Saturday, July 23, 2016

Muqtada Al-Sadr Kembali Ancam Pasukan Amerika di Irak

Indonesian Free Press -- Ulama kharismatis Irak Muqtada al-Sadr mengancam akan menyerang pasukan Amerika yang terlibat dalam operasi pembebasan Mosul.

Seperti dilaporkan Veterans Today, Sabtu (23 Juli), pemimpin Gerakan Al-sadr itu mengeluarkan ancamannya melalui situs resminya, sebagai respon atas pertanyaan pengikutnya tentang pengumuman pemerintah Amerika yang akan mengirimkan tambahan pasukan ke Irak untuk berpartisipasi dalam operasi pembebasan  Mosul, kota terbesar kedua Irak yang jatuh ke tangan kelompok teroris ISIS tahun 2014.

“Mereka adalah sasaran kita,” tulis Muqtada al Sadr.

Menhan Amerika Ashton Carter sebelumnya mengatakan bahwa Presiden Barack Obama telah setuju untuk mengirimkan pasukan tambahan untuk mendukung pasukan Irak merebut Mosul.

Ini bukan pertama kalinya Muqtada mengeluarkan ancaman akan menyerang pasukan Amerika di Irak, paska penarikan pasukan Amerika tahun 2011 lalu. Muqtada bahkan pernah menjadi musuh nomor satu Amerika selama pendudukan Amerika di Irak dan pasukannya terlibat pertempuran sengit melawan pasukan Amerika sejak tahun 2004 hingga penarikan Amerika. Paling hebat adalah Perang Basrah tahun 2008, dimana pasukan Muqtada, Tentara Mahdi, dikeroyok oleh Amerika, Inggris dan pasukan Irak yang loyal kepada Perdana Mentri Nori al Maliki.

Saat ini Muqtada juga tengah terlibat perselisihan dengan pemerintah Irak yang dianggapnya korup dan terlalu pro-Amerika. Sejak Februari lalu ratusan ribu pendukungnya menggelar aksi duduk di kompleks pemerintahan di Baghdad menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Abedi.(ca)

Friday, July 22, 2016

Kudeta Turki dan Faktor Fethullah Gullen


Indonesian Free Press -- Presiden Turki Tayyep Erdogan, mungkin saja telah mengetahui rencana kudeta dan ia tidak mencegahnya. Karena, ia tahu kudeta hanya dilakukan oleh satu faksi dalam militer Turki, sementara ia masih mengendalikan seluruh aparat inteligen, polisi, Tentara ke-7 yang loyal dan ditugaskan menggempur gerilyawan Kurdi, dan lebih penting lagi jutaan pendukung fanatiknya yang siap mengorbankan nyawanya demi melawan 'antek-antek zionis NATO'.

Adapun, pemberontak terdiri dari unsur-unsur utama Angkatan Udara yang basis utamanya di Pangkalan Udara NATO di Incirlik, Pasukan Pengawal Perbatasan (Gendermerie), dan unsur-unsur Tentara ke-3 yang menjadi bagian dari unit reaksi cepat NATO yang berbasis di dekat Istanbul. Namun, meski mereka cukup kuat dan mampu menduduki Istanbul dan Ankara dengan kendaraan-kendaraan lapis baja, dan pesawat-pesawat F-16 serta helikopter-helikopter Cobra mereka membom Gedung Parlemen, menyerang Istana Kepresidenan, Markas Besar Militer dan markas inteligen pendukung Erdogan, mereka tidak memiliki kepemimpinan yang kuat, sehingga gamang dalam segala tindakan. Mereka bingung, apakah harus menembak ataukan tidak ketika ribuan pendukung Erdogan yang nekad mendatangi mereka.


Di sisi lain, Erdogan telah mempersiapkan segalanya untuk menghadapi kudeta. Pada kesempatan pertama menerima informasi terjadinya kudeta dan pemberontak belum sempat menyerbu hotel tempatnya menginap dalam liburan akhir pekan di Bodrum, Erdogan sudah mengudara dengan pesawat kepresidenannya, yang dilangkapi peralatan elektronik canggih yang memungkinkannya tetap memegang komando tanpa diketahui keberadaannya oleh pesawat-pesawat tempur pemberontak.

