Indonesian Free Press -- Para pengamat teori konspirasi pemula menyangka bahwa Hillary Clinton bakal memenangkan pemilu Amerika kemarin (9 November 2016). Mereka mengetahui pasti bahwa Hillary didukung oleh media-media massa utama dunia, para pejabat pemerintahan Amerika termasuk Presiden Obama, filantropis dan 'bapak aktifis global' George Soros dan para aktifis sosialis seperti Amy Goodman dan Michael Moore.
Dengan kekuatannya itu, selama masa kampanye kemarin, lawan Hillary, Donald Trump, praktis nyaris tidak bisa muncul muncul di ruang publik dengan persepsi yang baik. George Soros bahkan dikabarkan telah menyiapkan mesin penghitung suara yang sudah diprogram untuk memenangkan Hillary.
Para pengamat konspirasi hanya mengetahui bahwa Trump didukung oleh media hitam Wikileaks yang gencar merilis email-email rahasia Hillary, serta para mafia dunia hiburan dan judi. Mereka baru terkejut-kejut ketika kepolisian New York dan kepolisian federal FBI mengumumkan penyidikan email-email rahasia Hillary yang membongkar 'bisnis gelap' Hillary dengan dunia hitam di Amerika, termasuk jaringan pedhopilia dan prostitusi yang melingkupi para pejabat Amerika.
Atas tekanan kubu pendukung Hillary, FBI akhirnya membatalkan penyidikan, namun 'bocornya' dunia gelap Hillary Clinton itu bagaimanapun turut berperan menjerumuskan popularitasnya di kalangan warga Amerika yang sudah bosan dengan retorika 'perang melawan terorisme' yang terbukti dipenuhi kepalsuan dan hanya menjerumuskan ekonomi Amerika ke jurang kehancuran.
Seperti sudah ditulis di blog ini (IFP), Trump sama sekali bukan seorang 'pahlawan pembela kebenaran'. Ia juga seorang kriminal seperti halnya Hillary. Namun, setidaknya sampai saat ini tangannya masih bersih dari pembantaian jutaan ummat muslim di seluruh dunia selama kampanye 'perang melawan terorisme' dimana Hillary turut berperan besar di dalamnya.
Mengenai persaingan antara Hillary dan Trump selama kampanye pilpres Amerika kemarin, Walter Benjamin menulis artikel menarik di blog Dr. Henry Makow tentang persaingan antara faksi 'patriot' melawan faksi 'zionis' dalam organisasi rahasia Freemasons. Trump mewakili faksi 'patriot', sementara Hillary mewakili faksi 'zionis'. Tanpa disebutkan oleh Benjamin, Freemasons adalah organisasi rahasia yang dikendalikan oleh 'penguasa kegelapan' penyembah dajjal (anti-Christ) yang menguasai keuangan dunia dan segala aspek kehidupan yang bisa dipengaruhinya.
"Ada perang saudara yang serius yang tengah terjadi di dalam 'Deep State' (kekusaan di belakang layar) Amerika, namun kecuali Anda menjadi bagian darinya atau sudah memahami masalah ini, semuanya tampak seperti kekacauan dan 'cacophony'," tulis Benjamin.
"Di antara kekuasaan 'Illuminati Freemasonic' itu, elemen-elemen 'Zionist Cabalistic' berperang melawan faksi 'America-First' untuk menguasai Tatanan Dunia Baru (NWO)," tambah Benjamin.
Menurut Benjamin faksi dimana Hillary bergabung, yaitu 'zionist cabalistic', adalah turunan dari komunisme yang didirikan oleh keluarga Rothschild, dimana mereka adalah penyembah dewa Ba'al (atau Moloch atau Magog). Sedangkan 'America-Firsters' dimana Trump bergabung di dalamnya, adalah turunan langsung dari aliran 'divine providence' yang dibentuk oleh para pendiri Amerika George Washington, Thomas Jefferson, Andrew Jackson. Aliran ini awalnya adalah penyembah Tuhan yang Esa seperti ajaran Kristen, namun terinfiltrasi oleh 'zionis cabalistic' sejak tahun 1789, setelah diadakannya Konperensi Wilhelmsbad tahun 1782.
Beberapa tokoh 'patriot' seperti Ron Paul, Philip Giraldi, Ray McGovern, Michael Flynn, Justin Raimondo, dan Daniel McAdams, selain Donald Trump, adalah pengikut aliran kedua ini.
Upaya FBI untuk membongkar kasus Hillary dengan membuka file-file rahasia sekutu dekat Hillary, Anthony Weiner, sejalan dengan upaya walikota New York Michael Bloomberg utuk menggagalkan upaya Weiner untuk merebut posisi Walikota New York.
Weiner, mantan senator Amerika, adalah mantan suami Huma Abedin, sekretaris dan anak angkat Hillary Clinton yang tidak lain adalah putri dari pasangan aktifis Ikhwanul Muslimin. Keluarga Abedin adalah agen zionis di dalam organisasi Ikhwan ini. Weiner sendiri, secara terbuka telah diketahui sebagai pelaku pedhopilia.
Tentang Hillary Clinton, Benjamin menyebutnya sebagai orang yang digadang-gadang akan meletupkan Perang Dunia III demi mewujudkan ambisi kuno para yahudi penyembah dajjal menguasai dunia dengan ibukotanya Jerusalem. Adapun tentang sisi gelap Donald Trump, silakan lihat tulisan ini.(ca)
Showing posts with label zionisme/conspiracy theory. Show all posts
Showing posts with label zionisme/conspiracy theory. Show all posts
Thursday, November 10, 2016
Monday, October 31, 2016
Kekacauan Oleh Jokowi-Ahok Agenda Melemahkan Bangsa
Indonesian Free Press -- Dua tahun sudah pemerintahan Jokowi berjalan, namun tanda-tanda negara ini berjalan menuju ke arah perbaikan yang signifikan ternyata tidak kelihatan. Sebaliknya, situasi tampaknya justru tambah memburuk.
Semua indikator ekonomi menunjukkan hal itu, mulai dari beban hutang luar negeri yang semakin menumpuk, pertumbuhan ekonomi yang melambat dan angka pengangguran yang semakin tinggi. Belum lagi stabilitas sosial politik yang justru semakin memburuk. Kondisi bahkan semakin memburuk akibat ulah 'gubernur lungsuran' Jakarta, Ahok yang terus memprovokasi ummat Islam.
Pada tanggal 4 November mendatang ummat Islam akan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut Ahok diproses secara hukum karena dianggap telah melecehkan Islam. Menghadapi rencana aksi ini polisi sudah mengeluarkan status Siaga I, Panglima TNI merespon dengan mengeluarkan peringatan untuk tidak melakukan tindakan represif kepada demonstran, dan berbagai spekulasi pun merebak di tengah-tengah publik tentang situasi paska aksi tersebut.
Jokowi mengemban amanah besar dari rakyat Indonesia untuk mengentaskan rakyat dari keterpurukan paska pemerintahan neoliberalisme regim SBY. Namun Jokowi menyia-nyiakan amanah tersebut dan justru sibuk membuat kontroversi demi mengamankan kepentingan para pemilik modal yang menjadi penyandang dana selama pilpres 2014 lalu. Lebih dari itu, ia seperti sengaja membuat kontroversi untuk mengacau-balaukan situasi sosial-politik, seperti mengangkat warga negara Amerika menjadi Menteri ESDM, menaikkan harga minyak, terus-menerus menambah hutang pemerintah, dan mencampuri urusan internal partai-partai politik.
Maka sangat beralasan jika blog ini menilai Jokowi tengah menjalankan misi kelompok Tatanan Dunia Baru, penguasa kegelapan penyembah dajjal, untuk menciptakan kekacauan dan kehancuran di negara Islam terbesar di dunia, Indonesia. Ini konsisten dengan penilaian blog ini terhadap JOkowi sejak ia muncul ke permukaan sebagai kandidat Gubernur Jakarta tahun 2011 lalu.
Kita tidak boleh melupakan gerakan Reformasi tahun 1997-1998 yang menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto. Setelah beliau dianggap menyimpang dan tidak bisa lagi dikendalikan, khususnya setelah beliau membangun blog Islam-Nasionalis dengan kebijakan-kebijakannya yang lebih pro-Islam, beliau pun ditumbangkan.
Terkait dengan hal ini, kantor berita Rusia Sputnik News, Jumat lalu (28 Oktober) menulis artikel menarik tentang rencana George Soros untuk menggelar 'sejumlah revolusi warna di Asia Tenggara' (Leaked Memo: Is Soros Planning 'Series of Color Revolutions' in Southeast Asia?). Soros sendiri adalah orang yang diketahui publik luas sebagai dalang di balik krisis keuangan yang melanda kawasan Asia Timur tahun 1997 yang menjadi awal terjadinya gerakan Reformasi.
Laporan itu berdasarkan bocoran-bocoran informasi Wikeleaks yang dikenal dengan nama 'Podesta Files', yang mengungkapkan perhatian besar George Soros pada situasi di Malaysia yang dianggap tidak menguntungkan di bawah kepemimpinan Najib Razak.
"Perhatian Soros mungkin akan menjadi awal dari sejumlah revolusi warna di Asia Tenggara," tulis laporan itu mengutip Mathew Maavak, pakar politik Universiti Teknologi Malaysia.
Sebuah memo yang dikirimkan oleh Michael Vachon, tangan kanan daria George Soros kepada ketua tim kampanye kandidat presiden Hillary Clinton, John Podesta pada 6 Maret 2016, menyebut Najib Razak telah merusak kredibilitas Amerika di kawasan karena krisis korupsi di Malaysia.
"Malaysia akan menjadi sekutu yang baik Amerika untuk memerangi ekstremis ISIS, namun sebelumnya harus harus mendapatkan kebebasasn dan demonrasi konstitusional yang selama ini tidak didapatkan rakyatnya," tulis memo itu.
"Pertama-tama dan yang terpenting, kita harus memahami model bisnis Soros. Tidak ada bisnis seperti 'bisnis revolusi' yang dilakukan Soros. Ini jauh lebih lukratif daripada bisnis hiburan yang tidak bisa diprediksi," kata Maavak kepada Sputnik News.
"Revolusi-revolusi, di sisi lain, hanya perlu mempermainkan kekecewaan-kekecewaan publik yang tidak pernah berhenti. LSM-LSM dan media-media pro-barat menjadi 'anak usaha' dari perusahaan-perusahaan revolusi global. Bersama, mereka mencari, mengidentifikasi dan memperkeruh kekecewaan publik di negara-negara yang tidak bersekutu dengan Amerika. Aktifitas-aktifitas bentukan Amerika itu tidak pernah menciptakan masyarakat yang adil. Sebaliknya mereka hanya menciptakan pertumpahan darah dan terorisme global," tambah Maavak.
Muncul pertanyaan, bukankah Jokowi lebih banyak menjalankan kepentingan Cina, daripada Amerika? Lalu, mengapa ia harus menjalankan skenario yang dirancang oleh George Soros, seorang yahudi Askhenazi Amerika?
Kebanyakan publik terpedaya oleh 'tipuan' permusuhan Amerika-Cina. Mereka tidak menyadari bahwa komunisme, yang merupakan turunan dari penyembahan dajjal sebagaimana zionisme, masih berkuasa di Cina. Dan seperti Adolf Hitler yang membangun kekuasaan dengan sokongan dana dari para bankir yahudi, demikian juga regim komunis Cina dengan pambangunan infrastrukturnya yang sangat massif. Para pengusaha dan pejabat Cina juga menjadi peserta tetap konperensi rahasia para pelaksana agenda Tatanan Dunia Baru, Bilderberger Group.
Situasi politik di Indonesia saat ini sangatlah membahayakan, dengan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut Ahok diadili pada 4 November mendatang, yang bisa menjadi bola liar yang tidak terkendali. Polisi awalnya 'menggertak' para penggerak aksi dengan ancaman tembak di tempat dan membocorkan status keamanan Siaga I. Namun, secara mengejutkan Panglima TNI memberi peringatan keras: tidak boleh ada tembakan kepada para peserta aksi. Mendapat pengingatan itu, polisi pun melunak dengan membantah kabar Siaga I dan perintah tembak di tempat.
Namun situasi sebenarnya masih serba tidak menentu sehingga Panglima TNI kembali memberikan peringatan dengan melakukan kunjungan ke seorang Habib berpengaruh, yang bisa diartikan bahwa TNI memihak kepada ummat Islam dalam masalah dengan Ahok. Polisi kembali melunak dengan mengeluarkan larangan personil polisi menyandang senjata api dalam pengamanan aksi 4 November. Di bawah 'ancaman' TNI, Polri dan aksi 4 November, Jokowi pun mencari aman dengan meminta perlindungan kepada Prabowo Subiyanto.
Jokowi jelas dalam posisi lemah berhadapan dengan ummat Islam dalama kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok. Kegigihan ia melindungi Ahok hanya akan memancing kemarahan publik yang lebih keras kepadanya. Dalam hal ini, bahkan Polri apalagi TNI tidak mungkin sudi untuk melindunginya. Pilihannya cuma satu, membiarkan Ahok diseret ke pengadilan, atau dia sendiri bakal terjungkal dari kekuasaannya dengan menyakitkan.(ca)
Semua indikator ekonomi menunjukkan hal itu, mulai dari beban hutang luar negeri yang semakin menumpuk, pertumbuhan ekonomi yang melambat dan angka pengangguran yang semakin tinggi. Belum lagi stabilitas sosial politik yang justru semakin memburuk. Kondisi bahkan semakin memburuk akibat ulah 'gubernur lungsuran' Jakarta, Ahok yang terus memprovokasi ummat Islam.
Pada tanggal 4 November mendatang ummat Islam akan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut Ahok diproses secara hukum karena dianggap telah melecehkan Islam. Menghadapi rencana aksi ini polisi sudah mengeluarkan status Siaga I, Panglima TNI merespon dengan mengeluarkan peringatan untuk tidak melakukan tindakan represif kepada demonstran, dan berbagai spekulasi pun merebak di tengah-tengah publik tentang situasi paska aksi tersebut.
Jokowi mengemban amanah besar dari rakyat Indonesia untuk mengentaskan rakyat dari keterpurukan paska pemerintahan neoliberalisme regim SBY. Namun Jokowi menyia-nyiakan amanah tersebut dan justru sibuk membuat kontroversi demi mengamankan kepentingan para pemilik modal yang menjadi penyandang dana selama pilpres 2014 lalu. Lebih dari itu, ia seperti sengaja membuat kontroversi untuk mengacau-balaukan situasi sosial-politik, seperti mengangkat warga negara Amerika menjadi Menteri ESDM, menaikkan harga minyak, terus-menerus menambah hutang pemerintah, dan mencampuri urusan internal partai-partai politik.
Maka sangat beralasan jika blog ini menilai Jokowi tengah menjalankan misi kelompok Tatanan Dunia Baru, penguasa kegelapan penyembah dajjal, untuk menciptakan kekacauan dan kehancuran di negara Islam terbesar di dunia, Indonesia. Ini konsisten dengan penilaian blog ini terhadap JOkowi sejak ia muncul ke permukaan sebagai kandidat Gubernur Jakarta tahun 2011 lalu.
Kita tidak boleh melupakan gerakan Reformasi tahun 1997-1998 yang menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto. Setelah beliau dianggap menyimpang dan tidak bisa lagi dikendalikan, khususnya setelah beliau membangun blog Islam-Nasionalis dengan kebijakan-kebijakannya yang lebih pro-Islam, beliau pun ditumbangkan.
Terkait dengan hal ini, kantor berita Rusia Sputnik News, Jumat lalu (28 Oktober) menulis artikel menarik tentang rencana George Soros untuk menggelar 'sejumlah revolusi warna di Asia Tenggara' (Leaked Memo: Is Soros Planning 'Series of Color Revolutions' in Southeast Asia?). Soros sendiri adalah orang yang diketahui publik luas sebagai dalang di balik krisis keuangan yang melanda kawasan Asia Timur tahun 1997 yang menjadi awal terjadinya gerakan Reformasi.
Laporan itu berdasarkan bocoran-bocoran informasi Wikeleaks yang dikenal dengan nama 'Podesta Files', yang mengungkapkan perhatian besar George Soros pada situasi di Malaysia yang dianggap tidak menguntungkan di bawah kepemimpinan Najib Razak.
"Perhatian Soros mungkin akan menjadi awal dari sejumlah revolusi warna di Asia Tenggara," tulis laporan itu mengutip Mathew Maavak, pakar politik Universiti Teknologi Malaysia.
Sebuah memo yang dikirimkan oleh Michael Vachon, tangan kanan daria George Soros kepada ketua tim kampanye kandidat presiden Hillary Clinton, John Podesta pada 6 Maret 2016, menyebut Najib Razak telah merusak kredibilitas Amerika di kawasan karena krisis korupsi di Malaysia.
"Malaysia akan menjadi sekutu yang baik Amerika untuk memerangi ekstremis ISIS, namun sebelumnya harus harus mendapatkan kebebasasn dan demonrasi konstitusional yang selama ini tidak didapatkan rakyatnya," tulis memo itu.
"Pertama-tama dan yang terpenting, kita harus memahami model bisnis Soros. Tidak ada bisnis seperti 'bisnis revolusi' yang dilakukan Soros. Ini jauh lebih lukratif daripada bisnis hiburan yang tidak bisa diprediksi," kata Maavak kepada Sputnik News.
"Revolusi-revolusi, di sisi lain, hanya perlu mempermainkan kekecewaan-kekecewaan publik yang tidak pernah berhenti. LSM-LSM dan media-media pro-barat menjadi 'anak usaha' dari perusahaan-perusahaan revolusi global. Bersama, mereka mencari, mengidentifikasi dan memperkeruh kekecewaan publik di negara-negara yang tidak bersekutu dengan Amerika. Aktifitas-aktifitas bentukan Amerika itu tidak pernah menciptakan masyarakat yang adil. Sebaliknya mereka hanya menciptakan pertumpahan darah dan terorisme global," tambah Maavak.
Muncul pertanyaan, bukankah Jokowi lebih banyak menjalankan kepentingan Cina, daripada Amerika? Lalu, mengapa ia harus menjalankan skenario yang dirancang oleh George Soros, seorang yahudi Askhenazi Amerika?
Kebanyakan publik terpedaya oleh 'tipuan' permusuhan Amerika-Cina. Mereka tidak menyadari bahwa komunisme, yang merupakan turunan dari penyembahan dajjal sebagaimana zionisme, masih berkuasa di Cina. Dan seperti Adolf Hitler yang membangun kekuasaan dengan sokongan dana dari para bankir yahudi, demikian juga regim komunis Cina dengan pambangunan infrastrukturnya yang sangat massif. Para pengusaha dan pejabat Cina juga menjadi peserta tetap konperensi rahasia para pelaksana agenda Tatanan Dunia Baru, Bilderberger Group.
Situasi politik di Indonesia saat ini sangatlah membahayakan, dengan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut Ahok diadili pada 4 November mendatang, yang bisa menjadi bola liar yang tidak terkendali. Polisi awalnya 'menggertak' para penggerak aksi dengan ancaman tembak di tempat dan membocorkan status keamanan Siaga I. Namun, secara mengejutkan Panglima TNI memberi peringatan keras: tidak boleh ada tembakan kepada para peserta aksi. Mendapat pengingatan itu, polisi pun melunak dengan membantah kabar Siaga I dan perintah tembak di tempat.
Namun situasi sebenarnya masih serba tidak menentu sehingga Panglima TNI kembali memberikan peringatan dengan melakukan kunjungan ke seorang Habib berpengaruh, yang bisa diartikan bahwa TNI memihak kepada ummat Islam dalam masalah dengan Ahok. Polisi kembali melunak dengan mengeluarkan larangan personil polisi menyandang senjata api dalam pengamanan aksi 4 November. Di bawah 'ancaman' TNI, Polri dan aksi 4 November, Jokowi pun mencari aman dengan meminta perlindungan kepada Prabowo Subiyanto.
Jokowi jelas dalam posisi lemah berhadapan dengan ummat Islam dalama kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok. Kegigihan ia melindungi Ahok hanya akan memancing kemarahan publik yang lebih keras kepadanya. Dalam hal ini, bahkan Polri apalagi TNI tidak mungkin sudi untuk melindunginya. Pilihannya cuma satu, membiarkan Ahok diseret ke pengadilan, atau dia sendiri bakal terjungkal dari kekuasaannya dengan menyakitkan.(ca)
Thursday, October 27, 2016
Proyek NAMRU-2 AS Jangan Sampai Terulang Kembali di Indonesia
OLEH: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)
Indonesian Free Press -- Pengantar blogger: Akhirnya Siti Fadillah Supari, pahlawan pembela negara dari konspirasi jahat industri farmasi dan pejabat-pejabat Amerika serta WHO, ditahan KPK.
Kasus yang menjerat Fadillah saat menjadi Menteri Kesehatan kabinet Presiden SBY ini sangatlah kontroversi. Tidak ada bukti penyuapan dan bahkan penyuapnya pun masih sumir, Siti Fadillah akhirnya harus ditahan setelah kasusnya terkatung-katung selama bertahun-tahun karena lemahnya bukti. Hal ini kontan mendorong publik untuk mengait-kaitkannya dengan apa yang telah dilakukan Siti Fadilah dalam kasus wabah flu burung dan keberadaan fasilitas penelitian Amerika di Indonesia yang kontroversial, NAMRU II. Sebagai bentuk simpati kepada Siti Fadilah, blog ini sengaja mempostingkan tulisan Hendrajit dari Global Future Institute (GFI) awal tahun 2014 lalu.
----------------
Ledakan yang terjadi di Gedung laboratorium Mikrobiologi yang berlokasi di jalan Percetakan Negara 29 Jakarta Pusat milik Departemen Kesehatan itu, waktu itu dianggap sebagai kecelakaan biasa. Apalagi Makbul Padmanegara yang ketika itu menjabat Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, secara tegas mengesampingkan kemungkinan ledakan tersebut berasal dari bom atau aksi terror. Meski Padmanegara kala itu tidak membantah bahwa telah diketemukan nitrogen cair dan CO2.
Namun melalui kejadian tersebut ada satu fakta menarik yang belum ada satupun media massa yang mengangkatnya sebagai tema pemberitaan. Sebuah fakta yang jauh lebih menarik dibandingkan peristiwa peledakan itu sendiri. Kenyataan bahwa di Komplek gedung ini pula, berkantor The Naval Medical Research Unit 2 atau yang lebih dikenal dengan NAMRU-2.
Berdasarkan penelusuran bahan-bahan pustaka yang saya lakukan, terungkap bahwa Unit 2 Penelitian Medis Angkatan Laut alias NAMRU-2 merupakan bagian dari Angkatan Laut Amerika Serikat.
Yang lebih menarik lagi, badan yang resminya didirikan untuk mempelajari penyakit-penyakit tropis ini, ternyata berkantor di gedung milik Departemen Kesehatan. Jalan Percetakan Negara 29, Jakarta Pusat. Aneh bukan?
Memang kalau kita menelisik situs Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, Staf Namru-2 bekerjasama dengan Departemen Kesehatan Indonesia di bidang pengembangan Sumberdaya Manusia, pembangunan kelembagaan, penelitian serta pengawasan penyakit-penyakit menular.
Menurut keterangan situas Kedubes AS lebih lanjut, hal itu dilakukan dalam rangka Misi NAMRU-2 untuk mengadakan penelitian, percobaan-percobaan dan evaluasi atas penyakit-penyakit menular demi memajukan kesehatan, keamanan, dan kesiapan Pasukan Angkatan Bersenjata AS agar dapat bekerja secara efektif di masa damai dan dalam menjalankan misi-misi darurat di Seluruh Asia Tenggara.
Namun, itu versi cerita dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Informasi lain yang ketika itu saya peroleh, dan inilah yang jadi gagasan utama tulisan saya sehingga saya beri judul Misteri Virus NAMRU-2 AS, sejak akhir 2006 dan awal 2007, ada sekitar 25 orang yang mati terkena infeksi virus tak dikenal yang memakan korban jiwa akibat eksperimen biologis tertutup yang dilakukan oleh NAMRU-2.
