"Jika telah terjadi pertempuran - pertempuran, maka Allah akan membangkitkan Golongan MAWALI (Orang - Orang Islam Non Arab). Mereka adalah para penunggang kuda yang lebih mulia dari Orang Arab dan senjatanya lebih bagus. Allah akan meneguhkan agama ini melalui mereka."{HR.Hakim dan Ibnu Majah}
Lalu siapakah yang dimaksud dengan Golongan Mawali itu?? Sebab saat ini terdapat banyak bangsa Muslim yang non Arab. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita simak perbincangan salah seorang sahabat yang bernama Ubay bin Ka'ab RA dengan Rasulullah S.A.W, ketika turun ayat 38 dari Surah Muhammad:
"Itulah kalian, kalian diseru untuk membelanjakan harta kalian pada jalan Allah, maka di antara kalian ada yang kikir, dan barangsiapa yang kikir maka sesungguhnya kekikirannya atas dirinya. Dan Allah Maha Kaya sedang kalian kikir," kata Rosulullah. Selanjutnya beliau membacakan sebagian ayat Surat Muhammad:
"DAN JIKA KALIAN BERPALING NISCAYA DIA AKAN MENGGANTI KALIAN DENGAN KAUM YANG LAIN YANG MANA MEREKA TIDAK AKAN SERUPA DENGAN KALIAN."
Terkait ayat ini, Ubay bin Ka'ab ra bertanya kepada Rasulullah saw ; Ya Rasulullah ,siapakah mereka yang jika kami berpaling, maka mereka akan menggantikan kami ? Saat itu, Salman Al-Farisi ra berada disamping Nabi saw. Maka Beliau saw bersabda ; "Mereka adalah orang Persia ini dan kaumnya." {HR.Hakim, dengan sanad Shahih}
Dalam riwayat lain disebutkan seraya mengisyaratkan kepada Salman Al-Farisi ra, Baginda Nabi saw bersabda : "Orang ini dan teman-temannya. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sekiranya iman itu berada di bintang Tsuroyya, maka para lelaki dari Persia akan menggapainya." {HR.Tirmidzi, Hadits senada juga diriwayatkan oleh Bukhari}
Persia adalah yang kita kenal dengan Iran saat ini.
Friday, September 20, 2013
INI BUKAN TERORIS, IDIOT! (2)
Setelah munculnya postingan pertama "INI BUKAN TERORIS, IDIOT!", saya pun melihat berita tentang Polri yang mengajak kerjasama BIN untuk membongkar aksi-aksi terorisme terhadap aparat kepolisian.
Itu semua hanyalah "lips service" belaka karena semuanya adalah by design. Sebagaimana saya pernah menantang polisi untuk membongkar kasus pencurian ratusan dinamit beberapa waktu lalu yang hingga sekarang tidak pernah bisa dibongkar, kali ini pun saya menantang polisi untuk mengungkap pelaku dan dalangnya serta motif di balik penembakan-penembakan polisi di keramaian Jakarta.
Akhir-akhir ini warga Kota Medan kembali dibuat resah dengan aksi pemadaman listrik sesuka hati oleh PLN, tanpa pernah ada penjelasan dari PLN apalagi ganti rugi kepada masyarakat (meski PLN menerapkan kebijakan denda yang ketat untuk setiap keterlambatan pembayaran listrik). Tindakan PLN ini jelas telah menimbulkan dampak negatif yang luar biasa besar. Namun meski sudah terlalu sering terjadi, tidak pernah ada sanksi apapun terhadap para pejabat PLN. Dirut PLN masih bisa "cengengesan" di hadapan media massa, dan mantan dirutnya yang tidak pernah bisa mempertanggungjawabkan "inefisiensi" (istilah halus dari dugaan penggelapan atau korupsi) PLN senilai puluhan triliun rupiah, bisa melenggang menjadi kandidat presiden. Ruar wiasa!
Jika negara ini benar-benar masih memiliki tatanan hukum, sosial dan politik serta masih memiliki pemerintahan yang berfungsi melindungi kepentingan rakyat, tindakan PLN seperti ini tentu tidak akan terjadi. Di negara-negara barat, aksi pemadaman listrik seperti ini akan dianggap sebagai ketidak profesionalan perusahaan penyedia listrik dan para eskutif perusahaan tersebut pasti sudah dipecat dengan tidak hormat, atau dipaksa mengundurkan diri. Sedang di negara-negara totaliter seperti China, para pejabat perusahaan itu pasti sudah dihukum penjara karena dianggap melakukan tindakan subversif.
Maka tidak ada alasan lagi bagi aparat penegak hukum Indonesia untuk membiarkan para pejabat PLN seenak perutnya mematikan aliran listrik tanpa sanksi apapun. Polisi harus menangkap mereka. Kalau pun polisi menolak, TNI wajib untuk "mengamankan" mereka karena apa yang mereka lakukan sudah menimbulkan keresahan sosial dan kerugian ekonomi yang luar biasa besar.
Namun sayangnya saya harus pesimis hal itu bakal terjadi. "Big boss" PLN yang gagal menjelaskan inefisiensi (bahasa halus dari penggelapan) puluhan triliun dana PLN kini justru melenggang sebagai calon presiden. Rekannya, sesama menteri yang paling bertanggungjawab atas melambungnya harga barang-barang kebutuhan pokok dan membuat jutaan rakyat menderita karenanya (termasuk para pengusaha tempe yang menjerit setelah harga kedelai melonjak), di sisi lain tidak pernah bisa membuat satu kebijakan pun yang positif, juga melenggang sebagai kandidat presiden.
Maka tidak heran jika Harrison Ford berani bertingkah kurang ajar di kantor menteri kehutanan. Ia tahun betul bahwa ia tidak akan tersentuh hukum di negeri ini, bahkan untuk sekedar mengusirnya sebagai orang yang tidak disukai (persona non-grata). Dan benar, ia bahkan mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Presiden SBY, dan Presiden SBY pun dengan sangat hormat menggenggam tangannya erat-erat sebagaimana 2 orang bersaudara yang sudah lama tidak bersua.
Baik Harrison Ford, para teroris penembak polisi di Jakarta dan penembak Kopassus di Papua (herannya mereka tidak pernah disebut sebagai teroris, melainkan "kelompok bersenjata"), "Boss" dan "Big Boss" PLN, serta menteri perdagangan yang tidak pernah membuat prestasi melainkan membuat harga barang-barang melonjak, tapi bisa melenggang sebagai calon presiden, mereka adalah orang-orang yang sama, yang terikat pada satu persaudaraan rahasia penyembah dajjal.
Itu semua hanyalah "lips service" belaka karena semuanya adalah by design. Sebagaimana saya pernah menantang polisi untuk membongkar kasus pencurian ratusan dinamit beberapa waktu lalu yang hingga sekarang tidak pernah bisa dibongkar, kali ini pun saya menantang polisi untuk mengungkap pelaku dan dalangnya serta motif di balik penembakan-penembakan polisi di keramaian Jakarta.
