilihan: Saya sarankan kepadanya untuk hengkang dari daerah perkebunan Shebaa (wilayah Lebanon terakhir yang masih diduduki Israel)..... ia tidak mempunyai pilihan lain..... Saya katakan kepadanya: Isreal yang memiliki senjata nuklir dan angkatan udara paling kuat di kawasan ini adalah lebih rapuh dari jaring laba-laba."

Para pemimpin Israel tersinggung berat dengan julukan itu, "jaring laba-laba" yang rapuh. Selama puluhan tahun tentara Israel selalu membanggakan diri sebagai "tentara yang tak terkalahkan" dan kini diejek oleh Sayyed Nasrallah sebagai benda yang paling rapuh. Maka semua pemimpin Israel pun saat itu juga memimpikan untuk membalas ejekan tersebut.

Namun mengalahkan Hizbollah bukan pekerjaan mudah, apalagi dengan keberadaan 40.000 tentara Syria yang berada di Lebanon atas mandat Liga Arab untuk mencegah perang sipil berkecamuk lagi. Israel pun merancang langkah berikutnya sebelum menghancurkan Hizbollah dan mempermalukan Sayyed Nasrallah, yaitu pembunuhan mantan PM Lebanon, Rafiq Hariri, yang eksekusinya terjadi bulan Februari tahun 2005. Pembunuhan itu akan ditimpakan kesalahannya kepada Syria yang selanjutnya akan diikuti oleh aksi-aksi demonstrasi besar-besaran menuntut penarikan pasukan Syria.
Sebagaimana dipaparkan oleh Hizbollah, Israel telah melakukan kegiatan mata-mata yang intensif, termasuk memotret tempat-tempat yang bakal dilalui Hariri. Pada hari terjadinya serangan, pesawat-pesawat tak berawak Israel bahkan semakin intensif melakukan kegiatannya di atas kota Beirut. Hizbollah bahkan berhasil mendapatkan foto-foto hasil jepretan pesawat-pesawat tak berawak Israel.

Dan seperti direncanakan Isrel, Hariri pun tewas oleh ledakan bom. Meski Hizbollah dan kelompok-kelompok perlawanan anti-Israel mencoba mengorganisir aksi demonstrasi besar-besaran membela keberadaan tentara Syria, tuntutan penarikan tentara Syria dari Lebanon tidak terbendung. Ditambah lagi dengan munculnya desas-desus bahwa Amerika akan turut campur menyerang Syria. Maka Syria pun hengkang dari Lebanon, membuka pintu bagi dilakukannya rencana Israel mempermalukan Hizbollah. Namun Hizbollah telah mempersiapkan diri.

Dalam Perang Lebanon yang terjadi bulan Juli 2006, Isreal menggelar operasi khusus pendudukan terhadap kota Bent Jbeil, tempat Nasrallah berpidato menyebut Israel lebih lemah daripada jaring laba-laba. Operasi itu diberi nama "Operasi Jaring Besi", untuk mengolok-olok Nasrallah. Demi memastikan keberhasilan operasinya, Israel melibatkan 2 satuan militer paling elit-nya, Brigade Golani dan Brigade Terjungpayung.

Pentingnya operasi ini diungkapkan tidak kurang dari Kastaf Jendral Dan Halutz dan komandan operasi Gadi Eisenkot yang menyebut Bint Jbeil sebagai "simbol penting". Mereka bermimpi untuk memberikan kesempatan pada perdana menteri Israel berpidato di tempat yang sama dengan tempat dimana Nasrallah berpidato dahulu.

Menurut para analis militer, Bint Jbeil dan desa Aynata yang terdekat dipertahankan oleh 100-140 pejuang Hezbollah. Tugas mereka bukan untuk mempertahankan wilayah, melainkan hanya menghambat kemajuan tentara Israel dan menimbulkan kerugian besar pada mereka.

