Wednesday, April 8, 2015

WHO: Korban Tewas di Yaman 643 Orang

LiputanIslam – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) merilis data baru jumlah korban tewas dalam peristiwa serangan udara Arab Saudi sekutunya terhadap Yaman yang sudah berjalan hampir tiga minggu. Lembaga yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini menyebutkan sebanyak 643 orang tewas dan 2,226 lainnya luka-luka.


“Ini hanya merupakan angka berbasis fasilitas kesehatan, dan korban diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan adanya kasus-kasus tambahan yang diverifikasi dan dilaporkan,” ungkap WHO dalam laporannya mengenai jumlah korban yang jatuh dalam kurun waktu Maret hingga 6 April, sebagaimana dilansir Naharnet.

Selasa lalu WHO melaporkan sedikitnya 540 orang tewas dan 1,700 lainnya luka-luka dalam perang Saudi cs terhadap Yaman yang dimulai sejak 26 Maret.

WHO juga melaporkan bahwa sebanyak 334,000 orang mengungsi di dalam negeri, sementara 245,00 lainnya mengungsi ke luar negeri.

“Situasi kemanusiaan sangat kritis, situasi menjadi lebih buruk akibat terputusnya saluran listrik dan air serta kelangkaan bahan bakar,” lanjut WHO.

Lembaga ini menyebutkan bahwa para pekerja dan fasilitas kesehatan juga menjadi sasaran serangan di Sanaa, ibu kota Yaman, dan Aden.

Sejak 30 Maret terdapat tiga relawan pekerja ambulan terbunuh ketika sedang menjalankan tugasnya. Akses juga masih sulit dilakukan di Yaman, di mana WHO telah menempatkan 65 personilnya. Badan ini menyatakan pihaknya sedang menanti pasokan di Dubai untuk dibawa ke Yaman secepatnya.

WHO memperkirakan Yaman membutuhkan dana sekitar $ 62 juta untuk membiayai kebutuhan kesehatan. WHO sejauh ini telah menerima sumbangan dana sebesar $ 2.7 juta dari Jepang.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras Bertemu Presiden Russai untuk Meminta Bantuan

LiputanIslam - Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras, hari Rabu (8/4), tiba di Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin, di tengah krisis yang membelit Yunani dalam penyelesaian hutang-hutangnya kepada Uni Eropa dan IMF. Demikian Russia Today melaporkan, Rabu (8/4).


Para pejabat Yunani telah menyebut Rusia sebagai alternatif sumber keuangannnya, setelah perundingannya dengan Uni Eropa dan IMF mengalami jalan terjal dan terancam kehabisan uang dalam beberapa minggu ke depan.

Kedua pemimpin diperkirakan akan mendiskusikan hubungan antara Uni Eropa dan Rusia yang mengalami titik terendah karena konflik di Ukraina. Sebelum tiba di Rusia, Tsipras mengecam sanksi ekonomi yang diterapkan AS dan Uni Eropa kepada Rusia, terkait konflik di Ukraina, sebagai “tidak berguna”.
Hal itu membuat ketua parlemen Eropa Martin Schulz, mengingatkan Tsipras untuk tidak mencampuri urusan Uni Eropa dengan Rusia.

“Yunani membutuhkan dan telah mendapatkan banyak solidaritas dari Uni Eropa. Maka kami juga meminta solidaritas dari Yunani dengan tidak mengakhiri secara sepihak kerjasama kedua pihak,” kata Schulz kepada media Jerman Muenchner Merkur.

Rusia telah menerapkan embargo produk-produk pertanian dari negara-negara Eropa barat sebagai sanksi balasan, namun Menteri Pertanian Nikolai Fyodorov mengatakan beberapa negara bisa dipertimbangkan untuk dicabut embargo tersebut, termasuk Yunani.

Yunani memiliki hubungan kultural dan historis yang erat dengan Rusia sebagai negara yang mayoritas warganya penganut Kristen Orthodok. Namun Yunani juga anggota NATO dan Uni Eropa yang tengah terlibat perselisihan dengan Rusia.

Tsipras berhasil menjadi perdana menteri dengan slogan anti-austerity dan anti-Uni Eropa dan IMF. Sejak Agustus tahun lalu Yunani belum mendapatkan ‘bantuan’ lagi dari kedua kreditor tersebut karena Yunani yang dianggap kurang bekerjasama dengan Uni Eropa dan IMF yang telah menggelontorkan sejumlah besar kredit kepada Yunani paska terjadinya krisis keuangan di negara itu tahun 2011.

