Didasari oleh rasa keingin-tahuan tentang popularitas blog ini dibanding blog-blog Indonesia yang ternama, 3 hari yang lalu saya membandingkan angka kunjungan blog ini dengan 2 blog yang sudah lama eksis dan sangat dikenal di dunia maya di Indonesia, yaitu blognya Pak Budi Rahardjo (rahard.wordpress.com) dan Pak Dahlan Iskan (dahlaniskan.wordpress.com).
Alasan pemilihan kedua blog itu adalah karena disamping sudah sangat terkenal, juga karena kedua blog mencantumkan statistik kunjungan real-time (ada blog terkenal Indonesia lain yang mencantumkan statistik kunjungan rekayasa, yaitu menampilkan penghitung detik namun disamarkan sebagai penghitung kunjungan. Akibatnya, meski tidak ada kunjungan, blog itu tetap mencatat kunjungan sebanyak 3.600 kunjungan tiap jamnya).
Sebagaimana diketahui Pak Budi Rahardjo adalah pakar telematika terkenal dari ITB, yang blognya pernah menempati peringkat pertama blog terbaik Indonesia versi Indonesia Matters. Sedangkan Pak Dahlan Iskan, tentu semua rakyat Indonesia telah mengenalnya.
Berdasarkan peringkat "Alexa", blog rahard.wordpress.com menempati peringkat 200 ribuan Alexa Global Rank dan 6 ribuan Alexa Indonesia Rank. Sedangkan dahlaniskan.wordpress berada pada peringkat 300 ribuan Alexa Global Rank dan 10 ribuan Alexa Indonesia Rank. Peringkat itu jauh lebih tinggi dari blog ini yang menempati peringkat 600 ribuan Alexa Global Rank dan 10 ribuan Alexa Indonesia Rank.
Namun yang membuat saya bangga adalah ternyata kunjugan "realtime" blog ini masih lebih tinggi daripada kedua blog senior tersebut di atas. Berdasarkan perhitungan saya kemarin, kunjungan blog ini mencapai angka 5 ribuan per-hari, sementara rahard.wordpress.com "hanya" 1.500-an dan dahlaniskan.wordpress.com "hanya" 2.400-an.
Artinya adalah blog ini ternyata jauh lebih "populer" dibanding 2 blog terkenal tersebut.
Namun tentu saja saya (blogger) tidak bisa terlalu berbangga diri karena di Indonesia terdapat blog-blog yang memiliki kunjungan belasan hingga puluhan ribu hits per-hari, meski kebanyakan adalah blog-blog informasi gadget, teori konspirasi dan hal-hal misterius, atau blog tentang dunia gaib. Sebut saja blog wongalus.wordpress.com yang angka kunjungannya mencapai 40 ribu - 50 ribuan, atau indocropscircles.wordpress.com. yang kunjungannya mencapai 20 ribuan hits per-hari.
Thursday, November 14, 2013
SAUDI MENCARI NUKLIR
Seminggu yang lalu muncul berita-berita di media massa tentang rencana pembelian senjata nuklir Pakistan oleh Saudi. Ternyata berita itu hanyalah pengalihan. Saudi memang sangat bernafsu untuk mendapatkan senjata nuklir demi "mengimbangi" saingan utamanya, Iran, namun tidak dengan bantuan Pakistan, melainkan Israel dan Perancis.
Dan satu langkah besar telah dilakukan poros Saudi-Israel-Perancis ini, yaitu kegagalan perundingan nuklir Iran dengan anggota DK PBB plus Jerman yang disabot Perancis. Ketika perundingan nyaris berakhir dan draft kesepakatan telah disusun di bawah pengawasan Menlu Amerika, Rusia dan Uni Eropa, utusan Perancis dalam perundingan yang juga mantan menlu Laurent Fabius tiba-tiba memaksakan satu point tentang "keamanan Israel".
Dengan "perlindungan" Amerika dan Israel, Saudi sebenarnya tidak memiliki ancaman ekternal kecuali ancaman internal dari rakyatnya sendiri yang semakin sadar dengan kondisi mereka yang tidak baik, seperti para wanitanya yang dilarang mengendarai mobil.
Namun kini pemerintah Saudi sadar bahwa setelah berpuluh-puluh tahun menindas rakyatnya, satu-satunya cara untuk mencegah revolusi adalah kekuatan militer yang dilengkapi dengan senjata nuklir. Dengan senjata itu pula Saudi akan memiliki tambahan kepercayaan diri untuk berhadapan dengan Iran.
Adalah Pangeran Bandar, kepala inteligen dan anggota keluarga kerajaan senior Saudi, yang menjadi "pemimpin proyek" nuklir Saudi. Namun berbeda dengan program nuklir Iran yang ditujukan untuk penelitian dan mendapatkan energi efisien di bawah pengawasan badan nuklir dunia (IAEA), program nuklir Saudi adalah mendapatkan senjata nuklir secara diam-diam.
Israel yang "merilis" kabar tentang rencana pengiriman senjata nuklir Pakistan untuk Saudi dan dengan cepat kabar itu diteruskan oleh media-media Amerika dan India, musuh utama Pakistan. Rumor itu tidak saja ditujukan untuk mendeskreditkan Pakistan, namun lebih utama lagi adalah menyembunyikan koneksi Saudi-Israel melalui Perancis.
DEMI UANG ARAB
Berbeda dengan negara-negara lain di dunia yang sangat antusias menyelesaikan krisis nuklir Iran, ada 2 negara yang sangat tidak menyukai hal itu, yaitu Israel dan Saudi.
Sejak awal terjadinya perundingan nuklir Iran di Genewa baru-baru ini PM Israel Benjamin Netanyahu sudah merengek-rengek pada Amerika dan negara-negara Eropa peserta perundingan untuk menolak kesepakatan dengan Iran kecuali Iran bersedia menghentikan program nuklirnya. Demikian pula Saudi. Hanya beberapa hari sebelum perundigan dimulai mantan kepadal inteligen Saudi Pangeran Turki al Faisal berbicara kepada "Washington Post" bahwa negaranya menentang penghentian sanksi terhadap Iran.
