Sunday, January 16, 2011

REVOLUSI PERANCIS SEBENARNYA (2)


Lady Queensborough dalam bukunya "Occult Theocracy" mengutip L'Anti-Semitisme karya Bernard Lazare (1894) menyebut figur-figur asing di belakang layar Revolusi Perancis, semuanya bankir yahudi. Di antaranya adalah Benjamin dan Abraham Goldsmid, Moses Mocatta, Sir Moses Montifiore, Daniel Itsig, David Friedlander, dan Herz Cerfbeer.

Sir Walter Scott dalam "Life of Napoleon" dengan tepat menggambarkan situasi menjelang Revolusi Perancis:

"Para pejabat keuangan yang sengaja membuat bangkrut pemerintah itu mendapat perlakuan istimewa dari para bankir yang memenuhi nafsu tamak mereka dengan satu tangan dan kehancuran di tangan lainnya. Dengan terus menerusnya pemberian hutang berbunga serta berbagai hak-hak penjaminnya, seluruh keuangan negara Perancis terjerumus ke dalam kehancuran."

Menteri keuangan Perancis kala itu adalah Necker, berasal dari Swiss dan keturunan Jerman, putra dari seorang profesor Jerman yang oleh penulis sejarah McNair Wilson disebutkannya:

"Necker telah mengendalikan kekayaan kerajaan sebagai perwakilan dari penguasa sistem keuangan berdasar hutang."

Berdasar kebijakannya serta latar belakang Necker sebagai spekulator, kita mengetahui mengapa keuangan kerajaan Perancis justru semakin memburuk. Selama empat tahun mengurusi keuangan negara, hutang kerajaan Perancis menumpuk hingga mencapai 170 juta pound, jumlah yang luar biasa besar saat itu.

Sementara itu organisasi rahasia Freemasonry, yang masuk ke Perancis dari Inggris pada tahun 1730-an, mencapai puncak aktifitasnya dan pada tahun 1771 dipimpin oleh Phillipe Duc de Chartres (Duc D'Orleans). Secara lahiriah, organisasi freemason adalah organisasi idealistis secara program maupun para anggotanya. Namun pada kenyataannya ini adalah organisasi yang keji baik tujuan dasarnya maupun para personilnya.

Meski dikenal dengan gaya hidup royalnya Duc d'Orleans sebenarnya bukan tipe orang yang keji yang berfikir untuk menggulingkan raja dan menggantinya dengan dirinya. Namun ia memainkan perannya dengan cukup baik, pada tahap awal munculnya sebuah peristiwa terbesar dalam sejarah Eropa, meski kemudian ia harus menebusnya dengan nyawanya sendiri yang terpenggal kepalanya oleh pisau guillotine.

Marquis de Mirabeau adalah orang yang tepat untuk menggerakkan tahap selanjutnya, revolusi, meski ia sebagaimana pendahulunya tidak pernah berfikir untuk menggulingkan raja dan bahkan membunuhnya. Ia diketahui didanai oleh Moses Mendelssohn, pimpinan organisasi yang lebih rahasia dan lebih keji lagi, Illuminati. Moses Mendelssohn adalah tokoh yahudi yang pernah mengatakan bahwa "yahudi bukanlah agama, melainkan perangkat hukum yang dijadikan agama." Illuminati adalah organisasi rahasia yahudi yang didirikan berdasar agama pagan yahudi kuno, Kaballah. Illuminati artinya "yang tercerahkan oleh sang pembawa cahaya". Sang pembawa cahaya adalah Lucifer, salah seorang dewa terkuat dalam kepercayaan kabalah.

Illuminati yang didirikan oleh Adam Weishaupt di Frankfurt, Jerman tahun 1782 berhasil melakukan penetrasi atas organisasi freemason dan segera kemudian masuk ke Perancis.

Pada tahun 1785, empat tahun sebelum Revolusi Perancis, terjadi hal aneh, semacam pesan dari Tuhan kepada rakyat Eropa akan adanya sebuah kekuatan jahat yang mengintai mereka. Seorang kurir Illuminati tersambar petir di Ratisbon, Bavaria, Jerman. Polisi menemukan pesan yang dibawa oleh kurir itu, dokumen rahasia Illuminati yang berisi rencana dan metode untuk menguasai Eropa dan dunia.

Penguasa Bavaria langsung menyerbu markas besar Illuminati, menangkap anggota-anggotanya dan membubarkannya. Pemerintah Perancis tentu saja mendapatkan informasi itu, namun sayangnya tidak melakukan tindakan apapun.

Pada tahun 1789 terdapat tidak kurang dari 2.000 loji (klub freemason) di Perancis dengan anggota mencapai 100,000. Merekalah kekuatan pokok gerakan revolusi meski sebagian besar dari mereka, termasuk para petingginya tidak mengetahui agenda sebenarnya dari organisasi yang mereka ikuti. Di antara klub-klub tersebut klub Jacobin adalah yang paling militan.

Pada tahun 1789 pemerintahan kerajaan Perancis secara efektif telah lumpuh, oleh pers yang berada di luar kontrol pemerintah, dan oleh birokrat korup yang "ditanamkan" Illuminati di birokrati Perancis.

Pada tahun 1780 d'Orleans terlibat hutang hingga 800,000 livres, karena gaya hidup royal dan kegemarannya berjudi. Pada tahun 1781 ia menyerahkan propertinya di kompleks elit Palais Royal kepada bankir yang membentuknya menjadi pusat kegiatan politik, percetakan pers, pusat hiburan dan judi, hotel, teater, galeri seni, pusat kebugaran dan sebagainya. Menjadi pusat kegiatan para birokrat korup dan anggota freemason "na'if".