Akhir-akhir ini warga Kota Medan kembali dibuat resah dengan aksi pemadaman listrik sesuka hati oleh PLN, tanpa pernah ada penjelasan dari PLN apalagi ganti rugi kepada masyarakat (meski PLN menerapkan kebijakan denda yang ketat untuk setiap keterlambatan pembayaran listrik). Tindakan PLN ini jelas telah menimbulkan dampak negatif yang luar biasa besar. Namun meski sudah terlalu sering terjadi, tidak pernah ada sanksi apapun terhadap para pejabat PLN. Dirut PLN masih bisa "cengengesan" di hadapan media massa, dan mantan dirutnya yang tidak pernah bisa mempertanggungjawabkan "inefisiensi" (istilah halus dari dugaan penggelapan atau korupsi) PLN senilai puluhan triliun rupiah, bisa melenggang menjadi kandidat presiden. Ruar wiasa!
Jika negara ini benar-benar masih memiliki tatanan hukum, sosial dan politik serta masih memiliki pemerintahan yang berfungsi melindungi kepentingan rakyat, tindakan PLN seperti ini tentu tidak akan terjadi. Di negara-negara barat, aksi pemadaman listrik seperti ini akan dianggap sebagai ketidak profesionalan perusahaan penyedia listrik dan para eskutif perusahaan tersebut pasti sudah dipecat dengan tidak hormat, atau dipaksa mengundurkan diri. Sedang di negara-negara totaliter seperti China, para pejabat perusahaan itu pasti sudah dihukum penjara karena dianggap melakukan tindakan subversif.
Maka tidak ada alasan lagi bagi aparat penegak hukum Indonesia untuk membiarkan para pejabat PLN seenak perutnya mematikan aliran listrik tanpa sanksi apapun. Polisi harus menangkap mereka. Kalau pun polisi menolak, TNI wajib untuk "mengamankan" mereka karena apa yang mereka lakukan sudah menimbulkan keresahan sosial dan kerugian ekonomi yang luar biasa besar.
Namun sayangnya saya harus pesimis hal itu bakal terjadi. "Big boss" PLN yang gagal menjelaskan inefisiensi (bahasa halus dari penggelapan) puluhan triliun dana PLN kini justru melenggang sebagai calon presiden. Rekannya, sesama menteri yang paling bertanggungjawab atas melambungnya harga barang-barang kebutuhan pokok dan membuat jutaan rakyat menderita karenanya (termasuk para pengusaha tempe yang menjerit setelah harga kedelai melonjak), di sisi lain tidak pernah bisa membuat satu kebijakan pun yang positif, juga melenggang sebagai kandidat presiden.
Maka tidak heran jika Harrison Ford berani bertingkah kurang ajar di kantor menteri kehutanan. Ia tahun betul bahwa ia tidak akan tersentuh hukum di negeri ini, bahkan untuk sekedar mengusirnya sebagai orang yang tidak disukai (persona non-grata). Dan benar, ia bahkan mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Presiden SBY, dan Presiden SBY pun dengan sangat hormat menggenggam tangannya erat-erat sebagaimana 2 orang bersaudara yang sudah lama tidak bersua.
Baik Harrison Ford, para teroris penembak polisi di Jakarta dan penembak Kopassus di Papua (herannya mereka tidak pernah disebut sebagai teroris, melainkan "kelompok bersenjata"), "Boss" dan "Big Boss" PLN, serta menteri perdagangan yang tidak pernah membuat prestasi melainkan membuat harga barang-barang melonjak, tapi bisa melenggang sebagai calon presiden, mereka adalah orang-orang yang sama, yang terikat pada satu persaudaraan rahasia penyembah dajjal.
Monday, September 16, 2013
KONFLIK MILITER AMERIKA-RUSIA TELAH TERJADI
IRAN PASTIKAN DAPATKAN RUDAL S-300 RUSIA
"Menghantam Damaskus sama dengan menghantam Moskow, dan kami telah menghilangkan kalimat "telah menembak jatuh 2 rudal" dalam pernyataan resmi kami demi menjaga hubungan bilateral dan menghentikan eskalasi. Maka dari itu, Anda harus segera mempertimbangkan kembali kebijakan-kebijakan, pendekatan-pendekatan dan kehendak-kehendak Anda terkait krisis Syria sebagaimana Anda harus percaya bahwa Anda tidak bisa mengabaikan keberadaan kami di kawasan Laut Tengah."
Demikianlah ancaman yang disampaikan kepala dinas inteligen Rusia kepada mitranya di Amerika perihal ditembak jatuhnya 2 rudal balistik Amerika oleh sistem pertahanan udara Rusia beberapa waktu lalu. Perkataan itu lah yang sebenarnya menjadi dasar "mundur"-nya Amerika dan sekutu-sekutunya dari rencana menyerang Syria, setelah menyadari bahwa Rusia telah siap mati membela sekutunya itu.
Sebagaimana telah ditulis di blog ini pada tgl 3 September lalu (lihat di sini) telah terjadi insiden peluncuran 2 rudal ballistik di Laut Mediterania yang mengarah ke Syria. Namun sampai saat itu masih simpang siur, siapa sebenarnya yang telah menembakkan rudal-rudal itu dan untuk tujuan apa, serta bagaimana "nasib" kedua rudal itu. Blog ini menyebutkan rudal-rudal itu ditembakkan oleh kapal selam Israel dengan maksud untuk memancing intervensi militer Amerika terhadap Syria. Namun informasi yang lebih valid menyebutkan hal yang berbeda. Israel tidak tahu-menahu mengenai rudal-rudal itu, yang ternyata ditembakkan dari pangkalan NATO di Spanyol. Radar-radar canggih Rusia segera berhasil melacak rudal-rudal itu dan rudal-rudal pencegat S-300 atau Alexander yang ditempatkan di Syria atau di kapal-kapal perangnya di Laut Mediterania, menembaknya di udara sebelum mencapai sasaran. Selanjutnya Rusia menggunakan insiden itu untuk menekan Amerika hingga membatalkan rencana serangan militer terhadap Syria.
Dan seperti terlihat kemudian, satu demi satu pemimpin barat mengundurkan diri dari rencana serangan terhadap Syria. Demi menyelamatkan muka Amerika, Rusia pun mengajukan proposal penyerahan senjata kimia Syria yang langsung disetujui Amerika dan semua negara barat. Hanya para pemberontak Syria, Turki dan negara-negara Arab badui saja yang masih sempat berteriak-teriak: "serang Syria!", namun segera diam setelah Liga Arab pun akhirnya menyetujui usulan Rusia.
