Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO; Jens Stoltenberg, melihat ada kontradiksi antara penumpukan kekuatan militer di dekat perbatasan Rusia dengan keinginan untuk melanjutkan dialog dengan Rusia. Menurutnya, kedua opsi itu dibutuhkan NATO.
”Kami harus menggabungkan ide kekuatan, pencegahan, pertahanan dan dialog. Bagi saya, jangan ada kontradiksi antara pertahanan yang kuat dan dialog politik,” kata Stoltenberg dalam sebuah forum Passau, Bavaria, Jerman.
Dalam forum itu, Stoltenberg bergabung dengan Presiden Dewan Eropa Donald Tusk dan Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz. ”Hal ini sangat penting, pada saat yang sama untuk menghindari Perang Dingin baru. Kami tidak ingin perlombaan senjata baru,” ujarnya, Selasa (11/10/2016).
Sekjen NATO ini mengaku tidak terlalu khawatir dengan manuver Rusia baru-baru yang mengerahkan rudal nuklir Iskander-M ke Kaliningrad, yang berbatasan langsung dengan negara-negara NATO di Baltik.
”Kami telah mendeteksi bahwa mereka telah memindahkan rudal, dan ini adalah bagian dari kecenderungan umum yang kami lihat dalam beberapa kali,” kata mantan Perdana Menteri Norwegia ini, seperti dikutip Russia Today. ”NATO telah merespon. Anda harus memahami bahwa kami telah menerapkan penguatan terbesar dari pertahanan kolektif sejak akhir Perang Dingin,” ujarnya.
Pada bulan Juli lalu, NATO menyetujui pengerahan empat batalion internasional tambahan untuk negara-negara yang berbatasan dengan Rusia. Masing-masing diperkirakan berjumlah hingga 1.000 tentara. Selain itu, NATO juga diperintahkan untuk terus menyebarkan sistem rudal pertahanan.
Showing posts with label Nato. Show all posts
Showing posts with label Nato. Show all posts
Wednesday, October 12, 2016
Tuesday, August 16, 2016
624 Rudal Jelajah NATO Gempur Suriah, Jika Putin Tidak Turun Tangan
Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoigu, mengklaim intervensi Presiden Vladmir Putin telah menyelamatkan Suriah dari potensi invasi NATO atas tuduhan Suriah gunakan bom kimia tahun 2013. Shoigu mencatat, NATO sudah menyiapkan sekitar 624 rudal jelajah untuk menginvasi Suriah.
Menurut Shoigu, Putin sukses meyakinkan semua pihak bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad tunduk untuk menghancurkan senjata kimia yang dimilikinya.
”Apa yang akan terjadi jika presiden kami (Vladimir Putin) gagal meyakinkan dan menerapkan ide penyerahan dan penghancuran senjata kimia?,” kata Shoigu di stasiun televisi Rossiya-24, semalam (15/8/2016).
“Jika kami hanya berbicara tentang rudal jelajah, ada 624 rudal jelajah, sejauh yang saya ingat, siap untuk melaksanakan serangan besar-besaran terhadap Suriah dalam waktu 24 jam,” lanjut Menhan Rusia ini.
Shoigu mengatakan, akan sangat sulit untuk mengembalikan struktur negara Suriah jika serangan berskala besar NATO saat itu benar-benar terjadi.
Pada tahun 2013, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sudah menyetujui rencana invasi terhadap Suriah setelah menyalahkan Pemerintah Assad atas serangan gas sarin di pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak Suriah.
Namun, rencana itu batal setelah Putin menengahi perselisihan dengan menjamin rezim Suriah memusnahkan senjata kimianya dengan pengawasan Organisasi Anti-Senjata Kimia di bawah mandat PBB.
