Tuesday, October 8, 2013

IN MEMORIAM PERANG YOM KIPPUR

Perang Yom Kippur yang terjadi tgl 6 Oktober sampai 25 Oktober 1973 merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah di antara 3 negara yang paling terlibat di dalamnya, yaitu Syria, Mesir dan Israel. Namun di antara ketiganya terdapat cara yang berbeda dalam peringatannya.

Di Mesir peringatan itu didominasi bentrokan berdarah antara pendukung Ikhwanul Muslimin dengan aparat keamanan dan massa anti-Ikwanul Muslimin yang menewaskan lebih dari 50 orang, merupakan pengulangan aksi-aksi demonstrasi berujung pembantaian oleh aparat keamanan yang dilakukan massa Ikwanul Muslimin sejak bulan Juli lalu. Di Syria peringatan dilakukan dalam berbagai bentuk seperti pameran seni, pertunjukan-pertunjukan, pemutaran film, konser, pawai hingga upacara bendera yang diadakan di puncak pegunungan Qasioun di dekat Damaskus yang dihadiri para pejabat tinggi Syria.

Bagi bangsa-bangsa Arab, perang tersebut membuktikan bahwa mereka sanggup mengalahkan Israel yang sebelumnya dianggap sebagai kekuatan yang tidak bisa dikalahkan. Sebaliknya bagi bangsa Israel, perang tersebut meruntuhkan kesombongan mereka sebagai kekuatan militer yang tidak terkalahkan oleh tetangga-tetangga sekaligus musuhnya orang-orang Arab.

Secara umum perang tersebut digambarkan sebagai upaya bersama Mesir dan Syria untuk merebut kembali wilayah mereka yang diduduki Israel sejak Perang 6 Hari tahun 1967. Mesir dan Syria awalnya berhasil mencapai tujuan mereka dengan mengusir Israel dari wilayah yang diduduki, yaitu Sinai (Mesir) dan Golan (Syria), namun akhirnya Israel berhasil menduduki kembali wilayah-wilayah tersebut. Namun ada banyak hal yang tidak ditulis dalam buku-buku sejarah dan dibahas oleh media-media massa umumnya, yaitu pengkhianatan pemimpin Mesir Anwar Sadat terhadap Syria (selengkapnya silakan lihat di sini http://cahyono-adi.blogspot.com/2012/09/sadat-khianati-syria-dalam-perang-yom.html), serta bantuan tanpa batas Amerika terhadap Israel, termasuk mengirim pesawat-pesawat tempur beserta pilotnya yang disamarkan hingga bantuan informasi inteligen dengan menggunakan peralatan paling canggih saat itu seperti pesawat pengintai SR-71 Blackbird. Dan satu lagi informasi penting namun luput dari perhatian publik, yaitu nyarisnya Israel menggunakan bom nuklir untuk menghentikan laju pasukan Syria dan Mesir.

Setelah perang itu, Mesir dan Syria yang sebelumnya adalah sekutu dekat hingga pernah menyatukan diri dalam satu negara, memilih jalan berbeda dalam hubungan mereka dengan Israel. Mesir memilih berdamai dengan Israel dengan imbalan mendapatkan kembali Sinai meski dengan kedaulatan yang tidak lagi utuh karena Israel juga diberi kewenangan campur tangan di wilayah itu. Imbalan lainnya adalah bantuan militer senilai miliaran dolar setiap tahun oleh Amerika. Sebaliknya Syria tetap memilih jalan perang, hingga sekarang. Pada tahun 1982, sekali lagi Syria terlibat perang terbuka melawan Israel saat membantu tetangga Arab-nya, Lebanon, yang diserang Israel. Namun kala itu Syria tidak lagi bersekutu dengan negara-negara Arab lainnya memerangi Israel, melainkan dengan Iran.

Pada perang itu Presiden Mesir Anwar Sadat dan Presiden Syria Hafez al Assad memiliki motif yang berbeda. Sadat hanya tidak ingin dipandang sebagai pemimpin "impoten" yang tidak berani melawan Israel dan mengembalikan Sinai yang diduduki Israel. Sementara Hafez benar-benar serius untuk mengalahkan Israel dan merebut kembali Golan.

Secara diam-diam Sadat bersepakat dengan PM Israel Golda Meier untuk membiarkan tentara Mesir merebut Sinai dan memberi kesempatan Israel mengkonsentrasikan kekuatannya menghadapi Syria. Hal ini dipenuhi Sadat dengan memerintahkan tentaranya berhenti dan duduk-duduk di Sinai, dan bukannya melanjutkan serangannya ke jantung Israel. Yang lebih parah lagi, Tentara Ke-III yang ditugaskan menyerang Sinai tidak didukung oleh kekuatan pasukan lainnya untuk menjaga jalur suplai. Akibatnya ketika tentara Israel menyerang balik, satuan itu terkepung sendirian, dan Mesir pun akhirnya setuju untuk gencatan senjata. Akibatnya Syria harus menanggung beban perang yang lebih berat lagi. Bertempur relatif sendirian menghadapi gabungan kekuatan Israel dan Amerika (dukungan kekuatan negara-negara Arab tidak cukup signifikan), Syria pun akhirnya mundur kembali dari Golan yang sempat direbutnya dari Israel. Dalam perang itu Syria harus kehilangan 6.000 tentaranya.

Dalam perang tersebut Israel yang kehilangan hampir 3.000 tentaranya memang berhasil membalikkan kemenangan Mesir dan Syria di awal perang menjadi kemenangan mereka di akhir perang. Namun predikat "kekuatan tak terkalahkan" yang disandang Israel berhasil diruntuhkan. Dan hal itu bertambah kuat setelah Hizbollah dan kelompok "Perlawanan" Lebanon berhasil mengusir Israel dari Lebanon tahun 2000 dan sekali lagi tahun 2006.

Sejak saat itu Israel tidak lagi memiliki kepercayaan diri untuk menyerang negara-negara tetangganya kecuali ada jaminan perlindungan dari Amerika.


 
REF:
"War Self-Delusion"; FRANKLIN LAMB; Veterans Today; 4 Oktober 2013

Monday, October 7, 2013

RITUAL DARAH YAHUDI, INI ISU TERBARU

Mengapa para mujahilin Syria begitu tega memperlakukan manusia-manusia tidak berdosa? Satu saat saya melihat mereka menancampkan salib ke mulut seorang gadis yang sebelumnya mereka perkosa bersamai-ramai. Saat lainnya saya melihat mereka menyembelih seorang gadis seperti ayam dan menampung darahnya di dalam ember. Itu belum termasuk seorang dari mereka yang dengan bangga membelah dada mayat korbannya, mengambil jantungnya dan memakannya mentah-mentah, atau video penyembelihan hidup-hidup tawanan mereka.

Saya telah mencoba mencari alasan mereka melakukan tindakan-tindakan keji itu. Namun jawaban yang paling tepat menurut saya adalah bahwa mereka adalah pengikut atau kaki tangan sekte yahudi penyembah setan. Dan darah di dalam ember yang mereka tampung dari korban mereka itu bakal menjadi bahan selai yang dioleskan dalam roti yang mereka santap pada hari-hari suci mereka.