Pertempuran berlangsung antara tgl 24 Juli hingga 29 Juli. Pada hari pertama saja Israel sudah mengalami kerugian besar. Sebanyak 5 prajurit dari satuan Brigade Gilani mengalami luka-luka serius dan 2 tank Merkava dikirim untuk mengevakuasi mereka. Tank pertama mendapatkan tembakan rudal anti-tank Hizbollah yang mengakibatkan komandan peleton tewas dan 2 awak tank mengalami luka-luka. Tank kedua juga mengalami nasib yang sama. Kali ini bahkan komandan batalyon, seorang Letnan Kolonel, tewas.

Israel mencoba mengirimkan buldozer lapis baja untuk mengevakuasi korban, namun dipaksa mundur oleh tembakan rudal Hizbollah. Israel baru berhasil melakukan evakuasi setelah menembakkan bom-bom asap. Namun tidak kurang dari 13 prajurit elit Israel mengalami luka-luka dalam operasi evakuasi itu.

Pada hari itu Israel masih mencoba membohongi publik dengan mengklaim telah berhasil merebut Bint Jbeil. "Bint Jbeil sudah berada di tangan kami," kata Brigjen Gal Hirsch, komandan Divisi ke-91 tentara Israel, pada saat prajurit-prajuritnya kebingungan menghadapi pejuang Hizbollah yang muncul tiba-tiba dari segala arah.

Pertempuran sporadis pun terjadi beberapa hari selanjutnya. Dalam satu episode perang, satu regu tentara Brigade Golani terjebak dalam perangkap yang dipersiapkan oleh para pejuang Hizbollah, menewaskan sebagian prajurit dan melukai sebagian besar lainnya.

Maka pada tgl 29 Juli 2009 Israel menarik seluruh pasukannya dari Bint Jbeil dan mengakui kekalahan sekaligus mengkonfirmasi pernyataan Sayyed Nasrallah, Israel lebih rapuh dari jaring laba-laba. Tentara Israel yang pernah sesumbar sanggup mengalahkan Lebanon hanya dengan pasukan drumband, ternyata harus pulang kandang dengan rasa malu.

Dan pada akhirnya, cepat atau lambat, jaring laba-laba bernama Israel itu bakal terhapus dari peta bumi.

 

Wednesday, February 16, 2011

Pemboman Dresden, Pembantaian Keji Sekutu atas Jerman


Selama ini kita hanya mendapatkan informasi sepihak mengenai Perang Dunia II, yaitu informasi dari pihak pemenang, yaitu sekutu Amerika-Inggris-Perancis-Uni Sovyet dan negara-negara ZOG (zionist occupied goverments) lainnya. Kita jarang sekali, kalau tidak bisa dikatakan tidak pernah, mengetahui dari sudut pandang lawan sekutu, yaitu Jerman-Italia-Jepang. Kita misalnya tidak pernah mengetahui motif Hitler membiarkan ratusan ribu Tentara Ekspedisi Inggris yang terkepung di Dunkirk, Perancis, melarikan diri kembali ke Inggris. Kita tentu saja juga jarang, kalau tidak dikatakan tidak pernah, mendengar tentang peristiwa Pemboman Dresden meski itu adalah sebuah peristiwa paling memilukan dalam Perang Dunia II.

Dresden pada tahun 1945 adalah kota yang indah dengan 650.000 penduduknya yang ramah tamah. Pada tgl 13 Februari 1945 kota ini dipenuh sesaki oleh sekitar 750.000 pengungsi Jerman yang melarikan diri dari kekejaman tentara komunis-yahudi Uni Sovyet. Mereka berkemah di taman-taman dan tanah lapang yang ada, bahkan di trotoar dan jalan-jalan. Mereka merasa aman di sana karena Dresden bukan kota yang memiliki fasilitas militer target serangan musuh. Sebaliknya Dresden adalah "kota rumah sakit" yang memiliki 25 rumah sakit dan fasilitas medis besar. Mereka juga sadar bahwa menurut hukum internasional, kota mereka tidak mungkin menjadi sasaran serangan militer sebagaimana Jerman juga tidak pernah menyentuh "kota-kota pendidikan" Inggris seperti Oxford dan Cambridge.