Dalam perkembangan terkini di Suriah, Shoigu mengatakan bahwa Rusia dan AS sedang dalam pembicaraan untuk mengatasi krisis di Aleppo. Dia berharap, upaya itu bisa memastikan perdamaian di Aleppo yang dalam beberapa hari ini jadi medan tempur antara pasukan Assad dan pemberontak Suriah. - Sindo
Menurut Shoigu, Putin sukses meyakinkan semua pihak bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad tunduk untuk menghancurkan senjata kimia yang dimilikinya.
”Apa yang akan terjadi jika presiden kami (Vladimir Putin) gagal meyakinkan dan menerapkan ide penyerahan dan penghancuran senjata kimia?,” kata Shoigu di stasiun televisi Rossiya-24, semalam (15/8/2016).
“Jika kami hanya berbicara tentang rudal jelajah, ada 624 rudal jelajah, sejauh yang saya ingat, siap untuk melaksanakan serangan besar-besaran terhadap Suriah dalam waktu 24 jam,” lanjut Menhan Rusia ini.
Shoigu mengatakan, akan sangat sulit untuk mengembalikan struktur negara Suriah jika serangan berskala besar NATO saat itu benar-benar terjadi.
Pada tahun 2013, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sudah menyetujui rencana invasi terhadap Suriah setelah menyalahkan Pemerintah Assad atas serangan gas sarin di pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak Suriah.
Namun, rencana itu batal setelah Putin menengahi perselisihan dengan menjamin rezim Suriah memusnahkan senjata kimianya dengan pengawasan Organisasi Anti-Senjata Kimia di bawah mandat PBB.
Dalam perkembangan terkini di Suriah, Shoigu mengatakan bahwa Rusia dan AS sedang dalam pembicaraan untuk mengatasi krisis di Aleppo. Dia berharap, upaya itu bisa memastikan perdamaian di Aleppo yang dalam beberapa hari ini jadi medan tempur antara pasukan Assad dan pemberontak Suriah. - Sindo
Friday, July 29, 2016
Amerika dan Saudi Dalang Penembakan Su-24 Rusia di Turki
Amerika Serikat dan Arab Saudi dituduh terlibat dalam penembakan jatuh pesawat jet pengebom Su-24 Rusia oleh Turki di perbatasan Suriah-Turki tahun lalu. Tuduhan disampaikan oleh Willy Wimmer, mantan Wakil Presiden Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) kepada Sputnik Deutschland.
Pada 24 November 2015, pesawat tempur F-16 Turki menembak jatuh pesawat Su-24 Rusia yang sedang melaksanakan operasi anti-teror di Suriah. Dua pilot Rusia melakukan terjun payung setelah berhasil keluar dari pesawat Su-24. Namun, salah satu dari mereka ditembak dan dibunuh militan Turkmen di Suriah.
Insiden ini menyebabkan sengketa diplomatik antara Turki dan Rusia. Penembakan itu disimpulkan sebagai keputusan sepihak oleh Turki. Namun, Willy Wimmer berpendapat bahwa sebenarnya NATO dan pasukan Saudi terlibat dalam insiden tersebut.
”Menurut informasi (yang datang ke) saya, pesawat Airborne Early Warning and Control System (AWACS) dari Amerika Serikat dan Arab Saudi terlibat,” kata Wimmer, yang dilansir semalam (29/7/2016).
Pesawat AWACS adalah pesawat peringatan dini, d mana radar canggih yang dibawanya bisa mendeteksi pesawat musuh dan pesawat kawan.
”Pesawat seperti (pesawat) bomber Su-24 Rusia tidak mudah untuk ditembak dari langit. Anda perlu membidik, dan Anda hanya bisa melakukannya dengan pesawat AWACS,” lanjut dia.
Menurut Wimmer, dua pesawat AWACS yang terlibat dalam insiden itu masing-masing lepas landas dari sebuah pangkalan AS di Siprus, dan sebuah pangkalan udara di Arab Saudi.
Wimmer menjelaskan bahwa menurut pedoman NATO, jika pesawat asing diyakini melanggar wilayah udara negara anggota NATO, maka kontak harus dibuat dengan pusat kontrol penerbangan yang tepat untuk menarik perhatian pilot pesawat asing yang membuat kesalahan.
