Saturday, July 17, 2010

Pengalih Perhatian Lainnya di Korea


Dari: "Another Gulf of Tonkin Incident"
Stephen Gowans – gowans.wordpress.com 20 Mei 2010


Meski PBB, Amerika, Korea Selatan dan sekutu-sekutunya, telah menyatakan dengan tegas bahwa Korea Utara adalah pelaku penenggelaman kapal perang Korea Selatan, Cheonan, bulan Maret lalu, sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali antara penenggelaman kapal tersebut dengan Korea Utara. Ini adalah kesimpulan yang dibuat oleh Won See-hoon, Direktur Badan Inteligen Korea Selatan yang disampaikannya di hadapan parlemen Korea Selatan awal April lalu, atau kurang dua minggu dari kejadian penenggelaman kapal Cheonan di dekat pulau Baengnyeong Island. (Kang Hyun-kyung, “Ruling camp differs over NK involvement in disaster”, The Korea Times, April 7, 2010)

Kesimpulan tersebut bahkan didukung oleh menteri pertahanan Korea Selatan, Kim Tae-young yang menyatakan bahwa awak kapal Cheonan tidak pernah mendeteksi adanya torpedo yang mengarah ke kapalnya. (Nicole Finnemann, “The sinking of the Cheonan”, Korea Economic Institute, April 1, 2010. http://newsmanager.commpartners.com/kei/issues/2010-04-01/1.html)

Tidak hanya itu, Lee Ki-sik, Kepala Staff AL Korea Selatan juga mendukung kesimpulan tersebut dengan mengatakan, "Tidak ada kapal Korea Utara yang terdeteksi di perairan dimana insiden tersebut terjadi." Kim menegaskan bahwa sebuah torpedo, sebagaimana rumor menyebutkannya sebagai penyebab tenggelamnya Cheonan, akan terdeteksi saat meluncur ke sasarannya. Dan hal itu tidak terjadi pada insiden tersebut. (“Military leadership adding to Cheonan chaos with contradictory statements”, The Hankyoreh, March 31, 2010)

Poin dalam tulisan ini adalah bahwa semua peristiwa besar yang pernah terjadi dalam sejarah adalah sebuah rekayasa untuk menciptakan alasan terjadinya peristiwa lainnya yang lebih besar. Insiden teluk Tonkin dimana sebuah kapal Amerika dinyatakan telah "diserang oleh angkatan laut musuh" sehingga memberi alasan Amerika terjun dalam Perang Vietnam, adalah sebuah rekayasa. Pembunuhan putra mahkota kerajaan Austria yang menjadi pemicu Perang Dunia I, adalah rekayasa. Serangan WTC yang menjadi alasan aksi penyerbuan Amerika ke Afghanistan dan Irak, adalah rekayasa. Saya (blogger) juga sudah belajar untuk mengetahui bahwa Revolusi Bolshevik, Revolusi Perancis, Perang Sipil Inggris, Perang Sipil Amerika, Perang Krim, Gerakan Reformasi, Gerakan Ordo Jesuit, dll. adalah rekayasa.

Tidak ada orang yang waras yang menginginkan perang. Tapi ada sekelompok orang dengan kekuatan uang dan politik yang terus-menerus melakukan konspirasi agar dunia terus-menerus dilanda peperangan sehingga mereka mendapatkan keuntungan daripadanya. Raja Rusia dan Jerman bertemu dan saling berpelukan untuk mencegah terjadinya Perang Dunia I, tapi bahkan tidak mampu mencegah negaranya masing-masing melibatkan diri dalam perang. Perdana Menteri Inggris, Chamberlein, berusaha mencegah Perang Dunia II, tapi oleh pers justru dicap pengecut dan dikudeta oleh lawan-lawan politiknya. Dan kini, para tokoh militer Korea Selatan sudah mencoba mencegah terjadinya perang di semenanjung Korea. Tapi sepertinya upaya mereka tidak berarti apa-apa di hadapan konspirator global yang menguasai PBB, Amerika, Korea Selatan dan negara-negara sekutunya, yang menginginkan perang demi keuntungan mereka. Adapun Perang Korea II (Perang Korea I terjadi tahun 1950), yang mungkin saja sengaja dipicu oleh insiden kapal Cheonan, dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dunia terhadap dominasi yahudi yang kini mulai tumbuh di berbagai belahan dunia.

Kembali ke Korea Selatan. Kastaff AL Lee Ki-Sik mengatakan, "Kami tidak menemukan adanya pergerakan kapal-kapal Korea Utara di dekat terjadinya insiden tersebut." Dan saat desas-desus yang menyebutkan torpedo Korea Utara sebagai penyebab tenggelamnya kapal Cheonan merebak, Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Tae-young, mengadakan konperensi pers untuk membantah hal tersebut. Katanya, "Tidak ada aktivitas yang mencurigakan dari kapal-kapal Korea Utara pada saat insiden terjadi."

Sementara itu jubir menteri pertahanan, Won Tae-jae, menambahkan kepada para reporter, "Dengan segenap perhatian terhadap kasus ini, tidak ada aktivitas yang mencurigakan dari kapal-kapal Korea Utara yang bisa diferifikasi. Saya katakan lagi bahwa tidak ada aktifitas yang mencurigakan yang bisa dikaitkan dengan peristiwa ini."

