Indonesian Free Press -- Pada 1 September lalu roket Space-X yang mangangkut satelit Amos-6 buatan Israel milik perusahaan sosial media terbesar Facebook, meledak saat hendak diluncurkan ke luar angkasa di fasilitas peluncuran roket Cape Canaveral, Florida, Amerika.
Ini adalah peristiwa 'biasa', karena sebelumnya telah ada sejumlah roket yang meledak saat diluncurkan. Namun kali ini peristiwa ini menjadi 'viral' di dunia maya karena keberadaan obyek terbang tidak dikenal, alias UFO, yang terbang tepat di atas roket tersebut saat meledak. Media-media independen, termasuk Veterans Today yang sangat kredibel, turut meramaikan spekulasi ini. Media mapan Rusia Sputnik News berusaha meredam viral dengan menyebutkan bahwa UFO yang nampak di gambar yang beredar hanyalah seekor burung besar. Namun dengan cepat klaim ini dimentahkan, karena dari sekuen gambar yang tampak, benda misterius ini terbang dengan kecepatan hingga 3.000 mil per-jam dan tidak ada seekor burung pun yang terbang hingga kecepatan seper-sepuluh kecepatan itu.
Veterans Today melaporkan bahwa, bahkan badan luar angkasa Amerika NASA sendiri menempatkan UFO sebagai faktor probabilitas penyebab meledaknya roket dan satelit tersebut. Roket meledak karena batere lithium yang menjadi sumber energi internal roket terkena paparan sinar laser yang ditembakkan oleh UFO. Demikian editor Veterans Today menyebutkan.
Dua hari kemudian, Sabtu (3 September) petang, terjadi peristiwa yang tidak pernah dialami oleh seorang presiden Amerika. Saat itu, Presiden Barack Obama diharuskan keluar dari pesawat kebesarannya melalui pintu darurat tanpa penyambutan karpet merah oleh para pejabat Cina, saat ia datang untuk mengikuti KTT G-20 di Cina.
Ketika pengawal Obama protes kepada pejabat Cina yang ada, mereka hanya mendapatkan bentakan, "Ini negeri kami Cina, bukan Amerika!".
Peristiwa ini diberitakan bahkan oleh media-media mapan Amerika seperti New York Times. Mengutip seorang diplomat Mexico, media Inggris terkemuka, The Guardian, Minggu (4 September) menyebutkan bahwa yang terjadi adalah Amerika tengah 'dikerjai' oleh Cina, untuk menunjukkan kepada Amerika bahwa di mata Cina Amerika adalah lemah.
Kemudian, minggu lalu, organisasi kaum Kristen Lutheran terbesar Amerika, ELCA, merilis pernyataan kecaman keras terhadap pendudukan Israel di Palestina sehingga memaksa Wapres Joe Biden bersuara keras terhadap ELCA.
"Diserukan kepada seluruh anggota, kongregasi, synods, badan-badan dan bishop untuk mendesak para politisi, senator dan pejabat untuk melakukan aksi-aksi bahwa, demi tetap mendapatkan bantuan Amerika, Israel harus memenuhi standar HAM internasional seperti disebutkan dalam konstitusi Amerika, menghentikan pembangunan dan perluasan pemukiman (ilegal) di Jerusalem Timur dan Tepi Barat, menghentikan pendudukan wilayah Palestina, dan mendukung pendirian negara Palesta merdeka; serta mendesak seluruh anggota gereja, kongregasi, synods, dan badan-badan untuk menyerukan Presiden Amerika untuk mengakui negara Palestina dan tidak mencegah aplikasi negara Palestina untuk menjadi anggota penuh PBB.” Demikian pernyataan ELCA.
Hal ini bersamaan dengan semakin kerasnya suara-suara publik dunia menentang pendudukan Israel di wilayah Palestina, maraknya gerakan boikot Israel dan pengakuan negara Palestina oleh parlemen dan pemerintah negara-negara barat. Baru-baru ini bahkan terjadi sebuah viral media sosial ketika seorang anggota parlemen Belanda menolak jabat tangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ditambah dengan gagalnya proyek zionis-Amerika di Suriah dan Irak, serta semakin berpengaruhnya poros Rusia-Cina-Iran, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Kita hanya bisa melihat sebuah fenomena, bahwa tengah terjadi 'arus balik', meminjam istilah Pramoedya Anant Toer dalam sebuah novel sejarahnya yang sangat menarik, tentang fenomena global dimana terjadi perubahan 'kutub' kekuasaan. Bila dalam novel Pramoedya disebutkan perubahannya dari negara-negara selatan (Islam) menuju negara-negara utara (Eropa), maka kali ini dari poros Zio-Anglo-America ke poros Rusia-Cina-Iran.
Tentang bagaimana dan mengapa terjadi 'arus balik' ini, James Preston PhD baru saja menulis tulisan bersambung yang sangat menarik di Veterans Today, berjudul 'Subjects and Serfs of the Lesser Gods'. Tulisan ini berbau esoterik-supranatural bahkan fiksionis, namun juga sangat rasional. Mudah-mudahan IFP mendapat kesempatan untuk menerjemahkannya nanti.(ca)
Friday, September 9, 2016
Pangeran Arab Saudi Tawarkan $500000 Bagi Teroris yang Beraksi di Iran
Saudi Arabia ingin memindahkan medan perang yang dilancarkannya ke Iran, setelah petualangannya di Suriah dan Yaman mengalami kegagalan. Hal ini sekaligus akan memberikan pukulan langsung ke Iran setelah gagal dalam perang proksi melawan Iran di kedua wilayah itu.