Bagi Rusia, "kesalahan berujung kekalahan Amerika" itu dipergunakan untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah. Selain penambahan armada kapal perang di Laut Mediterania, Rusia juga dipastikan mempercepat pengiriman rudal-rudal S-300 ke Syria dan melanjutkan kembali pengiriman rudal yang sama ke Iran yang sempat dibatalkan.
Namun demikian dunia tidak boleh terlena dengan perkembangan "positif" yang terjadi dalam konflik Syria karena insiden penembakan rudal balistik tersebut di atas masih menyimpan misteri yang lebih besar. Apakah Presiden Obama sendiri yang memerintahkan penembakan itu, atau adanya sabotase yang dilakukan unsur-unsur inteligen dan militer Amerika pro-Israel yang sangat menginginkan terjadinya serangan Amerika terhadap musuh-musuh utama Israel, yaitu Iran dan Syria? Konflik internal di kalangan pengambil kebijakan Amerika ini sempat mencuat ke permukaan dengan dipecatnya Direktur CIA Jendral Petraeus beberapa waktu lalu. Petraeus diduga memimpin sekelompok pejabat inteligen dan militer Amerika yang didukung para politisi dengan tujuan menyabotase pemerintahan demi memaksa Amerika menyerang Iran. Misinya sama seperti serangan WTC tahun 2001 yang sukses "memaksa" Presiden George W Bush untuk melancarkan kampanye "Perang Terorisme".
RUDAL S-300 IRAN
Sementara itu dikabarkan Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyetujui untuk mengirimkan rudal-rudal S-300 ke Iran, 3 tahun setelah dibatalkan karena desakan Amerika dan PBB.
Menurut laporan media Rusia Kommersant hari Rabu (11/9), Rusia setuju untuk memenuhi permintaan Iran untuk melanjutkan transaksi pembelian rudal-rudal tersebut senilai $800 juta. Selain rudal-rudal itu, Rusia dan Iran juga sepakat untuk membangun satu reaktor nuklir lagi di Bushehr. Menurut Kommersant kedua pihak direncanakan akan menyelesaikan kontrak tersebut minggu ini, tepatnya saat Putin bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pertemuan negara-negara Asia Tengah di Kyrgyzstan.
Pembelian rudal-rudal S-300 oleh Iran dan Syria telah membuat Israel dan Amerika ketakutan karena mengancam keseimbangan militer di kawasan tersebut dan membuat Israel dan Amerika berada pada posisi tidak menguntungkan. Bulan lalu Rusia menunda pengiriman komponen rudal-rudal tersebut ke Syria karena Syria mengalami kesulitan pembayarannya. Rusia direncanakan akan menyelesaikan pengiriman sistem pertahanan udara tercanggih di dunia itu tahun depan, meski Presiden Bashar al Assad pada bulan Mei lalu mengklaim Syria telah memiliki senjata itu.
Dengan daya jangkau hingga 200 kilometer dan kemampuan mendeteksi dan menembak jatuh belasan sasaran sekaligus, Israel jelas-jelas ketakutan dengan senjata ini karena secara efektif membuat Israel kehilangan keunggulan udaranya sampai pada titik dimana Israel tidak mampu lagi menerbangkan pesawat terbangnya di beberapa wilayah udara Israel sendiri. Selain itu Rusia juga akan segera menyerahkan 12 pesawat tempur MiG-29M/M2 yang dipesan Syria sejak tahun 2007.
Bulan Mei lalu Israel dan Amerika mendesak Rusia untuk tidak mengirim senjata-senjata canggih itu ke Syria, namun ditolak Rusia dengan alasan senjata-senjata itu bersifat defensif.
REF:
"Truth of US-Russia Confrontation - Aggression was over the Moment those Two Missiles were Fired"; Daoud Rammal; As-Safir; 12 September 2013
"US deployed nuke force before Syria crisis"; Gordon Duff; Veterns Today; 7 September 2013
"Russia to supply S-300 anti-aircraft missiles to Iran"; Jerusalem Post; 12 September 2013
"Menghantam Damaskus sama dengan menghantam Moskow, dan kami telah menghilangkan kalimat "telah menembak jatuh 2 rudal" dalam pernyataan resmi kami demi menjaga hubungan bilateral dan menghentikan eskalasi. Maka dari itu, Anda harus segera mempertimbangkan kembali kebijakan-kebijakan, pendekatan-pendekatan dan kehendak-kehendak Anda terkait krisis Syria sebagaimana Anda harus percaya bahwa Anda tidak bisa mengabaikan keberadaan kami di kawasan Laut Tengah."
Demikianlah ancaman yang disampaikan kepala dinas inteligen Rusia kepada mitranya di Amerika perihal ditembak jatuhnya 2 rudal balistik Amerika oleh sistem pertahanan udara Rusia beberapa waktu lalu. Perkataan itu lah yang sebenarnya menjadi dasar "mundur"-nya Amerika dan sekutu-sekutunya dari rencana menyerang Syria, setelah menyadari bahwa Rusia telah siap mati membela sekutunya itu.
Sebagaimana telah ditulis di blog ini pada tgl 3 September lalu (lihat di sini) telah terjadi insiden peluncuran 2 rudal ballistik di Laut Mediterania yang mengarah ke Syria. Namun sampai saat itu masih simpang siur, siapa sebenarnya yang telah menembakkan rudal-rudal itu dan untuk tujuan apa, serta bagaimana "nasib" kedua rudal itu. Blog ini menyebutkan rudal-rudal itu ditembakkan oleh kapal selam Israel dengan maksud untuk memancing intervensi militer Amerika terhadap Syria. Namun informasi yang lebih valid menyebutkan hal yang berbeda. Israel tidak tahu-menahu mengenai rudal-rudal itu, yang ternyata ditembakkan dari pangkalan NATO di Spanyol. Radar-radar canggih Rusia segera berhasil melacak rudal-rudal itu dan rudal-rudal pencegat S-300 atau Alexander yang ditempatkan di Syria atau di kapal-kapal perangnya di Laut Mediterania, menembaknya di udara sebelum mencapai sasaran. Selanjutnya Rusia menggunakan insiden itu untuk menekan Amerika hingga membatalkan rencana serangan militer terhadap Syria.
Dan seperti terlihat kemudian, satu demi satu pemimpin barat mengundurkan diri dari rencana serangan terhadap Syria. Demi menyelamatkan muka Amerika, Rusia pun mengajukan proposal penyerahan senjata kimia Syria yang langsung disetujui Amerika dan semua negara barat. Hanya para pemberontak Syria, Turki dan negara-negara Arab badui saja yang masih sempat berteriak-teriak: "serang Syria!", namun segera diam setelah Liga Arab pun akhirnya menyetujui usulan Rusia.
Bagi Rusia, "kesalahan berujung kekalahan Amerika" itu dipergunakan untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah. Selain penambahan armada kapal perang di Laut Mediterania, Rusia juga dipastikan mempercepat pengiriman rudal-rudal S-300 ke Syria dan melanjutkan kembali pengiriman rudal yang sama ke Iran yang sempat dibatalkan.