Bagi yang sama sekali awam tentang ritual darah orang-orang yahudi, silakan lihat disini: http://cahyono-adi.blogspot.com/2009/03/pembunuhan-ritual-yahudi-1.html
di sini: http://cahyono-adi.blogspot.com/2009/03/pembunuhan-ritual-yahudi-2.html
dan di sini: http://cahyono-adi.blogspot.com/2009/03/pembunuhan-ritual-yahudi-3.html

Baru-baru ini Gilad Atzmon, musisi dan penulis serta aktifis hak-hak rakyat Palestina asal Inggris menulis artikel menarik terkait ritual darah yahudi. Hanya ini merupakan versi "moderat" dari kebiasaan ritual darah orang-orang yahudi, yaitu metzitzah b’peh, atau kebiasaan menghisap darah bayi yang disunat. Tulisannya berdasarkan laporan media Israel Haaretz tentang rancangan perda baru Kota New York yang akan memberi kewenangan dinas kesehatan setempat untuk mengawasi urusan hisap-menghisap darah oleh orang-orang yahudi di kota itu.

Dinas kesehatan New York menaruh perhatian pada banyaknya kasus kematian bayi yang diyakini terkait dengan kebiasaan metzitzah b’peh itu. Namun sayangnya tidak banyak yang mengetahui kebiasaan itu.

Dalam buku "Medicine and The German Jews", John M. Ephron menuliskan:

“Kebiasaan sunatan orang-orang yahudi telah menjadi perdebatan publik pada abad 19 di Jerman. Sunatan telah lama dianggap sebagai kebiasaan yang paling berbeda dan eksklusif di antara kebiasaan-kebiasaan yahudi lainnya, dan perdebatan seputar masalah itu telah sampai pada masalah keikhlasan orang-orang yahudi untuk benar-benar menjadi orang Jerman. Kebiasaan itu dianggap sebagai tanda penolakan orang-orang yahudi untuk membuang perbedaan mereka dengan lainnya."

Gilad percaya hanya sedikit orang yang memahami tentang kebiasaah ritual darah orang-orang yahudi. Namun yang menjadi perhatian Gilad sebagai orang yahudi dalam kasus ini adalah bahwa perhatian publik pada kasus metzitzah b’peh ini menjadi tanda bahwa para goyim (orang-orang non-yahudi) telah berteriak-teriak marah kepada orang-orang yahudi: "cukup sudah dengan kebrengsekan kalian!"

"Saya tidak yakin bisa menyelamatkan situasi ini. Saya percaya bahwa orang-orang yahudi harus berhati-hati dan siaga. Jika sejarah yahudi dijadikan pelajaran, hal ini mengingatkan bahwa orang-orang yahudi secara jelas tengah mengalami masalah. Jika sejarah dijadikan pelajaran, saran-saran saya ini bakal diabaikan oleh orang-orang yahudi. Dan begitulah tragedi-tragedi yang dialami orang-orang yahudi terjadi," tulis Gilad.



REF:
"On Blood Rituals"; Gilad Atzmon; gilad.co.uk; 30 September 2013

Saturday, October 5, 2013

MENGAPA NEGARA-NEGARA BANGKRUT?

Sebelumnya saya mohon ma'af kepada para pengunjung setia blok ini yang melihat akhir-akhir ini produktifitas tulisan saya menurun tajam. Selama sebulan terakhir ini Kota Medan dan wilayah-wilayah lain di seluruh Sumatera Utara tengah mengalami krisis listrik yang sangat parah. Hari ini saja warga sekeliling rumah saya mengalami pamadaman aliran listrik selama lebih dari 6 jam non-stop. Parahnya lagi Telkom, BUMN prestisius yang bertanggungjawab atas layanan telekomunikasi seperti turut berkonspirasi menghancurkan layanan publik dengan tidak menyediakan genset untuk mendukung operasionalnya. Maka ketika alisran listrik mati, jaringan internet pun lumpuh. Akibatnya masyarakat pun semakin sulit untuk bisa mengakses internet, khususnya yang selama ini mengandalkan produk "Speedy" milik Telkom.

Gubernur Sumut yang sudah tidak tahan dengan tingkah PLN, terutama dengan kebohongan-kebohongan publik yang terlalu sering diumbar para pejabat PLN, telah melaporkan masalah ini kepada Presiden SBY. Namun seperti sudah saya duga, hal ini tidak merubah apapun karena SBY juga bagian dari masalah ini, bahkan mungkin yang paling besar. Alih-alih menanggapi serius permasalahan krisis listrik di Indonesia dan khususnya di Sumut, hari ini saya mendengar pernyataan aneh SBY yang meminta pimpinan TNI untuk memikirkan kesejahterakan personilnya. Bukankah yang harus memikirkan kesejahteraan aparat TNI adalah pemerintah? TNI adalah institusi profesional yang personilnya tidak boleh dibebani dengan "urusan perut" karena bisa sangat berbahaya. Apakah para jendral itu harus "ngobyek" untuk menambah uang saku anak buahnya?

Sejak SBY berpidato menyambut kemenangannya dalam pemilu tahun 2009 lalu, saya sudah meramalkan, Indonesia akan mengalami hal-hal yang sangat buruk. Dan krisis listrik di Sumut dan beberapa kejanggalan lainnya seperti melonjaknya harga barang-barang kebutuhan pokok, baru "pemanasan" saja. Saya sudah bisa membayangkan yang lebih buruk: pemadaman listrik total di ibukota, mesin-mesin ATM yang mogok massal, dan pengenaan pajak progressif pada tabungan masyarakat yang tidak berbeda dengan perampokan dana-dana masyarakat secara besar-besaran oleh negara (sudah terjadi di Yunani).

Dan hal-hal seperti itu pulalah yang bisa mengakibatkan sebuah negara menjadi bangkrut, seperti Amerika misalnya.

Dunia kini tengah dihebohkan dengan berita tentang "bangkrut"-nya pemerintah Amerika yang tidak memiliki dana untuk menjalankan pemerintahan setelah rencana anggaran yang diajukan pemerintah ditolak para legislator. Dengan berpura-pura bodoh atau memang benar-benar bodoh, media-media massa pun ramai-ramai menyebutkan program jaminan sosial "Obamacare" sebagai penyebab kebangkrutan tersebut. Mereka tidak pernah menyebut bahwa pemerintah Amerika memiliki hutang sebesar $16 triliun dan separohnya lebih "dihasilkan" oleh Presiden Obama, dan untuk membayar bunganya saja pemerintah harus mengeluarkan ratusan miliar dollar per-tahun. Ini belum termasuk "perang melawan terorisme" yang menguras ratusan miliar dolar Amerika dana publik Amerika setiap tahun. Itulah yang mengakibatkan Amerika bangkrut, bukan "Obamacare".

Namun hanya sedikit orang yang memahani ekonomi negara. Bahkan saya berani menjamin hanya sedikit sekali orang yang telah belajar Ekonomi Makro yang memahami tentang bagaimana perekonomian sebuah negara dijalankan.

Tuhan telah menganugerahkan bumi dengan kekayaan dan sumber daya yang tidak terkira. Hukum alam telah mengatur mahluk hidup untuk berkembang biak. Sebulir padi yang bisa menghasilkan ribuan butir padi dan sepasang ayam yang bisa menghasilkan ratusan ayam dan ribuan telor. Dikombinasikan dengan otak manusia yang luar biasa cerdas yang bisa merekayasa tanaman pangan untuk tumbuh di atas tanah gersang, plus peradaban manusia yang telah berkembang ribuan tahun, semestinya dunia ini dilimpahi dengan kemakmuran.

Namun mengapa banyak negara bisa hancur ekonominya dan umat manusia pun dilanda kelaparan dan kemiskinan? Bagaimana mungkin sebuah negara yang pemerintahnya memiliki sumber pendapatan mencapai Rp 40.000 triliun per-tahun seperti Amerika, bisa bangkrut? Tidak lain karena negara tersebut telah diatur dengan cara yang salah. Namun kesalahan ini tragisnya bukan karena "kebodohan", melainkan karena "kejahatan sistematis".

