Wednesday, July 25, 2012

IRAN ANCAM SERANG MUSUH-MUSUH SYRIA

Ini adalah ancaman paling serius yang dilontarkan Iran terhadap negara -negara yang terlibat dalam konspirasi di Syria, yaitu negera-negara ZOG (Zionist occupied goverment) Amerika, Uni Eropa dan Arab badui.

Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Iran mengancam akan melakukan penyerangan terhadap negara-negara yang terlibat dalam intervensi militer terhadap Syria. Peringatan ini lebih ditekankan lagi kepada negara-negara Arab badui sekutu Amerika-Israel.

"Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad mempunyai teman di kawasan ini yang akan melakukan serangan pada saat terjadi intervensi terhadap Syria," kata Jendral Masoud Jazayeri, jubir komando staff gabungan Iran yang juga komandan pasukan elit Pengawal Revolusi kepada kantor berita Iran "Fars News Agency", Selasa (23/7).


"Tidak satupun sahabat Syria atau front besar perlawanan (anti Israel/Amerika) telah memasuki gelanggang, dan saat itu terjadi, pukulan telak akan menimpa musuh-musuh khususnya para penguasa Arab yang dibenti," tambahnya.

Tidak ada satu negara pun secara jelas dituding Masoud Jazayeri, namun semua tahu mereka adalah negara-negara Arab badui terutama Saudi dan Qatar yang aktif dan terbuka menjadi pendukung pemberontak Syria.

Jayazeri meyakinkan bahwa pemerintahan Bashar tidak akan terjungkal dari kekuasaan. "Rakyat Syria dan sahabat-sahabatnya tidak akan membiarkan hal itu terjadi," katanya.

Pernyataan keras tersebut muncul sebagai reaksi atas perkembangan Syria yang semakin menjurus pada aksi intervensi barat meski para analis memperkirakan jika benar terjadi akan dilakukan setelah pemilihan presiden Amerika. Terakhir isu senjata kimia, yang pertama kali diributkan oleh dubes Syria untuk Irak yang membelot, menjadi dasar intervensi. Demikian ramainya isu tentang senjata kimia itu hingga Israel pun menyatakan ancaman untuk turut menyerang Syria.

Reaksi yang sama dengan intensitas lebih rendah dikemukan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin yang mengingatkan bahwa intervensi militer atas Syria akan menimbulkan perang bersaudara berkepanjangan yang tidak menguntungkan negara-negara pengintervensi sebagaimana terjadi di Afghanistan.



PUTIN MEMPERINGATKAN

Menanggapi perkembangan Syria Presiden Vladimir Putin pada hari Selasa (23/7) memperingatkan terjadinya perang sipil berkepanjangan jika Bashar al Assad digulingkan secara inkonstitusional. Pernyataan
tersebut diungkapkan setelah menlu Sergei Lavrov menuduh Amerika berusaha dengan sengaja untuk menghancurkan Syria.

"Kami tidak ingin situasi berkembang menurut skenario berdarah perang saudara yang berlangsung sampai waktu yang tidak diketahui sebagaimana terjadi di Afghanistan," kata Putin setelah mengadakan pembicaraan
dengan PM Italia Mario Monti yang berkunjung ke Rusia.

Menurut Putin satu-satunya penyelesaian krisis yang baik adalah melalui perundingan antara oposisi dengan pemerintah, untuk menentukan masa depan Syria sendiri.


FLOTILA RUSIA UNTUK SYRIA SAMPAI DI LAUT TENGAH

Sementara itu di tengah ancaman intervensi barat, Rusia menunjukkan keteguhannya untuk mendukung pemerintah Syria dengan terus mengirimkan bantuan senjata dan pengiriman armada-armada lautnya ke Syria. Selain gugus laut yang berada di pangkalan laut di Tartus, Syria, Rusia tengan mengirim satu flotilla (armada kecil AL) berkekuatan beberapa kapal perang ke Syria. Satuan tugas ini dikabarkan telah memasuki Laut Tengah setelah berlayar dari Laut Baltik. Sebelumnya Rusia telah menambah kekuatan lautnya yang dikirim dari Armada Laut Hitam.

"Kapal-kapal perang Rusia telah melalui Selata Gibraltar dan memasuki Laut Mediterania," tulis kator berita Rusia "Itar-Tass" mengutip keterangan jubir kementrian pertahanan Rusia, Selasa (23/7).

Menurut keterangan tersebut kapal-kapap itu akan melakukan "manuver-manuver yang telah direncanakan", tanpa menyebutnya secara jelas.

Flotilla tersebut dipimpin oleh kapal destroyer Admiral Chabanenko dan 3 kapal pendarat yang berangkat dari pangkalan Severomorsk awal bulan ini. Rencananya sesampai di Laut Mediterania kapal-kapal tersebut akan disambut oleh kapal patroli Rusia Yaroslav Mudry dan beberapa kapal lainnya.



Sumber:
"Iran threatens to "strike out" at any intervention in Syria"; almanar.com.lb, 24 Juli 2012

"Putin Warns: Long Civil War in Syria If Assad Unconstitutionally"; almanar.com.lb; 24 Juli 2012


Tuesday, July 24, 2012

DI BALIK TIRAI "OPOSISI" SYRIA (2)



Add caption


SYRIAN OBSERVATORI FOR HUMAN RIGHTS (SOHR) 

Jika kita melihat berita di media-media tentang pelanggaran kemanusiaan oleh pemerintah Syria maka ada satu sumber berita yang selalu muncul: Syrian Observatori for Human Rights.

"Pimpinan Syrian Obervatori for Human Rights mengatakan kepada VOA (Voice of America) bahwa pertempuran dan pemboman telah menewaskan setidaknya 12 orang di Provinsi Homs," demikian salah satu berita yang bersumber pada (SOHR).