Dengan pemerintahan yang dipenuhi pejabat korup serta kebebasan pers yang dikontrol para bankir internasional, menjadi kombinasi paling tepat untuk memicu kebencian massa terhadap pemerintah.

Salah satu figur yang paling sering menjadi cercaan media massa dan menjadi sasaran kebencian massa adalah Ratu Maria Antoniete. Untuknya sebuah konspirasi dilakukan. Tanpa sepengetahuannya, sebuah kalung berlian senilai 250.000 pound dipesan atas namanya. Pada saat kondisi ekonomi Perancis morat-marit karena beban keuangan kerajaan, berita tentang kalung itu menjadi sorotan tajam masyarakat. Namun semua itu belum cukup. Sepucuk surat misterius dikirimkan atas nama Ratu kepada Cardinal Prince de Rohan yang memintanya bertemu di Palais Royal, untuk meminta nasihat perihal skandal kalung tersebut. Seorang pelacur berdandan mirip Ratu telah menunggu sang kardinal, tentu saja ditemani kerumunan wartawan. Maka berita pertemuan rahasia itu pun muncul di koran-koran dan semakin menjerumuskan nama sang Ratu yang "naif" dan terakhir mengantarkan nyawa sang Ratu dan Raja, bersama ratusan ribu atau bahkan jutaan nyawa lainnya, kepada algojo pada saat revolusi mencapai tahap yang tak terkendali.

Sebelumnya sang Ratu yang "naif" mengirim surat pada saudarinya di Austria: "Menurut saya, kekhawatiranmu tentang organisasi-organisasi freemason itu terlalu berlebihan. Di Perancis kekhawatiran itu tidak perlu terjadi sebagaimana mungkin di negara-negara Eropa lainnya. Sebaliknya pemerintah memberi kebebasan penuh pada organisasi-organisasi ini, yang kebanyakan berbentuk semacam serikat pekerja atau yayasan. Mereka hanya makan-makan, menyanyi, berdiskusi, yang bahkan terkadang diikuti raja hingga raja pernah berkata bahwa orang-orang yang makan minum dan berdansa bukanlah orang-orang yang harus dicurigai. Tidak juga organisasi itu anti-Tuhan karena setiap saat mereka memuji kebesaran Tuhan. Mereka orang-orang yang yang ramah dan terhormat. Mereka membantu anak-anak miskin dan menyayangi anak-anak mereka. Bahaya seperti apa yang mereka bawa?"

Segera kemudian, saat kalung itu berhasil memainkan perannya, kalung itu dikirim ke Inggris ke tangan keluarga yahudi Eliason. Konspirasi serupa dilakukan terhadap figur-figur yang diangap menghalangi rencana revolusi.

Saat para bankir berhasil memaksa raja Louis XVI mengadakan pertemuan para tokoh nasional (Estate General) tahun 1789, kelumpuhan pemerintahan Perancis telah tuntas, dan tahap selanjutnya, pukulan-pukulan revolusi, dimulai.

Sejak tahun 1789 tahap demi tahap revolusi dilancarkan, dengan tahap yang mengikuti lebih keras dan kejam dibanding tahap pendahulunya. Pada setiap tahap berakhir, pemimpin revolusi selalu dijadikan tumbal dan kepalanya menggelinding mengikuti pendahulunya.

Duc d'Orleans dan Phillipe Egalite memimpin tahapan dasar revolusi seperti menjadi patron klub-klub revolusioner, mempopulerkan gerakan freemason dan kawasan Palais Royal, dan merancang aksi-aksi massa awal revolusi seperti aksi demontrasi para wanita di Istana Versailes. Namun sebagaimana para penerus gerakan revolusi, mereka tidak pernah bermimpi untuk mengganti bentuk kerajaan dengan bentuk pemerintahan lainnya seperti republik, yang kala itu di seluruh dunia dianggap hanya sebuah ilusi belaka meski telah mulai diwacanakan para intelektual yahudi.

Dalam aksi demonstrasi para wanita "proletar" di Istana Versailes, sebagian besar dari mereka adalah laki-laki berdandan wanita. Mereka melakukan aksi kerusuhan di sekitar Istana Versailes dan penjara Bastille dan "berhasil" memaksa Raja meninggalkan istana dan pasukan pengawalnya, menuju Paris dimana orang-orang revolusioner Jacobin mendominasi. d'Orleans yang mengkhawatirkan keselamatan raja, mencoba menghalangi, namun harus menebusnya dengan nyawanya sendiri yang direnggut paksa oleh para perusuh.

Egalite yang menggantikan d'Orleans masih mencoba menghalangi Estate General menjatuhkan hukuman mati pada raja. Namun ia gagal dan nyawanya menyusul Raja dan Ratu terbang oleh pancungan guillotine.

Kemudian muncullah Mirabeau, seorang pemimpin berwibawa dengan suaranya yang keras mengguntur. Ia pun mencoba menyelamatkan raja dan keluarganya dengan mengirimkan mereka keluar Paris dengan pengawalan pasukan yang loyal pada raja. Tidak lama kemudian ia mati diracun.