Namun anggapan mereka keliru. Pada jam 10.15 malam sebanyak 800 pesawat bomber dan pesawat-pesawat tempur pengawal Inggris memenuhi langit Dresden dan menumpahkan berton-ton bom penghancur. Ribuan orang tewas maupun luka-luka dalam satu serangan tersebut. Saat pesawat-pesawat itu menghilang dari langit, penduduk dan pengungsi yang selamat keluar dari persembunyian untuk memberikan pertolongan para korban. Demikian juga ribuan penolong dari kota-kota dan desa-desa sekitar bergegas menuju Dresden. Mereka tidak pernah membayangkan peristiwa tragis yang baru saja terjadi. Tentu saja mereka juga tidak pernah menyangka bahwa berhentinya serangan hanya tipuan belaka. Karena saat jalan-jalan dipenuhi para penolong dan korbannya, gelombang kedua serangan udara Inggris kembali datang.

Serangan kedua memberikan dampak kehancuran yang lebih besar dari kota yang masih dipenuhi bara api oleh serangan pertama itu. Api berkobar lebih hebat lagi membakar. Demikian hebat kebakaran tersebut dan panas yang ditimbulkannya hingga para penolong dari luar kota kesulitan untuk memasuki kota. Sementara ribuan penduduk Dresden dan pengungsi terbakar hidup-hidup hingga ke tulang.

Cerita tentang kengerian peristiwa itu tidak terkatakan. Saat anak-anak kecil yang terpisah dari orang tuanya terjebak di dalam genangan aspal yang meleleh karena panas. Atau saat anak-anak kecil terinjang-injak oleh orang-orang yang berebut jalan menyelamatkan diri. Hal seperti ini tentunya tidak pernah dialami rakyat Inggris, Amerika dan sekutu-sekutunya.

Bencana kemanusiaan ini belum berhenti karena keesokan harinya giliran Amerika unjuk gigi. Sebanyak 400 pesawat pembom menumpahkan muatannya dan pesawat-pesawat tempur menembaki orang-orang di jalanan termasuk para tenaga medis yang tengah merawat pasiennnya di sepanjang tepi Sungai Elbe.

Namun itu semua masih belum berakhir karena tiga serangan lanjutan telah direncanakan tentara sekutu: 15 Februari, 3 Maret, dan 17 April 1945 dengan total pesawat pengebom mencapai 1.172 unit. Korban tewas diperkirakan mencapai 400.000 jiwa, atau bahkan lebih. Dan karena Jerman tidak memiliki cukup orang untuk melakukan evakuasi, mayat-mayat hanya disemprot dengan disinfektan atau api kemudian dikubur bersama reruntuhan bangunan.

Sebagaimana ditulis oleh Jendral Patton, kamandan pasukan sekutu yang berhasil mengalahkan dan menduduki Jerman, dalam buku hariannya, pemerintahan sipil sekutu, terutama Amerika dan Inggris, secara sistematis berupaya melakukan pembersihan etnis terhadap warga kulit putih Jerman, semata-mata dengan motif balas dendam orang-orang yahudi kepada mereka. Antara 800.000 sampai 1,1 juta tawanan perang Jerman dibiarkan tinggal di kamp tawanan tanpa atap dan alas selama berbulan-bulan menahan kelaparan, kepanasan dan kedinginan. Warga sipil Jerman diusir dari rumah-rumah mereka untuk diisi oleh orang-orang yahudi yang didatangkan dari Uni Sovyet dan Eropa Timur. Sekitar 500.000 tawanan perang lainnya, sipil maupun militer, dikirim ke Siberia untuk menjalani kerja paksa. Bagi para wanita Jerman, masa-masa terakhir regim Nazi adalah neraka sesungguhnya. Mereka hanya mempunyai dua pilihan: diperkosa oleh tentara Uni Sovyet atau dibom oleh pesawat pembom Amerika dan Inggris.

Diperkirakan sekitar 5 juta warga Jerman secara sistematis dibiarkan mati kelaparan selama 5 tahun setelah perang oleh tentara sekutu yang menduduki Jerman.