Setelah terjadinya perubahan signifikan kebijakan luar negeri Amerika terhadap Iran, yang ditandai dengan percakapan telepon antara Presiden Amerika Barack Obama dan Presiden Iran Rouhani di New York bulan lalu dan diimplementasikan dengan pembatalan serangan militer Amerika terhadap Syria, terjadi perubahan konstelasi politik sangat mendasar di Timur Tengah. Saudi secara terbuka menyatakan niatnya untuk merubah posisinya dengan Amerika sementara Netanyahu tidak berhenti berteriak menuduh Rouhani sebagai "tukang bersandiwara".
Seiring dengan itu Saudi dan saudara-saudaranya di kawasan Teluk Parsi, Qatar dan Uni Emirat Arab, secara drastis meningkatkan hubungannya dengan Perancis melalui kerjasama di berbagai bidang, mulai dari pembelian senjata besar-besaran, pembangunan infrastruktur dan kerjasama energi.
Pada bulan April lalu Paris menjadi tamu pertemuan bisnis Saudi-Perancis yang diikuti oleh 500 pengusaha dari kedua negara. Pada bulan Juli perusahaan Perancis Veolia memenangkan kontrak senilai $500 juta untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas pengubah air laut menjadi air bersih. Di sisi lain Perancis juga menandatangani kesepakatan penjualan pesawat tempur Rafale dengan Qatar dan Uni Emirat Arab.
Salah satu "bisnis" yang menggiurkan Perancis untuk melirik Saudi dan negara-negara Teluk adalah pengembangan energi nuklir. Saat ini perusahaan nuklir Perancis Areva tengah bersaing dengan beberapa pesaingnya dari Eropa untuk membangun reaktor nuklir di Uni Emirat Arab. Hal ini tentu sangat ironis karena pada saat bersamaan Perancis begitu gencar menentang program nuklir damai Iran.
Pada bulan Juni lalu "Financial Times" menulis laporan berjudul “France calls for increased investment from Qatar”. Laporan itu menyebutkan bahwa Presiden Hollande sangat berharap uang dari Qatar bisa mengalir ke Perancis untuk menciptakan lapangan kerja di Perancis. Menyusul kunjungan Hollande ke Qatar bulan itu, kedua negara sepakat membentuk perusahaan patungan senilai $400 juta yang akan mengatur aliran dana Qatar ke sektor bisnis Perancis.
Sejauh ini investasi Qatar di Perancis telah mencapai angka $15 miliar yang masuk ke perusahaan energi raksasa Total, perusahaan konstruksi Vinci, kelompok media massa Legardere, supplier air dan listrik Veolia, hingga ke sektor olahraga dengan kepemilikan klub sepakbola Paris Saint Germain. Keluarga Emir Al Thani bahkan telah membeli beberapa properti mewah di Paris.
Situasi ekonomi yang buruk serta popularitas Hollande yang merosot tajam memaksa Perancis mengambil sikap dramatis dengan menghancurkan perundingan nuklir Iran. Dengan tindakannya itu Perancis ingin menyenangkan para bos baru mereka, Saudi dan negara-negara Teluk.
REF:
"Saudis seek ‘Samson Option’ with Israeli, French aid"; Gordon Duff; Veterans Today; 11 November 2013
"France wrecks P5+1 deal for Arab money"; Finian Cunningham; Press TV; 10 November 2013
Dan satu langkah besar telah dilakukan poros Saudi-Israel-Perancis ini, yaitu kegagalan perundingan nuklir Iran dengan anggota DK PBB plus Jerman yang disabot Perancis. Ketika perundingan nyaris berakhir dan draft kesepakatan telah disusun di bawah pengawasan Menlu Amerika, Rusia dan Uni Eropa, utusan Perancis dalam perundingan yang juga mantan menlu Laurent Fabius tiba-tiba memaksakan satu point tentang "keamanan Israel".
Dengan "perlindungan" Amerika dan Israel, Saudi sebenarnya tidak memiliki ancaman ekternal kecuali ancaman internal dari rakyatnya sendiri yang semakin sadar dengan kondisi mereka yang tidak baik, seperti para wanitanya yang dilarang mengendarai mobil.
Namun kini pemerintah Saudi sadar bahwa setelah berpuluh-puluh tahun menindas rakyatnya, satu-satunya cara untuk mencegah revolusi adalah kekuatan militer yang dilengkapi dengan senjata nuklir. Dengan senjata itu pula Saudi akan memiliki tambahan kepercayaan diri untuk berhadapan dengan Iran.
Adalah Pangeran Bandar, kepala inteligen dan anggota keluarga kerajaan senior Saudi, yang menjadi "pemimpin proyek" nuklir Saudi. Namun berbeda dengan program nuklir Iran yang ditujukan untuk penelitian dan mendapatkan energi efisien di bawah pengawasan badan nuklir dunia (IAEA), program nuklir Saudi adalah mendapatkan senjata nuklir secara diam-diam.
Israel yang "merilis" kabar tentang rencana pengiriman senjata nuklir Pakistan untuk Saudi dan dengan cepat kabar itu diteruskan oleh media-media Amerika dan India, musuh utama Pakistan. Rumor itu tidak saja ditujukan untuk mendeskreditkan Pakistan, namun lebih utama lagi adalah menyembunyikan koneksi Saudi-Israel melalui Perancis.
DEMI UANG ARAB
Berbeda dengan negara-negara lain di dunia yang sangat antusias menyelesaikan krisis nuklir Iran, ada 2 negara yang sangat tidak menyukai hal itu, yaitu Israel dan Saudi.
Sejak awal terjadinya perundingan nuklir Iran di Genewa baru-baru ini PM Israel Benjamin Netanyahu sudah merengek-rengek pada Amerika dan negara-negara Eropa peserta perundingan untuk menolak kesepakatan dengan Iran kecuali Iran bersedia menghentikan program nuklirnya. Demikian pula Saudi. Hanya beberapa hari sebelum perundigan dimulai mantan kepadal inteligen Saudi Pangeran Turki al Faisal berbicara kepada "Washington Post" bahwa negaranya menentang penghentian sanksi terhadap Iran.
