Oleh Sri Bintang Pamungkas
Indonesian Free Press - Di Kabinet Pak Harto, keturunan Arab tidak pernah absen. Cinanya malah tidak pernah ada, selain Bob Hasan pada beberepa bulan tarakhir ia mangkat; dia pun Cina Islam yang isterinya Pribumi.
Sekarang ditambah Enggar, Lo Yu Eng, Cina Cirebon yang berhasil menjadikan Cina-cina lain, dari Kristen Karismatik – satu armada dengan Ahok – menjadi anggota DPRD Cirebon. Termasuk Andy Lie yang vocal Anti Islam; antara lain menolak subsidi untuk skolah-sekolah dan guru-guru Islam.
Si Lo dan si Lie ini ditugasi James Riady dan Mafia-mafia Cina untuk mengolah Cirebon, Indramayu, Balongan dengan migasnya, dan sekitarnya menjadi kota-kota Cina.
LYE, adalah mantan pengembang dan ketua REI. Posisinya di Kemperdag cuma “asal Cina”, seperti LK Pangestu dan Tom Limbong. Kecuali anak pedagang klontong, ilmu dagang tidak penting; kan perdagangan sudah dkuasai Cina-cina. Limbong sendiri perlu membesarkan investasi RRC lewat BKPM.
RR dianggap membahayakn pulau-pulau Reklamasi; mestinya dia keluarkan SK yang melarang semua pulau, tidak pulau G saja. LBP, sekarang dikenal sebagai Mr Lie, akan melindungi Ahok dan pulau-pulau Reklamasi.
SMI, juga dikenal sebagai Madame Sie, konon pencipta Tax Amnesty. Kalo berhasil 4000 trilyun masuk RI, dia ikut dukung Mafia-mafia Cina borong semua tanah di Jawa. Bisa juga Cina cina itu jadi takut membawa uangnya masuk. Atau, SMI cuma sekedar unjuk muka, agar masyarakat ingat lagi, untuk modal nyapres. SMI juga berpengalaman membantu Cina-cina mengemplang pajak. Yang menarik, dulu SMI atasan Darmin; sekarang menjadi bawahnnya. SMI bertemu lagi dengan Wapres Kalla yang pernah dibohonginya dalam Century Gate.
Kalo KPK menolak melanjutkan periksa SMI dalam Skandal Century, maka SMI akan sesak napas didemo lg! Juga Wiranto harus dikejar karena membunuh 4 jiwa mahasiswa Trisakti, 16 jiwa di Semanggi-1 dan belasan Pamswakarsa.(bataranews)
Friday, August 19, 2016
Thursday, August 18, 2016
Ke Iran, Erdogan Bentuk Koalisi Turki-Iran-Rusia
Iran Juga Berperan Selamatkan Erdogan dari Kudeta
Indonesian Free Press -- Setelah melakukan kunjungan penting ke Rusia 8 Agustus lalu, Presiden Turki Reccep Erdogan akan melakukan kunjungan ke Iran, yang oleh media-media Arab disebut-sebut sebagai kunjungan resmi peresmian koalisi Turki-Iran-Rusia. Sementara Iran disebut-sebut telah memberikan dukungan kepada Erdogan pada detik-detik terjadinya kudeta.
"Berdasarkan laporan-laporan yang menyebutkan Erdogan pergi ke Iran pada malam terjadinya kudeta (15 Juli lalu) dan kemudian kembali ke Turki setelah kudeta gagal, kunjungan Presiden Turki ke Teheran adalah sangat penting nilainya dalam pembentukan hubungan baru antara Teheran dan Ankara,” tulis media Arab al-Hayat dalam laporan terbarunya, seperti dilansir FARS News, kemarin (18 Agustus).
Al-Hayat mengutip sejumlah sumber yang menyebutkan bahwa kunjungan Erdogan ke Iran akan dilakukan dalam beberapa minggu ini, sementara media-media lain menyebut kunjungan itu akan dilakukan minggu depan.
Sumber-sumber diplomat mengatakan kepada al-Hayat bahwa pertemuan tiga negara (Turki, Iran, Rusia) akan digelar dengan fokus mengakhiri konflik Suriah. Salah satu tujuan penting kunjungan Erdogan juga berkaitan dengan isyu konflik Suriah.
Sementara media Arab lainnya yang berbasis di London, al-Arab, menyebut kunjungan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif ke Turki baru-baru ini juga berkaitan dengan rencana ini, yang disampaikan Erdogan dalam kunjungannya ke Rusia baru-baru ini. Menurut al-Arab, koalisi Iran-Turki-Rusia dibentuk untuk menghadapi koalisi negara-negara barat.
"Kunjungan Zarif ke Turki menunjukkan perkembangan cepat dan penting yang tengah terbentuk di kawasan, yang akan memarginalkan negara-negara Arab," tulis FARS News.
Al-Arab mengutip pernyataan sejumlah pakar politik, yang menyebutkan bahwa langkah-langkah negara-negara Arab di Suriah telah mengalami kegagalan yang menyakitkan.
Ketika Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengumumkan rencananya untuk meningkatkan hubungan dengan Suriah, para pejabat Iran melihat hal itu sebagai langkah besar perubahan kebijakan Turki di Suriah dan menjalin koalisi baru dengan Iran dan Rusia, tulis FARS News.