Tentu saja ketika itu saya belum bisa mendapatkan konfirmasi dari Departemen Kesehatan, karena Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari belum secara resmi mengangkap persoalan sensitif tersebut. Atau jangan-jangan, Menteri Kesehatan Supari maupun para staf terdekatnya belum mendapatkan masukan informasi apapun terkait kiprah NAMRU-2.
Padahal ketika tulisan tersebut saya angkat di situs www.nu.or.id sudah berkembang sebuah informasi lain yang cukup mencemaskan: Ternyata NAMRU-2 tidak sekadar melakukan penelitian tentang penyakit tropis, tapi sudah meluas dalam penelitian aplikasi militer seperti pembuatan senjata bio-terorisme. Sejenis Weapon of Mass Destruction (WMD) khusus persenjataan biologis. Bahkan menurut informasi, justru penelitian aplikasi militer inilah yang jadi agenda utama NAMRU-2. Penelitian terkait penyakit tropis hanya sekadar sebagai kedok untuk menyamarkan kegiatan yang sesungguhnya.
Dengan kata lain, NAMRU-2 pada perkembangannya merupakan markas kegiatan intelijen Angkatan Laut Amerika, bukan sekadar untuk menangani proyek-proyek kerjasama Indonesia-Amerika di bidang kesehatan.
Dengan demikian penelitian virus Influenza, Malaria, Kolera, Tipus, Demam Berdarah, HIV/AIDS, Turbekolosa/TBC dan sebagainya, sejatinya ditujukan untuk melayani kepentingan strategis militer Amerika.
Ketika itu tulisan saya tutup dengan satu pertanyaan kunci: Apa benar bahwa penyebaran virus yang tidak dikenal dan yang telah memakar korban jiwa 25 orang tersebut, memang berasal dari kantor NAMRU-2 yang berlokasi di Jakarta?
Pertanyaan tersebut saya anggap masuk akal karena berdasarkan pemeriksaan tempat tinggal orang-orang yang terkena infeksi maupun di berbagai klinik lokal, ternyata tidak berhasil menemukan virus-virus apapun yang selama ini ini sudah dikenal, dan memiliki ciri khas yang jelas untuk kawasan ini.
Versi pihak kesehatan ketika itu mengatakan bahwa penyakit ini diakibatkan oleh poris kecil virus biologis yang belum dikenal.
Pihak kesehatan boleh saja mengatakan hal seperti itu. Namum informasi lain mengatakan bahwa spesialis-spesialis NAMRU-2 juga telah menjadikan jasad orang-orang yang sudah mati sebagai obyek eksperimen untuk meneliti reaksi organisme manusia yang diakibatkan oleh virus tersebut.
Sepertinya ketika tulisan ini saya publikasikan pada November 2007, Menteri Kesehatan Supari dan jajaran staf di lingkungan Departemen Kesehatan belum tahu-menahu soal ini mengingat fakta bahwa proyek penelitian NAMRU-2 pada hakekatnya bersifat tertutup dan rahasia. Padahal, kegiatan-kegiatan NAMRU-2 dalam penelitian aplikasi militer berkedok penelitian medis Angkatan Laut dalam bidang penyakit menular, juga dilakukan Amerika di Filipina dan Thailand. Sehingga bisa menimbulkan ancaman yang membahayakan jiwa manusia di kawasan Asia Tenggara.
Awal Mula Menteri Kesehatan Supari Menaruh Perhatian Pada NAMRU-2
Menteri Kesehatan Supari baru mengangkat soal NAMRU-2 AS tersebut pada 2008. Namun dalam buku yang dia tulis sendiri berjudul SAATNYA DUNIA BEROBAH, menuturkan awal mula keanehan yang dia rasakan terkait proyek NAMRU-2 tersebut.
Ketika sedang gencar-gencarnya wabah Flu Burung menerpa Indonesia, Supari menerapkan kebijakan melarang pengiriman virus influenza ke WHO, Karena Supari menaruh kecurigaan terhadap skema GISN (Global Influenza Surveilance Network) yang dijadikan dalih WHO untuk memaksa semua negara anggota WHO untuk mengirim viru influenza kepada organisasi kesehatan dunia tersebut.
Nah di tengah-tengah perlawanan Supari terhadap hegemoni WHO ini, mencuatlah satu isu sensitif ke permukaan, yaitu isu bantuan negara-negara maju dengan dukungan WHO untuk menggalang dana membantu negara-negara yang menderita flu burung.
Bagi Supari, selain gagasan bantuan negara-negara maju kepada negara-negara miskin yang menderita flu burung tersebut dipandang sebagai wacana yang menyesatkan dan merendahkan martabat diri negara-negara miskin, pada saat yang sama Supari mendapat sebuah informasi yang mengejutkan.
Pertama. Bahwa di Indonesia bantuan-bantuan luar negeri untuk mengatasi flu burung seolah begitu deras berdatangan pada 2006, namun manfaatnya tidak begitu terasa bagi masyarakat. Bahkan menurut Suparti, kadang-kadang bantuan yang diumumkan di dunia internasional ternyata tidak pernah kita terima.
Kedua. Ini yang lebih mengagetkan, dan saya kira inilah awal mula Supari mulai menyorot NAMRU-2. Menurut informasi yang didapat Menteri Kesehatan Supari, Menteri Kesehatan Amerika Serikat , Michael O Leavitt, pernah menjanjikan akan membantu Indonesia sebesar 3 juta dolar AS. Tetapi bantuan itu tidak kunjung datang hingga terlaksananya kunjungan Menteri Luar Negeri Condoleeza Rice ke Indonesia ketika itu.
Ketika itu, salah seorang wartawan bertanya pada Supari: “Apakah Kementerian Kesehatan akan mendapat bantuan dari Menlu Rice?” Supari menjawab: “Lho, janji dari Leavitt saja belum datang sampai sekarang kok mengharapkan dari Menlu Rice? Enggak ah.” Begitu jawab Supari.
Rupanya, pernyataan keras Supari tersebut menggema sampai ke Amerika Serikat. Bahkan parlemen Amerika mempertanyakan hal ini ke Dubes AS yang ada di Indonesia. Belakangan Supari dapat informasi melalui jalur-jalur informal bahwa dana yang dijanjikan oleh Leavitt tersebut telah dikirimkan ke Dubes AS di Jakarta. Dan diberikan ke NAMRU-2 AS dengan asumsi untuk penelitian H5N1 bersama Departemen Kesehatan.
Meski di dalam buku ini Supari tidak terlalu banyak berkisah seputar pendirian dirinya terkait NAMRU 2, namun bisa saya simpulkan bahwa sikap kerasnya yang kelak menghentikan proyek penelitian NAMRU-2 AS di Indonesia, nampaknya didasarkan pada informasi tersebut.
NAMRU-2 Sebagai Operasi Intelijen
Melalui konstruksi kisah tersebut di atas, proyek NAMRU-2 AS atau program-program yang sejenis, tidak boleh terulang kembali di Indonesia. Dan para pejabat pemerintahan Indonesia, khususnya dari Kementerian Kesehatan, tidak boleh mengizinkan proyek sejenis NAMRU-2 beroperasi kembali di Indonesia.
Sebab dari berbagai penelusuran bahan-bahan pustak yang dihimpun Tim Riset Global Future Institute, dalam sebuah penelitian penyakit malaria, terungkap bahwa para peneliti NAMRU-2 tidak hanya meneliti dan mengambil specimen darah warga yang terkena penyakit malaria. Para peneliti NAMRU-2 juga keluar –masuk hutan untuk memetakan situasi, topografi, dan meneliti penyebaran penyakit melalui cara-cara yang tidak lazim.
Bahkan para peneliti NAMRU-2 terungkap telah melakukan pengumpulan data dan informasi pos militer, jarak lokasi penyebaran penyakit dan kantor pemerintahan mulai dari tingkat desa hingga provinsi.
Hal ini mengindikasikan bahwa NAMRU-2 hakekatnya telah dijadikan sebagai markas operasi intelijen berkedok sebagai lembaga penelitian penyebaran penyakit menular.
Keanehan dan misteri yang menyelimuti proyek NAMRU-2 tersebut rupanya juga dirasakan oleh Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Selain tidak pernah melaporkan hasil penelitian mereka sejak tahun 2000, NAMRU-2 juga tak ikut membantu pemerintah ketika sibuk menghadapi bencana nasional demam berdarah dan flu burung.
Namun di atas itu semua, laboratorium penelitian Namru-2 yang berlokasi di Jalan Percetakan Negara, telah menjadi markas terselubung intelijen angkatan laut Amerika dalam pengembangan senjata biologis pemusnah massal.
Selain itu, keberadaan proyek Namru-2 AS dan keterlibatan intelijen angkatan laut Amerika Serikat telah memicu kecurigaan berbagai kalangan pemerintah bahwa Amerika telah melanggar kedaulatan wilayah RI karena telah menggunakan fasilitas yang diberikan Departemen Kesehatan untuk tujuan-tujuan terselubung yang tak ada kaitannya dengan pembangunan dan pengembangan bidang kesehatan di Indonesia.
Mengenang Perlawanan Siti Fadilah Supari Galang Dukungan Internasional Terhadap WHO
Namun bagi Supari, munculnya Flu Burung, telah menyadarkan dirinya, ada sesuatu yang tidak beres dalam tata kelola kesehatan yang ditangani oleh WHO. Bermula di saat Supari galau bagaimana mengatasi penyebaran virus Flu Burung yang begitu cepat, tiba-tiba berdatanganlah para pedagang farmasi menawarkan apa yang dinamakan rapid diagnostic test yang sumbernya berdasarkan virus strain Vietnam. Dan ini yang kemudian memancing kecurigaan Supari, para pedagang tersebut juga menawarkan vaksin untuk menyembuhkan Flu Burung. Yang tentunya sumbernya juga berasal dari virus strain Vietnam.
Buat Supari ini hanya berarti satu hal: Adanya ketidakadilan dalam penanganan masalah kesehatan di dunia internasional, dan biang keroknya adalah World Health Organization alias WHO.
Betapa tidak. WHO selama hampir 50 tahun, memberlakukan ketentuan apabila ada penduduk yang menderita penyakit Influenza , lalu kemudian meninggal, maka virus dari penderita tersebut sampelnya diambil dan dikirim ke WHO CC (WHO Collaborating Center), untuk dibuat seed virus. Dari seed virus inilah kemudian digunakan untuk membuat vaksin.
Dan ironisnya, pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri maju, negara-negara kaya yang tidak punya kasu Flu Burung pada manusia. Tragisnya lagi, vaksin itu kemudian dijual ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.
Maka melalui tragedi Flu Burung ini, kesadaran baru muncul pada benak Supari. Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kesehatan, Supari mulai mengambil kebijakan melarang pengiriman virus Influenza kepada WHO. Karena Supari menaruh kecurigaan terhadap skema GISN(Global Influenza Surveilance Network) yang dijadikan dalih WHO untuk memaksa semua negara anggota WHO untuk mengirim viru influenza kepada organisasi kesehatan dunia tersebut.
Masak iya, 110 negara di dunia yang mempunyai kasus influenza biasa (seasonal flu) harus mengirimkan specimen virus secara sukarela, tanpa protes sama sekali. Betapa tidak. Virus yang diterima GISN sebagai wild virus menjadi milik GISN. Dan kemudian diproses untuk risk assessment dan riset para pakar. Disamping itu juga diproses menjadi seed virus. Dan dari seed virus dapat dibuat suatu vaksin, di mana setelah menjadi vaksin, didistribusikan ke seluruh dunia secara komersial. Alangkah tidak adilnya, begitu menurut pikiran wanita kelahiran Solo, Jawa Tengah tersebut.
Selain gusar mengapa tak ada satupun negara, termasuk Indonesia, yang berani protes atas aturan yang tidak adil tersebut, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada tersebut juga mulai mencurigai adanya konspirasi internasional di balik Flu Burung tersebut. Siapakah sesungguhnya yang memperdagangkan virus seasonal flu? Negara-negara penderita mengirimkan virus dengan sukarela ke GISN-nya WHO, tetapi mengapa kemudian tiba-tiba perusahaan pembuat virus memproduksinya? Dimana mulai diperdagangkan.
Dan ini yang paling penting: Ada hubungan apa antara WHO, GISN dan perusahaan pembuat vaksin? Pokoknya ada yang tidak beres lah.
Karena belakangan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini tahu, bahwa Flu Burung yang berasal dari virus jenis H5N1, WHO juga menerapkan peraturan yang sama. Artinya, negara-negara yang diterjang penyakit Flu Burung, maka harus menyerahkan virus H5N1 ke WHO CC. Tapi setelah itu? Negara pengirim tidak pernah tahu, untuk apa dan diapakah virus tersebut. Dan dikirim kemana virus tersebut?
“Apakah akan dibuat vaksin atau bahkan jangan-jangan akan diproses menjadi senjata biologis? Kepada siapa saya harus bertanya? Apa hak dari si pengirim virus yang biasanya adalah negara yang sedang berkembang dan negara miskin. Begitulah kegusaran Supari sebagaiman terdokumentasi dalam buku karyanya bertajuk “Saatnya Dunia Berubah.”
Sederet pertanyaan yang berada di benaknya, mendorong Supari meminta pendapat Sangkot Marzuki, memang ahlinya untuk menjawab soal ini. Menurut Marzuki, ternyata para ilmuwan di dunia tidak semuanya bisa mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC, yang entah bagaimana ceritanya, kok bisa-bisanya disimpan di Los Alamos National Laboratory di New Mexico.
Terungka bahwa selama ini data sequencing H5N1 yang kita kirim ke WHO hanya dikuasai oleh ilmuwan-ilmuwan di Los Alamos National Laboratory, yang jumlahnya hanya sedikit, barangkali hanya sekitar 15 grup peneliti. Yang menariknya lagi, 4 dari 15 on berasal dari WHO CC, dan sisanya entah berasal dari mana.
Barang tentu, fakta ini bikin Supari Shock. Karena laboratorium Los Alamos ini berada dalam kendali Kementerian Energi, Amerika Serikat. Dan di Los Alamos inilah, dulu pada saat Perang Dunia II sedang panas-panasnya, di Laboratorium inilah dirancang Bom Atom untuk mengebom Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945.
Tentu saja ketertutupan informasi dan ketidakmampuan pihak luar untuk mengakses apa yang terjadi di Alamos, bisa berbahaya sekali. Karena masyarakat tidak tahu apakah virus H5N1 itu akan dibiuat vaksin, atau jangan-jangan malah dibiuat senjata kimia. Sepenuhnya tergantung mereka-mereka yang berwenang mengendalikan Los Alamos seperti Kementerian Energi dan Kementerian Pertahanan (Pentagon).
Setelah memahami sepenuhnya konteks sesungguhnya dari apa yang mencuat di balik penyebaran Flu Burung tersebut, Supari sejak itu bertekad untuk membebaskan ketertutupan infomasi ilmiah tersebut. Maka dengan bantuan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia(AIPI), Supari dengan didampingi oleh Sangkot Marzuki, kemudian memutuskan untuk mentransparankan data sequencing DNA virus H5N1 untuk perkembangan ilmu pengetahuan agar tidak dimonopoli oleh sekelompok Ilmuwan saja.
Langkah berikutnya, Supari melayangkan surat kepada WHO agar Indonesia, tentunya melalui Kementerian Kesehatan, agar dapat diberikan data sequencing virus yang sempat menerjang Tanah Karo, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Dan rupanya WHO untuk soal ini menangapi positif. Tak lama kemudian, WHO mengirim data sequencing virus Tanah Karo.
“Maka sejak saat itu, 8 Agustus 2006, sejarah dunia mencatat bahwa Indonesia mengawali ketransparanan data sequencing DNA virus H5N1 yang sedang melanda dunia. Yakni dengan cara mengirim data yang tadinya disimpan di WHO, dikirim pula ke Gene Bank,” begitu penegasan penuh semangat dari Supari lewat bukunya.
Kembali ke soal Alamos, ada yang aneh dan misterius. Tak lama setelah Supari menuntut data virus Tanah Karo, laboratorium Los Alamos sudah ditutup dan tidak ada lagi. Menurut kabar yang santer terdengar, penyimpanan data sequencingnya dipindahkan ke dua tempat. Yaitu GISAID dan sebagian ke BHS atau Bio Health Security, suatu lembaga penelitian senjata biologi yang berada di bawah Kementerian Pertahanan Amerika di Pentagon.
Mengerikan bukan? Karena itu berarti 58 virus H5N1 Indonesia juga tersimpan di sana. Bagaimana WHO CC mengirimkan data sequencing DNA ke Los Alamos.
Inilah yang mendasari kebijakan Menteri Kesehatan Supari untuk menolak mengirim virus Influenza, dan khususnya H5N1 kepada WHO. Dan sini pula keanehan baru segera terungkap.
“Mengapa yang saya tuntut WHO, kok kemudian yang berhadapan dengan kita adalah negara adidaya Amerika Serikat? Tadinya saya heran. Tapi sekarang tidak heran lagi,” tutur Supari.
Dalam analisis Supari, skenarionya kemungkinannya seperti ini: Virus dari affected countries (negara yang tertular) dikirim ke WHO CC melalui mekanisme GISN. Tetapi keluarnya dari WHO CC ke Los Alamos melalui mekanisme yang semua orang tidak tahu.
Dan di WHO CC, virus diproses untuk dijadikan seed virus dan kemudian diberikan ke perusahaan vaksin untuk dibuat vaksin. Namun ada kemungkinan yang jauh lebih mengkahwatirkan: Karena bisa jadi virus tersebut digunakan sebagai bahan untuk membuat senjata kimia/senjata biologis.
Atas dasar fakta-fakta tersebut, Supari dalam kapasitas sebagai Menteri Kesehatan, sejak 20 Desember 2006, memutuskan untuk menghentikan pengiriman specimen virus Flu Burung dari Indonesia ke WHO CC, selama mekanismenya masih mengikuti GISN.
Menurut Supari, mekanisme GISN yang imperialistik tersebut harus dirubah menjadi mekanisme yang adil dan transparan, sehingga negara-negara penderita yang notabene negara berkembang dan miskin, tidak dirugikan seperti sekarang ini.
Maka sejak saat itu pula, gerakan Supari tidak sebatas menyatakan sikap dan pendirian pemerintah terhadap WHO, melainkan melangkah lebih jauh lagi, menggalang dukungan internasional untuk memperjuangkan agendanya tersebut. Berjuang melawan Ketidakadilan WHO.
Perlawanan Supari terhadap WHO, rupanya benar-benar menggetarkan pusat urat syaraf (nerve center) WHO dan berbagai komponen strategis AS yang berada di belakang WHO. Sehingga WHO kemudian menurunkan David Heymann, Asisten Direktur Jenderal WHO yang menangani Flu Burung, untuk mendesak agar Indonesia tetap mengirimkan seasonal vaccine yang menurut Heymannn Indonesia tidak butuh-butuh amat.
Selanjutnya Heymann juga mendesak Menteri Kesehatan agar Indonesia patuh dengan menyetujui dan mengikuti mekanisme GISN dalam mengumpulkan virus H5N1. Dia menjanjikan akan membantu kebutuhan dana dan bantuan teknis kepada Indonesia, asalkan tunduk dan patuh pada mekanisme GISN WHO.
Singkat cerita, Supari dengan tegas menolak, dengan alasan Indonesia sekarang punya agenda sendiri yang berada di luar skema WHO, apalagi yang mengacu pada mekanisme GISN. Karena WHO dalam pandangannya ada kepentingan terselubung di dalamnya.
Maka, pada Sidang World Health Assembly(WHA) Mei 2007, Supari mulai meluaskan gerakannya melawan WHO secara internasional. Dalam Sidang WHA-60 di Komisi A, delegasi Indonesia mengajukan draf resolusi berjudul: Responsible Practices for Sharing Avian Inflluenza Viruses and Resulting Benefits.
Dan hasilnya cukup menakjubkan. Resolusi Indonesia didukung 23 negara co sponsor: Iran, Korea Utara, Vietnam, Irak, Kuba, Palestina, Saudi Arabia, Malaysia, Kamboja, Timor-Leste, Sudan, Myanmar, Maldives, Peru, Brunei Darussalam, Algeria, Qatar, Laos, Solomon Islands, Bhutan, Kuwait, Bolivia, dan Pakistan.
Amerika Serikat, melalui draft resolusinya mengajukan judul: Mechanisme to Promote Access to Influenza Pandemic Vacvine Production, kemudian berbenturan head to head dengan Indonesia.
Namun akhirnya Indonesia menang, berkat dukungan 24 negara-negara anggota WHO, mekanisme virus sharing menurut GISN WHO dinyatakan tidak berlaku lagi.
Maka, dengan dukungan 24 negara, Indonesia tercatat sejarah akhirnya mampu mengajukan perobahan mekanisme atau aturan dari organisasi global sekelas WHO. Aturan GISN-WHO yang sudah mapan selama 50 tahun dan mengandung aroma ketidakadilan, dan merugikan negara-negara berkembang, akhirnya berhasil direformasi berkat kepeloporan Indonesia. ***
Indonesian Free Press -- Pengantar blogger: Akhirnya Siti Fadillah Supari, pahlawan pembela negara dari konspirasi jahat industri farmasi dan pejabat-pejabat Amerika serta WHO, ditahan KPK.
Kasus yang menjerat Fadillah saat menjadi Menteri Kesehatan kabinet Presiden SBY ini sangatlah kontroversi. Tidak ada bukti penyuapan dan bahkan penyuapnya pun masih sumir, Siti Fadillah akhirnya harus ditahan setelah kasusnya terkatung-katung selama bertahun-tahun karena lemahnya bukti. Hal ini kontan mendorong publik untuk mengait-kaitkannya dengan apa yang telah dilakukan Siti Fadilah dalam kasus wabah flu burung dan keberadaan fasilitas penelitian Amerika di Indonesia yang kontroversial, NAMRU II. Sebagai bentuk simpati kepada Siti Fadilah, blog ini sengaja mempostingkan tulisan Hendrajit dari Global Future Institute (GFI) awal tahun 2014 lalu.
----------------
Ledakan yang terjadi di Gedung laboratorium Mikrobiologi yang berlokasi di jalan Percetakan Negara 29 Jakarta Pusat milik Departemen Kesehatan itu, waktu itu dianggap sebagai kecelakaan biasa. Apalagi Makbul Padmanegara yang ketika itu menjabat Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, secara tegas mengesampingkan kemungkinan ledakan tersebut berasal dari bom atau aksi terror. Meski Padmanegara kala itu tidak membantah bahwa telah diketemukan nitrogen cair dan CO2.
Namun melalui kejadian tersebut ada satu fakta menarik yang belum ada satupun media massa yang mengangkatnya sebagai tema pemberitaan. Sebuah fakta yang jauh lebih menarik dibandingkan peristiwa peledakan itu sendiri. Kenyataan bahwa di Komplek gedung ini pula, berkantor The Naval Medical Research Unit 2 atau yang lebih dikenal dengan NAMRU-2.
Berdasarkan penelusuran bahan-bahan pustaka yang saya lakukan, terungkap bahwa Unit 2 Penelitian Medis Angkatan Laut alias NAMRU-2 merupakan bagian dari Angkatan Laut Amerika Serikat.
Yang lebih menarik lagi, badan yang resminya didirikan untuk mempelajari penyakit-penyakit tropis ini, ternyata berkantor di gedung milik Departemen Kesehatan. Jalan Percetakan Negara 29, Jakarta Pusat. Aneh bukan?
Memang kalau kita menelisik situs Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, Staf Namru-2 bekerjasama dengan Departemen Kesehatan Indonesia di bidang pengembangan Sumberdaya Manusia, pembangunan kelembagaan, penelitian serta pengawasan penyakit-penyakit menular.
Menurut keterangan situas Kedubes AS lebih lanjut, hal itu dilakukan dalam rangka Misi NAMRU-2 untuk mengadakan penelitian, percobaan-percobaan dan evaluasi atas penyakit-penyakit menular demi memajukan kesehatan, keamanan, dan kesiapan Pasukan Angkatan Bersenjata AS agar dapat bekerja secara efektif di masa damai dan dalam menjalankan misi-misi darurat di Seluruh Asia Tenggara.
Namun, itu versi cerita dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Informasi lain yang ketika itu saya peroleh, dan inilah yang jadi gagasan utama tulisan saya sehingga saya beri judul Misteri Virus NAMRU-2 AS, sejak akhir 2006 dan awal 2007, ada sekitar 25 orang yang mati terkena infeksi virus tak dikenal yang memakan korban jiwa akibat eksperimen biologis tertutup yang dilakukan oleh NAMRU-2.