“Pasukan pemerintah Syria membom Provinsi Aleppo dan Deir Ezzor sementara pada hari Minggu sebanyak 35 orang tewas di seluruh negeri, di antara mereka adalah 17 rakyat sipil, demikian informasi yang diberikan Direktur SOHR Rami Abdel Rahman kepada AFP melalui telepon." Tulis media barat lainnya (AFP).


Memiliki nama yang "pas", SOHR tampak sebagai sumber yang kredibel dan fair, sementara masyarakat tidak tahu dan tidak mau tahu siapa sebenarnya SOHR. Dipimpin oleh Rami Abdel Rahman, seorang pedagang baju di Coventry Inggris.

“When he isn’t fielding calls from international media, Abdulrahman is a few minutes down the road at his clothes shop, which he runs with his wife.” Tulis "Reuters" tentang sosok Rami Abdel Rahman bulan Desember tahun lalu.

Sebenarnya Rami sama sekali tidak melakukan pengamatan apapun terhadap kondisi di Syria. Ia dan lembaganya hanya "buatan" inteligen barat (M16, CIA, Mossad) yang dipinjam namanya untuk tujuan mendeskreditkan pemerintah Syria. Saat namanya ditulis media-media massa, ia masih asyik menjual baju bersama istrinya.



RADWAN ZIADEH

Ia adalah direktur hubungan luar negeri SNC. Seperti Kodmani ia memiliki CV yang mengesankan. Ia adalah pejabat senior di US Institute of Peace (USIP), lembaga kajian yang didanai oleh pemerintah Amerika. Di lembaja kajian ini ia bergabung bersama para mantan pejabat penting departemen pertahanan dan Dewan Keamanan Nasional. Ketua USIP adalah Richard Solomon, mantan penasihat Kissinger di Dewan Keamanan Nasional.

Pada bulan Februari lalu Ziadeh bergabung dalam satu kelompok elit orang-orang berpengaruh dalam kebijakan luar negeri Amerika yang mengeluarkan petisi mendesak Presiden Obama untuk melakukan intervensi di Syria. Rekan-rekan Ziadeh yang menandatangani petisi di antaranya adalah  James Woolsey (mantan direktur CIA), Karl Rove (mantan penasihat presiden George Bush Jr), Clifford May (anggota Committee on the Present Danger) dan Elizabeth Cheney (mantan kepala Iran-Syria Operations Group, Pentagon).

Ziadeh adalah organiser yang tidak pernah lelah bekerja, seorang yang menjadi penghubung beberapa kelompok berpengaruh di Amerika. Ia juga memiliki koneksi kuat hingga London. Pada tahun 2009 ia diangkat sebagai anggota tamu Chatam House dan pada bulan Juni tahun lalu ia berkesempatan mempresentasikan pandangannya tentang Syria dalam sidang panel Chatam House  bertajuk “Envisioning Syria’s Political Future”, bersama mitra-mitranya di SNC seperti Ausama Monajed dan Najib Ghadbian.

Pada tahun 2008 Ziadeh menghadiri pertemuan para oposan Syria yang diadakan di kantor pemerintahan Amerika di Washington, dalam satu event yang bertema  “Syria In-Transition“. Pertemuan tersebut disponsori oleh Democracy Council, sebuah LSM Amerika serta Movement for Justice and Development  (MJD), LSM lainnya asal Inggris. Event ini sangat istimewa bagi MJD hingga ketuanya langsung Anas Al-Abdah beserta pejabat-pejabat tinggi lainnya, rela terbang jauh dari Inggris ke Washington.

“The conference saw an exceptional turn out as the allocated hall was packed with guests from the House of Representatives and the Senate, representatives of studies centres, journalists and Syrian expatriats [sic] in the USA,” tulis MJD dalam situs resminya mengenai event itu.

Even dibuka dengan "keynote speech" oleh James Prince, pimpinan Democracy Council. Ziadeh berada di panel yang dipimpin oleh Joshua Muravchik (ultra neo-conservatif yang mengkampanyekan serangan ke Iran dengan bukunya yang ditulis th 2006 “Bomb Iran”). Topik diskusi tersebut adalah “The Emergence of Organized Opposition”. Duduk di samping Ziadeh sebagai panel adalah Direktur Public Relations MJD, orang yang nantinya menjadi mitranya di SNC, yaitu Ausama Monajed.



NAJIB GHADBIAN

Ghadbian disebut oleh "Wall Street Journal" sebagai penghubung awal antara pemerintah Amerika dengan kelompok oposisi Syria di pengasingan.

"An initial contact between the White House and NSF [National Salvation Front] was forged by Najib Ghadbian, a University of Arkansas political scientist,” tulis "Wall Street Journal" tahun 2005.

Saat ini Ghadbian menjadi anggota sekretarian umum SNC, dan juga menjadi dewan penasihat dari Syrian Center for Political and Strategic Studies (SCPSS), lembaga kajian Syria berbasis di Washington yang didirikannya bersama Ziadeh.




AUSAMA MONAJED

Bersama dengan Bassma Kodmani dan Ziaeh, Ausama (terkadang ditulis Osama) MOnajed adalah salah satu jurubicara penting SCN. Ada beberapa lainya tentu saja karena SNC adalah kelompok yang sangat longgar keanggotaannya termasuk menampung kelompok Ikhwanul MUslimin (Muslim Brotherhood).

Ada juru-juru bicara lain dengan karier politik panjang seperti George Sabra dari Syrian Democratic People’s Party. Ada juga penulis Michel Kilo. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Monajed bersama Kodmani dan Ziadeh adalah para juru bicara yang paling menonjol.