Setelah terjadinya perubahan signifikan kebijakan luar negeri Amerika terhadap Iran, yang ditandai dengan percakapan telepon antara Presiden Amerika Barack Obama dan Presiden Iran Rouhani di New York bulan lalu dan diimplementasikan dengan pembatalan serangan militer Amerika terhadap Syria, terjadi perubahan konstelasi politik sangat mendasar di Timur Tengah. Saudi secara terbuka menyatakan niatnya untuk merubah posisinya dengan Amerika sementara Netanyahu tidak berhenti berteriak menuduh Rouhani sebagai "tukang bersandiwara".
Seiring dengan itu Saudi dan saudara-saudaranya di kawasan Teluk Parsi, Qatar dan Uni Emirat Arab, secara drastis meningkatkan hubungannya dengan Perancis melalui kerjasama di berbagai bidang, mulai dari pembelian senjata besar-besaran, pembangunan infrastruktur dan kerjasama energi.
Pada bulan April lalu Paris menjadi tamu pertemuan bisnis Saudi-Perancis yang diikuti oleh 500 pengusaha dari kedua negara. Pada bulan Juli perusahaan Perancis Veolia memenangkan kontrak senilai $500 juta untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas pengubah air laut menjadi air bersih. Di sisi lain Perancis juga menandatangani kesepakatan penjualan pesawat tempur Rafale dengan Qatar dan Uni Emirat Arab.
Salah satu "bisnis" yang menggiurkan Perancis untuk melirik Saudi dan negara-negara Teluk adalah pengembangan energi nuklir. Saat ini perusahaan nuklir Perancis Areva tengah bersaing dengan beberapa pesaingnya dari Eropa untuk membangun reaktor nuklir di Uni Emirat Arab. Hal ini tentu sangat ironis karena pada saat bersamaan Perancis begitu gencar menentang program nuklir damai Iran.
Pada bulan Juni lalu "Financial Times" menulis laporan berjudul “France calls for increased investment from Qatar”. Laporan itu menyebutkan bahwa Presiden Hollande sangat berharap uang dari Qatar bisa mengalir ke Perancis untuk menciptakan lapangan kerja di Perancis. Menyusul kunjungan Hollande ke Qatar bulan itu, kedua negara sepakat membentuk perusahaan patungan senilai $400 juta yang akan mengatur aliran dana Qatar ke sektor bisnis Perancis.
Sejauh ini investasi Qatar di Perancis telah mencapai angka $15 miliar yang masuk ke perusahaan energi raksasa Total, perusahaan konstruksi Vinci, kelompok media massa Legardere, supplier air dan listrik Veolia, hingga ke sektor olahraga dengan kepemilikan klub sepakbola Paris Saint Germain. Keluarga Emir Al Thani bahkan telah membeli beberapa properti mewah di Paris.
Situasi ekonomi yang buruk serta popularitas Hollande yang merosot tajam memaksa Perancis mengambil sikap dramatis dengan menghancurkan perundingan nuklir Iran. Dengan tindakannya itu Perancis ingin menyenangkan para bos baru mereka, Saudi dan negara-negara Teluk.
REF:
"Saudis seek ‘Samson Option’ with Israeli, French aid"; Gordon Duff; Veterans Today; 11 November 2013
"France wrecks P5+1 deal for Arab money"; Finian Cunningham; Press TV; 10 November 2013
Wednesday, November 13, 2013
IRAN PRODUKSI RUDAL TERBARUNYA
50 tahun yang lalu Rusia menembak jatuh pesawat mata-mata U2 milik Amerika, yang terbang sangat tinggi dan dalam kecepatan supersonik sehingga membuat Amerika percaya bahwa pesawat mereka tidak mungkin dijatuhkan oleh semua sistem pertahanan udara yang ada di dunia kala itu. Senjata yang menjatuhkan U2 tersebut adalah rudal SA-2.
Iran kini telah memiliki senjata yang jauh lebih canggih daripada SA-2, namanya Sayyad-2. Ya, Sayyad-2 adalah SA-2 yang telah di-upgrade Iran. Rudal baru ini telah dilengkapi dengan perangkat digital penambah akurasi, perangkat anti-jamming dan hululedak yang lebih hebat. Selain itu Sayyad-2 juga lebih mobil dan lebih ringkas waktu peluncurannya.
Peresmian produksi massal Sayyad-2 dilakukan hari Sabtu (9/11) oleh Menhan Iran Hossein Dehqan.
"Untuk mengkonter serangan udara musuh kita telah menetapkan produksi rudal Sayyad-2 tepat waktu," kata Dehqan dalam sambutannya.
"Rudal dengan sistem bahan bakar padat ini mampu menghancurkan berbagai jenis rudal jelajah, pembom, drone dan helikopter," tambah Dehqan.
Lebih jauh media-media Iran menyebutkan bahwa para ahli senjata Rusia terkagum-kagum dengan kemampuan Sayyad-2.
Seiring dengan terhambatnya pembelian sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia akibat tekanan Amerika dan PBB, keberadaan Sayyad-2 sangat berarti bagi Iran dalam upayanya melindungi fasilitas-fasilitas nuklir dan fasilitas strategis lainnya dari ancaman serangan Amerika.
REF:
"More on Iran’s Latest Air Defence Missile"; News Brief; 11 November 2013
Iran kini telah memiliki senjata yang jauh lebih canggih daripada SA-2, namanya Sayyad-2. Ya, Sayyad-2 adalah SA-2 yang telah di-upgrade Iran. Rudal baru ini telah dilengkapi dengan perangkat digital penambah akurasi, perangkat anti-jamming dan hululedak yang lebih hebat. Selain itu Sayyad-2 juga lebih mobil dan lebih ringkas waktu peluncurannya.
Peresmian produksi massal Sayyad-2 dilakukan hari Sabtu (9/11) oleh Menhan Iran Hossein Dehqan.
"Untuk mengkonter serangan udara musuh kita telah menetapkan produksi rudal Sayyad-2 tepat waktu," kata Dehqan dalam sambutannya.
"Rudal dengan sistem bahan bakar padat ini mampu menghancurkan berbagai jenis rudal jelajah, pembom, drone dan helikopter," tambah Dehqan.
Lebih jauh media-media Iran menyebutkan bahwa para ahli senjata Rusia terkagum-kagum dengan kemampuan Sayyad-2.