Tentu saja ketika itu saya belum bisa mendapatkan konfirmasi dari Departemen Kesehatan, karena Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari belum secara resmi mengangkap persoalan sensitif tersebut. Atau jangan-jangan, Menteri Kesehatan Supari maupun para staf terdekatnya belum mendapatkan masukan informasi apapun terkait kiprah NAMRU-2.
Padahal ketika tulisan tersebut saya angkat di situs www.nu.or.id sudah berkembang sebuah informasi lain yang cukup mencemaskan: Ternyata NAMRU-2 tidak sekadar melakukan penelitian tentang penyakit tropis, tapi sudah meluas dalam penelitian aplikasi militer seperti pembuatan senjata bio-terorisme. Sejenis Weapon of Mass Destruction (WMD) khusus persenjataan biologis. Bahkan menurut informasi, justru penelitian aplikasi militer inilah yang jadi agenda utama NAMRU-2. Penelitian terkait penyakit tropis hanya sekadar sebagai kedok untuk menyamarkan kegiatan yang sesungguhnya.
Dengan kata lain, NAMRU-2 pada perkembangannya merupakan markas kegiatan intelijen Angkatan Laut Amerika, bukan sekadar untuk menangani proyek-proyek kerjasama Indonesia-Amerika di bidang kesehatan.
Dengan demikian penelitian virus Influenza, Malaria, Kolera, Tipus, Demam Berdarah, HIV/AIDS, Turbekolosa/TBC dan sebagainya, sejatinya ditujukan untuk melayani kepentingan strategis militer Amerika.
Ketika itu tulisan saya tutup dengan satu pertanyaan kunci: Apa benar bahwa penyebaran virus yang tidak dikenal dan yang telah memakar korban jiwa 25 orang tersebut, memang berasal dari kantor NAMRU-2 yang berlokasi di Jakarta?
Pertanyaan tersebut saya anggap masuk akal karena berdasarkan pemeriksaan tempat tinggal orang-orang yang terkena infeksi maupun di berbagai klinik lokal, ternyata tidak berhasil menemukan virus-virus apapun yang selama ini ini sudah dikenal, dan memiliki ciri khas yang jelas untuk kawasan ini.
Versi pihak kesehatan ketika itu mengatakan bahwa penyakit ini diakibatkan oleh poris kecil virus biologis yang belum dikenal.
Pihak kesehatan boleh saja mengatakan hal seperti itu. Namum informasi lain mengatakan bahwa spesialis-spesialis NAMRU-2 juga telah menjadikan jasad orang-orang yang sudah mati sebagai obyek eksperimen untuk meneliti reaksi organisme manusia yang diakibatkan oleh virus tersebut.
Sepertinya ketika tulisan ini saya publikasikan pada November 2007, Menteri Kesehatan Supari dan jajaran staf di lingkungan Departemen Kesehatan belum tahu-menahu soal ini mengingat fakta bahwa proyek penelitian NAMRU-2 pada hakekatnya bersifat tertutup dan rahasia. Padahal, kegiatan-kegiatan NAMRU-2 dalam penelitian aplikasi militer berkedok penelitian medis Angkatan Laut dalam bidang penyakit menular, juga dilakukan Amerika di Filipina dan Thailand. Sehingga bisa menimbulkan ancaman yang membahayakan jiwa manusia di kawasan Asia Tenggara.
Awal Mula Menteri Kesehatan Supari Menaruh Perhatian Pada NAMRU-2
Menteri Kesehatan Supari baru mengangkat soal NAMRU-2 AS tersebut pada 2008. Namun dalam buku yang dia tulis sendiri berjudul SAATNYA DUNIA BEROBAH, menuturkan awal mula keanehan yang dia rasakan terkait proyek NAMRU-2 tersebut.
Ketika sedang gencar-gencarnya wabah Flu Burung menerpa Indonesia, Supari menerapkan kebijakan melarang pengiriman virus influenza ke WHO, Karena Supari menaruh kecurigaan terhadap skema GISN (Global Influenza Surveilance Network) yang dijadikan dalih WHO untuk memaksa semua negara anggota WHO untuk mengirim viru influenza kepada organisasi kesehatan dunia tersebut.
Nah di tengah-tengah perlawanan Supari terhadap hegemoni WHO ini, mencuatlah satu isu sensitif ke permukaan, yaitu isu bantuan negara-negara maju dengan dukungan WHO untuk menggalang dana membantu negara-negara yang menderita flu burung.
Bagi Supari, selain gagasan bantuan negara-negara maju kepada negara-negara miskin yang menderita flu burung tersebut dipandang sebagai wacana yang menyesatkan dan merendahkan martabat diri negara-negara miskin, pada saat yang sama Supari mendapat sebuah informasi yang mengejutkan.
Pertama. Bahwa di Indonesia bantuan-bantuan luar negeri untuk mengatasi flu burung seolah begitu deras berdatangan pada 2006, namun manfaatnya tidak begitu terasa bagi masyarakat. Bahkan menurut Suparti, kadang-kadang bantuan yang diumumkan di dunia internasional ternyata tidak pernah kita terima.
Kedua. Ini yang lebih mengagetkan, dan saya kira inilah awal mula Supari mulai menyorot NAMRU-2. Menurut informasi yang didapat Menteri Kesehatan Supari, Menteri Kesehatan Amerika Serikat , Michael O Leavitt, pernah menjanjikan akan membantu Indonesia sebesar 3 juta dolar AS. Tetapi bantuan itu tidak kunjung datang hingga terlaksananya kunjungan Menteri Luar Negeri Condoleeza Rice ke Indonesia ketika itu.
Ketika itu, salah seorang wartawan bertanya pada Supari: “Apakah Kementerian Kesehatan akan mendapat bantuan dari Menlu Rice?” Supari menjawab: “Lho, janji dari Leavitt saja belum datang sampai sekarang kok mengharapkan dari Menlu Rice? Enggak ah.” Begitu jawab Supari.
Rupanya, pernyataan keras Supari tersebut menggema sampai ke Amerika Serikat. Bahkan parlemen Amerika mempertanyakan hal ini ke Dubes AS yang ada di Indonesia. Belakangan Supari dapat informasi melalui jalur-jalur informal bahwa dana yang dijanjikan oleh Leavitt tersebut telah dikirimkan ke Dubes AS di Jakarta. Dan diberikan ke NAMRU-2 AS dengan asumsi untuk penelitian H5N1 bersama Departemen Kesehatan.
Meski di dalam buku ini Supari tidak terlalu banyak berkisah seputar pendirian dirinya terkait NAMRU 2, namun bisa saya simpulkan bahwa sikap kerasnya yang kelak menghentikan proyek penelitian NAMRU-2 AS di Indonesia, nampaknya didasarkan pada informasi tersebut.
NAMRU-2 Sebagai Operasi Intelijen
Melalui konstruksi kisah tersebut di atas, proyek NAMRU-2 AS atau program-program yang sejenis, tidak boleh terulang kembali di Indonesia. Dan para pejabat pemerintahan Indonesia, khususnya dari Kementerian Kesehatan, tidak boleh mengizinkan proyek sejenis NAMRU-2 beroperasi kembali di Indonesia.
Sebab dari berbagai penelusuran bahan-bahan pustak yang dihimpun Tim Riset Global Future Institute, dalam sebuah penelitian penyakit malaria, terungkap bahwa para peneliti NAMRU-2 tidak hanya meneliti dan mengambil specimen darah warga yang terkena penyakit malaria. Para peneliti NAMRU-2 juga keluar –masuk hutan untuk memetakan situasi, topografi, dan meneliti penyebaran penyakit melalui cara-cara yang tidak lazim.
Bahkan para peneliti NAMRU-2 terungkap telah melakukan pengumpulan data dan informasi pos militer, jarak lokasi penyebaran penyakit dan kantor pemerintahan mulai dari tingkat desa hingga provinsi.
Hal ini mengindikasikan bahwa NAMRU-2 hakekatnya telah dijadikan sebagai markas operasi intelijen berkedok sebagai lembaga penelitian penyebaran penyakit menular.
Keanehan dan misteri yang menyelimuti proyek NAMRU-2 tersebut rupanya juga dirasakan oleh Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Selain tidak pernah melaporkan hasil penelitian mereka sejak tahun 2000, NAMRU-2 juga tak ikut membantu pemerintah ketika sibuk menghadapi bencana nasional demam berdarah dan flu burung.
Namun di atas itu semua, laboratorium penelitian Namru-2 yang berlokasi di Jalan Percetakan Negara, telah menjadi markas terselubung intelijen angkatan laut Amerika dalam pengembangan senjata biologis pemusnah massal.
Selain itu, keberadaan proyek Namru-2 AS dan keterlibatan intelijen angkatan laut Amerika Serikat telah memicu kecurigaan berbagai kalangan pemerintah bahwa Amerika telah melanggar kedaulatan wilayah RI karena telah menggunakan fasilitas yang diberikan Departemen Kesehatan untuk tujuan-tujuan terselubung yang tak ada kaitannya dengan pembangunan dan pengembangan bidang kesehatan di Indonesia.
Mengenang Perlawanan Siti Fadilah Supari Galang Dukungan Internasional Terhadap WHO
Namun bagi Supari, munculnya Flu Burung, telah menyadarkan dirinya, ada sesuatu yang tidak beres dalam tata kelola kesehatan yang ditangani oleh WHO. Bermula di saat Supari galau bagaimana mengatasi penyebaran virus Flu Burung yang begitu cepat, tiba-tiba berdatanganlah para pedagang farmasi menawarkan apa yang dinamakan rapid diagnostic test yang sumbernya berdasarkan virus strain Vietnam. Dan ini yang kemudian memancing kecurigaan Supari, para pedagang tersebut juga menawarkan vaksin untuk menyembuhkan Flu Burung. Yang tentunya sumbernya juga berasal dari virus strain Vietnam.
Buat Supari ini hanya berarti satu hal: Adanya ketidakadilan dalam penanganan masalah kesehatan di dunia internasional, dan biang keroknya adalah World Health Organization alias WHO.
Betapa tidak. WHO selama hampir 50 tahun, memberlakukan ketentuan apabila ada penduduk yang menderita penyakit Influenza , lalu kemudian meninggal, maka virus dari penderita tersebut sampelnya diambil dan dikirim ke WHO CC (WHO Collaborating Center), untuk dibuat seed virus. Dari seed virus inilah kemudian digunakan untuk membuat vaksin.
Dan ironisnya, pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri maju, negara-negara kaya yang tidak punya kasu Flu Burung pada manusia. Tragisnya lagi, vaksin itu kemudian dijual ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.
Maka melalui tragedi Flu Burung ini, kesadaran baru muncul pada benak Supari. Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kesehatan, Supari mulai mengambil kebijakan melarang pengiriman virus Influenza kepada WHO. Karena Supari menaruh kecurigaan terhadap skema GISN(Global Influenza Surveilance Network) yang dijadikan dalih WHO untuk memaksa semua negara anggota WHO untuk mengirim viru influenza kepada organisasi kesehatan dunia tersebut.
Masak iya, 110 negara di dunia yang mempunyai kasus influenza biasa (seasonal flu) harus mengirimkan specimen virus secara sukarela, tanpa protes sama sekali. Betapa tidak. Virus yang diterima GISN sebagai wild virus menjadi milik GISN. Dan kemudian diproses untuk risk assessment dan riset para pakar. Disamping itu juga diproses menjadi seed virus. Dan dari seed virus dapat dibuat suatu vaksin, di mana setelah menjadi vaksin, didistribusikan ke seluruh dunia secara komersial. Alangkah tidak adilnya, begitu menurut pikiran wanita kelahiran Solo, Jawa Tengah tersebut.
Selain gusar mengapa tak ada satupun negara, termasuk Indonesia, yang berani protes atas aturan yang tidak adil tersebut, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada tersebut juga mulai mencurigai adanya konspirasi internasional di balik Flu Burung tersebut. Siapakah sesungguhnya yang memperdagangkan virus seasonal flu? Negara-negara penderita mengirimkan virus dengan sukarela ke GISN-nya WHO, tetapi mengapa kemudian tiba-tiba perusahaan pembuat virus memproduksinya? Dimana mulai diperdagangkan.
Dan ini yang paling penting: Ada hubungan apa antara WHO, GISN dan perusahaan pembuat vaksin? Pokoknya ada yang tidak beres lah.
Karena belakangan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini tahu, bahwa Flu Burung yang berasal dari virus jenis H5N1, WHO juga menerapkan peraturan yang sama. Artinya, negara-negara yang diterjang penyakit Flu Burung, maka harus menyerahkan virus H5N1 ke WHO CC. Tapi setelah itu? Negara pengirim tidak pernah tahu, untuk apa dan diapakah virus tersebut. Dan dikirim kemana virus tersebut?
“Apakah akan dibuat vaksin atau bahkan jangan-jangan akan diproses menjadi senjata biologis? Kepada siapa saya harus bertanya? Apa hak dari si pengirim virus yang biasanya adalah negara yang sedang berkembang dan negara miskin. Begitulah kegusaran Supari sebagaiman terdokumentasi dalam buku karyanya bertajuk “Saatnya Dunia Berubah.”
Sederet pertanyaan yang berada di benaknya, mendorong Supari meminta pendapat Sangkot Marzuki, memang ahlinya untuk menjawab soal ini. Menurut Marzuki, ternyata para ilmuwan di dunia tidak semuanya bisa mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC, yang entah bagaimana ceritanya, kok bisa-bisanya disimpan di Los Alamos National Laboratory di New Mexico.
Terungka bahwa selama ini data sequencing H5N1 yang kita kirim ke WHO hanya dikuasai oleh ilmuwan-ilmuwan di Los Alamos National Laboratory, yang jumlahnya hanya sedikit, barangkali hanya sekitar 15 grup peneliti. Yang menariknya lagi, 4 dari 15 on berasal dari WHO CC, dan sisanya entah berasal dari mana.
Barang tentu, fakta ini bikin Supari Shock. Karena laboratorium Los Alamos ini berada dalam kendali Kementerian Energi, Amerika Serikat. Dan di Los Alamos inilah, dulu pada saat Perang Dunia II sedang panas-panasnya, di Laboratorium inilah dirancang Bom Atom untuk mengebom Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945.
Tentu saja ketertutupan informasi dan ketidakmampuan pihak luar untuk mengakses apa yang terjadi di Alamos, bisa berbahaya sekali. Karena masyarakat tidak tahu apakah virus H5N1 itu akan dibiuat vaksin, atau jangan-jangan malah dibiuat senjata kimia. Sepenuhnya tergantung mereka-mereka yang berwenang mengendalikan Los Alamos seperti Kementerian Energi dan Kementerian Pertahanan (Pentagon).
Setelah memahami sepenuhnya konteks sesungguhnya dari apa yang mencuat di balik penyebaran Flu Burung tersebut, Supari sejak itu bertekad untuk membebaskan ketertutupan infomasi ilmiah tersebut. Maka dengan bantuan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia(AIPI), Supari dengan didampingi oleh Sangkot Marzuki, kemudian memutuskan untuk mentransparankan data sequencing DNA virus H5N1 untuk perkembangan ilmu pengetahuan agar tidak dimonopoli oleh sekelompok Ilmuwan saja.
Langkah berikutnya, Supari melayangkan surat kepada WHO agar Indonesia, tentunya melalui Kementerian Kesehatan, agar dapat diberikan data sequencing virus yang sempat menerjang Tanah Karo, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Dan rupanya WHO untuk soal ini menangapi positif. Tak lama kemudian, WHO mengirim data sequencing virus Tanah Karo.
“Maka sejak saat itu, 8 Agustus 2006, sejarah dunia mencatat bahwa Indonesia mengawali ketransparanan data sequencing DNA virus H5N1 yang sedang melanda dunia. Yakni dengan cara mengirim data yang tadinya disimpan di WHO, dikirim pula ke Gene Bank,” begitu penegasan penuh semangat dari Supari lewat bukunya.
Kembali ke soal Alamos, ada yang aneh dan misterius. Tak lama setelah Supari menuntut data virus Tanah Karo, laboratorium Los Alamos sudah ditutup dan tidak ada lagi. Menurut kabar yang santer terdengar, penyimpanan data sequencingnya dipindahkan ke dua tempat. Yaitu GISAID dan sebagian ke BHS atau Bio Health Security, suatu lembaga penelitian senjata biologi yang berada di bawah Kementerian Pertahanan Amerika di Pentagon.
Mengerikan bukan? Karena itu berarti 58 virus H5N1 Indonesia juga tersimpan di sana. Bagaimana WHO CC mengirimkan data sequencing DNA ke Los Alamos.
Inilah yang mendasari kebijakan Menteri Kesehatan Supari untuk menolak mengirim virus Influenza, dan khususnya H5N1 kepada WHO. Dan sini pula keanehan baru segera terungkap.
“Mengapa yang saya tuntut WHO, kok kemudian yang berhadapan dengan kita adalah negara adidaya Amerika Serikat? Tadinya saya heran. Tapi sekarang tidak heran lagi,” tutur Supari.
Dalam analisis Supari, skenarionya kemungkinannya seperti ini: Virus dari affected countries (negara yang tertular) dikirim ke WHO CC melalui mekanisme GISN. Tetapi keluarnya dari WHO CC ke Los Alamos melalui mekanisme yang semua orang tidak tahu.
Dan di WHO CC, virus diproses untuk dijadikan seed virus dan kemudian diberikan ke perusahaan vaksin untuk dibuat vaksin. Namun ada kemungkinan yang jauh lebih mengkahwatirkan: Karena bisa jadi virus tersebut digunakan sebagai bahan untuk membuat senjata kimia/senjata biologis.
Atas dasar fakta-fakta tersebut, Supari dalam kapasitas sebagai Menteri Kesehatan, sejak 20 Desember 2006, memutuskan untuk menghentikan pengiriman specimen virus Flu Burung dari Indonesia ke WHO CC, selama mekanismenya masih mengikuti GISN.
Menurut Supari, mekanisme GISN yang imperialistik tersebut harus dirubah menjadi mekanisme yang adil dan transparan, sehingga negara-negara penderita yang notabene negara berkembang dan miskin, tidak dirugikan seperti sekarang ini.
Maka sejak saat itu pula, gerakan Supari tidak sebatas menyatakan sikap dan pendirian pemerintah terhadap WHO, melainkan melangkah lebih jauh lagi, menggalang dukungan internasional untuk memperjuangkan agendanya tersebut. Berjuang melawan Ketidakadilan WHO.
Perlawanan Supari terhadap WHO, rupanya benar-benar menggetarkan pusat urat syaraf (nerve center) WHO dan berbagai komponen strategis AS yang berada di belakang WHO. Sehingga WHO kemudian menurunkan David Heymann, Asisten Direktur Jenderal WHO yang menangani Flu Burung, untuk mendesak agar Indonesia tetap mengirimkan seasonal vaccine yang menurut Heymannn Indonesia tidak butuh-butuh amat.
Selanjutnya Heymann juga mendesak Menteri Kesehatan agar Indonesia patuh dengan menyetujui dan mengikuti mekanisme GISN dalam mengumpulkan virus H5N1. Dia menjanjikan akan membantu kebutuhan dana dan bantuan teknis kepada Indonesia, asalkan tunduk dan patuh pada mekanisme GISN WHO.
Singkat cerita, Supari dengan tegas menolak, dengan alasan Indonesia sekarang punya agenda sendiri yang berada di luar skema WHO, apalagi yang mengacu pada mekanisme GISN. Karena WHO dalam pandangannya ada kepentingan terselubung di dalamnya.
Maka, pada Sidang World Health Assembly(WHA) Mei 2007, Supari mulai meluaskan gerakannya melawan WHO secara internasional. Dalam Sidang WHA-60 di Komisi A, delegasi Indonesia mengajukan draf resolusi berjudul: Responsible Practices for Sharing Avian Inflluenza Viruses and Resulting Benefits.
Dan hasilnya cukup menakjubkan. Resolusi Indonesia didukung 23 negara co sponsor: Iran, Korea Utara, Vietnam, Irak, Kuba, Palestina, Saudi Arabia, Malaysia, Kamboja, Timor-Leste, Sudan, Myanmar, Maldives, Peru, Brunei Darussalam, Algeria, Qatar, Laos, Solomon Islands, Bhutan, Kuwait, Bolivia, dan Pakistan.
Amerika Serikat, melalui draft resolusinya mengajukan judul: Mechanisme to Promote Access to Influenza Pandemic Vacvine Production, kemudian berbenturan head to head dengan Indonesia.
Namun akhirnya Indonesia menang, berkat dukungan 24 negara-negara anggota WHO, mekanisme virus sharing menurut GISN WHO dinyatakan tidak berlaku lagi.
Maka, dengan dukungan 24 negara, Indonesia tercatat sejarah akhirnya mampu mengajukan perobahan mekanisme atau aturan dari organisasi global sekelas WHO. Aturan GISN-WHO yang sudah mapan selama 50 tahun dan mengandung aroma ketidakadilan, dan merugikan negara-negara berkembang, akhirnya berhasil direformasi berkat kepeloporan Indonesia. ***
Monday, October 17, 2016
Perang Nuklir Benar-Benar Mengancam Saat Ini?
Indonesian Free Press -- Blog ini pernah meramalkan bahwa dunia telah sampai pada titik dimana perang nuklir sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Ketika kesadaran publik global tentang kejahatan-kejahatan konspirator New World Order telah muncul karena keberadaan internet, tidak ada cara lain untuk menghapuskan kesadaran globa itu selain dengan meletuskan 'perang dunia'.
Ini hanyalah pengulangan dari Perang Dunia I dan Perang Dunia II, dengan motif yang sama, namun dengan modus dan aktor yang berbeda. Dan perbedaan lainnya adalah daya hancur Perang Dunia III yang jauh lebih hebat karena digunakannya senjata-senjata nuklir.
Tidak ada peluang terjadinya Perang Dunia III atau perang nuklir yang lebih besar dari saat ini, di luar krisis Kuba tahun 1960-an. Media-media massa dan para pengamat politik Rusia, Amerika dan Eropa saat ini sibuk dengan topik tentang kemungkinan terjadinya perang nuklir paska kegagalan gencatan senjata konflik Suriah.
Wartawan/penulis Rusia berdarah yahudi Israel Shamir pada 11 Oktober menulis artikel menarik berjudul "Nuclear Poker" di situs The Unz Review: "Jika permainan poker terbesar sepanjang sejarah diakhiri dengan perang nuklir, dan orang-orang yang selamat mempelajari apa penyebabnya, mereka akan mati karena tertawa. Perang Dunia III dipicu oleh Amerika yang berusaha menyelamatkan Al Qaeda."
Sementara media terkemuka Inggris Daily Express pada 15 Oktober menulis laporan berjudul "Nuclear war ‘IMMINENT’ as Russia tells citizens to find out where the closest bunkers are". Ini di luar laporan media-media internasional tentang pemerintah Rusia yang memanggil pulang warga-negaranya dari luar negeri sebagai antisipasi terjadinya perang dunia.
"Sebuah siaran televisi Rusia yang menakutkan secara eksplisit menyerukan kepada warga untuk mencari bunker bawah tanah terdekat dan secara berulang-ulang mengingatkan pirsawan untuk bersiap-siap akan terjadinya perang nuklir," demikian tulis Daily Express.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa Rusia dalam beberapa minggu terakhir telah melakukan simulasi penyelamatan perang nuklir yang melibatkan 40 juta warga Rusia. Laporan juga menyebutkan bagaimana pemerintah kota St Petersburg Rusia telah membuat rencana pemberian ransum kepada warganya setelah terjadi perang nuklir, yaitu 300 grams untuk 20 hari.
"Pemerintah Rusia juga telah memerintahkan rudal-rudal nuklir digelar di sebuah pangkalan di Eropa, di sebuah tempat di dekat Polandia bernama Kaliningrad. Ini terjadi setelah Rusia mengancam akan menembak pesawat Amerika yang menyerang pasukan Bashar al-Assad di Suriah," tambah laporan itu.
"Aksi saling kecam antara pejabat-pejabat Amerika, Inggris dan Rusia telah sampai pada puncaknya dengan kemungkinan terjadinya bentrokan bersenjata antar negara di Aleppo sangat nyata," tulis laporan itu lagi.