Di sisi lain Rear Admiral Lee, Kepala Kantor Operasi Laut, bawahan Kastaff Lee Ki-Sik, menambahkan, "Kami selalu mengawasi ketat pergerakan kapal-kapal Korea Utara, termasuk kapal selamnya, pada saat terjadi insiden. Namun kami tidak mendeteksi adanya kapal-kapal selam Korea Utara di sekitar area terjadinya insiden."

Kalau para pejabat militer Korea Selatan saja menolak rumor tentang torpedo kapal selam Korea Utara sebagai penyebab tenggelamnya kapal Cheonan, Korea Utara sudah barang tentu menolak keras klaim tersebut. Namun semua itu tidak bisa mencegah tuduhan Korea Utara sebagai penyebab tenggelamnya kapal Cheonan. Bahkan kini PBB pun turut menuduh Korea Utara.

Satu hal yang membuat klaim torpedo sebagai penyebab tenggelamnya kapal Cheonan, selain bantahan-bantahan tersebut di atas, adalah fakta bahwa kapal Cheonan tenggelam setelah meledak dan terpotong menjadi dua. Sebuah torpedo tidak akan bisa membuat sebuah kapal terpotong menjadi dua. Baek Seung-joo, seorang analisis militer di Korea Institute for Defense Analysis mengatakan bahwa, "Jika sebuah torpedo bisa membuat kapal terbelah menjadi dua, kita harus mengkaji ulang semua doktrin militer kita."

Mantan Kastaff AL Korea Selatan, Song Young-moo, mengatakan, "Orang-orang telah mengarahkan telunjuknya ke Korea Utara. Tapi orang-orang yang mengetahui persis kondisi perairan dimana terjadi insiden tenggelamnya Cheonan, tidak akan membuat tuduhan tersebut begitu saja," seraya menambahkan bahwa kondisi perairan yang dangkal tidak memungkinkan kapal selam beroperasi dengan mudah.

Kontras dengan tuduhan torpedo Korea Utara, penyebab terbelahnya kapal Cheonan menjadi dua bagian lebih tepat dikaitkan dengan karang yang telah ditabrak oleh kapal naas tersebut. Ini juga sesuai dengan fakta bahwa perairan yang dilalui Cheonan sebelum tenggelam adalah perairan dangkal yang penuh dengan karang. Menurut Go Yeong-jae, seorang kapten kapal satuan pengawal pantai Korea Selatan yang telah menyelamatkan 56 awak kapal Cheonan, dirinya secara tiba-tiba mendapat perintah untuk menuju lokasi tenggelamnya Cheonan."

Beberapa anggota partai oposisi Korea Selatan yang menolak keras tuduhan pemerintah Korea Selatan kepada Korea Utara menuduh penyebab tenggelamnya Cheonan ada dua kemungkinan, yaitu salah sasaran tembakan kapal Korea Selatan sendiri atau menabrak karang.

Lalu mengapa pendapat orang-orang yang berkompeten tersebut kalah oleh "opini publik" yang menuduh bahwa Korea Utara terlibat dalam penenggelaman kapal Cheonan? Jawabnya berkaitan kuat dengan nasib partai Grand National Party (GNP) pada pemilu mendatang. Partai yanga menganut kebijakan keras terhadap Korea Utara ini membutuhkan sebuah alasan untuk mendapatkan dukungan publik. Berdiri di samping presiden Lee Myung-bak dari partai GNP adalah "military complex": pejabat dan pengusaha yang hidup dari industri persenjataan Amerika (Presiden Amerika Rossevelt, menjelang berakhirnya jabatannya, pertama kali menyebut istilah "military complex" ini sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap terjadinya perang dunia). Namun untuk sesuatu yang lebih strategis, Perang Korea II, sebagaimana Perang Teluk II yang tengah dipersiapkan Amerika dan Israel, diperlukan untuk mengalihkan perhatian dunia terhadap isu "jews global domination".

Belajar dari sejarah, pada tgl 2 Agustus 1964 pemerintah Amerika mengumumkan bahwa tiga kapal torpedo Vietnam Utara telah menyerang kapal destroyer Amerika, USS Maddox, di Teluk Tonkin. Segera setelah pengumuman itu Presiden Lyndon Johnson (juga terlibat dalam insiden penyerangan kapal USS Liberty oleh Israel pada Perang 6 Hari Arab-Israel tahun 1967) mengajukan permintaan dukungan kepada Congress Amerika untuk menyatakan perang kepada Vietnam Utara (kini konvensi seperti itu bahkan sudah ditinggalkan, Presiden Bush tidak lagi membutuhkan dukungan Congress untuk menyerang Irak dan Afghanistan). Pada tahun 1971 koran New York Times membuat laporan berdasarkan dokumen dari Pentagon yang menyebutkan bahwa insiden tersebut ternyata sebuah rekayasa untuk menjadi alasan keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam.

Ironi Demokrasi Barat


Stasiun Televisi terkenal Amerika, CNN, baru saja memecat seorang editor senior untuk kawasan Timur Tengah, hanya karena yang bersangkutan menyatakan simpati kepada seorang tokoh Syiah Lebanon yang baru meninggal. Menyusul pemecatan seorang wartawan senior gedung putih, Helen Thomas, karena mengkritik kebijakan Amerika di Timur Tengah, ini menjadi salah satu penanda betapa Amerika telah menjadi "negara demokrasi" yang melindungi kebebasan menyampaikan pendapat.