Sementara itu, mengutip laporan FARS News, media independen Amerika, Veterans Today melaporkan bahwa para pejabat Iran memegang peran penting dengan mendukung Erdogan pada saat terjadinya kudeta.
Seperti dilaporkan sejumlah media, Kemenlu Iran adalah yang pertama mengeluarkan kecamannya terhadap kudeta gagal tersebut, hanya beberapa jam setelahnya.
"Sejumlah pejabat Iran melakukan kontak terus-menerus dengan Presiden Erdogan dan para menterinya sepanjang hari Jumat (15 Juli 2016, malam terjadinya kudeta). Pada Sabtu dinihari (16 Juli)
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif terlibat pembicaraan telepon dengan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu, yang tengah terancam oleh kudeta militer. Sementara itu Ali Shamkhani, Ketua Dewan Keamanan
Nasional Iran (SNSC), terlibat pembicaraan dengan para pejabat keamanan Turki di Ankara. Pada saat yang sama Jendral Qassem Soleimani, komandan Tentara Pengawal Revolusi Iran, sibuk melakukan evaluasi terhadadap berbagai kemungkinan yang timbul akibat kudeta," tulis media Turki yang berbasis di Amerika, Al-Monitor, seperti dikutip Veterans Today.
“Bukanlah rahasia lagi bahwa Zarif, Shamkhani dan Soleimani mengeksekusi keputusan-keputusan penting. Seluruh regim Iran sangat prihatin dengan kudeta di Turki. Turki adalah negara tetangga. Presiden Erdogan dan pemerintahannya adalah partner kuat Iran. Negara-negara kami menjalin persaudaraan yang kuat, sehingga inilah hal yang bisa kami lakukan untuk menunjukkan solidaritas dan menawarkan bantuan yang dibutuhkan pada masa-masa kritis," kata seorang pejabat Iran seperti ditulis Al Monitor.
Para pajabat Iran, sebut laporan itu, melihat apa yang tejadi di Turki mirip dengan kudeta militer-CIA di Iran terhadap Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh tahun 1953. Kala itu para pendukung Mosaddegh awalnya berhasil menggagalkan kudeta dengan turun ke jalanan. Namun, ketika mereka lengah dan kembali ke rumah, militer kembali melakukan kudeta susulan dan berhasil menggulingkan Mosaddegh. Itulah sebabnya para pejabat Iran meminta Erdogan untuk menyerukan para pendukungnya terus berada di jalanan hingga kondisi benar-benar bisa dikendalikan.
"Apa yang kami ketahui adalah kudeta ini dijalankan oleh tangan-tangan asing. Kami juga mengalaminya di masa lalu, dan karena Erdogan ingin melakukan hal yang baik di kawasan (Suriah), mereka ingin ia ditumbangkan,” kata pejabat Iran.
“Ada sebuah pesan yang disampaikan kepada para pejabat Turki: jangan tinggalkan jalanan. Kudeta bisa dilakukan beberapa kali seperti terjadi di Iran tahun 1953. Ketika kudeta pertama gagal, mereka telah menyiapkan kudeta lanjutannya, dan berhasil,” tambahnya.(ca)
Indonesian Free Press -- Setelah melakukan kunjungan penting ke Rusia 8 Agustus lalu, Presiden Turki Reccep Erdogan akan melakukan kunjungan ke Iran, yang oleh media-media Arab disebut-sebut sebagai kunjungan resmi peresmian koalisi Turki-Iran-Rusia. Sementara Iran disebut-sebut telah memberikan dukungan kepada Erdogan pada detik-detik terjadinya kudeta.
"Berdasarkan laporan-laporan yang menyebutkan Erdogan pergi ke Iran pada malam terjadinya kudeta (15 Juli lalu) dan kemudian kembali ke Turki setelah kudeta gagal, kunjungan Presiden Turki ke Teheran adalah sangat penting nilainya dalam pembentukan hubungan baru antara Teheran dan Ankara,” tulis media Arab al-Hayat dalam laporan terbarunya, seperti dilansir FARS News, kemarin (18 Agustus).
Al-Hayat mengutip sejumlah sumber yang menyebutkan bahwa kunjungan Erdogan ke Iran akan dilakukan dalam beberapa minggu ini, sementara media-media lain menyebut kunjungan itu akan dilakukan minggu depan.
Sumber-sumber diplomat mengatakan kepada al-Hayat bahwa pertemuan tiga negara (Turki, Iran, Rusia) akan digelar dengan fokus mengakhiri konflik Suriah. Salah satu tujuan penting kunjungan Erdogan juga berkaitan dengan isyu konflik Suriah.
Sementara media Arab lainnya yang berbasis di London, al-Arab, menyebut kunjungan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif ke Turki baru-baru ini juga berkaitan dengan rencana ini, yang disampaikan Erdogan dalam kunjungannya ke Rusia baru-baru ini. Menurut al-Arab, koalisi Iran-Turki-Rusia dibentuk untuk menghadapi koalisi negara-negara barat.