Dalam kondisi damai, sebuah pesawat militer diperbolehkan melakukan tindakan untuk memaksa sebuah pesawat nyasar melakukan pendaratan darurat.
”Apa yang terjadi di sana tidak sesuai dengan peraturan internasional dengan cara apapun. Mereka membuat pesawat Rusia jatuh karena mereka ingin,” ujar Wimmer.
Pada 24 November 2015, pesawat tempur F-16 Turki menembak jatuh pesawat Su-24 Rusia yang sedang melaksanakan operasi anti-teror di Suriah. Dua pilot Rusia melakukan terjun payung setelah berhasil keluar dari pesawat Su-24. Namun, salah satu dari mereka ditembak dan dibunuh militan Turkmen di Suriah.
Insiden ini menyebabkan sengketa diplomatik antara Turki dan Rusia. Penembakan itu disimpulkan sebagai keputusan sepihak oleh Turki. Namun, Willy Wimmer berpendapat bahwa sebenarnya NATO dan pasukan Saudi terlibat dalam insiden tersebut.
”Menurut informasi (yang datang ke) saya, pesawat Airborne Early Warning and Control System (AWACS) dari Amerika Serikat dan Arab Saudi terlibat,” kata Wimmer, yang dilansir semalam (29/7/2016).
Pesawat AWACS adalah pesawat peringatan dini, d mana radar canggih yang dibawanya bisa mendeteksi pesawat musuh dan pesawat kawan.
”Pesawat seperti (pesawat) bomber Su-24 Rusia tidak mudah untuk ditembak dari langit. Anda perlu membidik, dan Anda hanya bisa melakukannya dengan pesawat AWACS,” lanjut dia.
Menurut Wimmer, dua pesawat AWACS yang terlibat dalam insiden itu masing-masing lepas landas dari sebuah pangkalan AS di Siprus, dan sebuah pangkalan udara di Arab Saudi.
Wimmer menjelaskan bahwa menurut pedoman NATO, jika pesawat asing diyakini melanggar wilayah udara negara anggota NATO, maka kontak harus dibuat dengan pusat kontrol penerbangan yang tepat untuk menarik perhatian pilot pesawat asing yang membuat kesalahan.
Dalam kondisi damai, sebuah pesawat militer diperbolehkan melakukan tindakan untuk memaksa sebuah pesawat nyasar melakukan pendaratan darurat.
”Apa yang terjadi di sana tidak sesuai dengan peraturan internasional dengan cara apapun. Mereka membuat pesawat Rusia jatuh karena mereka ingin,” ujar Wimmer.
Wednesday, July 27, 2016
Persiapan Tempur Rusia Merespons Provokasi NATO
Kementerian Pertahanan Rusia mempersiapkan kekuatan tempur canggih untuk merespons provokasi penumpukan militer NATO di Eropa Timur. Hal itu diungkap Menteri Pertahanan Rusia, Jenderal Sergey Shoigu.
Jenderal Shoigu bahkan membocorkan sejumlah kekuatan tempur Rusia yang telah dikerahkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk dalam perseteruannya dengan NATO.
”Untuk beberapa tahun terakhir, situasi politik-militer di wilayah strategis barat daya telah meningkat. Hal ini terutama berkaitan dengan penumpukan militer NATO di Eropa Timur, situasi di Ukraina dan kegiatan kelompok teror internasional, termasuk yang di Kaukasus Utara,” kata Shoigu.
”Jadi, kita harus mengambil langkah-langkah yang memadai,” lanjut Shouigu, seperti dikutip dari Pravda.ru, Kamis (28/7/2016).
Menurutnya, ada perubahan signifikan dalam pelatihan militer Rusia, di mana lebih dari 200 latihan telah dilakukan di Distrik Militer Selatan sejak 2013.