"Saya sedih mendengar kepergian Seyyed Mohammed Hussein Fadlallah, salah seorang tokoh Hizbollah yang sangat saya hormati," tulis Octavia Nasr di mikro-blog Twitter miliknya, Minggu tgl 4 Juli lalu. Namun hanya karena tulisan itu, Octavia Nasr, editor senior yang oleh CNN pernah dinyatakan sebagai "leader in integrating social media with newsgathering and reporting", yang telah bekerja untuk CNN selama 20 tahun itu dipecat dari jabatannya.

Sehari setelah tulisan Octavia di Twitter, para pejabat CNN langsung membuat pernyataan bahwa Octavia telah membuat "penilaian yang keliru", yang "tidak sesuai dengan standar editorial CNN" yang harus mendapatkan sanksi setimpal. Tidak lama setelah itu Octavia pun dipecat.

Dua hari setelah menulis di Twitter yang membuat atasannya marah, Octavia mencoba menurunkan kemarahan atasannya dengan menulis, "bagi saya sebagai seorang wanita Timur Tengah, Fadhallah adalah seorang tokoh shiah yang berani membela hak-hak wanita. Ia menyerukan penghapusan sistem "pembunuhan untuk harga diri" dengan menyebut kebiasaan itu sebagai primitif dan tidak berguna. Ia menyebut laki-laki yang merendahkan wanita sebagai pelanggar hukum Islam." Namun bagi para pejabat CNN penjelasan tersebut terlalu lambat dan terlalu sedikit.

Pemecatan tersebut hanya berselang sebulan setelah pemecatan Helen Thomas setelah membuat kritikan terhadap kebijakan Timur Tengah Amerika dan Israel dalam sebuah konperensi pers di Gedung Putih. Tulisan kontroversial Octavia sendiri di Twitter kini telah dihapus.

Kasus yang menimpa Octavia, terkait dengan sosok Ayotollah Fadhallah, bukan satu-satunya. Dubes Inggris di Lebanon, Frances Guy, juga mengalami hal yang sama meski tidak sepahit Octavia. Sebuah tulisan Guy di blog pribadinya berjudul "The Passing of Decent Men" mengundang kemarahan pemerintah Israel yang meminta pemerintah Inggris melakukan tindakan terhadapnya. Akibat desakan dari pemerintahnya, Guy akhirnya menghapus tulisan tersebut.

Dalam tulisannya itu Frances Guy, seorang wanita berumur 50 tahun, menyebut Shaikh Fadhallah adalah seorang sosok yang paling menyenangkan diajak berdiskusi. "That for me is the real effect of a true man of religion, leaving an impact on everyone he meets, no matter what their faith. Sheikh Fadlallah passed away yesterday. Lebanon is a lesser place the day after but his absence will be felt well beyond Lebanon's shores," tulis Guy.

Tulisan tersebut langsung mendapat kritikan keras dari Israel. Jubir kementrian luar negeri Israel Yigal Palmor kepada Jerusalem Post mengatakan, "Sheikh Fadlallah berada di balik aksi-aksi penculikan, pemboman bunuh diri dan aksi-aksi kekerasan lain, namun duta besar Guy mengatakan ia sebagai manusia pecinta perdamaian. Padahal dubes Guy adalah wanita yang terhormat."

Ayatollah Fadlallah adalah seorang pendiri organisasi Hezbollah meski ia telah menarik diri dari gerakan itu. Ia menentang keras kebijakan Amerika dan Israel di Timur Tengah dan pendukung Revolusi Iran tahun 1979. Namun demikian ia juga dikenal sebagai penentang praktik-praktik atas nama agama yang dianggap keliru seperti "membunuh demi harga diri" dan kebiasaan "menyiksa diri" pada hari Asyura. Aktifitas sehari-harinya adalah memberi kuliah, menulis, mendirikan sekolah-sekolah agama dan mendirikan organisasi sosial Mabarrat Association.

Grand Ayatollah Fadhallah pernah beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan, termasuk sebuah aksi bom mobil di Beirut tgl 8 Maret 1985 yang menewaskan 80 orang. Aksi tersebut kemudian diketahui dilakukan oleh Mossad-CIA dan inteligen Arab Saudi.

Saturday, July 10, 2010

Korupsi Tingkat Tinggi di Perancis


Presiden Nicholas Sarkozy memang jagonya membuat berita. Tingkahnya ber-"kumpul kebo" dengan model porno Carla Bruni, masa lalunya sebagai "sayan" (warga keturunan yahudi yang secara aktif menjadi agen rahasia Mossad) dan kini menjadi "orang upahan" miliuner pemilik industri kecantikan L'Oreal, semuanya dipadukan dengan fakta bahwa ia, sebagaimana sebagian besar pemimpin "negara-negara demokrasi" tidak pernah membuat suatu prestasi gemilang.