Mirebeau adalah tokoh freemason Jacobin moderat terakhir. Ia meninggal pada saat terakhir revolusi berdarah tersebut bisa "dikendalikan". Selanjutnya revolusi dipimpin oleh para manaic, orang-orang sakit jiwa kader organisasi rahasia penyembah berhala, Illuminati. Namun sama dengan d'Orleans, Phillipe Egalite, Mirabeau dan kemudian Danton serta Robes Pierre, mereka semuanya harus menebus gerakan yang mereka pimpin dengan nyawanya sendiri. Semua itu tepat dengan apa yang tertulis pada protikol 15 Protocols of Zion:

"Kita akan membunuh para anggota mason dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak ada seorangpun yang mencurigai (pembunuhan itu)." Dan selanjutnya:

"Pada tahap ini kita akan melanjutkan (pembunuhan) terhadap anggota mason goyim (non-yahudi) yang mengetahui terlalu banyak."

Lalu muncullan figur Jendral Lafayette yang juga memainkan peran penting selama revolusi, namun sebenarnya juga seorang nasionalis pembela raja. Ialah yang dengan gigih telah mencoba membela kekuasaan raja dalam berbagai kerusuhan, termasuk aksi demonstrasi para wanita di Versailes, penyerangan Tuilleries, dan penyerbuan massa ke Champs de Mars. Sangat jelas ia menjadi figur penghalang revolusi. Maka setelah memaksa Raja Louis XVI menyatakan perang terhadap Austria, Lafayette pun dikirim ke medan perang. Dengan terburu-buru, setelah menyelesaikan misinya ke Austria, Lafayette pun kembali ke Paris untuk menyelamatkan raja. Namun lagi-lagi ia dikirim kembali ke medan perang dan nasib raja pun tidak bisa diselamatkan.

Selanjutnya figur-figur "kriminal" seperti Danton, Marat, Robes Pierre pun menguasai medan politik. Dan kerusuhan demi kerusuhan berdarah pun terjadi. Pada tahun 1792 terjadilah peristiwa "Pembantaian September" (khas kerja konspirasi yahudi yang selalu melakukan aksi-aksi brutalnya di bulan ini) dimana di penjara Bastille saja terjadi eksekusi mati terhadap 8.000 tahanan politik. Pelaku pembantaian ini, dari penangkapan para tahanan hingga pembunuhannya, dilakukan oleh Manuel, pejabat Procurer of the Commune de Paris. Namun ini belum seberapa. Dalam satu episode revolusi, sekitar 170.000 petani Perancis yang mencoba melawan revolusi dibenamkan ke dalam sungai bersama kuda dan pedatinya.

Sir Walter Scott dalam "Life of Napoleon" menulis dengan tepat tentang Communaute de Paris (Dewan Kota Perancis atau Paris County Council. Sebuah organisasi semacam Sanhedrin dalam komunitas yahudi): "Apa yang diinginkan Communaute de Paris, adalah tentu saja, darah."

Selanjutnya Scott menulis: "Kekuatan kelompok Jacobin di Paris tidak lagi terbendung, di mana Robes Pierre, Danton dan Marat menduduki tempat yang tinggi dalam stuktur sinagog."

Selanjutnya Scott mengungkapkan siapa di balik itu semua: "Para pimpinan utama dari Communaute tidak lain adalah orang-orang asing." Mereka di antaranya adalah, tulis Scott, Chlodero de Laclos, manager pengelola Palais Royal yang berdarah Spanyol, Manuel sang Procurer of the Commune sang pembunuh keji yang memulai serangan terhadap Raja dalam Sidang Rakyat yang berujung pada pembunuhan Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette.

Selanjutnya adalah David "the painter", tokoh dalam Committee of Public Security yang selalu meneriakkan kematian untuk raja. Sir Walter Scott menulis bagaimana haus darahnya David dengan mengatakan, "mari kita merahkan batu pengasah kita."

Selanjutnya adalah Reubel dan Gohir, dua dari lima orang anggota Directoire yang memerintah Perancis paska kematian Robes Pierre. Terminologi "Directors" dan "Elders" tentu saja tipikal yahudi.

Karya Sir Walter Scott yang terdiri 9 jilid merupakan karya paling lengkap tentang Revolusi Perancis, yang membeberkan bagaimana konspirasi yahudi bekerja dalam peristiwa tersebut. Sayangnya karya itu sangat jarang ditemukan lagi.

Sebelum kematiannya dan setelah pendahulunya meninggal, Robes Pierre tampil sebagai tokoh paling berpengaruh, namun tentu saja hanya di permukaan saja. Bahkan meski ia adalah salah satu tokoh yang menggerakkan revolusi berdarah itu, ia muak dan jijik dengan hal itu semua. Pada tgl 28 Juli 1794 ia mengucapkan pidato yang menggemparkan yang secara tersirat membuka siapa sebenarnya di belakang peristiwa paling brutal dalam sejarah Perancis itu. Dalam buku "Life of Robes Pierre" karya G. Renier dituliskan pidato tersebut:

"Saya tidak berani mengatakan di tempat ini siapa mereka yang bertanggungjawab atas kekejian ini samua. Saya tidak bisa membiarkan diri saya terbantai oleh kejahatan yang secara mendalam melingkupi misteri tiada tara ini. Tapi saya saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa di antara penggerak revolusi ini adalah agen dari sistem yang korup, suatu yang sangat kuat yang diciptakan oleh orang-orang asing yang mengatur republik ini. Mereka adalah para nabinya atheisme dan imoralisme."

Malam hari setelah pidato tersebut Robes Pierre ditembak dan keesokan harinya kepalanya dipenggal. Dengan cara yang hampir sama Presiden Amerika Abraham Lincoln dibunuh pada malam hari setelah mengumumkan akan mencetak uang kertas sendiri untuk membiayai belanja pemerintah dan transaksi keuangan masyarakat, lepas dari uang kertas ciptaan bankir yahudi internasional yang kini mewujud dalam bank sentral Federal Reserve.