Pada pukul 1.43 dini hari Sabtu (16 Juli) pesawat Gulfstream 4 Erdogan mengudara dan pukul 2.00 dini hari Tentara ke-7 menyatakan loyalitas kepada Erdogan, disusul kemudian pernyataan Perdana Menteri Binali Yildirim tentang kegagalan kudeta. Maka ketika pada Sabtu pagi Erdogan mendarat di Bandara Internasional Istambul, yang sebelumnya dikuasai pemberontak, tidak satu tembakanpun terdengar.

Itu terjadi setelah pidato Erdogan melalui Face Time yang dibuat sesaat sebelum meninggalkan Bodrum berhasil disiarkan melalui CNN Turkey, kemudian disebarluaskan melalui pengeras suara masjid-masjid di seluruh Turki, dan mampu menggerakkan ribuan pendukung Erdogan turun ke jalanan dan melakukan gerakan kontra-kudeta bersama aparat pendukung Erdogan.

"Maka, Tuhan bekerja dengan cara misterius. Seruan Erdogan diikuti oleh para pemuda Turki, bahkan mereka yang sebelumnya melakukan aksi protes terhadapnya di Gezi Park, dimana mereka ditembaki polisi. Mereka berfikir, boleh saja Erdogan dan pemerintahan AKP-nya menjijikkan, namun mereka akan mendukungnya melawan “kudeta militer fasis. Belum lagi disebutkan bahwa setiap masjid di seluruh Turki menyebar-luaskan seruan Erdogan," tulis wartawan senior Pepe Escobar di media Rusia Sputnik News, 17 Juli lalu.

Pemerintah Turki tengah terlibat ketegangan diplomatik dengan Amerika setelah menuduh Fethullah Gullen, tokoh oposisi Turki yang dilindungi Amerika, sebagai otak dari kudeta gagal tersebut. Tuduhan tersebut cukup mengejutkan karena Gullen dikenal tidak memiliki kedekatan dengan militer, dan bersama-sama Erdogan pernah berjuang bersama melawan dominasi militer Turki. Namun sebuah pengakuan Mayjend (Purn) Ahmet Yavuz kepada Sputnik News, 20 Juli.

Menurut pengakuan mantan perwira tinggi militer Turki itu, militer Turki tidak peduli dengan adanya infiltrasi Fethullah Gulen dalam tubuh militer Turki. Pengakuan itu disampaikan terkait dengan tuduhan Turki terhadap Gullen terkait dengan kudeta gagal tersebut.

"Setiap orang menunjukkan sikap tidak peduli, termasuk saya. Jika ada masalah, saya harus bertanya pada diri sendiri sejauh mana tanggungjwab saya," kata Yavuz.

Pengakuan tersebut secara tersirat juga disetujui oleh Mantan Kastaf Angkatan Bersenjata Turki Jendral Necdet Ozel, yang mengatakan bahwa para perwira pendukung Gulen telah berhasil menyembunyikan diri dengan baik.

"Kalau tidak kami tentu sudah memecatnya," kata Ozel.

"Kami telah berbicara tentang kelompok pendukung Gullen yang berkembang di tubuh militer, namun tidak ada yang mendengarkan kami," kata Yavuz.

Menurut pendapat Yavuz, para pendukung Gullen berhasil menyusuk ke dalam militer Turki karena apa yang dialami militer Turki selama 10 tahun terakhir.