"Sejumlah jendral Amerika mengatakan bahwa situasi sudah sangat serius sejak Perang Korea. Menurut mereka, sebuah konfrontasi Amerika-Rusia akan berlangsung singkat, namun dengan dengan dampak yang tidak tertandingi sepanjang sejarah. Jendral Mark A. Milley, kapala staff Angkatan Darat Amerika mengatakan bahwa angkatan udara dan angkatan laut akan saling menghancurkan, namun pertempuran paling berdarah terjadi di darat. Dubes Charles W. Freeman, Jr. telah mengingatkan untuk tidak melakukan tindakan gegabah pada saat Amerika dan Rusia berusaha untuk menghindari perang nuklir," tulis wartawan senior Thierry Meyssan dalam tulisannya bejudul 'Extension of the conflict' di situs independen terkemuka Voltairenet.com, 16 Oktober.(ca)
Ini hanyalah pengulangan dari Perang Dunia I dan Perang Dunia II, dengan motif yang sama, namun dengan modus dan aktor yang berbeda. Dan perbedaan lainnya adalah daya hancur Perang Dunia III yang jauh lebih hebat karena digunakannya senjata-senjata nuklir.
Tidak ada peluang terjadinya Perang Dunia III atau perang nuklir yang lebih besar dari saat ini, di luar krisis Kuba tahun 1960-an. Media-media massa dan para pengamat politik Rusia, Amerika dan Eropa saat ini sibuk dengan topik tentang kemungkinan terjadinya perang nuklir paska kegagalan gencatan senjata konflik Suriah.
Wartawan/penulis Rusia berdarah yahudi Israel Shamir pada 11 Oktober menulis artikel menarik berjudul "Nuclear Poker" di situs The Unz Review: "Jika permainan poker terbesar sepanjang sejarah diakhiri dengan perang nuklir, dan orang-orang yang selamat mempelajari apa penyebabnya, mereka akan mati karena tertawa. Perang Dunia III dipicu oleh Amerika yang berusaha menyelamatkan Al Qaeda."
Sementara media terkemuka Inggris Daily Express pada 15 Oktober menulis laporan berjudul "Nuclear war ‘IMMINENT’ as Russia tells citizens to find out where the closest bunkers are". Ini di luar laporan media-media internasional tentang pemerintah Rusia yang memanggil pulang warga-negaranya dari luar negeri sebagai antisipasi terjadinya perang dunia.
"Sebuah siaran televisi Rusia yang menakutkan secara eksplisit menyerukan kepada warga untuk mencari bunker bawah tanah terdekat dan secara berulang-ulang mengingatkan pirsawan untuk bersiap-siap akan terjadinya perang nuklir," demikian tulis Daily Express.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa Rusia dalam beberapa minggu terakhir telah melakukan simulasi penyelamatan perang nuklir yang melibatkan 40 juta warga Rusia. Laporan juga menyebutkan bagaimana pemerintah kota St Petersburg Rusia telah membuat rencana pemberian ransum kepada warganya setelah terjadi perang nuklir, yaitu 300 grams untuk 20 hari.
"Pemerintah Rusia juga telah memerintahkan rudal-rudal nuklir digelar di sebuah pangkalan di Eropa, di sebuah tempat di dekat Polandia bernama Kaliningrad. Ini terjadi setelah Rusia mengancam akan menembak pesawat Amerika yang menyerang pasukan Bashar al-Assad di Suriah," tambah laporan itu.
"Aksi saling kecam antara pejabat-pejabat Amerika, Inggris dan Rusia telah sampai pada puncaknya dengan kemungkinan terjadinya bentrokan bersenjata antar negara di Aleppo sangat nyata," tulis laporan itu lagi.
"Sejumlah jendral Amerika mengatakan bahwa situasi sudah sangat serius sejak Perang Korea. Menurut mereka, sebuah konfrontasi Amerika-Rusia akan berlangsung singkat, namun dengan dengan dampak yang tidak tertandingi sepanjang sejarah. Jendral Mark A. Milley, kapala staff Angkatan Darat Amerika mengatakan bahwa angkatan udara dan angkatan laut akan saling menghancurkan, namun pertempuran paling berdarah terjadi di darat. Dubes Charles W. Freeman, Jr. telah mengingatkan untuk tidak melakukan tindakan gegabah pada saat Amerika dan Rusia berusaha untuk menghindari perang nuklir," tulis wartawan senior Thierry Meyssan dalam tulisannya bejudul 'Extension of the conflict' di situs independen terkemuka Voltairenet.com, 16 Oktober.(ca)
Sunday, October 16, 2016
"Kawan" Saya AHOK
Indonesian Free Press -- Dari status Facebook Joserizal Jurnalis
Bagi saya, Dr. Joserizal termasuk 'agak terlambat' menyadari konspirasi jahat zionis (New World Order/NWO) di Indonesia sejak pilpres 2014 lalu hingga sekarang. Ironisnya adalah, beliau termasuk yang paling lantang menyerukan bahaya NWO.
Ketika blogger gencar mengingatkan bahaya zionisme-neoliberalisme di balik terpilihnya Jokowi sebagai presiden, beliau malah sibuk 'memukuli' kelompok-kelompok Islam garis keras (Wahabi/Salafi) dan lebih mengurusi Suriah dan Palestina. Saya bahkan sampai berfikir kalau beliau sebenarnya adalah agen NWO yang disusupkan di balik kedok 'pejuang kemanusiaan' dan 'pembela Palestina', ketika beliau membantah adanya pembersihan etnis Rohingnya di Myanmar.
Bagi saya pembersihan etnis di Rohingnya adalah sebuah fakta yang solid, yang sejalan dengan agenda NWO untuk membenturkan agama-agama, menghancurkan entitas-entitas besar yang terikat dalam identitas 'negara', 'bangsa', dan 'agama'. Tujuan akhir NWO adalah lemahnya entitas-entitas besar tersebut sehingga dunia bisa dengan mudah dikendalikan.
Perlu juga saya sampaikan bahwa saya sudah sering membaca tulisan Gilad Atzmon yang banyak menyoroti aktifitas agen-agen NWO di antara para aktifis pembela Palestina, dan bahkan para agen NWO inilah yang saat ini mengendalikan gerakan pembela Palestina di Eropa dan Amerika.
Status Dr Jose Rizal ini tampaknya telah memenuhi harapan saya bahwa pada akhirnya beliau sadar dengan agenda jahat yang saat ini tengah berjalan di Indonesia paska terpilihnya Jokowi sebagai presiden Indonesia.
Perlu ditekankan bahwa Jokowi dan Ahok adalah pasangan yang sengaja diciptakan NWO untuk melemahkan 'entitas' besar bernama Indonesia yang selama ini kokoh terikat oleh semangat kebangsaan, sejarah dan Islam. Tanpa perlindungan Jokowi, akan sehat mengatakan bahwa Ahok tentu sudah menjadi tersangka korupsi dan penghinaan agama.
-------------------------------
Dulu ketika saya lihat dia jadi anggota DPR, terselip rasa, BOLEH JUGA ini orang krn penampilan lugas dan spontannya.
Waktu berjalan, dia ingin jadi cawagub Jokowi, dia melompat ke Gerindra...
Ketika Jokowi terpilih jadi presiden, jadilah "kawan" ini gubernur DKI, ibu kota NKRI.
Selama jadi gubernur, dia mulai menyiapkan diri utk menjadi gubernur terpilih KELAK.
Dia mulai berkoar-koar ANTI partai politik krn menganggap partai politik BERMASALAH, dia rancang maju dari jalur independen dan dibentuklah TEMAN AHOK. Jalur independen tentu didukung banyak orang SEBENARnya. Grup TA inilah yg bergerak utk mengumpulkan KTP sebagai syarat maju pilkada dari calon indpenden..
Gegap gempitalah teman Ahok bekerja utk kampanye mengumpulkan KTP. Selama kegiaatan mengumpulkan KTP ini, TA memproklamirkan dirinya sebagai RELAWAN yg TIDAK DIBAYAR oleh Ahok.
Entah kenapa akhirnya "kawan" ini mencoba maju dari jalur partai, mulailah dia melobby partai-partai kecuali PDIP. Beberapa partai berhasil diyakinkan.
Sampai di sini mulai terlihat ADA GRAND MASTER yg MENGATUR.
Tampaknya sang GM belum merasa cukup kalau "kawan" ini belum didukung oleh PDIP.
Lobi-lobi dilakukan dg rally-rally panjang terhadap PDIP. Akhirnya PDIP menerima...
Tentu saja ini mengejutkan krn sebelumnya "kawan" ini sempat mennyindir-nyindir ibu Mega, bahkan pendukungnya MERENDAHKANnya.
-------------------------------
REKLAMASI di depan teluk Jakarta SANGAT JELAS BERBAHAYA bagi lingkungan dan GEOPOLITIK.
"Kawan" ini PASANG BADAN dg GIGIH membela reklamasi. Mungkin pikiran dagangnya bekerja, gua bantu reklamasi, gua minta SPLITTING FEE nya buat bangun Jakarta.
Soal SPLITTING FEE ini menjadi ramai krn TIDAK MASUK APBD.
Lalu terjadi lagi PENGGUSURAN kawasan2 tertentu dan disediakan "hunian" berbentuk apartemen utk menampung dg jargon oleh pendukungnya : lebih manusiawi.
Sepintas terlihat baik. Tapi kalau dikaji, masyarakat yg PUNYA RUMAH dirubah menjadi PENYEWA APARTEMEN. Jadi terlihat sebagai BISNIS saja lagi. Apalagi sdh ada pengakuan bahwa ONKOS PENGGUSURAN berasal dari PENGEMBAMG.
Jalan keluar lebih baik sebenarnya, DITATA BUKAN DIGUSUR.
Tentu orang mulai berpikir, APAKAH INI suatu STRATEGI PENGUASAAN LAHAN utk BISNIS atau ada HIDDEN AGENDA?
-------------------------------
Sampai di sini, masyarakat awam belum bisa MEMBACA ada yg BERBAHAYA selain persoalan boleh tidaknya pemimpin non muslim.
------------------
Masyarakat baru tersentak dan marah ketika "kawan" ini MENYERANG AYAT AL QURAN..
ADA PERTANYAAN MENARIK, KENAPA "KAWAN" ini begitu NAFSU BERKUASA dan PENDUKUNGnya begitu GIGIH MEMBELA, walaupun sudah mulai terlihat ADA YG TIDAK BERES?
-------------
Sebenarnya yg BERMAIN adalah GRAND MASTER yg punya RENCANA BESAR terhadap NKRI.
Karena "kawan" ini sangat haus berkuasa, GM memakai dia utk PROXY.
-----------------------------------
Lalu bagaimana dg pendukungnya?
Ada beberapa kriteria:
1.Pendukung IDEOLOGIS
2.Pendukung TERPESONA
3.Pendukung yg takut pada kelompok tertentu dan kelompok tertentu ini kebetulan membenci "kawan" ini
4.Pendukung BAYARAN (BUZZER dll)
-------------------
GM ini bekerja keras supaya "kawan" ini jadi tapi dia SULIT MENJAGA MULUTnya, tersandunglah dia dlm KASUS PENISTAAN AYAT AL QURAN.
GM sedang pusing melihat banyaknya demo hari Jumat kemaren.
Prajurit GM ini mulai menyerang DEMO DAMAI kemaren utk mendelegitimasi dg isu seolah-olah humanis spt, BUNGA RUSAK, SAMPAH.. dll
Tentu saja jadi bumerang.
-------------------
Di akhir tulisan ini, kuncinya adalah:
APAKAH MASIH BELUM BISA MELIHAT JELAS PERMAINAN SANG GRAND MASTER ini ???
#serial rabun jauh rabun dekat.***
Bagi saya, Dr. Joserizal termasuk 'agak terlambat' menyadari konspirasi jahat zionis (New World Order/NWO) di Indonesia sejak pilpres 2014 lalu hingga sekarang. Ironisnya adalah, beliau termasuk yang paling lantang menyerukan bahaya NWO.
Ketika blogger gencar mengingatkan bahaya zionisme-neoliberalisme di balik terpilihnya Jokowi sebagai presiden, beliau malah sibuk 'memukuli' kelompok-kelompok Islam garis keras (Wahabi/Salafi) dan lebih mengurusi Suriah dan Palestina. Saya bahkan sampai berfikir kalau beliau sebenarnya adalah agen NWO yang disusupkan di balik kedok 'pejuang kemanusiaan' dan 'pembela Palestina', ketika beliau membantah adanya pembersihan etnis Rohingnya di Myanmar.
Bagi saya pembersihan etnis di Rohingnya adalah sebuah fakta yang solid, yang sejalan dengan agenda NWO untuk membenturkan agama-agama, menghancurkan entitas-entitas besar yang terikat dalam identitas 'negara', 'bangsa', dan 'agama'. Tujuan akhir NWO adalah lemahnya entitas-entitas besar tersebut sehingga dunia bisa dengan mudah dikendalikan.
Perlu juga saya sampaikan bahwa saya sudah sering membaca tulisan Gilad Atzmon yang banyak menyoroti aktifitas agen-agen NWO di antara para aktifis pembela Palestina, dan bahkan para agen NWO inilah yang saat ini mengendalikan gerakan pembela Palestina di Eropa dan Amerika.
Status Dr Jose Rizal ini tampaknya telah memenuhi harapan saya bahwa pada akhirnya beliau sadar dengan agenda jahat yang saat ini tengah berjalan di Indonesia paska terpilihnya Jokowi sebagai presiden Indonesia.
Perlu ditekankan bahwa Jokowi dan Ahok adalah pasangan yang sengaja diciptakan NWO untuk melemahkan 'entitas' besar bernama Indonesia yang selama ini kokoh terikat oleh semangat kebangsaan, sejarah dan Islam. Tanpa perlindungan Jokowi, akan sehat mengatakan bahwa Ahok tentu sudah menjadi tersangka korupsi dan penghinaan agama.
-------------------------------
Dulu ketika saya lihat dia jadi anggota DPR, terselip rasa, BOLEH JUGA ini orang krn penampilan lugas dan spontannya.
Waktu berjalan, dia ingin jadi cawagub Jokowi, dia melompat ke Gerindra...
Ketika Jokowi terpilih jadi presiden, jadilah "kawan" ini gubernur DKI, ibu kota NKRI.
Selama jadi gubernur, dia mulai menyiapkan diri utk menjadi gubernur terpilih KELAK.
Dia mulai berkoar-koar ANTI partai politik krn menganggap partai politik BERMASALAH, dia rancang maju dari jalur independen dan dibentuklah TEMAN AHOK. Jalur independen tentu didukung banyak orang SEBENARnya. Grup TA inilah yg bergerak utk mengumpulkan KTP sebagai syarat maju pilkada dari calon indpenden..
Gegap gempitalah teman Ahok bekerja utk kampanye mengumpulkan KTP. Selama kegiaatan mengumpulkan KTP ini, TA memproklamirkan dirinya sebagai RELAWAN yg TIDAK DIBAYAR oleh Ahok.
Entah kenapa akhirnya "kawan" ini mencoba maju dari jalur partai, mulailah dia melobby partai-partai kecuali PDIP. Beberapa partai berhasil diyakinkan.
Sampai di sini mulai terlihat ADA GRAND MASTER yg MENGATUR.
Tampaknya sang GM belum merasa cukup kalau "kawan" ini belum didukung oleh PDIP.
Lobi-lobi dilakukan dg rally-rally panjang terhadap PDIP. Akhirnya PDIP menerima...
Tentu saja ini mengejutkan krn sebelumnya "kawan" ini sempat mennyindir-nyindir ibu Mega, bahkan pendukungnya MERENDAHKANnya.
-------------------------------
REKLAMASI di depan teluk Jakarta SANGAT JELAS BERBAHAYA bagi lingkungan dan GEOPOLITIK.
"Kawan" ini PASANG BADAN dg GIGIH membela reklamasi. Mungkin pikiran dagangnya bekerja, gua bantu reklamasi, gua minta SPLITTING FEE nya buat bangun Jakarta.
Soal SPLITTING FEE ini menjadi ramai krn TIDAK MASUK APBD.
Lalu terjadi lagi PENGGUSURAN kawasan2 tertentu dan disediakan "hunian" berbentuk apartemen utk menampung dg jargon oleh pendukungnya : lebih manusiawi.
Sepintas terlihat baik. Tapi kalau dikaji, masyarakat yg PUNYA RUMAH dirubah menjadi PENYEWA APARTEMEN. Jadi terlihat sebagai BISNIS saja lagi. Apalagi sdh ada pengakuan bahwa ONKOS PENGGUSURAN berasal dari PENGEMBAMG.
Jalan keluar lebih baik sebenarnya, DITATA BUKAN DIGUSUR.
Tentu orang mulai berpikir, APAKAH INI suatu STRATEGI PENGUASAAN LAHAN utk BISNIS atau ada HIDDEN AGENDA?
-------------------------------
Sampai di sini, masyarakat awam belum bisa MEMBACA ada yg BERBAHAYA selain persoalan boleh tidaknya pemimpin non muslim.
------------------
Masyarakat baru tersentak dan marah ketika "kawan" ini MENYERANG AYAT AL QURAN..
ADA PERTANYAAN MENARIK, KENAPA "KAWAN" ini begitu NAFSU BERKUASA dan PENDUKUNGnya begitu GIGIH MEMBELA, walaupun sudah mulai terlihat ADA YG TIDAK BERES?
-------------
Sebenarnya yg BERMAIN adalah GRAND MASTER yg punya RENCANA BESAR terhadap NKRI.
Karena "kawan" ini sangat haus berkuasa, GM memakai dia utk PROXY.
-----------------------------------
Lalu bagaimana dg pendukungnya?
Ada beberapa kriteria:
1.Pendukung IDEOLOGIS
2.Pendukung TERPESONA
3.Pendukung yg takut pada kelompok tertentu dan kelompok tertentu ini kebetulan membenci "kawan" ini
4.Pendukung BAYARAN (BUZZER dll)
-------------------
GM ini bekerja keras supaya "kawan" ini jadi tapi dia SULIT MENJAGA MULUTnya, tersandunglah dia dlm KASUS PENISTAAN AYAT AL QURAN.
GM sedang pusing melihat banyaknya demo hari Jumat kemaren.
Prajurit GM ini mulai menyerang DEMO DAMAI kemaren utk mendelegitimasi dg isu seolah-olah humanis spt, BUNGA RUSAK, SAMPAH.. dll
Tentu saja jadi bumerang.
-------------------
Di akhir tulisan ini, kuncinya adalah:
APAKAH MASIH BELUM BISA MELIHAT JELAS PERMAINAN SANG GRAND MASTER ini ???
#serial rabun jauh rabun dekat.***
Thursday, October 13, 2016
Otoritas Palestina Tangkap Pejabat yang Kecam Abbas
Indonesian Free Press -- Mahmoud Abbas, pemimpin Otoritas Palestina, lembaga otoriter yang mengklaim sebagai wakil rakyat Palestina, kembali menunjukkan sikap tidak terpujinya dengan memecat dan menangkap warganya yang mengkritik tindakannya menghadiri pemakaman pemimpin Israel Shimon Peres.
Seperti dilaporkan Almanar News kemarin (13 Oktober), Otoritas Palestina minggu lalu telah menangkap Kolonel Ossama Mansour terkait dengan kritikannya kepada Mahmoud Abbas yang menghadiri pemakaman Shimon Peres beberapa waktu lalu.
Media-media Palestina melaporkan bahwa penangkapan itu berlangsung hanya sehari setelah ia dipecat dari jabatannya karena alasan yang sama. Tidak hanya itu, aparat keamanan Otoritas Palestina juga menduduki rumah Mansour setelah penangkapan itu.
Sebelum penangkapan itu Mansour sempat mengatakan dirinya menerima pemecatan terhadap dirinya meski membantah telah menghina Abbas. Namun, kabar penangkapan itu telah menimbulkan protes massal di Palestina dan menuntut Otoritas Palestina untuk membebaskannya.
Otoritas Palestina yang menguasai wilayah Tepi Barat dan diakui Amerika dan dunia internasional, telah menjadi lembaga ilegal yang otoriter setelah gagal menjalankan mandatnya sendiri untuk melakukan pemilihan pemimpinnya secara demokratis setelah Abbas kehabisan masa tugasnya beberapa tahun lalu. Secara de facto Abbas telah menjadi penguasa Otoritas Palestina meski tanpa mandat rakyat Palestina. Otoritas Palestina juga telah menjadi pesaing pemerintah Palestina yang berkedudukan di Gaza yang terpilih secara demokratis.
"Saya melihat banyak reaksi dan semua orang marah setelah mendengar Anda (Abbas) akan menghadiri pemakaman Shimon Peres ..
pendiri pemukiman-pemukiman ilegal yahudi yang Anda minta untuk dihentikan.. dengan tambahan atas tindakan-tindakannya setelah Perjanjian Oslo dan pernyataan-pernyataannya serta perannya dalam menimbulkan penderitaan rakyat Palestina. Dalam banyak hal, apakah ia seorang teroris atau bukan .. apakah ia menerapkan kebijakan 'menghancurkan tulang' selama intifada pertama atau bukan.. apakah ia terlibat dalam pembantaian di kamp pengungsi Jenin dan pembantaian pemukiman Jasmine atau bukan.. apakah ia terlibat dalam pemboman Qana atau tidak .. siapakah dia sehingga membuat Anda harus menghadiri pemakaman orang yang ditolak oleh rakyatmua?” Demikian tulis Mansour dalam surat terbukanya yang berbuntut pada penangkapannya itu.
“Anda bisa bertanya kepada ibunda syuhada Yasser Hamdouni dan meminta ijinnya terlebih dahulu. Jika ia mengijinkan, silakan Anda pergi (ke Israel). Tapi jika tidak, maka Anda harus membatalkan rencana Anda. Jika Anda tetap menghadiri pemakaman orang yang telah membunuhi anak-anak kami, maka Anda telah berbuat kesalahan. Tidak adaa hubungan pertemanan dengan penjajah sepanjang ia tetap menunjukkan sikap arogansinya kepada rakyat kita,” tambah Mansour.(ca)
Seperti dilaporkan Almanar News kemarin (13 Oktober), Otoritas Palestina minggu lalu telah menangkap Kolonel Ossama Mansour terkait dengan kritikannya kepada Mahmoud Abbas yang menghadiri pemakaman Shimon Peres beberapa waktu lalu.
Media-media Palestina melaporkan bahwa penangkapan itu berlangsung hanya sehari setelah ia dipecat dari jabatannya karena alasan yang sama. Tidak hanya itu, aparat keamanan Otoritas Palestina juga menduduki rumah Mansour setelah penangkapan itu.
Sebelum penangkapan itu Mansour sempat mengatakan dirinya menerima pemecatan terhadap dirinya meski membantah telah menghina Abbas. Namun, kabar penangkapan itu telah menimbulkan protes massal di Palestina dan menuntut Otoritas Palestina untuk membebaskannya.
Otoritas Palestina yang menguasai wilayah Tepi Barat dan diakui Amerika dan dunia internasional, telah menjadi lembaga ilegal yang otoriter setelah gagal menjalankan mandatnya sendiri untuk melakukan pemilihan pemimpinnya secara demokratis setelah Abbas kehabisan masa tugasnya beberapa tahun lalu. Secara de facto Abbas telah menjadi penguasa Otoritas Palestina meski tanpa mandat rakyat Palestina. Otoritas Palestina juga telah menjadi pesaing pemerintah Palestina yang berkedudukan di Gaza yang terpilih secara demokratis.
"Saya melihat banyak reaksi dan semua orang marah setelah mendengar Anda (Abbas) akan menghadiri pemakaman Shimon Peres ..
pendiri pemukiman-pemukiman ilegal yahudi yang Anda minta untuk dihentikan.. dengan tambahan atas tindakan-tindakannya setelah Perjanjian Oslo dan pernyataan-pernyataannya serta perannya dalam menimbulkan penderitaan rakyat Palestina. Dalam banyak hal, apakah ia seorang teroris atau bukan .. apakah ia menerapkan kebijakan 'menghancurkan tulang' selama intifada pertama atau bukan.. apakah ia terlibat dalam pembantaian di kamp pengungsi Jenin dan pembantaian pemukiman Jasmine atau bukan.. apakah ia terlibat dalam pemboman Qana atau tidak .. siapakah dia sehingga membuat Anda harus menghadiri pemakaman orang yang ditolak oleh rakyatmua?” Demikian tulis Mansour dalam surat terbukanya yang berbuntut pada penangkapannya itu.