Dan karena yahudi mengontrol pemerintahan dan media massa barat, bahkan warga Jerman sendiri tidak banyak mengetahui tentang tragedi Dresden. Yahudi menginginkan hak eksklusif sebagai korban perang, hingga meski korban perang justru bukan orang yahudi, mereka terus saja mengkampanyekan "holocoust". Tujuannya tentu agar mereka bisa tetap terus "memeras" seluruh masyarakat di dunia. Hingga kini misalnya, negara-negara barat terus memberikan bantuan "kompensasi korban perang" kepada Israel. Pada dekade 90-an, ketika memori rakyat Eropa tentang "holocoust" meredup, orang-orang yahudi dibawah koodinasi World Jewish Association mengkampanyekan "holocoust" yang oleh pengkritiknya disebut sebagai "holocoust industry". Mereka memeras perbankan Jerman dan Swiss dengan dalih mendapatkan keuntungan ilegal dari dana-dana masyarakat yahudi yang hangus selama perang, hingga dalam sekali tepuk berhasil meraup miliaran dolar. Namun, seperti biasa, dana kompensasi itu sebagian besar justru masuk ke kantong pribadi tokoh-tokoh yahudi, bukan para korban perang sebenarnya.

"Holocoust industry" adalah upaya-upaya sistematis orang-orang yahudi untuk melanggengkan kenangan palsu "holocoust" sembari mendapatkan keuntungan melimpah darinya. "Holocoust industry" termasuk museum-museum holocoust di beberapa negara barat, pendidikan "holocoust", LSM-LSM, buku-buku, film-film dan sebagainya. Film-film Hollywood tentang Perang Dunia II hampir pasti juga bagian dari "holocoust industry".

Ketika rakyat Ukraina ingin memperingati peristiwa "Holomador", lobi internasional yahudi menolaknya dengan keras. "Holomador" adalah "etnis cleansing" terhadap rakyat Ukraina oleh regim komunis Uni Sovyet yang didirikan dan dijalankan secara eksklusif oleh orang-orang yahudi. Ukraina yang adalah lumbung gandum mengalami bencana kelaparan massal yang menewaskan sekitar 7 juta penduduknya karena hasil panen dirampas oleh regim komunis sebelum terjadinya Perang Dunia II. Mereka juga menentang peringatan pembantaian etnis Armenia oleh Kemal Attaturk, seorang yahudi "domne" Turki.

Tujuan lainnya agar hak eksklusif korban perang hanya menjadi milik yahudi adalah untuk memberi alasan mereka melakukan terorisme terhadap rakyat Palestina. Mereka berharap masyarakat dunia memaklumi pendudukan yahudi atas Palestina karena "yahudi membutuhkan negeri sendiri" setelah mengalami "holocoust".


Ref:
Richard Odorfer; "Destruction of Dresden: Man’s worst massacre"; Herald-Zeitung; 13 February 2011 dalam truthseeker.co.uk; 15 Februari 2011.

Sunday, January 16, 2011

REVOLUSI PERANCIS SEBENARNYA (2)


Lady Queensborough dalam bukunya "Occult Theocracy" mengutip L'Anti-Semitisme karya Bernard Lazare (1894) menyebut figur-figur asing di belakang layar Revolusi Perancis, semuanya bankir yahudi. Di antaranya adalah Benjamin dan Abraham Goldsmid, Moses Mocatta, Sir Moses Montifiore, Daniel Itsig, David Friedlander, dan Herz Cerfbeer.

Sir Walter Scott dalam "Life of Napoleon" dengan tepat menggambarkan situasi menjelang Revolusi Perancis:

"Para pejabat keuangan yang sengaja membuat bangkrut pemerintah itu mendapat perlakuan istimewa dari para bankir yang memenuhi nafsu tamak mereka dengan satu tangan dan kehancuran di tangan lainnya. Dengan terus menerusnya pemberian hutang berbunga serta berbagai hak-hak penjaminnya, seluruh keuangan negara Perancis terjerumus ke dalam kehancuran."