Dia melanjutkan, untuk saat ini empat divisi, sembilan brigade dan 22 resimen telah terbentuk. Selain itu, dua brigade rudal dilengkapi dengan rudal Iskander-M, telah diciptakan.
Menteri Pertahanan Rusia ini juga mencatat bahwa jumlah layanan militer dari kelompok lelaki meningkat dua kali lipat pada tahun ini.
”Sebuah kelompok pasukan mandiri telah dikerahkan di Crimea. Lebih dari 4 ribu sampel senjata baru dan peralatan militer telah dikirim ke Departemen Militer Selatan. Pasukan kompleks rudal dan kapal selam canggih juga telah dikerahkan,” imbuh Shoigu. - Sindo
Jenderal Shoigu bahkan membocorkan sejumlah kekuatan tempur Rusia yang telah dikerahkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk dalam perseteruannya dengan NATO.
”Untuk beberapa tahun terakhir, situasi politik-militer di wilayah strategis barat daya telah meningkat. Hal ini terutama berkaitan dengan penumpukan militer NATO di Eropa Timur, situasi di Ukraina dan kegiatan kelompok teror internasional, termasuk yang di Kaukasus Utara,” kata Shoigu.
”Jadi, kita harus mengambil langkah-langkah yang memadai,” lanjut Shouigu, seperti dikutip dari Pravda.ru, Kamis (28/7/2016).
Menurutnya, ada perubahan signifikan dalam pelatihan militer Rusia, di mana lebih dari 200 latihan telah dilakukan di Distrik Militer Selatan sejak 2013.
Dia melanjutkan, untuk saat ini empat divisi, sembilan brigade dan 22 resimen telah terbentuk. Selain itu, dua brigade rudal dilengkapi dengan rudal Iskander-M, telah diciptakan.
Menteri Pertahanan Rusia ini juga mencatat bahwa jumlah layanan militer dari kelompok lelaki meningkat dua kali lipat pada tahun ini.
”Sebuah kelompok pasukan mandiri telah dikerahkan di Crimea. Lebih dari 4 ribu sampel senjata baru dan peralatan militer telah dikirim ke Departemen Militer Selatan. Pasukan kompleks rudal dan kapal selam canggih juga telah dikerahkan,” imbuh Shoigu. - Sindo
Sunday, April 12, 2015
Finlandia dan Swedia Merapat ke NATO, Rusia Geram
Sindo - Rusia menyampaikan “keprihatinan khusus” setelah Filandia dan Swedia ingin melakukan kerjasama yang lebih erat dengan NATO. Merapatnya dua negara Eropa ke NATO itu membuat Rusia geram karena merasa langkah itu sebagai ancaman terhadap Moskow.
Menurut Kementerian Luar Negeri Rusia, kedua negara Nordik itu sejatinya netral atau bukan anggota NATO. Namun, keputusan kedua negara itu untuk merapat ke NATO dianggap bisa mengguncang wilayah Eropa Utara.
Rusia menyatakan, bahwa mereka tidak menentang kedua negara itu untuk memecahkan solusi terkait keamanan dan pertahanan mereka masing-masing.”Tidak diragukan lagi, itu adalah hak kedaulatan setiap negara,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia yang diterbitkan di situs resmi kementerian itu.
Tapi, Rusia mereasa kedua negara itu mulai memposisikan diri untuk jadi ancaman bagi Moskow. ”Itu bertentangan dengan beberapa tahun terakhir, kerjasama militer Eropa Utara kini memposisikan diri untuk melawan Rusia. Hal ini dapat merusak kerjasama konstruktif positif,” lanjut pernyataan kementerian itu, seperti dikutip Russia Today, semalam (12/4/2015).
Rusia berharap Filandia dan Swedia masih konsisten dengan kebijakan pertahanan mereka yang non-blok. ”Alih-alih mencari dialog terbuka dan konstruktif dalam mencoba untuk meningkatkan keamanan di Eropa Utara dan di benua secara keseluruhan yang akan mencakup solusi untuk krisis Ukraina, kebijakan konfrontasi justru sedang dilakukan orang-orang di Eropa Utara,” lanjut kementerian itu.