Yunani dijadwalkan harus mengembalikan cicilan pinjaman sebesar €448 juta minggu ini. Namun pada hari Selasa (7/4) Yunani mengklaim pemerintah Jerman berhutang kepada Yunani senilai €279 miliar berupa ganti rugi pendudukan Jerman atas Yunani pada Perang Dunia II.

Tuesday, April 7, 2015

Penyebab Hancurnya sebuah Peradaban

Liputan Islam - Dengan berpegang pada peristiwa yang terjadi pada berbagai bangsa, baik yang kuat maupun yang lemah, baik bangsa itu beragama atau tidak, kita akan dapat memahami, bahwasanya tidak ada suatu bangsa pun yang dapat bertahan, tetap kuat serta kukuh eksistensi dan posisinya, atau tetap kedaulatan dan kekuasannya, melainkan dengan kewaspadaan dalam menjaga timbulnya sumber-sumber kerusakan
Tidak ada suatu bangsa pun menjadi lemah dan lumpuh, melainkan karena adanya malapetaka yang menimpa bangsa itu dan ditempuhnya jalan yang menjurus kepada akibat buruk yang dialaminya, Allah berfirman, “Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelummu, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah” (al-Ahzab, 62)

Kerusakan dapat masuk menembus ke dalam tubuh lapisan umat, serta mendatangkan kelemahan dari beberapa jurusan, ada enam sebab bagi keruntuhan bangsa
  1. Psikologisnya mudah jatuh terpengaruh oleh sensasi yang ditimbukan antara mereka, isu-isu serta kebatilan yang disiarkan di kalangan mereka
  1. Rusaknya persatuan di kalangan anggota umat dan tidak bersatunya mereka di sekeliling sasaran perjuangan dan tujuannya
  1. Keengganan bergerak melawan hal-hal yang diperbuat oleh generasi penerus mereka di dalam kehidupan, berupa pelanggaran, kefasikan dan dosa, sehingga wabah itu menyebarluaskan penyakit pada tubuh umat, merasuk segenap umat, jauh dari kebaikan dan kesuksesan
  1. Tertipunya mereka oleh penampilan lahiriah dari musuh-musuhnya dan keyakinan yang keliru akan adanya keikhlasan dan kejujuran di pihak musuh-musuh itu, lalu umat ini bergaul serta mengikat diri pada tali persahabatan dengan musuh-musuh itu
  1. Kekejaman hati orang-orang kaya, sehingga menghalangi hati mereka untuk berbelas kasih dalam memenuhi kebutuhan dan hajat orang-orang fakir dan miskin, kebanyakan orang kaya tidak suka mengulurkan tangan memberikan bantuan dan pertolongan bagi si fakir miskin yang sangat membutuhkannya, sehingga akibatnya, si fakir miskin berdendam hati dengan penuh permusuhan, disebabkan karena penghidupannya yang penuh penderitaan dan kesengsaraan tidak mendapat perhatian dari si kaya yang hanya bersenang-senang dalam kehidupannya yang penuh dengan kenikmatan dan kemakmuran
  1. Mentalitas kepanikan dan ketakutan terhadap kejadian buruk dan kesukaran yang dialaminya, sehingga umat kehilangan kekuatan perlawanan serta kekuatan menjaga diri, mereka menjaga lemah, jatuh menyerah di hadapan kejadian-kejadian buruk dan musibah-musibah itu, juga di hadapan musuh dan kaum yang memeranginya
Apabila kita mengenal prinsip-prinsip sunnatullah dan menelaah pula sejarah yang jujur mengungkapkan berlakunya prinsip-prinsip itu, baik yang positif, maupun yang negatif, maka kita akan menyadari benar bahwasanya wahyu Allah memelihara bangsa dan faktor-faktor hidup
Wahyu Allah tidak pernah mengejutkan manusia dengan hal-hal yang tidak termasuk sunnah Allah bagi alam ini, dan wahyu-Nya tidak pernah membebani mereka dengan kewajiban yang bukan menjadi keharusan mutlak bagi tabiat alam wujud ini, atau dengan hal-hal yang tidak pernah dialami berbagai bangsa dan berbagai zaman
Prinsip-prinsip sosial Islam sangat teliti, dan petunjuknya hanya dapat dikenali dan digapai jejaknya oleh orang-orang yang sudah sangat dalam pengetahuan dan pengalamannya dalam bidang politik, sosial dan sejarah, bahkan adakalanya untuk dapat memahaminya, kadang-kadang dituntut usaha yang sungguh-sungguh dan panjang
Dalam sejarah terungkapkan bahwa telah banyak orang yang sepanjang hidupnya menghabiskan umurnya dalam studi dan penyelidikan tentang penyakit masyarakat dan obat yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit itu
Kalau ditelaah dengan mendalam, betapa kita tidak akan kagum oleh kemampuan Nabi Muhammad saw yang telah mengajarkan prinsip-prinsip sosial yang sangat teliti serta petunjuk yang jelas dan dapat menggapai ilmu yang demikian luas dan dalam serta sempurna untuk menjangkau semua hal, baik yang lahir maupun batin, intern dan ekstern, lalu dapat mengungkapkan rahasianya dengan ungkapan yang kuat dan tepat dengn subjeknya, Maha benar Allah yang mengajarkan Nabi Muhammad saw ilmu tersebut serta mewahyukan semuanya kepadanya dengan terang, “Perkataanya tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang mengajarkan kepadanya adalah pemilik kekuatan yang dahsyat” (an-Najm, 4-5) (hd/liputanislam.com)
*Tulisan ini disadur dari buku Tafsir Al-uran jilid 1 karya Syaikh Mahmud Syaltut