"Kunjungan Zarif ke Turki menunjukkan perkembangan cepat dan penting yang tengah terbentuk di kawasan, yang akan memarginalkan negara-negara Arab," tulis FARS News.
Al-Arab mengutip pernyataan sejumlah pakar politik, yang menyebutkan bahwa langkah-langkah negara-negara Arab di Suriah telah mengalami kegagalan yang menyakitkan.
Ketika Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengumumkan rencananya untuk meningkatkan hubungan dengan Suriah, para pejabat Iran melihat hal itu sebagai langkah besar perubahan kebijakan Turki di Suriah dan menjalin koalisi baru dengan Iran dan Rusia, tulis FARS News.
Sementara itu, mengutip laporan FARS News, media independen Amerika, Veterans Today melaporkan bahwa para pejabat Iran memegang peran penting dengan mendukung Erdogan pada saat terjadinya kudeta.
Seperti dilaporkan sejumlah media, Kemenlu Iran adalah yang pertama mengeluarkan kecamannya terhadap kudeta gagal tersebut, hanya beberapa jam setelahnya.
"Sejumlah pejabat Iran melakukan kontak terus-menerus dengan Presiden Erdogan dan para menterinya sepanjang hari Jumat (15 Juli 2016, malam terjadinya kudeta). Pada Sabtu dinihari (16 Juli)
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif terlibat pembicaraan telepon dengan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu, yang tengah terancam oleh kudeta militer. Sementara itu Ali Shamkhani, Ketua Dewan Keamanan
Nasional Iran (SNSC), terlibat pembicaraan dengan para pejabat keamanan Turki di Ankara. Pada saat yang sama Jendral Qassem Soleimani, komandan Tentara Pengawal Revolusi Iran, sibuk melakukan evaluasi terhadadap berbagai kemungkinan yang timbul akibat kudeta," tulis media Turki yang berbasis di Amerika, Al-Monitor, seperti dikutip Veterans Today.
“Bukanlah rahasia lagi bahwa Zarif, Shamkhani dan Soleimani mengeksekusi keputusan-keputusan penting. Seluruh regim Iran sangat prihatin dengan kudeta di Turki. Turki adalah negara tetangga. Presiden Erdogan dan pemerintahannya adalah partner kuat Iran. Negara-negara kami menjalin persaudaraan yang kuat, sehingga inilah hal yang bisa kami lakukan untuk menunjukkan solidaritas dan menawarkan bantuan yang dibutuhkan pada masa-masa kritis," kata seorang pejabat Iran seperti ditulis Al Monitor.
Para pajabat Iran, sebut laporan itu, melihat apa yang tejadi di Turki mirip dengan kudeta militer-CIA di Iran terhadap Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh tahun 1953. Kala itu para pendukung Mosaddegh awalnya berhasil menggagalkan kudeta dengan turun ke jalanan. Namun, ketika mereka lengah dan kembali ke rumah, militer kembali melakukan kudeta susulan dan berhasil menggulingkan Mosaddegh. Itulah sebabnya para pejabat Iran meminta Erdogan untuk menyerukan para pendukungnya terus berada di jalanan hingga kondisi benar-benar bisa dikendalikan.
"Apa yang kami ketahui adalah kudeta ini dijalankan oleh tangan-tangan asing. Kami juga mengalaminya di masa lalu, dan karena Erdogan ingin melakukan hal yang baik di kawasan (Suriah), mereka ingin ia ditumbangkan,” kata pejabat Iran.
“Ada sebuah pesan yang disampaikan kepada para pejabat Turki: jangan tinggalkan jalanan. Kudeta bisa dilakukan beberapa kali seperti terjadi di Iran tahun 1953. Ketika kudeta pertama gagal, mereka telah menyiapkan kudeta lanjutannya, dan berhasil,” tambahnya.(ca)
Media-Media Barat dan Arab: Rusia Selamatkan Erdogan dari Kudeta
Indonesian Free Press -- Media-media barat dan Arab akhirnya membenarkan laporan media Iran, FARS News, tentang pemberitahuan rencana kudeta oleh Rusia kepada Presiden Turki Tayyep Erdogan. Hal inilah yang telah menyelamatkan nyawa Erdogan hingga ia bisa menguasai keadaan paska kudeta tanggal 15 Juli lalu.
Seperti dilaporkan Veterans Today, kemarin (17 Agustus), Pimpinan Redaksi media Arab Rai Alyoum, Abdel Bari Atwan, dalam wawancara dengan media Rusia Russia Today, mengatakan:
“Inteligen Rusia berhasil mengetahui rencana kudeta lebih dahulu dari siapapun, dan Presiden Rusia memberitahukan hal ini melalui telepon kepada Presiden Turki.”
“Kami memperoleh informasi penting ini dari beberapa sumber, bahwa inteligen Rusia berhasil mendeteksi sejumlah langkah tidak wajar militer Turki dari pangkalannya di Tartus, Suriah,” tambahnya.
Hal inilah, menurut Atwan, yang mengakibatkan Erdogan berubah sikap dalam masalah Suriah dengan mendekati Rusia dan Iran.
Hal senada dikatakan Robert Fisk, wartawan senior Inggris, dalam tulisan terbarunya di The INdependent, Selasa (16 Agustus).
