Wednesday, December 4, 2013

"ISIH ENAK JAMAN PAK HARTO, TO?"

Saya adalah salah seorang yang pertama kali bersujud syukur ketika mendengar kabar bahwa Presiden Soeharto mengundurkan diri. Kabar itu saya dengar dari pernyataan Amien Rais di media televisi, dini hari tanggal tgl 21 Mei 1998.

Saya sudah memimpikan kejatuhan Pak Harto ketika masih duduk di bangku SMP pada dekade 1980-an. Impian itu berdasar pemikiran polos saya sendiri yang mulai berfikir kritis melihat berbagai fenomena sosial dan politik di Indonesia kala itu. Tentang banyaknya korupsi dan sistem kenegaraan yang otoritarian dengan Pak Harto menjadi sentralnya. Semakin bertambah umur pikiran itu pun semakin bertambah kuat, dipupuk oleh berita-berita dan tulisan-tulisan media-media massa yang menyudutkan Pak Harto.

Namun kini pemahaman saya terhadap Pak Harto telah jauh berubah. Jika tgl 21 Mei 1998 saya bersyukur dengan kejatuhan Pak Harto, maka pada hari wafatnya beliau tahun 2008, saya menitikkan air mata. Saya baru saja melihat foto Pak Harto di masa tuanya yang dimuat di buku memoar Probosutedjo berjudul "Saya dan Mas Harto". Betapa sejuk wajahnya. Saya tidak percaya bahwa malaikat akan tega menjebloskannya ke neraka jahanam.

Saya bukan orang yang tidak mengetahui informasi tentang hal-hal yang buruk yang terjadi selama pemerintahan Pak Harto. Tentang pembantaian massal orang-orang PKI akhir dekade 1960-an, tentang kerusuhan Malari tahun 1974, tentang pembunuhan misterius para preman awal dekade 1980-an, pembantaian Tanjungpriok tahun 1984, pembantaian Santa Cruz tahun tahun 1995, dll. Saya juga mengetahui keterlibatan Pak Harto dalam konspirasi asing untuk menjarah sumber daya alam Indonesia paska setelah berhasil "menjatuhkan" Soekarno, terutama melalui penandatanganan UU PMA yang ditandatangani di luar negeri.

Pada tahun 1993 saya bahkan sempat ikut diskusi politik bersama Mohammad Fadjroel, aktifis mahasiswa ITB yang dipenjara regim Orde Baru. Teman satu flat saya adalah salah seorang "dedengkot" SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi), organisasi underbow Partai Rakyat Demokrasi (PRD) yang menjadi musuh Pak Harto. Kini teman saya itu bersama satu "dedengkot" SMID lainnya menjadi  staff khusus Presiden SBY, sementara sejawatnya mantan ketua PRD menjadi politisi PDI-P setelah sebelumnya mereka mendapat beasiswa S-2 di Inggris.

Selama saya kuliah hingga lulus tahun 1996, hampir tidak ada hari yang saya lalui tanpa satu diskusi tentang keburukan Pak Harto. Pendek kata, sejak dekade 1980-an hingga 1990-an, pikiran saya dipenuhi dengan gambaran hitam tentang Pak Harto. Tidak heran jika saya berteriak-teriak kegirangan ketika mendengar berita tentang kematian Ibu Tien Soeharto tahun 1995.

Tapi sayangnya, atau syukurnya, saya bisa berfikir dalam banyak perspektif sehingga kini saya bisa memahami berbagai hal negatif yang dituduhkan orang kepada Pak Harto tanpa harus menyalahkan beliau, sekaligus mengetahui kelebihan-kelebihan beliau yang tidak dimiliki para pemimpin lain.

Tentang peran beliau menjatuhkan Presiden Soekarno dan mengijinkan penguasaan sumber-sumber daya alam Indonesia oleh asing, saya memahaminya sebagai satu pilihan terbaik dari yang terburuk. Saat itu Indonesia hanya memiliki 2 pilihan buruk: jatuh ke tangan komunisme atau kapitalisme. Jika pilihan pertama yang terjadi, maka Indonesia akan menjadi seperti Rusia, Cina, Kamboja, Vietnam atau negara-negara komunis lainnya dimana terjadi pembantaian massal yang jauh lebih besar daripada pembantaian terhadap para pendukung PKI.

Dipastikan PKI akan membantai habis kaum agamawan (ulama, santri, pendeta, biarawan biarawati), pegawai negeri, perwira polisi dan tentara, para petani independen (yang tidak bersedia menyerahkan tanahnya kepada pemerintah), kalangan kelas menengah (profesional dan intelektual), dan hanya menyisakan para petani dan buruh yang awam. Belasan atau bahkan puluhan juta rakyat Indonesia akan menjadi korban "pesta persembahan darah" yang digelar orang-orang komunis. Inilah adalah fakta yang terjadi di negara-negara komunis, bukan "teori konspirasi".

Untung ada Pak Harto, seorang jendral dengan jiwa kepemimpinan yang tinggi sekaligus visioner. Bencana kemanusiaan yang sudah di depan mata itu berhasil dicegahnya dengan cara menumpas PKI dan antek-anteknya.