Akhir-akhir ini publik Perancis dikegetkan dengan pernyataan seorang mantan akuntan dari Liliane Bettencourt (87 th) sang pemilik saham terbesar L'Oreal bahwa Sarkozy secara rutin mendapat "gaji" dari Liliane. Menurut akuntan tersebut, diidentifikasi sebagai Claire T, adalah sebuah kebiasaan, Liliane memberikan amplop berisi uang hingga senilai ratusan ribu euro kepada politisi-politisi Perancis yang diundang ke villanya di Neuilly-sur-Seine.

"Para politisi secara terus-menerus berbaris masuk ke rumah itu, khususnya pada masa pemilihan umum," kata claire T kepada situs Mediapart News.

Menurut Claire T, Sarkozy yang saat itu walikota Neuilly, adalah pengunjung rutin vila Liliane antara tahun 1998 hingga 2002. Claire T mengaku mendengar jelas pembicaraan antara bosnya dengan Sarkozy karena karena semua orang memang harus berbicara keras-keras agar Liliane, yang sudah agak tuli karena usianya, mendengar. Menurutnya setiap menjelang kunjungan politisi, ia harus menarik sejumlah uang di bank di Paris untuk dipecah-pecah ke dalam beberapa amplop tebal.

"Nicolas Sarkozy mendapatkan amplop juga, yang diberikan di sebuah ruangan di lantai dasar yang bersebelahan dengan ruang makan. Biasanya dilakukan setelah makan," tambah Claire. "Semua orang di vila itu tahu, Sarkozy berkunjung ke tempat itu untuk mendapatkan uang."

Sarkozy membantah berita itu dan menyebutnya sebagai fitnah tanpa dasar. Katanya: 'I would so like it if the country could be passionate about the big problems such as health, pensions, or how we can create growth, instead of getting involved with the first slanderous horror which has only one goal, that's to bring people down without any element of truth.'

Claire T juga mengungkapkan, salah seorang menteri kabinetnya Sarkozy, Eric Woerth, termasuk di antara politisi yang sering berkunjung ke villa Liliane untuk mendapatkan uang kas. Tuduhan ini semakin menyudutkan Woerth yang kini tengah disorot publik karena kasus kosupsi dan penggelapan pajak yang tengah melandanya.

Menurut Claire "jatah untuk Sarkozy adalah 160.000 poundsterling, sedang Woerth adalah 125.000 poundsterling.

Eric Woerth, yang istrinya bekerja pada Liliane Bettencourt sebagai menejer kesehatan, kini mendapatkan tuntutan dari kalangan oposisi untuk mengundurkan diri karena kasus ini. Namun ia menolak. Ia membantah telah mencampuradukkan kepentingan saat menjabat dua jabatan sekaligus, yaitu sebagai menteri keuangan dan bendahara partai UMP pimpinan Sarkozy.

Bantahan Sarkozy dan Woerth tidak mengurangi skeptisme rakyat Perancis atas para pemimpin mereka. Sebuah jajak pendapat yang diadakan baru-baru ini menunjukkan bahwa 2/3 rakyat Perancis percaya para pemimpin mereka adalah koruptor.

Kasus-kasus tersebut membuat konflik politik di Perancis kini semakin memanas. Anggota parlemen dari oposisi berulangkali mengajukan pertanyaan kepada anggota parlemen dari kubu pemerintah tentang kasus tersebut sampai pada satu kondisi dimana anggota parlemen dari pemerintah menuduh kubu oposisi telah "memainkan permainan yang di luar kewajaran". Tuduhan itu membuat kubu oposisi marah dan melakukan aksi walkout.

Saya Bertemu Menteri Keamanan


Henry Makow Ph.D
henrymakow.com, 9 Juli 2010


Hari rabu malam, saya dan beberapa teman mendiskusikan peristiwa kerusuhan pada G-20 Summit di Toronto. Kami merasa bahwa kerusuhan tersebut dimulai oleh tindakan provokasi polisi-polisi preman untuk menjustifikai anggaran kemananan kegiatan itu yang sangat besar yaitu $1 miliar (sekitar Rp 10 triliun: blogger), serta untuk mengkondisikan Kanada sebagai negara fasis.

Kamis pagi, saya duduk di samping Vic Toews, Menteri Keamanan Kanada, di pesawat yang terbang antara Winnipeg ke Ottawa.

Secara normal saya tidak akan bisa berbicara dengan Toews, namun saat awak kabin membawa saya duduk tepat di depannya (di kelas ekonomi, seorang menteri Indonesia tidak akan mau duduk di kelas ekonomi: blogger) saya tidak membuang kesempatan itu.

Pertama, saya mengkonfirmasi bahwa ia adalah benar-benar Vic Toews, kemudian saya memperkenalkan diri sebagai seorang blogger topik teori konspirasi dan Tata Dunia Baru. Saya katakan kepadanya seperti yang telah saya diskusikan dengan teman-teman bahwa kerusuhan G-20 Summit adalah sebuah rekayasa untuk menjustifikasi biaya keamanan yang besar. 1 miliar dollar untuk biaya keamanan sebuah acara adalah sesuatu yang menggelikan.

Respons Toews adalah standar: "Saya hanya seorang menteri kabinet. Saya harus mendengarkan nasihat ahli-ahli saya. Merekalah yang menentukan bagaimana masalah keamanan harus ditangani." Toews membuktikan bagaimana seorang pemimpin di "negara demokrasi" bekerja, orang-orang di sekelilingnya-lah yang menentukan dan ia hanya seorang boneka (sebagaimana dengan SBY yang "dikadali" Boediono dan Sri Mulyani dalam kasus Bank Century: blogger).