Menteri keuangan Perancis kala itu adalah Necker, berasal dari Swiss dan keturunan Jerman, putra dari seorang profesor Jerman yang oleh penulis sejarah McNair Wilson disebutkannya:

"Necker telah mengendalikan kekayaan kerajaan sebagai perwakilan dari penguasa sistem keuangan berdasar hutang."

Berdasar kebijakannya serta latar belakang Necker sebagai spekulator, kita mengetahui mengapa keuangan kerajaan Perancis justru semakin memburuk. Selama empat tahun mengurusi keuangan negara, hutang kerajaan Perancis menumpuk hingga mencapai 170 juta pound, jumlah yang luar biasa besar saat itu.

Sementara itu organisasi rahasia Freemasonry, yang masuk ke Perancis dari Inggris pada tahun 1730-an, mencapai puncak aktifitasnya dan pada tahun 1771 dipimpin oleh Phillipe Duc de Chartres (Duc D'Orleans). Secara lahiriah, organisasi freemason adalah organisasi idealistis secara program maupun para anggotanya. Namun pada kenyataannya ini adalah organisasi yang keji baik tujuan dasarnya maupun para personilnya.

Meski dikenal dengan gaya hidup royalnya Duc d'Orleans sebenarnya bukan tipe orang yang keji yang berfikir untuk menggulingkan raja dan menggantinya dengan dirinya. Namun ia memainkan perannya dengan cukup baik, pada tahap awal munculnya sebuah peristiwa terbesar dalam sejarah Eropa, meski kemudian ia harus menebusnya dengan nyawanya sendiri yang terpenggal kepalanya oleh pisau guillotine.

Marquis de Mirabeau adalah orang yang tepat untuk menggerakkan tahap selanjutnya, revolusi, meski ia sebagaimana pendahulunya tidak pernah berfikir untuk menggulingkan raja dan bahkan membunuhnya. Ia diketahui didanai oleh Moses Mendelssohn, pimpinan organisasi yang lebih rahasia dan lebih keji lagi, Illuminati. Moses Mendelssohn adalah tokoh yahudi yang pernah mengatakan bahwa "yahudi bukanlah agama, melainkan perangkat hukum yang dijadikan agama." Illuminati adalah organisasi rahasia yahudi yang didirikan berdasar agama pagan yahudi kuno, Kaballah. Illuminati artinya "yang tercerahkan oleh sang pembawa cahaya". Sang pembawa cahaya adalah Lucifer, salah seorang dewa terkuat dalam kepercayaan kabalah.

Illuminati yang didirikan oleh Adam Weishaupt di Frankfurt, Jerman tahun 1782 berhasil melakukan penetrasi atas organisasi freemason dan segera kemudian masuk ke Perancis.

Pada tahun 1785, empat tahun sebelum Revolusi Perancis, terjadi hal aneh, semacam pesan dari Tuhan kepada rakyat Eropa akan adanya sebuah kekuatan jahat yang mengintai mereka. Seorang kurir Illuminati tersambar petir di Ratisbon, Bavaria, Jerman. Polisi menemukan pesan yang dibawa oleh kurir itu, dokumen rahasia Illuminati yang berisi rencana dan metode untuk menguasai Eropa dan dunia.

Penguasa Bavaria langsung menyerbu markas besar Illuminati, menangkap anggota-anggotanya dan membubarkannya. Pemerintah Perancis tentu saja mendapatkan informasi itu, namun sayangnya tidak melakukan tindakan apapun.

Pada tahun 1789 terdapat tidak kurang dari 2.000 loji (klub freemason) di Perancis dengan anggota mencapai 100,000. Merekalah kekuatan pokok gerakan revolusi meski sebagian besar dari mereka, termasuk para petingginya tidak mengetahui agenda sebenarnya dari organisasi yang mereka ikuti. Di antara klub-klub tersebut klub Jacobin adalah yang paling militan.