(Bersambung)

BARAT KEJAR KONTRAK-KONTRAK BISNIS BARU DENGAN IRAN

"Jika pertolongan dan kemenangan telah datang dari Allah, kemudian engkau menyaksikan manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah" (QS-An Nasr 1-3).


Itu adalah satu ayat dalam Al Qur'an yang diturunkan setelah kaum muslimin berhasil mengalahkan kaum musrik Quraisy yang telah menindas mereka selama belasan tahun. Keadaan yang sama kini terjadi dengan Iran setelah berhasil "mengalahkan" Amerika dan negara-negara barat yang telah menerapkan sanksi ekonomi kepada Iran selama belasan tahun, yang ditandai dengan perjanjian nuklir Iran yang ditandatangani di Genewa beberapa waktu lalu.

Minggu lalu hotel-hotel di kota Teheran, Iran, penuh dengan tamu-tamu dari mancanegara yang mengikuti efen Economic Cooperation Organization (ECO).

"Di antara negara-negara yang ingin mendapatkan tempat di Iran usai dicabutkan sanksi-sanksi ekonomi adalah Turki, Pakistan, India, Azerbaijan, Afrika Selatan dan negara-negara Amerika Latin," demikian tulis media Israel Haaretz minggu lalu.

Laporan itu juga menyebutkan wakil dari perusahaan-perusahaan barat yang ingin mempelajari kemungkinan investasi baru di Iran. Di antaranya adalah perusahaan minyak raksasa Perancis "Total" yang eksekutifnya mengatakan bahwa perusahaannya akan memperbaharui kontrak-kontrak bisnisnya di Iran. Masih menurut Haaretz, perusahaan Perancis lainnya yang sangat bergairah untuk memulihkan bisnisnya dengan Iran adalah perusahaan otomotif "Peugeot" dan "Citroen".

Menlu Perancis Laurent Fabius baru-baru ini mengumumkan bahwa negaranya akan mencabut sanksi bisnis otomotif terhadap Iran pada pertengahan Desember ini.

"Sejalan dengan perkiraan bahwa penjualan mobil-mobil Perancis ke Iran akan melonjak hingga 500 juta dollar dalam 6 bulan, perusahaan-perusahaan Jerman juga akan berpartisipasi dalam investasi-investasi mendatang. Iran juga akan mengekspor kendaraan-kendaraan buatan domestiknya ke Eropa dan Rusia," tulis Haaretz lagi.

Media Israel itu juga memperkirakan perusahaan raksasa Jerman "Siemens", yang gagal mendapatkan kontrak pembuatan reaktor nuklir Busher di Iran, akan kembali mencari peluang kontrak pembangunan reaktor nuklir lainnya di Iran. Sementara tentang Turki Haaretz mengingatkan pernyataan menlu Turki Ahmet Davutoglu minggu lalu yang mengatakan, "Iran adalah sahabat kami. Hubungan kami dengan Iran saat ini tidak pernah terjadi sebelumnya."

Davutoglu juga menyebutkan bahwa Turki berniat untuk meningkatkan perdagangan dengan Iran hingga mencapai $30 miliar pada tahun 2015 dan $100 miliar pada tahun 2020. Turki juga berharap ekspor emas ke Iran akan kembali mengalami kenaikan signifikan setelah mengalami kemerosotan tajam dari $6,5 miliar tahun lalu menjadi $1.6 miliar tahun ini. Turki juga berharap untuk meningkatkan impor minyaknya dari Iran
dari 35.000 barret per-hari menjadi 140.000 barrel per-hari. Davutoglu juga menyebut proyek jalan kereta api yang menghubungkan Pakistan, Iran dan Turki.

Menurut laporan selanjutnya perusahaan-perusahaan penerbangan Amerika dan Kanada juga termasuk dalam daftar perusahaan barat yang sangat bergairah untuk kembali berbisnis dengan Iran. Bulan Januari mendatang diperkirakan penerbangan langsung antara Amerika dan Kanada dengan Iran akan mulai beroperasi. Sementara pesawat-pesawat penumpang Iran yang sebagian besar mengalami masalah kekurangan onderdil akibat sanksi barat, kembali bisa beroperasi.

Haaretz menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika merasa khawatir bahwa mereka mendapat bagian yang kecil dari peluang bisnis di Iran dibandingkan perusahaan-perusahaan negara lainnya.

Sebagaimana diberitakan berbagai media massa, menteri perminyakan Iran baru-baru ini mengumumkan bahwa pihaknya telah mengadakan kontak dengan perusahaan-perusahaan minyak dari Italia, Belanda dan Norwegia.

Tentang sikap Saudi Arabia menanggapi perkembangan baru ini, Haaretz menulis:

"Pengalaman-pengalaman masa lalu mengindikasikan bahwa Saudi Arabia tidak hanya tahu bagaimana membaca perkembangan politik, namun juga bagaimana merancang kebijaksanaan yang tepat setelah menyadari bahwa situasi yang terjadi tidak membawa kemenangan. Saudi tidak ingin tinggal di dalam satu kelompok kecil bersama Israel yang menentang perjanjian nuklir Iran," tulis Haaretz sebagai kesimpuan laporannya.