Seperti dilaporkan Veterans Today, 5 September, Saudi Arabia bekerjasama dengan Israel telah mengubah kantor-kantor diplomatiknya di kawasan menjadi jaringan mata-mata untuk menggerakkan para teroris beroperasi di wilayah Iran.
Mengutip media Lebanon Al-Manar laporan itu menulis, “Sejumlah sumber mengkonfirmasikan bahwa Saudi Arabia telah merekrut kelompok-kelompok teroris untuk menghantam keamanana nasional Iran.” Terkait dengan hal itu Menhan Saudi Arabia Pangeran Mohammed bin Salman telah menawarkan hadiah senilai $500.000 bagi bagi para teroris yang beraksi di Iran.
“Saudi dengan bekerjasama dengan Israel telah mengubah kedutaan-kedutaan besarnya menjadi jaringan mata-mata untuk menghantam Iran. Mereka berusaha untuk memindahkan operasi teroris ke wilayah Iran,” tulis laporan itu.
Hal itu berkaitan dengan kegagalan ‘petualangan’ Saudi Arabia di Suriah, dan terakhir di Yaman. Yang terakhir terjadi setelah para pejuang Yaman berhasil menembakkan rudal-rudal ballistiknya yang tidak bisa dihentikan Saudi dan koalisi pimpinananya, sehingga menimbulkan kerusakan hebat pasukan koalisi Saudi di Yaman.
Terakhir, para pejuang Yaman menembakkan rudal Borkan, rudal yang memiliki daya jangkau hingga 800 km, jauh ke wilayah Saudi Arabia.
Seperti dilaporkan Veterans Today dalam laporan itu, rudal ballistik baru bernama Borkan 1 berhasil ditembakkan ke wilayah Ta’if yang kaya minyak. Kota ini berada 700 kilometer di dalam wilayah Saudi Arabia.
“Fakta bahwa Yaman berhasil menembakkan rudal sejauh itu, telah mengubah nasib peperangan di Yaman. Kini Ibukota Saudi Riyadh berada dalam jangkauan serangan rudal Yaman,” tulis Veterans Today.
Menurut laporan-laporan media Yaman, rudal Borkan 1 dibuat seluruhnya oleh para teknisi Yaman. Dibuat meniru rudal Scud buatan Rusia, rudal ini diklaim berdaya jangkau hingga 800 km. Menurut laporan itu, para pejabat militer Saudi terkejut dengan kecepatan rudal itu, yang disebut-sebut ‘melesat bak meteor’.
Sebelumnya Yaman diketahui sukses meluncurkan rudal-rudal ballistik buatan Rusia yang membawa kehancuran hebat bagi pasukan koalisi pimpinan Saudi Arabia yang tidak memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iran.
Seperti dilaporkan Veterans Today, 5 September, Saudi Arabia bekerjasama dengan Israel telah mengubah kantor-kantor diplomatiknya di kawasan menjadi jaringan mata-mata untuk menggerakkan para teroris beroperasi di wilayah Iran.
Mengutip media Lebanon Al-Manar laporan itu menulis, “Sejumlah sumber mengkonfirmasikan bahwa Saudi Arabia telah merekrut kelompok-kelompok teroris untuk menghantam keamanana nasional Iran.” Terkait dengan hal itu Menhan Saudi Arabia Pangeran Mohammed bin Salman telah menawarkan hadiah senilai $500.000 bagi bagi para teroris yang beraksi di Iran.
“Saudi dengan bekerjasama dengan Israel telah mengubah kedutaan-kedutaan besarnya menjadi jaringan mata-mata untuk menghantam Iran. Mereka berusaha untuk memindahkan operasi teroris ke wilayah Iran,” tulis laporan itu.
Hal itu berkaitan dengan kegagalan ‘petualangan’ Saudi Arabia di Suriah, dan terakhir di Yaman. Yang terakhir terjadi setelah para pejuang Yaman berhasil menembakkan rudal-rudal ballistiknya yang tidak bisa dihentikan Saudi dan koalisi pimpinananya, sehingga menimbulkan kerusakan hebat pasukan koalisi Saudi di Yaman.
Terakhir, para pejuang Yaman menembakkan rudal Borkan, rudal yang memiliki daya jangkau hingga 800 km, jauh ke wilayah Saudi Arabia.
Seperti dilaporkan Veterans Today dalam laporan itu, rudal ballistik baru bernama Borkan 1 berhasil ditembakkan ke wilayah Ta’if yang kaya minyak. Kota ini berada 700 kilometer di dalam wilayah Saudi Arabia.
“Fakta bahwa Yaman berhasil menembakkan rudal sejauh itu, telah mengubah nasib peperangan di Yaman. Kini Ibukota Saudi Riyadh berada dalam jangkauan serangan rudal Yaman,” tulis Veterans Today.
Menurut laporan-laporan media Yaman, rudal Borkan 1 dibuat seluruhnya oleh para teknisi Yaman. Dibuat meniru rudal Scud buatan Rusia, rudal ini diklaim berdaya jangkau hingga 800 km. Menurut laporan itu, para pejabat militer Saudi terkejut dengan kecepatan rudal itu, yang disebut-sebut ‘melesat bak meteor’.
Sebelumnya Yaman diketahui sukses meluncurkan rudal-rudal ballistik buatan Rusia yang membawa kehancuran hebat bagi pasukan koalisi pimpinan Saudi Arabia yang tidak memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iran.