Monajed sering muncul sebagai komentator TV. Dan ia tidak pernah sungkan untuk berbicara dengan gaya hiperbola-nya. "Kita melihat di layar-layar kaca setiap hari penduduk sipil dibantai, anak-anak dibantai dan para wanita diperkosa," komentarnya dalam wawancara di televisi BBC beberapa waktu lalu.

Dan saat berbicara kepada "Al Jazeera" tentang "kondisi sebenarnya di lapangan", ia mengatakan, "milisi pendukung Bashar al Assad telah memperkosa para wanita, membantai anak-anak dan membunuh orang-orang tua."

Baru-baru ini ia menulis di blog "Huffington Post" Inggris tentang "mengapa dunia harus melakukan intervensi di Syria", "bantuan militer langsung", dan "bantuan militer asing". Sebuah pertanyaan yang cukup fair bisa dilakukan: siapa Monajed yang telah menyatakan diri mewakili seluruh rakyat Syria?

Monajed adalah pendiri sekaligus sebagai direktur "Barada Television", satu saluran televisi pro-oposisi Syria yang berbasis di Vauxhall, London Selatan. Pada th 2008, beberapa bulan setelah menghadiri konperensi tentang pergantian pemerintahan di Syria, Monajed diundang makan malam oleh George W Bush, bersama-sama beberapa tokoh oposan di pengasingan lainnya termasuk oposisi Rusia yang juga mantan juara dunia catur, Garry Kasparov.

Pada saat itu pemerintah Amerika mengenal Monajed sebagai direktur humas "Movement for Justice and Development" (MJD), LSM Inggris yang berjuang untuk "perdamaian dan demokrasi" di Syria.

Tahun lalu "Washington Post" menulis artikel menarik berdasar bocoran kawat diplomatik Amerika yang dipublis oleh "Wikileak". Artikel tersebut adalah tentang gelontoran dana oleh deplu Amerika kepada MJD. Menurut laporan tersebut, Barada TV memiliki afiliasi dekat dengan MJD, jaringan para pelarian Syria yang berbasis di London. Kawat-kawat diplomatik Amerika menunjukkan bahwa deplu Amerika telah menggelontorkan dana $6 juta kepada kelompok itu sejak tahun 2006 untuk mengoperasikan televisi kabel dan kagiatan-kegiatan lain di Syria."

Jubir deplu Amerika mengomentari artikel tersebut mengatakan bahwa, "Mencoba mempromosikan sebuah transformasi menjadi proses yang demokratis dalam masyarakat itu (Syria) adalah tidak melanggar norma maupun hukum internasional."

Saat ditanya tentang gelontoran dana itu MOnajed mengatakan "tidak bisa mengkonfirmasi" adanya dana dari pemerintah Amerika kepada "Barada TV". Dan ia bersumpah tidak menerima sesen-pun dana tersebut.

Namun keterangan menarik diberikan oleh Malik al Abdeh, pemimpin redaksi "Barada TV" yang mengatakan bahwa televisinya tidak memiliki hubungan langsung dengan pemerintah Amerika. Tentu saja karena Malik adalah salah satu pendiri MJD, penerima langsung dana $6 juta deplu Amerika. Selain itu ia juga saudara kandung Direktur MJD Anas Al-Abdah. "Barada TV" tidak perlu menjadi penerima langsung untuk mendapat bagian darinya.

Namun setidaknya Malik al Abdeh mengakui bahwa "Barada TV" mendapat gelontoran dana dari NGO Amerika "Democracy Council", yang bersama MJD menjadi sponsor acara "Syria In-Transition Mini-Conference" tahun 2008.

Democracy Council mencatat deplu Amerika sebagai salah satu donatur mereka. Cara kerjanya demikian: Democracy Council bertindak sebagai penyalur dana pemerintah Amerika yang berasal dari program “Middle East Partnership Initiative”, dengan mitra-mitra lokal seperti Barada TV.

Washington Post menulis: "Beberapa kawat diplomatik dari kedubes Amerika di Damaskus mengungkapkan bahwa tokoh-tokoh oposan dalam pengasingan menerima dana dari deplu melalui program Middle East Partnership Initiative. Menurut kawat diplomatik, deplu menggelontorkan dana kepada tokoh-tokoh oposan melalui Democracy Council, sebuah NGO yang berbasis di Los Angeles.”

Lebih jauh laporan itu menyebutkan bahwa pada tahun 2009 Democracy Council menerima dana senilai $6.3 juta dari deplu untuk menjalankan "program terkait Syria" yang diberi nama “Civil Society Strengthening Initiative”. Salah satu konsep dalam program itu adalah Barada TV yang dipimpin oleh Monajed.


(bersambung)


Sunday, July 22, 2012

TENTARA SYRIA MEMUKUL BALIK

Ketika tentara pemberontak berhasil menyusup ke ibukota Damaskus dan melakukan serangan dadakan yang menyebabkan tewasnya 4 orang pejabat tinggi keamanan Syria tgl 18 Juli lalu, melalui media-media massa barat mereka berteriak lantang tentang "Perang Pembebasan Damaskus" dan menyebut offensif mereka sebagai "gerakan yang tidak tertahankan". Namun hanya dua hari kemudian keberadaan mereka di Damaskus tidak lagi terlihat kecuali tumpukan mayat mereka di tempat-tempat persembunyian beserta senjata dan perlengkapan mereka yang tidak sempat dibawa kabur.

Pada tgl 20 Juli televisi pemerintah Syria, "Syrian TV" melaporkan bahwa tentara Syria telah berhasil membersihkan Damaskus dari para pemberontak, terutama di kawasan Al Midan dan Qaboun tempat para pemberontak berkonsentrasi. Selain membunuh pemberontak di tempat-tempat persembunyiannya, tentara menyita sejumlah besar senjata dan perlengkapan militer pemberontak. "Syrian TV" menyebut para pemberontak yang tewas tersebut sebagai "teroris-teroris dari negara-negara Arab".