Lagi kita melihat konsistensi Protocols of Zion: "Pada tahap ini kita akan melanjutkan (pembunuhan) terhadap anggota mason goyim (non-yahudi) yang mengetahui terlalu banyak."


Ref: "The Nameless War", A.M. Ramsey

Thursday, January 13, 2011

Sayyed Sadr Sang Pemenang


Setelah tiga tahun "hijrah" ke Iran menyusul pertikaian bersenjata yang melibatkan milisi pendukungnya melawan pasukan pemerintah dukungan Amerika, Sayyed Moqtada A-Sadr telah kembali ke Irak, Rabu (5/1). Bila saat meninggalkan Irak tiga tahun lalu statusnya sebagai pelarian, kini statusnya berubah 180 derajat, sebagai pemenang. Koran terkenal Inggris, The Independent, menulis kepulangan Sadr tersebut dengan artikel yang menyebutkannya "telah memainkan perannya dengan baik".

Hal pertama yang dilakukan Sadr setelah kembali ke Irak, adalah mengunjungi makam Imam Ali, dilanjutkan dengan kunjungan ke makam ayahnya Ayatollah Mohammed Sadeq al-Sadr, dan terakhir mengunjungi keluarganya di Hanana. Sepanjang kedatangannya ratusan pendukungnya terus-menerus mengelu-elukannya.

Setelah pertempuran sengit antara milisi pendukungnya melawan tentara pemerintah dan disusul dengan perintah penangkapan atas dirinya tiga tahun lalu, Sadr "menyelamatkan diri" ke Iran dan menghabiskan waktunya dengan belajar agama di kota suci Qom. Kini ia telah kembali dengan membawa kemenangan, setelah perdana menteri terpilih, Nuri Al Maliki, orang yang sama yang telah memeranginya tiga tahun lalu, mengajaknya bergabung dalam pemerintahan dengan memberikan tujuh posisi kementrian kepada partai yang dibentuknya. Partai Sadr sendiri berdasarkan pemilu terakhir baru-baru ini berhasil merebut 39 kursi di parlemen.

Menurut The Independent, meski menjadi "musuh nomor satu" Amerika di Irak dan menjadi ikon gerakan perlawanan atas pendudukan Amerika, Amerika "terpaksa" membiarkan Sadr kembali ke Irak daripada menjadikannya alat kepentingan Iran.

Pimpinan redaksi surat kabar Al Quds Al-Arabi, Abdel Bari Atwan, dalam wawancara dengan televisi Al Jazeera mengatakan bahwa al-Sadr kembali ke Irak pada saat yang sangat krusial.

"Ia kembali untuk memimpin. Bukan duduk di kantornya di Najaf untuk menerima kunjungan pengikutnya. Ia kembali untuk mengkonsolidasikan pendukung-pendukungnya, untuk memanen hasil dari keterlibatannya dalam pemerintahan. Tanpa dirinya, Irak tidak akan mempunyai pemerintah. Maliki tidak akan menjadi perdana menteri," kata Atwan seraya menekankan bahwa kepergian Sadr ke Iran dulu bukanlah untuk melarikan diri, melainkan untuk memperdalam ilmu agama.

Namun Atwan juga mengkhawatirkan Sadr akan menjadi sasaran politik lawan-lawannya. "Ada kekhawatiran bahwa seseorang akan mengincarnya. Jika Anda menyadari banyaknya musuh dirinya yang akan mencoba menciptakan kekacauan. Mereka akan mengincarnya. Pemerintah tidak berani "menyentuhnya" karena kepopulerannya di masyarakat, juga karena pengaruh politiknya," kata Atwan.


Terus Melawan

Meski telah menduduki kursi yang nyaman, Sayyed (gelar yang diberikan untuk keturunan Nabi Muhammad; blogger) Moqtada Sadr, tidak melupakan tugas sucinya: melawan pendudukan Amerika atas Irak. Pada pidato politik pertamanya setelah kembali ke Irak pada hari Sabtu (8/12) di Najaf, sembari meminta pendukungnya untuk memberikan dukungan pada pemerintahan yang baru terbentuk, Sadr menyerukan para pendukungnya untuk terus melakukan perlawanan terhadap pasukan pendudukan Amerika.

"Kita masih berperang!" seru Moqtada Sadr di hadapan ribuan pendukungnya, menyerukan perlawanan dengan segala cara. Sayyed Sadr menyebut Amerika, Inggris dan Israel sebagai "musuh masyarakat Irak".

"Ya, ya untuk Moqtada! Ya, ya untuk pemimpin kita!" sambut para pendukung Sadr sembari mengibar-ngibarkan bendera Irak dan bendera bergambar al-Sadr.

Kembali, Pembunuhan Politik Yahudi


Sebelum membahas mengenai pembunuhan politik atas senator Gabrielle Giffords di Arizona baru-baru ini, kita kembali ke tahun 1960-an saat dua orang politisi terkenal Amerika, Presiden John F Kennedy dan saudaranya, Jaksa Agung Robert Kennedy, dibunuh karena alasan politik. Kedua tokoh tersebut adalah penentang kuat program nuklir Israel dan berniat menghentikan bantuan ekonomi dan militer Amerika kepada Israel karena menolak menghentikan program nuklirnya. John F Kennedy dibunuh saat masih menjabat sebagai presiden, sedangkan Robert Kennedy dibunuh saat hampir memenangkan pemilihan presiden Amerika. Keduanya dibunuh secara brutal di depan publik. Lalu pada tahun 2000-an kita juga menyaksikan pembunuhan brutal terhadap menlu Swedia Anna Lindh di siang hari bolong di sebuah pusat perbelanjaan kota Stockholm. Anna Lindh adalah politisi pro-Palestina dan anti-Israel yang pernah menyerukan gerakan boikot produk-produk Israel.