Ketua MUI Tuding Yahudi Dalang di Balik Konflik Yaman

VIVA  - Ketua Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsudin, menuding kaum Yahudi sebagai pemicu perang antara Arab Saudi dengan Yaman. Menurut Din, Islam sengaja dipecah belah untuk meraup keuntungan dari hasil menjual senjata yang diproduksi negara-negara Yahudi.


"Kucuran dana akan habis untuk membeli senjata. Di sini kami melihat pihak yang punya senjata bukanlah umat muslim tapi kaum Yahudi," kata Din, Selasa 7 April 2015.

Din mengatakan, konflik-konflik di timur tengah, kata Din, kemungkinan sengaja diciptakan oleh pihak yang ingin menguasai kekayaan alam negara Islam. "Negara -negara Islam diadu domba," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah itu.

Din menyatakan, terkait pertempuran Arab Saudi dengan Yaman, MUI memilih bersikap netral. "Sesama umat Muslim jangan sampai saling membunuh. Tidak boleh lagi ada gaya kekerasan untuk menjaga kedamaian," ujar dia

Amerika Serikat tetap mendukung Terkuat Israel

Liputan6 - Presiden Barack Obama menegaskan kepada Israel bahwa Amerika Serikat akan tetap menjadi pendukung terkuatnya. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran negeri zionis terkait kesepakatan nuklir Iran pekan lalu.


Sejumlah pihak menuding Obama terlalu memberikan kelonggaran kepada Iran dan membahayakan keamanan Israel. Tetapi dalam sebuah wawancara dengan the New York Times, secara tegas Obama menyangkal. Dia mengatakan Iran dan negara di kawasan tersebut harus memahami bahwa AS berada di belakang Israel.

"Bagi siapapun mengganggu Israel, Amerika akan selalu membela (sekutunya)," ujar Obama, seperti dimuat BBC, Selasa (7/4/2015).

Presiden ke-44 AS tersebut mengatakan dirinya memahami kekhawatiran yang disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengecam keras kesepakatan nuklir Iran. Dalam kesepatakan itu, sanksi untuk Iran atas nuklir dicabut lantaran pihak Teheran diyakini mengembangkan uranium bukan untuk membuat senjata pemusnah massal.

Obama mengaku sikap Israel yang mengkhawatirkan ancaman Iran atas pengembangan nuklir merupakan hal yang wajar. Tapi dia kembali menekankan bahwa telah terjadi "miskomunikasi" antara dirinya dan pihak Israel serta kubu Partai Republik AS sebagai oposisi.

Lebih jauh Obama menegaskan, kesepakatan dengan Iran ini merupakan awal dari persetujuan secara keseluruhan yang dijadwalkan akan disepakati sebelum tanggal 30 Juni.