Setahun lebih yang lalu saya sempat berdiskusi dengan seorang teman tentang kondisi ekonomi negeri ini, khususnya terkait dengan minimnya anggaran pendidikan dikucurkan pemerintah pada perguruan tinggi negeri. Ketika saya mencoba memancingnya tentang "kejahatan sistematis" pengelolaan keuangan negara oleh pemerintah, teman saya yang menyandang gelar doktor dari Amerika itu menjawab tegas bahwa tidak mungkin pemerintah melakukan kejahatan seperti itu. Sayangnya prasangka baik tentang mitos "pemerintah selalu baik" yang dimiliki sebagian besar masyarakat itulah yang mengakibatkan negara seperti Amerika bisa bangkrut.


(bersambung)

PENGUASA AMERIKA KETAKUTAN DGN REVOLUSI

Dengan semakin tingginya tingkat kesadaran informasi publik Amerika yang mengungkap kebobrokan sistem pemerintahan Amerika, para elit penguasa negeri itu kini ketakutan bahwa sebuah revolusi rakyat akan muncul, sebagaimana di Tunisia dan Mesir.

Hal itu ditunjukkan, salah satunya, dengan munculnya sebuah memo yang dikeluarkan Departemen Kehakiman kepada polisi-polisi di daerah (Departemen Kehakiman membawahi kepolisian federal dan aparat penegak hukum lainnya) yang salah satu isinya menganggap siapapun para "pencari kebenaran" terutama mereka yang mempertanyakan kebenaran "Serangan WTC 9-11" versi pemerintah, sebagai "calon teroris".

Dalam memo tersebut disebutkan beberapa kelompok "pencari kebenaran" yang dianggap sebagai "calon teroris", di antaranya kelompok “libertarian philosophies,” “Second Amendment-oriented views,” “self-sufficiency” “fears of Big Brother or big government” dan “Declarations of Constitutional rights and civil liberties.”

Hal ini sejalan dengan semakin tingginya kesadaran rakyat Amerika terhadap berbagai konspirasi jahat yang selama ini melingkupi kehidupan mereka. Sebuah jajak pendapat nasional baru-baru ini mengungkapkan bahwa lebih dari separoh rakyat Amerika meragukan atau menolak sama sekali keterangan pemerintah tentang "Serangan WTC 9-11".

Memo berjudul “Potential Indicators of Terrorist Activities Related to Sleepers” menyebutkan kelompok-kelompok yang patut dicurigai sebagai calon teroris, termasuk orang-orang yang percaya pada "teori konspirasi", di antaranya mereka yang percaya bahwa "Serangan WTC" adalah operasi inteligen CIA untuk melegitimasi serangan terhadap negara lain.

Perlu ditekankan di sini bahwa sebelum tahun 1998 sebagian masyarakat percaya bahwa pada tahun 1962 Amerika sengaja melakukan operasi inteligen "Insiden Teluk Babi" untuk memberi alasan serangan militer terhadap Kuba. "Teori konspirasi" itu ternyata terbukti benar setelah pada tahun 1998 Departemen Pertahanan Amerika membuka arsip lama yang membuktikan bahwa pada tahun 1962 Kepala Staff Gabungan Jendral Lyman Lemnitzer menyetujui operasi inteligen bernama "Operation Northwoods". Dalam operasi itu melibatkan aksi terorisme dengan sasaran warga Amerika sendiri. Namun operasi itu digagalkan oleh Presiden Kennedy dan perang melawan Kuba dan Uni Sovyet pun berhasil dihindari, namun Jendral Lemnitzer hanya mendapatkan sanksi pemecatan daripada hukuman mati sebagai pengkhianat negara.

Sebuah pooling yang digelar oleh YouGov baru-baru ini menunjukkan bahwa sebanyak 38% rakyat Amerikan ragu-ragu dengan sebagian keterangan pemerintah tentang "Serangan WTC 9-11", 10% tidak percaya sama sekali, dan 12% lainnya "tidak yakin" dengan ketarangan pemerintah.

Dalam memo tersebut disebutkan alasan-alasan menetapkan seseorang atau sekelompok orang sebagai calon teroris, di antaranya: "Membenarkan tindakan kekerasan terhadap Amerika dengan alasan Amerika adalah penyebab munculnya masalah". Hal ini merujuk pada kelompok-kelompok "anti-perang" yang mengecam invasi Amerika terhadap Afghanistan, Irak dan negara-negara lainnya.

Setelah 12 tahun lebih peristiwa "Serangan WTC 9-11" kini muncul kelompok-kelompok yang menolak keterangan pemerintah tentang tragedi WTC yang menewaskan ribuan warga tak bersalah itu. Di antara mereka yang bergabung dalam kelompok-kelompok itu meliputi mantan perwira militer dan inteligen, insinyur, polisi, pemadam kebakaran, pilot. Sebagian di antara mereka adalah mantan jendral militer, Direktur CIA, gubernur, senator, profesor, dan penyandang-penyandang doktor.

Mayjend (purn) Albert Stubblebine, salah seorang dari mereka secara terbuka pernah mengungkapkan tentang runtuhnya Gedung WTC 7, satu dari 3 gedung yang runtuh dalam tragedi "Serangan WTC 9-11", "Gedung itu tidak runtuh karena hantaman pesawat, melainkan karena ledakan dari dalam. Demolition (peledakan bom).”

Baru-baru ini mantan pembawa acara terkenal dari Fox News, Ben Swann, juga menyatakan penolakannya terhadap keterangan pemerintah tentang serangan tersebut. Sementara itu pada tahun 2005 Jendral Wesley Clark, mantan kandidat presiden, mengatakan bahwa ia pernah menerima sebuah memo dari seorang pejabat pemerintahan Presiden George W Bush yang menyebutkan bahwa "Amerika akan menyerang 7 negara dalam 5 tahun, dimulai dengan Irak."

Pada bulan September lalu sekelompok orang yang terdiri dari arsitek, dan insinyur yang dipimpin oleh keluarga para korban "Serangan WTC 9-11" melancarkan kampanye besar-besaran yang menolak keterangan pemerintah tentang tragedi tersebut. Mereka memasang spanduk dan bilboard di seluruh dunia bertuliskan: “Did you know a third tower fell on 9/11?” (Apakah Anda mengetahui, gedung ketiga telah runtuh dalam Serangan WTC 9-11?)

Kampanye ini mendapatkan boikot dari sebagian besar media-media massa mapan Amerika. Namun koran Time tidak bisa menolak untuk memasang iklan yang dipasang kelompok bernama "2,000 Architects and Engineers for 9/11 Truth" ini.

Para blogger (termasuk blog ini tentunya) dan para pejuang "pencari kebenaran" lainnya telah mempertanyakan kebenaran klaim pemerintah Amerika tentang "Serangan WTC". Dan pelan namun pasti perjuangan itu telah menuai hasilnya dengan semakin banyaknya orang yang percaya dengan adanya "teori konspirasi".

Hari gini gak percaya "Teori Konspirasi"?



REF:
"FBI calls half of populace with 9/11 doubts potential terrorists"; Ralph Lopez; Digital Journal; 19 September 2013

SEJARAH HITAM MONSANTO

Indonesian Free Press -- Tidak ada perusahaan yang se-kontroversial Monsanto. Meski diketahui sebagai perusahaan paling berbahaya karena limbah dan racun dalam kandungan produk-produknya, inilah produsen makanan terbesar di dunia. Produknya meliputi juga merek-merek paling terkenal seperti Coca Cola. Dan berikut adalah sejarah singkat nan hitam dari perusahan ini.