Ketiga pembunuhan brutal terhadap tokoh politik itu hanya sebagian kecil dari pembunuhan-pembunuhan politik lainnya yang melibatkan orang-orang yahudi di belakangnya. Dan kini peristiwa ini berulang dengan senator Gabrielle Giffords sebagai korbannya ditambah beberapa korban "collateral" lainnya.

Sebagaimana para pembunuh politik tokoh-tokoh besar dunia lainnya, Jared Loughner, sang pembunuh berdarah dingin atas Gabrielle Giffords adalah seorang yahudi. Informasi penting ini diperoleh dari sebuah artikel di majalah "Mother Jones", yang memuat wawancara dengan seorang sahabat lama Jared Loughner yang menyebutkan bahwa ibu dari Jared Loughner adalah seorang wanita yahudi. Berdasarkan hukum Israel, setiap orang yang beribu wanita yahudi otomatis menjadi warga negara Israel.


Untuk lebih lengkapnya mengenai Jared Loughner ini silakan link ke situs berikut:

http://www.davidduke.com/general/arizona-shooter-jared-loughner-is-jewish_22234.html#more-22234


Namun seperti biasa, media massa menyembunyikan fakta itu dan justru mengalihkan perhatian kepada gerakan ultranasionalis, neo-nazi, ekstremis kanan hingga gerakan Tea Party, sebagai motif di balik pembunuhan Gabrielle. Dan seolah sempurna dengan tipikal keyahudiannya, Jared adalah seorang nihilis dan anarkis yang terobsesi untuk menghancurkan segala "kemapanan" di sekitarnya.

Sangat boleh jadi juga Jared adalah manusia yang telah diprogram melalui "kontrol pikiran" untuk menjadi mesin pembunuh, suatu hal yang tidak lagi sekedar ada dalam film-film fiksi. Sekedar untuk menguji apakah metode lama ini masih bekerja, sembari mempermulus agenda yahudi membuat Amerika menjadi negara terbuka terhadap imigran asing sekaligus menerapkan undang-undang pelarangan kepemilikan senjata api, meski konstitusi Amerika menjamin warga negaranya untuk memiliki senjata api sebagai senjata terakhir untuk melawan pemerintahan otoriter yang mungkin muncul. Sebagaimana diketahui Arizona adalah negara bagian yang baru saja mengesahkan undang-undang pembatasan imigran asing yang membuat tokoh-tokoh yahudi dan liberal idiot binaan yahudi, termasuk Presiden Obama, kebakaran jenggot. Dan Gabrielle adalah politisi anti imigran asing dan anti pelarangan senjata api.

Dan seolah menemukan momentum, orang-orang liberal idiot dengan dibantu media massa "jew ass sucker" kembali menyerukan pelarangan senjata api di Amerika. Hal yang diinginkan para kapitalis yahudi global setelah berhasil memperbudak seluruh manusia dengan sistem perbankan-ekonomi-nya, adalah tidak ada seorang pun yang memiliki senjata untuk melawan mereka. Sementara Amerika yang lahir dari pemberontakan bersenjata rakyatnya melawan penguasa Inggris yang otoriter, justru melindungi rakyatnya untuk memiliki senjata api.

Saya pernah mengatakan di blog ini bahwa hal-hal yang sangat buruk karena kejahatan konspirasi mungkin saja terjadi, menyusul pidato kemenangan SBY yang menggunakan bahwa Inggris yang saya intepretasikan bahwa SBY siap mengemban misi kepentingan asing di Indonesia. Dan hal-hal buruk itu telah mulai menampakkan diri: Skandal Century, kasus Gayus, skandal pembangunan gedung DPR/MPR, dan melambungnya harga cabai yang ditanggapi menteri perdagangan dengan santai. Pembunuhan politik? Kita juga sudah sering mengalaminya: pembunuhan Munir, kematian Jendral Agus WH, pembunuhan pengusaha Nasrudin yang menjerat ketua KPK Antasari Azhar, dan kematian misterius seorang Jaksa Agung di Arab Saudi.

Dengan banyaknya agen asing (yahudi) di Indonesia --- mantan Kasad Jendral Ryamizard Ryacudu mengatakan ada 40 ribu agen rahasia asing di Indonesia. Saya berani mengatakan angkanya jauh lebih banyak dari itu---, sebagian bahkan mulai menampakkan wujudnya di media massa, berbagai peristiwa buruk lainnya, termasuk pembunuhan politik, sangat mungkin akan terjadi di Indonesia.

REVOLUSI PERANCIS YANG SEBENARNYA (1)


Saya pernah membaca buku tentang Revolusi Perancis karangan sejarahwan terkemuka Indonesia, Sartono Kartodirjo. Buku tebal yang menceritakan secara detil peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum, selama dan setelah Revolusi Perancis tahun 1789 itu sama sekali tidak menyebutkan "jew factor" dalam peristiwa sejarah itu.

Saya baru "ngeh" adanya "jew factor" dalam peristiwa tersebut setelah melihat film tentang Napoleon Bonaparte. Saat Napoleon masih menjadi seorang perwira muda, ditunjukkan dalam film itu bahwa struktur pemerintahan Perancis paska Revolusi Perancis sangat tipikal yahudi, mirip model pemerintahan komunis dengan Dewan Revolusi dan komisaris-komisarisnya yang menjadi pengawas birokrasi pemerintahan dan militer. Model pemerintahan seperti ini sebenarnya juga ditiru oleh Adolf Hitler yang dengannya ia mampu mengkonsolidasikan kekuatan untuk digunakannya melawan yahudi. Senjata makan tuan, mungkin demikian pikir Hitler kala itu.