"Rusia dan Iran benar telah memainkan peran inteligen untuk memperingatkan Erdogan tentang rencana kudeta terhadapnya," tulis Fisk di The Independent.
"Orang-orang Arab itu telah diberitahu oleh mitra-mitra Rusianya bahwa Putin, telah mengirimkan pesan pribadi kepada Erdogan setelah mengetahui rencana kudeta dari komunikasi militer Turki, yang ditangkap dan dikumpulkan oleh para teknisi mereka di pangkalan udara di Lattakia, Suriah," tulis Fisk.
"Orang-orang Iran, yang akan senang jika melihat Turki mengalihkan dukungan dari musuh-musuh Sunninya di Suriah, juga memberitahukan Erdogan tentang rencana kudeta itu,” tambah Fisk.
Dalam laporannya bulan lalu, FARS News mengutip sejumlah sumber di Ankara menyebutkan bahwa tentara Rusia di wilayah itu telah berhasil meretas pesan-pesan radio militer Turki yang menunjukkan bahwa militer Turki tengah bersiap melancarkan kudeta. Di antara rencana kudeta itu adalah pengiriman pasukan lintas udara ke tempat peristirahatan Erdogan dengan missi menangkap atau membunuh Erdogan. Seperti diketahui, Erdogan meninggalkan tempat peristirahatannya di Marmaris hanya beberapa puluh menit sebelum kedatangan pasukan yang hendak menangkapnya.
Meski tidak disebutkan bagaimana Rusia mendapatkan informasi penting itu, pangkalan militer Rusia di Latakia dilengkapi dengan peralatan elektronik canggih yang mampu menangkap semua komunikasi di kawasan Turki dan Suriah, yang digunakan Rusia dalam misi anti-terorisme di Suriah.(ca)
Seperti dilaporkan Veterans Today, kemarin (17 Agustus), Pimpinan Redaksi media Arab Rai Alyoum, Abdel Bari Atwan, dalam wawancara dengan media Rusia Russia Today, mengatakan:
“Inteligen Rusia berhasil mengetahui rencana kudeta lebih dahulu dari siapapun, dan Presiden Rusia memberitahukan hal ini melalui telepon kepada Presiden Turki.”
“Kami memperoleh informasi penting ini dari beberapa sumber, bahwa inteligen Rusia berhasil mendeteksi sejumlah langkah tidak wajar militer Turki dari pangkalannya di Tartus, Suriah,” tambahnya.
Hal inilah, menurut Atwan, yang mengakibatkan Erdogan berubah sikap dalam masalah Suriah dengan mendekati Rusia dan Iran.
Hal senada dikatakan Robert Fisk, wartawan senior Inggris, dalam tulisan terbarunya di The INdependent, Selasa (16 Agustus).
"Rusia dan Iran benar telah memainkan peran inteligen untuk memperingatkan Erdogan tentang rencana kudeta terhadapnya," tulis Fisk di The Independent.
"Orang-orang Arab itu telah diberitahu oleh mitra-mitra Rusianya bahwa Putin, telah mengirimkan pesan pribadi kepada Erdogan setelah mengetahui rencana kudeta dari komunikasi militer Turki, yang ditangkap dan dikumpulkan oleh para teknisi mereka di pangkalan udara di Lattakia, Suriah," tulis Fisk.
"Orang-orang Iran, yang akan senang jika melihat Turki mengalihkan dukungan dari musuh-musuh Sunninya di Suriah, juga memberitahukan Erdogan tentang rencana kudeta itu,” tambah Fisk.
Dalam laporannya bulan lalu, FARS News mengutip sejumlah sumber di Ankara menyebutkan bahwa tentara Rusia di wilayah itu telah berhasil meretas pesan-pesan radio militer Turki yang menunjukkan bahwa militer Turki tengah bersiap melancarkan kudeta. Di antara rencana kudeta itu adalah pengiriman pasukan lintas udara ke tempat peristirahatan Erdogan dengan missi menangkap atau membunuh Erdogan. Seperti diketahui, Erdogan meninggalkan tempat peristirahatannya di Marmaris hanya beberapa puluh menit sebelum kedatangan pasukan yang hendak menangkapnya.
Meski tidak disebutkan bagaimana Rusia mendapatkan informasi penting itu, pangkalan militer Rusia di Latakia dilengkapi dengan peralatan elektronik canggih yang mampu menangkap semua komunikasi di kawasan Turki dan Suriah, yang digunakan Rusia dalam misi anti-terorisme di Suriah.(ca)
Tuesday, August 16, 2016
Rusia Gunakan Iran sebagai Basis Serangan ke Suriah
Indonesian Free Press -- Rusia untuk pertama kalinya menggunakan negara di luar Suriah sebagai basis serangan terhadap pemberontak Suriah. Pada hari Selasa (16 Agustus), sejumlah pesawat tempur SU-34 dan pembom strategis TU-22M3 tinggal landas dari pangkalan udara di Iran dalam misi serangan udara di wilayah Suriah.
Seperti laporan Associated Press pada hari yang sama, Kementrian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa pesawat-pesawat tersebut melancarkan serangan di wilayah Aleppo, Deir Azzour dan Idlib. Misi tersebut berhasil menghancurkan lima gudang senjata besar, kamp-kamp latihan dan tiga pos komando pemberontak Suriah.