Thursday, September 8, 2016
China Buat Radar Kuantum yang Bisa Deteksi Jet Siluman
Sebuah perusahaan China telah mengembangkan dan menguji sistem radar yang menggunakan belitan kuantum yang diklaim bisa mendeteksi peralatan militer berteknologi siluman termasuk pesawat jet.
Radar kuantum itu sudah diuji coba pada pertengahan Agustus 2016. Demikian laporan media Pemerintah China, Xinhua, yang dikutip Jumat (9/9/2016).
Radar kuantum China ini dikembangkan oleh Intelligent Perception Technology Laboratory of the 14th Institute di CETC, sebuah perusahaan pertahanan dan elektronik di China.
Sistem radar kuantum mampu mendeteksi target pada kisaran 100 kilometer di lingkungan dunia nyata. Perangkat ini menggunakan teknologi deteksi foton tunggal.
Masih menurut laporan media China, sistem radar itu menggunakan foton belitan kuantum untuk memberikan kemampuan deteksi yang lebih baik daripada sistem radar konvensional. Metode ini akan berguna untuk melacak target dengan penampang radar rendah, seperti pesawat jet modern berteknologi siluman.
Teknologi ini juga dapat digunakan dalam biomedis, karena radar kuantum membutuhkan energi yang lebih rendah dan dapat digunakan untuk penyelidikan non-invasif untuk objek dengan reflektifitas rendah, seperti mendeteksi sel-sel kanker.
Sebelumnya, China juga meluncurkan satelit komunikasi kuantum pertama di dunia, yang menggunakan belitan kuantum untuk kriptografi.
Radar kuantum itu sudah diuji coba pada pertengahan Agustus 2016. Demikian laporan media Pemerintah China, Xinhua, yang dikutip Jumat (9/9/2016).
Radar kuantum China ini dikembangkan oleh Intelligent Perception Technology Laboratory of the 14th Institute di CETC, sebuah perusahaan pertahanan dan elektronik di China.
Sistem radar kuantum mampu mendeteksi target pada kisaran 100 kilometer di lingkungan dunia nyata. Perangkat ini menggunakan teknologi deteksi foton tunggal.
Masih menurut laporan media China, sistem radar itu menggunakan foton belitan kuantum untuk memberikan kemampuan deteksi yang lebih baik daripada sistem radar konvensional. Metode ini akan berguna untuk melacak target dengan penampang radar rendah, seperti pesawat jet modern berteknologi siluman.
Teknologi ini juga dapat digunakan dalam biomedis, karena radar kuantum membutuhkan energi yang lebih rendah dan dapat digunakan untuk penyelidikan non-invasif untuk objek dengan reflektifitas rendah, seperti mendeteksi sel-sel kanker.
Sebelumnya, China juga meluncurkan satelit komunikasi kuantum pertama di dunia, yang menggunakan belitan kuantum untuk kriptografi.
Wednesday, September 7, 2016
Gagal di Suriah, Yaman, Saudi akan Pindahkan Perang ke Iran
Indonesian Free Press -- Saudi Arabia ingin memindahkan medan perang yang dilancarkannya ke Iran, setelah petualangannya di Suriah dan Yaman mengalami kegagalan. Hal ini sekaligus akan memberikan pukulan langsung ke Iran setelah gagal dalam perang proksi melawan Iran di kedua wilayah itu.
Seperti dilaporkan Veterans Today, 5 September, Saudi Arabia bekerjasama dengan Israel telah mengubah kantor-kantor diplomatiknya di kawasan menjadi jaringan mata-mata untuk menggerakkan para teroris beroperasi di wilayah Iran.
Mengutip media Lebanon Al-Manar laporan itu menulis, “Sejumlah sumber mengkonfirmasikan bahwa Saudi Arabia telah merekrut kelompok-kelompok teroris untuk menghantam keamanana nasional Iran. ” Terkait dengan hal itu Menhan Saudi Arabia Pangeran Mohammed bin Salman telah menawarkan hadiah senilai $500.000 bagi bagi para teroris yang beraksi di Iran.
"Saudi dengan bekerjasama dengan Israel telah mengubah kedutaan-kedutaan besarnya menjadi jaringan mata-mata untuk menghantam Iran. Mereka berusaha untuk memindahkan operasi teroris ke wilayah Iran," tulis laporan itu.
Hal itu berkaitan dengan kegagalan 'petualangan' Saudi Arabia di Suriah, dan terakhir di Yaman. Yang terakhir terjadi setelah para pejuang Yaman berhasil menembakkan rudal-rudal ballistiknya yang tidak bisa dihentikan Saudi dan koalisi pimpinananya, sehingga menimbulkan kerusakan hebat pasukan koalisi Saudi di Yaman.
Terakhir, para pejuang Yaman menembakkan rudal Berkanes, rudal yang memiliki daya jangkau hingga 800 km, jauh ke wilayah Saudi Arabia.
Seperti dilaporkan Veterans Today dalam laporan itu, rudal ballistik baru bernama Berkane 1 berhasil ditembakkan ke wilayah Ta'if yang kaya minyak. Kota ini berada 700 kilometer di dalam wilayah Saudi Arabia.
"Fakta bahwa Yaman berhasil menembakkan rudal sejauh itu, telah mengubah nasib peperangan di Yaman. Kini Ibukota Saudi Riyadh berada dalam jangkauan serangan rudal Yaman," tulis Veterans Today.