Kemudian saya katakan kepada Toews bahwa masyarakat Kanada kurang berkenan dengan adanya ratusan orang yang ditangkap dan ditahan tanpa alasan jelas. "Sama sekali tidak!" jawabnya sembari mengutak-atik Blackberry-nya (sama seperti Barrack "mambo dumbo" Obama yang suka membawa-bawa Blackberry, sesuatu yang norak bagi seorang pemimpin sebuah negara: blogger). "Polling-polling menunjukkan bahwa masyarakat mendukung tindakan pemerintah," tambahnya.

"Tapi masyarakat yang hanya melihat-lihat keadaan, keluar untuk makan, ditangkapi dan ditahan!" saya membantahnya.

"Well, you know, mungkin mereka tidak mengikuti perintah polisi untuk pergi dan itu menjadi alasan polisi untuk menahan," balasnya lagi.

Saya mengingatkannya bahwa pendapat umum di internet adalah orang-orang yang memulai kekerasan adalah para polisi yang menyamar, mobil-mobil polisi yang telah kosong isinya telah disiapkan untuk dibakar. Polisi sebenarnya dengan mudah bisa menangkap para pemicu kerusuhan tersebut, kalau mau serius. Identitas mereka jelas tertangkap di media massa.

"Oh tidak. Polisi memang sering mengeluarkan perlengkapan komputer di dalam mobil patroli saat keluar," bantahnya lagi. Tentu saja jawaban itu tidak masuk akal. Namun demikian, jawaban standar terakhir: polisi tengah melakukan "penyidikan secara profesional dan independen".

Namun demikian kita bisa menangkap gambaran umumnya. Toews hanyalah seorang politisi dari wilayah pedesaan Manitoba (sebagaimana kebanyakan politisi Indonesia: blogger). Saya percaya ia pada dasarnya seorang yang jujur. Tapi jelas bahwa ia orang yang "dikendalikan". Menahan dan memenjarakan ratusan orang warganya yang tidak bersalah tidak bermasalah dengan tugasnya sebagai "menteri keamanan". Demikian halnya dengan fakta-fakta di lapangan bahwa pemicu kerusuhan adalah polisi yang menyamar. Seperti terlihat, reaksinya adalah: mengabaikan, dan bukannya melakukan penyidikan atas kejadian tersebut.

Itulah gambaran seorang politisi di negara demokrasi.

G-2 Summit adalah salah satu program "Tata Dunia Baru" milik para kapitalis global (sebagian besar yahudi, sisanya para "jew ass sucker": blogger). Masyarakat sama sekali tidak disertakan dalam agenda itu: penurunan tarif, pencabutan subsidi, swastanisasi BUMN dll. Masyarakat bahkan tidak diijinkan untuk sekedar memprotes dan mengekspresikan penolakannya. Mereka dicap sebagai "perusuh", dipukuli, ditangkap dan ditahan tanpa alasan.

Pemerintahan negara-negara dan para politisi digunakan sebagai alat oleh para kapitalis dunia yang sebelumnya telah menguasai media massa, industri-industri besar dan perbankan global termasuk bank-bank sentral di dunia.

(Dan orang-orang "stupid liberal jew assa sucker" Indonesia berbangga ria setelah SBY diundang sebagai peserta G-20 Summit: blogger).

Friday, July 9, 2010

DAGELAN PENGALIH PERHATIAN


Dalam waktu sebulan terakhir ini saya melihat banyak sekali dagelan-dagelan media massa yang sama sekali tidak lucu. Pertama tentu saja kasus Ariel-Luna Maya, kemudian isu listrik gratis yang digulirkan Dirut PLN, perseteruan Yusril Ihza Mahendra-Hendarman Supandji dan terakhir isu senjata api Satpol PP.

Isu-isu itu semua menyita perhatian seluruh masyarakat Indonesia meski sebenarnya tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap kesejahteraan masyarakat. Bahkan isu tentang listrik gratis pun sebenarnya sudah bisa ditebak dari awal, tidak akan terealisasi karena bukan kapasitasnya Dirut PLN untuk memberikan listrik gratis. Tugas dan kewajiban Dirut PLN adalah menyediakan listrik yang harga dan jaringannya terjangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia, titik. Selama kewajiban itu belum tercapai, ia tidak berhak berwacana menggratiskan listrik yang bukan wewenangnya.

Sebaliknya di tengah riuh rendahnya isu-isu yang menyita perhatian tersebut masalah-masalah yang jauh lebih krusial terlupakan: isu kejahatan korupsi konspiratif Bank Century, kenaikan Tarif Dasar Listrik, beban hutang mancanegara yang semakin mencekik, mahalnya pendidikan, pengangguran, kejahatan dan sebagainya.

Sampai setahun yang lalu saya melihat dinamika Indonesia dari isu-isu yang berkembang di media massa. Kini saya melihat dinamika Indonesia dari “apa di balik isu-isu yang beredar di media massa”. Saya akan analisis sedikit mengenai isu-isu yang telah saya sebutkan di atas.