Komentar kekecewaan Rusia itu muncul setelah deklarasi bersama dari lima negara Nordik, termasuk Denmark, Norwegia dan Islandia. Kementerian pertahanan negara-negara Nordik itu menyatakan, bahwa Eropa Utara harus siap untuk melawan ancaman Rusia.
Menurut Kementerian Luar Negeri Rusia, kedua negara Nordik itu sejatinya netral atau bukan anggota NATO. Namun, keputusan kedua negara itu untuk merapat ke NATO dianggap bisa mengguncang wilayah Eropa Utara.
Rusia menyatakan, bahwa mereka tidak menentang kedua negara itu untuk memecahkan solusi terkait keamanan dan pertahanan mereka masing-masing.”Tidak diragukan lagi, itu adalah hak kedaulatan setiap negara,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia yang diterbitkan di situs resmi kementerian itu.
Tapi, Rusia mereasa kedua negara itu mulai memposisikan diri untuk jadi ancaman bagi Moskow. ”Itu bertentangan dengan beberapa tahun terakhir, kerjasama militer Eropa Utara kini memposisikan diri untuk melawan Rusia. Hal ini dapat merusak kerjasama konstruktif positif,” lanjut pernyataan kementerian itu, seperti dikutip Russia Today, semalam (12/4/2015).
Rusia berharap Filandia dan Swedia masih konsisten dengan kebijakan pertahanan mereka yang non-blok. ”Alih-alih mencari dialog terbuka dan konstruktif dalam mencoba untuk meningkatkan keamanan di Eropa Utara dan di benua secara keseluruhan yang akan mencakup solusi untuk krisis Ukraina, kebijakan konfrontasi justru sedang dilakukan orang-orang di Eropa Utara,” lanjut kementerian itu.
Komentar kekecewaan Rusia itu muncul setelah deklarasi bersama dari lima negara Nordik, termasuk Denmark, Norwegia dan Islandia. Kementerian pertahanan negara-negara Nordik itu menyatakan, bahwa Eropa Utara harus siap untuk melawan ancaman Rusia.
Sunday, April 5, 2015
Hadapi Serangan Global Kilat AS, Rusia Gunakan Rudal S-500
Sindonews - Rusia sedang mengembangkan sistem rudal S-500 yang jadi andalan mereka untuk menghadapi Prompt Global Strike (serangan global kilat) dari Amerika Serikat (AS). Rudal canggih itu dirancang untuk mencegat rudal supersonik.
Wakil Kepala Pertahanan Udara Rusia, Mayor Jenderal Kirill Makarov, mengatakan ancaman Prompt Global Strike (PGS) AS terhadap Federasi Rusia adalah salah satu tantangan utama bagi Angkatan Pertahanan Udara Rusia.
Menurut Makarvov, rudal S-500 merupakan rudal generasi baru Rusia. “Rudal untuk sistem ini masih dalam pengembangan,” kata Makarov, seperti dilansir Russia Today, Minggu (5/4/2015).
Menurutnya, PGS bisa dipandu oleh AS dalam waktu kurang dari satu jam dan bisa menjadi ancaman keamanan nasional Rusia. “Ini tepatya untuk memerangi aset-aset pertahanan udara yang sedang kita bangun,” kata Makarov, yang menekankan bahwa tugas yang dia emban sangat penting.
PGS Washington secara keseluruhan memiliki struktur yang mirip dengan nuklir triad. Menurut analisa militer Rusia, biasanya serangan cepat AS dimulai dari darat dan laut dengan menggunakan rudal balistik dan rudal jelajah antar-benua.