Menurut laporan-laporan media Yaman, rudal Berkane 1 dibuata seluruhnya oleh para teknisi Yaman. Dibuat meniru rudal Scud buatan Rusia, rudal ini diklaim berdaya jangkau hingga 800 km. Menurut laporan itu, para pejabat militer Saudi terkejut dengan kecepatan rudal itu, yang disebut-sebut 'melesat bak meteor'.
Sebelumnya Yaman diketahui sukses meluncurkan rudal-rudal ballistik buatan Rusia yang membawa kehancuran hebat bagi pasukan koalisi pimpinan Saudi Arabia yang tidak memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iran.(ca)
Seperti dilaporkan Veterans Today, 5 September, Saudi Arabia bekerjasama dengan Israel telah mengubah kantor-kantor diplomatiknya di kawasan menjadi jaringan mata-mata untuk menggerakkan para teroris beroperasi di wilayah Iran.
Mengutip media Lebanon Al-Manar laporan itu menulis, “Sejumlah sumber mengkonfirmasikan bahwa Saudi Arabia telah merekrut kelompok-kelompok teroris untuk menghantam keamanana nasional Iran. ” Terkait dengan hal itu Menhan Saudi Arabia Pangeran Mohammed bin Salman telah menawarkan hadiah senilai $500.000 bagi bagi para teroris yang beraksi di Iran.
"Saudi dengan bekerjasama dengan Israel telah mengubah kedutaan-kedutaan besarnya menjadi jaringan mata-mata untuk menghantam Iran. Mereka berusaha untuk memindahkan operasi teroris ke wilayah Iran," tulis laporan itu.
Hal itu berkaitan dengan kegagalan 'petualangan' Saudi Arabia di Suriah, dan terakhir di Yaman. Yang terakhir terjadi setelah para pejuang Yaman berhasil menembakkan rudal-rudal ballistiknya yang tidak bisa dihentikan Saudi dan koalisi pimpinananya, sehingga menimbulkan kerusakan hebat pasukan koalisi Saudi di Yaman.
Terakhir, para pejuang Yaman menembakkan rudal Berkanes, rudal yang memiliki daya jangkau hingga 800 km, jauh ke wilayah Saudi Arabia.
Seperti dilaporkan Veterans Today dalam laporan itu, rudal ballistik baru bernama Berkane 1 berhasil ditembakkan ke wilayah Ta'if yang kaya minyak. Kota ini berada 700 kilometer di dalam wilayah Saudi Arabia.
"Fakta bahwa Yaman berhasil menembakkan rudal sejauh itu, telah mengubah nasib peperangan di Yaman. Kini Ibukota Saudi Riyadh berada dalam jangkauan serangan rudal Yaman," tulis Veterans Today.
Menurut laporan-laporan media Yaman, rudal Berkane 1 dibuata seluruhnya oleh para teknisi Yaman. Dibuat meniru rudal Scud buatan Rusia, rudal ini diklaim berdaya jangkau hingga 800 km. Menurut laporan itu, para pejabat militer Saudi terkejut dengan kecepatan rudal itu, yang disebut-sebut 'melesat bak meteor'.
Sebelumnya Yaman diketahui sukses meluncurkan rudal-rudal ballistik buatan Rusia yang membawa kehancuran hebat bagi pasukan koalisi pimpinan Saudi Arabia yang tidak memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iran.(ca)
Presiden Duterte Sebut Barack Obama 'Anak Pelacur'
Indonesian Free Press -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali membuat panas pera pejabat Amerika. Setelah bulan lalu mengejek Dubes Amerika sebagai 'Anak Pelacur', tidak tanggung-tanggung, kali ini ia bahkan menyebut Presiden Barack Obama dengan julukan yang sama.
Seperti dilaporkan International Business Times, 5 September, Duterte, mengingatkan Barack Obama untuk tidak campur tangan dalam urusan 'perang melawan obat-obatan terlarang' yang dilancarkannya yang mengakibatkan ratusan orang, sebagian besar para pengedar obat-obatan, tewas.
Menjawab pertanyaan wartawan tentang reaksinya atas kritikan Barack Obama atas aksi 'pembunuhan-pembunuhan di luar hukum' yang dilakukan pemerintah Filipina terhadap para pengedar obat-obatan, Duterte mengatakan, "Anak pelacur (Obama), saya bersumpah di hadapannya.”
Sebelum bertolak ke Laos untuk menghadiri KTT Asean-Amerika, Duterte mengatakan, "Saya adalah presiden sebuah negara berdaulat dan kami sudah lama berhenti sebagai sebuah koloni. Siapakah dia (Obama) mau melawan saya? Sebenarnya, Amerika memiliki banyak pertanyaan yang harus dijawab. Semua orang memiliki catatan mengerikan tentang pembunuhan-pembunuhan di luar hukum."
Karena perkataan itu, Presiden Obama menolak bertemu Duterte dalam pertemuan. Duterte pun, melalui jubirnya, menyatakan permohonan ma'af atas perkataan tersebut.
Pada Agustus lalu Duterte menyebut Dubes Amerika untuk Filipina sebagai 'homosek anak pelacur' dan mengejek Senator Leila De Lima karena kasus cinta gelapnya.
Duterte benar-benar memenuhi janji kampanyenya untuk memerangi total perdagangan narkoba. Bahkan meski PBB dan sejumlah pemimpin barat mengecam tindakan kerasnya yang mengakibatkan ratusan orang tewas. Dalam KTT di Laos ia juga gagal bertemu Sekjend PBB Ban Ki-moon at the summit in Laos.
Seperti dilaporkan Reuters, Duterte mengatakan, “Banyak orang akan terbunuh hingga pengedar terakhir tersingkir dari jalanan. Hingga pengedar narkoba terakhir tewas, kita tidak akan berhenti memburunya.”