“Anda bisa bertanya kepada ibunda syuhada Yasser Hamdouni dan meminta ijinnya terlebih dahulu. Jika ia mengijinkan, silakan Anda pergi (ke Israel). Tapi jika tidak, maka Anda harus membatalkan rencana Anda. Jika Anda tetap menghadiri pemakaman orang yang telah membunuhi anak-anak kami, maka Anda telah berbuat kesalahan. Tidak adaa hubungan pertemanan dengan penjajah sepanjang ia tetap menunjukkan sikap arogansinya kepada rakyat kita,” tambah Mansour.(ca)
Wednesday, October 12, 2016
Iran Tuduh Amerika dan Israel Terlibat Pemboman Maut di Sana'a
Indonesian Free Press -- Amerika dan Saudi Arabia tahu dengan pasti bahwa para pejabat dan elit Yaman yang menjadi tulang punggung perlawanan Yaman terhadap agresi Saudi Arabia, berada di tengah-tengah kerumunan massa yang menghadiri upacara pemakaman atas orang tua dari Mendagri Jalal Al-Roweishan, di Sana'a akhir pekan lalu. 'Bodoh'-nya rakyat Yaman yang tidak berfikir bahwa tidak ada orang yang 'cukup gila' untuk membom kerumunan warga sipil tidak bersenjata, diperkirakan mencapai 1.500 orang. Maka terjadilah apa yang terjadi. Pemboman maut yang menewaskan ratusan orang tak bersalah.
"Saya harap mereka (rakyat Yaman) menelepon Veterans Today terlebih dahulu, karena kami akan meyakinkan bahwa mereka (Amerika-Saudi-Israel) bisa melakukan... dan akan melakukannya," tulis editor senior Veterans Today Jim W. Dean, 10 Oktober lalu.
Iran pun mengetahui dengan pasti bahwa serangan tersebut dilakukan oleh 'koalisi penyembah dajjal' Amerika-Saudi-Israel, sebagaimana dengan Tragedi Mina tahun lalu yang menewaskan ribuan jemaah haji.
"Bukti-bukti dan dokumen-dokumen menunjukkan bahwa kejahatan ini dilakukan di bawah kontrol operasi Amerika dan Israel,” kata komandan senior Tentara Pengawal Revolusi (IRGC) Iran Brigjen Amirali Hajizadeh, Senin lalu (10 Oktober).
Komandan divisi roket dan rudal IRGC itu menyebutkan keberadaan drone-drone dan pesawat mata-mata Amerika dan Israel seperti MQ-1, RQ-4, MQ-9, AWACS (Airborne Warning And Control System) serta pesawat-pesawat F-16, F-15, hingga F-22, ditambah penerbangan pesawat-pesawat logistik Amerika ke Saudi, membuktikan bahwa operasi pemboman maut itu didalangi oleh Amerika dan dilakukan oleh Saudi.
Ia juga menyebutkan besarnya dampak serangan tersebut sebagai bukti lain keterlibatan Amerika. Ia menyebut ledakan yang terjadi diakibatkan oleh bom penghancur terowongan bawah tanah GBU-28. Ditambah bom-bom 'cluster' yang telah digunakan Saudi Arabia di Yaman mengindikasikan bahwa Amerika dan zionis Israel berkepentingan dengan kehancuran Yaman.
Dipastikan lebih dari 140 orang tewas dan 525 terluka dalam serangan bom oleh pesawat-pesawat tempur Saudi Arabia terhadap sebuah gedung pertemuan yang dipenuhi oleh orang-orang yang berduka atas meninggalnya orang tua Mendagri Jalal al-Roweishan di Sana'a, Sabtu (8 Oktober). Sejumlah sumber menyebutkan angka korban jauh lebih besar lagi mengingat banyaknya korban yang masih hilang.
Ini adalah korban terbesar dalam satu serangan tunggal sejak Saudi melancarkan agresinya ke Yaman bulan Maret 2015 lalu.
“Kebijakan-kebijakan Amerika di dunia Islam telah menjadi faktor untuk terjadinya pembantaian-pembantaian terhadap kaum Muslims,” tambah pejabat militer Iran ini.
"Tidak bisa dibantah bahwa tindakan itu juga telah mendorong regim Saudi lebih dekat ke jurang kejatuhan," kata Hajizadeh lagi.
Bagi para 'liberal idiot' dan 'kecebong' yang masih berilusi bahwa PBB dan norma-norma internasional serta Presiden Jokowi, akan memberikan keadilan atas insiden ini, silakan berilusi bahwa keadilan juga akan diterima oleh rakyat Palestina tanpa melalui perjuangan bersenjata.(ca)
"Saya harap mereka (rakyat Yaman) menelepon Veterans Today terlebih dahulu, karena kami akan meyakinkan bahwa mereka (Amerika-Saudi-Israel) bisa melakukan... dan akan melakukannya," tulis editor senior Veterans Today Jim W. Dean, 10 Oktober lalu.
Iran pun mengetahui dengan pasti bahwa serangan tersebut dilakukan oleh 'koalisi penyembah dajjal' Amerika-Saudi-Israel, sebagaimana dengan Tragedi Mina tahun lalu yang menewaskan ribuan jemaah haji.
"Bukti-bukti dan dokumen-dokumen menunjukkan bahwa kejahatan ini dilakukan di bawah kontrol operasi Amerika dan Israel,” kata komandan senior Tentara Pengawal Revolusi (IRGC) Iran Brigjen Amirali Hajizadeh, Senin lalu (10 Oktober).
Komandan divisi roket dan rudal IRGC itu menyebutkan keberadaan drone-drone dan pesawat mata-mata Amerika dan Israel seperti MQ-1, RQ-4, MQ-9, AWACS (Airborne Warning And Control System) serta pesawat-pesawat F-16, F-15, hingga F-22, ditambah penerbangan pesawat-pesawat logistik Amerika ke Saudi, membuktikan bahwa operasi pemboman maut itu didalangi oleh Amerika dan dilakukan oleh Saudi.
Ia juga menyebutkan besarnya dampak serangan tersebut sebagai bukti lain keterlibatan Amerika. Ia menyebut ledakan yang terjadi diakibatkan oleh bom penghancur terowongan bawah tanah GBU-28. Ditambah bom-bom 'cluster' yang telah digunakan Saudi Arabia di Yaman mengindikasikan bahwa Amerika dan zionis Israel berkepentingan dengan kehancuran Yaman.
Dipastikan lebih dari 140 orang tewas dan 525 terluka dalam serangan bom oleh pesawat-pesawat tempur Saudi Arabia terhadap sebuah gedung pertemuan yang dipenuhi oleh orang-orang yang berduka atas meninggalnya orang tua Mendagri Jalal al-Roweishan di Sana'a, Sabtu (8 Oktober). Sejumlah sumber menyebutkan angka korban jauh lebih besar lagi mengingat banyaknya korban yang masih hilang.
Ini adalah korban terbesar dalam satu serangan tunggal sejak Saudi melancarkan agresinya ke Yaman bulan Maret 2015 lalu.
“Kebijakan-kebijakan Amerika di dunia Islam telah menjadi faktor untuk terjadinya pembantaian-pembantaian terhadap kaum Muslims,” tambah pejabat militer Iran ini.
"Tidak bisa dibantah bahwa tindakan itu juga telah mendorong regim Saudi lebih dekat ke jurang kejatuhan," kata Hajizadeh lagi.
Bagi para 'liberal idiot' dan 'kecebong' yang masih berilusi bahwa PBB dan norma-norma internasional serta Presiden Jokowi, akan memberikan keadilan atas insiden ini, silakan berilusi bahwa keadilan juga akan diterima oleh rakyat Palestina tanpa melalui perjuangan bersenjata.(ca)
Tuesday, September 13, 2016
Masalah Kesehatan Hillary Clinton yang Tidak Bisa Disembunyikan Lagi
Indonesian Free Press -- Masalah kesehatan fisik dan mental yang dialami Hillary Clinton sudah menjadi perhatian luas media-media independen, terutama setelah ia dipastikan menjadi capres Amerika mendatang yang diusung Partai Demokrat. Sayangnya, media-media utama (mainstream) justru berusaha menutup-nutupi masalah ini dengan menyebut laporan-laporan tentang kesehatan Hillary itu sebagai 'teori konspirasi'.
Pada awalnya media-media independen lebih menekankan pada kesehatan mental Hillary, yang dianggap tidak cukup layak untuk menjadi Presiden Amerika. Ia misalnya, terekspos sering melakukan tingkah laku aneh, seperti menggoyang-goyangkan kepala dan memutar-mutar bola matanya tanpa kendali. Menurut para pengamat kejiwaan, hal itu menandakan beliau mengidap penyakit mental yang akut.
Namun kini masalah lebih serius dialami Hillary dan para pengusungnya, setelah tanpa bisa disembunyikan lagi Hillary ketahuan publik mengalami masalah fisik yang serius. Di berbagai video yang beredar luas di dunia maya, Hillary tertangkap kamera tidak mampu untuk sekedar berjalan tegak dan harus dibantu oleh para pengawalnya. Puncaknya adalah ketika Hillary nyaris kolaps saat menghadiri peringatan tragedi Serangan WTC tanggal 11 September lalu di Ground Zero, New York.
Tanpa bisa lagi menyembunyikan masalah ini, media-media utama pun tidak ingin ketinggalan memberitakannya. Salah satunya adalah NBC News, yang pada hari yang sama langsung melakukan laporan tentang masalah ini serta tanggapan sejumlah narasumber terkait hal ini. NBC News pun memilih judul laporan yang 'mengundang mata': 'Hillary Clinton's Health Scare: 9 Unanswered Questions'.
"Clinton terdiagnosa mengalami 'pneumonia' pada hari Jumat (9 September). Dalam upacara 11 September di Ground Zero pada hari Minggu (11 September) ia tampak goyah dan harus mendapatkan bantuan untuk masuk ke dalam mobil van, setelah mengalami 'kepanasan dan dehidrasi'. Dan Clinton kemudian harus membatalkan kunjungan ke California pada hari Senin sembari beristirahat di rumahnya," tulis NBC News.
NBC News sengaja memberikan tanda petik di atas kata 'kepanasan dan dehidrasi' sebagaimana klaim Hillary Clinton atas kondisi yang ia alami, mengingat bahwa pada saat kejadian kondisi cuaca justru sedang 'dingin', dan klaim Hillary tersebut telah mendapatkan bantahan luas dari media-media independen seperti Infowars.
Sejumlah pertanyaan pun diajukan dalam laporan itu, seperti mengapa Clinton menyembunyikan penyakit pneumonianya? Sejak kapan ia menderita penyakit ini? Siapa yang menentukan kapan ia harus berobat ke rumah sakit? Bagaimana konsistensi Hillary untuk mengijinkan peliputan penuh terhadap dirinya sebagai kandidat presiden dan apakah ia akan terbuka terhadap pers jika terpilih? Ini berkaitan dengan adanya pelanggaran protokol oleh Hillary sebagai calon presiden yang seharusnya melakukan konperensi pers setelah upacara di Ground Zero, namun ditinggalkannya begitu saja karena penyakitnya, membuat para wartawan kehilangan jejaknya selama 90 menit.
Menurut laporan itu, insiden di Ground Zero memberikan dampak yang buruk bagi Hillary Clinton yang dianggap tidak jujur tengan penyakitnya. Selain itu, sebagai capres wanita pertama kali dalam sejarah Amerika, penyakitnya itu justru memberikan dampak buruk tentang image perempuan yang dianggap lemah.
Media-media independen bahkan telah sampai pada pembahasan tentang apakah pemilihan presiden bisa dibatalkan karena kesehatan Hillary? Atau, mungkinkah Hillary akan melakukan aksi tipuan dengan menggunakan 'peran pengganti' dirinya.
Sekedar tambahan, pada Juli lalu media terkemuka Inggris Daily Mail menulis laporan tentang profil Teresa Barnwell (61 tahun) yang dibayar ribuan dollar untuk melakukan peran pengganti bagi Hillary Clinton. Barnwell bahkan rela keluar dari pekerjaannya sebagai eksekutif sebuah perusahaan karena penghasilan yang ditawarkan kepadanya itu.(ca)
Pada awalnya media-media independen lebih menekankan pada kesehatan mental Hillary, yang dianggap tidak cukup layak untuk menjadi Presiden Amerika. Ia misalnya, terekspos sering melakukan tingkah laku aneh, seperti menggoyang-goyangkan kepala dan memutar-mutar bola matanya tanpa kendali. Menurut para pengamat kejiwaan, hal itu menandakan beliau mengidap penyakit mental yang akut.
Namun kini masalah lebih serius dialami Hillary dan para pengusungnya, setelah tanpa bisa disembunyikan lagi Hillary ketahuan publik mengalami masalah fisik yang serius. Di berbagai video yang beredar luas di dunia maya, Hillary tertangkap kamera tidak mampu untuk sekedar berjalan tegak dan harus dibantu oleh para pengawalnya. Puncaknya adalah ketika Hillary nyaris kolaps saat menghadiri peringatan tragedi Serangan WTC tanggal 11 September lalu di Ground Zero, New York.
Tanpa bisa lagi menyembunyikan masalah ini, media-media utama pun tidak ingin ketinggalan memberitakannya. Salah satunya adalah NBC News, yang pada hari yang sama langsung melakukan laporan tentang masalah ini serta tanggapan sejumlah narasumber terkait hal ini. NBC News pun memilih judul laporan yang 'mengundang mata': 'Hillary Clinton's Health Scare: 9 Unanswered Questions'.
"Clinton terdiagnosa mengalami 'pneumonia' pada hari Jumat (9 September). Dalam upacara 11 September di Ground Zero pada hari Minggu (11 September) ia tampak goyah dan harus mendapatkan bantuan untuk masuk ke dalam mobil van, setelah mengalami 'kepanasan dan dehidrasi'. Dan Clinton kemudian harus membatalkan kunjungan ke California pada hari Senin sembari beristirahat di rumahnya," tulis NBC News.
NBC News sengaja memberikan tanda petik di atas kata 'kepanasan dan dehidrasi' sebagaimana klaim Hillary Clinton atas kondisi yang ia alami, mengingat bahwa pada saat kejadian kondisi cuaca justru sedang 'dingin', dan klaim Hillary tersebut telah mendapatkan bantahan luas dari media-media independen seperti Infowars.
Sejumlah pertanyaan pun diajukan dalam laporan itu, seperti mengapa Clinton menyembunyikan penyakit pneumonianya? Sejak kapan ia menderita penyakit ini? Siapa yang menentukan kapan ia harus berobat ke rumah sakit? Bagaimana konsistensi Hillary untuk mengijinkan peliputan penuh terhadap dirinya sebagai kandidat presiden dan apakah ia akan terbuka terhadap pers jika terpilih? Ini berkaitan dengan adanya pelanggaran protokol oleh Hillary sebagai calon presiden yang seharusnya melakukan konperensi pers setelah upacara di Ground Zero, namun ditinggalkannya begitu saja karena penyakitnya, membuat para wartawan kehilangan jejaknya selama 90 menit.
Menurut laporan itu, insiden di Ground Zero memberikan dampak yang buruk bagi Hillary Clinton yang dianggap tidak jujur tengan penyakitnya. Selain itu, sebagai capres wanita pertama kali dalam sejarah Amerika, penyakitnya itu justru memberikan dampak buruk tentang image perempuan yang dianggap lemah.
Media-media independen bahkan telah sampai pada pembahasan tentang apakah pemilihan presiden bisa dibatalkan karena kesehatan Hillary? Atau, mungkinkah Hillary akan melakukan aksi tipuan dengan menggunakan 'peran pengganti' dirinya.
Sekedar tambahan, pada Juli lalu media terkemuka Inggris Daily Mail menulis laporan tentang profil Teresa Barnwell (61 tahun) yang dibayar ribuan dollar untuk melakukan peran pengganti bagi Hillary Clinton. Barnwell bahkan rela keluar dari pekerjaannya sebagai eksekutif sebuah perusahaan karena penghasilan yang ditawarkan kepadanya itu.(ca)
Sunday, September 11, 2016
Pemilik Roket SpaceX Perkuat Spekulasi UFO Ledakkan Roket
Indonesian Free Press -- Pemilik roket SpaceX, Elon Musk, tidak menolak kemungkinan UFO telah meledakkan roket miliknya pada saat hendak diluncurkan di Cape Canaveral, Florida-Amerika, 1 September lalu.
Seperti dilaporkan Veterans Today hari ini (11 September), Musk mengatakan hal itu di akun Twitternya.
"Kami tidak mengesampingkan hal itu (UFO sebabkan meledaknya SpaceX Falcon 9)," tulis Musk.
Menurut Musk, yang terjadi adalah sebuah 'kebakaran cepat' yang tidak diketahui penyebabnya dan tidak pernah terjadi dalam sejarah penerbangan roket.
"Penting untuk dicatat bahwa ini terjadi saat operasi pengisian rutin. Mesin dalam keadaan mati dan tidak ada sumber panas," tambah Musk.
Keberadaan UFO, alias benda terbang yang tidak dikenal, tampak jelas di rekaman video menjelang dan saat meledaknya roket SpaceX. Hal ini sontak memicu reaksi luas terutama di media sosial. Sejumlah teori pun muncul, namun yang paling menonjol adalah teori tentang UFO sebagai penyebab meledaknya roket.
Redaktur sains Veterans Today Jeff Smith menyebutkan bahwa benda terbang tidak dikenal tersebut adalah sebuah drone, yang menembakkan sinar laser ke arah roket sehingga memicu ledakan batere lithium atau helium yang menjadi sumber energi listrik roket Space-X. Ini dibuktikan dengan warna cahaya ledakan yang berwarna putih. Selain itu, ledakan terjadi tidak di bagian mesin atau tangki bahan bakar seperti biasanya yang terletak di bagian bawah roket, melainkan terjadi di bagian atas roket dimana batere lithium ditempatkan.
Elon Musk merancang roket SpaceX dengan mengandalkan batere sebagai sumber energi listriknya, berbeda dengan roket-roket lain yang mengandalkan generator berbahan bakar minyak fosil. Ini bisa dimaklumi, karena Musk adalah pengembang mobil listrik Tesla. Mobil-mobil listrik buatan Musk terbukti mampu mengalahkan kemampuan mobil-mobil super seperti Ferrari ataupun Lamborghini. Namun, alih-alih memproduksi massal mobil-mobilnya yang ramah lingkungan dan hemat bahan bakar sehingga publik bisa memilikinya secara murah, Musk membuat mobilnya sangat eksklusif.
Para pengamat teori konspirasi pun menyimpulkan bahwa Musk telah terlibat dalam konspirasi industri minyak dan otomotif dunia yang tidak ingin sumber pendapatannya hancur oleh keberadaan mobil-mobil listrik.
Sementara Preston James PhD, juga dari Veterans Today, menyebutkan bahwa meledaknya roket SpaceX adalah salah satu bentuk dari perang rahasia antara kelompok Mafia Khazar (yahudi Ashkenazi) dengan kelompok Alien ET. Mafia Khazar adalah kelompok rahasia yang selama ratusan tahun menguasai dunia secara diam-diam dengan menggunakan manipulasi uang dan perbankan. Sedangkan Alien ET adalah kelompok profesional namun jahat, yang umumnya berasal dari kalangan inteligen seperti Mossad, CIA, M-15/16, yang sebelumnya ditugaskan oleh Mafia Khazar untuk menjaga kekuasaan mereka. Namun setelah mengetahui kejahatan konspirasi Mafia Khazar, modus-modusnya, dan kekuatan yang diperoleh dengan kejahatan-kejahatan itu, kelompok Alien ET ini kemudian membentuk kekuatan sendiri dan melawan Mafia Khazar.
Baik Mafia Khazar maupun Alien ET adalah para penyembah setan.(ca)
Seperti dilaporkan Veterans Today hari ini (11 September), Musk mengatakan hal itu di akun Twitternya.
"Kami tidak mengesampingkan hal itu (UFO sebabkan meledaknya SpaceX Falcon 9)," tulis Musk.
Menurut Musk, yang terjadi adalah sebuah 'kebakaran cepat' yang tidak diketahui penyebabnya dan tidak pernah terjadi dalam sejarah penerbangan roket.
"Penting untuk dicatat bahwa ini terjadi saat operasi pengisian rutin. Mesin dalam keadaan mati dan tidak ada sumber panas," tambah Musk.
Keberadaan UFO, alias benda terbang yang tidak dikenal, tampak jelas di rekaman video menjelang dan saat meledaknya roket SpaceX. Hal ini sontak memicu reaksi luas terutama di media sosial. Sejumlah teori pun muncul, namun yang paling menonjol adalah teori tentang UFO sebagai penyebab meledaknya roket.
Redaktur sains Veterans Today Jeff Smith menyebutkan bahwa benda terbang tidak dikenal tersebut adalah sebuah drone, yang menembakkan sinar laser ke arah roket sehingga memicu ledakan batere lithium atau helium yang menjadi sumber energi listrik roket Space-X. Ini dibuktikan dengan warna cahaya ledakan yang berwarna putih. Selain itu, ledakan terjadi tidak di bagian mesin atau tangki bahan bakar seperti biasanya yang terletak di bagian bawah roket, melainkan terjadi di bagian atas roket dimana batere lithium ditempatkan.
Elon Musk merancang roket SpaceX dengan mengandalkan batere sebagai sumber energi listriknya, berbeda dengan roket-roket lain yang mengandalkan generator berbahan bakar minyak fosil. Ini bisa dimaklumi, karena Musk adalah pengembang mobil listrik Tesla. Mobil-mobil listrik buatan Musk terbukti mampu mengalahkan kemampuan mobil-mobil super seperti Ferrari ataupun Lamborghini. Namun, alih-alih memproduksi massal mobil-mobilnya yang ramah lingkungan dan hemat bahan bakar sehingga publik bisa memilikinya secara murah, Musk membuat mobilnya sangat eksklusif.
Para pengamat teori konspirasi pun menyimpulkan bahwa Musk telah terlibat dalam konspirasi industri minyak dan otomotif dunia yang tidak ingin sumber pendapatannya hancur oleh keberadaan mobil-mobil listrik.
Sementara Preston James PhD, juga dari Veterans Today, menyebutkan bahwa meledaknya roket SpaceX adalah salah satu bentuk dari perang rahasia antara kelompok Mafia Khazar (yahudi Ashkenazi) dengan kelompok Alien ET. Mafia Khazar adalah kelompok rahasia yang selama ratusan tahun menguasai dunia secara diam-diam dengan menggunakan manipulasi uang dan perbankan. Sedangkan Alien ET adalah kelompok profesional namun jahat, yang umumnya berasal dari kalangan inteligen seperti Mossad, CIA, M-15/16, yang sebelumnya ditugaskan oleh Mafia Khazar untuk menjaga kekuasaan mereka. Namun setelah mengetahui kejahatan konspirasi Mafia Khazar, modus-modusnya, dan kekuatan yang diperoleh dengan kejahatan-kejahatan itu, kelompok Alien ET ini kemudian membentuk kekuatan sendiri dan melawan Mafia Khazar.
Baik Mafia Khazar maupun Alien ET adalah para penyembah setan.(ca)
Friday, September 9, 2016
Poros Zio-Anglo Amerika yang Tengah Meredup
Indonesian Free Press -- Pada 1 September lalu roket Space-X yang mangangkut satelit Amos-6 buatan Israel milik perusahaan sosial media terbesar Facebook, meledak saat hendak diluncurkan ke luar angkasa di fasilitas peluncuran roket Cape Canaveral, Florida, Amerika.