Pada tahun 1789 pemerintahan kerajaan Perancis secara efektif telah lumpuh, oleh pers yang berada di luar kontrol pemerintah, dan oleh birokrat korup yang "ditanamkan" Illuminati di birokrati Perancis.

Pada tahun 1780 d'Orleans terlibat hutang hingga 800,000 livres, karena gaya hidup royal dan kegemarannya berjudi. Pada tahun 1781 ia menyerahkan propertinya di kompleks elit Palais Royal kepada bankir yang membentuknya menjadi pusat kegiatan politik, percetakan pers, pusat hiburan dan judi, hotel, teater, galeri seni, pusat kebugaran dan sebagainya. Menjadi pusat kegiatan para birokrat korup dan anggota freemason "na'if".

Dengan pemerintahan yang dipenuhi pejabat korup serta kebebasan pers yang dikontrol para bankir internasional, menjadi kombinasi paling tepat untuk memicu kebencian massa terhadap pemerintah.

Salah satu figur yang paling sering menjadi cercaan media massa dan menjadi sasaran kebencian massa adalah Ratu Maria Antoniete. Untuknya sebuah konspirasi dilakukan. Tanpa sepengetahuannya, sebuah kalung berlian senilai 250.000 pound dipesan atas namanya. Pada saat kondisi ekonomi Perancis morat-marit karena beban keuangan kerajaan, berita tentang kalung itu menjadi sorotan tajam masyarakat. Namun semua itu belum cukup. Sepucuk surat misterius dikirimkan atas nama Ratu kepada Cardinal Prince de Rohan yang memintanya bertemu di Palais Royal, untuk meminta nasihat perihal skandal kalung tersebut. Seorang pelacur berdandan mirip Ratu telah menunggu sang kardinal, tentu saja ditemani kerumunan wartawan. Maka berita pertemuan rahasia itu pun muncul di koran-koran dan semakin menjerumuskan nama sang Ratu yang "naif" dan terakhir mengantarkan nyawa sang Ratu dan Raja, bersama ratusan ribu atau bahkan jutaan nyawa lainnya, kepada algojo pada saat revolusi mencapai tahap yang tak terkendali.

Sebelumnya sang Ratu yang "naif" mengirim surat pada saudarinya di Austria: "Menurut saya, kekhawatiranmu tentang organisasi-organisasi freemason itu terlalu berlebihan. Di Perancis kekhawatiran itu tidak perlu terjadi sebagaimana mungkin di negara-negara Eropa lainnya. Sebaliknya pemerintah memberi kebebasan penuh pada organisasi-organisasi ini, yang kebanyakan berbentuk semacam serikat pekerja atau yayasan. Mereka hanya makan-makan, menyanyi, berdiskusi, yang bahkan terkadang diikuti raja hingga raja pernah berkata bahwa orang-orang yang makan minum dan berdansa bukanlah orang-orang yang harus dicurigai. Tidak juga organisasi itu anti-Tuhan karena setiap saat mereka memuji kebesaran Tuhan. Mereka orang-orang yang yang ramah dan terhormat. Mereka membantu anak-anak miskin dan menyayangi anak-anak mereka. Bahaya seperti apa yang mereka bawa?"

Segera kemudian, saat kalung itu berhasil memainkan perannya, kalung itu dikirim ke Inggris ke tangan keluarga yahudi Eliason. Konspirasi serupa dilakukan terhadap figur-figur yang diangap menghalangi rencana revolusi.

Saat para bankir berhasil memaksa raja Louis XVI mengadakan pertemuan para tokoh nasional (Estate General) tahun 1789, kelumpuhan pemerintahan Perancis telah tuntas, dan tahap selanjutnya, pukulan-pukulan revolusi, dimulai.

Sejak tahun 1789 tahap demi tahap revolusi dilancarkan, dengan tahap yang mengikuti lebih keras dan kejam dibanding tahap pendahulunya. Pada setiap tahap berakhir, pemimpin revolusi selalu dijadikan tumbal dan kepalanya menggelinding mengikuti pendahulunya.