Seiring dengan terhambatnya pembelian sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia akibat tekanan Amerika dan PBB, keberadaan Sayyad-2 sangat berarti bagi Iran dalam upayanya melindungi fasilitas-fasilitas nuklir dan fasilitas strategis lainnya dari ancaman serangan Amerika.
REF:
"More on Iran’s Latest Air Defence Missile"; News Brief; 11 November 2013
Monday, November 11, 2013
PEMERINTAH AKAN JUAL BANDARA KE ASING?
Para pengunjung setia blog ini tentu masih ingat bagaimana saya (blogger) telah lama mengingatkan kemungkinan pengelolaan bandara-bandara Indonesia diserahkan kepada perusahaan asing. Dan kini peringatan itu semakin mendekati kenyataan setelah Meneg BUMN Dahlan Iskan dikabarkan telah menyetujui rencana pengelolaan bandara-bandara di Indonesia diserahkan kepada perusahaan asing dan bukan lagi oleh BUMN Angkasa Pura. (sekedar brainstorming, silakan lihat di sini.).
Sebagian orang menganggap pengelolaan bandara oleh perusahaan asing sebagai suatu hal yang wajar, terutama di tengah-tengah mental korup para aparat birokrat pemerintah dan BUMN. Dalam satu diskusi di forum "facebook" baru-baru ini seseorang mencontohkan otoritas moneter Inggris yang mengangkat seorang warga negara Kanada untuk memimpin bank sentral Inggris. Yang bersangkutan tentu lupa bahwa Kanada adalah negara dominion Inggris (1/2 merdeka, 1/2 kedaulatan lainnya milik Inggris). Tentu tidak terlalu menjadi masalah jika bank sentral Inggris dipimpin oleh warga negara dominion. Namun masalahnya tentu berbeda jika hal itu diterapkan antara 2 negara yang benar-benar merdeka seperti Indonesia dengan Amerika, misalnya.
Inilah dampak dari "gerakan rahasia penghancuran segala tatanan" yang kini tengah berlangsung di Indonesia. Dimulai dari aparat pemerintahan yang korup dan berujung pada sikap apatisme rakyat Indonesia, yang dampak akhirnya adalah penguasaan aset-aset strategis milik bangsa Indonesia oleh asing. Sayangnya hal ini telah lama berlangsung dan dampaknya telah terbukti nyata (asing telah menguasai 40% asset-asset strategis nasional di segala sektor), namun rakyat masih merasa baik-baik saja, bahkan menyetujui rencana Dahlan Iskan untuk menjual pengelolaan bandara kepada asing.
Sebagian rakyat Amerika yang "tercerahkan" (sebagian besar belum tercerahkan) telah menyadari bahwa salah satu hal yang membuat konspirasi Serangan WTC 2001 berjalan mulus adalah penguasaan bandara-bandara utama Amerika oleh perusahaan-perusahaan Israel. Dengan itu Israel dan unsur-unsur zionis dalam pemerintahan Amerika bisa merekayasa seolah-oleh Mohammad Atta Cs adalah pelaku serangan. Lalu apakah kita pun akan membiarkan hal yang sama terjadi, setelah bandara-bandara di Indonesia dikelola oleh perusahaan asing yang ternyata adalah milik para zionis internasional?
Kita baru saja dikejutkan oleh berita tentang pengelolaan ibadah haji di Arab Saudi yang ternyata dikelola oleh perusahaan zionis berbasis di Inggris. Jangan kaget jika nantinya pengelolaan ibadah haji di Indonesia juga dikelola oleh perusahaan zionis, karena infrastrukturnya telah disiapkan dengan diangkatnya Anggito Abimanyu, seorang fundamentalis neo-liberalisme, sebagai Dirjen Haji Departemen Agama.
Bayangkan suatu saat terjadi serangan teroris seperti Serangan WTC 2001, dengan beberapa orang teroris membajak pesawat penumpang dari sebuah bandara nasional, dan kemudian menabrakkannya ke Istana Negara, dan ternyata para teroris itu disusupkan lewat bandara yang dikelola agen-agen zionis. Dan jangan kaget juga jika suatu saat terjadi serangan teroris terhadap Masjidil Haram dimana para pelakunya adalah teman-teman Amrozi Cs (pelaku bom Bali) yang disusupkan melalui bandara Indonesia yang dikelola para zionis.
Saya bukan orang yang membenci Pak Dahlan Iskan (beliau bekas guru saya sebagai wartawan) atau Pak Anggito Abimanyu (yang tidak lain adalah mantan dosen saya di Jogja). Sebaliknya saya adalah pengagum mereka sebagai para profesional. Namun pandangan politik mereka yang neo-liberalis (pro-asing) membuat saya harus "memusuhi" mereka karena saya tahu apa yang dilakukan mereka sangat berbahaya bagi kepentingan bangsa Indonesia.
Sekedar catatan tentang Pak Dahlan Iskan. Beliau masih berhutang kepada rakyat Indonesia untuk menjelaskan kasus temuan BPK tentang inefisiensi Rp37 triliun di PLN selama beliau menjadi direktur utamanya. Beliau juga berhutang untuk menjelaskan mengapa selama bertahun-tahun menjadi Dirut PLN dan kini menjadi Meneg BUMN yang membawahi PLN, pemadaman listrik masih terus terjadi khususnya di Sumatera Utara.
Sekedar informasi. Beberapa waktu lalu DPRD Sumut telah membentuk Tim Pansus Kelistrikan yang ditugaskan untuk menyelidiki masalah kelistrikan di Sumatera Utara yang tidak kunjung beres. Hasil yang didapat pansus sangat kuat mengindikasikan adanya modus korupsi dalam penanganan kelistrikan oleh PLN. Misalnya saja, ada pembangkit yang tidak beroperasi karena rusak, namun masih terus mengeluarkan biaya operasi yang tidak sedikit. Contoh lainnya, PLN Batam dan Sumatera Selatan mengalami surplus listrik dan telah terjalin koneksi dengan PLN Sumut. Namun PLN tidak mau menyalurkan kelebihan itu ke Sumut dan lebih memilih menyewa genset untuk memenuhi kekurangan listrik Sumut. Padahal masalah sewa-menyewa itu sangat rentan korupsi, minimal uang sogok yang diterima para pejabat PLN dari penyedia genset. Di sisi lain dalam RDP DPR RI dengan Meneg BUMN tahun lalu juga terungkap adanya keterlibatan keluarga Dahlan Iskan dalam penyewaan genset kepada pembangkit-pembangkit PLN.