Laporan "Syrian TV" yang menunjukkan para tentara di sub-distrik Al Zahra di Al Midane menyebutkan bahwa tentara telah membersihkan kawasan tersebut dan meminta penduduk yang mengungsi untuk kembali pulang. Dalam hal ini keberhasilan gemilang tentara membersihkan Damaskus telah mengembalikan kepercayaan para pendukung pemerintah Syria. Dan sebaliknya bagi para pemberontak, kegagalan mereka dalam "Perang Pembebasan Damaskus" membuat posisi mereka tersudut dan harapan mereka serta para pendukung mereka semakin kabur.

Sempat "shock" dengan serangan ribuan pemberontak ke jantung ibukota, tentara Syria kini berada pada puncak semangatnya. Sebagian dari tentara itu mengatakan bahwa kematian menhan Syria dan pejabat-pejabat tinggi militer Syria telah membuat mereka diliputi semangat untuk membalas dendam. Sebagian lain menyebut keberadaan pemberontak asing membuat mereka bersemangat untuk mengusirnya dari bumi Syria.

"Negeri ini terlarang bagi tangan-tangan asing yang ingin menghancurkan kami. Tangan-tangan itu akan kami potong tanpa ampun," kata seorang perwira militer Syria yang diwawancarai "Syrian TV". 

"Ini adalah negeri kami, hancurlah Qatar!" kata prajurit lainnya merujuk pada Qatar yang menjadi pendukung utama pemberontak.

"Kami di sini untuk mempertahankan negeri kami, rakyat kami dan darah kami. Kami akan mengorbankan diri kami untuk Syria. Di sini, hanya Tentara Arab Syria yang boleh berada. Negeri ini adalah milik kami dan kamilah yang menguasai tanah ini?" seru prajurit lainnya lagi.


PERTEMPURAN HARI KAMIS

Hari Kamis tgl 19 Juli, atau sehari setelah pemberontak menyerbu Damaskus, menjadi pertempuran yang paling mematikan. Suara tembakan dan ledakan terjadi dan asap mengepul di mana-mana. Penduduk pun berlarian untuk mengungsi dari tempat-tempat terjadinya pertempuran antara pemberontak dan pasukan pemerintah.

Koresponden "Russia Today" Maria Finoshina melaporkan bahwa pertempuran hari Kamis itu adalah pertempuran paling hebat yang ia saksikan selama di Syria. Namun pertempuran telah berhenti pada malam harinya, dan keesokan harinya kehidupan mulai normal kembali di Damaskus.

“Orang-orang masih datang ke kafe-kafe dan toko-toko masih tetap buka," lapor Maria dalam medianya.


PERTEMPURAN DI TEMPAT LAIN

Pada saat yang sama dengan pertempuran di Damaskus, tentara pemerintah Syria merebut kembali beberapa area kunci di sejumlah tempat di Syria yang dikuasai pemberontak hingga bahkan koran Perancis "Le Figaro" pun menyadari bahwa tentara pemerintah telah berhasil mengalahkan pemberontak.

“Tentara Bashar al Assad menghancurkan pemberontak di Douma di dekat Damaskus, dibombardir untuk pertama kalinya pada hari Kamis, di sebuah kawasan di ibukota, Kfar Sousseh, dan melancarkan serangan mematikan di Al-Treimseh, membunuh lebih dari 100 tentara pemberontak," tulis "Le Figaro".

Tentara pemerintah juga merebut kembali wilayah Silqin di Idlib serta merebut kembali area al-Bukamal dekat perbatasan Irak sebagaimana juga wilayah Bab al-Hawa, sebuah kota dekat perbatasan Turki.



SERANGAN TERORIS HARI RABU

Beberapa hari lalu media-media massa barat didominasi oleh pemberitaan seputar serangan di Damaskus tgl 18 Juli yang menewaskan menhan Jendral Daoud Rajha, saudara ipar presiden Assef Shawkat serta melukai menteri keamanan dalam negeri Mohammad Ibrahim al-Shaar dan beberapa pejabat keamanan lainnya.

Menurut keterangan menteri penerangan Syria, Omrane Zoebi, serangan tersebut adalah "serangan teroris yang dirancang oleh dinas-dinas inteligen negara-negara yang memusuhi Syria". Ia menyebut serangan tersebut sebagai "bab teakhir konspirasi Amerika-Israel terhadap Syria."

Serangan tersebut dengan cepat mendapat sambutan media-media massa anti-Syria seperti "Al Jazeera", "Al Arabiyya" dll untuk meningkatkan kampanye disinformasi mereka. Media-media itu mengklaim bahwa serangan telah turut menewaskan Kepala Dewan Keamanan Nasional Jendral Hassan Makhlouf, yang ternyata dibantah. Mereka juga mengklaim bahwa wapres Farouk al-Shara telah membelot, dan ternyata juga terbantahkan. "Al Jazeera" juga melaporkan terjadinya ledakan-ledakan di markas Divisi IV Tentara Syria yang dipimpin oleh saudara kandung presiden Jendral Maher Al-Assad, yang ternyata juga bohong.

Maksud dari kampanye disinformasi itu adalah jelas yaitu menggambarkan seolah Presiden Bashar al Assad telah kehilangan kontrol atas negerinya sehingga membuat moral tentara Syria anjlok. Pada saat yang sama para pemimpin negara-negara Eropa mengatakan bahwa "keadaan menunjukkan pentingnya terjadi peralihan kekuasaan". Bahkan menlu Amerika Hillary Clington, yang dalam beberapa bulan terakhir tidak lagi "berani" mengatakan "kejatuhan Bashar al Assad", kembali mengatakan keyakinannya bahwa Bashar al Assad akan jatuh.