Ini adalah peristiwa 'biasa', karena sebelumnya telah ada sejumlah roket yang meledak saat diluncurkan. Namun kali ini peristiwa ini menjadi 'viral' di dunia maya karena keberadaan obyek terbang tidak dikenal, alias UFO, yang terbang tepat di atas roket tersebut saat meledak. Media-media independen, termasuk Veterans Today yang sangat kredibel, turut meramaikan spekulasi ini. Media mapan Rusia Sputnik News berusaha meredam viral dengan menyebutkan bahwa UFO yang nampak di gambar yang beredar hanyalah seekor burung besar. Namun dengan cepat klaim ini dimentahkan, karena dari sekuen gambar yang tampak, benda misterius ini terbang dengan kecepatan hingga 3.000 mil per-jam dan tidak ada seekor burung pun yang terbang hingga kecepatan seper-sepuluh kecepatan itu.
Veterans Today melaporkan bahwa, bahkan badan luar angkasa Amerika NASA sendiri menempatkan UFO sebagai faktor probabilitas penyebab meledaknya roket dan satelit tersebut. Roket meledak karena batere lithium yang menjadi sumber energi internal roket terkena paparan sinar laser yang ditembakkan oleh UFO. Demikian editor Veterans Today menyebutkan.
Dua hari kemudian, Sabtu (3 September) petang, terjadi peristiwa yang tidak pernah dialami oleh seorang presiden Amerika. Saat itu, Presiden Barack Obama diharuskan keluar dari pesawat kebesarannya melalui pintu darurat tanpa penyambutan karpet merah oleh para pejabat Cina, saat ia datang untuk mengikuti KTT G-20 di Cina.
Ketika pengawal Obama protes kepada pejabat Cina yang ada, mereka hanya mendapatkan bentakan, "Ini negeri kami Cina, bukan Amerika!".
Peristiwa ini diberitakan bahkan oleh media-media mapan Amerika seperti New York Times. Mengutip seorang diplomat Mexico, media Inggris terkemuka, The Guardian, Minggu (4 September) menyebutkan bahwa yang terjadi adalah Amerika tengah 'dikerjai' oleh Cina, untuk menunjukkan kepada Amerika bahwa di mata Cina Amerika adalah lemah.
Kemudian, minggu lalu, organisasi kaum Kristen Lutheran terbesar Amerika, ELCA, merilis pernyataan kecaman keras terhadap pendudukan Israel di Palestina sehingga memaksa Wapres Joe Biden bersuara keras terhadap ELCA.
"Diserukan kepada seluruh anggota, kongregasi, synods, badan-badan dan bishop untuk mendesak para politisi, senator dan pejabat untuk melakukan aksi-aksi bahwa, demi tetap mendapatkan bantuan Amerika, Israel harus memenuhi standar HAM internasional seperti disebutkan dalam konstitusi Amerika, menghentikan pembangunan dan perluasan pemukiman (ilegal) di Jerusalem Timur dan Tepi Barat, menghentikan pendudukan wilayah Palestina, dan mendukung pendirian negara Palesta merdeka; serta mendesak seluruh anggota gereja, kongregasi, synods, dan badan-badan untuk menyerukan Presiden Amerika untuk mengakui negara Palestina dan tidak mencegah aplikasi negara Palestina untuk menjadi anggota penuh PBB.” Demikian pernyataan ELCA.
Hal ini bersamaan dengan semakin kerasnya suara-suara publik dunia menentang pendudukan Israel di wilayah Palestina, maraknya gerakan boikot Israel dan pengakuan negara Palestina oleh parlemen dan pemerintah negara-negara barat. Baru-baru ini bahkan terjadi sebuah viral media sosial ketika seorang anggota parlemen Belanda menolak jabat tangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ditambah dengan gagalnya proyek zionis-Amerika di Suriah dan Irak, serta semakin berpengaruhnya poros Rusia-Cina-Iran, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Kita hanya bisa melihat sebuah fenomena, bahwa tengah terjadi 'arus balik', meminjam istilah Pramoedya Anant Toer dalam sebuah novel sejarahnya yang sangat menarik, tentang fenomena global dimana terjadi perubahan 'kutub' kekuasaan. Bila dalam novel Pramoedya disebutkan perubahannya dari negara-negara selatan (Islam) menuju negara-negara utara (Eropa), maka kali ini dari poros Zio-Anglo-America ke poros Rusia-Cina-Iran.
Tentang bagaimana dan mengapa terjadi 'arus balik' ini, James Preston PhD baru saja menulis tulisan bersambung yang sangat menarik di Veterans Today, berjudul 'Subjects and Serfs of the Lesser Gods'. Tulisan ini berbau esoterik-supranatural bahkan fiksionis, namun juga sangat rasional. Mudah-mudahan IFP mendapat kesempatan untuk menerjemahkannya nanti.(ca)
Ini adalah peristiwa 'biasa', karena sebelumnya telah ada sejumlah roket yang meledak saat diluncurkan. Namun kali ini peristiwa ini menjadi 'viral' di dunia maya karena keberadaan obyek terbang tidak dikenal, alias UFO, yang terbang tepat di atas roket tersebut saat meledak. Media-media independen, termasuk Veterans Today yang sangat kredibel, turut meramaikan spekulasi ini. Media mapan Rusia Sputnik News berusaha meredam viral dengan menyebutkan bahwa UFO yang nampak di gambar yang beredar hanyalah seekor burung besar. Namun dengan cepat klaim ini dimentahkan, karena dari sekuen gambar yang tampak, benda misterius ini terbang dengan kecepatan hingga 3.000 mil per-jam dan tidak ada seekor burung pun yang terbang hingga kecepatan seper-sepuluh kecepatan itu.
Veterans Today melaporkan bahwa, bahkan badan luar angkasa Amerika NASA sendiri menempatkan UFO sebagai faktor probabilitas penyebab meledaknya roket dan satelit tersebut. Roket meledak karena batere lithium yang menjadi sumber energi internal roket terkena paparan sinar laser yang ditembakkan oleh UFO. Demikian editor Veterans Today menyebutkan.
Dua hari kemudian, Sabtu (3 September) petang, terjadi peristiwa yang tidak pernah dialami oleh seorang presiden Amerika. Saat itu, Presiden Barack Obama diharuskan keluar dari pesawat kebesarannya melalui pintu darurat tanpa penyambutan karpet merah oleh para pejabat Cina, saat ia datang untuk mengikuti KTT G-20 di Cina.
Ketika pengawal Obama protes kepada pejabat Cina yang ada, mereka hanya mendapatkan bentakan, "Ini negeri kami Cina, bukan Amerika!".
Peristiwa ini diberitakan bahkan oleh media-media mapan Amerika seperti New York Times. Mengutip seorang diplomat Mexico, media Inggris terkemuka, The Guardian, Minggu (4 September) menyebutkan bahwa yang terjadi adalah Amerika tengah 'dikerjai' oleh Cina, untuk menunjukkan kepada Amerika bahwa di mata Cina Amerika adalah lemah.
Kemudian, minggu lalu, organisasi kaum Kristen Lutheran terbesar Amerika, ELCA, merilis pernyataan kecaman keras terhadap pendudukan Israel di Palestina sehingga memaksa Wapres Joe Biden bersuara keras terhadap ELCA.
"Diserukan kepada seluruh anggota, kongregasi, synods, badan-badan dan bishop untuk mendesak para politisi, senator dan pejabat untuk melakukan aksi-aksi bahwa, demi tetap mendapatkan bantuan Amerika, Israel harus memenuhi standar HAM internasional seperti disebutkan dalam konstitusi Amerika, menghentikan pembangunan dan perluasan pemukiman (ilegal) di Jerusalem Timur dan Tepi Barat, menghentikan pendudukan wilayah Palestina, dan mendukung pendirian negara Palesta merdeka; serta mendesak seluruh anggota gereja, kongregasi, synods, dan badan-badan untuk menyerukan Presiden Amerika untuk mengakui negara Palestina dan tidak mencegah aplikasi negara Palestina untuk menjadi anggota penuh PBB.” Demikian pernyataan ELCA.
Hal ini bersamaan dengan semakin kerasnya suara-suara publik dunia menentang pendudukan Israel di wilayah Palestina, maraknya gerakan boikot Israel dan pengakuan negara Palestina oleh parlemen dan pemerintah negara-negara barat. Baru-baru ini bahkan terjadi sebuah viral media sosial ketika seorang anggota parlemen Belanda menolak jabat tangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ditambah dengan gagalnya proyek zionis-Amerika di Suriah dan Irak, serta semakin berpengaruhnya poros Rusia-Cina-Iran, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Kita hanya bisa melihat sebuah fenomena, bahwa tengah terjadi 'arus balik', meminjam istilah Pramoedya Anant Toer dalam sebuah novel sejarahnya yang sangat menarik, tentang fenomena global dimana terjadi perubahan 'kutub' kekuasaan. Bila dalam novel Pramoedya disebutkan perubahannya dari negara-negara selatan (Islam) menuju negara-negara utara (Eropa), maka kali ini dari poros Zio-Anglo-America ke poros Rusia-Cina-Iran.
Tentang bagaimana dan mengapa terjadi 'arus balik' ini, James Preston PhD baru saja menulis tulisan bersambung yang sangat menarik di Veterans Today, berjudul 'Subjects and Serfs of the Lesser Gods'. Tulisan ini berbau esoterik-supranatural bahkan fiksionis, namun juga sangat rasional. Mudah-mudahan IFP mendapat kesempatan untuk menerjemahkannya nanti.(ca)
Tuesday, September 6, 2016
Keterlibatan Israel dalam Penanganan Ibadah Haji Dipertanyakan
Indonesian Free Press -- Media-media independent termasuk Indonesian Free Press (IFP) telah lama melaporkan keterlibatan Israel dalam penanganan ibadah haji di Saudi Arabia. Selain mengkhianati rakyat Palestina yang masih menjadi korban pendudukan Israel, hal itu dianggap bisa membahayakan keselamatan peserta ibadah haji.
Langkah Arab Saudi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan rezim Zionis Israel untuk menjaga keamanan jemaah haji, memicu kecaman dari dunia Islam. Kantor berita Qodsna, 5 September, melaporkan, Syeikh Ekrima Sabri, Khatib Masjid Al Aqsa, Palestina memperingatkan masuknya perusahaan jasa keamanan G4S milik Israel ke tengah-tengah masyarakat Arab dan Islam. Ia menegaskan bahwa G4S tidak berhak melakukan aktivitas-aktivitas mata-mata dan keamanan terkait dengan jemaah haji.
Syeikh Ekrima Sabri menilai penandatanganan kontrak Saudi dan Israel itu dilakukan dengan tujuan untuk menginfiltrasi masyarakat Arab dan Islam.
"Penggunaan jasa sebuah perusahaan Israel untuk melayani jemaah haji adalah perbuatan haram," ujarnya.
Untuk menjaga keamanan jemaah haji dan mengawasi mereka lewat gelang elektronik yang dipakainya di musim haji tahun ini, Saudi bekerjasama dengan perusahaan jasa keamanan Israel, G4S. Dengan gelang ini otoritas Saudi bisa mengetahui posisi semua peserta ibadah haji setiap saat. Sayangnya, hal ini juga bisa dimanfaatkan oleh inteligen yang berkaitan dengan G4S.
Riyadh, awal Juli lalu mengumumkan, jemaah haji pada musim haji tahun ini akan dilengkapi dengan GPS dan informasi pribadi dan medis mereka untuk menghindari terulangnya insiden Mina tahun lalu.
Akibat kelalaian Saudi dalam mengelola pelaksanaan manasik haji, pada 24 Desember 2015, ribuan haji tewas dalam tragedi yang terjadi di Mina, sebagian besar adalah jemaah haji asal Iran. Dalam peristiwa ini disebut-sebut inteligen Israel juga terlibat. Memanfaatkan kerusuhan, agen-agen rahasia Israel menculik para pejabat sipil dan militer Iran yang mengikuti ibadah haji untuk mengorek informasi dari mereka sebelum dibunuh.
Salah seorang pejabat Iran yang meninggal adalah mantan pejabat inteligen dan Dubes Iran di Lebanon. Sempat menghilang selama beberapa minggu dan dibantah Saudi sebagai salah seorang peserta ibadah haji asal Iran, otoritas Saudi baru menyatakan kematiannya setelah pemerintah Iran terus mendesak Saudi untuk bertanggungjawab.
G4S adalah perusahaan milik zionis Israel yang berbasis di Inggris. Sebelumnya perusahaan ini telah terlibat intensif dalam masalah keamanan di wilayah pendudukan Israel di Palestina, termasuk menyediakan alat-alat penyiksaan. Keterlibatan perusahaan ini dalam penangangan ibadah haji sudah menjadi pemberitaan media-media independen, termasuk IFP, beberapa tahun yang lalu. Gerakan internasional memboikot perusahaan-perusahaan dan institusi-institusi Israel yang terlibat dalam pendudukan Palestina, BDS, juga sudah lama mengecam keterlibatan Israel dalam pelaksanaan haji.
Selain menangani ibadah haji, G4S juga ditugaskan Saudi Arabia untuk menangani keamanan di wilayah selatan Saudi dari serangan kelompok Houthis dari Yaman. G4S dikenal juga sebagai penyedia jasa keamanan untuk fasilitas-fasilitas publik seperti bandara dan pelabuhan.(ca)
Langkah Arab Saudi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan rezim Zionis Israel untuk menjaga keamanan jemaah haji, memicu kecaman dari dunia Islam. Kantor berita Qodsna, 5 September, melaporkan, Syeikh Ekrima Sabri, Khatib Masjid Al Aqsa, Palestina memperingatkan masuknya perusahaan jasa keamanan G4S milik Israel ke tengah-tengah masyarakat Arab dan Islam. Ia menegaskan bahwa G4S tidak berhak melakukan aktivitas-aktivitas mata-mata dan keamanan terkait dengan jemaah haji.
Syeikh Ekrima Sabri menilai penandatanganan kontrak Saudi dan Israel itu dilakukan dengan tujuan untuk menginfiltrasi masyarakat Arab dan Islam.
"Penggunaan jasa sebuah perusahaan Israel untuk melayani jemaah haji adalah perbuatan haram," ujarnya.
Untuk menjaga keamanan jemaah haji dan mengawasi mereka lewat gelang elektronik yang dipakainya di musim haji tahun ini, Saudi bekerjasama dengan perusahaan jasa keamanan Israel, G4S. Dengan gelang ini otoritas Saudi bisa mengetahui posisi semua peserta ibadah haji setiap saat. Sayangnya, hal ini juga bisa dimanfaatkan oleh inteligen yang berkaitan dengan G4S.
Riyadh, awal Juli lalu mengumumkan, jemaah haji pada musim haji tahun ini akan dilengkapi dengan GPS dan informasi pribadi dan medis mereka untuk menghindari terulangnya insiden Mina tahun lalu.
Akibat kelalaian Saudi dalam mengelola pelaksanaan manasik haji, pada 24 Desember 2015, ribuan haji tewas dalam tragedi yang terjadi di Mina, sebagian besar adalah jemaah haji asal Iran. Dalam peristiwa ini disebut-sebut inteligen Israel juga terlibat. Memanfaatkan kerusuhan, agen-agen rahasia Israel menculik para pejabat sipil dan militer Iran yang mengikuti ibadah haji untuk mengorek informasi dari mereka sebelum dibunuh.
Salah seorang pejabat Iran yang meninggal adalah mantan pejabat inteligen dan Dubes Iran di Lebanon. Sempat menghilang selama beberapa minggu dan dibantah Saudi sebagai salah seorang peserta ibadah haji asal Iran, otoritas Saudi baru menyatakan kematiannya setelah pemerintah Iran terus mendesak Saudi untuk bertanggungjawab.
G4S adalah perusahaan milik zionis Israel yang berbasis di Inggris. Sebelumnya perusahaan ini telah terlibat intensif dalam masalah keamanan di wilayah pendudukan Israel di Palestina, termasuk menyediakan alat-alat penyiksaan. Keterlibatan perusahaan ini dalam penangangan ibadah haji sudah menjadi pemberitaan media-media independen, termasuk IFP, beberapa tahun yang lalu. Gerakan internasional memboikot perusahaan-perusahaan dan institusi-institusi Israel yang terlibat dalam pendudukan Palestina, BDS, juga sudah lama mengecam keterlibatan Israel dalam pelaksanaan haji.
Selain menangani ibadah haji, G4S juga ditugaskan Saudi Arabia untuk menangani keamanan di wilayah selatan Saudi dari serangan kelompok Houthis dari Yaman. G4S dikenal juga sebagai penyedia jasa keamanan untuk fasilitas-fasilitas publik seperti bandara dan pelabuhan.(ca)
Friday, September 2, 2016
Media Massa-Media Massa 'Bajingan'
Indonesian Free Press -- Ini adalah tulisan yang paling tepat untuk menggambarkan dunia media massa internasional, tentunya termasuk Indonesia, ketika media massa hanya menjadi 'corong' kepentingan para penjahat. Tulisan ini adalah 'A Crooked Mile' yang ditulis penulis Rusia berdarah yahudi Israel Shamir, di situs 'The Unz Review' pada 24 Agustus 2016.
"Crookedness is a professional problem for the media," tulis Shamir.
Karena terlalu menarik untuk dihilangkan bagian-bagiannya, dan terlalu berharga untuk ditunda penyampaiannya, IFP sengaja menuliskannya secara berseri.
"Di masa lalu seorang jurnalis memiliki pilihan. Ia bisa bekerja di media massa pendukung Partai Buruh, Konservatif, atau Liberal. Saat ini tidak ada bedanya: semua media massa Inggris termasuk Guardian membenci Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh. Di Amerika semua media massa membenci Trump. Tidak ada lagi pilihan bagi para penulis atau pembaca!"
Shamir pun mengisahkan peristiwa kudeta di Rusia bulan Agustus 1991, lebih tepatnya 'drama kudeta' yang menjadi pemicu runtuhnya kekuasaan regim Uni Sovyet.
"Drama ini berlangsung selama tiga hari. Para master media massa memproduksi dan menyiarkan pertunjukan menarik tentang orang-orang yang bangkit melawan tirani, orang-orang yang nekad menahan tank-tank, dan penghancuran sebuah patung atau dua dari para penindas. Kita telah melihat pertunjukan yang sama di Maidan Kiev atau Lapangan Tahrir di Kairo, dana juga di Baghdad. Hasilnya adalah sama-sama menyedihkan," tulisnya lagi.
"Ada kolusi antara regim lama Uni Sovyet dengan 'Masters of Discourse', antara KGB dan CNN. Sebuah komite darurat regim lama dibentuk yang bertindak seperti srigala tua. Mereka mengirim tentara dan tank-tank ke Moskow, namun tidak berani menangkap Yeltsin. Tank-tank tidak menembak ke arah demonstran dan hanya menjadi tontotan menarik," tambah Shamir.
Intinya, sama seperti halnya gerakan Arab Spring 2010-2011, Revolusi Ukraina Februari 2014, Reformasi Indonesia 1998, Revolusi Hijau Iran 2009 dan 'revolusi-revolusi warna' lainnya semua dikendalikan oleh para pemodal internasional dan penguasa di balik layar. Semua revolusi itu menampilkan pertunjukan yang menarik, heroik dan mengharukan, namun semua hasilnya (kecuali Revolusi Hijau Iran yang gagal) adalah menyedihkan bagi rakyat.
"Adalah menarik melihat aksi heroik orang-orang menghancurkan patung Felix Dzierzynski di Moscow (sama seperti patung Saddam Hussein di Baghdad), namun, kehidupan produktif dan aman di Rusia juga hancur. Kekayaan Uni Sovyet yang besar yang dikumpulkan oleh kerja keras generasi demi generasi rakyat Rusia, jatuh dan dibagi-bagikan kepada sekelompok 'oligarchs' yang umumnya adalah yahudi. Orang-orang kaya menjadi sangat kaya, sementara kelas menengahnya hancur."
"Angka harapan hidup warga Rusia jatuh menjadi hanya 58 tahun, 15 juta orang laki-laki dan perempuan meninggal oleh perubahan cepat yang buruk itu. Jumlah penduduk berkurang dengan cepat. Ada 150 juta warga Rusia sebelum revolusi 1991, angkanya menjadi 142 juta setelah revolusi, dan saat ini baru bisa mencapai 146 juta orang.
Dikurangi lagi dengan angka imigrasi, angkanya lebih kecil lagi. Industri telah hancur. Ilmu pengetahuan, seni, film, theatre, media massa juga hancur kecuali mereka yang dikendalikan para 'oligarchs.'"
"Mengapa jutaan warga Rusia yang berpendidikan bisa ditipu seperti ini?"
Shamir pun menyalahkan media massa. Ketika 'pengkhianat' Mikhail Gorbachev memutuskan menyerah kepada barat, ia membebaskan kontrol atas media massa yang sebelumnya terkendalikan dengan ketat oleh pemerintah. Agen-agen barat seperti Alexander N Yakovlev pun mengusai media massa, dan dalam beberapa tahun semua media massa Rusia melakukan rekayasa sosial dengan pesan sederhana: komunisme adalah kesalahan dan kejahatan, kapitalisme dan Amerika adalah kawan yang menyenangkan. Terima mereka, maka kita semua akan hidup seperti di Swiss.
"Rakyat Rusia sangat naif. Mereka tidak percaya media massa lama namun tidak memiliki imunitas terhadap media-media massa baru yang sama totaliternya dengan media-media massa lama. Hanya biasnya yang berubah. Mereka percaya bahwa Pravda telah berbohong, namun tidak percaya bahwa New York Times juga berbohong."
"Maka, saya percaya bahwa media massa bisa meyakinkan orang-orang untuk bertindak melawan kepentingan mereka sendiri."
Menurut Shamir, cerita yang sama dengan Rusia terjadi di Amerika. Media-media massa utama yang totaliter, yang terkonsentrasi pada beberapa orang yahudi, akan membawa Amerika ke neraka.
"Rakyat Amerika harus tahu bahwa mereka akan kehilangan negerinya. Koalisi minoritas (yahudi) akan memperkuat kekuasaan para bankir, militer dan penjahat. Pengalaman tahun 1991 mengajarkan saya bahwa sangat sulit melawan 'Masters of Discourse'. Namun tetap masih ada harapan, karena para bajingan itu telah membuang payung imparsialitasnya," tulis Shamir.(ca) ***
(bersambung)
"Crookedness is a professional problem for the media," tulis Shamir.
Karena terlalu menarik untuk dihilangkan bagian-bagiannya, dan terlalu berharga untuk ditunda penyampaiannya, IFP sengaja menuliskannya secara berseri.
"Di masa lalu seorang jurnalis memiliki pilihan. Ia bisa bekerja di media massa pendukung Partai Buruh, Konservatif, atau Liberal. Saat ini tidak ada bedanya: semua media massa Inggris termasuk Guardian membenci Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh. Di Amerika semua media massa membenci Trump. Tidak ada lagi pilihan bagi para penulis atau pembaca!"
Shamir pun mengisahkan peristiwa kudeta di Rusia bulan Agustus 1991, lebih tepatnya 'drama kudeta' yang menjadi pemicu runtuhnya kekuasaan regim Uni Sovyet.
"Drama ini berlangsung selama tiga hari. Para master media massa memproduksi dan menyiarkan pertunjukan menarik tentang orang-orang yang bangkit melawan tirani, orang-orang yang nekad menahan tank-tank, dan penghancuran sebuah patung atau dua dari para penindas. Kita telah melihat pertunjukan yang sama di Maidan Kiev atau Lapangan Tahrir di Kairo, dana juga di Baghdad. Hasilnya adalah sama-sama menyedihkan," tulisnya lagi.
"Ada kolusi antara regim lama Uni Sovyet dengan 'Masters of Discourse', antara KGB dan CNN. Sebuah komite darurat regim lama dibentuk yang bertindak seperti srigala tua. Mereka mengirim tentara dan tank-tank ke Moskow, namun tidak berani menangkap Yeltsin. Tank-tank tidak menembak ke arah demonstran dan hanya menjadi tontotan menarik," tambah Shamir.
Intinya, sama seperti halnya gerakan Arab Spring 2010-2011, Revolusi Ukraina Februari 2014, Reformasi Indonesia 1998, Revolusi Hijau Iran 2009 dan 'revolusi-revolusi warna' lainnya semua dikendalikan oleh para pemodal internasional dan penguasa di balik layar. Semua revolusi itu menampilkan pertunjukan yang menarik, heroik dan mengharukan, namun semua hasilnya (kecuali Revolusi Hijau Iran yang gagal) adalah menyedihkan bagi rakyat.