Namun demikian dunia tidak boleh terlena dengan perkembangan "positif" yang terjadi dalam konflik Syria karena insiden penembakan rudal balistik tersebut di atas masih menyimpan misteri yang lebih besar. Apakah Presiden Obama sendiri yang memerintahkan penembakan itu, atau adanya sabotase yang dilakukan unsur-unsur inteligen dan militer Amerika pro-Israel yang sangat menginginkan terjadinya serangan Amerika terhadap musuh-musuh utama Israel, yaitu Iran dan Syria? Konflik internal di kalangan pengambil kebijakan Amerika ini sempat mencuat ke permukaan dengan dipecatnya Direktur CIA Jendral Petraeus beberapa waktu lalu. Petraeus diduga memimpin sekelompok pejabat inteligen dan militer Amerika yang didukung para politisi dengan tujuan menyabotase pemerintahan demi memaksa Amerika menyerang Iran. Misinya sama seperti serangan WTC tahun 2001 yang sukses "memaksa" Presiden George W Bush untuk melancarkan kampanye "Perang Terorisme".
RUDAL S-300 IRAN
Sementara itu dikabarkan Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyetujui untuk mengirimkan rudal-rudal S-300 ke Iran, 3 tahun setelah dibatalkan karena desakan Amerika dan PBB.
Menurut laporan media Rusia Kommersant hari Rabu (11/9), Rusia setuju untuk memenuhi permintaan Iran untuk melanjutkan transaksi pembelian rudal-rudal tersebut senilai $800 juta. Selain rudal-rudal itu, Rusia dan Iran juga sepakat untuk membangun satu reaktor nuklir lagi di Bushehr. Menurut Kommersant kedua pihak direncanakan akan menyelesaikan kontrak tersebut minggu ini, tepatnya saat Putin bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pertemuan negara-negara Asia Tengah di Kyrgyzstan.
Pembelian rudal-rudal S-300 oleh Iran dan Syria telah membuat Israel dan Amerika ketakutan karena mengancam keseimbangan militer di kawasan tersebut dan membuat Israel dan Amerika berada pada posisi tidak menguntungkan. Bulan lalu Rusia menunda pengiriman komponen rudal-rudal tersebut ke Syria karena Syria mengalami kesulitan pembayarannya. Rusia direncanakan akan menyelesaikan pengiriman sistem pertahanan udara tercanggih di dunia itu tahun depan, meski Presiden Bashar al Assad pada bulan Mei lalu mengklaim Syria telah memiliki senjata itu.
Dengan daya jangkau hingga 200 kilometer dan kemampuan mendeteksi dan menembak jatuh belasan sasaran sekaligus, Israel jelas-jelas ketakutan dengan senjata ini karena secara efektif membuat Israel kehilangan keunggulan udaranya sampai pada titik dimana Israel tidak mampu lagi menerbangkan pesawat terbangnya di beberapa wilayah udara Israel sendiri. Selain itu Rusia juga akan segera menyerahkan 12 pesawat tempur MiG-29M/M2 yang dipesan Syria sejak tahun 2007.
Bulan Mei lalu Israel dan Amerika mendesak Rusia untuk tidak mengirim senjata-senjata canggih itu ke Syria, namun ditolak Rusia dengan alasan senjata-senjata itu bersifat defensif.
REF:
"Truth of US-Russia Confrontation - Aggression was over the Moment those Two Missiles were Fired"; Daoud Rammal; As-Safir; 12 September 2013
"US deployed nuke force before Syria crisis"; Gordon Duff; Veterns Today; 7 September 2013
"Russia to supply S-300 anti-aircraft missiles to Iran"; Jerusalem Post; 12 September 2013
Friday, September 13, 2013
INI BUKAN TERORIS, IDIOT!
Apa hubungan aktor terkenal Hollywood Harrison Ford dengan terorisme?
Dahulu saya termasuk penggemar berat Horrison Ford. Sejak menyaksikan film pertama sekual "Indiana Jones", "Raiders of the Lost Ark" saya langsung menjadi penggemar setia film-filmnya. Sejak itu hampir semua film Ford tidak pernah saya tinggalkan: "The Temple of Doom", "Last Crusade", "Witness", "Fugitive", dan tentu saja "Clear and Present Danger".
Film terakhir itu sangat berarti bagi saya karena darinyalah timbul inspirasi untuk menulis sebuah opini, yang tanpa saya duga ternyata dimuat di harian Kompas. Padahal saat itu, tahun 1995 dan saya masih seorang mahasiswa, itulah tulisan pertama saya yang saya coba kirimkan ke media massa, dan menulis opini di Kompas dianggap sebagai salah satu capaian tertinggi intelektualisme di Indonesia.
Namun seiring berjalannya waktu dan saya kemudian menjadi terobsesi dengan "teori konspirasi", Harrison Ford saya masukkan ke dalam daftar tokoh-tokoh zionis yahudi. Yang pertama mengingatkan saya tentang hal ini adalah Philip Marlow, pengelola blog "Incogman.net" yang cukup dikenal di kalangan para "pencari kebenaran" di dunia maya. Saya pun menemukan kaitan sebagian besar film-film Harrison Ford dengan zionisme dan jehudaisme. Lihat saja film-film "Indiana Jones" yang selalu berkaitan dengan sejarah yahudi, mulai dari "tabut Nabi Sulaeman" hingga "perahu Nabi Nuh", selain propaganda legenda "holocoust". Dan tentu saja fakta bahwa Harrison Ford adalah salah seorang "anak emas Hollywood" yang sepenuhnya dikuasai orang-orang yahudi. Dalam satu film, untuk menunjukkan re-generasi "anak emas Hollywood", Harrison Ford dipasangkan dengan penggantinya, Bratt Pitt, sebagaimana dulu ia mewarisi gelar itu dari Sean Connery saat bermain bersama dalam film "The Last Crusade".
Maka ketika saya mendengar Harrison Ford bertingkah polah tidak sopan di kantor Menteri Kehutanan baru-baru ini, saya sangat sangat sangat tidak heran. Saya justru heran jika ada seorang zionis yang sopan, santun dan rendah hati. Dan ketika orang-orang "idiot" mencoba memperbaiki nama baik Harrison Ford dengan mengatakan: "Harrison Ford bermaksud memperbaiki AC yang mati di ruang tunggu Menteri Kehutanan," saya hanya tersenyum geli. Sejak kapan Harrison Ford menjadi tukang servis AC?