Kemudian pada 31 Agustus Duterte mengatakan, “Kita harus mengerti masalahnya terlebih dahulu sebelum bicara tentang HAM.”
Menurut data kepolisian Filipina, setidaknya 2.000 orang tewas selama kampanye pemberantasan obat terlarang sejak Duterte naik ke kursi kepresidenan Mei lalu. Separo dari mereka tewas dalam operasi kepolisian, sisanya tewas karena tembak-menembak dengan orang tak dikenal.
Duterte adalah walikota Davao selama 10 tahun sejak 1988, diselingi keanggotaan di parlemen sebelum menjadi walikota lagi tahun 2001. Ia dikenal dengan julukan “Si Penghukum” karena ketegasannya melawan kejahatan. Ia pernah mengancam akan 'membunuh 100.000 penjahat dan melemparkan mayatnya di Teluk Manila'. Ia bahkan bersumpah akan menghukum mati anaknya sendiri jika terlibat dalam perdagangan narkoba. Pada Mei lalu ia memenangkan pemilihan Presiden dan disumpah untuk jabatan enam tahun.
Dalam kampanyenya, Duterte berkata: “Lupakan hukum dan HAM. Jika saya berhasil menjadi presiden, saya akan melakukan apa yang saya lakukan sebagai walikota. Kamu para pengedar narkoba, berhentilah dan jangan melakukan apapun. Berhentilah, karena saya akan membunuhmu.”(ca)
Seperti dilaporkan International Business Times, 5 September, Duterte, mengingatkan Barack Obama untuk tidak campur tangan dalam urusan 'perang melawan obat-obatan terlarang' yang dilancarkannya yang mengakibatkan ratusan orang, sebagian besar para pengedar obat-obatan, tewas.
Menjawab pertanyaan wartawan tentang reaksinya atas kritikan Barack Obama atas aksi 'pembunuhan-pembunuhan di luar hukum' yang dilakukan pemerintah Filipina terhadap para pengedar obat-obatan, Duterte mengatakan, "Anak pelacur (Obama), saya bersumpah di hadapannya.”
Sebelum bertolak ke Laos untuk menghadiri KTT Asean-Amerika, Duterte mengatakan, "Saya adalah presiden sebuah negara berdaulat dan kami sudah lama berhenti sebagai sebuah koloni. Siapakah dia (Obama) mau melawan saya? Sebenarnya, Amerika memiliki banyak pertanyaan yang harus dijawab. Semua orang memiliki catatan mengerikan tentang pembunuhan-pembunuhan di luar hukum."
Karena perkataan itu, Presiden Obama menolak bertemu Duterte dalam pertemuan. Duterte pun, melalui jubirnya, menyatakan permohonan ma'af atas perkataan tersebut.
Pada Agustus lalu Duterte menyebut Dubes Amerika untuk Filipina sebagai 'homosek anak pelacur' dan mengejek Senator Leila De Lima karena kasus cinta gelapnya.
Duterte benar-benar memenuhi janji kampanyenya untuk memerangi total perdagangan narkoba. Bahkan meski PBB dan sejumlah pemimpin barat mengecam tindakan kerasnya yang mengakibatkan ratusan orang tewas. Dalam KTT di Laos ia juga gagal bertemu Sekjend PBB Ban Ki-moon at the summit in Laos.
Seperti dilaporkan Reuters, Duterte mengatakan, “Banyak orang akan terbunuh hingga pengedar terakhir tersingkir dari jalanan. Hingga pengedar narkoba terakhir tewas, kita tidak akan berhenti memburunya.”
Kemudian pada 31 Agustus Duterte mengatakan, “Kita harus mengerti masalahnya terlebih dahulu sebelum bicara tentang HAM.”
Menurut data kepolisian Filipina, setidaknya 2.000 orang tewas selama kampanye pemberantasan obat terlarang sejak Duterte naik ke kursi kepresidenan Mei lalu. Separo dari mereka tewas dalam operasi kepolisian, sisanya tewas karena tembak-menembak dengan orang tak dikenal.
Duterte adalah walikota Davao selama 10 tahun sejak 1988, diselingi keanggotaan di parlemen sebelum menjadi walikota lagi tahun 2001. Ia dikenal dengan julukan “Si Penghukum” karena ketegasannya melawan kejahatan. Ia pernah mengancam akan 'membunuh 100.000 penjahat dan melemparkan mayatnya di Teluk Manila'. Ia bahkan bersumpah akan menghukum mati anaknya sendiri jika terlibat dalam perdagangan narkoba. Pada Mei lalu ia memenangkan pemilihan Presiden dan disumpah untuk jabatan enam tahun.
Dalam kampanyenya, Duterte berkata: “Lupakan hukum dan HAM. Jika saya berhasil menjadi presiden, saya akan melakukan apa yang saya lakukan sebagai walikota. Kamu para pengedar narkoba, berhentilah dan jangan melakukan apapun. Berhentilah, karena saya akan membunuhmu.”(ca)
Tuesday, September 6, 2016
Keterlibatan Israel dalam Penanganan Ibadah Haji Dipertanyakan
Indonesian Free Press -- Media-media independent termasuk Indonesian Free Press (IFP) telah lama melaporkan keterlibatan Israel dalam penanganan ibadah haji di Saudi Arabia. Selain mengkhianati rakyat Palestina yang masih menjadi korban pendudukan Israel, hal itu dianggap bisa membahayakan keselamatan peserta ibadah haji.