Tentang kasus Ariel-Luna Maya kita melihat ada kejanggalan. Bukannya menahan pelaku pornografi dan perzinahan yang jelas-jelas melanggar undang-undang, polisi malah mengejar-ngejar pengunduh video porno Ariel-Luna Maya di internet. Lucunya lagi, meski telah diketahui penyebar pertama video porno tersebut adalah seorang warga Amerika (pasti agen dinas inteligen Israel Mossad atau “adik kandungnya” dinas inteligen Amerika CIA), polisi justru mengejar-ngejar pengunduh lokal. Polisi terkesan sengaja membuat kasus ini berlarut-larut dan tetap menjadi “pengalih perhatian yang baik”.

Tentang isu listrik gratis sudah saya sebutkan, Dirut PLN tengah memainkan peran sebagai pengalih perhatian. Ia sadar betul dari awal bahwa soal menggratiskan listrik adalah di luar kewenangannya. Lagipula ia juga sadar bahwa tugasnya masih jauh dari harapan. Ia baru saja menjabat dirut PLN dan belum ada satu langkah efisiensi yang dilakukan kecuali menaikkan Tarif Dasar Listrik. Kalau itu sih semua orang bisa menjadi Dirut PLN.

Mengenai isu senjata Satpol PP, seolah lupa dengan peristiwa Makam Mbah Priok belum lama ini yang menimbulkan sentimen anti-satpol PP, Mendagri Gamawan Fauzi tiba-tiba memunculkan wacana untuk mempersenjatai Satpol PP dengan senjata api. Tanpa senjata api saja para anggota Satpol PP sudah arogan minta ampun. Ah, saya jadi ingat dengan pasukan khusus anti huruhara jaman Belanda dulu bernama Marsose. Mereka sebenarnya pasukan komando khusus, penakluk Aceh, tapi juga digunakan sebagai pasukan anti huru-hara. Senjata mereka hanya pentungan. Tapi tidak pernah lari menghadapi para perusuh bersenjata tajam sekalipun. Tentu tidak tiba-tiba seperti orang tersadar dari tidur mendagri memunculkan wacana tidak populer tersebut. Ada “something behind it”, untuk menyibukkan perhatian masyarakat dari masalah-masalah mendasar mereka.

Mengenai perseteruan Yusril Ihza Mahendra-Hendarman Supanji, mungkin keduanya tidak sengaja memainkan peran sebagai pengalih perhatian. Media massalah yang menjadikannya demikian. Saya sangat senang jika media massa secara terbuka mengumumkan ke publik siapa owner mereka sebenarnya meski saya yakin mereka akan menyembunyikannya dan hanya memunculkan figur-figur highly paid professional semacam .........

Oh ya siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya: Mengapa seorang mantan Ketua MA, Bagir Manan, yang oleh terdakwa pembunuh Munir, intel BIN Pollycarpus, disebut sebagai “orang kita” bisa menjadi Ketua Dewan Pers? Dan apa prestasi Poernomo Yusgiantoro sehingga tidak pernah terpental dari jabatan menteri selama beberapa kabinet?

Titik demi titik mulai terhubung…

Paradoks Afrika Selatan: Kondom Penjerat


Apa yang Anda saksikan pada pembukaan Piala Dunia Afrika Selatan baru-baru ini? Apa pendapat Anda tentang Afrika Selatan?

Saya melihat sebuah ironi di Afrika Selatan, negeri Afrika paling maju tapi kini terjerumus dalam jurang kriminalitas. Negara macam apa yang seorang penculik dan pembunuh (Willie Mandela, janda Nelson Mandela) melenggang sebagai anggota legislatif? Dan negeri macam apa yang memperlakukan buruk orang-orang kulit putih yang telah membuat negeri itu maju. Tengok saja acara pembukaan Piala Dunia kemarin, hampir tidak ada warga kulit putih yang tampil. Sebagaimana di Zimbabwe, warga kulit putih di Afrika Selatan mengalami tragedi "ethnic cleansing".

Saya bukannya mencintai orang kulit putih penjajah sebagaimana bangsa Belanda pernah menjajah Indonesia. Tapi saya hanya bersikap fair, bangsa Belanda, sebagaimana bangsa kulit putih penjajah Afrika Selatan, juga meninggalkan warisan yang sangat berharga. Tanpa mereka, kita bahkan tidak tahu bagaimana caranya bersiul. Bukannya becanda, menurut Pramoedya Ananta Toer orang-orang Belanda bahkan mengajari kita tentang rambut model belah serta alas kaki. Jangan ditanya tentang arsitektur, musik (musik asli kita paling maju adalah sistem nada pentatonik yang hanya dipakai di dunia pewayangan), atau budidaya pertanian, perkebunan dan peternakan. Tanpa orang Belanda kita tidak akan pernah mengenal kayu jati dan eboni yang tinggi dan lurus dan bernilai tinggi.

Dan bagaimana Afrika Selatan tanpa orang kulit putih? Dijamin negeri itu tidak lebih baik dari negeri seperti Kenya atau Uganda.