Mohon ma'af sebelumnya kalau ada yang menganggap saya seorang "rasis". Saya bukan anti-yahudi, namun saya anti zionisme dan anti terhadap kharakter watak orang-orang yahudi yang cenderung jahat. Saya menyadari sepenuhnya tidak semua orang yahudi jahat. Ada orang-orang seperti Gilad Atzmon yang pembela hak-hak Palestina, ada orang-orang yahudi Arab dan yahudi Persia (Iran) yang menolak pindah kewarganegaraan ke Israel dan memilih Arab dan Iran sebagai negerinya sendiri. Bahkan Nabi Muhammad S.A.W sendiri memperistri seorang wanita yahudi dan seorang nasrani.
Namun tidak bisa dibantah juga fakta yang sudah berumur ribuan tahun, yaitu bahwa mayoritas orang yahudi adalah sosok yang antagonis. Ada satu cerita tentang para pemandu wisata di Tibet yang bisa dengan mudah mengetahui wisatawan yang dipandunya berdarah yahudi atau tidak, yaitu dari kejorokan mereka dan pelitnya mereka memberi uang tip.
Lalu untuk apa Harrison Ford mau "repot-repot" menjadi pejuang lingkungan dan karenanya merasa berhak untuk memarahi Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan? Bukankah lebih baik ia ke Israel untuk memarahi perdana menteri Israel karena telah memerintahkan tentara-tentara dan pemukim ilegal yahudi Israel merusak ribuan pohon zaitun, cedar dan jeruk milik penduduk Palestina?
Kasus Harrison Ford ngamuk-ngamuk itu terjadi hampir bersamaan dengan "fenomena" penembakan polisi oleh "teroris". Seperti biasa, tidak lama setelah peristiwa penembakan-penembakan ini, media massa pun ramai memberitakannya seolah tidak ada peristiwa menarik lainnya, lengkap dengan bumbu analisis para pakar seperti Khaidir dan zionis lesbian Sidney Jones. Para pejabat dan politisi pun tidak ketinggalan ramai-ramai berkomentar soal peristiwa itu yang semuanya satu suara meski dengan logat bahasa berbeda-beda: menuduh teroris Islam sebagai pelakunya.
(Bersambung)
Dahulu saya termasuk penggemar berat Horrison Ford. Sejak menyaksikan film pertama sekual "Indiana Jones", "Raiders of the Lost Ark" saya langsung menjadi penggemar setia film-filmnya. Sejak itu hampir semua film Ford tidak pernah saya tinggalkan: "The Temple of Doom", "Last Crusade", "Witness", "Fugitive", dan tentu saja "Clear and Present Danger".
Film terakhir itu sangat berarti bagi saya karena darinyalah timbul inspirasi untuk menulis sebuah opini, yang tanpa saya duga ternyata dimuat di harian Kompas. Padahal saat itu, tahun 1995 dan saya masih seorang mahasiswa, itulah tulisan pertama saya yang saya coba kirimkan ke media massa, dan menulis opini di Kompas dianggap sebagai salah satu capaian tertinggi intelektualisme di Indonesia.
Namun seiring berjalannya waktu dan saya kemudian menjadi terobsesi dengan "teori konspirasi", Harrison Ford saya masukkan ke dalam daftar tokoh-tokoh zionis yahudi. Yang pertama mengingatkan saya tentang hal ini adalah Philip Marlow, pengelola blog "Incogman.net" yang cukup dikenal di kalangan para "pencari kebenaran" di dunia maya. Saya pun menemukan kaitan sebagian besar film-film Harrison Ford dengan zionisme dan jehudaisme. Lihat saja film-film "Indiana Jones" yang selalu berkaitan dengan sejarah yahudi, mulai dari "tabut Nabi Sulaeman" hingga "perahu Nabi Nuh", selain propaganda legenda "holocoust". Dan tentu saja fakta bahwa Harrison Ford adalah salah seorang "anak emas Hollywood" yang sepenuhnya dikuasai orang-orang yahudi. Dalam satu film, untuk menunjukkan re-generasi "anak emas Hollywood", Harrison Ford dipasangkan dengan penggantinya, Bratt Pitt, sebagaimana dulu ia mewarisi gelar itu dari Sean Connery saat bermain bersama dalam film "The Last Crusade".
Maka ketika saya mendengar Harrison Ford bertingkah polah tidak sopan di kantor Menteri Kehutanan baru-baru ini, saya sangat sangat sangat tidak heran. Saya justru heran jika ada seorang zionis yang sopan, santun dan rendah hati. Dan ketika orang-orang "idiot" mencoba memperbaiki nama baik Harrison Ford dengan mengatakan: "Harrison Ford bermaksud memperbaiki AC yang mati di ruang tunggu Menteri Kehutanan," saya hanya tersenyum geli. Sejak kapan Harrison Ford menjadi tukang servis AC?
Mohon ma'af sebelumnya kalau ada yang menganggap saya seorang "rasis". Saya bukan anti-yahudi, namun saya anti zionisme dan anti terhadap kharakter watak orang-orang yahudi yang cenderung jahat. Saya menyadari sepenuhnya tidak semua orang yahudi jahat. Ada orang-orang seperti Gilad Atzmon yang pembela hak-hak Palestina, ada orang-orang yahudi Arab dan yahudi Persia (Iran) yang menolak pindah kewarganegaraan ke Israel dan memilih Arab dan Iran sebagai negerinya sendiri. Bahkan Nabi Muhammad S.A.W sendiri memperistri seorang wanita yahudi dan seorang nasrani.
Namun tidak bisa dibantah juga fakta yang sudah berumur ribuan tahun, yaitu bahwa mayoritas orang yahudi adalah sosok yang antagonis. Ada satu cerita tentang para pemandu wisata di Tibet yang bisa dengan mudah mengetahui wisatawan yang dipandunya berdarah yahudi atau tidak, yaitu dari kejorokan mereka dan pelitnya mereka memberi uang tip.
Lalu untuk apa Harrison Ford mau "repot-repot" menjadi pejuang lingkungan dan karenanya merasa berhak untuk memarahi Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan? Bukankah lebih baik ia ke Israel untuk memarahi perdana menteri Israel karena telah memerintahkan tentara-tentara dan pemukim ilegal yahudi Israel merusak ribuan pohon zaitun, cedar dan jeruk milik penduduk Palestina?
Kasus Harrison Ford ngamuk-ngamuk itu terjadi hampir bersamaan dengan "fenomena" penembakan polisi oleh "teroris". Seperti biasa, tidak lama setelah peristiwa penembakan-penembakan ini, media massa pun ramai memberitakannya seolah tidak ada peristiwa menarik lainnya, lengkap dengan bumbu analisis para pakar seperti Khaidir dan zionis lesbian Sidney Jones. Para pejabat dan politisi pun tidak ketinggalan ramai-ramai berkomentar soal peristiwa itu yang semuanya satu suara meski dengan logat bahasa berbeda-beda: menuduh teroris Islam sebagai pelakunya.
(Bersambung)
IRAN: ANCAMAN IRAN DI BALIK MUNDURNYA AMERIKA DARI SYRIA
Seorang politisi Iran mengklaim bahwa mundurnya Amerika dari rencana intervensi atas Syria disebabkan oleh ancaman Iran terhadap Amerika.