REF:
"Haaretz: Western Companies Seeking Contracts Worth Billions of Dollars with Iran"; ALMANAR.COM.LB; 2 Desember 2013

Tuesday, December 3, 2013

PARA MENLU NEGARA-NEGARA ISLAM ELU-ELUKAN PRESIDEN ISRAEL

Semakin sempurna sudah pengkhianatan negara-negara Islam terhadap saudara mereka, Palestina. Di tengah nasib negara dan rakyat Palestina yang semakin tidak menentu, pemukinan yahudi yang semakin banyak di Jerussalem dan wilayah-wilayah pendudukan dan Masjidil Aqsa yang nyaris tergusur, negara-negara Islam justru semakin "mesra" dengan Israel.

Contoh mutakhir dari pengkhiatan negara-negara Islam terhadap Palestina  adalah saat para menlu negara-negara Islam mengelu-elukan Presiden Israel Shimon Peres dalam satu pertemuan pertengahan November lalu. Demikian laporan media Lebanon Al Akhbar mengutip laporan media Israel Yedioth Ahronoth awal bulan ini. Media-media Israel tentu saja mengekspos berita ini besar-besaran, sementara media-media Islam berusaha menyembunyikannya.

Menurut Al Akhbar, dalam KTT negara-negara kawasan Teluk Parsi minus Iran yang digelar di Abu Dhabi pertengahan November lalu, Shimon Peres mendapat kehormatan untuk berpidato di hadapan para menlu dari 29 negara Islam, termasuk Bengladesh, Indonesia dan Malaysia. Yang mengejutkan adalah bahwa usai berpidato, Peres mendapat tepuk tangan meriah.

Peres dilaporkan berpidato melalui video conference dari kantornya di  Jerusalem yang didirikan di tanah pendudukan milik Palestina, lengkap dengan bendera Israel di belakangnya. Dalam pidatonya itu Peres menyampaikan pandangan negerinya tentang Iran, Islam radikal dan "perdamaian dunia".

Menurut laporan tersebut informasi tentang hal itu dibocorkan oleh kolumnis New York Times Thomas Friedman yang turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Selama ini sebenarnya telah muncul banyak kritikan tentang adanya "kesepakatan bawah tangan" antara negara-negara Teluk dengan Israel yang secara resmi ditolak oleh negara-negara tersebut. Dan informasi ini muncul hanya 10 hari setelah seorang pangeran Arab Saudi Alwaleed Bin Talal, dalam satu wawancara dengan media Amerika, dengan blak-blakan mengatakan bahwa negara-negara kerajaan di kawasan Teluk secara diam-diam mendukung rencana serangan Israel terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan Bloomberg News, salah satu manusia terkaya di dunia ini (ia pernah memprotes majalah Forbes karena dianggap telah mengecilkan kekayaan yang dimilikinya) mengatakan, "kami (negara-negara Teluk) akan senang jika Israel membom fasilitas nuklir Iran." Ia juga mengatakan bahwa "ancaman yang sebenarnya berasal dari Iran, bukan Israel."

Beberapa negara Islam yang hadir dalam pertemuan saat Peres berpidato di antaranya adalah Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Qatar, Yaman, Oman, Kuwait, Bahrain, negara-nagara anggota Liga Arab dan non-Arab. Sementara ketika berpidato di kantornya, Peres didampingi oleh pejabat PBB Terje Rød-Larsen dan utusan khusus Amerika, Martin Indyk.

Sekedar tambahan blogger, Indyk adalah yahudi kelahiran Inggris yang menjadi warga negara Israel. Ia mendapatkan naturalisasi di Amerika pada hari pertama pemerintahan Presiden Bill Clinton. Ia kemudian mendapat kehormatan diangkat sebagai pejabat penting Amerika di berbagai posisi, termasuk menjadi pejabat Dewan Keamanan Nasional dan Dubes Amerika di Israel. Presiden Obama kini mempercayainya sebagai utusan khusus Amerika untuk masalah Israel-Palestina.



REF:
"Arab ministers applaud for Israel's president in secret meeting"; al Akhbar; 2 Desember 2013

Monday, December 2, 2013

DIDUGA ISRAEL TERLIBAT LANGSUNG DALAM PERANG SYRIA

Israel diduga kuat telah berlibat langsung dalam konflik di Syria dengan mengerahkan pasukan siber-nya pada pertempuran di Ghouta Timur, Provinsi Damaskus, yang kini tengah berkecamuk. Laporan tentang keterlibatan Israel itu dikeluarkan oleh media Lebanon Assafir hari Sabtu (30/11).

Menurut laporan tersebut pasukan siber Israel yang ditempatkan di Syria berhasil memacetkan jalur komunikasi antara satuan-satuan militer pemerintah Syria dan sekutu-sekutunya yang menjaga kawasan Ghouta. Akibatnya serangan dadakan pemberontak yang dilancarkan berhasil merebut beberapa desa dan perkebunan di kawasan al-Marj.

"Betapapun kontribusi terbesar Israel dalam pertempuran di Ghouta Timur merupakan pilar dari seluruh serangan," tulis Assafir.