Berbeda dengan gambaran kegermelapan event Piala Dunia, Afrika Selatan adalah negera kriminal terbesar di dunia. Salah satu bentuk kriminalitas yang paling tinggi adalah pemerkosaan. Tingkatnya telah sampai pada titik dimana rata-rata seluruh wanita termasuk anak-anak wanita pernah mengalami perkosaan atau percobaan perkosaan. Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan untuk mengurangi tingginya tingkat perkosaan, namun tidak memberikan hasil apapun. Kini fokusnya adalah bagaimana memberikan efek jera bagi para pemerkosa. Dan salah satu upaya untuk memberikan efek jera adalah diperkenalkannya kondom penjerat.

Sebuah artikel di CNN dan CBS News baru-baru ini menyebutkan Afrika Selatan tengah memperkenalkan produk kondom penjerat untuk menghukum jera para pemerkosa Afrika Selatan. Kondom tersebut digunakan oleh para wanita untuk menjerat kemaluan yang kurang ajar. Kondom ini dirancang untuk tidak bisa dilepaskan kecuali melalui operasi di rumah sakit.

"Itu menyakitkan. Pelaku pemerkosaan tidak bisa berjalan dan buang air. Dan jika berusaha melepaskan, alat ini justru semakin menggigit. Ini hanya bisa dilepaskan melalui operasi di rumahsakit. Tentunya setelah polisi menangkapnya," kata Dr. Sonnet Ehlers, perancang kondom tersebut kepada CNN.

Menurut Dr. Sonnet, ia telah menjual rumah dan mobilnya untuk membiayai proyek pembuatan kondom tersebut. Kini ia tengah mengawasi pendistribusian 30.000 kondom gratis di kota-kota penyelenggara turnamen piala dunia. Saat sudah dijual secara komersial, nantinya kondom ini akan dijual seharga $2.

Saudi Khianati Iran


Belang kerajaan Saudi sebagai pengkhianat umat Islam sekaligus sebagai antek yahudi Israel semakin kentara saja. Setelah diam seribu bahasa melihat rakyat Palestina dibantai oleh Israel, kini negerinya keluarga Saud yang tidak jelas asal-usulnya itu berselingkuh dengan Israel untuk menyerang Iran, negerinya para pecinta nabi Muhammad dan keluarganya.

Sebagaimana diberitakan Times online tgl 12 Juni lalu, kerajaan Arab Saudi telah mengijinkan wilayahnya untuk digunakan sebagai pangkalan bagi militer Israel untuk menyerang Iran.

"Pada minggu dimana PBB mengenakan sanksi baru terhadap Iran, sumber-sumber keamanan di kawasan Teluk Parsi menginformasikan bahwa Arab Saudi telah menyetujui untuk membiarkan pesawat-pesawat Israel menerobos wilayah utara negeri itu dalam misinya mengebom Iran. Untuk memastikan pesawat-pesawat Israel itu terbang tanpa gangguan, pemerintah Saudi telah melakukan ujicoba untuk memastikanpesawat-pesawat tempurnya tidak menghadang dan sistem pertahanan udaranya tidak aktif. Dan setelah pesawat-pesawat Israel itu telah berlalu, sistem pertahanan udara Saudi aktif kembali," tulis Times online.

Seorang pejabat pertahanan Amerika yang menjadi sumber informasi tersebut dikutip mengatakan,"Pemerintah Saudi telah memberikan ijin pesawat-pesawat Israel untuk melawati wilayahnya. Mereka juga telah melakukan ujicoba untuk memastikan pesawat-pesawat Israel tidak ditembak jatuh. Semua ini dibuat atas persetujuan menlu Amerika."

Sementara sumber-sumber di kerajaan Saudi mengatakan bahwa telah menjadi pengetahuan umum di kalangan politisi Saudi bahwa sebuah persetujuan telah disepakati jika Israel memutuskan untuk menyerang Iran. Meski secara resmi Saudi bermusuhan dengan Israel, namun secara diam-diam panguasa Saudi menjalin hubungan rahasia yang akrab dengan para pemimpin Israel. Sama dengan Israel, pemerintah Saudi sering mengekspresikan kekhawatirannya terhadap pengembangan nuklir Iran meski Iran membantah bahwa pengembangan nuklirnya untuk tujuan damai. Sebaliknya Saudi tidak pernah mengekspresikan kekhawatirannya terhadap kepemilikan senjata nuklir Israel yang telah diketahui dunia.

"Kami semua mengetahuinya (kesepakatan rahasia tersebut). Kami akan membiarkan pesawat-pesawat Israel lewat dan berpura-pura tidak mengetahuinya," kata seorang pejabat Saudi yang tidak mau disebutkan namanya.

Para analis memperkirakan terdapat lima titik sasaran utama yang kemungkinan besar diserang Israel, yaitu pusat pengayakan uranium di Natanz dan Qom, proyek pengembangan kilang gas di Isfahan dan reaktor nuklir di Arak serta reaktor Bushehr. Target-target tersebut terbentang sejauh 2.250 km dari Israel, jarak terjauh jangkauan pesawat-pesawat pembom Israel dengan pengisian bahan bakar di udara. Dengan melintasi Saudi jarak tersebut bisa dikurangi secara signifikan. Sebuah serangan udara membutuhkan beberapa kali serangan yang kemungkinan besar melintasi Jordania, Saudi dan Irak. Bahkan serangan ke Bushehr yang terletak di Teluk Parsi mengharuskan Israel melintasi wilayah Kuwait.