Monsanto didirikan di St. Louis, Missouri, tahun 1901 oleh John Francis Queeny, seorang yahudi berusia 30 tahun pekerja industri farmasi. John Francis Queeny menamakan perusahaannya Monsanto Chemical Works, diambil dari nama istrinya yang berdarah latin, Olga Mendez Monsanto. Ayah mertua Queeny adalah Emmanuel Mendes de Monsanto, pemodal industri gula di daerah Vieques, Puerto Rico, yang tinggal di St. Thomas.

Tahun 1902 Monsanto memproduksi produk pertamanya, gula buatan yang disebut Saccharin, yang dijualnya ke Coca-Cola Company. Departemen Kesehatan Amerika pernah mencoba melarang produksi saccharin karena dianggap berbahaya, namun digagalkan pengadilan.

Tahun 1905 Monsanto mulai memproduksi caffeine dan vanillin yang memberikan keuntungan besar.

Tahun 1917 pemerintah Amerika menuntut Monsanto atas pembuatan dan pemasaran produk Saccharin. Setelah bertahun-tahun proses pengadilan, tuntutan tersebut digagalkan pengadilan.

Tahun 1917 mulai menambah beberapa produk kontroversialnya, seperti vanillin, caffeine, obat-obatan sedatif serta laxatif.

Tahun 1927 Monsanto melakukan penjualan saham perdana di New York Stock Exchange. Memulai produksi detergen.

Tahun 1929, memulai produksi PCB (polychlorinated biphenyls). Awalnya PCB disebut-sebut sebagai keajaiban kimia, satu cairan minyak yang tidak terbakar, sangat awet dan dengan aplikasi yang tak terbatas. PCB banyak digunakan dalam pembuatan minyak oli, hydraulic fluid, cutting oil, cat tahan air dan lem cair, namun kemudian diketahui sebagai bahan buatan yang paling berbahaya di planet ini. PCB menimbulkan kanker, menghancurkan kesuburan reproduksi serta sistem pertahanan tubuh. Lokasi pabrik PCB Monsanto di East St. Louis, Illinois, menjadi tempat yang paling tinggi angka kelahiran bayi prametur dan kematian bayi di seluruh negeri. Selama 50 tahun Monsanto memproduksi material ini, menimbulkan dampak negatif lingkungan global. Para ahli kesehatan menganggap tidak ada batas toleransi dalam pencemaran PCB dan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika (EPA) menyatakan: "PCB telah terbukti menyebabkan kanker sebagaimana juga menimbulkan dampak negatif terhadap sistem pertahanan tubuh, sistem reproduksi, sistem syaraf dan sistem kelenjar endocrine." Dokumen-dokumen internal MOnsnato membuktikan bahwa perusahaan sebenarnya telah mengetahui dampak negatif material ini sejak awal. Dokumen lainnya menunjukkan alasannya, yaitu bahwa perusahaan tidak mau menanggung kerugian satu dolar pun karena masalah tersebut.

Tahun 1930, melalui anak perusahaannya DeKalb AgResearch Corporation dimulai produksi dan pemasaran bibit jagung hibrida (maize).

Tahun 1935 memulai produksi phosphorus yang populer di kalangan militer sebagai "bom api".

Tahun 1938, DuPont berhasil menggoal-kan undang-undang pelarangan "hemp" yang mengancam produk nylon yang merupakan produk turunan dari minyak produksi Rockefeller. Monsanto pun terjun ke produk-produk plastik dengan mengakuisisi perusahaan produsen plastik Fiberloid.

Tahun 1939 bisnis plastik Monsanto telah memproduksi phenol-formaldehyde thermosetting resin, cellulose dan plastik vinyl.

1939-1945 Monsanto terlibat dalam penelitian uranium untuk proyek pembuatan bom nuklir Manhattan Project di Dayton, Ohio. Dr. Charles Thomas, salah seorang ekskutif Monsanto kala itu hadir dalam ujicoba pertama ledakan bom atom.

Tahun 1940-an Monsanto mulai menfokuskan diri pada produksi plastik dan bahan-bahan sintetik seperti polystyrene yang hingga kini masih banyak digunakan sebagai plastik pembungkus, namun oleh EPA dikategorikan sebagai salah satu bahan yang paling berbahaya bagi lingkungan.

Tahun 1941 dalam upayanya melepas ketergantungan pada perusahaan-perusahaan kimia yang lebih maju, terutama dari Eropa, Monsanto menfokuskan diri pada pengembangan dan penelitian dengan mengambil alih beberapa pusat penelitian dan pengembangan swasta. Beberapa material kimiawi strategis pun ditemukan seperti phosphates, dan styrene monomer, bahan kunci pembuatan karet sistetis yang banyak digunakan dalam alat-alat perang.

Tahun 1944 Monsanto mulai memproduksi DDT, bahan kimia beracun yang akhirnya dilarang di Amerika tahun 1972.

Tahun 1945, usai Perang Dunia II Monsanto muncul sebagai perusahaan kimia yang paling banyak memproduksi pestisida yang banyak digunakan dalam sektor pertanian. Selain itu MoOnsanto juga mulai memproduksi produk-produk herbisida yang mengandung bahan-bahan sisa perang dioxin. Monsanto dicurigai bertanggungjawab atas terjadinya pencemaran akibat penggunaan dioksin.

Tahun 1955 Monsanto membeli perusahaan pengolah minyak mentah Lion Oil dan selanjutnya mulai memproduksi pupuk berbahan dasar minyak bumi.

Tahun 1957-1967 Monsanto menjadi kreator dari beberapa wahana permainan di Disney's Tommorrowland, misalnya wahana "House of the Future" yang seluruhnya dibuat dari plastik.

Tahun 1959 mendirikan divisi elektronik Monsanto Electronics Co. di Palo Alto, memulai produksi silikon murni untuk industri teknologi tinggi.

Tahun 1960 dibentuk Agricultural Chemicals Division yang fokus pada pengembangan herbisida dan pupuk sistetis.

1961-1971 mulai memproduksi "Agent Orange", yaitu bahan kimia campuran herbisida yang banyak mengandung dioxin. Dengan racun yang dikandungnya, bahan kimia ini digunakan luas selama Perang Vietnam untuk melemahkan musuh. Dow Chemicals merupakan pesaing utama Monsanto dalam produksi bahan ini, namun "Agent Orange" buatan Monsanto jauh lebih tinggi kandungan dioxin-nya, dan karenanya lebih polutan sifatnya. "Agent Orange" selanjutnya diketahui menimbulkan banyak dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan termasuk pemicu kanker. Bahan ini diketahui telah mengkontaminasi jutaan orang selama perang. Menurut keterangan kemenlu Vietnam sebanyak 4,8 penduduk Vietnam telah terkontaminasi oleh bahan ini, menimbulkan 400.000 kematian ataupun cacat plus 500.000 bayi yang lahir cacat.

Tahun 1962 kesadaran publik tentang lingkungan meningkat pesat, terutama karena kampanye aktifis lingkungan Ralph Nader dan buku karangan Rachel Carson "Silent Spring". Namun Monsanto juga melakukan perlawanan hebat, melalui media massa ataupun melalui jalur hukum.

Tahun 1965 salah seorang peneliti di salah satu anak perusahaan Monsanto, G.D. Searle & Company, secara tidak sengaja menemukan aspartame, satu campuran kimia yang 180x lebih manis dari gula dan tidak mengandung kalori.

Tahun 1967 Searle & Company mulai melakukan uji kesehatan terhadap aspartame untuk mendapat ijin produksi dari FDA. Dr. Harold Waisman, seorang ahli biokimia dari University of Wisconsin yang bekerja untuk Searle & Company menemukan data bahwa dari 7 anak monyet yang diberi minuman susu bercampur aspartame 1 di antaranya meninggal tidak lama kemudian.