Sekedar informasi lainnya. Saat ini beberapa pejabat tertinggi PLN pembangkitan Sumut (tentu saja kini telah diganti jabatannya) tengah menjalani sidang korupsi.
Sebagian orang menganggap pengelolaan bandara oleh perusahaan asing sebagai suatu hal yang wajar, terutama di tengah-tengah mental korup para aparat birokrat pemerintah dan BUMN. Dalam satu diskusi di forum "facebook" baru-baru ini seseorang mencontohkan otoritas moneter Inggris yang mengangkat seorang warga negara Kanada untuk memimpin bank sentral Inggris. Yang bersangkutan tentu lupa bahwa Kanada adalah negara dominion Inggris (1/2 merdeka, 1/2 kedaulatan lainnya milik Inggris). Tentu tidak terlalu menjadi masalah jika bank sentral Inggris dipimpin oleh warga negara dominion. Namun masalahnya tentu berbeda jika hal itu diterapkan antara 2 negara yang benar-benar merdeka seperti Indonesia dengan Amerika, misalnya.
Inilah dampak dari "gerakan rahasia penghancuran segala tatanan" yang kini tengah berlangsung di Indonesia. Dimulai dari aparat pemerintahan yang korup dan berujung pada sikap apatisme rakyat Indonesia, yang dampak akhirnya adalah penguasaan aset-aset strategis milik bangsa Indonesia oleh asing. Sayangnya hal ini telah lama berlangsung dan dampaknya telah terbukti nyata (asing telah menguasai 40% asset-asset strategis nasional di segala sektor), namun rakyat masih merasa baik-baik saja, bahkan menyetujui rencana Dahlan Iskan untuk menjual pengelolaan bandara kepada asing.
Sebagian rakyat Amerika yang "tercerahkan" (sebagian besar belum tercerahkan) telah menyadari bahwa salah satu hal yang membuat konspirasi Serangan WTC 2001 berjalan mulus adalah penguasaan bandara-bandara utama Amerika oleh perusahaan-perusahaan Israel. Dengan itu Israel dan unsur-unsur zionis dalam pemerintahan Amerika bisa merekayasa seolah-oleh Mohammad Atta Cs adalah pelaku serangan. Lalu apakah kita pun akan membiarkan hal yang sama terjadi, setelah bandara-bandara di Indonesia dikelola oleh perusahaan asing yang ternyata adalah milik para zionis internasional?
Kita baru saja dikejutkan oleh berita tentang pengelolaan ibadah haji di Arab Saudi yang ternyata dikelola oleh perusahaan zionis berbasis di Inggris. Jangan kaget jika nantinya pengelolaan ibadah haji di Indonesia juga dikelola oleh perusahaan zionis, karena infrastrukturnya telah disiapkan dengan diangkatnya Anggito Abimanyu, seorang fundamentalis neo-liberalisme, sebagai Dirjen Haji Departemen Agama.
Bayangkan suatu saat terjadi serangan teroris seperti Serangan WTC 2001, dengan beberapa orang teroris membajak pesawat penumpang dari sebuah bandara nasional, dan kemudian menabrakkannya ke Istana Negara, dan ternyata para teroris itu disusupkan lewat bandara yang dikelola agen-agen zionis. Dan jangan kaget juga jika suatu saat terjadi serangan teroris terhadap Masjidil Haram dimana para pelakunya adalah teman-teman Amrozi Cs (pelaku bom Bali) yang disusupkan melalui bandara Indonesia yang dikelola para zionis.
Saya bukan orang yang membenci Pak Dahlan Iskan (beliau bekas guru saya sebagai wartawan) atau Pak Anggito Abimanyu (yang tidak lain adalah mantan dosen saya di Jogja). Sebaliknya saya adalah pengagum mereka sebagai para profesional. Namun pandangan politik mereka yang neo-liberalis (pro-asing) membuat saya harus "memusuhi" mereka karena saya tahu apa yang dilakukan mereka sangat berbahaya bagi kepentingan bangsa Indonesia.
Sekedar catatan tentang Pak Dahlan Iskan. Beliau masih berhutang kepada rakyat Indonesia untuk menjelaskan kasus temuan BPK tentang inefisiensi Rp37 triliun di PLN selama beliau menjadi direktur utamanya. Beliau juga berhutang untuk menjelaskan mengapa selama bertahun-tahun menjadi Dirut PLN dan kini menjadi Meneg BUMN yang membawahi PLN, pemadaman listrik masih terus terjadi khususnya di Sumatera Utara.
Sekedar informasi. Beberapa waktu lalu DPRD Sumut telah membentuk Tim Pansus Kelistrikan yang ditugaskan untuk menyelidiki masalah kelistrikan di Sumatera Utara yang tidak kunjung beres. Hasil yang didapat pansus sangat kuat mengindikasikan adanya modus korupsi dalam penanganan kelistrikan oleh PLN. Misalnya saja, ada pembangkit yang tidak beroperasi karena rusak, namun masih terus mengeluarkan biaya operasi yang tidak sedikit. Contoh lainnya, PLN Batam dan Sumatera Selatan mengalami surplus listrik dan telah terjalin koneksi dengan PLN Sumut. Namun PLN tidak mau menyalurkan kelebihan itu ke Sumut dan lebih memilih menyewa genset untuk memenuhi kekurangan listrik Sumut. Padahal masalah sewa-menyewa itu sangat rentan korupsi, minimal uang sogok yang diterima para pejabat PLN dari penyedia genset. Di sisi lain dalam RDP DPR RI dengan Meneg BUMN tahun lalu juga terungkap adanya keterlibatan keluarga Dahlan Iskan dalam penyewaan genset kepada pembangkit-pembangkit PLN.
Sekedar informasi lainnya. Saat ini beberapa pejabat tertinggi PLN pembangkitan Sumut (tentu saja kini telah diganti jabatannya) tengah menjalani sidang korupsi.