Dan saya baru mengetahui "jew factor" sebenarnya dalam peristiwa Revolusi Perancis setelah membaca sebuah artikel di sebuah situs yang ingin saya bagi dengan para pembaca blog ini.

Revolusi Perancis adalah sebuah peristiwa sejarah terbesar setelah runtuhnya kemaharajaan Romawi. Bagi orang-orang yahudi "penguasa belakang layar" sendiri Revolusi Perancis adalah sebuah "keberhasilan terbesar" meski bukan keberhasilan pertama mereka dalam hal menumbangkan sebuah pemerintahan yang telah mapan selama ratusan tahun.

Revolusi Perancis telah didahului oleh peristiwa Perang Sipil Inggris satu setengah abad sebelumnya yang "berhasil" menumbangkan dan menghukum pancung Raja Charles I dan secara efektif mengurangi kekuatan politik raja-raja Inggris. Meski sebagaimana paska Revolusi Perancis, paska Perang Sipil Inggris sempat diperintah oleh regim kejam yang membunuhi ribuan rakyat Inggris, struktur sosial, politik, budaya dan identitas Inggris tidak banyak berubah. Bahkan kemudian putra Charles I, yaitu Charles II, mampu kembali berkuasa dan menghukum mati musuh-musuh ayahnya ---meski kemudian Charles II pun ditumbangkan oleh konspirasi yahudi dengan menggunakan tangan seorang bangsawan Belanda, Williems Oranje---. Paska Revolusi Perancis, seluruh stuktur sosial, konstitusi hingga identitas Perancis termasuk mata uang dan benderanya, berubah total.

Peristiwa seperti itu sudah seharusnya mendapat perhatian besar, mengingat kemudian peristiwa-peristiwa sejenis, di mana konspirasi yahudi menjadi penyebabnya, terjadi di berbagai belahan dunia. Di kalangan masyarakat Eropa yang paling dikenang tentu adalah Revolusi Bolshevik di Rusia. Sedang di kalangan Islam adalah Revolusi Turki yang menumbangkan kekhalifahan Usmani.

Perlu dicatat bahwa Revolusi Perancis sama sekali bukan "pekerjaan" orang-orang Perancis yang ditujukan demi kebaikan rakyat Perancis. Revolusi Perancis digerakkan oleh agen-agen kepentingan asing (yahudi kapitalis internasional) dengan tujuan menghancurkan seluruh stuktur masyarakat dan negara Perancis untuk digantikan dengan "orde baru" yang sesuai dengan kepentingan asing.

Fakta bahwa kepentingan asing berada di balik Revolusi Perancis tidak saja dikemukakan oleh sejarahwah Sir Walter Scott, namun juga tokoh gerakan itu sendiri, Robes Pierre. Keduanya menyebutkan bahwa "orang-orang asing berada di tempat tinggi di Dewan Revolusi".

Hal ini pun dikonfirmasi oleh dokumen Protocols of Learned Elders of Zion (Protocols of Zion), dokumen rahasia yang memuat rencana dominasi dunia oleh tokoh-tokoh yahudi. Protokol ketujuh dan pertama dokumen itu mengatakan:

"Ingat dengan Revolusi Perancis yang kepadanya kita menyebutkan sebagai keberhasilan besar. Rahasia dari persiapannya dikenal luas di kalangan kita karena sesungguhnya itu adalah pekerjaan kita."

"Kitalah yang pertama kali berteriak di antara massa 'Liberty, Equality, Fraternity.' Orang-orang gentile (non-yahudi) bodoh berdatangan dari seluruh penjuru untuk memakan umpan itu, dan bersama mereka melakukan "kebaikan untuk dunia". Bahkan orang-orang bijak dari gentile sedemikian bodohnya sehingga tidak mengerti bahwa dalam realitas tidak pernah ada persamaan dan kebebasan."

Jika kita mengaitkan peristiwa-peristiwa sejenis di Inggris (1640), Perancis (1789), Jerman dan Hungaria (1918-19), dan Spanyol (1936), kita akan merakan sebuah drama realitas yang mencengangkan.
"Revolusi adalah pukulan yang menghantam seorang yang lumpuh."

Namun demikian keberhasilan sebuah revolusi tergantung pada persiapannya yang memiliki kharakter: terorganisir rapi dan luas, sumber daya yang besar, kerahasiaan yang tinggi, dan tentu saja disertai dengan kelicikan yang luar biasa.

Adalah sangat mengherankan bahwa segerombolan orang, atau katakan suatu gerakan masyarakat mau melakukan sebuah revolusi karena membutuhkan ongkos yang sangat mahal dan berbahaya serta membutuhkan operasi yang rumit.

Proses pengorganisasian sebuah gerakan revolusi dimulai dengan berbagai upaya melumpuhkan "sasaran" dan dilanjutkan dengan pukulan akhir terhadap sasaran yang telah lumpuh. Pada tahap pertama-lah, perlunya kerahasiaan yang sangat vital. Dampak-dampak yang tampak pada tahap ini misalnya adalah: melonjaknya beban hutang negara, ketidak berdayaan birokrasi mengontrol aparatnya, "lemahnya" wibawa pemerintah di mata masyarakat, dan tentu saja munculnya kelompok-kelompok kepentingan asing yang bersifat rahasia di negara sasaran.