"Ini merupakan momen berharga sebagai langkah untuk mencegah penyebaran senjata nuklir di Timur Tengah," kata Obama.

Pada 31 Maret 2015 lalu,  negara yang tergabung dalam P5+1 -- Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China, dan Rusia, ditambah Jerman menggelar pertemuan dengan Iran di Hotel Beau-Rivage Palace.

Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan, yakni Iran diperbolehkan mengembangkan nuklir namun harus mengurangi kapasitas pengayaan uraniumnya. Dan negara Barat akan mengurangi sanksi internasional kepada Iran yang selama 12 tahun belakangan ini menjadi pukulan berat bagi perekonomian negara tersebut.

Amerika Merasa Terganggu dengan Sepak Terjang China

Kepala Pentagon, Ashton Carter
Sindonews - Amerika Serikat merasa terganggu dan prihatin dengan sepak terjang China dalam beberapa masalah. Menurut pentagon, AS dan China memang bukan sekutu, tapi keduanya tidak harus bermusuhan.

Keprihatinan AS dengan sejumlah perilaku China itu diungkapkan Menteri Pertahanan AS atau Kepala Pentagon, Ashton Carter, saat jadi pembicara di sebuah acara di Arizona State University, Senin waktu AS.



Carter mengatakan, kebijakan Presiden AS, Barack Obama, tetap berkomitmen untuk membantu menjaga perdamaian di wilayah Asia.

Namun, kata Carter, Washington merasa terganggu oleh sepak terjang China dalam beberapa masalah, seperti kebijakan anggaran pertahanan China yang melonjak, cyber space dan sengketa wilayah regional (sengketa maritim).

”Kami dan banyak negara lain sangat prihatin tentang beberapa kegiatan yang dilakukan China,” kata Carter, seperti dikutip AFP, Selasa (7/4/2015). "Anggaran buram pertahanan, kiprahnya di dunia maya, dan perilakunya di berbagai tempat seperti di Laut China Selatan dan Laut China Timur telah memicu sejumlah pertanyaan serius.”

Masih menurut Carter, eskalasi ketegangan antara AS dan China tidak perlu terjadi dan harus dihindari. ”AS dan China bukan sekutu, tapi kita tidak harus bermusuhan. Sebuah konstruktif dari hubungan AS yang kuat, sangat penting untuk keamanan dan kemakmuran global,” imbuh Carter.

Dalam 24 Jam, 140 Orang Tewas dalam Perang Yaman

Sindonews - Dalam tempo 24 jam, sekitar 140 orang tewas dalam perang sengit di Aden, Yaman. Perang itu melibatkan pasukan Houthi dan pasukan loyalis Presiden Yaman, Abed Rabbo Mansour Hadi.

Akibat perang yang terus berkecamuk di Aden tersebut, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menunda pengiriman bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan rakyat Yaman.

Para pekerja bantuan telah memperingatkan situasi di wilayah Yaman tersebut sudah mengerikan. Selain perang sipil, agresi militer Arab Saudi dan koalisi Teluk terhadap milisi Houthi ikut memperparah situasi.

Para pejabat di Yaman mengatakan, setidaknya 19 milisi Houthi dan 15 milisi pro- Presiden Hadi tewas semalam di Kota Daleh, sebelah utara dari pusat Kota Aden. Tujuh orang lainnya tewas di Provinsi Abyan selatan.

Sedangkan serangan udara koalisi Teluk berlangsung di pangkalan udara Al-Anad, di dekat Abyan serta di pangkalan militer di Lahj. Dalam agresi itu, sepuluh milisi dilaporkan tewas.

Secara terpisah, juru bicara koalisi Teluk Brigadir Jenderal Ahmed Al-Asseri, mengatakan, prioritas misi dari koalisi Teluk adalah melindungi rakyat sipil Yaman dan warga sipil asing yang ada di negara itu. (Baca: Saudi: Koalisi Teluk Tak Berniat Perang di Yaman)

”Keamanan warga Yaman tetap prioritas utama kami,” katanya, seperti dikutip Arab News, Selasa (7/4/2015). “Milisi Houthi masih menunjukkan tindakan bermusuhan terhadap penduduk dan warga, yang bukan sasaran militer,” lanjut dia.