PANGLIMA PEMBERONTAK SYRIA MENGUNDURKAN DIRI
Seorang komandan pemberontak dari kelompok Free Syrian Army di Aleppo mundur dari jabatannya karena kecewa dengan kegagalan gerakan pemberontakan yang diikutinya selama ini. Ia menuduh para panglima perang saling bersaing memperebutkan kekuasaan. Ia juga menuduh para pemimpin pemberontak di pengasingan sebagai pengkhianat yang tidak mewakili rakyat Syria.
"Revolusi yang mulia ini telah terbuka kedok terakhirnya di hadapan masyarakat internsional," kata sang komandan, Kolonel Abdul-Jabbar Okaidi dalam pernyataan yang disiarkan melalui media online baru-baru ini. Sebelumnya Okaidi adalah pemimpin Dewan Militer Free Syrian Army di provinsi Aleppo.
"Berhentilah saling bersaing memperebutkan kekuasaan," katanya kepada para komandan pemberontak yang disebutnya sebagai "raja-raja kecil".
"Mereka tidak mewakili rakyat Syria melainkan diri mereka sendiri. Mereka telah membalikkan punggungnya dari hadapan rakyat Syria dan meninggalkannya sama sekali," tambahnya tentang para pemimpin pemberontak di pengasingan.
Sedangkan kepada para pemimpin negara-negara pendukung pemberontakan ia menyebut mereka telah "mengkhianati revolusi rakyat Syria".
"Karena orang-orang telah menolak ajakan untuk bersatu, yang mengakibatkan kekalahan di berbagai medan perang, jalur-jalur logistik dan jatuhnya Kota Sfeira (kota di sebelah timur Aleppo, ke tangan pemerintah), maka saya mengumumkan pengunduran diri saya sebagai pemimpin Dewan Revolusi Militer di Aleppo," kata Abdul-Jabbar Okaidi.
Okaidi meninggalkan satuannya di kemiliteran Syria dan bergabung dengan pemberontak bulan Mei 2012 lalu. Ia telah memimpin seluruh pertempuran yang dilakukan Free Syrian Army di wilayah Aleppo sejak tahun lalu.
MILITER REBUT KEMBALI PANGKALAN MILITER DI ALEPPO
Sementara itu militer Syria melaporkan telah merebut kembali pangkalan militer Base 80 di dekat Bandara Internasional Aleppo, setelah melalui pertempuran sengit melawan pemberontak, Minggu (10/13).
Televisi pemerintah Syria melaporkan hari Minggu (10/13), menyusul pertempuran sengit berhari-hari melawan pemberontak, "tentara kita yang gagah berani telah menguasai sepenuhnya Pangkalan 80."
Lebih jauh militer Syria menyatakan berhasil melakukan serangkaian operasi militer di seluruh penjuru Syria. Militer mengklaim berhasil menggagalkan upaya pemberontak menguasai sebuah pos militer di Idlib dan membunuh beberapa pemberontak. Militer juga menyatakan berhasil menghancurkan posisi-posisi pemberontak di kawasan pedesaan di Homs. Perkembangan ini terjadi sehari setelah militer berhasil merebut kembali jalan raya al-Ghanto-Talbiseh yang biasa digunakan pemberontak untuk menyerang desa-desa di Homs.
REF:
"FSA Military Council Head Resigns, Slams Political, Military Opposition"; ALMANAR.COM.LB; 4
November 2013
"Syria army seizes key base near Aleppo Int’l Airport"; Press TV; 10 November 2013
"Revolusi yang mulia ini telah terbuka kedok terakhirnya di hadapan masyarakat internsional," kata sang komandan, Kolonel Abdul-Jabbar Okaidi dalam pernyataan yang disiarkan melalui media online baru-baru ini. Sebelumnya Okaidi adalah pemimpin Dewan Militer Free Syrian Army di provinsi Aleppo.
"Berhentilah saling bersaing memperebutkan kekuasaan," katanya kepada para komandan pemberontak yang disebutnya sebagai "raja-raja kecil".
"Mereka tidak mewakili rakyat Syria melainkan diri mereka sendiri. Mereka telah membalikkan punggungnya dari hadapan rakyat Syria dan meninggalkannya sama sekali," tambahnya tentang para pemimpin pemberontak di pengasingan.
Sedangkan kepada para pemimpin negara-negara pendukung pemberontakan ia menyebut mereka telah "mengkhianati revolusi rakyat Syria".
"Karena orang-orang telah menolak ajakan untuk bersatu, yang mengakibatkan kekalahan di berbagai medan perang, jalur-jalur logistik dan jatuhnya Kota Sfeira (kota di sebelah timur Aleppo, ke tangan pemerintah), maka saya mengumumkan pengunduran diri saya sebagai pemimpin Dewan Revolusi Militer di Aleppo," kata Abdul-Jabbar Okaidi.
Okaidi meninggalkan satuannya di kemiliteran Syria dan bergabung dengan pemberontak bulan Mei 2012 lalu. Ia telah memimpin seluruh pertempuran yang dilakukan Free Syrian Army di wilayah Aleppo sejak tahun lalu.
MILITER REBUT KEMBALI PANGKALAN MILITER DI ALEPPO
Sementara itu militer Syria melaporkan telah merebut kembali pangkalan militer Base 80 di dekat Bandara Internasional Aleppo, setelah melalui pertempuran sengit melawan pemberontak, Minggu (10/13).
Televisi pemerintah Syria melaporkan hari Minggu (10/13), menyusul pertempuran sengit berhari-hari melawan pemberontak, "tentara kita yang gagah berani telah menguasai sepenuhnya Pangkalan 80."
Lebih jauh militer Syria menyatakan berhasil melakukan serangkaian operasi militer di seluruh penjuru Syria. Militer mengklaim berhasil menggagalkan upaya pemberontak menguasai sebuah pos militer di Idlib dan membunuh beberapa pemberontak. Militer juga menyatakan berhasil menghancurkan posisi-posisi pemberontak di kawasan pedesaan di Homs. Perkembangan ini terjadi sehari setelah militer berhasil merebut kembali jalan raya al-Ghanto-Talbiseh yang biasa digunakan pemberontak untuk menyerang desa-desa di Homs.