Tahun 1968 Monsanto menjadi perusahaan pertama pembuat lampu LED dengan menggunakan gallium arsenide phosphide.

Tahun 1970 Cyclamate, bahan pemanis buatan rendah kalori yang menguasai pasaran industri ditarik dari peredaran setelah ditemukan kaitannya dengan penyakit kanker. Kekhawatiran juga merebak pada keamanan produk saccharin, satu-satunya bahan gula buatan yang masih beredar di pasar.

Tgl 18 Desember 1970 para eksekutif Searle Company menerapkan strategi "Food and Drug Sweetener Strategy" yang bisa menempatkan para komisaris badan pangan Amerika FDA ke dalam "jebakan" yang akan membuatnya secara psikologis cenderung menyetujui aspartame.

Tahun 1971 seorang pakar neuroscientist Dr. John Olney yang pernah menemukan bahaya MSG sehingga dilarang untuk dikonsumsi bayi, menginformasikan Searle Company bahwa studi yang dilakukannya terhadap aspartic acid (salah satu bahan dasar aspartame) mengakibatkan terjadinya kerusakan otak pada tikus-tikus percobaan. Temuan selanjutnya ini dibenarkan oleh peneliti Monsanto sendiri.

Tahun 1972 DDT dilarang digunakan di seluruh Amerika setelah sebelumnya dianggap berhasil memerangi nyamuk malaria.

1973 memulai produksi herbisida merk "Roundup" yang mengandung glyphosate, zat beracun yang bisa membunuh binatang dan manusia.

1973, setelah menghabiskan jutaan dolar uji coba laboratorium, Monsanto mengajukan ijin produksi aspartame kepada FDA, namun gagal karena dianggap belum cukup bukti tentang keamanan produk ini.

Tahun 1974 pengacara Jim Turner yang aktif memperjuangkan hak-hak konsumen dan telah berhasil menarik cyclamate dari peredaran, menemui para petinggi Searle Company untuk mendiskusikan temuan tentang bahaya aspartame oleh Dr. Olney tahun 1971.

Tahun 1974 FDA menyetujui penggunaan aspartame untuk produk-produk makanan kering secara terbatas. Jim Turner dan Dr. John Olney mengajukan keberatan atas keputusan tersebut.

1976 setelah mengalami tekanan publik yang kuat atas keamanan produk-produknya terutama herbisida merk "Lasso" serta "Agent Orange" yang dilarang, Monsanto memusatkan perhatian pada produk "Roundup" yang sukses mengangkat Monsanto sebagai produsen herbisida sepanjang sejarah.

Tahun 1976 Monsanto memproduksi botol plastik untuk minuman ringan pertama di dunia yang diklaim sebagai botol daur ulang. Namun setahun kemudian dilarang diproduksi karena dianggap menjadi pemicu kanker. Tahun ini juga FDA mulai mengajukan penyidikan terhadap laboratorium G.D. Searle sebagai tindak lanjut atas petisi yang diajukan Jim Turner dan Dr. Olney. Hasilnya FDA menemukan banyak rekayasa dan tipuan dalam ujicoba laboratorium G.D. Searle.

Bulan Januari 1977 FDA mengajukan tuntutan ke Kejaksaan Agung agar dilakukan proses hukum terhadap G.D. Searle. Selama proses pengadilan berlangsung diketahui jaksa penuntut dalam kasus tersebut bertemu secara diam-diam dengan para pengacara G.D. Searle. Sementara itu untuk memperkuat posisi, Monsanto merekrut Donald Rumsfeld sebagai CEO Monsanto sekaligus G.D. Searle. Seorang zionis sejati, mantan anggota Congress serta menteri pertahanan era Presiden Ford, Rumsfeld memboyong kolega-koleganya di Washington untuk menjadi pejabat Monsanto. Hampir bersamaan dengan itu jaksa penuntut Samuel Skinner mundur dari jabatannya dan berbalik menjadi pengacara G.D. Searle.

Kasus ini menjadi sejarah pertama FDA mengajukan tuntutan hukum terhadap satu perusahaan. Adapun Rumsfeld selanjutnya diangkat sebagai menteri pertahanan oleh Presiden George Bush, menjadi provokator perang terorisme, Perang Afghanistan dan Perang Irak.

Namun meski laporan penyidikan menyebutkan adanya banyak penyimpangan, kasus ini runtuh dengan sendirinya akibat terlalu lamanya proses pengadilan. Salah satu faktornya adalah pengunduran diri Skinner. Jika saja pengadilan menjatuhkan hukuman pada G.D Searle, maka produk-produk berbahaya seperti aspartame mungkin sudah akan dilarang diproduksi.

Tahun 1980 FDA, melalui Public Board of Inquiry (PBOI) yang dibentuk setahun sebelumnya dan beranggotakan 3 ahli independen, menyatakan bahwa "NutraSweet", merek gula buatan yang mengandung aspartame, berbahaya bagi kesehatan karena terbukti menjadi penyebab kanker otak pada binatang percobaan. Secara efektif hal ini membuat aspartame dinyatakan sebagai produk ilegal. Namun berkat lobi kuat Rumsfeld, produk ini dinyatakan legal kembali tahun 1981.

Januari 1981 Donald Rumsfeld, CEO Monsanto dan Searle, menyatakan dalam satu pertemuan internal bahwa ia menggunakan pendekatan politik untuk menyelesaikan masalah aspartame daripada pendekatan ilmiah. Pada tgl 19 Mei 1981 3 anggota ahli FDA Dr. Robert Condon, Dr. Satya Dubey, dan Dr. Douglas Park, meneguhkan pelarangan "Nutrasweet" dengan menyatakan bahwa ujicoba yang dilakukan G.D. Searle tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk menentukan keamanan produk aspartame.

Tahun 1981 Ronald Reagan diangkat menjadi presiden. Salah seorang tim suksesnya adalah Donald Rumsfeld. Tanpa membuang waktu ia meminta Reagan untuk mengangkat orang kepercayaannya Dr. Arthur Hull Hayes untuk menjadi pimpinan komisioner FDA. Tgl 21 Januari atau hanya sehari setelah pelantikan Reagan, G.D.  Searle kembali mengajukan ijin penggunaan aspartame sebagai bahan gula buatan. Komisioner FDA yang baru, segera membentuk Komisi Ahli beranggotakan 5 orang untuk menentukan status hukum aspartame. Namun saat diketahui 3 orang anggota komisi menolak legalisasi aspartame, Arthur Hayes Hull, Jr. langsung menambahkan 1 orang anggota lagi untuk menyetujui. Akibatnya terjadi "deadlock" yang memberi jalan bagi Hull untuk menjadi penentu terakhir yang mengijinkan aspaftame.

Kontroversi Hull bertambah setelah kemudian ketahuan menumpang pesawat jet milik perusahaan General Foods. Perusahaan ini merupakan pembeli terbesar produk "NutraSweet" buatan Monsanto yang mengandung aspartame. Di bawah tekanan publik Hull akhirnya mundur dari jabatannya dan nasibnya berakhir sebagai pejabat perusahaan Burston-Marsteller yang merupakan konsultan humas Monsanto dan G.D. Searle. Sejak saat itu ia tidak pernah memberi pernyataan tentang aspartame.

Tahun 1982 Monsanto mulai melakukan ujicoba modifikasi genetis sel untuk pertama kalinya. Tahun ini juga sebanyak 2.000 warga Times Beach, Missouri, harus dievakuasi akibat terkontaminasi racun limbah dioxin. Banyak masyarakat yang menuding pabrik Monsanto di St. Louis sebagai biang keroknya, namun Monsanto membantahnya.