"Adalah menarik melihat aksi heroik orang-orang menghancurkan patung Felix Dzierzynski di Moscow (sama seperti patung Saddam Hussein di Baghdad), namun, kehidupan produktif dan aman di Rusia juga hancur. Kekayaan Uni Sovyet yang besar yang dikumpulkan oleh kerja keras generasi demi generasi rakyat Rusia, jatuh dan dibagi-bagikan kepada sekelompok 'oligarchs' yang umumnya adalah yahudi. Orang-orang kaya menjadi sangat kaya, sementara kelas menengahnya hancur."
"Angka harapan hidup warga Rusia jatuh menjadi hanya 58 tahun, 15 juta orang laki-laki dan perempuan meninggal oleh perubahan cepat yang buruk itu. Jumlah penduduk berkurang dengan cepat. Ada 150 juta warga Rusia sebelum revolusi 1991, angkanya menjadi 142 juta setelah revolusi, dan saat ini baru bisa mencapai 146 juta orang.
Dikurangi lagi dengan angka imigrasi, angkanya lebih kecil lagi. Industri telah hancur. Ilmu pengetahuan, seni, film, theatre, media massa juga hancur kecuali mereka yang dikendalikan para 'oligarchs.'"
"Mengapa jutaan warga Rusia yang berpendidikan bisa ditipu seperti ini?"
Shamir pun menyalahkan media massa. Ketika 'pengkhianat' Mikhail Gorbachev memutuskan menyerah kepada barat, ia membebaskan kontrol atas media massa yang sebelumnya terkendalikan dengan ketat oleh pemerintah. Agen-agen barat seperti Alexander N Yakovlev pun mengusai media massa, dan dalam beberapa tahun semua media massa Rusia melakukan rekayasa sosial dengan pesan sederhana: komunisme adalah kesalahan dan kejahatan, kapitalisme dan Amerika adalah kawan yang menyenangkan. Terima mereka, maka kita semua akan hidup seperti di Swiss.
"Rakyat Rusia sangat naif. Mereka tidak percaya media massa lama namun tidak memiliki imunitas terhadap media-media massa baru yang sama totaliternya dengan media-media massa lama. Hanya biasnya yang berubah. Mereka percaya bahwa Pravda telah berbohong, namun tidak percaya bahwa New York Times juga berbohong."
"Maka, saya percaya bahwa media massa bisa meyakinkan orang-orang untuk bertindak melawan kepentingan mereka sendiri."
Menurut Shamir, cerita yang sama dengan Rusia terjadi di Amerika. Media-media massa utama yang totaliter, yang terkonsentrasi pada beberapa orang yahudi, akan membawa Amerika ke neraka.
"Rakyat Amerika harus tahu bahwa mereka akan kehilangan negerinya. Koalisi minoritas (yahudi) akan memperkuat kekuasaan para bankir, militer dan penjahat. Pengalaman tahun 1991 mengajarkan saya bahwa sangat sulit melawan 'Masters of Discourse'. Namun tetap masih ada harapan, karena para bajingan itu telah membuang payung imparsialitasnya," tulis Shamir.(ca) ***
(bersambung)
Wednesday, August 31, 2016
Bravo Indonesia, Sekali Lagi Gagalkan Skenario Jahat Neoliberalisme-Zionisme
Indonesian Free Press -- Pemerintah melalui Dirjen Pajak akhirnya memberikan penjelasan kepada publik tentang pelaksanaan program 'tax amnesty' untuk meredam kemarahan publik tentang implementasi program tersebut yang dianggap melenceng dari kepatutan. Di antara penjelasan itu adalah bahwa masyarakat dengan penghasilan kurang dari Rp4,5 juta per-bulan dibebaskan dari program tersebut, dan harta benda yang berasal dari warisan tidak dikenakan pajak.
Mengapa lagi-lagi pemerintah melakukan 'blunder', sebagaimana pengangkatan warga negara Amerika Arcandra Tahar menjadi menteri ESDM? Setelah mendapatkan reaksi publik, baru meralat kebijakannya? Apakah memang semuanya disengaja? Berharap publik tidak bereaksi, dan agenda 'jahat' mereka pun berjalan mulus? IFP percaya bahwa demikianlah halnya.
Bukankah kecenderungan negara-negara yang dikuasai regim neoliberlisme adalah sama: keuangan negara yang dikorup, hutang luar negeri untuk menutupi defisit anggaran, pemotongan anggaran, dan akhirnya rakyat dicekik dengan pajak? Terlalu na'if untuk tidak percaya bahwa tujuan tax amnesty sebenarnya memang untuk mencekik rakyat demi keuntungan para pemodal asing.
Sekali lagi, selamat kepada rakyat Indonesia yang berhasil menggagalkan skenario jahat jongos-jongos neoliberalisme-zionisme internasional, setelah sebelumnya menggagalkan pengangkatan Arcandra Tahar.
Di negara-negara lain, skenario-skenario jahat itu bebas melenggang tanpa perlawanan hingga akhirnya negara bangkrut dan rakyat semakin dalam terjerumus dalam perbudakan tanpa sadar. Di Inggris, jabatan Gubernur Bank Sentral yang sangat strategis dipegang oleh warga asing (Kanada). Di Ukraina, gubernur, menteri bahkan Direktur BUMN juga dipegang oleh orang-orang asing (putra Wapres Amerika Joe Biden diangkat menjadi direktur BUMN migas). Di Yunani, rakyat masih saja percaya pada regim sosialis yang terbukti mengkhianati janjinya untuk keluar dari jeratan hutang Uni Eropa dan IMF yang telah membuat negara itu bangkrut.
Blog ini telah berkali-kali meramalkan bahwa Indonesia bakal menjadi awal keruntuhan regim neoliberalisme-zionisme global. Ini bukan tanpa alasan. Indonesia adalah pelopor gerakan kemerdekaan negara-negara dunia dari penjajahan kolonialisme barat. Indonesia adalah satu-satunya bangsa di dunia yang berhasil mengalahkan kekuatan-kekuatan jahat internasional: imperalisme bangsa Mongol di abad pertengahan, kolonialisme negara-negara barat, dan komunisme. Dan lebih khusus lagi, Indonesia adalah bangsa yang telah dipilih Allah untuk menerima 'kebenaran' Islam.
Jauh dari pusat perkembangan Islam di Timur Tengah, tanpa pertumpahan darah dan tanpa menggunakan missi terorganisir sebuah negara, puluhan juta penduduk yang tersebar dari Sabang hingga Merauke yang berbeda-beda suku dan budayanya, secara serempat memilik Islam sebagai agamanya. Ini adalah sebuah keajaiban sejarah.
Skenario jahat tax amnesty yang gagal karena perlawanan publik, memaksa Presiden Jokowi untuk 'cuci tangan' dengan menyalahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
“Setelah ada gugatan tax amnesty di MK oleh Muhammadiyah, Jokowi melalui Seskab Pramono Anung baru bersuara dan mempertanyakan ke Menteri Keuangan Sri Mulyani,” kata pengamat politik Ahmad Yazid seperti dilaporkan situs Suaranasional, Selasa (30 Agustus).
“Ini nampaknya Jokowi mau cuci tangan saja setelah muncul keresahan dari masyarakat,” tambah Yazid.
Menurut Yazid, pemerintah Jokowi akan malu jika gugatan Muhammadiyah tentang tax amnesty di MK dikabulkan.
“Kalau sampai kalah, Jokowi akan malu dihadapan rakyat. Makanya sebelum malu mengopinikan kesalahan ada di Menteri Keuangan,” jelas Yazid.
Seiring skenario menyalahkan Sri Mulyani, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan bahwa amnesti pajak adalah fasilitas khusus yang ditujukan bagi para pengemplang pajak yang selama ini menyembunyikan aset. Kebijakan ini tidak seharusnya meresahkan rakyat kecil dan wajib pajak patuh karena sebenarnya bukan mereka sasarannya.
“Bukan yang sudah tertib membayar pajak, malah kemudian dikejar-kejar. Atau juga yang katakanlah asetnya kecil, tetapi karena kealpaan, kelupaan, kemudian mereka sekarang mumpung ada kesempatan dan mereka deklarasikan, ikut tax amnesty, itu yang dikejar-kejar,” ujar Pramono kepada wartawan di Istana Negara, Senin (29 Agustus)
Selain gugatan PP Muhammadiyah ke Mahkamah Konstitusi terkait tax amnesty, berikut adalah salah satu perlawanan publik terhadap skenario tax amnesty yang dimuat di sejumlah media online:
Surat Terbuka Prof. Dr. Anwar Nasution untuk Jokowi, Perihal Tax Amnesty
Mantan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia 1999-2004 Anwar Nasution, memberikan penjelasan tentang pengaruh negatif dari kebijakan tax amnesty atau pengampunan pajak, yang mana sampai saat ini masyrakat umum masih bingung yang pada akhirnya mereka berkesimpulan bahwa seolah-olah pemerintah malah memeras rakyat, berikut dikutip oleh beritaislam24h.com.
Bapak Joko Widodo yang saya hormati. Izinkan saya kembali menulis surat terbuka kepada Bapak, kali ini saya mau mengadu soal pengampunan pajak (tax amnesty). Harap maklum, sebab sampai sekarang masih banyak rakyat yang bingung dan akhirnya berkesimpulan: "Lho, pemerintah kok malah memeras rakyat."
Saya tahu, Bapak berjuang agar RUU Pengampunan Pajak disetujui DPR menjadi UU dan sekarang sudah berlaku, tentunya bertujuan untuk mengapitalisasi "potensi luar biasa" yang beberapa waktu lalu masih tersembunyi, bahkan sengaja disembunyikan oleh sejumlah kalangan, terutama para pengusaha kita.
Maafkan kami Pak Jokowi jika selama ini kami salah menafsirkan UU tersebut. Kami menganggap UU Pengampunan Pajak hanya dikhususkan bagi upaya memulangkan dana-dana milik orang Indonesia (pengusaha) yang bertahun-tahun parkir (diendapkan) di luar negeri.
Saya tidak tahu persis, informasi yang selama ini disebarluaskan lewat media massa dan media sosial (medsos) menyangkut dana milik orang Indonesia di Singapura benar atau tidak? Disebut-sebut, "harta" berupa uang milik "kita" yang ada di negeri itu mencapai Rp 11.000 triliun!
Jika benar, bayangkan jumlahnya dua kali APBN kita. Sungguh spektakuler. Jumlah itu belum termasuk "uang warga negara Indonesia" yang tersimpan di negara-negara lain, seperti Amerika, Swiss, dan negara Eropa lainnya.
Kami membayangkan betapa dahsyatnya Indonesia jika Bapak sukses mengembalikan belasan dan (mungkin) puluhan ribu triliun rupiah dana milik orang-orang kaya yang selama ini digandakan di luar negeri. Bisa dipakai untuk membangun rumah sakit dan sekolah, bisa untuk mempercepat pembangunan jalan tol, bendungan, irigasi dan sebagainya.
Oleh sebab itulah saya bisa maklumi jika masyarakat Indonesia mengait-ngaitkan kasus sakitnya Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong saat ia sedang berpidato beberapa hari lalu karena ia panik Bapak memberlakukan tax amnesty yang berkonsekuensi uang milik orang Indonesia yang tersimpan di negerinya berbondong-bondong kembali ke Indonesia dan Singapura terancam bangkrut. Kalau tidak bangkrut, ya megap-megap.
Bapak Jokowi yang saya hormati, karena bapak begitu berani mengambil keputusan.
Dugaan kami rupanya salah. Pemerintahan yang Bapak pimpin ternyata tidak hanya fokus kepada 20 persen dana milik orang kaya Indonesia yang berada di luar negeri dan dalam negeri, tetapi juga 80 persen rakyat Indonesia yang tak sesen pun punya simpanan di luar negeri. Ya, negara kok malah “ngrusuhi” kami.
Benar, Pak, sebagai warga negara yang berusaha baik, selayaknya kami membayar pajak. Kami tidak ingin ngemplang pajak. Itu sudah kami lakukan. Kami bayar pajak bumi dan bangunan (PBB). Kami juga rutin membayar pajak kendaraan bermotor. Kami yang bekerja sebagai karyawan juga sudah membayar pajak penghasilan. Mendapat honor yang tak seberapa pun kami dipajaki. Bahkan saat kami makan di restoran juga bayar pajak. Belum lagi ketika kami membeli barang yang dianggap mewah. Tabungan kami di bank juga terus berkurang karena dipotong pajak.
Maafkan kami Pak, ketika tim Bapak melakukan sosialisasi tax amnesty ke berbagai daerah dan banyak televisi memberitakan soal pengampunan pajak, sebagian besar di antara kami berpendapat: "Ah, itu bukan urusanku."
Oleh sebab itulah saya – dan mudah-mudahan Bapak juga – maklum jika di lapangan kemudian muncul banyak kasus. Saya tidak tahu persis informasi yang disebarluaskan rakyat Bapak melalui media sosial belakangan ini tentang nasib seorang pensiunan yang akan patuh pada kebijakan tax amnesty benar atau tidak? Saya sih berharap tidak benar. Tapi, jika benar, kasihan betul pensiunan itu.
Melalui surat terbuka ini izinkan saya informasikan “fakta” di atas kepada Bapak. Begini, Pak. Belum lama ini ada seorang pensiunan yang akan mengurus tax amnesty di Kantor Pajak Pratama Bekasi. Orang tersebut setibanya di kantor pajak lantas menemui petugas "help desk" Tax Amnesty.
Ia ke kantor pajak lantaran merasa punya rumah dan tanah sawah di Pati, tapi tidak pernah dilaporkan dalam form data isian SPT PPh tahunannya.
Ia mengaku mendapat nomor antrean 50, sementara yang dilayani petugas “help desk” baru orang yang mendapat nomor antrean 38. Saat giliran nomor 47, ia melihat yang maju seorang laki-laki berusia 74 tahun, pensiunan tentara.
Setelah ditanya NPWP-nya, petugas “help desk” lantas menjelaskan apa-apa saja yang sudah dilaporkan dalam SPT PPh 2015. Sang bapak yang telah lanjut usia itu membenarkan data yang disebut petugas pajak.
Purnawirawan tersebut saat bertugas di beberapa kota, sempat membeli tanah, kebun/dadah dan sawah serta rumah yang ditempati oleh saudaranya agar terawat. Semua sertifikat atas namanya.
Sekarang ini penghasilan sang purnawirawan hanya Rp 1.580.000 per bulan, ditambah hasil panen sekitar Rp 2.600.000 per tiga atau empat bulan. Kebun ditanami pohon apa saja dan hasilnya dipakai oleh yang ia percaya menjaga kebunnya. Setahun sekali ia dikirimi buah atau makanan hasil kebunnya. Sebuah kehidupan yang cukup untuk menyenangkan di hari tua.
"Aset" sang purnawirawan rupanya ingin dilaporkan ke negara, karena selama ini ia tidak paham soal pajak dan merasa sudah menjadi warga negara yang baik karena sudah membayar PBB dan pajak-pajak lain.
Petugas “help desk” Tax Amnesty pun menghitung aset sang bapak tua. Ada tanah, rumah di daerah, ditambah satu mobil dan dua sepeda motor yang dibeli tahun 2013 dan 2014 yang belum dimasukkan dalam kolom harta yang dimiliki pada SPT 2015. Lalu dari petugas pajak keluarlah angka Rp 4,7 miliar! Wow!
Mendengar angka tersebut, sang bapak bukannya senang, tapi malah sedih. Rona wajahnya berubah, matanya terbelalak. Kemudian oleh petugas “help desk”, diberitahukan bahwa kewajiban bapak berusia 74 tahun atas harta yang diikutkan dalam program tax amnesty yang sedang ramai dibicarakan itu adalah 2 persen dari nilai harta yang belum atau tidak dimasukkan dalam lampiran SPT PPh terakhir. Lalu muncullah nilai pajak terutang sebesar Rp 94 juta!
Wow! Sang bapak itu lagi-lagi kaget. Badannya lunglai. Ia menangis. Mungkin dia berpikir dari mana mendapatkan uang sebesar itu? Niatnya mau minta ampun, kok malah bonyok.
Bapak Jokowi yang saya hormati. Ini komentar yang mungkin tidak enak Bapak dengar: "Mengapa pemerintah kok memeras pensiunan seperti saya ini begitu rupa. Apa makna perjuangan dan tugas-tugas negara yang sudah saya lakukan selama ini?"
Dalam pilpres tahun 2014 lalu, saya memilih Bapak. Konsekuensinya saya harus mendukung setiap kebijakan Bapak. Tapi, khusus untuk program pengampunan pajak, khususnya yang menyangkut rakyat kecil seperti kami, mohonlah diberi kebijakan khusus. Kami jangan dikejar-kejar.
Ada baiknya Bapak mempertimbangkan berbagai masukan yang diungkapkan banyak orang pandai, seperti praktisi PR Christovita Wiloto. Dalam opininya yang dilontarkan di Facebook, ia mengatakan, untuk menarik dana-dana Indonesia di luar negeri masuk ke Indonesia, sebaiknya Bapak menggunakan strategi Pareto, yaitu 20:80.
Bapak disarankan fokus dan prioritaskan seluruh energi pada 20 persen WNI atau perusahaan Indonesia yang menguasai 80 persen total dana Indonesia di luar negeri, dan bukan sebaliknya. Jika ini yang dilakukan, hasilnya pasti dahsyat!
Tanpa bermaksud menggurui, ada baiknya Bapak coba konsep Pareto dalam melaksanakan tax amnesty.
Bapak Jokowi yang budiman, mohon ditinjau ulang masalah tax amnesty ini.
Dendalah setinggi2mya wajib pajak yg memang memanipulasi pajaknya dan Bebaskan denda bagi yg sdh membayar pajak dgn benar.
Jika hanya kesalahan administrasi krn tdk mencantumkan harta dari hasil kerja kami yg sdh kena pajak, mohon diampuni... !! ***
Mengapa lagi-lagi pemerintah melakukan 'blunder', sebagaimana pengangkatan warga negara Amerika Arcandra Tahar menjadi menteri ESDM? Setelah mendapatkan reaksi publik, baru meralat kebijakannya? Apakah memang semuanya disengaja? Berharap publik tidak bereaksi, dan agenda 'jahat' mereka pun berjalan mulus? IFP percaya bahwa demikianlah halnya.
Bukankah kecenderungan negara-negara yang dikuasai regim neoliberlisme adalah sama: keuangan negara yang dikorup, hutang luar negeri untuk menutupi defisit anggaran, pemotongan anggaran, dan akhirnya rakyat dicekik dengan pajak? Terlalu na'if untuk tidak percaya bahwa tujuan tax amnesty sebenarnya memang untuk mencekik rakyat demi keuntungan para pemodal asing.
Sekali lagi, selamat kepada rakyat Indonesia yang berhasil menggagalkan skenario jahat jongos-jongos neoliberalisme-zionisme internasional, setelah sebelumnya menggagalkan pengangkatan Arcandra Tahar.
Di negara-negara lain, skenario-skenario jahat itu bebas melenggang tanpa perlawanan hingga akhirnya negara bangkrut dan rakyat semakin dalam terjerumus dalam perbudakan tanpa sadar. Di Inggris, jabatan Gubernur Bank Sentral yang sangat strategis dipegang oleh warga asing (Kanada). Di Ukraina, gubernur, menteri bahkan Direktur BUMN juga dipegang oleh orang-orang asing (putra Wapres Amerika Joe Biden diangkat menjadi direktur BUMN migas). Di Yunani, rakyat masih saja percaya pada regim sosialis yang terbukti mengkhianati janjinya untuk keluar dari jeratan hutang Uni Eropa dan IMF yang telah membuat negara itu bangkrut.
Blog ini telah berkali-kali meramalkan bahwa Indonesia bakal menjadi awal keruntuhan regim neoliberalisme-zionisme global. Ini bukan tanpa alasan. Indonesia adalah pelopor gerakan kemerdekaan negara-negara dunia dari penjajahan kolonialisme barat. Indonesia adalah satu-satunya bangsa di dunia yang berhasil mengalahkan kekuatan-kekuatan jahat internasional: imperalisme bangsa Mongol di abad pertengahan, kolonialisme negara-negara barat, dan komunisme. Dan lebih khusus lagi, Indonesia adalah bangsa yang telah dipilih Allah untuk menerima 'kebenaran' Islam.
Jauh dari pusat perkembangan Islam di Timur Tengah, tanpa pertumpahan darah dan tanpa menggunakan missi terorganisir sebuah negara, puluhan juta penduduk yang tersebar dari Sabang hingga Merauke yang berbeda-beda suku dan budayanya, secara serempat memilik Islam sebagai agamanya. Ini adalah sebuah keajaiban sejarah.
Skenario jahat tax amnesty yang gagal karena perlawanan publik, memaksa Presiden Jokowi untuk 'cuci tangan' dengan menyalahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
“Setelah ada gugatan tax amnesty di MK oleh Muhammadiyah, Jokowi melalui Seskab Pramono Anung baru bersuara dan mempertanyakan ke Menteri Keuangan Sri Mulyani,” kata pengamat politik Ahmad Yazid seperti dilaporkan situs Suaranasional, Selasa (30 Agustus).
“Ini nampaknya Jokowi mau cuci tangan saja setelah muncul keresahan dari masyarakat,” tambah Yazid.
Menurut Yazid, pemerintah Jokowi akan malu jika gugatan Muhammadiyah tentang tax amnesty di MK dikabulkan.
“Kalau sampai kalah, Jokowi akan malu dihadapan rakyat. Makanya sebelum malu mengopinikan kesalahan ada di Menteri Keuangan,” jelas Yazid.
Seiring skenario menyalahkan Sri Mulyani, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan bahwa amnesti pajak adalah fasilitas khusus yang ditujukan bagi para pengemplang pajak yang selama ini menyembunyikan aset. Kebijakan ini tidak seharusnya meresahkan rakyat kecil dan wajib pajak patuh karena sebenarnya bukan mereka sasarannya.
“Bukan yang sudah tertib membayar pajak, malah kemudian dikejar-kejar. Atau juga yang katakanlah asetnya kecil, tetapi karena kealpaan, kelupaan, kemudian mereka sekarang mumpung ada kesempatan dan mereka deklarasikan, ikut tax amnesty, itu yang dikejar-kejar,” ujar Pramono kepada wartawan di Istana Negara, Senin (29 Agustus)
Selain gugatan PP Muhammadiyah ke Mahkamah Konstitusi terkait tax amnesty, berikut adalah salah satu perlawanan publik terhadap skenario tax amnesty yang dimuat di sejumlah media online:
Surat Terbuka Prof. Dr. Anwar Nasution untuk Jokowi, Perihal Tax Amnesty
Mantan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia 1999-2004 Anwar Nasution, memberikan penjelasan tentang pengaruh negatif dari kebijakan tax amnesty atau pengampunan pajak, yang mana sampai saat ini masyrakat umum masih bingung yang pada akhirnya mereka berkesimpulan bahwa seolah-olah pemerintah malah memeras rakyat, berikut dikutip oleh beritaislam24h.com.
Bapak Joko Widodo yang saya hormati. Izinkan saya kembali menulis surat terbuka kepada Bapak, kali ini saya mau mengadu soal pengampunan pajak (tax amnesty). Harap maklum, sebab sampai sekarang masih banyak rakyat yang bingung dan akhirnya berkesimpulan: "Lho, pemerintah kok malah memeras rakyat."
Saya tahu, Bapak berjuang agar RUU Pengampunan Pajak disetujui DPR menjadi UU dan sekarang sudah berlaku, tentunya bertujuan untuk mengapitalisasi "potensi luar biasa" yang beberapa waktu lalu masih tersembunyi, bahkan sengaja disembunyikan oleh sejumlah kalangan, terutama para pengusaha kita.
Maafkan kami Pak Jokowi jika selama ini kami salah menafsirkan UU tersebut. Kami menganggap UU Pengampunan Pajak hanya dikhususkan bagi upaya memulangkan dana-dana milik orang Indonesia (pengusaha) yang bertahun-tahun parkir (diendapkan) di luar negeri.
Saya tidak tahu persis, informasi yang selama ini disebarluaskan lewat media massa dan media sosial (medsos) menyangkut dana milik orang Indonesia di Singapura benar atau tidak? Disebut-sebut, "harta" berupa uang milik "kita" yang ada di negeri itu mencapai Rp 11.000 triliun!