Hutang, terutama luar negeri, adalah jeratan pertama yang paling simpel. Dengan hutang ini penguasa negara sasaran menjadi lemah posisi tawarnya terhadap pengaruh asing. Pada saat negara sasaran menjadi lemah, mereka tidak kuasa menolak kepentingan asing yang mulai menjerat seluruh struktur politik, sosial dan ekonomi negara sasaran.

Selanjutnya baru disusunlah rencana akhir berupa revolusi, gerakan massa hingga kerusuhan sosial untuk menumbangkan regim pemerintah. Tentu saja semuanya diawali dengan munculnya fenomena korupsi yang merajalela atau krisis ekonomi yang menimbulkan kekecewaan massa. (Masih ingat gerakan Reformasi 1998? Meski saya termasuk orang yang pertama sujud syukur karena tumbangnya Soeharto, kini saya sadar sepenuhnya, gerakan itu bukanlah sepenuhnya gerakan murni masyarakat).

Pada awal dekade 1780-an kelumpuhan finansial mulai terasa di Perancis saat bankir-bankir yahudi mulai bercokol kuat di Perancis.

"Mereka menguasai sebagian besar stok emas dan perak dunia hingga mampu membuat seluruh Eropa menjadi debitur mereka, khususnya Perancis," tulis Sir Walter Scott dalam "Life of Napoleon".

"Perubahan fundamental terjadi dalam struktur ekonomi Eropa dimana kelompok elit masyarakat berubah menjadi kelompok terhutang (debitur). Pada masa lalu, tingkat kesejahteraan diukur dengan kepemilikan tanah dan bangunan, ladang, ternak dan tambang, namun dengan struktur yang baru segalanya diukur dengan uang yang pada dasarnya merupakan surat hutang (kredit)."

Hutang yang dipikul kerajaan Perancis saat itu sebenarnya tidak terlalu besar jika dihitung dengan nilai properti milik kerajaan, namun menjadi sangat besar saat dihitung dalam bentuk emas, dan menjadi alasan menteri keuangan untuk mencetak uang berdasarkan nilai tanah dan aset-aset riel kerajaan lainnya. Situasi ini dikondisikan dari satu pejabat keuangan satu ke pejabat keuangan lainnya yang tidak bisa atau memang sengaja tidak ingin melepaskan diri dari genggaman sistem keuangan internasional yang diciptakan para bankir yahudi.

Dalam kondisi seperti itu, surat hutang pemerintah semakin besar dan berat bebannya, karena hutang dihitung berdasar ukuran emas dan perak yang tidak diproduksi oleh Perancis. Dan siapa yang paling diuntungkan dengan perubahan stuktur ekonomi ini? Para spekulator emas dan perak yang telah sukses menjungkir balikkan keuangan Eropa, menggantikan aset-aset riel dengan hutang berbunga.

"Standar emas telah menghancurkan negara-negara yang mengadopsinya, karena kegagalan memenuhi kebutuhan uang, labih jauh kita telah menghilangkan emas dari peredaran." "Hutang mengayun seperti pedang Damocles di antara leher para penguasa yang datang merengek untuk diberikan pinjaman." (Protocols of Learned Elders of Zion)

Monday, January 10, 2011

THE NEXT POSTING


Seperti biasanya, pembunuhan politik besar melibatkan orang-orang yahudi di belakangnya. Demikian juga dengan penembakan yang menewaskan seorang senator wanita di Arizona, Amerika baru-baru ini. Motifnya adalah menghancurkan para penentang kebijakan imigrasi pintu terbuka dan pengontrolan senjata api yang merupakan agenda utama yahudi untuk menghancurkan Amerika. Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya akan postingkan siapa Jared Loughner sebenarnya, yahudi pelaku penembakan di Arizona.

Proyeksi Awal Tahun


Memuakkan. Itu adalah kata yang harus saya keluarkan saat mencoba menganalisis proyeksi perjalanan bangsa ini di tahun 2011. Memuakkan, persepsi itu saya dapatkan setelah melihat bagaimana di awal tahun 2011 ini kita telah dijejali dengan berita-berita (lagi-lagi) tentang Gayus, yang kali ini dengan masalah pemalsuan pasport dengan keleluasaan dia, sebagai seorang tahanan, berlibur ke luar negeri.

Saya muak karena lagi-lagi harus melihat bagaimana morat-moritnya sistem hukum Indonesia dan betapa rendahnya moral aparat penegak hukum negeri ini sehingga bangsa ini, salah satu bangsa terbesar di dunia baik dari jumlah penduduk, luas wilayah, sejarah dan budayanya, dengan presidennya yang seorang jendral bintang lima penyandang gelar doktor ilmu ekonomi, harus disandera oleh seorang Gayus dan tidak berdaya karenanya.

Apa yang kita harapkan dari bangsa seperti ini, yang tidak berdaya disandera Gayus? Menjadi kekuatan ekonomi politik dunia? Mencapai bangsa sejahtera dengan pendapatan per-kapita $10.000? Dan sebagainya dan sebagainya sebagaimana dikatakan presiden SBY? Omong kosong semua.

Sebaliknya saya justru melihat masa depan yang semakin gelap di negeri ini. Kita akan lebih sering melihat harga-harga kebutuhan pokok yang bergejolak seperti harga cabai baru-baru ini yang menembus harga Rp100.000 per-kilo, dan presiden SBY serta menteri perdagangan hanya bisa menghimbau rakyat untuk menanam cabai ---kalau begitu lebih baik mundur saja pak Presiden dan ibu Menteri Perdagangan karena telah gagal menjalankan tugasnya. Kita telah mengetahui bahwa harga pertamax akan dinaikkan Rp450 per-liter sementara premium semakin langka. Kita akan melihat harga gas akan naik, dan kita juga akan melihat TDL akan kembali dinaikkan yang tanda-tandanya telah dimulai dengan semakin seringnya listrik padam di beberapa daerah sebagai bentuk bergaining power perusahaan swasta PLN. Tarif kereta api pun kembali akan naik.