Duc d'Orleans dan Phillipe Egalite memimpin tahapan dasar revolusi seperti menjadi patron klub-klub revolusioner, mempopulerkan gerakan freemason dan kawasan Palais Royal, dan merancang aksi-aksi massa awal revolusi seperti aksi demontrasi para wanita di Istana Versailes. Namun sebagaimana para penerus gerakan revolusi, mereka tidak pernah bermimpi untuk mengganti bentuk kerajaan dengan bentuk pemerintahan lainnya seperti republik, yang kala itu di seluruh dunia dianggap hanya sebuah ilusi belaka meski telah mulai diwacanakan para intelektual yahudi.

Dalam aksi demonstrasi para wanita "proletar" di Istana Versailes, sebagian besar dari mereka adalah laki-laki berdandan wanita. Mereka melakukan aksi kerusuhan di sekitar Istana Versailes dan penjara Bastille dan "berhasil" memaksa Raja meninggalkan istana dan pasukan pengawalnya, menuju Paris dimana orang-orang revolusioner Jacobin mendominasi. d'Orleans yang mengkhawatirkan keselamatan raja, mencoba menghalangi, namun harus menebusnya dengan nyawanya sendiri yang direnggut paksa oleh para perusuh.

Egalite yang menggantikan d'Orleans masih mencoba menghalangi Estate General menjatuhkan hukuman mati pada raja. Namun ia gagal dan nyawanya menyusul Raja dan Ratu terbang oleh pancungan guillotine.

Kemudian muncullah Mirabeau, seorang pemimpin berwibawa dengan suaranya yang keras mengguntur. Ia pun mencoba menyelamatkan raja dan keluarganya dengan mengirimkan mereka keluar Paris dengan pengawalan pasukan yang loyal pada raja. Tidak lama kemudian ia mati diracun.

Mirebeau adalah tokoh freemason Jacobin moderat terakhir. Ia meninggal pada saat terakhir revolusi berdarah tersebut bisa "dikendalikan". Selanjutnya revolusi dipimpin oleh para manaic, orang-orang sakit jiwa kader organisasi rahasia penyembah berhala, Illuminati. Namun sama dengan d'Orleans, Phillipe Egalite, Mirabeau dan kemudian Danton serta Robes Pierre, mereka semuanya harus menebus gerakan yang mereka pimpin dengan nyawanya sendiri. Semua itu tepat dengan apa yang tertulis pada protikol 15 Protocols of Zion:

"Kita akan membunuh para anggota mason dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak ada seorangpun yang mencurigai (pembunuhan itu)." Dan selanjutnya:

"Pada tahap ini kita akan melanjutkan (pembunuhan) terhadap anggota mason goyim (non-yahudi) yang mengetahui terlalu banyak."

Lalu muncullan figur Jendral Lafayette yang juga memainkan peran penting selama revolusi, namun sebenarnya juga seorang nasionalis pembela raja. Ialah yang dengan gigih telah mencoba membela kekuasaan raja dalam berbagai kerusuhan, termasuk aksi demonstrasi para wanita di Versailes, penyerangan Tuilleries, dan penyerbuan massa ke Champs de Mars. Sangat jelas ia menjadi figur penghalang revolusi. Maka setelah memaksa Raja Louis XVI menyatakan perang terhadap Austria, Lafayette pun dikirim ke medan perang. Dengan terburu-buru, setelah menyelesaikan misinya ke Austria, Lafayette pun kembali ke Paris untuk menyelamatkan raja. Namun lagi-lagi ia dikirim kembali ke medan perang dan nasib raja pun tidak bisa diselamatkan.

Selanjutnya figur-figur "kriminal" seperti Danton, Marat, Robes Pierre pun menguasai medan politik. Dan kerusuhan demi kerusuhan berdarah pun terjadi. Pada tahun 1792 terjadilah peristiwa "Pembantaian September" (khas kerja konspirasi yahudi yang selalu melakukan aksi-aksi brutalnya di bulan ini) dimana di penjara Bastille saja terjadi eksekusi mati terhadap 8.000 tahanan politik. Pelaku pembantaian ini, dari penangkapan para tahanan hingga pembunuhannya, dilakukan oleh Manuel, pejabat Procurer of the Commune de Paris. Namun ini belum seberapa. Dalam satu episode revolusi, sekitar 170.000 petani Perancis yang mencoba melawan revolusi dibenamkan ke dalam sungai bersama kuda dan pedatinya.