Menurut Assafir yang mendasarkan laporannya dari informasi inteligen militer Syria, akibat serangan pasukan siber Israel, komunikasi antara satuan Divisi ke-4 Syria, pasukan Pengawal Republik Iran, pasukan elit Hizbollah dan Brigade Abu al Fadl al Abbas Irak, yang berada di kawasan itu mengalami kemacetan.

Selain itu Israel juga memberikan data tentang posisi-posisi pasukan Syria dan sekutu-sekutunya itu kepada pemberontak sebelum dilakukannya serangan.

"Diketahui bahwa unit-unit dari Divisi ke-4 yang ditempatkan di kawasan itu telah kehilangan kontak dengan komandan-komandan mereka, dan juga unit-unit yang ditugaskan melindungi garis pertahanan belakang untuk mencegah pemberontak menerobos ke posisi strategis mereka di Otaiba, yang menjadi pintu masuk ke Ghouta Timur.

Pertempuran Goutha Timur dimulai hari Jumat (22/11) ketika pemberontak melakukan serangan dadakan terhadap beberapa pos militer pemerintah yang didirikan sebagai bagian dari operasi pengepungan terhadap Ghouta Timur oleh pasukan pemerintah yang telah berjalan selama 6 bulan.

Pengepungan tersebut telah memutuskan jalur logistik pemberontak di sekitar Provinsi Damaskus, mengancam kedudukan pasukan pemberontak dan sebaliknya memberikan keuntungan bagi pasukan pemerintah. Pentingnya pertempuran ini dapat dilihat dari banyaknya pihak-pihak eksternal yang terlibat. Selain ribuan mujahilin asing dan inteligen barat dan Israel yang bertempur di pihak pemberontak, pasukan Syria dibantu oleh milisi Hizbollah dari Lebanon, milisi Shiah Brigade Abbas dari Irak dan tentara reguler Iran yang (sebagimana disebut Assafir, namun tentu saja pemerintah Iran dan Syria menolak pernyataan tersebut).

"Ini adalah perang hebat antara kedua pihak karena menjadi penentu nasib semua pihak," kata Bara Abdelrahman, jubir Brigade Islam Army yang bertempur di pihak pemberontak.

Diperkirakan ratusan korban telah jatuh di kedua belah pihak selama pertempuran.

Namun, sebagaimana serangan-serangan pemberontak sebelumnya, perang di Ghouta inipun hanya memberikan kemenangan sementara bagi pemberontak. Tidak memiliki senjata berat seperti tank dan meriam apalagi pesawat tempur, pemberontak hanya bisa memberikan kejutan, dan selanjutnya terpukul mundur. Apalagi dengan kondisi sekarang yang telah jauh berubah dibandingkan awal konflik, dimana kini negara-negara pendukung pemberontak, kecuali Saudi dan Israel, tidak begitu antusias lagi untuk berperang.



REF:
"Israel’ Intervenes in Ghota Battles"; ALMANAR.COM.LB; 30 November 2013
"Ferocious fight to break Assad’s blockade in Eastern Ghouta kills scores"; Reuters; 24 November 2013
     

REGIM SHINAWATRA KERAHKAN "TENTARA BAYARAN"

Sebagaimana telah diduga sebelumnya, regim Shinawatra (PM Yingluck dan kakaknya Thaksin yang berada di luar negeri), akhirnya mengerahkan "tentara bayaran" untuk menghentikan aksi demonstrasi menentang kepemimpinan Yingluck Shinawatra yang dianggap menjadi kepanjangan tangan Thaksin Shinawatra, mantan perdana menteri yang menjadi pelarian setelah dituduh terlibat korupsi.

Korban pertama dari "tentara bayaran" itu adalah seorang mahasiswa Ramkamhaeng University berusia 21 tahun bernama Thaweesak Phokaew. Sampai saat ini setidaknya 4 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka, sebagian akibat tembakan, dalam berbagai aksi demonstrasi yang digelar para penentang dan pendukung Yingluck. 

Kematian Phokaew terjadi setelah para demonstran pendukung Yingluck Shinawatra yang berkumpul di Stadion Rajamanggala yang terletak bersebelahan dengan Universitas Ramkamhaeng, menyerbu kampus itu, setelah para mahasiswa melakukan aksi menentang ulah para pendukung Yingluck yang telah mengganggu proses belajar. Di tengah-tengah serangan tersebut terdengar beberapa tembakan yang diduga dilakukan "tentara bayaran" keluarga Shinawatra. Saat itulah Phokaew ditemukan tewas karena tembakan di punggungnya.

Situs berita independen Land Destroyer/ATNN Beforehand mempublikasikan video serangan tersebut dimana para mahasiswa berteriak: "Awas mereka menembak. Kita ditembaki!"

Koran lokal yang berbahasa Inggris the Nation mengkonfirmasi kematian mahasiswa karena tembakan.

"Seorang mahasiswa Ramkhamhaeng tewas tertembak" demikian judul berita di The Nation hari Sabtu (30/11), dengan isi berita menyebutkan: "Polisi dan RS Ramkhamhaeng Hospital mengkonfirmasi bahwa seorang mahasiswa Ramkhamhaeng University tewas tertembak dalam bentrokan antara pendukung pemerintah dan mahasiswa Ramkhamhaeng."