Keriangan bahkan sempat menghinggapi para pejabat Israel setelah terdengarnya berita penyerbuan Damaskus tgl 18 Juli. Koresponden TV Arab "Al-Mayadine" dan editor kantor berita Palestina "Maan" di Tepi Barat, Nasser Lahham, melaporkan bahwa televisi-televisi Israel melaporan berita penyerbuan pemberontak di Damaskus dengan gembira. Mereka menambahkannya dengan spekulasi kejatuhan segera Presiden Bashar.

Presiden Israel Shimon Peres tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya mendengar berita serangan pemberontak di Damaskus. "Setelah kejatuhan regim Assad, kami akan menjalin hubungan bersahabat dengan Syria," katanya tanpa menyinggung wilayah Syria yang masih diduduki Israel, Dataran Golan. Pertemuan khusus kabinet Israel bahkan diadakan untuk membahas situasi Syria paska penyerangan.

Sementara itu Syrian National Council (CNS), kelompok koalisi oposisi Syria terbesar yang didukung Israel, barat dan negara-negara Arab badui (Saudi, Qatar dll) menyatakan bahwa "hari-hari mendatang akan menjadi hari-hari yang menentukan" dan menyerukan rakyat Syria untuk "mempersiapkan diri menyambut kejatuhan Bashar al Assad".

 

REAKSI PEMERINTAH

Presiden Bashar al Assad bertindak cepat dengan langsung mengangkat Jendral Fahd al-Freij yang menjabat kepala staff angkatan bersenjata, menjadi menteri pertahanan baru. Dalam pidato pengangkatan Bashar menugaskan Jendral Fahd untuk melakukan langkah-langkah cepat dan serius untuk "membersihkan para teroris". Jendral Fahd menyambut tugas itu dengan sigap.

"Aksi teroris ini telah memperkuat semangat kami untuk membersihkan kantong-kantong gerombolan teroris," kata Jendral Fahd kepada media Syria usai dilantik. Setelah ucapan itu operasi pembersihan pemberontak pun dilakukan di Damaskus yang ternyata hanya membutuhkan waktu sehari saja.



ANALISIS PAKAR

Beberapa pakar militer mengatakan kepada media-media Arab bahwa serangan pemberontak tgl 18 Juli gagal menghancurkan kekuatan pemerintah. Seorang di antaranya, Pierre Khalaf, pimpinan "Centre for Strategic Arab and International Studies" yang berkantor di Beirut, mengatakan, kekuatan militer pemberontak tidak sebanding dengan kekuatan pemerintah.

"Rencana pemerintah Syria adalah menghancurkan kantong-kantong pemberontak, yang kekuatannya ditaksir sekitar 7.000 gerilyawan bersenjata. Mereka juga merencanakan untuk menguasai sepenuhnya wilayah-wilayah perbatasan. Setelah menguasai kembali Damaskus dan sekitarnya dimana pemberontak menyimpan sejumlah besar senjata dan amunisi serta membangun klinik-klinik bawah tanah yang dilengkapi ruang operasi, perhatian kini ditujukan ke Homs, untuk melumpuhkan pemberontak sekaligus menguasai kembali kawasan-kawasan yang masih dikuasai pemberontak. Pada saat bersamaan operasi besar-besaran dilancarkan di wilayah perbatasan Turki dimana sejumlah besar senjata, uang dan personil pemberontak disusupkan ke Syria. Situasi yang dihadapi pemberontak telah sampai pada titik terlemah dan terpecah-pecah," kata Khalaf.

Mengenai klaim tentang kemajuan yang diraih pemberontak, Peter Khalaf balik bertanya: "Apakah klaim itu realistik? Tampak jelas bahwa pemberontak berada dalam posisi bertahan di mana-mana, dan setiap konfrontasi dengan tentara pemerintah mereka selalu mengalami kekalahan hebat. Dan kami berani mengatakan bahwa tentara pemerintah, dengan dukungan Rusia dan Cina, tidak akan menghentikan serangan mereka."



Sumber:
"Syrian Army defeats Israel-backed terror gangs in Damascus"; Yusuf Fernandez; almanar.com.lb; 21 Juli 2012

RUSIA SAHKAN UU NYATAKAN NGO SEBAGAI AGEN ASING

Ini patut ditiru oleh pemerintah dan parlemen Indonesia agar Indonesia tumbuh menjadi negara mandiri yang kuat. Rusia baru saja mensahkan undang-undang yang menetapkan LSM penerima dana asing sebagai "agen asing". UU baru ini secara efektif akan melumpuhkan LSM-LSM yang selama ini bekerja untuk kepentingan asing.

"Presiden Putin telah menandatangani undang-undang federal yang mengatur aktifitas NGO yang menjalankan kepentingan sebagai agen asing," demikian pernyataan resmi pemerintah Rusia di Kremlin, Sabtu (21/7).

UU baru itu sebelumnya telah mendapat persetujuan dari mejelis rendah parlemen Rusia pada tgl 13 Juli dan majelis tinggi pada tgl 18 Juli. UU itu mewajibkan semua LSM yang menerima dana dari luar negeri untuk mendaftarkan diri ke otoritas Rusia sebagai agen asing. LSM juga wajib menjalani pemeriksaan keuangan oleh otoritas Rusia, termasuk struktur manajemennya. Selain itu LSM juga diwajibkan membuka laporan keuangannya ke publik secara rutin.

UU baru itu membuat resah sejumlah besar LSM yang khawatir akan digunakan untuk mendeskreditkan LSM-LSM yang selama ini kritis terhadap pemerintah.

Memang label "agen asing" tidak langsung berimplikasi pada kegiatan mata-mata. Namun bagaimana pun label tersebut memberi konotasi negatif bagi LSM-LSM terkait.

"Material-material yang dipublikasikan NGO di media dan internet harus disertai dengan catatan bahwa material-material tersebut telah dipublikasikan atau didistribusikan oleh NGO yang melakukan aktifitas sebagai agen asing," tulis UU baru ini.