Melintasi Irak setidaknya membutuhkan persetujuan Amerika yang menduduki negara itu, dan sejauh ini Amerika belum memberikan persetujuannya. Para analis militer menyebutkan bahwa ambisi Israel menyerang Iran sebagai satu-satunya musuh potensial yang tersisa masih terhambat oleh keengganan Amerika dan negara-negara Arab sekutunya untuk memberikan persetujuan. Namun persetujuan Arab Saudi menjadi lampu kuning terlaksananya ambisi tersebut. Meski demikian para analis militer meragukan keefektifan sebuah serangan udara bisa menghentikan program nuklir Iran yang dijaga dengan ketat dan berada di tempat-tempat yang sulit untuk dihancurkan seperti di bawah tanah dan di pegunungan.

Para pejabat Israel menolak berkomentar tentang berita Times. Namun seorang pejabat Israel, Sharaon Zeevi Farkash, yang merupakan mantan kepala inteligen militer Israhell hingga tahun 2006 memberikan komentarnya. "Saya tahu bahwa Arab Saudi lebih takut terhadap kekuatan nuklir Iran daripada ketakutan Israel kepada Iran."

Pada tahun 2007 Israel Israel menggunakan wilayah udara Turki untuk menyerang fasilitas penelitian nuklir Syria meski kemudian Turki memprotes "pelanggaran" wilayahnya oleh Israel. Namun di tengah hubungan Israel-Turki yang tegang paska penyerangan kapal Mavi Marmara oleh Isael, Turki, yang merupakan sekutu lama Israel, diperkirakan tidak akan mengijinkan Israel menggunakan wilayah udaranya untuk menyerang Iran.

Israel tahun lalu telah mengirimkan sebuah kapal perang berpeluru kendali beserta dua kapal selamnya ke kawasan Laut Merah sebagai peringatan terhadap Iran sekaligus antisipasi kemungkinan terjadinya perang melawan Iran. Tahun lalu media massa Israel juga melaporkan adanya pertemuan rahasia para pejabat keamanan Israel dan Arab Saudi membahas masalah Iran. Dilaporkan saat itu kepala dinas rahasia Irsrael, Meir Dagan, bertemu dengan para pejabat inteligen Arab Saudi untuk mendapatkan jaminan dukungan Arab Saudi terhadap rencana penyerangan atas Iran. Baik pemerintah Saudi maupun Israel tentu saja membantah laporan tersebut.


Konfirmasi Iran

Rumor bahwa Isreal telah mengkhianati Iran dengan membiarkan Israel menggunakan wilayahnya untuk menyerang Iran telah mendapatkan konfirmasi dari Iran. Fars, kantor berita Iran pada tgl 23 Juni lalu mengabarkan bahwa angkatan udara Israel telah membongkar perlengkapan militernya di sebuah lapangan terbang komersial di Tabuk, utara Arab Saudi. Pada saat yang sama Fars juga menginformasikan bahwa pasukan Amerika telah berkumpul di perbatasan Azerbaijan-Iran.

Berita tersebut hanya berselang seminggu setelah munculnya berita yang telah dikonfirmasi pemerintah Amerika bahwa sebuah armada perang Amerika telah bergerak melintasi terusan Suez pada tgl 19 Juni berlayar ke kawasan Teluk Parsi. Amerika mengklaim bahwa manuver tersebut adalah sebuah manuver rutin. Banyak sumber menyebutkan bahwa sebuah kapal perang Israel turut serta dalam manuver tersebut.

Menurut laporan Fars pesawat-pesawat militer Israel telah membongkar perlengkapan di Tabuk setidaknya dua minggu yang lalu. Tabuk adalah sebuah daerah yang dekat dengan perbatasan Iran. Tempat ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai sebuah tempat terjadinya peperangan antara tentara Islam melawan Romawi pada jaman nabi Muhammad.

Menurut Fars, selama pembongkaran pesawat militer Israel, lapangan terbang Tabuk ditutup untuk semua penerbangan. Para penumpang yang terlantar karena penutupan bandara mendapat ganti rugi berupa uang dan penginapan di hotel bintang empat. Namun tidak ada penjelasan mengenai penutupan tersebut.


Azerbaijan

Televisi pemerintah Iran, Press TV melaporkan 23 Juni lalu bahwa tentara Iran telah meningkatkan kewaspadaannya di wilayah perbatasan dengan Azerbeijan setelah adanya laporan terjadi penumpukan pasukan Amerika di perbatasan Azerbeijan-Iran dimana pasukan Israel dilaporkan turut dalam manuver tersebut. Laporan yang sama juga dirilis oleh media massa Azerbaijan Trend News. Keberadaan militer Amerika di Azerbeijan terkait dengan isu teroris yang kini melanda negeri tersebut.

Komandan Pengawal Revolusi Iran Brigadier General Mehdi Moini mengatakan, Kamis 24 Juni, bahwa pasukannya telah dimobilisasi mengantisipasi keberadaan pasukan Amerika dan Israel di perbatasan Azerbeijan. Di antara unit militer yang dimobilisasikan ke kawasan perbatasan adalah satu unit pasukan tank dan satu unit penangkal serangan udara.