Associated Press tidak menyebutkan dari pangkalan udara mana pesawat-pesawat Rusia itu tinggal landas. Namun kantor berita Rusia Sputnik News menyebutkan pangkalan udara itu berada di wilayah Hamadan. Ini merupakan perkembangan yang menarik, menunjukkan semakin eratnya kerjasama Iran dan Rusia sekaligus menunjukkan pengaruh Rusia yang semakin dominan di Timur Tengah.
Sputnik News menyebutkan keinginan Rusia untuk memiliki pangkalan udara permanen di Iran. Disebutkan dalam laporan itu bahwa para politisi Rusia tengah berusaha meratifikasi perjanjian dengan Iran bagi penempatan kekuatan udara Rusia di Hamadan.
"Sama dengan ratifikasi perjanjian dengan Suriah bagi penempatan kekuatan udara kita, ratifikasi dengan Iran mungkin diperlukan. Dewan Federasi saya rasa siap untuk membuat keputusan ini," kata Senator Viktor Ozerov kepada media Rusia RIA Novosti.
Minggu lalu Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim surat kepada parlemen bagi ratifikasi perjanjian dengan Suriah bagi penggelaran kekuatan udara di negara itu. Rusia dikabarkan ingin meningkatkan status pangkalan udaranya di Suriah menjadi pangkalan yang lebih besar dan representatif.
Kapal Perang Rusia Serang Pemberontak di Aleppo
Kantor berita Iran Fars News, hari Senin (15 Agustus) melaporkan bahwa kapal-kapal perang Rusia melancarkan serangan terhadap pemberontak Suriah di Aleppo dengan menggunakan rudal-rudal jelajah.
"Kekuatan laut Rusia di Laut Tengah menyerang para teroris yang berada di akademi militer di Aleppo," tulis laporan itu.
Mengutip keterangan pejabat militer, ini adalah pertama kalinya kapal-kapal perang Rusia melancarkan serangan rudal jelajah ke wilayah Aleppo. Namun belum ada laporan tentang dampak dari serangan ini.
Sementara itu pasukan Suriah dan sekutu-sekutunya berhasil mengepung kompleks akademi militer yang direbut pemberontak dalam upaya mereka untuk memecahkan kepungan pasukan Suriah terhadap para pemberontak yang berada di wilayah timur Aleppo.
"Para teroris kelompok Jeish al-Fatah telah terjebak di kompleks akademi militer tanpa jalan keluar. Lebih daria 15 kendaraan militer kelompok ini sejauh ini berhasil dihancurkan dengan serangan udara maupun artileri,” tulis laporan itu.
"Pasukan Suriah telah merebut kembali empat gedung di akademi militer. 35 anggota Jeish al-Fatah telah tewas dalam pertempuran di antara Proyek 1070 dan Sekolah al-Hikmah,” tambah laporan ini.(ca)
Seperti laporan Associated Press pada hari yang sama, Kementrian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa pesawat-pesawat tersebut melancarkan serangan di wilayah Aleppo, Deir Azzour dan Idlib. Misi tersebut berhasil menghancurkan lima gudang senjata besar, kamp-kamp latihan dan tiga pos komando pemberontak Suriah.
Associated Press tidak menyebutkan dari pangkalan udara mana pesawat-pesawat Rusia itu tinggal landas. Namun kantor berita Rusia Sputnik News menyebutkan pangkalan udara itu berada di wilayah Hamadan. Ini merupakan perkembangan yang menarik, menunjukkan semakin eratnya kerjasama Iran dan Rusia sekaligus menunjukkan pengaruh Rusia yang semakin dominan di Timur Tengah.
Sputnik News menyebutkan keinginan Rusia untuk memiliki pangkalan udara permanen di Iran. Disebutkan dalam laporan itu bahwa para politisi Rusia tengah berusaha meratifikasi perjanjian dengan Iran bagi penempatan kekuatan udara Rusia di Hamadan.
"Sama dengan ratifikasi perjanjian dengan Suriah bagi penempatan kekuatan udara kita, ratifikasi dengan Iran mungkin diperlukan. Dewan Federasi saya rasa siap untuk membuat keputusan ini," kata Senator Viktor Ozerov kepada media Rusia RIA Novosti.
Minggu lalu Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim surat kepada parlemen bagi ratifikasi perjanjian dengan Suriah bagi penggelaran kekuatan udara di negara itu. Rusia dikabarkan ingin meningkatkan status pangkalan udaranya di Suriah menjadi pangkalan yang lebih besar dan representatif.
Kapal Perang Rusia Serang Pemberontak di Aleppo
Kantor berita Iran Fars News, hari Senin (15 Agustus) melaporkan bahwa kapal-kapal perang Rusia melancarkan serangan terhadap pemberontak Suriah di Aleppo dengan menggunakan rudal-rudal jelajah.
"Kekuatan laut Rusia di Laut Tengah menyerang para teroris yang berada di akademi militer di Aleppo," tulis laporan itu.
Mengutip keterangan pejabat militer, ini adalah pertama kalinya kapal-kapal perang Rusia melancarkan serangan rudal jelajah ke wilayah Aleppo. Namun belum ada laporan tentang dampak dari serangan ini.