Namun pemerintah dan media-media barat menggambarkan kerusuhan tersebut sebagai aksi yang dilakukan para demontran penentang Yingluck.

Meski media-media mapan berusaha menyembunyikan keberadaan "tentara bayaran" regim Shinawatra, keberadaan mereka telah dilaporkan media-media independen sejak tahun 2010, ketika Thaksin Shinawatra tengah menghadapi ansi-aksi demontrasi menentang kekuasaannya yang korup. Adapun keberadaan "tentara bayaran" dalam aksi-aksi kerusuhan kali ini telah terbongkar beberapa hari sebelumnya.

Mantan wartawan Reuters Andrew Marshall, yang dikenal sebagai "orang dekat" Thaksin Shinawatra beberapa hari lalu menulis di akun Facebook-nya:

"Sementara itu, pasukan rahasia "baju hitam" Thaksin Shinawatra, yang sebagian besar terdiri dari anggota navy SEALs dan marinir, kini kembali ke jalanan untuk pertama kalinya setelah Mei 2010 dan telah menyusup ke dalam kelompok demonstran pimpinan Suthep (anti-Yangluck). Jika aksi demonstrasi memanas, mereka akan memicu aksi kerusuhan berdarah menjelang hari ulang tahun raja Bhumibol, demi mendiskreditkan aksi-aksi demonstrasi anti-pemerintah. Militer telah terbelah dan lemah, dan para komandannya tidak ingin melakukan intervensi. Kecuali muncul kesadaran, akan ada lebih banyak pertumpahan darah di jalanan Bankok di awal bulan Desember."

Tulisan tersebut kemungkinan untuk menakut-nakuti para demonstran sehingga membatalkan aksi-aksi mereka dan Yingluck dapat kembali memperpanjang kekuasaannya.

Meski kini keberadaan Yingluck tidak diketahui publik sebagai indikasi ia tengah berada dalam situasi terpojok, para pendukungnya menyatakan telah siap untuk "berperang".

Pada Kamis malam (28/11) hingga Jumat pagi (29/11) Mendagri Thailand turut berpidato di hadapan massa pendukung Yingluck di Rajamanggala, pada saat sebagian dari mereka menyerang Universitas Ramkhamhaeng dan membunuh Thaweesak Phokaew. Beberapa anggota parlemen pendukung Yingluck juga turut memanas-manasi massa.

Dalam sebuah pernyataan yang ditulis The Nation, seorang pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan, "Pemerintah telah siap terlibat perang melawan demonstran."

Sampai Senin dini hari (1/12), tembakan-tembakan sporadis masih terdengar di berbagai sudut kota Bangkok disertai ledakan-ledakan. Semenara helikopter tidak berhenti berputar-putar di atas kota. Sementara satu demi satu laporan kematian di jalanan pun bermunculan.

Jika tidak ada perkembangan yang lebih baik, mungkin Yingluck akan mengikuti jejak kakaknya, yang tangannya berlumuran darah rakyat Thailand.



REF:
"Thailand regime deploys black-clad militants"; Tony Cartalucci; Press TV; 1 Desember 2013

STATUS POLITIK MULAI PULIH, DIPLOMAT ASING KEMBALI KE DAMASKUS

Dua setengah tahun yang lalu, ketika konflik Syria semakin memanas dan para pemimpin barat beramai-ramai menyerukan pengunduran diri Presiden Bashar al Assad, para diplomat dan pejabat inteligen negara-negara barat beramai-ramai meninggalkan Syria. Kini mereka mulai kembali dan Bashar al Assad tetap di kursi kekuasaannya.

"Sejak bulan Mei, sedikit demi sedikit, kami mulai kembali. Awalnya dengan berhati-hati kami hanya tinggal sehari, kemudian dua hari, dan tiga hari," kata seorang diplomat barat yang tidak bersedia disebutkan namanya kepada kantor berita Perancis AFP akhir pekan lalu.

"Kini kami rutin datang ke Damaskus sekali atau 2 kali setiap bulannya," tambah diplomat tersebut.

"Saya rasa pada kuarter pertama tahun 2014, Anda akan melihat banyak teman-teman diplomat kami di jalanan Damaskus," katanya lagi.

Menurut keterangan sang diplomat, para utusan dari Austria, Rumania, Spanyoo, Swedeia, Denmark dan Uni Eropa telah mengadakan kunjungan rutin ke Damascus. Sejumlah utusan asing juta telah bertemu dengan Deputi Menlu Syria minggu lalu.

“Beberapa kontak telah dibuat untuk membuka kembali kantor-kantor kedubes di Damascus, dan sebagian besar kantor kedubes Syria di luar negeri tetap buka, kecuali di beberapa negara yang tidak dikehendaki pemerintah," kata Deputi Menlu Miqdad minggu lalu.

Diplomat Eropa yang tidak bersedia disebut namanya itu menambahkan bahwa Konvensi Genewa II yang akan digelar Januari mendatang telah menjadi alasan bagi para diplomat itu untuk "kembali".