Langkah Arab Saudi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan rezim Zionis Israel untuk menjaga keamanan jemaah haji, memicu kecaman dari dunia Islam. Kantor berita Qodsna, 5 September, melaporkan, Syeikh Ekrima Sabri, Khatib Masjid Al Aqsa, Palestina memperingatkan masuknya perusahaan jasa keamanan G4S milik Israel ke tengah-tengah masyarakat Arab dan Islam. Ia menegaskan bahwa G4S tidak berhak melakukan aktivitas-aktivitas mata-mata dan keamanan terkait dengan jemaah haji.
Syeikh Ekrima Sabri menilai penandatanganan kontrak Saudi dan Israel itu dilakukan dengan tujuan untuk menginfiltrasi masyarakat Arab dan Islam.
"Penggunaan jasa sebuah perusahaan Israel untuk melayani jemaah haji adalah perbuatan haram," ujarnya.
Untuk menjaga keamanan jemaah haji dan mengawasi mereka lewat gelang elektronik yang dipakainya di musim haji tahun ini, Saudi bekerjasama dengan perusahaan jasa keamanan Israel, G4S. Dengan gelang ini otoritas Saudi bisa mengetahui posisi semua peserta ibadah haji setiap saat. Sayangnya, hal ini juga bisa dimanfaatkan oleh inteligen yang berkaitan dengan G4S.
Riyadh, awal Juli lalu mengumumkan, jemaah haji pada musim haji tahun ini akan dilengkapi dengan GPS dan informasi pribadi dan medis mereka untuk menghindari terulangnya insiden Mina tahun lalu.
Akibat kelalaian Saudi dalam mengelola pelaksanaan manasik haji, pada 24 Desember 2015, ribuan haji tewas dalam tragedi yang terjadi di Mina, sebagian besar adalah jemaah haji asal Iran. Dalam peristiwa ini disebut-sebut inteligen Israel juga terlibat. Memanfaatkan kerusuhan, agen-agen rahasia Israel menculik para pejabat sipil dan militer Iran yang mengikuti ibadah haji untuk mengorek informasi dari mereka sebelum dibunuh.
Salah seorang pejabat Iran yang meninggal adalah mantan pejabat inteligen dan Dubes Iran di Lebanon. Sempat menghilang selama beberapa minggu dan dibantah Saudi sebagai salah seorang peserta ibadah haji asal Iran, otoritas Saudi baru menyatakan kematiannya setelah pemerintah Iran terus mendesak Saudi untuk bertanggungjawab.
G4S adalah perusahaan milik zionis Israel yang berbasis di Inggris. Sebelumnya perusahaan ini telah terlibat intensif dalam masalah keamanan di wilayah pendudukan Israel di Palestina, termasuk menyediakan alat-alat penyiksaan. Keterlibatan perusahaan ini dalam penangangan ibadah haji sudah menjadi pemberitaan media-media independen, termasuk IFP, beberapa tahun yang lalu. Gerakan internasional memboikot perusahaan-perusahaan dan institusi-institusi Israel yang terlibat dalam pendudukan Palestina, BDS, juga sudah lama mengecam keterlibatan Israel dalam pelaksanaan haji.
Selain menangani ibadah haji, G4S juga ditugaskan Saudi Arabia untuk menangani keamanan di wilayah selatan Saudi dari serangan kelompok Houthis dari Yaman. G4S dikenal juga sebagai penyedia jasa keamanan untuk fasilitas-fasilitas publik seperti bandara dan pelabuhan.(ca)
Langkah Arab Saudi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan rezim Zionis Israel untuk menjaga keamanan jemaah haji, memicu kecaman dari dunia Islam. Kantor berita Qodsna, 5 September, melaporkan, Syeikh Ekrima Sabri, Khatib Masjid Al Aqsa, Palestina memperingatkan masuknya perusahaan jasa keamanan G4S milik Israel ke tengah-tengah masyarakat Arab dan Islam. Ia menegaskan bahwa G4S tidak berhak melakukan aktivitas-aktivitas mata-mata dan keamanan terkait dengan jemaah haji.
Syeikh Ekrima Sabri menilai penandatanganan kontrak Saudi dan Israel itu dilakukan dengan tujuan untuk menginfiltrasi masyarakat Arab dan Islam.
"Penggunaan jasa sebuah perusahaan Israel untuk melayani jemaah haji adalah perbuatan haram," ujarnya.
Untuk menjaga keamanan jemaah haji dan mengawasi mereka lewat gelang elektronik yang dipakainya di musim haji tahun ini, Saudi bekerjasama dengan perusahaan jasa keamanan Israel, G4S. Dengan gelang ini otoritas Saudi bisa mengetahui posisi semua peserta ibadah haji setiap saat. Sayangnya, hal ini juga bisa dimanfaatkan oleh inteligen yang berkaitan dengan G4S.
Riyadh, awal Juli lalu mengumumkan, jemaah haji pada musim haji tahun ini akan dilengkapi dengan GPS dan informasi pribadi dan medis mereka untuk menghindari terulangnya insiden Mina tahun lalu.
Akibat kelalaian Saudi dalam mengelola pelaksanaan manasik haji, pada 24 Desember 2015, ribuan haji tewas dalam tragedi yang terjadi di Mina, sebagian besar adalah jemaah haji asal Iran. Dalam peristiwa ini disebut-sebut inteligen Israel juga terlibat. Memanfaatkan kerusuhan, agen-agen rahasia Israel menculik para pejabat sipil dan militer Iran yang mengikuti ibadah haji untuk mengorek informasi dari mereka sebelum dibunuh.