Jika benar, bayangkan jumlahnya dua kali APBN kita. Sungguh spektakuler. Jumlah itu belum termasuk "uang warga negara Indonesia" yang tersimpan di negara-negara lain, seperti Amerika, Swiss, dan negara Eropa lainnya.
Kami membayangkan betapa dahsyatnya Indonesia jika Bapak sukses mengembalikan belasan dan (mungkin) puluhan ribu triliun rupiah dana milik orang-orang kaya yang selama ini digandakan di luar negeri. Bisa dipakai untuk membangun rumah sakit dan sekolah, bisa untuk mempercepat pembangunan jalan tol, bendungan, irigasi dan sebagainya.
Oleh sebab itulah saya bisa maklumi jika masyarakat Indonesia mengait-ngaitkan kasus sakitnya Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong saat ia sedang berpidato beberapa hari lalu karena ia panik Bapak memberlakukan tax amnesty yang berkonsekuensi uang milik orang Indonesia yang tersimpan di negerinya berbondong-bondong kembali ke Indonesia dan Singapura terancam bangkrut. Kalau tidak bangkrut, ya megap-megap.
Bapak Jokowi yang saya hormati, karena bapak begitu berani mengambil keputusan.
Dugaan kami rupanya salah. Pemerintahan yang Bapak pimpin ternyata tidak hanya fokus kepada 20 persen dana milik orang kaya Indonesia yang berada di luar negeri dan dalam negeri, tetapi juga 80 persen rakyat Indonesia yang tak sesen pun punya simpanan di luar negeri. Ya, negara kok malah “ngrusuhi” kami.
Benar, Pak, sebagai warga negara yang berusaha baik, selayaknya kami membayar pajak. Kami tidak ingin ngemplang pajak. Itu sudah kami lakukan. Kami bayar pajak bumi dan bangunan (PBB). Kami juga rutin membayar pajak kendaraan bermotor. Kami yang bekerja sebagai karyawan juga sudah membayar pajak penghasilan. Mendapat honor yang tak seberapa pun kami dipajaki. Bahkan saat kami makan di restoran juga bayar pajak. Belum lagi ketika kami membeli barang yang dianggap mewah. Tabungan kami di bank juga terus berkurang karena dipotong pajak.
Maafkan kami Pak, ketika tim Bapak melakukan sosialisasi tax amnesty ke berbagai daerah dan banyak televisi memberitakan soal pengampunan pajak, sebagian besar di antara kami berpendapat: "Ah, itu bukan urusanku."
Oleh sebab itulah saya – dan mudah-mudahan Bapak juga – maklum jika di lapangan kemudian muncul banyak kasus. Saya tidak tahu persis informasi yang disebarluaskan rakyat Bapak melalui media sosial belakangan ini tentang nasib seorang pensiunan yang akan patuh pada kebijakan tax amnesty benar atau tidak? Saya sih berharap tidak benar. Tapi, jika benar, kasihan betul pensiunan itu.
Melalui surat terbuka ini izinkan saya informasikan “fakta” di atas kepada Bapak. Begini, Pak. Belum lama ini ada seorang pensiunan yang akan mengurus tax amnesty di Kantor Pajak Pratama Bekasi. Orang tersebut setibanya di kantor pajak lantas menemui petugas "help desk" Tax Amnesty.
Ia ke kantor pajak lantaran merasa punya rumah dan tanah sawah di Pati, tapi tidak pernah dilaporkan dalam form data isian SPT PPh tahunannya.
Ia mengaku mendapat nomor antrean 50, sementara yang dilayani petugas “help desk” baru orang yang mendapat nomor antrean 38. Saat giliran nomor 47, ia melihat yang maju seorang laki-laki berusia 74 tahun, pensiunan tentara.
Setelah ditanya NPWP-nya, petugas “help desk” lantas menjelaskan apa-apa saja yang sudah dilaporkan dalam SPT PPh 2015. Sang bapak yang telah lanjut usia itu membenarkan data yang disebut petugas pajak.
Purnawirawan tersebut saat bertugas di beberapa kota, sempat membeli tanah, kebun/dadah dan sawah serta rumah yang ditempati oleh saudaranya agar terawat. Semua sertifikat atas namanya.
Sekarang ini penghasilan sang purnawirawan hanya Rp 1.580.000 per bulan, ditambah hasil panen sekitar Rp 2.600.000 per tiga atau empat bulan. Kebun ditanami pohon apa saja dan hasilnya dipakai oleh yang ia percaya menjaga kebunnya. Setahun sekali ia dikirimi buah atau makanan hasil kebunnya. Sebuah kehidupan yang cukup untuk menyenangkan di hari tua.
"Aset" sang purnawirawan rupanya ingin dilaporkan ke negara, karena selama ini ia tidak paham soal pajak dan merasa sudah menjadi warga negara yang baik karena sudah membayar PBB dan pajak-pajak lain.
Petugas “help desk” Tax Amnesty pun menghitung aset sang bapak tua. Ada tanah, rumah di daerah, ditambah satu mobil dan dua sepeda motor yang dibeli tahun 2013 dan 2014 yang belum dimasukkan dalam kolom harta yang dimiliki pada SPT 2015. Lalu dari petugas pajak keluarlah angka Rp 4,7 miliar! Wow!
Mendengar angka tersebut, sang bapak bukannya senang, tapi malah sedih. Rona wajahnya berubah, matanya terbelalak. Kemudian oleh petugas “help desk”, diberitahukan bahwa kewajiban bapak berusia 74 tahun atas harta yang diikutkan dalam program tax amnesty yang sedang ramai dibicarakan itu adalah 2 persen dari nilai harta yang belum atau tidak dimasukkan dalam lampiran SPT PPh terakhir. Lalu muncullah nilai pajak terutang sebesar Rp 94 juta!
Wow! Sang bapak itu lagi-lagi kaget. Badannya lunglai. Ia menangis. Mungkin dia berpikir dari mana mendapatkan uang sebesar itu? Niatnya mau minta ampun, kok malah bonyok.
Bapak Jokowi yang saya hormati. Ini komentar yang mungkin tidak enak Bapak dengar: "Mengapa pemerintah kok memeras pensiunan seperti saya ini begitu rupa. Apa makna perjuangan dan tugas-tugas negara yang sudah saya lakukan selama ini?"
Dalam pilpres tahun 2014 lalu, saya memilih Bapak. Konsekuensinya saya harus mendukung setiap kebijakan Bapak. Tapi, khusus untuk program pengampunan pajak, khususnya yang menyangkut rakyat kecil seperti kami, mohonlah diberi kebijakan khusus. Kami jangan dikejar-kejar.
Ada baiknya Bapak mempertimbangkan berbagai masukan yang diungkapkan banyak orang pandai, seperti praktisi PR Christovita Wiloto. Dalam opininya yang dilontarkan di Facebook, ia mengatakan, untuk menarik dana-dana Indonesia di luar negeri masuk ke Indonesia, sebaiknya Bapak menggunakan strategi Pareto, yaitu 20:80.
Bapak disarankan fokus dan prioritaskan seluruh energi pada 20 persen WNI atau perusahaan Indonesia yang menguasai 80 persen total dana Indonesia di luar negeri, dan bukan sebaliknya. Jika ini yang dilakukan, hasilnya pasti dahsyat!
Tanpa bermaksud menggurui, ada baiknya Bapak coba konsep Pareto dalam melaksanakan tax amnesty.
Bapak Jokowi yang budiman, mohon ditinjau ulang masalah tax amnesty ini.
Dendalah setinggi2mya wajib pajak yg memang memanipulasi pajaknya dan Bebaskan denda bagi yg sdh membayar pajak dgn benar.
Jika hanya kesalahan administrasi krn tdk mencantumkan harta dari hasil kerja kami yg sdh kena pajak, mohon diampuni... !! ***
Friday, July 15, 2016
Yahudi Kripto Kuasai India
Indonesian Free Press -- Dari blog DR Henry Makow:
Sekitar seribu tahun lalu ketika Islam berkembang pesat di Timur Tengah, sebagian besar orang-orang yahudi tersingkir dan mengungsi ke India untuk mencari rumah baru.
Di India, pada abad 19, muncul gerakan Freemason yang dipimpin Swami Vivekananda dan Dayananda Saraswati, yang bersama beberapa anggota Freemasons yahudi lainnya membentuk satu 'sekte' Hindu, atau lebih tepatnya menyamar sebagai sekte Hindu, meski sama sekali bukan Hindu demi bisa diterima masyarakat, bernama "Arya Samaj."
Dipengaruhi lagi oleh Madam Blavatsky dengan gerakan Theosophical Society-nya (gerakan ini juga sangat berpengaruh di Indonesia saat itu), "Arya Samaj" mempercayai Tuhan yang satu, berbeda dengan kepercayaan banyak dewa dalam Hindu, metransformasikan hari raya Chanukkah ke dalam Diwali, festival obor dan cahaya yang terjadi pada hari yang sama.
Dalam festival ini, berbeda dengan kepercayaan vegetarian dalam tradisi asli HIndu, para pemakan daging memupuk obsesi kekayaan, kekuasaan, pendidikan, dan dominasi militer.
Dalam "Arya Samaj", satu-satunya dewa yang boleh dipuja adalah dewa berbentuk gajak, "Ganesh," yang menjadi simbol kemakmuran, kesejahteraan, pendidikan, dan kekuasaan materi.
Saat ini, anggota-anggota sekte Arya Samaj Punjabi menguasai seluruh aspek di negeri: seluruh sektor industri termasuk Bollywood, militer, media massa, perbankan, budaya dan hiburan hingga dunia politik. Mahatma Gandhi dan Jawarlahal Nehru adalah tokoh-tokoh paling terkenal, namun juga Rabindranath Tagore, Jiddu Krishnamurti, Radakrishnan, dan Raj Tata. Para pemimpin gerakan kemerdekaan seperti Ramprasad Bismil, Bhagat Singh, Shyamji Krishnavarma, Bhai Paramanand dan Lala Lajpat Rai dan juga Sri Aurobindo dan Subhash Chandra Bose juga dipengaruhi oleh sekte ini.
Kini, mayoritas politisi kelas atas India adalah pengikut sekte ini, termasuk Atul Bihar Vajpayee dari partai penguasa BJP. Di dunia bisnis ada Tata Enterprises yang dijalankan oleh Ratan Tata, pengikut setia ajaran Arya Samaj. Ia secara efektif menjalankan seluruh negeri, termasuk perusahaan-perusahaan internasionalnya seperti British Steel yang kini bernama Tata Steel.
Yang lainnya, termasuk Arun Sarin yang menguasai Vodofone India. Salah satu keturunannya mengganti namanya menjadi "Faqir Sarin" untuk mengelabuhi orang-orang Islam, lainnya lagi menjadi Jizyah untuk mengelabuhi para 'dhimmis' atau orang-orang yang tidak berkeyakinan.
Keluarga Sarin ini membangun banyak kuil Arya Samaj dimana mereka melakukan ibadah pemujaan setan Kaballah Yahudi, meski bagi kebanyakan penganut Hindu mereka adalah pengikut Hindu yang setia.
The learned elders of the Arya Samaj Temple, were all high level Freemasonic Jews, and the higher one rose in this Temple, the more knowledge, information and "light" were provided.
Hanya para petinggi sekte ini yang mengetahui bahwa kuil dan pemujaan mereka adalah Kabbalis Yahudi, sama seperti Ordo Jesuits di Eropa, Donmeh di Turki, Mormon di Amerika, dan Wahhabi di Saudi Arabia.
Betapa keyakinan Hindu sebenarnya sangatlah absurd, karena hingga saat ini pun orang-orang HIndu tidak mengetahui bahwa nama Hindu sebenarnya bukanlah nama agama, melainkan nama sebutan untuk semua orang-orang India, yaitu orang-orang yang tinggal di sekitar Sungai Indus. Nama agama ini, jika merujuk pada bentuk keimanan, seharusnya adalah Wedais.(ca)
Sekitar seribu tahun lalu ketika Islam berkembang pesat di Timur Tengah, sebagian besar orang-orang yahudi tersingkir dan mengungsi ke India untuk mencari rumah baru.
Di India, pada abad 19, muncul gerakan Freemason yang dipimpin Swami Vivekananda dan Dayananda Saraswati, yang bersama beberapa anggota Freemasons yahudi lainnya membentuk satu 'sekte' Hindu, atau lebih tepatnya menyamar sebagai sekte Hindu, meski sama sekali bukan Hindu demi bisa diterima masyarakat, bernama "Arya Samaj."
Dipengaruhi lagi oleh Madam Blavatsky dengan gerakan Theosophical Society-nya (gerakan ini juga sangat berpengaruh di Indonesia saat itu), "Arya Samaj" mempercayai Tuhan yang satu, berbeda dengan kepercayaan banyak dewa dalam Hindu, metransformasikan hari raya Chanukkah ke dalam Diwali, festival obor dan cahaya yang terjadi pada hari yang sama.
Dalam festival ini, berbeda dengan kepercayaan vegetarian dalam tradisi asli HIndu, para pemakan daging memupuk obsesi kekayaan, kekuasaan, pendidikan, dan dominasi militer.
Dalam "Arya Samaj", satu-satunya dewa yang boleh dipuja adalah dewa berbentuk gajak, "Ganesh," yang menjadi simbol kemakmuran, kesejahteraan, pendidikan, dan kekuasaan materi.
Saat ini, anggota-anggota sekte Arya Samaj Punjabi menguasai seluruh aspek di negeri: seluruh sektor industri termasuk Bollywood, militer, media massa, perbankan, budaya dan hiburan hingga dunia politik. Mahatma Gandhi dan Jawarlahal Nehru adalah tokoh-tokoh paling terkenal, namun juga Rabindranath Tagore, Jiddu Krishnamurti, Radakrishnan, dan Raj Tata. Para pemimpin gerakan kemerdekaan seperti Ramprasad Bismil, Bhagat Singh, Shyamji Krishnavarma, Bhai Paramanand dan Lala Lajpat Rai dan juga Sri Aurobindo dan Subhash Chandra Bose juga dipengaruhi oleh sekte ini.
Kini, mayoritas politisi kelas atas India adalah pengikut sekte ini, termasuk Atul Bihar Vajpayee dari partai penguasa BJP. Di dunia bisnis ada Tata Enterprises yang dijalankan oleh Ratan Tata, pengikut setia ajaran Arya Samaj. Ia secara efektif menjalankan seluruh negeri, termasuk perusahaan-perusahaan internasionalnya seperti British Steel yang kini bernama Tata Steel.
Yang lainnya, termasuk Arun Sarin yang menguasai Vodofone India. Salah satu keturunannya mengganti namanya menjadi "Faqir Sarin" untuk mengelabuhi orang-orang Islam, lainnya lagi menjadi Jizyah untuk mengelabuhi para 'dhimmis' atau orang-orang yang tidak berkeyakinan.
Keluarga Sarin ini membangun banyak kuil Arya Samaj dimana mereka melakukan ibadah pemujaan setan Kaballah Yahudi, meski bagi kebanyakan penganut Hindu mereka adalah pengikut Hindu yang setia.
The learned elders of the Arya Samaj Temple, were all high level Freemasonic Jews, and the higher one rose in this Temple, the more knowledge, information and "light" were provided.
Hanya para petinggi sekte ini yang mengetahui bahwa kuil dan pemujaan mereka adalah Kabbalis Yahudi, sama seperti Ordo Jesuits di Eropa, Donmeh di Turki, Mormon di Amerika, dan Wahhabi di Saudi Arabia.
Betapa keyakinan Hindu sebenarnya sangatlah absurd, karena hingga saat ini pun orang-orang HIndu tidak mengetahui bahwa nama Hindu sebenarnya bukanlah nama agama, melainkan nama sebutan untuk semua orang-orang India, yaitu orang-orang yang tinggal di sekitar Sungai Indus. Nama agama ini, jika merujuk pada bentuk keimanan, seharusnya adalah Wedais.(ca)
Sunday, July 10, 2016
Netanyahu Resmi Disidik karena Dugaan Kejahatan
Indonesian Free Press -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi obyek penyidikan karena dugaan tindak kejahatan yang berkaitan dengannya. Demikian kata Kejaksaan Agung Israel seperti dilansir Press TV, Minggu (10 Juli).
Pengumuman tersebut berselang beberapa hari setelah media-media Israel berspekulasi tentang kemungkinan-kemungkinan tindak kejahatan yang dilakukan Netanyahu dan orang-orang dekatnya.
“Setelah adanya sejumlah informasi yang kami terima yang berkaitan dengan Perdana Menteri, yang telah diserahkan kepolisian dan departemen inteligen, Jaksa Agung memutuskan untuk memerintahkan dibukanya penyidikan atas hal ini," demikian pernyataana yang dirilis Jaksa Agung Avichai Mandelblit, Minggu (10 Juli).
Sebelumnya pada hari Sabtu seorang pejabat Israel mengatakan bahwa rincian dari penyidikan dugaan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan Netanyahu akan segera diumumkan. Sementara media-media Israel menyebutkan penyidikan tersebut akan difokuskan pada dana-dana asing yang diterima Netanyahu setelah menjabat sejak tahun 2009.
Salah satu dugaan melibatkan jutawan Perancis Arnaud Mimran yang telah menyumbangkan sejumlah besar dana kepada Netanyahu. Netanyahu sendiri telah membantah tuduhan tersebut.
Sebelumnya pada minggu lalu Pengadilan Perancis menjatuhkan hukuman penjara delapan tahun kepada Mimran karena kejahatan yang dilakukan tahun 2008-2009.
Pada hari JUmat (8 Juli), media Israel Channel 10 melaporkan bahwa penyidikan terhadap Netanyahu mencakup tindak pencucian uang dalam skala besar. Selain Netanyahu sendiri, setidaknya seorang anggota keluarganya juga terlibat dalam kejahatan tersebut.
Sebagian besar kejahatan keuangan Netanyahu berkaitan dengan program-program pembangunan pemukiman illegal yahudi di wilayah pendudukan Palestina. Sementara masalah pemukiman ilegal ini menjadi penghalang utama dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel.(ca)
Pengumuman tersebut berselang beberapa hari setelah media-media Israel berspekulasi tentang kemungkinan-kemungkinan tindak kejahatan yang dilakukan Netanyahu dan orang-orang dekatnya.
“Setelah adanya sejumlah informasi yang kami terima yang berkaitan dengan Perdana Menteri, yang telah diserahkan kepolisian dan departemen inteligen, Jaksa Agung memutuskan untuk memerintahkan dibukanya penyidikan atas hal ini," demikian pernyataana yang dirilis Jaksa Agung Avichai Mandelblit, Minggu (10 Juli).
Sebelumnya pada hari Sabtu seorang pejabat Israel mengatakan bahwa rincian dari penyidikan dugaan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan Netanyahu akan segera diumumkan. Sementara media-media Israel menyebutkan penyidikan tersebut akan difokuskan pada dana-dana asing yang diterima Netanyahu setelah menjabat sejak tahun 2009.
Salah satu dugaan melibatkan jutawan Perancis Arnaud Mimran yang telah menyumbangkan sejumlah besar dana kepada Netanyahu. Netanyahu sendiri telah membantah tuduhan tersebut.
Sebelumnya pada minggu lalu Pengadilan Perancis menjatuhkan hukuman penjara delapan tahun kepada Mimran karena kejahatan yang dilakukan tahun 2008-2009.
Pada hari JUmat (8 Juli), media Israel Channel 10 melaporkan bahwa penyidikan terhadap Netanyahu mencakup tindak pencucian uang dalam skala besar. Selain Netanyahu sendiri, setidaknya seorang anggota keluarganya juga terlibat dalam kejahatan tersebut.
Sebagian besar kejahatan keuangan Netanyahu berkaitan dengan program-program pembangunan pemukiman illegal yahudi di wilayah pendudukan Palestina. Sementara masalah pemukiman ilegal ini menjadi penghalang utama dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel.(ca)
Thursday, June 30, 2016
Media Utama Israel Sebut Selama Ini Inggris Pion Israel
Indonesian Free Press -- Media utama Israel Haaretz mengkonfirmasi bahwa selama ini Inggris hanya berperan sebagai boneka Israel dalam persekutuan Uni Eropa.
"Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, Israel kehilangan asset utama di Uni Eropa. Selama ini Inggris telah membantu Israel dengan melunakkan sikap Uni Eropa tentang proses perdamaian (Israel-Palestina), mengkonter kritikan hingga mengecam balik langkah negara-negara penentang Israel di PBB. Dengan Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa), kini suara-suara pro-Palestina akan semakin dominan," tulis Haaretz, 26 Juni lalu.
Menurut pengamat zionisme dan aktifis pro-Palestina, Gilad Atzmon, di blognya yang terkenal, status Inggris telah turun sedemikian rendah menjadi vassal Israel karena dominasi lobbi yahudi di Inggris.
Menurut Gilad dengan mengutip laporan Haaretz, Perdana Menteri David Cameron bertemu sejumlah pemuka Yahudi beberapa hari sebelum referendum pemisahan Inggris dari Uni Eropa. Dalam pertemuan itu, Cameron dilaporkan mengatakan kepada para pemuka yahudi:
"Apakah Anda sekalian menginginkan Inggris, yang merupakan sahabat terbesar Israel, berada di depan menentang gerakan boikot, divestasi dan sanksi terhadap Israel, ataukh Anda ingin kami berada di luar (Uni Eropa), tidak berdaya untuk memperngaruhi jalannya diskusi-diskusi?”
Meski 52% warga Inggris memilih keluar dari Uni Eropa, mayoritas orang yahudi tampaknya tidak demikian.
"Mungkin Brussels (Uni Eropa) perlu untuk membiasakan diri dengan elemen-elemen di kalangan yahudi Inggris yang ingin memperlemah atau bahkan membubarkan Uni Eropa. Saya rasa rakyat Inggris bisa melihat bahwa politisi-politisi mereka secara berulangkali mengkompromikan kepentingan nasional mereka. Munculnya Boris Jonson, Michael Gov dan Theresa May tidak akan mengubah fakta ini. Press Israel telah mengkonfirmasi bahwa ketiga politisi ini adalah pendukung paling kuat dari zionisme di Inggris maupun luar Inggris," tulis Gilad lagi.(ca)
"Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, Israel kehilangan asset utama di Uni Eropa. Selama ini Inggris telah membantu Israel dengan melunakkan sikap Uni Eropa tentang proses perdamaian (Israel-Palestina), mengkonter kritikan hingga mengecam balik langkah negara-negara penentang Israel di PBB. Dengan Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa), kini suara-suara pro-Palestina akan semakin dominan," tulis Haaretz, 26 Juni lalu.
Menurut pengamat zionisme dan aktifis pro-Palestina, Gilad Atzmon, di blognya yang terkenal, status Inggris telah turun sedemikian rendah menjadi vassal Israel karena dominasi lobbi yahudi di Inggris.
Menurut Gilad dengan mengutip laporan Haaretz, Perdana Menteri David Cameron bertemu sejumlah pemuka Yahudi beberapa hari sebelum referendum pemisahan Inggris dari Uni Eropa. Dalam pertemuan itu, Cameron dilaporkan mengatakan kepada para pemuka yahudi:
"Apakah Anda sekalian menginginkan Inggris, yang merupakan sahabat terbesar Israel, berada di depan menentang gerakan boikot, divestasi dan sanksi terhadap Israel, ataukh Anda ingin kami berada di luar (Uni Eropa), tidak berdaya untuk memperngaruhi jalannya diskusi-diskusi?”
Meski 52% warga Inggris memilih keluar dari Uni Eropa, mayoritas orang yahudi tampaknya tidak demikian.
"Mungkin Brussels (Uni Eropa) perlu untuk membiasakan diri dengan elemen-elemen di kalangan yahudi Inggris yang ingin memperlemah atau bahkan membubarkan Uni Eropa. Saya rasa rakyat Inggris bisa melihat bahwa politisi-politisi mereka secara berulangkali mengkompromikan kepentingan nasional mereka. Munculnya Boris Jonson, Michael Gov dan Theresa May tidak akan mengubah fakta ini. Press Israel telah mengkonfirmasi bahwa ketiga politisi ini adalah pendukung paling kuat dari zionisme di Inggris maupun luar Inggris," tulis Gilad lagi.(ca)
Subscribe to:
Posts (Atom)