"Mereka mengatakan bahwa situasi politik kini telah berubah, maka mereka pun kembali," kata diplomat itu lagi.

Menurut beberapa laporan, kalangan inteligen barat juga telah mengadakan kontak dengan inteligen Syria untuk penjajagan pemulihan hubungan. AFP melaporkan bahwa wakil dari dinas rahasia negara-negara barat telah menemui kepala inteligen Syria Jendral Ali Mamluk, yang ironisnya berada dalam daftar pejabat Syria yang ditolak Uni Eropa.

“Keberadaan ribuan mujahilin yang datang dari Eropa telah menjadi perhatian utama bagi negara-negara Eropa," kata diplomat lain yang juga tidak disebutkan namanya.

”Itulah sebabnya inteligen negara-negara itu menginginkan pemulihan hubungan dengan Syria yang telah bertahan dari mujahilin selama bertahun-tahun," tambahnya.



REF:
"EU Envoys Resuming Contacts with Syrian Government"; ALMANAR.COM.LB; 30 November 2013

Sunday, December 1, 2013

Inilah Penjelasan yang Membongkar “Tindakan Mulia” Boediono

Teguh Santoso*

http://teguhtimur.com; 25 November 2013

Sejak awal megaskandal danatalangan sebesar Rp 6,7 triliun merebak ke permukaan, mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono selalu berkelit dengan jurus yang sama: bailout Bank Century harus dilakukan karena mengancam perekonomian nasional di tengah krisis ekonomi global.

Bahkan ia tanpa sungkan menyebut apa yang dilakukannya pada November 2008 itu, menyatakan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik dan meminta suntikan dana untuk bank itu sebesar Rp 632 miliar, sebagai tugas mulia.

“Saya telah melakukan tanggung jawab saya waktu itu sebagai Gubernur BI. Demikian juga Menteri Keuangan Sri Mulyani telah melakukan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya,” kata Boediono dalam konferensi pers mengenai hasil pemeriksaan KPK di Istana Wapres, Jakarta (Sabtu, 23/11).

“Apa yang kami lakukan pada waktu krisis itu menurut pandangan kami adalah suatu kebijakan, suatu tindakan yang mulia, upaya yang mulia untuk menangani krisis negara kita,” sambungnya.

Belakangan, dana talangan untuk Bank Century membengkak menjadi Rp 6,7 triliun.

Mengenai hal ini, Boediono mengatakan dengan nada datar sebagaimana biasa: “Dan apabila dalam upaya yang mulia ini ada pihak-pihak yang mempergunakan, menyalahgunakan, ini sebenarnya sangat menyakitkan kita semua.”

***

Ada penjelasan lain yang memperlihatkan bahwa alasan krisis ekonomi global yang selalu digunakan Boediono sebagai sebuah upaya untuk mengakal-akali situasi yang berkembang ke arah yang bisa jadi tak menguntungkan dirinya.

Sebelum masuk kepada penjelasan itu, perlu disampaikan sekali lagi kronologi singkat keterlibatan Boediono dalam megaskandal danatalangan Bank Century. Cerita ini didasarkan pada audit investigatif yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada tahun 2009.

Boediono telah berkantor sekitar lima bulan, ketika pada 30 Oktober 2008, Bank Century mengajukan Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) sebesar Rp1 triliun. Permintaan ini diulangi Bank Century pada tanggal 3 November 2008.

Permintaan Bank Century itu ditolak. Menurut analisis BI, Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Century hanya sebesar positif 2,35 persen. Masih jauh di bawah CAR minimal untuk mendapatkan FPJP yang dinyatakan dalam Peraturan BI 10/26/PBI/2008, yakni sebesar positif 8 persen.

Dalam temuannya BPK menyebutkan bahwa pada tanggal 14 November 2008 BI mengubah persyaratan CAR untuk mendapatkan FPJP menjadi “positif” saja.

Adapun penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa posisi CAR Bank Century pada tanggal 31 Oktober 2008 semakin jeblok ke angka negatif 3,53 persen. Sehingga, bahkan dengan bantuan perubahan syarat CAR itu pun Bank Century masih tidak memenuhi syarat untuk memperoleh FPJP.

Di sisi lain, BPK juga menemukan bahwa sebagian jaminan untuk mendapatkan FPJP yang disampaikan Bank Century senilai Rp 467,99 miliar nyata-nyata tidak aman. Namun demikian, Boediono tetap berbaik hati merestui FPJP untuk Bank Century.

Pada episode berikutnya, malam hari 20 November 2008, Boediono menandatangani surat bernomor 10/232/GBI/Rahasia tentang Penetapan Status Bank Gagal PT Bank Century Tbk. dan Penanganan Tindak Lanjutnya.

Di dalam surat itu antara lain disebutkan bahwa salah satu cara untuk mendongkrak rasio kecukupan modal bank Century dari negatif 3,53 persen (per 31 Oktober 2008) menjadi positif 8 persen adalah dengan menyuntikkan dana segar sebagai Penyertaan Modal Sementara (PMS) sebesar Rp 632 miliar.