Dan itu belum semuanya dari dampak buruk setelah cara pandang bernegara kita "dibajak" oleh paham neoliberalisme yahudi. Segalanya harus dipandang dari sudut pandang bisnis hingga sektor-sektor strategis dan sektor-sektor sosial pun harus dikelola seperti perusahaan swasta.

Lebih jauh lagi, negara ini seolah-olah telah menjadi negara oligarki, yang dikuasai oleh sekelompok kecil elit. Lihatlah isu tentang calon presiden 2014 yang gencar diluncurkan oleh media massa dan lembaga-lembaga survei, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem oligarki tersebut. Dua nama muncul sebagai calon favorit, menurut versi lembaga survei dan media massa yang mempublikasikannya: istri presiden inkumben dan putri mantan presiden. Jika kedua presiden tersebut saja gagal membawa negeri ini ke arah kebaikan, bagaimana kita bisa berharap istri dan putrinya bisa?

Saat ini harga minyak dunia telah mendekati $100 per-barrel. Bersiap-siaplah kita kembali mengalami kenaikan BBM dengan alasan pemerintah untuk mengurangi beban subsidi. Bersiap-siaplah pula kita menyaksikan bencana demi bencana menghantam negeri ini karena para pemimpin yang tidak pernah mau mengerti "peringatan langit". Setelah enam tahun penuh bencana, mungkin bencana mendatang akan jauh lebih hebat lagi dampaknya.

WAHHABI KUTUK PALESTINA DAN PUJI ISRAEL


Kedok gerakan wahabi-salafiyun sebagai antek yahudi sebenarnya sudah tercuka cukup lama oleh beberapa bukti tak terbantahkan. Misalnya adanya dokumen rahasia yang menunjukkan konspirasi keluarga kerajaan Saudi sang patron gerakan wahabi-salafi dengan pemerintah zionis Inggris untuk menumbangkan kekhalifahan Usmani dan menyerahkan negeri Palestina untuk Israel. Adanya pangkalan-pangkalan militer Amerika dan Israel di kerajaan Saudi, padahal nabi Muhammad S.A.W dalam amanat terakhirnya sebelum wafat memerintahkan pengusiran orang-orang kafir dari Tanah Haram. Dan bukti yang saya sertakan sebagai gambar dalam tulisan ini yang menunjukkan keimanan sebenarnya sang raja Saudi patron gerakan wahabi-salafiyun, yang ternyata memuja salib.

Namun bukti paling nyata adalah sikap politik kaum wahabi-salafiyun dalam isu paling sensitif dalam dunia politik Islam internasional, yaitu konflik Palestina-Israel. Jauh dari sikap yang diharapkan umat Islam di seluruh dunia yang setidaknya memiliki sedikit hati nurani, negara Arab Saudi dan para ulama wahabinya justru mendukung Israel dan memusuhi Palestina. Ketika rakyat Palestina di Jalur Gaza dibantai tentara Israel secara sistematis melalui blokade maupun invasi militer sebagaimana terjadi awal tahun 2009, pemerintah Arab Saudi diam seribu bahasa. Yang mengejutkan adalah para ulama wahabi mereka justru mengecam rakyat Palestina yang dengan kemampuan seadanya mengadakan perlawanan terhadap aksi biadab Israel. Hingga kini pun gerakan perlawanan Palestina, Hamas, terus-menerus mendapat kecaman dari kaum wahabi-salafiyun dan dianggap sebagai gerakan bid'ah dan kafir.

Salah satu ulama terbesar kaum wahabi, Albani, misalnya, justru mengkafirkan umat Islam Palestina yang berada di wilayah pendudukan Israel dan meminta mereka semua untuk keluar dari bumi Palestina dan menyerahkannya untuk Israel. Pernyataan tersebut dimuat di majalah Al-Liwa Jordan yang terbit tahun 1993 serta dalam buku karangan Albani “Fatawa Al-Bani” dan juga dalam rekaman ceramah AlBani dirumahnya pada bulan April 1993, serta dalam surat kabar As-Suhuf tgl 1/9/1993.

Tanpa ayal fatwa sesat tersebut mendapat kecaman pedas dari para ulama Islam, di antaranya Dr. Solah Al-Kholidy yang menyatakan fatwa Albani tersebut bertolak belakang dengan pandangan As-Sunnah dan Islam. Seorang pejabat menteri Jordania, Dr. Ali Al-Faqir bahkan menuduh pandangan tersebut sebagai pandangan yahudi.

Sementara itu ulama wahabi lainnya, BinBaz, bersikap sebagai menteri propaganda Israel dengan himbauannya agar umat Islam mau berdamai dengan Israel meski Israel telah merampas hak-hak rakyat Palestina dan Arab. Karuan saja seruan tersebut mendapat kecaman keras dari para ulama Islam di seluruh dunia. Tidak kurang dari Yusuf Qardawi, ulama yang dianggap sebagai "guru" kaum salafi, turut mengutuk BinBaz.

Maka saya tidak heran jika seorang pembaca blog ini, seorang salafiyun yang mengaku sebagai "bumi" atau "gyovani" pernah memaki-maki dan mengkafirkan saya karena artikel-artikel dalam blog ini yang membela pandangan Syiah dan menyodorkan pendapat Albani sebagai rujukannya.