Tgl 1 Juli 1983 The National Soft Drink Association (NSDA) mendesak FDA untuk menunda pengesahan aspartame sebagai bahan minuman berkarbonasi karena berdasar penyelidikan zat ini tidak stabil pada kondisi cair. Pada suhu di atas 85°F aspartame pecah menjadi 3 kandungan racun yang dikenal sebagai Diketopiperazines (DKP), methyl alcohol, dan formaldehyde.

Tgl 8 Agustus 1983 aktifis hak-hak konsumen Jim Turner dari Community Nutrition Institute dan Dr. Woodrow Monte, Direktur Food Science and Nutritional Laboratories Arizona State University mengajukan tuntutan hukum pada FDA atas persetujuannya pada aspartame. Namun hal itu tidak menghentikan produksi massal minuman kaleng berbahan aspartame. Diet Coke dan Diet Pepsi adalah sebagian dari produk yang menggunakan bahan ini.

Tahun 1985 Monsanto menyelesaikan proses akuisisi G.D. Searle yang memiliki hak paten atas aspartame, kandungan aktif dalam produk merek "NutraSweet". Selanjutnya Monsanto membentuk anak perusahaan terpisah untuk menangani produk ini, yaitu NutraSweet Company.

Tahun 1986 Monsanto dinyatakan bersalah karena dianggap teledor telah membiarkan pekerja terekspos bahan-bahan beracun di pabriknya di Chocolate Bayou Plant di Texas. Karenanya MOnsanto didenda $100 juta kepada keluarga Wilbur Jack Skeen, pekerja yang tewas setelah menderita leukimia.

Tahun 1986 terjadi perdebatan sengit dalam satu sesi dengar pendapat di Congress Amerika antara ahli-ahli independen dengan National Cancer Institute (NCI) tentang dampak formaldehyde terhadap kesehatan. Monsanto dan DuPont membiayai studi yang dilakukan NCI yang isinya menyangkal pendapat para ahli tentang bahaya formaldehyde.

Tahun 1987 Monsanto melakukan ujicoba lapangan pertama atas tanaman modifikasi genetis.

Tahun 1987 Monsanto menjadi perusahaan pertama yang diwajibkan memberi ganti rugi senilai $180 juta kepada para veteran Perang Vietnam yang terkontaminasi "Agent Orange".

Tahun 1988, seorang juri federal menemukan G.D. Searle & Co. melakukan pelanggaran dalam ujicoba keamanan produk peralatan KB (IUD) merek "Copper 7" yang antara tahun 1974 hingga 1986 telah digunakan oleh 10 juta wanita.

Tahun 1990 seorang peneliti EPA dinyatakan menerima suap untuk meloloskan uji penelitian tentang bahaya dioxin.

Tahun 1990 Monsanto menghabiskan $405.000 untuk mengalahkan perda Proposition 128 di provinsi California yang dikenal sebagai "Big Green Initiative". Perda ini ditujukan untuk memerangi penggunaan pestisida, termasuk produk-produk Monsanto yang dianggap membahayakan kesehatan.

Tahun 1991 monsanto didenda $1.2 juta setelah diketahui berusaha menyembunyikan limbah berbahaya di Mystic River, Connecticut.

Tahun 1994 produk bioteknologi pertama Monsanto diluncurkan, yaitu hormon penumbuh kebodohan untuk binatang ternak bernama rBGH atau rBST, disusul dengan berbagai produk bioteknologi lainnya. Untuk menguasai pasar Monsanto selanjutnya mengajukan tuntutan hukum terhadap perusahaan-perusahaan peternakan kecil yang mempromosikan produknya sebagai bebas dari hormon buatan.
Tahun 1995 Monsanto dituntut setelah dinyatakan telah menyediakan material radioaktif terhadap 829 wanita hamil.

Tahun 1995 Monsanto menempati ranking 5 perusahaan polutan terbesar di Amerika dengan jumlah zat polutan yang dilepaskannya mencapai 18,5 juta kg. Monsanto diwajibkan membayar $41.1 juta kepada otoritas lingkungan Texas karena zat-zat polutan yang ditumpuknya dianggap membahayakan.

Tahun 1995 The Safe Shoppers Bible menyatakan produk Monsanto Ortho Weed-B-Gon Lawn Weed Killer mengandung racun carcinogen, 2,4 D yang merangsang kanker.

1996: Monsanto introduces its f

Tahun 1996 Monsanto memproduksi "Roundup Ready", bibit kedelai yang diklaim tahan terhadap herbisida, serta BT cotton yang diklaim imun terhadap hama.

Setelah berpindah orientasi sebagai perusahaan bioteknologi, Monsanto berusaha "membersihkan diri" dengan klaim bahwa produk-produk rekayasa genetisnya sebagai terobosan besar untuk mengatasi bahaya kekurangan pangan global. Robb Fraley, salah seorang eksekutif Monsanto bahkan mengklaim Monsanto setara dengan Microsoft di bidang teknologi komputer. Namun sebagian ahli menganggap Monsanto hanya berusaha menjaga dominasi produknya "Roundup" yang mendekati masa kadaluarsa hak patennya. Hal itu dilakukan Monsanto dengan memperkenalkan bibit-bibit tanaman yang tahan terhadap "Roundup" sehingga membuat "Roundup" bisa digunakan sebagai pembunuh gulma pada tanaman yang sedang tumbuh. Sebelumnya "Roundup" hanya bisa diterapkan sebagai pembunuh gulma sebelum bibit ditanam.

Tahun 1997 Jaksa Agung New York memerintahkan Monsanto menghentikan klaimnya yang menyebutkan "Roundup" sebagai produk yang bisa terurai dan ramah lingkungan.

Tahun 1997 The Seattle Times melaporkan bahwa Monsanto telah menjual 6.000 ton limbah terkontaminasi ke perusahaan-perusahaan pupuk di Idaho.

Sejak tahun 1997 Monsanto banyak mengakuisisi perusahaan-perusahaan pembibitan. Selama dasawarsa 1990-an Monsanto telah menghabiskan $10 miliar untuk membeli perusahaan-perusahaan pembibitan di seluruh dunia, satu langkah yang masih berlangsung hingga saat ini. Monsanto menjadi perusahaan pembibitan terbesar di dunia dengan menguasai seperempat produk bibit dunia.

Tahun 1999, di bawah kritikan masyarakat internasional Monsanto menghentikan iklan produk-produk bibit "terminator", yaitu bibit yang tidak bisa diturunkan menjadi bibit baru.

Tahun 1999 menjual pabrik phenylalanine kepada Great Lakes Chemical Corporation (GLC) senilai $125 juta. Namun hanya setahun kemudian GLC menuntut Monsanto karena dianggap telah melakukan penipuan hingga harus menderita kerugian $71 juta.

Tahun 2000, mengikuti program pemberantasan gulma bernama Plan Colombia, Amerika menghabiskan ratusan juga dollar untuk menyemprotkan dari udara herbisida "Roundup" di beberapa titik di negara bagian Columbia. Dampaknya segera terlihat dengan munculnya berbagai penyakit di daerah-daerah yang terkontaminasi, seperti gangguan pernafasan, gastrointestinal dan gangguan kulit hingga kematian pada anak-anak. Selain itu banyak binatang yang ditemukan tewas tidak lama setelah dilakukan penyemprotan.

Tahun 2002 The Washington Post menurunkan artikel berjudul "Monsanto Hid Decades Of Pollution, PCBs Drenched Alabama Town, But No One Was Ever Told". Tahun itu juga saham Monsanto anjlok, diduga artikel The Washington Post menjadi salah satu faktornya.

Tahun 2003 Monsanto didenda senilai $600 juta sebagai kompensasi bagi 20.000 lebih penduduk kota Anniston, Alabama, yang terkontaminasi limbah PCB yang dibuang selama tahun 1930-an hingga 1970-an.