Salah seorang pejabat Iran yang meninggal adalah mantan pejabat inteligen dan Dubes Iran di Lebanon. Sempat menghilang selama beberapa minggu dan dibantah Saudi sebagai salah seorang peserta ibadah haji asal Iran, otoritas Saudi baru menyatakan kematiannya setelah pemerintah Iran terus mendesak Saudi untuk bertanggungjawab.
G4S adalah perusahaan milik zionis Israel yang berbasis di Inggris. Sebelumnya perusahaan ini telah terlibat intensif dalam masalah keamanan di wilayah pendudukan Israel di Palestina, termasuk menyediakan alat-alat penyiksaan. Keterlibatan perusahaan ini dalam penangangan ibadah haji sudah menjadi pemberitaan media-media independen, termasuk IFP, beberapa tahun yang lalu. Gerakan internasional memboikot perusahaan-perusahaan dan institusi-institusi Israel yang terlibat dalam pendudukan Palestina, BDS, juga sudah lama mengecam keterlibatan Israel dalam pelaksanaan haji.
Selain menangani ibadah haji, G4S juga ditugaskan Saudi Arabia untuk menangani keamanan di wilayah selatan Saudi dari serangan kelompok Houthis dari Yaman. G4S dikenal juga sebagai penyedia jasa keamanan untuk fasilitas-fasilitas publik seperti bandara dan pelabuhan.(ca)
Media Massa-Media Massa 'Bajingan' (2)
Indonesian Free Press -- Pengamat media Michael Goodwin mengatakan bahwa opini tunggal yang ditunjukkan media massa Amerika saat ini tidak pernah terjadi seperti sebelumnya. Media-media utama Amerika seperti CBS, NBC, ABC, New York Times dan Washington Post satu suara untuk mendepak Donald Trump dari persaingan perebutan kursi kepresidenan. Hal yang sama bahkan juga disuarakan oleh media-media 'setengah independent' atau 'oposisi terkendali' seperti Counterpunch, meski mereka melakukannya dengan cara berbeda dengan media-media utama. Ketika Trump mendukung Amerika membayar kompensasi ke Iran $400 juta, Counterpunch menyindir Trump sebagai 'tidak ingin menang' dan menyebut sikap Trump tersebut keliru. Padahal, justru Trump dalam kasus ini telah menunjukkan sikap kenegarawanan.
Ia menyebut apa yang dialami Trump sama dengan yang dilakukan media massa Amerika terhadap Iran, dan ini adalah memalukan. Di sisi lain, publik Amerika sudah cukup cerdas untuk menentukan pilihannya sendiri di luar apa yang disampaikan media massa utama.
Trump sendiri telah menyadari ke-'bajingan'-an media-media massa Amerika, sehingga pernah mengatakan, "Saya tidak melawan kejahatan Hillary, melainkan kejahatan media massa.”
"Kini, kesempatan untuk mengalahkan media-media 'bajingan' lebih besar dari sebelum-sebelumnya, ketika media-media massa utama dikalahkan oleh media sosial dan internet yang bebas. Medi sosial tetap saja bisa bias, namun tidak sebesar media-media utama. Meski demikian, media-media utama harus dihancurkan, didemokrasikan dan didemonopoli. Kalau tidak, kita akan terus menerima propaganda kotor," tulis Shamir.
"The Masters of Discourse (penguasa belakang layar) menyukai berita-berita untuk 'digoreng' menjadi alat untuk menguasai. Masih ingat anak kecil dari Suriah yang terdampar di Laut Mediterania? Ini cerita yang menyedihkan, sangat tragis, namun ini telah digoreng sedemikian rupa sehingga Kanselir Jerman memproklamasikan untuk menerima para pengungsi Suriah. Inilah yang diinginkan oleh penguasa belakang layar, untuk membanjiri Eropa dengan pengungsi demi memperkuat 'koalisi minoritas' untuk menghancurkan negara-negara sejahtera dan menimbulkan runtuhnya Eropa sebagai entitas yang independent," tambah Shamir.
"Kini mereka memilih gambar anak Suriah lainnya di Aleppo (anak kecil di atas kotak kuning), untuk mendorong intervensi militer. Kematian ini adalah hal yang tragis, seperti kematian ribuan anak-anak Suriah lainnya. Namun, jika saja Hillary Clinton tidak mengirimkan berkapal-kapal senjata ke Suriah, anak-anak itu tidak akan mati. Akankah intervensi militer barat akan mengembalikan mereka yang mati? Tidak," tulis Shamir.
Di sisi lain, Shamir pun mengecam media massa yang suka mengejek para aktifis Palestina telah menyebarkan 'pornografi perang' karena menyebarkan gambar-gambar anak-anak Palestina korban kekejaman Israel.
"Jadi, para wartawan itu hanya bertindak saat para 'tukang goreng' membutuhkan mereka. Ini adalah manipulasi, bukan soal kasihan."
"Jika kita menginginkan perdamaian dan kesejahteraan, keadilan dan kemuliaan, kita harus menghentikan kebohongan media-media 'bajingan' itu kepada manusia. Para bajingan itu harus diluruskan, dan ini adalah pesan yang paling penting sekarang ini," demikian kesimpulan Shamir.