"Ketika para komandan militer Iran menyatakan Syria sebagai "garis merah" (yang tidak boleh dilangkahi) serta sikap tegas Ayatollah Seyyed Ali Khamenei terhadap perkembangan Syria, Amerika langsung menyadari bahwa Iran adalah negara superpower di kawasan yang bisa melukai Amerika, dan tidak ada kekuatan yang bisa mengabaikan peringatan Iran," kata anggota Komisi Luar Negeri Parlemen Iran Javad Karimi Qoddousi, kepada media massa Iran, Rabu (11/9).
Menurut Qoddousi, menanggapi sikap tegas Iran itu para pejabat Amerika akhirnya bersikap realistis dengan memilih untuk tidak menanggung resiko kekalahan militer menyakitkan yang takkan terlupakan sejarah yang bisa menghancurkan karier politik mereka.
Qoddousi menegaska bahwa Syria dianggap sebagai jantung semangat perlawanan anti Israel, dan negara-negara pendukungnya telah bertekad untuk mendukungnya menghadapi Amerika. Qoddousi menambahkan, kemungkinan reaksi keras dari Hezbollah dan Syria juga menjadi pertimbangan Amerika untuk mundur.
“Amerika menyadari bahwa jika mereka menyerang Syria, kapal-kapal perang mereka di Laut Mediterania akan dihantam oleh rudal-rudal,” kata Karimi Qoddousi.
Ancaman serangan Amerika terhadap Syria yang menjadi kekhawatiran utama masyarakat dunia berpangkal dari tuduhan Amerika bahwa pemerintah Syria sebagai pelaku serangan senjata kimia di luar kota Damaskus tgl 21 Agustus lalu, yang menewaskan ratusan warga sipil. Sejak awal tuduhan tersebut dibantah oleh Syria, Rusia dan Iran yang justru balik menuduh para pemberontak dukungan Amerika-lah yang telah melakukan serangan tersebut. Media-media massa "utama" global cenderung mendukung tuduhan Amerika, namun media-media independen mendukung klaim pemerintah Syria.
Sampai saat terakhir pemerintah Amerika sendiri mengakui tidak memiliki "bukti tak terbantahkan" atas tuduhan mereka, kecuali "pandangan umum yang kuat di kalangan inteligen".
Sebagaimana diberitakan, Amerika akhirnya memutuskan "menunda" serangan terhadap Syria sebagai respons atas usulan Rusia untuk menyerahkan pengawasan senjata-senjata kimia Syria kepada PBB. Usulan tersebut dianggap sebagai terobosan yang cerdas yang berhasil membebaskan Amerika dan Syria serta semua kekuatan yang terlibat dalam konflik Syria dari pilihan yang sangat sulit, yaitu perang terbuka yang melibatkan Amerika.
REF:
"US quit Syria war over possible reaction from Tehran: Iranian MP"; Press TV; 11 September 2013
"Ketika para komandan militer Iran menyatakan Syria sebagai "garis merah" (yang tidak boleh dilangkahi) serta sikap tegas Ayatollah Seyyed Ali Khamenei terhadap perkembangan Syria, Amerika langsung menyadari bahwa Iran adalah negara superpower di kawasan yang bisa melukai Amerika, dan tidak ada kekuatan yang bisa mengabaikan peringatan Iran," kata anggota Komisi Luar Negeri Parlemen Iran Javad Karimi Qoddousi, kepada media massa Iran, Rabu (11/9).
Menurut Qoddousi, menanggapi sikap tegas Iran itu para pejabat Amerika akhirnya bersikap realistis dengan memilih untuk tidak menanggung resiko kekalahan militer menyakitkan yang takkan terlupakan sejarah yang bisa menghancurkan karier politik mereka.
Qoddousi menegaska bahwa Syria dianggap sebagai jantung semangat perlawanan anti Israel, dan negara-negara pendukungnya telah bertekad untuk mendukungnya menghadapi Amerika. Qoddousi menambahkan, kemungkinan reaksi keras dari Hezbollah dan Syria juga menjadi pertimbangan Amerika untuk mundur.
“Amerika menyadari bahwa jika mereka menyerang Syria, kapal-kapal perang mereka di Laut Mediterania akan dihantam oleh rudal-rudal,” kata Karimi Qoddousi.
Ancaman serangan Amerika terhadap Syria yang menjadi kekhawatiran utama masyarakat dunia berpangkal dari tuduhan Amerika bahwa pemerintah Syria sebagai pelaku serangan senjata kimia di luar kota Damaskus tgl 21 Agustus lalu, yang menewaskan ratusan warga sipil. Sejak awal tuduhan tersebut dibantah oleh Syria, Rusia dan Iran yang justru balik menuduh para pemberontak dukungan Amerika-lah yang telah melakukan serangan tersebut. Media-media massa "utama" global cenderung mendukung tuduhan Amerika, namun media-media independen mendukung klaim pemerintah Syria.
Sampai saat terakhir pemerintah Amerika sendiri mengakui tidak memiliki "bukti tak terbantahkan" atas tuduhan mereka, kecuali "pandangan umum yang kuat di kalangan inteligen".
Sebagaimana diberitakan, Amerika akhirnya memutuskan "menunda" serangan terhadap Syria sebagai respons atas usulan Rusia untuk menyerahkan pengawasan senjata-senjata kimia Syria kepada PBB. Usulan tersebut dianggap sebagai terobosan yang cerdas yang berhasil membebaskan Amerika dan Syria serta semua kekuatan yang terlibat dalam konflik Syria dari pilihan yang sangat sulit, yaitu perang terbuka yang melibatkan Amerika.
REF:
"US quit Syria war over possible reaction from Tehran: Iranian MP"; Press TV; 11 September 2013
Wednesday, September 11, 2013
MANTAN TAWANAN UNGKAPKAN TENTANG PELAKU SERANGAN SENJATA KIMIA
Akhirnya ketegangan konflik Syria mereda untuk sementara setelah negara-negara yang terlibat dalam konflik -- kecuali negara-negara Arab badui, setuju dengan proposal Rusia untuk menyerahkan senjata kimia pemerintah Syria kepada PBB. Namun seiring dengan itu satu demi satu bukti terkuak, bahwa pelaku serangan senjata kimia di Syria adalah pemberontak.
Kali ini dua orang mantan tawanan pemberontak Syria yang mengungkapkan fakta tentang konspirasi zionis internasional untuk memojokkan Syria dengan isu senjata kimia. Kedua tawanan tersebut, jurnalis Italia Domenico Quirico dan peneliti Belgia Pierre Piccinin, mengaku telah mendengar percakapan para pemberontak tentang keterlibatan mereka dalam serangan senjata kimia yang menewaskan lebih dari seribu warga sipil di berbagai wilayah di luar Damaskus bulan Agustus lalu. Pengakuan tersebut dikatakan keduanya setelah keduanya mendarat di bandara Roma Italia tgl 9 September lalu, mengakhiri penawanan mereka oleh pemberontak Syria yang berlangsung selama 5 bulan lebih.