Sumber:
"Putin Signs Law Considering NGOs "Foreign Agents""; AFP; 21 Juli 2012

Saturday, July 21, 2012

SYRIA PILAR PERLAWANAN ANTI-ISRAEL/AMERIKA

 Syria tidak sekedar menjadi jembatan penghubung antara blok perlawanan anti-Israel/Amerika di Lebanon (Hizbollah dkk) dengan Iran, melainkan sebagai pilar perjuangan anti-Israel/Amerika. Demikian pernyataan pimpinan Hizbollah Sayyed Hassan Nasrallah pada peringatan kemenangan Hizbollah dalam perang melawan Israel tahun 2006 yang diadakan di Beirut Selatan 18 Juli lalu.

"Syria menjadi masalah besar bagi Israel dan Amerika karena Syria adalah pendukung nyata perlawanan melawan Israel, khususnya di tingkat militer. Syria tidak hanya menjadi jembatan penghubungan bagi kelompok perlawanan, melainkan juga menjadi pendukung militer bagi "perlawanan". Sebagai contoh, sebagian besar rudal yang kami tembakkan ke Haifa dan Israel Tengah adalah rudal-rudal buatan Syria," kata Nasrallah.

"Senjata-senjata terpenting yang kami gunakan dalam perang melawan Israel tahun 2006 datang dari Syria. Tidak hanya senjata "perlawanan" di Lebanon namun juga di Gaza. Rudal-rudal yang ditembakkan pejuang Gaza memaksa lebih dari sejuta penduduk Israel tinggal di bunker-bunker bawah tanah. Dan saat para pemimpin Arab menahan makanan dan uang masuk ke Gaza, Syria mengirimkan makanan dan senjata untuk Gaza dengan menanggung resiko," tambah Nasrallah.

"Itulah Syria, dengan pemimpinnya Bashar al Assad dan para syuhadanya Aseef Shawkat, Dawoud Rajiha dan Hassan Turkmani (tiga pejabat senior Syria yang tewas dalam serangan bom di Damaskus pada hari yang sama)."


Nasrallah memuji para pejabat militer Syria yang tewas dalam insiden pemboman tgl 18 Juli sebagai "teman seperjuangan" melawan Israel sekaligus menyampaikan duka-cita kepada keluarga mereka. Ia yakin bahwa militer Syria akan mampu mengatasi masalah keamanan yang kini dihadapi rakyat Syria.

"Kami yakin bahwa angkatan bersenjata Syria akan mampu mengatasi masalah yang sangat berat yang mereka hadapi dan mampu menghancurkan harapan musuh-musuh mereka."

Mengenai penyelesaian krisis yang melanda Syria Nasrallah menegaskan bahwa satu-satunya solusi adalah dengan dialog antara pihak-pihak yang terlibat dalam pertikaian.

Menurut Nasrallah Amerika dan Israel menginginkan kehancuran Syria sebagai balas dendam atas apa yang telah dilakukan Syria terhadap Israel. Itulah sebabnya mereka selalu menghancurkan setiap upaya penyelesaian damai atas Syria.

“Mereka berupaya, setelah perang tahun 2006, untuk menghancurkan angkatan bersenjata Syria dan Amerika memanfaatkan tuntutan damai rakyat Syria, mencegah dialog dan mengubah Syria menjadi medan perang karena tujuan mereka sebenarnya adalah untuk menghancurkan dan memecah belah Syria sebagaimana mereka lakukan di Irak," tambah Nasrallah.

Meski sebagai sekutu strategis Hizbollah, Syria tengah mengalami masalah serius, namun Hizbollah, juga Iran, sejauh ini belum memberikan bantuan militer. Hal ini karena Hizbollah menganggap, sebagaimana pernyataan beberapa pejabat mereka, bahwa pemerintah Syria masih mampu mengatasi masalah mereka.

Sebagai catatan dalam perang sipil Lebanon tahun 1970-an hingga 1980-an Hizbollah dan kelompok-kelompok perlawanan Lebanon berjuang bersama-sama pasukan Syria dan Iran melawan pasukan Israel, Amerika dan sekutu-sekutunya di Lebanon. Tahun 1984 mereka berhasil mengusir pasukan "perdamaian" Amerika dan Perancis dari Lebanon setelah sebelumnya berhasil menggagalkan perjanjian "penyerahan kedaulatan" Lebanon kepada Israel tahun 1983 dengan membom Presiden Lebanon Bashir Gemayel. Dan pada tahun 2000 mereka berhasil mengusir Israel dari Lebanon Selatan.




SUMBER: ALMANAR.COM.LB

MENANGGUNG HAUS DEMI SANG KEKASIH

Oleh: Murtadha Muthahhari
Dalam blog Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia; 2011



Musim panas akan segera berakhir. Namun sengatan udaranya masih terasa mencekik penduduk kota madinah. Kering sepanjang tahun, dan harga barang-barang yang semakin mahal, menambah penderitaan penduduk kota itu. Musim memetik kurma tiba. Penduduk Madinah baru hendak bernafas lega, Tiba – tiba Nabi, disebabkan berita dan ancaman pasukan Romawi terhadap kaum Muslimin yang berdomisili di Timur Laut, mengumandangkan jihad dan memerintahkan kaum Muslimin bersiap – siaga.

Penduduk Madinah baru melalui musim kemarau dan ingin menikmati buah – buahan yang segar. Tidak mudah memang, meninggalkan panen dan buah-buahan, terlebih lagi setelah melewati musim kemarau; lalu berjalan ke Syam dalam jarak yang begitu jauh. Orang-orang munafik mempunyai alasan untuk melakukan provokasi. Namun udara panas musim kemarau dan usaha provokasi orang-orang munafik, tidak dapat menghambat kepergian pasukan Islam yang berjumlah 30.000 orang, untuk menghadapi kemungkinan serangan pasukan dari Romawi itu.