Surat itu kemudian dibahas dalam “rapat konsultasi” yang digelar sebelum rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) pada malam hari itu juga. Setelah “rapat konsultasi” yang diikuti sejumlah petinggi dan pengambil kebijakan sektor fiskal dan jasa keuangan itu, Boediono dan Sri Mulyani menggelar Rapat KSSK hingga subuh keesokan harinya, 21 November 2008.

Dalam “rapat konsultasi” menjelang Rapat KSSK di gedung Djuanda, kompleks Kementerian Keuangan pada pergantian malam itu, Boediono menjadi pihak yang paling ngotot membela status Bank Century dan jalan keluar yang dianggapnya perlu.

Jejak sikap ngotot Boediono dapat ditelusuri dari transkrip rekaman pembicaraan “rapat konsultasi” dan dokumen resmi notulensi “rapat konsultasi” yang beredar luas di masyarakat pada akhir tahun 2009 lalu.

Dalam notulensi “rapat konsultasi” setebal lima halaman itu disebutkan bahwa rapat yang dipimpin Sri Mulyani dibuka sebelas menit lewat tengah malam tanggal 21 November 2008. Juga disebutkan bahwa rapat digelar khusus untuk membahas usul BI agar Bank Century yang oleh BI diberi status “Bank Gagal yang Ditengarai Berdampak Sistemik” dinaikkan statusnya menjadi “Bank Gagal yang Berdampak Sistemik”.

Boediono mendapatkan kesempatan pertama untuk mempresentasikan permasalahan yang sedang dihadapi Bank Century.

Sri Mulyani adalah pihak pertama yang mengomentari rekomendasi Boediono. Dia mengatakan bahwa reputasi Bank Century selama ini, sejak berdiri Desember 2004 dari merger Bank Danpac, Bank CIC, dan Bank Pikko, memang tidak bagus. Lalu Sri Mulyani meminta agar peserta rapat yang lain memberikan komentar atas saran Boediono.

Badan Kebijakan Fiskal (BKF), misalnya, menolak penilaian BI atas Bank Century. Menurut BKF, “analisa risiko sistemik yang diberikan BI belum didukung data yang cukup dan terukur untuk menyatakan bahwa Bank Century dapat menimbulkan risiko sistemik. Juga menurut BKF, analisa BI lebih bersifat analisa “dampak psikologis.”

Sikap Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) pun hampir serupa. Dengan mempertimbangkan ukuran Bank Century yang tidak besar, secara finansial Bank Century tidak akan menimbulkan risiko yang signifikan terhadap bank-bank lain.

“Sehingga risiko sistemik lebih kepada dampak psikologis.”

Tetapi Boediono bertahan pada pendapatnya. Dan ia pada akhirnya memenangkan pertarungan dalam rapat tertutup KSSK.

***

Faktanya, Indonesia selamat dari gelombang krisis ekonomi global tahun 2008. Hal ini yang kerap digunakan Boediono dan para pendukungnya sebagai bukti dari keampuhan sikap ngotot Boediono dalam rapat konsultasi dan rapat KSSK di bulan November 2008 lalu.

Belakangan ini, ada penjelasan lain mengapa perekonomian Indonesia selamat. Ditekankan sekali lagi, itu bukan karena bailout Bank Century yang diakui otoritas jasa keuangan sebagai bank yang ukurannya terlalu kecil untuk merusak perekonomian nasional.

Pengamat perminyakan nasional Kurtubi baru-baru ini mengatakan bahwa ekonomi Indonesia selamat karena ada lonjakan penerimaan APBN dari sektor migas menyusul kenaikan harga BBM di pasar dunia yang melejit ke titik 147 dolar per barel.

Mantan Menteri Perekonomian dan Menteri Keuangan di era Abdurrahman Wahid punya pengalaman berharga bagaimana menyelematkan sebuah bank yang terancam collapse dengan itikad baik diikuti strategi yang jitu.

Pada tahun 2000 tanpa bailout satu rupiah pun Rizal Ramli menyelematkan BII yang ketika itu mengalami rush besar hingga ratusan miliar rupiah.

Perlu dipahami bahwa ukuran Bank Century yang “diselamatkan” Boediono hanya seperenam dari BII.

“Saya mendapat memo dari IMF dan Bank Dunia. Pilihannya dua, disuntik lagi (bailout) BLBI jilid dua sebesar Rp 4,5 triliun atau BII ditutup sama sekali dengan biaya sekitar 5 triliun,” cerita Rizal Ramli dalam sejumlah kesempatan.

Dua jalan keluar yang ditawarkan IMF dan Bank Dunia itu ditolak Rizal Ramli. Sebagai gantinya, ia menggelar pertemuan dengan Dirut Bank Mandiri ECW Neloe dan Deputi Senior BI Anwar Nasution.

“Saya minta Bank Mandiri mengambil over BII, supaya ada payung kepercayaan. Bisnis bank adalah bisnis trust. Kemudian kita ganti direksinya. Saya katakan, (direksi baru BII) punya waktu tiga bulan untuk membereskan. Kalau tidak beres, mereka harus mencari pekerjaan lain, karena Rizal Ramli pun harus mencari pekerjaan lain,” kata dia lagi.