Sementara itu pasukan Suriah dan sekutu-sekutunya berhasil mengepung kompleks akademi militer yang direbut pemberontak dalam upaya mereka untuk memecahkan kepungan pasukan Suriah terhadap para pemberontak yang berada di wilayah timur Aleppo.
"Para teroris kelompok Jeish al-Fatah telah terjebak di kompleks akademi militer tanpa jalan keluar. Lebih daria 15 kendaraan militer kelompok ini sejauh ini berhasil dihancurkan dengan serangan udara maupun artileri,” tulis laporan itu.
"Pasukan Suriah telah merebut kembali empat gedung di akademi militer. 35 anggota Jeish al-Fatah telah tewas dalam pertempuran di antara Proyek 1070 dan Sekolah al-Hikmah,” tambah laporan ini.(ca)
KBRI Damaskus Partisipasi Hijaukan Kembali Suriah
Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Damaskus, Suriah, berusaha untuk membantu menghijaukan kembali Suriah. Salah satu caranya dengan melakukan penanaman kembali hutan persahabatan Indonesia-Suriah yang berada di Damaskus.
"Dalam rangka peringatan hubungan diplomatik Indonesia-Suriah ke-69 dan peringatan Kemerdekaan RI ke-71, KBRI Damaskus pada hari Minggu, 14 Agustus 2016 menyelenggarakan acara Penanaman Kembali Hutan Persahabatan Indonesia-Suriah yang berlokasi di Kota Dimas, Provinsi Damascus Countryside (DCS), Suriah," kata KBRI Suriah dalam siaran pers yang diterima Sindonews pada Senin (15/8).
Menurut KBRI Damaskus, acara itu dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harjanto, Gubernur DCS Ir. Ala Ibrahim, Wakil Gubernur DSC Ratib Adas, Walikota Dimas, dan diikuti oleh sekitar 150 pemuda Indonesia dan Suriah.
Dalam sambutannya, Djoko menegaskan, bahwa hutan persahabatan ini pertama kali diresmikan pada tahun 1988 dan KBRI Damaskus terakhir kali menanam/menyiram hutan persahabatan tersebut pada tahun 1996. Selama 20 tahun terbengkalai, hutan ini menjadi tidak terawat dan banyak pohonnya yang hilang atau mati.
Dalam sambutannya, Djoko mengutip hadits Nabi yang berbunyi, "Bahwa tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, maka dengan tanaman itu ia telah bersedekah.”
Dia juga menekankan, dengan semangat meneguhkan kembali persahabatan di tengah krisis berkepanjangan. "KBRI Damaskus mengabadikan simbol persahabatan Indonesia-Suriah dalam bentuk Prasasti Hutan Persahabatan Indonesia-Suriah," sambungnya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Gubernur DCS menyambut baik acara penanaman kembali hutan persahabatan yang menjadi simbol persahabatan abadi kedua Negara dan terus berkembang di masa mendatang.
Dalam acara penanamam itu, KBRI Damaskus khusus mendatangkan Pohon beringin dari Indonesia sebagai simbol persatuan dalam Pancasila. Sekitar 150 pemuda dari Indonesia dan Suriah menanam bersama-sama sebanyak 100 bibit pohon pinus di lahan hutan persahabatan Indonesia-Suriah.
Salah satu peserta asal Suriah, Nagham Meqari, mengutarakan antusiasmenya mengikuti penanaman hutan persahabatan ini.
“Saya mewakili teman-teman salut dengan kegigihan KBRI Damaskus untuk terus menyambungkan persahabatan antara pemuda Suriah dengan Indonesia. Saya senang bisa bertemu dengan teman-teman baru Indonesia pada acara penanaman hutan ini,” ucap Meqari.
Indonesia sendiri adalah salah satu dari sedikit negara yang masih tetap membuka misi diplomatiknya di tengah gejolak konflik Suriah dengan kepala perwakilan seorang duta besar. Dengan penanaman kembali hutan persahabatan ini semakin meneguhkan hubungan persahabatan kedua negara, mengingat Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki hutan persahabatan yang aktif dengan Suriah hingga saat ini. - Sindo
"Dalam rangka peringatan hubungan diplomatik Indonesia-Suriah ke-69 dan peringatan Kemerdekaan RI ke-71, KBRI Damaskus pada hari Minggu, 14 Agustus 2016 menyelenggarakan acara Penanaman Kembali Hutan Persahabatan Indonesia-Suriah yang berlokasi di Kota Dimas, Provinsi Damascus Countryside (DCS), Suriah," kata KBRI Suriah dalam siaran pers yang diterima Sindonews pada Senin (15/8).
Menurut KBRI Damaskus, acara itu dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harjanto, Gubernur DCS Ir. Ala Ibrahim, Wakil Gubernur DSC Ratib Adas, Walikota Dimas, dan diikuti oleh sekitar 150 pemuda Indonesia dan Suriah.
Dalam sambutannya, Djoko menegaskan, bahwa hutan persahabatan ini pertama kali diresmikan pada tahun 1988 dan KBRI Damaskus terakhir kali menanam/menyiram hutan persahabatan tersebut pada tahun 1996. Selama 20 tahun terbengkalai, hutan ini menjadi tidak terawat dan banyak pohonnya yang hilang atau mati.