Rusia telah memperkirakan bahwa pada tahun 2020, AS akan memiliki sebanyak 8 ribu rudal jelajah, sekitar 6 ribu di antaranya akan mampu membawa hulu ledak nuklir. “Dengan beberapa derajat kepastian, orang bisa menilai bahwa dalam kondisi tertentu aset militer ini bisa digunakan terhadap sasaran-sasaran di wilayah Federasi Rusia,” kata Makarov yang mengantisipasi PGS Washington.
Kendati demikian, ancaman seperti itu diklaim bisa diatasi oleh Rusia. Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Yuri Borisov, pernah menyatakan, bahwa Rusia mampu dan harus mengembangkan sistem PGS serupa dengan AS.
Wakil Kepala Pertahanan Udara Rusia, Mayor Jenderal Kirill Makarov, mengatakan ancaman Prompt Global Strike (PGS) AS terhadap Federasi Rusia adalah salah satu tantangan utama bagi Angkatan Pertahanan Udara Rusia.
Menurut Makarvov, rudal S-500 merupakan rudal generasi baru Rusia. “Rudal untuk sistem ini masih dalam pengembangan,” kata Makarov, seperti dilansir Russia Today, Minggu (5/4/2015).
Menurutnya, PGS bisa dipandu oleh AS dalam waktu kurang dari satu jam dan bisa menjadi ancaman keamanan nasional Rusia. “Ini tepatya untuk memerangi aset-aset pertahanan udara yang sedang kita bangun,” kata Makarov, yang menekankan bahwa tugas yang dia emban sangat penting.
PGS Washington secara keseluruhan memiliki struktur yang mirip dengan nuklir triad. Menurut analisa militer Rusia, biasanya serangan cepat AS dimulai dari darat dan laut dengan menggunakan rudal balistik dan rudal jelajah antar-benua.
Rusia telah memperkirakan bahwa pada tahun 2020, AS akan memiliki sebanyak 8 ribu rudal jelajah, sekitar 6 ribu di antaranya akan mampu membawa hulu ledak nuklir. “Dengan beberapa derajat kepastian, orang bisa menilai bahwa dalam kondisi tertentu aset militer ini bisa digunakan terhadap sasaran-sasaran di wilayah Federasi Rusia,” kata Makarov yang mengantisipasi PGS Washington.
Kendati demikian, ancaman seperti itu diklaim bisa diatasi oleh Rusia. Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Yuri Borisov, pernah menyatakan, bahwa Rusia mampu dan harus mengembangkan sistem PGS serupa dengan AS.
Sunday, March 8, 2015
Kompetisi Militer antara NATO vs RUSIA di Tengah Krisis Ukraina
Irib - Kementerian Pertahanan Rusia baru-baru ini mengumumkan diselenggarakannya manuver akbar anti-udara di wilayah-wilayah selatan negara itu. Latihan militer yang telah dimulai pada Kamis, 5 Maret, itu akan digelar hingga 10 April dan melibatkan lebih dari 2.000 tentara dan 500 jenis senjata militer.
Manuver tersebut diselenggarakan di 12 lokasi pelatihan di wilayah-wilayah Rusia selatan, Kaukasus utara dan kawasan sekitar Laut Hitam. Luas daerah latihan militer itu juga mencakup berbagai pangkalan militer Rusia di Armenia, Abkhazia dan Ossetia Selatan serta Semenanjung Krimea. Tahun lalu, Krimea bergabung dengan Federasi Rusia, dan hal ini telah menyulut peningkatan ketegangan hubungan antara Moskow dan negara-negara Barat.
Rusia menggelar manuver akbar tersebut di tengah-tengah ketegangan hubungannya dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat atas krisis Ukraina. Anatoly Antonov, Wakil Menteri Pertahanan Rusia dalam jumpa pers baru-baru ini memperingatkan aktivitas pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di sekitar Rusia.