Nabi dan sahabat – sahabatnya bergerak melalui padang pasir, di bawah panas terik matahari dan kekurangan kendaraan serta bekal yang dibawa. Hal ini sebenarnya, tidak kurang bahayanya dari ancaman musuh itu sendiri. Di tengah jalan, sebagian yang lemah iman merasa menyesal setibanya di medan. Tidak diduga, tiba – tiba seseorang yang bernama Ka’ab bin Malik pulang.

“Biarlah," kata Nabi. “Kalau memang kehadirannya akan membawa kebaikan, Allah tentu akan mengembalikannya kepada kalian, dan jika tidak, berarti Allah telah menyelamatkan kalian dari bahayanya.”

Tidak lama kemudian, sahabat yang lain berkata: “Ya Rasulullah, Mararah bin Rabi’ juga pulang.”

“Biarlah, kalau memang kehadirannya membawa kebaikan, Allah tentu akan mengembalikannya kepada kalian. Dan jika tidak, berarti Allah telah menyelamatkan kalian dari bahaya.”

Sejenak kemudian, sahabat berkata lagi, “Ya Rasulullah, Hilal bin Umayyah juga pulang!” Rasulullah tetap menjawab seperti yang dikatakannya untuk dua orang sebelum ini.

Sementara itu, unta Abu Dzar yang tadinya berangkat bersama – sama dengan rombongan kafilah, tiba – tiba mogok di tengah jalan. Betapapun Abu Dzar berusaha menggerakkan untanya itu, namun hasilnya tetap saja sia – sia. Tiba – tiba sahabat sadar bahwa Abu Dzar ternyata tidak ada.

“Ya Rasulullah, Abu Dzar juga tidak ada!” Mereka berteriak.

Dengan tenang Nabi menjawab: “Biarkanlah! Kalau memang kehadirannya akan membawa kebaikan, Allah tentu akan mengembalikannya kepada kalian, dan jika tidak, berarti Allah telah menyelamatkan kalian dari bahayanya.”

Betapapun Abu Dzar berusaha untuk mendorong untanya agar dapat mengejar kafilah, namun hasilnya masih tetap sia – sia. Akhirnya diambilnya barang – barangnya, dan dia berjalan kaki meninggalkan untanya. Matahari dengan dahsyatnya menyengat kepala Abu Dzar. Dia amat sangat kehausan. Tidak dihiraukannya dirinya lagi. Yang dipikirkannya hanyalah keinginannya untuk segera sampai ke kafilah Nabi dan sahabat – sahabatnya, serta bergabung dengan mereka.

Dengan semangat baja. Abu Dzar terus melangkahkan kakinya menelusuri padang pasir. Entah bagaimana. Tiba – tiba matanya terpandang pada segumpalan awan yang hinggap di suatu sudut langit. Abu Dzar berkesimpulan bahwa hujan baru saja turun, beberapa saat lalu. Dibelokkannya jalannya ke rah itu. Di sana dia menjumpai batu besar yang menampung sedikit sisa – sisa hujan. Abu Dzar menghirupnya sedikit, dan tidak meneguknya sampai puas.

“Sebaiknya air ini kubawakan untuk Rasulullah, mungkin beliau merasa haus dan tidak mempunyai persediaan air yang cukup,“ pikirnya.

Dituangkannya air itu ke dalam qirbah (tempat air) yang dibawanya, lalu dipikulnya bersama – sama barang bawaannya yang lain. Dengan semangat yang tinggi, dia menelusuri tinggi rendahnya padang pasir, hingga dari kejauhan, tampak bayangan hitam pasukan kaum Muslimin. Hatinya semakin bergelora, dan dia memacu jalannya lebih cepat lagi.

Dari jauh pula, salah seorang prajurit Islam melihat bayangan hitam tengah mendekati mereka. “Ya Rasulullah! Seakan – akan ada seseorang yang tengah datang ke arah kita,” katanya kepada Nabi.

“Alangkah baiknya kalau itu Abu Dzar,“ jawab Nabi.

Bayangan tadi bertambah dekat. Tiba – tiba seseorang berteriak: “Demi Allah, dia adalah Abu Dzar.!”

Lalu Nabi berkata: “Semoga Allah ampunkan Abu Dzar. Abu Dzar hidup sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian.”

Nabi menyambut Abu Dzar. Diambilnya pikulan Abu Dzar dari pundaknya, lalu diletakkannya di tanah. Karena terlalu letih dan haus, Abu Dzar pun terjatuh tanpa daya.

“Ambilkan air. Beri dia minum, dia sangat haus.”

“ Ya Rasulullah, aku punya air,” sahut Abu Dzar.

“Engkau mempunyai air, tapi kau tidak minum?” tanya Nabi.

“Betul Ya Rasulullah. Demi Allah, tadi aku melihat batu besar yang menampung air dingin sekadarnya. Setelah kuhirup sedikit, kukatakan kepada diriku: tenggorokan ini tidak akan meneguknya sebelum kekasihku, Muhammad Rasulullah, meneguknya.”



CATATAN BLOGGER:


Ketika masih menjadi orang liberal saya suka terharu hingga menangis membaca kisah-kisah sentimentil dalam novel maupun cerita-cerita pendek. Di antaranya yang paling membuat saya terharu adalah kisah "Saijah dan Adinda" karya Douwes Dekker yang membuat saya bercucuran air mata membacanya.