Antara tahun 2004-2005 Monsanto mengajukan banyak tuntutan hukum pada para petani di Kanada dan Amerika dengan tuduhan pencurian hak paten atas bibit yang ditanam petani. Pada banyak kasus petani mengklaim bibit yang diperolehnya berasal dari perkebunan lain yang serbuk sarinya dibawa oleh angin. Mahkamah Agung Kanada dan Amerika, dicurigai telah menerima suap dari Monsanto, memutuskan para petani telah bersalah.

Tahun 2005 Monsanto mendapatkan hak paten atas satu teknik pembiakan ternak babi yang membuatnya secara otomatis memiliki hak kepemilikan atas tiap kelahiran babi yang diternakkan dengan teknik tersebut oleh setiap peternak. Keputusan itu mendapat kecaman para aktifis hak-hak masyarakat. Greenpeace misalnya mengecam Monsanto telah memonopoli sesuatu yang alamiah.

Tahun 2005 para ahli lingkungan dan aktifis pembela konsumen mempertanyakan keamanan produk "Roundup Ready" karena diduga kuat telah menciptakan varian hama-hama baru yang tahan pestisida.

Januari 2006 pengadilan Korea Selatan memerintahkan Dow Chemical dan Monsanto membayar $62 juta kepada 6.800 orang korban kontaminasi zat-zat beracun buatan 2 perusahaan tersebut.

Tahun 2010, kesadaran masyarakat yang mulai tinggi membuat peningkatan konsumsi susu organik meningkat hingga 500%. Monsanto merespon dengan melobi pemerintah-pemerintah negara bagian untuk menghapuskan pembedaan antara susu organik dan susu non-organik.




REF:
"The evil of Monsanto and GMOs: Bad technology, endless greed & the destruction of humanity"; Mike Adams; naturalnews.com; September 23, 2012

"The "Massive Con" Causing a Suicide Every 30 Minutes"; Dr. Mercola, online paper; 3 APRIL 20

Thursday, October 3, 2013

PEMBERONTAK SYRIA PUN KEMBALI KE "PANGKUAN" PEMERINTAH

ASSAD KLAIM MASIH MILIKI SENJATA PENGHANCUR ISRAEL


Perkembangan konflik di Syria semakin menguntungkan pemerintahan Bashar al Assad. Pada satu sisi pemberontak kini justru terlibat dalam pertikaian internal dan pada sisi lainnya pasukan pemerintah kini berada pada posisi offensif dan berhasil membersihkan beberapa posisi strategis dari tangan pemberontak. Dan kini muncul perkembangan baru lagi yang mengejutkan, sebagian pemberontak dari kelompok Free Syrian Army telah mendekati pemerintah untuk menjalin perdamaian.

Demikian informasi yang diungkapkan oleh wartawan senior Inggris Robert Fisk dalam tulisan terakhirnya di The Independent tgl 30 September lalu: "A Syrian solution to civil conflict? The Free Syrian Army is holding talks with Assad’s senior staff".

Menurut laporan Fisk, wartawan yang anti-regim Bashar al Assad itu, sekitar 1,5 bulan yang lalu 2 orang utusan Free Syrian Army menemui seorang pejabat tinggi pemerintah di Damaskus. Mereka membicarakan kemungkinan perdamaian antara FSA dengan pemerintah untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung 2,5 tahun lebih dan menewaskan lebih dari 100.000 jiwa itu. Seusai pertemuan itu kini relatif telah terjadi "gencatan senjata" antara pasukan pemerintah dengan FSA yang sebagian besar berasal dari desertir tentara pemerintah, dan memberi keleluasaan FSA untuk menangani pertikaiannya dengan kelompok-kelompok teroris Al Qaida.

Dalam pertemuan itu dihasilkan 4 kesepakatan, yaitu pertama harus ada dialog internal Syria, kedua harus ada perbaikan sarana-sarana publik dan swasta yang hancur, ketiga harus ada penghentian konflik sektarian, dan yang terakhir adalah harus ada kerjasama semua pihak di Syria untuk menegakkan demokrasi dimana supramasi hukum menjadi landasan utamanya. Sama sekali tidak ada tuntutan dari FSA untuk memberhentikan Presiden Bashar al Assad.

Menyusul pertemuan itu kini tampak perkembangan yang signifikan di wilayah-wilayah yang dikuasai FSA terutama di Aleppo. Di tempat-tempat ini perusahaan-perusahaan swasta kembali dibuka, demikian juga kantor-kantor pemerintah dan sekolah-sekolah. Anak-anak sekolah yang bergabung dengan pemberontak pun mulai dilucuti senjatanya dan kembali ke meja belajar.

Perkembangan konflik di Syria jelas sangat tidak dikehendaki para pemberontak dari FSA yang memiliki idiologi nasionalis sekuler. Mereka merasa revolusi yang mereka gerakkan telah dirampok oleh para mujahilin dari luar, yang tindakan-tindakan mereka sangat melukai hari warga Syria baik yang berasal dari pemerintah maupun pemberontak. Mereka yang selama bergenerasi-generasi hidup dalam lingkungan pluralis yang damai sangat tidak bisa membayangkan negaranya bakal berubah menjadi negara model Taliban.

Dengan bergabungnya kembali personil-personil FSA ke pangkuan pemerintah, maka wilayah luas yang selama ini dikuasi FSA akan kembali ke bawah kekuasaan pemerintah tanpa harus mengeluarkan tembakan sekalipun. Selanjutnya pasukan pemerintah dapat memanfaatkan pasukan FSA untuk bersama-sama mengusir para mujahilin.



ASSAD KLAIM MASIH PUNYA SENJATA PENGHANCUR ISRAEL

Banyak yang menganggap bahwa dimusnahkannya senjata-senjata kimia Kimia Syria bakal menghancurkan daya gertak Syria terhadap musuhnya, Israel. Namun Presiden Syria Bashar al Assad justru tampak percaya diri dengan prospek kekuasaannya di Syria.

"Presiden Assad menganggap bahwa situasi saat ini lebih dari baik-baik saja," tulis wartawan Lebanon Elie Shalhoub dalam surat kabar Al Akhbar, 25 September lalu. Tulisan tersebut dibuat seusai Shalhoub mengadakan wawancara dengan Assad di Damaskus.

Seraya menganggap senjata-senjata kimia tersebut sudah tidak lagi "kuat", Assad menuturkan bahwa Syria kini telah memiliki senjata-senjata yang lebih ampuh yang bisa menghancurkan Israel dalam waktu beberapa detik saja.

"Ia (Assad) menjawab secara strategis tanpa mengabaikan detil-detilnya," tulis Shalhoub tentang isi wawancaranya tersebut.

Kepada Shalhoub, Assad mengatakan bahwa musuh-musuh Syria tengah dilanda "stress" atas kegagalan mereka selama ini menjungkalkannya dari kekuasaan, dan hal itu bisa membuat mereka melakukan hal-hal tidak realistis. Ia juga menyatakan kepuasannya dengan kesepakatan antara Amerika dan Rusia tentang penghancuran senjata-senjata kimia Syria untuk mencegah campur tangan Amerika.

Assad menganggap hal itu tidak mempengaruhi keseimbangan kekuatan dengan Israel meski selama ini senjata-senjata kimia itu telah memainkan peran penting sebagai daya gertak terhadap Israel, namun saat ini dianggap sudah tidak terlalu penting lagi.

"Betapapun kini senjata-senjata itu tidak lagi memiliki daya gertak lagi, dan kini kami telah memiliki senjata-senjata yang bisa menghancurkan Israel dalam hitungan detik.”