"Ini adalah kewajiban moral untuk mengatakannya. Pemerintah Bashar al-Assad tidak menggunakan senjata gas sarin atau senjata kimia lainnya di sekitar Damascus,” kata Piccinin dalam wawancara dengan stasion radio "Belgian RTL".
Menurut pengakuan Piccinin, mereka berdua mendengar percakapan antara 3 orang yang berbahasa Inggris menggunakan media "Skype". Ia mendengar salah seorang pemberontak itu mengatakan, "serangan kimia di 2 kawasan di luar Damascus dilakukan oleh pemberontak sebagai provokasi barat untuk melakukan intervensi militer.”
Keduanya mengecam berbagai ancaman yang dikeluarkan Amerika terhadap Syria terkait isu serangan senjata kimia tersebut. Penurut pengakuan Quirico, mereka berdua telah mengalami berbagai penyiksaan selama menjalani penahanan, dipukuli setiap hari dan 2 kali mengalami eksekusi palsu. Keduanya masuk ke Syria dari Lebanon pada tgl 6 April. Pada tgl 9 April keduanya ditangkap pemberontak saat keduanya tengah dalam perjalanan menuju Homs.
Retorika perang Syria mendapatkan momentumnya pada tgl 21 Agustus lalu ketika para pemberontak mengklaim pemerintah telah melakukan serangan senjata kimia terhadap warga sipil di beberapa kawasan di luar kota Damaskus. Sebanyak lebih dari seribu orang tewas akibat aksi tersebut. Tuduhan tersebut dibantah oleh pemerintah Syria, juga oleh pemerintah Rusia dan Iran, yang balik menuduh pemberontaklah yang telah melakukan serangan itu. Medai-media utama cenderung menyuarakan tuduhan pemberontak, namun media-media independen sebaliknya gancar mengungkapkan berbagai fakta yang menunjukkan kebohongan tuduhan tersebut.
Atas tuduhan tersebut Amerika mengancam melakukan serangan militer terhadap Syria. Namun ancaman tersebut terhambat oleh opini publik yang berkembang di dalam negeri yang menolak langkah militer terhadap Syria, yang membuat Obama menyerahkan keputusan tersebut kepada Congress. Namun Obama buru-buru meminta Congress untuk menunda keputusan untuk memberi jalan bagi teralisasinya proposal Rusia.
REF:
"Ex-captives reveal militants’ involvement in August 21 Syria chemical raid"; Press TV; 10 September 2013
Tuesday, September 10, 2013
KUINGIN MENCIUM KAKIMU
Saya baru membaca 2 tulisan "menyeramkan" karya Yukon Jack dan Gordon Duff dari "Veterans Today" tentang prospek perang nuklir sebagai dampak dari konflik Syria yang kini menjadi "liar" dan tak terkendalikan, setelah Presiden Amerika Barack Obama (ber-ibu seorang wanita yahudi, dan karenanya secara otomatis dianggap sebagai orang yahudi juga. Kepada orang-orang seperti ini secara otomatis Isreal menganggapnya sebagai warganegaranya juga, bahkan mungkin sudah menyiapkan passport untuknya) berkukuh untuk melakukan serangan militer terhadap Syria. Namun demi tulisan ini, saya sangaja menunda dulu pembahasan tentang analisa dan "ramalan" Jack dan Duff tersebut di atas.
Sebagai penggemar lagu-lagunya Yanni, Flim and The BB's atau Dewa Budjana, saya tentu merasa geli mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh Julia ini. Bagi saya mendengar lagu-lagu itu seperti mendengar lagu-lagu yang dibawakan (mohon ma'af) para penyanyi Malaysia, kalah jauh dibandingkan kualitas lagu-lagu yang dibuat oleh para musisi Indonesia. Namun setelah menyimak lirik-liriknya, hati saya terguncang dan tanpa sadar mata saya pun menitikkan air mata.
Di tengah-tengah dunia modern yang dipenuhi dengan kebohongan dan kemunafikan, apa yang diungkapkan pada lirik-lirik itu adalah suatu kejujuran yang langka. Apalagi jika kejujuran itu tentang sesuatu yang inspiratif, sangat beralasan kalau saya menjadi terkesima karenanya.
Meski Julia Boutros adalah seorang penyanyi populer Lebanon yang beragama Kristen, lagu-lagunya dipenuhi dengan lirik-lirik pujian kepada Hizbollah. Dan yang mengguncangkan saya adalah semua penggemar yang mencerminkan keseluruhan warga Lebanon, ternyata menyukai dan hafal dengan lagu-lagu itu. Padahal sebagaimana Julia, sebagian besar mereka adalah orang-orang elit Kristen, atau sekuler, terlihat dari sedikitnya mereka yang mengenakan jilbab atau identitas Islam lainnya. Sebaliknya sebagian besar mereka justru mengenakan jas dan dasi, dan para wanitanya mengenakan gaun pesta.
Julia yang lahir di Beirut 1 April 1968 di tengah keluarga penganut Kristen Orthodox Yunani yang taat, sekolah di Rosary Sisters Schools dimana ia mulai menyanyi di paduan suara sekolahnya. Pada umur 12 tahun ia mulai rekaman dengan lagu pertamanya berjudul "A Maman". Selain lagu-lagu berbahasa Arab, ia juga mengeluarkan beberapa lagu berbahasa Perancis seperti "C'est la Vie" dan "Viens dans Ma Vie". Pada bulan Oktober 2006, Julia merilis single berjudul "Ahibaii" (My loved ones). Liriknya berasal dari surat yang dikirim pemimpin Hizbollah Hassan Nasrallah kepada para pejuang Hizbollah yang tengah berperang melawan Israel di Lebanon Selatan tahun 2006. Hasil penjualan album itu yang mencapai $3 juta semuanya disumbangkan untuk para pejuang dan korban perang.
Dan inilah sebagian dari lirik lagu yang dibawakan Julia.
Kamu adalah tentara Tuhan di medan perang
Kamu adalah janji yang benar, kemenangan yang akan datang
Karenamu, negeri dan para tawanan akan dibebaskan
Karena kepalan tangan dan semangatmu rumah dan kehormatan kami akan terlindungi
Kamulah pembangun peradaban manusia
Kamulah pembangkit nilai-nilai kebenaran
Namamu abadi seperti abadinya pohon-pohon cedar
Kamulah kejayaan negeri ini
Kamulah pemimpin-pemimpin kami
Kamu adalah mahkota di kepala kami
Namun ada satu bagian lirik yang paling mengguncangkan saya.
"Ku ingin mencium kakimu yang penuh kemuliaan!"