Dalam sambutannya, Djoko mengutip hadits Nabi yang berbunyi, "Bahwa tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, maka dengan tanaman itu ia telah bersedekah.”
Dia juga menekankan, dengan semangat meneguhkan kembali persahabatan di tengah krisis berkepanjangan. "KBRI Damaskus mengabadikan simbol persahabatan Indonesia-Suriah dalam bentuk Prasasti Hutan Persahabatan Indonesia-Suriah," sambungnya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Gubernur DCS menyambut baik acara penanaman kembali hutan persahabatan yang menjadi simbol persahabatan abadi kedua Negara dan terus berkembang di masa mendatang.
Dalam acara penanamam itu, KBRI Damaskus khusus mendatangkan Pohon beringin dari Indonesia sebagai simbol persatuan dalam Pancasila. Sekitar 150 pemuda dari Indonesia dan Suriah menanam bersama-sama sebanyak 100 bibit pohon pinus di lahan hutan persahabatan Indonesia-Suriah.
Salah satu peserta asal Suriah, Nagham Meqari, mengutarakan antusiasmenya mengikuti penanaman hutan persahabatan ini.
“Saya mewakili teman-teman salut dengan kegigihan KBRI Damaskus untuk terus menyambungkan persahabatan antara pemuda Suriah dengan Indonesia. Saya senang bisa bertemu dengan teman-teman baru Indonesia pada acara penanaman hutan ini,” ucap Meqari.
Indonesia sendiri adalah salah satu dari sedikit negara yang masih tetap membuka misi diplomatiknya di tengah gejolak konflik Suriah dengan kepala perwakilan seorang duta besar. Dengan penanaman kembali hutan persahabatan ini semakin meneguhkan hubungan persahabatan kedua negara, mengingat Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki hutan persahabatan yang aktif dengan Suriah hingga saat ini. - Sindo
Bom Nuklir B-61 AS di Turki Tak Aman
Direktur Kebijakan Pertahanan dan Pengendalian Senjata pada staf Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih era Presiden Bill Clinton memperingatkan bahwa bom nuklir B-61 yang ditempatkan di Turki tidak aman dan mudah direbut “jihadis”. Senjata nuklir taktis AS itu ditempatkan di Pangkalan Udara Incirlik, Turki.
”Tidak ada do-overs dalam sejarah, tetapi ada pelajaran,” kata mantan pejabat top Gedung Putih bernama Steve Andreasen itu.
”Bagaimana jika komandan pangkalan di Incirlik Turki telah memerintahkan pasukannya di sekitar perimeter pangkalan untuk mengubah senjata mereka pada tentara AS yang kabarnya menjaga bunker penyimpanan senjata nuklir AS di sana?,” lanjut dia, seperti dikutip dari Sputniknews, Senin (15/8/2016).
Kekhawatiran disampaikan Andreasen setelah rezim Pemerintah Presiden Turki Tayyip Erdogan frustasi dengan menyalahkan AS sebagai bagian dari upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 lalu. Turki hingga kini bersikeras mendesak AS mengekstradisi ulama Fethullah Gulen yang dituding Turki sebagai salah satu dalang upaya kudeta militer.
Erdogan pernah menyebut Gulen hanya “pion” dalam rencana upaya kudeta di Turki. Komentar Erdogan itu bias, mengingat Gulen sudah sekian tahun tinggal di AS. Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja Turki, Soylu Suleyman, dalam sebuah wawancara mengatakan; “AS berada di balik kudeta”.
Komentar itu berlanjut dengan pemberitaan surat kabar pro-pemerintah Turki yang menyebut jendereal top AS dalang utama kudeta lengkap dengan foto yang dipajang di halaman depan.
Senjata nuklir taktis AS yang ditempatkan di Incirlik, Turki, memiliki kekuatan 100 kali dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima saat Perang Dunia II. Senjata berbahaya itu rawan direbut kelompok radikal, mengingat lokasi pangkalan udara Incirlik hanya 60 mil (97 km) dari basis ISIS atau Daesh di perbatasan Suriah-Turki.
”Kami berada dalam untuk bentangan panjang ketidakpastian politik di Turki, diperburuk oleh meningkatnya anti-Amerikanisme,” kata Andreasen. "Setiap senjata nuklir yang disimpan di sana lebih cenderung mempersulit daripada meningkatkan arus politik dalam negeri dalam bermain,” imbuh dia.
”Tidak ada do-overs dalam sejarah, tetapi ada pelajaran,” kata mantan pejabat top Gedung Putih bernama Steve Andreasen itu.
”Bagaimana jika komandan pangkalan di Incirlik Turki telah memerintahkan pasukannya di sekitar perimeter pangkalan untuk mengubah senjata mereka pada tentara AS yang kabarnya menjaga bunker penyimpanan senjata nuklir AS di sana?,” lanjut dia, seperti dikutip dari Sputniknews, Senin (15/8/2016).