Namun setelah membaca kisah-kisah para sahabat dan keluarga Rosul, semua cerita tersebut di atas menjadi kurang berarti bagi saya. Karena jika kecintaan Saijah kepada Adinda dimotifasi oleh nafsu, maka kecintaan para sahabat kepada Rosul adalah berdasar kecintaan kepada Sang Pencipta. Apakah ada kecintaan yang lebih indah dari kecintaan seorang Mushab bin Umair kepada Rosul dan agamanya? Mushab, seorang pemuda yang tumbuh di tengah-tengah keluarga berada yang sangat menyayanginya, yang selalu berpakaian indah dan tidak pernah kekurangan apapun, meninggal dalam keadaan berpakaian compang-camping dan hanya meninggalkan kain yang tidak cukup panjang untuk menutupi jasadnya, di medang Perang Uhud, karena membela Rosul dan agamanya.

Atau adakah kisah yang lebih indah dari syahidnya Abu Dujanah, yang menjadikan punggungnya sebagai tameng hidup dari senjata-senjata musuh, demi melindungi nyawa Rosul? Bahkan murid-murid dan pengikut paling setia nabi Isa (Yesus) pun berlarian meninggalkannya saat beliau hendak ditangkap orang-orang yahudi.

Atau adakah yang lebih hebat dari kisah para sahabat Rosul yang rela meninggalkan keluarga, harta dan bendanya, untuk memulai hidup baru di negeri asing yang jauh, karena kecintaannya kepada Rosul dan agamanya? Atau sebagaimana kisah tentang Abu Dzar di atas?

Namun Abu Dzar mengalami hal yang sangat menyedihkan jika dikenang. Ketika Rosul telah meninggal dan kekuasaan beralih pada orang-orang yang mengedepankan nafsu, ia diperlakukan kejam oleh penguasa. Ia didera karena mengkritik pemerintah yang korup dan nepotis. Dan karena ia tidak bisa juga dibungkam, akhirnya ia dibuang ke tengah padang pasir yang tandus hingga meninggal bersama seluruh anggota keluarganya.

Tidak hanya itu. Bahkan setelah meninggalnya-pun orang-orang tega membuat-buat hadits palsu mendeskreditkan dirinya. Dalam satu riwayat hadits palsu tersebut disebutkan bahwa Abu Dzar telah telah meminta jabatan tertentu kepada Rosulullah dan ditolak Rosulullah dengan alasan ia tidak memiliki kecakapan untuk itu.

“Semoga Allah ampunkan Abu Dzar. Abu Dzar hidup sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian.”

TANDA-TANDA LAIN KEHANCURAN ISRAEL

Israel adalah negara militer dalam arti sebenarnya. Didirikan dengan perang dan masih terus dalam kondisi berperang hingga sekarang, membuat masyarakat Israel terbiasa dengan budaya militer. Bagi penduduk sipil Isrel yang tinggal di daerah pendudukan, senjata adalah keseharian mereka. Bukan hanya pistol sebagai alat pengaman, namun juga senjata laras panjang standar NATO. Dan dasar dari budaya militer itu adalah disiplin.

Namun budaya militer itu mulai memudar di Israel dan menjadi tanda kehancuran Israel. Jika kedisiplinan sudah tidak ada lagi di kalangan militer Israel, apa lagi yang bisa diharapkan mereka untuk bertahan? Sementara musuh-musuh mereka seperti Hizbollah, Hamas dan Iran kini justru memiliki pasukan-pasukan yang sangat profesional dan berdisiplin tinggi.

Seperti dilaporakan media online terkenal Israel, "Ynet", 16 Juli lalu, militer Israel mengalami keguncangan oleh sebuah tindakan indisipliner beberapa gelintir personilnya ketika sekelompok prajurit mengeroyok seorang perwira komandan hanya karena masalah sepele. Seorang komandan skuadron udara di pangkalan udara Ramat David Airbase (selama ini pilot, apalagi seorang komandan skuadron, dianggap berada pada kasta tertinggi dalam dunia militer Israel) berpangkat Mayor, diserang di dekat rumahnya yang berada di dalam kompleks pangkalan udara, oleh tiga orang prajurit teknik. Gara-garanya adalah karena sang Mayor menegur ketiganya karena mengemudi ugal-ugalan di dalam kompleks pangkalan udara, sebuah pelanggaran serius dalam dunia militer.
Awalnya ketiga prajurit itu hanya mengancam sang mayor di hadapan keluarganya. Namun kemudian mereka menyerangnya dengan menggunakan tongkat kayu hingga sang mayor pingsan.

Menurut laporan "Ynet" kejadian itu membuat para petinggi militer Israel "shock". "Tidak ada yang membayangkan bahwa para prajurit berani menganiaya seorang perwira senior," tulisnya.

Semetara menurut laporan "Global Times" peristiwa itu merupakan susulan dari keluhan para petinggi senior angkatan udara Israel tentang sikap tidak disiplin para prajurit, terutama yang berasal dari latar belakang ekonomi lemah.

Peristiwa itu menambah buruk gambaran sosial masyarakat Israel setelah sebelumnya terjadi peristiwa mengagetkan ketika seorang demonstran membakar diri dalam satu aksi demonstrasi menuntut perbaikan sosial di Tel Aviv baru-baru ini.

Israel tampaknya tengah berada pada tahap disintegrasi. Aksi bakar diri serta pengeroyokan prajurit terhadap perwira senior merupakan tanda nyata dari mulai runtuhnya Israel sebagai negara, budaya dan idiologi. Bukanlah Palestina ataupun musuh-musuh Israel yang menghancurkan Israel melainkan bangsa Israel sendiri. Adalah idologi supremasisme dan chauvinisme yang melekat dalam budaya dan filosopi bangsa Israel yang tidak bisa ditahan oleh rakyat Israel sendiri, apalagi bagi penduduk asli rakyat Palestina.



Sumber:
"The Disintegration of the Jewish State has Begun"; Gilad Atzmon; gilad.co.uk; 17 Juli 2012