REF:
"FSA Military Council Head Resigns, Slams Political, Military Opposition"; ALMANAR.COM.LB; 4
November 2013
"Syria army seizes key base near Aleppo Int’l Airport"; Press TV; 10 November 2013
Sunday, November 10, 2013
Cak Nun Tentang SBY.....
Akhirnya saya (blogger) mendapatkan kesempatan untuk mengolok-olok SBY tanpa harus melakukannya sendiri. Melalui tulisan Emha Ainun Nadjib inilah hal itu bisa saya dapatkan:=======
Dulu saya menemani Rendra sampai meninggalnya. Dari urusan dokter, rumah sakit, tiap hari siang malam saya gilir teman-teman saya. Kemudian Mbah Surp meninggal, dikuburkan di kompleksnya Rendra. Ketika itu Rendra lumpuh, tapi tak ada satu wartawan pun yang menanyakan Rendra.
SBY pidato tentang kematian Mbah Surip, tapi tidak pidato ketika Rendra meninggal. Itu kan defisit kebudayaan yang sangat besar. Dia benar-benar nggak ngerti bedanya tai sama roti.
Kalau menggunakan antropologi sehari-hari, bangsa Indonesia berhak makan roti tapi lama-lama jatah rotinya berubah menjadi tai. Teknologi mental dan estetika yang luar biasa membuat bangsa Indonesia bisa menikmati tai sebagai roti. Generasi kedua bukan hanya mampu mengubah tai menjadi roti, tapi mereka sudah tidak memiliki pengetahuan untuk membedakan mana tai mana roti. Generasi ketiga lebih parah lagi. Mereka sudah tidak mengerti bahwa ada tai. Semua dipikirnya roti. Presiden seperti apapun tetap dipilih, kondisi negara bagaimanapun dianggap roti. Dan kalau ada yang memberi tahu bahwa yang dimakannya adalah tai, mereka marah.
Saya disuruh ngomong apa tentang tai? Tapi wallahi saya tak punya kebencian dengan Beliau. Saya bersahabat dengan SBY. Para periode pertama dia masih datang ke rumah, tanya-tanya. Saya masih kasih info-info. Tapi saya lihat sejak awal dia sudah merencanakan untuk berkuasa selama mungkin. Kalaupun jatahnya dua kali, dia harus mengakselerasi kekuasaannya. Waktu itu SBY mau datang ke Jogja padahal saya kasih waktu jam 11 malam.
Ketika itu SBY mengatakan, “Cak Nun sudah tepat posisinya sebagai guru bangsa, ruhaniawan."
Maksudnya kan saya jangan jadi presiden. Saya iyakan saja, lalu saya katakan saya tidak punya ambisi apa-apa. saya disuruh merangkak, berenang, jadi presiden, atau apapun, saya manut dan saya tidak punya beban atas apa-apa yang dibebankan Allah kepada saya karena saya adalah sopirnya Allah. Kalau Tuhan yang nyuruh, Dia yang akan melindungi saya, memberi kesejahteraan, membimbing mekanisme saya.
SBY bukan untuk diomongkan. Dia punya masalah besar sama Allah sekarang. Dia hanya punya satu kemungkinan : menjadi trigger perubahan atau menjadi tumbal. Kalau dia mau mengikhlaskan apa yang harus dia ikhlaskan, namanya akan harum sepanjang sejarah.(Emha Ainun Nadjib)
Friday, November 8, 2013
TENTANG PENYADAPAN AMERIKA
Ketika Jonathan Pollard, warga Amerika keturunan yahudi yang bekerja di AL Amerika, ditangkap aparat keamanan setelah ketahuan melakukan kegiatan mata-mata untuk kepentingan Israel tahun 1985, pemerintah Amerika melalui menlu George Schultz menelepon perdana menteri Israel Shimon Peres menyampaikan protes keras Amerika dan meminta penjelasan pemerintah Israel tentang hal itu. Tidak perlu waktu yang lama, Simon Peres pun langsung menyatakan permintaan ma'af.
"Memata-matai Amerika Serikat adalah sangat bertentangan dengan kebijakan kami. Kegiatan seperti ini, sejauh yang telah terjadi, adalah salah, dan pemerintah Israel meminta ma'af." Demikian pernyataan resmi yang disampaikan langsung oleh Simon Peres terkait insiden penyadapan yang dilakukan Pollard.
Tidak hanya itu, dalam pernyataan resmi yang disiarkan ke seluruh dunia itu Peres juga berjanji akan memberi sanksi keras kepada pihak-pihak di dalam negeri Israel yang terlibat dalam kegiatan mata-mata itu, termasuk membubarkan secara permanen lembaga-lembaga yang terlibat demi menjamin kegiatan seperti itu tidak terulang lagi.
Itu adalah sikap Amerika kepada Israel ketika Israel ketahuan melakukan kegiatan mata-mata di Amerika. Padahal Israel adalah "anak emas" Amerika. Ketika terungkap sebuah tindakan ilegal yang dilakukan Israel terhadap Amerika, maka mau tidak mau Amerika harus melakukan tindakan keras kepada Israel. Demikian pula sebaliknya dengan Israel, sang anak emas. Israel bisa saja berdalih macam-macam untuk menolak tuduhan Amerika, toh Israel tahu, pemerintah Amerika tidak akan benar-benar "menghukum" Israel. Namun Israel juga tahu, jika Israel mengelak, maka pemerintah Amerika akan menjadi korban kemarahan rakyatnya yang pada akhirnya akan merugikan Israel sendiri. Misalnya saja, bisa-bisa rakyat, melalui Congress atau melalui aksi-aksi demonstrasi melakukan tekanan politik yang bisa merugikan hubungan Israel dengan Amerika.
Maka Israel pun terpaksa meminta ma'af. Tidak peduli apakah permintaan ma'af serta janji melakukan berbagai tingakan pencegahan itu serius, atau tidak. Dan pemerintah Amerika pun terpaksa menuntut penjelasan dan permintaan ma'af Israel, tidak peduli apakah Israel akan bersungguh-sungguh memenuhi tuntutannya, karena kalau tidak melakukan tuntutan itu pemerintah akan dikecam dan diolok-olok rakyatnya, atau bahkan dikudeta rakyatnya.
Lalu apa yang dilakukan pemerintah Indonesia yang dipimpin Presiden SBY, setelah terbukti Amerika dan Australia melakukan kegiatan mata-mata di Indonesia?