Manuver militer Rusia diselenggarakan bersamaan dengan persiapan pasukan NATO untuk menggelar latihan militer di Laut Hitam. Pada Rabu, enam kapal penjelajah NATO tiba di Laut Hitam yang terletak di Rusia selatan. Enam kapal perang tersebut dikirim ke Laut Hitam untuk bergabung dengan manuver gabungan Bulgaria, Rumania dan Turki dalam kerangka pasukan NATO di kawasan ini.
Seorang juru bicara NATO mengklaim bahwa manuver tersebut dilakukan berdasarkan agenda yang biasa dilakukan dan memberikan pesan perdamaian kepada sekutu NATO di kawasan. Para pejabat aliansi militer Barat itu menegaskan bahwa berbagai metode pertahanan dalam menghadapi serangan udara dan laut akan dipraktekkan dalam latihan tersebut.
Sementara itu, sebuah sumber militer-diplomatik menegaskan, menjelang penyelenggaraan manuver militer di Laut Hitam, enam kapal tempur NATO itu akan berkumpul di pelabuhan Varna Bulgaria.
Dalam sebuah pernyataan pada Rabu, NATO mengumumkan bahwa enam kapal perang dari negara-negara AS, Kanada, Jerman, Italia, Turki dan Rumania telah sampai di Laut Hitam untuk berpartisipasi dalam latihan militer gabungan.
Alexander Lukashevich, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia segera merespon kehadiran kapal-kapal perang AS di Laut Hitam yang berbatasan dengan Ukraina. Ia menegaskan, kehadiran kapal-kapal perang NATO di kawasan ini dapat menimbulkan konsekuensi serius dalam proses penyelesaikan krisis Ukraina.
Perkembangan tersebut terjadi ketika Anatoly Antonov, Wakil Menhan Rusia pada Kamis menegaskan bahwa Moskow mengundang semua negara anggota NATO untuk berpartisipasi dalam Konferensi Keamanan Rusia yang rencananya digelar pada bulan April.
Menurutnya, sebagian negara anggota NATO telah menerima undangan ini. Namun hingga sekarang belum ada undangan kepada Ukraina untuk berpartisipasi dalam konferensi keamanan tersebut.
Krisis Ukraina telah menyebabkan hubungan Rusia dan Barat memburuk dan sampai pada level terendah pasca Perang Dingin. Sementara itu, NATO dengan dalih intervensi Rusia atas krisis di Ukraina timur memperluas kehadiran pasukannya di negara-negara Eropa Timur.
Kondisi semakin memburuk setelah Uni Eropa dan AS memberlakukan beberapa putaran sanksi terhadap Rusia atas dasar tuduhan bahwa Moskow telah mengirim pasukan dan senjata kepada oposisi di Ukraina timur.
Sementara Rusia sendiri telah berulangkali membantah tudingan-tudingan tersebut, dan sebagai respon dari sanksi, negara ini juga menghentikan impor bahan-bahan pangan dari Eropa.
Manuver tersebut diselenggarakan di 12 lokasi pelatihan di wilayah-wilayah Rusia selatan, Kaukasus utara dan kawasan sekitar Laut Hitam. Luas daerah latihan militer itu juga mencakup berbagai pangkalan militer Rusia di Armenia, Abkhazia dan Ossetia Selatan serta Semenanjung Krimea. Tahun lalu, Krimea bergabung dengan Federasi Rusia, dan hal ini telah menyulut peningkatan ketegangan hubungan antara Moskow dan negara-negara Barat.
Rusia menggelar manuver akbar tersebut di tengah-tengah ketegangan hubungannya dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat atas krisis Ukraina. Anatoly Antonov, Wakil Menteri Pertahanan Rusia dalam jumpa pers baru-baru ini memperingatkan aktivitas pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di sekitar Rusia.
Manuver militer Rusia diselenggarakan bersamaan dengan persiapan pasukan NATO untuk menggelar latihan militer di Laut Hitam. Pada Rabu, enam kapal penjelajah NATO tiba di Laut Hitam yang terletak di Rusia selatan. Enam kapal perang tersebut dikirim ke Laut Hitam untuk bergabung dengan manuver gabungan Bulgaria, Rumania dan Turki dalam kerangka pasukan NATO di kawasan ini.