Dalam satu sabdanya yang terabadikan di dalam kitab Injil Barnabas, Nabi Isa (Yesus Kristus) berkata tentang nabi akhir jaman, Muhammad S.A.W yang kira-kira bunyinya demikian: "Jika saya diberi kesempatan bertemu dengan Muhammad, saya akan merasa sangat bahagia jika bisa membasuh terompahnya dan mencium kakinya."
Saya jadi teringat pada satu ayat Al Qur'an yang menyebutkan tentang "teman terbaik bagi kaum Muslimin", yaitu "orang-orang Nasrani" yang "matanya bercucuran jika disampaikan kebenaran", yang "jujur dan tidak pamrih".
Lalu saya pun terbayang pada Syria dimana kaum Nasraninya berjuang bahu-membahu dengan kaum muslim melawan para pemberontak takfiri dan orang-orang zionis internasional. Juga kepada Rusia, negara yang mayoritas penduduknya penganut Kristen yang ta'at (yg kebetulan satu mazhab dengan orang-orang Kristen Lebanon, Syria dan Palestina, yaitu Kristen orthodoks) dan kini berdiri teguh membela Syria.
Maka saya pun berharap semoga orang-orang Rusia-lah yang bakal menjadi "Almasih", yang bersama-sama Imam Mahdi (Hizbollah dan Iran. Berdasar hadits Almahdi adalah keturunan Nabi Muhammad, sama seperti para pemimpin Iran dan Hizbollah) menghancurkan "dajjal" (Amerika-Israel dan pengikut-pengikutnya).
Sumber:
http://www.disclose.tv/action/viewvideo/151515/Christian_Singer_Honors_Hezbollah_in_Stunning_2013_Concert_Performance/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+Disclosetv+%28Disclose.tv+-+New+Videos%29
Sebagai penggemar lagu-lagunya Yanni, Flim and The BB's atau Dewa Budjana, saya tentu merasa geli mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh Julia ini. Bagi saya mendengar lagu-lagu itu seperti mendengar lagu-lagu yang dibawakan (mohon ma'af) para penyanyi Malaysia, kalah jauh dibandingkan kualitas lagu-lagu yang dibuat oleh para musisi Indonesia. Namun setelah menyimak lirik-liriknya, hati saya terguncang dan tanpa sadar mata saya pun menitikkan air mata.
Di tengah-tengah dunia modern yang dipenuhi dengan kebohongan dan kemunafikan, apa yang diungkapkan pada lirik-lirik itu adalah suatu kejujuran yang langka. Apalagi jika kejujuran itu tentang sesuatu yang inspiratif, sangat beralasan kalau saya menjadi terkesima karenanya.
Meski Julia Boutros adalah seorang penyanyi populer Lebanon yang beragama Kristen, lagu-lagunya dipenuhi dengan lirik-lirik pujian kepada Hizbollah. Dan yang mengguncangkan saya adalah semua penggemar yang mencerminkan keseluruhan warga Lebanon, ternyata menyukai dan hafal dengan lagu-lagu itu. Padahal sebagaimana Julia, sebagian besar mereka adalah orang-orang elit Kristen, atau sekuler, terlihat dari sedikitnya mereka yang mengenakan jilbab atau identitas Islam lainnya. Sebaliknya sebagian besar mereka justru mengenakan jas dan dasi, dan para wanitanya mengenakan gaun pesta.
Julia yang lahir di Beirut 1 April 1968 di tengah keluarga penganut Kristen Orthodox Yunani yang taat, sekolah di Rosary Sisters Schools dimana ia mulai menyanyi di paduan suara sekolahnya. Pada umur 12 tahun ia mulai rekaman dengan lagu pertamanya berjudul "A Maman". Selain lagu-lagu berbahasa Arab, ia juga mengeluarkan beberapa lagu berbahasa Perancis seperti "C'est la Vie" dan "Viens dans Ma Vie". Pada bulan Oktober 2006, Julia merilis single berjudul "Ahibaii" (My loved ones). Liriknya berasal dari surat yang dikirim pemimpin Hizbollah Hassan Nasrallah kepada para pejuang Hizbollah yang tengah berperang melawan Israel di Lebanon Selatan tahun 2006. Hasil penjualan album itu yang mencapai $3 juta semuanya disumbangkan untuk para pejuang dan korban perang.
Dan inilah sebagian dari lirik lagu yang dibawakan Julia.
Kamu adalah tentara Tuhan di medan perang
Kamu adalah janji yang benar, kemenangan yang akan datang
Karenamu, negeri dan para tawanan akan dibebaskan
Karena kepalan tangan dan semangatmu rumah dan kehormatan kami akan terlindungi
Kamulah pembangun peradaban manusia
Kamulah pembangkit nilai-nilai kebenaran
Namamu abadi seperti abadinya pohon-pohon cedar
Kamulah kejayaan negeri ini
Kamulah pemimpin-pemimpin kami
Kamu adalah mahkota di kepala kami
Namun ada satu bagian lirik yang paling mengguncangkan saya.
"Ku ingin mencium kakimu yang penuh kemuliaan!"
Dalam satu sabdanya yang terabadikan di dalam kitab Injil Barnabas, Nabi Isa (Yesus Kristus) berkata tentang nabi akhir jaman, Muhammad S.A.W yang kira-kira bunyinya demikian: "Jika saya diberi kesempatan bertemu dengan Muhammad, saya akan merasa sangat bahagia jika bisa membasuh terompahnya dan mencium kakinya."
Saya jadi teringat pada satu ayat Al Qur'an yang menyebutkan tentang "teman terbaik bagi kaum Muslimin", yaitu "orang-orang Nasrani" yang "matanya bercucuran jika disampaikan kebenaran", yang "jujur dan tidak pamrih".
Lalu saya pun terbayang pada Syria dimana kaum Nasraninya berjuang bahu-membahu dengan kaum muslim melawan para pemberontak takfiri dan orang-orang zionis internasional. Juga kepada Rusia, negara yang mayoritas penduduknya penganut Kristen yang ta'at (yg kebetulan satu mazhab dengan orang-orang Kristen Lebanon, Syria dan Palestina, yaitu Kristen orthodoks) dan kini berdiri teguh membela Syria.
Maka saya pun berharap semoga orang-orang Rusia-lah yang bakal menjadi "Almasih", yang bersama-sama Imam Mahdi (Hizbollah dan Iran. Berdasar hadits Almahdi adalah keturunan Nabi Muhammad, sama seperti para pemimpin Iran dan Hizbollah) menghancurkan "dajjal" (Amerika-Israel dan pengikut-pengikutnya).
Sumber:
http://www.disclose.tv/action/viewvideo/151515/Christian_Singer_Honors_Hezbollah_in_Stunning_2013_Concert_Performance/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+Disclosetv+%28Disclose.tv+-+New+Videos%29
Subscribe to:
Posts (Atom)