Berbeda dengan pemerintah Amerika dalam kasus Pollard, Presiden SBY justru menunjukkan sikap yang sangat tidak wajar yang justru menimbulkan kebingungan rakyat Indonesia. Atas pelanggaran serius terkait kedaulatan negara itu Presiden SBY hanya meminta Amerika dan Australia untuk "tidak mengulangi perbuatannya". Tidak ada sekedar tuntutan permintaan ma'af, apalagi sanksi diplomatik yang dikeluarkan oleh SBY.
Saling memata-matai antar negara, bahkan antar sesama negara sahabat, adalah hal yang wajar. Namun kalau ketahuan, maka negara yang dimata-matai "berkewajiban" untuk menuntut penjelasan dan permintaan ma'af, dan "kewajiban" negara yang memata-matai adalah meminta ma'af.
Maka sangat wajar jika sebagian rakyat curiga bahwa Presiden SBY "terlibat" dalam aksi spionase tersebut. Sebagaimana dikatakan beberapa narasumber dalam acara talkshow di TVOne hari Kamis malam (7/11) yang membahas isu penyadapan Amerika dan Australia di Indonesia. Jika Presiden Indonesia "diam" atas kasus penyadapan itu, maka hanya ada 2 kemungkinan pada diri presiden: kharakter yang lemah, atau terlibat dalam penyadapan tersebut alias menjadi pengkhianat bangsa untuk melayani kepentingan Amerika dan Australia.
Saya (blogger) tidak ingin turut menuduh Presiden SBY dengan tuduhan yang sangat serius itu, namun saya tidak bisa mengelak untuk mengkritik beliau sebagai "pemimpin yang tidak berkharakter". Saya rindu dengan sosok pemimpin seperti Bung Karno yang berani berkata "Go to hell with your aids!", ketika harga diri bangsa dilecehkan Amerika.
"Memata-matai Amerika Serikat adalah sangat bertentangan dengan kebijakan kami. Kegiatan seperti ini, sejauh yang telah terjadi, adalah salah, dan pemerintah Israel meminta ma'af." Demikian pernyataan resmi yang disampaikan langsung oleh Simon Peres terkait insiden penyadapan yang dilakukan Pollard.
Tidak hanya itu, dalam pernyataan resmi yang disiarkan ke seluruh dunia itu Peres juga berjanji akan memberi sanksi keras kepada pihak-pihak di dalam negeri Israel yang terlibat dalam kegiatan mata-mata itu, termasuk membubarkan secara permanen lembaga-lembaga yang terlibat demi menjamin kegiatan seperti itu tidak terulang lagi.
Itu adalah sikap Amerika kepada Israel ketika Israel ketahuan melakukan kegiatan mata-mata di Amerika. Padahal Israel adalah "anak emas" Amerika. Ketika terungkap sebuah tindakan ilegal yang dilakukan Israel terhadap Amerika, maka mau tidak mau Amerika harus melakukan tindakan keras kepada Israel. Demikian pula sebaliknya dengan Israel, sang anak emas. Israel bisa saja berdalih macam-macam untuk menolak tuduhan Amerika, toh Israel tahu, pemerintah Amerika tidak akan benar-benar "menghukum" Israel. Namun Israel juga tahu, jika Israel mengelak, maka pemerintah Amerika akan menjadi korban kemarahan rakyatnya yang pada akhirnya akan merugikan Israel sendiri. Misalnya saja, bisa-bisa rakyat, melalui Congress atau melalui aksi-aksi demonstrasi melakukan tekanan politik yang bisa merugikan hubungan Israel dengan Amerika.
Maka Israel pun terpaksa meminta ma'af. Tidak peduli apakah permintaan ma'af serta janji melakukan berbagai tingakan pencegahan itu serius, atau tidak. Dan pemerintah Amerika pun terpaksa menuntut penjelasan dan permintaan ma'af Israel, tidak peduli apakah Israel akan bersungguh-sungguh memenuhi tuntutannya, karena kalau tidak melakukan tuntutan itu pemerintah akan dikecam dan diolok-olok rakyatnya, atau bahkan dikudeta rakyatnya.
Lalu apa yang dilakukan pemerintah Indonesia yang dipimpin Presiden SBY, setelah terbukti Amerika dan Australia melakukan kegiatan mata-mata di Indonesia?
Berbeda dengan pemerintah Amerika dalam kasus Pollard, Presiden SBY justru menunjukkan sikap yang sangat tidak wajar yang justru menimbulkan kebingungan rakyat Indonesia. Atas pelanggaran serius terkait kedaulatan negara itu Presiden SBY hanya meminta Amerika dan Australia untuk "tidak mengulangi perbuatannya". Tidak ada sekedar tuntutan permintaan ma'af, apalagi sanksi diplomatik yang dikeluarkan oleh SBY.
Saling memata-matai antar negara, bahkan antar sesama negara sahabat, adalah hal yang wajar. Namun kalau ketahuan, maka negara yang dimata-matai "berkewajiban" untuk menuntut penjelasan dan permintaan ma'af, dan "kewajiban" negara yang memata-matai adalah meminta ma'af.
Maka sangat wajar jika sebagian rakyat curiga bahwa Presiden SBY "terlibat" dalam aksi spionase tersebut. Sebagaimana dikatakan beberapa narasumber dalam acara talkshow di TVOne hari Kamis malam (7/11) yang membahas isu penyadapan Amerika dan Australia di Indonesia. Jika Presiden Indonesia "diam" atas kasus penyadapan itu, maka hanya ada 2 kemungkinan pada diri presiden: kharakter yang lemah, atau terlibat dalam penyadapan tersebut alias menjadi pengkhianat bangsa untuk melayani kepentingan Amerika dan Australia.
Saya (blogger) tidak ingin turut menuduh Presiden SBY dengan tuduhan yang sangat serius itu, namun saya tidak bisa mengelak untuk mengkritik beliau sebagai "pemimpin yang tidak berkharakter". Saya rindu dengan sosok pemimpin seperti Bung Karno yang berani berkata "Go to hell with your aids!", ketika harga diri bangsa dilecehkan Amerika.
Subscribe to:
Posts (Atom)