Menurut Assad Presiden Obama tidak akan pernah berani menyerang Syria karena tidak memperoleh dukungan di dalam negeri. Di sisi lain ia mengungkapkan bahwa Rusia telah memberinya jaminan akan campur tangan membantu Syria jika diserang Amerika.

“Rusia akan turun tangan dan bertempur di medan perang Syria," kata Assad.

Assad juga menyinggung peran Iran dan Hezbollah dalam konflik di Syria. Assad menegaskan bahwa Syria dan Iran serta Hizbollah tengah bertempur di dalam satu front yang disebutnya sebagai front perlawanan anti-Israel. Menurut Assad jika Syria berhasil dijatuhkan, maka Hizbollah dan Iran akan menjadi sasaran musuh yang berikutnya.

“Saya percaya bahwa Sayyed Hasan Nasrallah mampu mengatasi semua tekanan terkait dengan konflik Syria…”

Assad menegaskan bahwa Israel, berbeda dengan masa lalu, kini menghindari untuk terlibat langsung dalam peperangan dan memilih menggunakan kaki tangannya, terutama dalam konflik Syria, yaitu Amerika dan kelompok-kelompok teroris takfiri.



REF:
"Assad: Our Enemies Are Confused, We Have Weapons That Can Paralyze Israel"; ALMANAR.COM.LB; 26 September 2013

"A Syrian solution to civil conflict? The Free Syrian Army is holding talks with Assad’s senior staff"; Robert Fisk; The Independent; 30 September 2013

Tuesday, October 1, 2013

Pentingnya Sejarah

Dina Y. Sulaeman*



Bulan Juli 2012, saat saya diundang ikut konferensi internasional Women and Islamic Awakening di Iran, saya datang ke perpustakaan Imam Ridha di kota Mashad, untuk mencari naskah Quran kuno untuk bahan disertasi suami saya yang sedang mendalami filologi di Unpad. Di sana saya bertemu dengan Mr.R, seorang kurator naskah kuno. Aneh sekali, Mr.R tidak mengenal istilah ‘filologi’. Dengan susah payah saya coba jelaskan apa itu filologi (ya iyalah susah, karena itu bukan bidang ilmu saya, dan saya harus menjelaskan dalam bahasa Persia). Setelah diskusi cukup lama, akhirnya ketahuan, pada dasarnya apa yang dilakukan Mr R selama ini pun adalah kerjaannya para filolog: eksaminasi, kodikologi, kritik teks, dll. Bahkan Mr R menunjukkan ke saya enam jilid buku yang masing-masingnya sangat tebal, isinya adalah kodikologi puluhan ribu naskah kuno.

Singkat cerita, Mr R bersedia membantu suami saya untuk mendapatkan naskah Quran kuno. Tiga bulan kemudian, setelah pihak perpustakaan rapat internal dan menyetujui permohonan kami, mereka pun mengirimkan data digital naskah Quran kuno era Imam Ali (dan diduga kuat naskah itu tulisan tangan Imam Ali).

Bulan ini, suami saya berkesempatan datang langsung ke perpustakaan tersebut dan bertemu dengan Mr.R untuk penelitian lanjutan. Dia juga sempat bertemu dengan Rektor Univ. Ferdowsi dan bertanya kepada sang Rektor, “Mengapa jurusan filologi tidak ada universitas ini dan di Iran pada umumnya?”

Jawaban sang rektor menarik sekali, “Kami belum menemukan alasan, mengapa studi filologi diperlukan secara khusus. Di sini tentu ada studi tentang naskah-naskah lama, tapi tidak sampai menjadi satu studi khusus. Itu terjadi karena kalangan akademisi Iran tidak mendapatkan kesulitan berarti ketika berhadapan dengan naskah-naskah lama Iran. Bahasa dan aksara dari naskah yang berusia seribu tahun, misalnya, masih dengan mudah dibaca oleh masyarakat terpelajar zaman sekarang, apapun bidang studi mereka.”

Nah, sekarang, pertanyaannya: mengapa Indonesia perlu filologi? Itu karena naskah-naskah lama Nusantara adalah sesuatu yang betul-betul asing; baik bahasanya ataupun aksaranya. Jangankan seribu tahun, yang seratus tahun sajapun sudah terasa sangat aneh. Tugas filolog adalah menguak isi naskah kuno dalam rangka memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya, untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat zaman sekarang.

Satu poin penting yang bisa ditarik dari cerita ini: masyarakat Indonesia zaman sekarang sangat teralienasi dari masa lalu. Padahal, yang dimaksud kuno dalam konteks Nusantara tidaklah lama-lama amat. Cukup 100 tahun yang lalu sudah dianggap kuno. Tapi berapa banyak dari kita yang mampu membaca naskah berusia 100 tahun? Di Iran, kitab syair berusia 1000 tahun pun masih bisa dibaca anak-anak muda zaman sekarang.



Diduga kuat, keterasingan memang secara sengaja dibuat oleh kolonial demi kepentingan keberlanjutan kolonialisme. Keterasingan ini membuat masyarakat Indonesia menjadi bangsa dengan kadar softpower sangat rendah. Bangsa ini mudah diguncang dan diobok-obok, gampang diotakut-takuti, kebersamaan-nya sangat rapuh, karena tak banyak yang mereka ingat dari masa lalu sebagai sumber kebanggaan.

Nah, ini nyambung dengan statusnya Hendi Jo: “Begitu seringnya bangsa ini dibodohi. Ketika pada 1920-an Prof. C.C Berg dari Leiden membawa naskah Kidung Sundayana (yang menceritakan peristiwa Perang Bubat) hasil editnya ke Jawa, orang-orang Sunda dan Jawa tanpa kritik tanpa selidik langsung mengamini. Maka sejak itu, mulailah cerita konflik Sunda-Jawa diturun-temurunkan dalam nada penuh kebencian. Kita secara tak sadar, masuk perangkap C.C Berg yang tak lain adalah akademisi peliharaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Sejarah memang tak cukup dibaca saja, tapi harus dianalisa, dipikirkan dan dikritisi.”

Nyambung juga dengan komen dari M Arief Pranoto dan Mas Hendrajit: “Dengan merujuk beberapa literatur dan artikel sejarah, ditemukan tahapan tak kalah penting dalam sebuah peperangan serta dianggap sebagai model berulang dalam kolonialisme, yaitu "pengaburan atau pembengkokan sejarah" leluhur bagi negara yang dijajah. Termasuk juga dari Raffles, yang menulis History of Java, yang kabarnya telah mengambil dokumen dan arsip-arsip penting dari Jawa ke Inggris. Dia kemudian mengolahnya lagi jadi tulisan dengan sudut pandangnya sendiri.”

Jadi, mempelajari sejarah sangatlah penting dalam rangka menyambungkan kembali masyarakat Indonesia zaman sekarang dengan masa lalu, dalam rangka mengumpulkan serpihan kebanggaan nasional yang sudah tercabik-cabik. Paradigma sebagai bangsa yang besar dan kuat perlu dibangun kembali, supaya tidak kecut menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang hingga kini masih menjajah kita lewat ekonomi, budaya, dll.


Dedicated to a philolog wanna be: Khairun Fajri Arief

Keterangan foto: naskah Quran kuno era Imam Ali (dan diduga kuat naskah itu tulisan tangan Imam Ali), di Museum Quran Razawi, Mashad (difoto oleh Otong Sulaeman, Sept 2013).


* Penulis adalah kandidat doktor politik internasional, peneliti Global Future Institute, penulis dan blogger aktif sekaligus ibu rumah tangga yang sukses. Tulisan-tulisannya bisa dilihat disini.