Kekhawatiran disampaikan Andreasen setelah rezim Pemerintah Presiden Turki Tayyip Erdogan frustasi dengan menyalahkan AS sebagai bagian dari upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 lalu. Turki hingga kini bersikeras mendesak AS mengekstradisi ulama Fethullah Gulen yang dituding Turki sebagai salah satu dalang upaya kudeta militer.
Erdogan pernah menyebut Gulen hanya “pion” dalam rencana upaya kudeta di Turki. Komentar Erdogan itu bias, mengingat Gulen sudah sekian tahun tinggal di AS. Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja Turki, Soylu Suleyman, dalam sebuah wawancara mengatakan; “AS berada di balik kudeta”.
Komentar itu berlanjut dengan pemberitaan surat kabar pro-pemerintah Turki yang menyebut jendereal top AS dalang utama kudeta lengkap dengan foto yang dipajang di halaman depan.
Senjata nuklir taktis AS yang ditempatkan di Incirlik, Turki, memiliki kekuatan 100 kali dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima saat Perang Dunia II. Senjata berbahaya itu rawan direbut kelompok radikal, mengingat lokasi pangkalan udara Incirlik hanya 60 mil (97 km) dari basis ISIS atau Daesh di perbatasan Suriah-Turki.
”Kami berada dalam untuk bentangan panjang ketidakpastian politik di Turki, diperburuk oleh meningkatnya anti-Amerikanisme,” kata Andreasen. "Setiap senjata nuklir yang disimpan di sana lebih cenderung mempersulit daripada meningkatkan arus politik dalam negeri dalam bermain,” imbuh dia.
624 Rudal Jelajah NATO Gempur Suriah, Jika Putin Tidak Turun Tangan
Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoigu, mengklaim intervensi Presiden Vladmir Putin telah menyelamatkan Suriah dari potensi invasi NATO atas tuduhan Suriah gunakan bom kimia tahun 2013. Shoigu mencatat, NATO sudah menyiapkan sekitar 624 rudal jelajah untuk menginvasi Suriah.
Menurut Shoigu, Putin sukses meyakinkan semua pihak bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad tunduk untuk menghancurkan senjata kimia yang dimilikinya.
”Apa yang akan terjadi jika presiden kami (Vladimir Putin) gagal meyakinkan dan menerapkan ide penyerahan dan penghancuran senjata kimia?,” kata Shoigu di stasiun televisi Rossiya-24, semalam (15/8/2016).
“Jika kami hanya berbicara tentang rudal jelajah, ada 624 rudal jelajah, sejauh yang saya ingat, siap untuk melaksanakan serangan besar-besaran terhadap Suriah dalam waktu 24 jam,” lanjut Menhan Rusia ini.
Shoigu mengatakan, akan sangat sulit untuk mengembalikan struktur negara Suriah jika serangan berskala besar NATO saat itu benar-benar terjadi.
Pada tahun 2013, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sudah menyetujui rencana invasi terhadap Suriah setelah menyalahkan Pemerintah Assad atas serangan gas sarin di pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak Suriah.
Namun, rencana itu batal setelah Putin menengahi perselisihan dengan menjamin rezim Suriah memusnahkan senjata kimianya dengan pengawasan Organisasi Anti-Senjata Kimia di bawah mandat PBB.
Dalam perkembangan terkini di Suriah, Shoigu mengatakan bahwa Rusia dan AS sedang dalam pembicaraan untuk mengatasi krisis di Aleppo. Dia berharap, upaya itu bisa memastikan perdamaian di Aleppo yang dalam beberapa hari ini jadi medan tempur antara pasukan Assad dan pemberontak Suriah. - Sindo
Menurut Shoigu, Putin sukses meyakinkan semua pihak bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad tunduk untuk menghancurkan senjata kimia yang dimilikinya.
”Apa yang akan terjadi jika presiden kami (Vladimir Putin) gagal meyakinkan dan menerapkan ide penyerahan dan penghancuran senjata kimia?,” kata Shoigu di stasiun televisi Rossiya-24, semalam (15/8/2016).
“Jika kami hanya berbicara tentang rudal jelajah, ada 624 rudal jelajah, sejauh yang saya ingat, siap untuk melaksanakan serangan besar-besaran terhadap Suriah dalam waktu 24 jam,” lanjut Menhan Rusia ini.
Shoigu mengatakan, akan sangat sulit untuk mengembalikan struktur negara Suriah jika serangan berskala besar NATO saat itu benar-benar terjadi.
Pada tahun 2013, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sudah menyetujui rencana invasi terhadap Suriah setelah menyalahkan Pemerintah Assad atas serangan gas sarin di pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak Suriah.
Namun, rencana itu batal setelah Putin menengahi perselisihan dengan menjamin rezim Suriah memusnahkan senjata kimianya dengan pengawasan Organisasi Anti-Senjata Kimia di bawah mandat PBB.
Dalam perkembangan terkini di Suriah, Shoigu mengatakan bahwa Rusia dan AS sedang dalam pembicaraan untuk mengatasi krisis di Aleppo. Dia berharap, upaya itu bisa memastikan perdamaian di Aleppo yang dalam beberapa hari ini jadi medan tempur antara pasukan Assad dan pemberontak Suriah. - Sindo
Subscribe to:
Posts (Atom)