Seorang juru bicara NATO mengklaim bahwa manuver tersebut dilakukan berdasarkan agenda yang biasa dilakukan dan memberikan pesan perdamaian kepada sekutu NATO di kawasan. Para pejabat aliansi militer Barat itu menegaskan bahwa berbagai metode pertahanan dalam menghadapi serangan udara dan laut akan dipraktekkan dalam latihan tersebut.
Sementara itu, sebuah sumber militer-diplomatik menegaskan, menjelang penyelenggaraan manuver militer di Laut Hitam, enam kapal tempur NATO itu akan berkumpul di pelabuhan Varna Bulgaria.
Dalam sebuah pernyataan pada Rabu, NATO mengumumkan bahwa enam kapal perang dari negara-negara AS, Kanada, Jerman, Italia, Turki dan Rumania telah sampai di Laut Hitam untuk berpartisipasi dalam latihan militer gabungan.
Alexander Lukashevich, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia segera merespon kehadiran kapal-kapal perang AS di Laut Hitam yang berbatasan dengan Ukraina. Ia menegaskan, kehadiran kapal-kapal perang NATO di kawasan ini dapat menimbulkan konsekuensi serius dalam proses penyelesaikan krisis Ukraina.
Perkembangan tersebut terjadi ketika Anatoly Antonov, Wakil Menhan Rusia pada Kamis menegaskan bahwa Moskow mengundang semua negara anggota NATO untuk berpartisipasi dalam Konferensi Keamanan Rusia yang rencananya digelar pada bulan April.
Menurutnya, sebagian negara anggota NATO telah menerima undangan ini. Namun hingga sekarang belum ada undangan kepada Ukraina untuk berpartisipasi dalam konferensi keamanan tersebut.
Krisis Ukraina telah menyebabkan hubungan Rusia dan Barat memburuk dan sampai pada level terendah pasca Perang Dingin. Sementara itu, NATO dengan dalih intervensi Rusia atas krisis di Ukraina timur memperluas kehadiran pasukannya di negara-negara Eropa Timur.
Kondisi semakin memburuk setelah Uni Eropa dan AS memberlakukan beberapa putaran sanksi terhadap Rusia atas dasar tuduhan bahwa Moskow telah mengirim pasukan dan senjata kepada oposisi di Ukraina timur.
Sementara Rusia sendiri telah berulangkali membantah tudingan-tudingan tersebut, dan sebagai respon dari sanksi, negara ini juga menghentikan impor bahan-bahan pangan dari Eropa.
Friday, February 27, 2015
Parade militer Amerika dan NATO di Estonia
NARVA – Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), mengadakan parade di Kota Narva, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Estonia Selasa 24 Februari 2015. Pasukan dari berbagai negara anggota NATO bergabung dengan pasukan angkatan bersenjata Estonia ambil bagian dalam parade tersebut.
Namun, aksi NATO ini mendapat sorotan dari beberapa pihak dan diyakini sebagi unjuk kekuatan NATO kepada Rusia. Pasalnya, letak Narva hanya berjarak 200 meter dari perbatasan Rusia Penduduk Narva juga merupakan mayoritas Rusia.
“Narve merupakan bagian dari NATO seperti halnya New York atau Istanbul, dan NATO mempertahankan setiap jengkal wilayahnya,” kata Perdana Menteri Estonia Taavi Roivas di ibukota Tallin, sebagaimana dikutip International Business Times, Kamis (26/2/2015).
Estonia telah bergabung dengan NATO dan Uni Eropa pada 2004, dan bersama dengan Latvia dan Lithuania merupakan pengkritik keras kebijakan Rusia sejak negara itu lepas dari Uni Soviet pada 1991.
Subscribe to:
Posts (Atom)