Dalam waktu enam minggu BII kembali mendapat kepercayaan dari publik. Uang nasabah kembali mengalir ke BII dan rencana take over itu pun dibatalkan.

Mengapa strategi seperti ini dilakukan dalam kasus Bank Century?

Rizal Ramli khawatir: “Motifnya dari awal memang ingin merampok bank.”

***

Mantan Ketua KPK Antasari Azhar juga punya penjelasan menarik yang berkaitan dengan megaskandal danatalangan untuk Bank Century.

Penjelasan itu disampaikan Antasari tahun lalu dan sempat membuat geger serta silang pendapat di banyak kalangan.

Antasari mengawali penjelasannya dari pertemuan terbatas yang digelar Presiden SBY pada 9 Oktober 2008. Dalam rapat itu Presiden SBY membahas krisis ekonomi di Eropa dan Amerika yang mungkin dapat merembet ke Indonesia bila tidak segera diantisipasi dengan berbagai terobosan.

Nah, karena terobosan dapat berarti menabrak aturan maka para pemangku kebijakan hukum termasuk Antasari diundang dalam rapat tersebut.

Antasari mengatakan, dirinya juga diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Kepada Presiden dan seluruh peserta rapat yang hadir, Antasari kira-kira mengatakan bahwa dalam praktik hukum aturan dapat dilanggar bila berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar, dalam hal ini kepentingan bangsa dan negara.

Pernyataan Antasari ini agaknya diperhatikan sungguh-sungguh oleh Presiden SBY. Saat menutup rapat SBY antara lain meminta agar pendapat Antasari dipertimbangkan oleh peserta rapat lainnya.


Itu adalah episode pertama dari testimoni Antasari. Episode kedua terjadi sekitar sepekan kemudian di Kantor KPK.

Tidak dijelaskan tanggal berapa persisnya, tetapi diperkirakan sepekan setelah rapat bersama SBY itu Boediono berkunjung ke gedung KPK.

Kepada Antasari, ia menyampaikan rencana BI menyuntikkan dana segar untuk De Indonesische Overzeese Bank N.V alias Bank Indover milik BI yang ada di negeri Belanda.

Menurut Boediono, seperti dikutip Antasari, kalau tidak diselamatkan, Bank Indover dapat menjadi pintu masuk krisis ekonomi global ke Indonesia. Nilai dana yang perlu digelontorkan ke bank itu sekitar Rp 7 triliun.

Antasari menolak rencana itu, karena menurutnya Bank Indover memang sejak lama bermasalah dan layak disamakan dengan ember bocor. Berapapun air yang dituangkan ke dalamnya akan habis begitu saja.

Maka Antasari mengatakan, KPK akan bertindak dan mengusut bailout untuk Bank Indover. Antasari merasa, itu bukan terobosan yang dimaksud SBY.

Walhasil, Boediono meninggalkan gedung KPK dengan tangan hampa.

Pengadilan Belanda membekukan kegiatan operasional Bank Indover pada tanggal 7 Oktober 2008.

Deputi Gubernur Senior BI, Miranda S. Goeltom, ketika itu menjelaskan bahwa Bank Indover dibekukan karena mengalami kesulitan likuiditas akibat penurunan money market line secara drastis sebagai dampak dari gejolak pasar keuangan global yang juga melanda kawasan Eropa.

Episode ketiga dalam testimoni Antasari terjadi pada bulan April 2009, saat pertama kali ia mendengarkan kisah tentang bailout Bank Century.

Di antara hal-hal pertama yang melintas di benak Antasari adalah pertanyaan: mengapa ketika hendak mengucurkan bantuan untuk si ember bocor Bank Indover, Boediono meminta pendapat KPK, namun ketika “menyelamatkan” si mini Bank Century, Boediono sama sekali tidak meminta pendapat KPK.

Padahal kedua tindakan itu, bila diartikan sebagai pelaksanaan perintah Presiden SBY dalam rapat 9 Oktober 2008, sama-sama berpotensi melanggar aturan.

Penasaran dengan persoalan ini, Antasari menghubungi BI. Namun Boediono sedang tidak berada di Jakarta. Kepada Deputi Gubernur BI, Siti Fadjirjah, Antasari menitipkan pesan agar setelah kembali ke Jakarta Boediono menghubungi dirinya untuk memberikan penjelasan mengenai kebijakan bailout Bank Century.

Tetapi penjelasan dari Boediono itu tidak pernah didapatkan Antasari. Hingga kini Antasari mendekam di balik jeruji besi. Pada tanggal 4 Mei 2009, ia ditangkap Mabes Polri karena diduga menjadi otak pembunuhan Direktur Putra Rajawali Banjaran, Nasruddin Zulkarnaen.

***

Memperhatikan kronologi dan penjelasan-penjelasan berkaitan dengan bailout Bank Century itu patutlah kita bertanya: dimana sisi mulia tindakan Boediono?


* Penulis adalah wartawan senior, dosen, mantan aktifis mahasiswa dan aktif di PP Pemuda Muhamaddiyah. Tulisan-tulisannya bisa dilihat blog teguhtimur.com