Fenomena media-media 'bajingan' juga sangat kentara, terutama menjelang, selama dan setelah pilpres 2014 lalu. Secara massif media massa membohongai publik untuk memilih seorang pembohong seperti Jokowi sebagai presiden. Dan kini, mereka semua tengah berusaha mati-matian untuk mendongkrak citra Ahok sebagai calon gubernur DKI. Ketika puluhan ribu warga Jakarta menggelar aksi penolakan Ahok, media-media massa justru asyik memberitakan kasus Jessica 'Sianida' Wongso, tanpa memberikan sedikit pun porsi atas peristiwa pertama. Jangan ditanya, mengapa media-media massa bungkam soal korupsi Transjakarta dan RS Sumberwaras.
Mereka tidak mau tahu, siapa yang telah memboyong orang orang asing seperti Archandra Tahar ke Indonesia untuk menjadi menteri, serta apa motifnya. Apalagi menyangkut korupsi sistematis-massif yang telah mengakar kuat seperti mafia migas, mafia perdagangan. Bahkan setelah bandar narkoba Fredy Budiman membuat testimoni yang mengejutkana tentang keterlibatan aparat penegak hukum dalam mafia perdagangan narkoba, media massa pun tidak menindaklanjutinya.
Dalam hal ini bahkan kami berpendapat bahwa ke-bajingan-an media-media massa INdonesia lebih besar dibandingkan media-media Amerika atau Eropa.(ca)
Ia menyebut apa yang dialami Trump sama dengan yang dilakukan media massa Amerika terhadap Iran, dan ini adalah memalukan. Di sisi lain, publik Amerika sudah cukup cerdas untuk menentukan pilihannya sendiri di luar apa yang disampaikan media massa utama.
Trump sendiri telah menyadari ke-'bajingan'-an media-media massa Amerika, sehingga pernah mengatakan, "Saya tidak melawan kejahatan Hillary, melainkan kejahatan media massa.”
"Kini, kesempatan untuk mengalahkan media-media 'bajingan' lebih besar dari sebelum-sebelumnya, ketika media-media massa utama dikalahkan oleh media sosial dan internet yang bebas. Medi sosial tetap saja bisa bias, namun tidak sebesar media-media utama. Meski demikian, media-media utama harus dihancurkan, didemokrasikan dan didemonopoli. Kalau tidak, kita akan terus menerima propaganda kotor," tulis Shamir.
"The Masters of Discourse (penguasa belakang layar) menyukai berita-berita untuk 'digoreng' menjadi alat untuk menguasai. Masih ingat anak kecil dari Suriah yang terdampar di Laut Mediterania? Ini cerita yang menyedihkan, sangat tragis, namun ini telah digoreng sedemikian rupa sehingga Kanselir Jerman memproklamasikan untuk menerima para pengungsi Suriah. Inilah yang diinginkan oleh penguasa belakang layar, untuk membanjiri Eropa dengan pengungsi demi memperkuat 'koalisi minoritas' untuk menghancurkan negara-negara sejahtera dan menimbulkan runtuhnya Eropa sebagai entitas yang independent," tambah Shamir.
"Kini mereka memilih gambar anak Suriah lainnya di Aleppo (anak kecil di atas kotak kuning), untuk mendorong intervensi militer. Kematian ini adalah hal yang tragis, seperti kematian ribuan anak-anak Suriah lainnya. Namun, jika saja Hillary Clinton tidak mengirimkan berkapal-kapal senjata ke Suriah, anak-anak itu tidak akan mati. Akankah intervensi militer barat akan mengembalikan mereka yang mati? Tidak," tulis Shamir.
Di sisi lain, Shamir pun mengecam media massa yang suka mengejek para aktifis Palestina telah menyebarkan 'pornografi perang' karena menyebarkan gambar-gambar anak-anak Palestina korban kekejaman Israel.
"Jadi, para wartawan itu hanya bertindak saat para 'tukang goreng' membutuhkan mereka. Ini adalah manipulasi, bukan soal kasihan."
"Jika kita menginginkan perdamaian dan kesejahteraan, keadilan dan kemuliaan, kita harus menghentikan kebohongan media-media 'bajingan' itu kepada manusia. Para bajingan itu harus diluruskan, dan ini adalah pesan yang paling penting sekarang ini," demikian kesimpulan Shamir.
Fenomena media-media 'bajingan' juga sangat kentara, terutama menjelang, selama dan setelah pilpres 2014 lalu. Secara massif media massa membohongai publik untuk memilih seorang pembohong seperti Jokowi sebagai presiden. Dan kini, mereka semua tengah berusaha mati-matian untuk mendongkrak citra Ahok sebagai calon gubernur DKI. Ketika puluhan ribu warga Jakarta menggelar aksi penolakan Ahok, media-media massa justru asyik memberitakan kasus Jessica 'Sianida' Wongso, tanpa memberikan sedikit pun porsi atas peristiwa pertama. Jangan ditanya, mengapa media-media massa bungkam soal korupsi Transjakarta dan RS Sumberwaras.
Mereka tidak mau tahu, siapa yang telah memboyong orang orang asing seperti Archandra Tahar ke Indonesia untuk menjadi menteri, serta apa motifnya. Apalagi menyangkut korupsi sistematis-massif yang telah mengakar kuat seperti mafia migas, mafia perdagangan. Bahkan setelah bandar narkoba Fredy Budiman membuat testimoni yang mengejutkana tentang keterlibatan aparat penegak hukum dalam mafia perdagangan narkoba, media massa pun tidak menindaklanjutinya.
Dalam hal ini bahkan kami berpendapat bahwa ke-bajingan-an media-media massa INdonesia lebih besar dibandingkan media-media Amerika atau Eropa.(ca)
Subscribe to:
Posts (Atom)