Sir Walter Scott dalam "Life of Napoleon" menulis dengan tepat tentang Communaute de Paris (Dewan Kota Perancis atau Paris County Council. Sebuah organisasi semacam Sanhedrin dalam komunitas yahudi): "Apa yang diinginkan Communaute de Paris, adalah tentu saja, darah."

Selanjutnya Scott menulis: "Kekuatan kelompok Jacobin di Paris tidak lagi terbendung, di mana Robes Pierre, Danton dan Marat menduduki tempat yang tinggi dalam stuktur sinagog."

Selanjutnya Scott mengungkapkan siapa di balik itu semua: "Para pimpinan utama dari Communaute tidak lain adalah orang-orang asing." Mereka di antaranya adalah, tulis Scott, Chlodero de Laclos, manager pengelola Palais Royal yang berdarah Spanyol, Manuel sang Procurer of the Commune sang pembunuh keji yang memulai serangan terhadap Raja dalam Sidang Rakyat yang berujung pada pembunuhan Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette.

Selanjutnya adalah David "the painter", tokoh dalam Committee of Public Security yang selalu meneriakkan kematian untuk raja. Sir Walter Scott menulis bagaimana haus darahnya David dengan mengatakan, "mari kita merahkan batu pengasah kita."

Selanjutnya adalah Reubel dan Gohir, dua dari lima orang anggota Directoire yang memerintah Perancis paska kematian Robes Pierre. Terminologi "Directors" dan "Elders" tentu saja tipikal yahudi.

Karya Sir Walter Scott yang terdiri 9 jilid merupakan karya paling lengkap tentang Revolusi Perancis, yang membeberkan bagaimana konspirasi yahudi bekerja dalam peristiwa tersebut. Sayangnya karya itu sangat jarang ditemukan lagi.

Sebelum kematiannya dan setelah pendahulunya meninggal, Robes Pierre tampil sebagai tokoh paling berpengaruh, namun tentu saja hanya di permukaan saja. Bahkan meski ia adalah salah satu tokoh yang menggerakkan revolusi berdarah itu, ia muak dan jijik dengan hal itu semua. Pada tgl 28 Juli 1794 ia mengucapkan pidato yang menggemparkan yang secara tersirat membuka siapa sebenarnya di belakang peristiwa paling brutal dalam sejarah Perancis itu. Dalam buku "Life of Robes Pierre" karya G. Renier dituliskan pidato tersebut:

"Saya tidak berani mengatakan di tempat ini siapa mereka yang bertanggungjawab atas kekejian ini samua. Saya tidak bisa membiarkan diri saya terbantai oleh kejahatan yang secara mendalam melingkupi misteri tiada tara ini. Tapi saya saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa di antara penggerak revolusi ini adalah agen dari sistem yang korup, suatu yang sangat kuat yang diciptakan oleh orang-orang asing yang mengatur republik ini. Mereka adalah para nabinya atheisme dan imoralisme."

Malam hari setelah pidato tersebut Robes Pierre ditembak dan keesokan harinya kepalanya dipenggal. Dengan cara yang hampir sama Presiden Amerika Abraham Lincoln dibunuh pada malam hari setelah mengumumkan akan mencetak uang kertas sendiri untuk membiayai belanja pemerintah dan transaksi keuangan masyarakat, lepas dari uang kertas ciptaan bankir yahudi internasional yang kini mewujud dalam bank sentral Federal Reserve.

Lagi kita melihat konsistensi Protocols of Zion: "Pada tahap ini kita akan melanjutkan (pembunuhan) terhadap anggota mason goyim (non-yahudi) yang mengetahui terlalu banyak."


Ref: "The Nameless War", A.M. Ramsey