"Angkatan Bersenjata Turki telah capai dengan berbagai tuduhan palsu tentang spionase dan rencana kudeta. Terkait gerakan Gullen, keberhasilannya menyusup karena keterbatasan inteligen militer Turki," kata Yavuz menyebut aksi-aksi pembersihan terhadap militer yang dilakukan pemerintahan Erdogan yang telah membuat militer lemah.(ca)

Pelajaran dari Turki untuk Indonesia

Indonesian Free Press -- Upaya kudeta yang gagal di Turki pekan lalu menimbulkan reaksi luas di masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat mendukung kudeta tersebut dan menolak kepemimpinan Presiden Tayyep Erdogan, sementara sebagian lainnya menentang kudeta dan mendukung Presiden Erdogan.

Menariknya adalah, mayoritas pendukung Presiden Erdogan adalah mereka yang dalam Pilpres 2014 lalu menolak Jokowi, sementara yang menentang Presiden Erdogan adalah mereka yang umumnya pendukung Jokowi. Meski untuk golongan yang kedua ini banyak juga orang-orang yang anti-Jokowi, mengingat banyaknya kontroversi yang melingkupi Erdogan, terutama keterlibatannya dalam rencana zionis dalam menyerang Suriah dan bersekutu dengan teroris ISIS.

Hal yang menarik lainnya terkait dengan kudeta di Turki tersebut adalah munculnya pemikiran di masyarakat tentang hal yang sama, yaitu kudeta militer, di Indonesia. Beberapa pihak mencoba mengetahui pandangan masyarakat Indonesia tentang 'pilihan' kudeta militer terhadap pemerintahan Jokowi yang dianggap telah memimpin negara ini secara 'tidak baik'.

Hasilnya, mayoritas masyarakat Indonesia mendukung kudeta militer di Indonesia sebagai solusi permasalahan bangsa yang dianggap justru semakin membesar paska terpilihnya Presiden Jokowi. Kami tidak ingin menampilkan beberapa jajak pendapat yang digelar sejumlah masyarakat, termasuk aktifis PKS Jonru Ginting. Namun cukup kiranya jajak pendapat yang digelar Indonesia Development Monitoring, yang dimuat di situs Rakyat Merdeka, 1 April tahun lalu.

"Joko Widodo sudah tidak layak memimpin Indonesia karena kebijakan ekonomi yang dibuatnya terbukti menyulitkan masyarakat ekonomi kelas menengah dan bawah. Jika Jokowi tetap dipertahankan, kehidupan masyarakat akan semakin sulit dan tidak akan menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Begitu antara lain kesimpulan hasil jejak pendapat yang dirilis Indonesia Development Monitoring terkait kinerja pemerintahan Jokowi selama lima bulan ini. Direktur Bidang Ekonomi dan Bisnis Indonesia Development Monitoring, Iwan Sumule menjelaskan pengumpulan hasil pendapat dilakukan secara metode kualitatif dengan wawancara tatap muka kepada masyarakat yang dalam jejak pendapat ini dijadikan sebagai informan," tulis Rakyat Merdeka.

Isyu kudeta beberapa waktu lalu sempat menyembul ke permukaan, setelah munculnya surat terbuka seorang perwira menengah TNI kepada Ketua Lemhanas Letjend (Pur) Agus Wijoyo yang dianggap mendukung kemunculan kembali PKI. Hal ini menyusul kontroversi kebangkitan PKI yang justru dimobilisir oleh pemerintah. Selain Agus Wijoyono yang menggelar 'Simposium Nasional Kebangkitan PKI', Menkopolhukam juga membuat langkah kontroversi untuk mendukung kebangkitan PKI dengan rencananya membongkar makam-makam korban kerusuhan sosial paska G-30-S/PKI.

Presiden Jokowi sendiri diketahui turut mengeluar pernyataan yang dianggap mendukung kebangkitan PKI dengan melarang aparat keamanan melakukan sweeping terhadap para aktifis neo-PKI.

Namun, masyarakat dan TNI merespons isyu kebangkitan PKI itu dengan keras, sehingga memaksa regim Jokowi mundur ke belakang karena ketakutan isyu ini menjadi bola salju yang bisa menggulung kekuasaan Jokowi.

Ada beberapa catatan tentang respons keras TNI ini. Setidaknya Kepala Staff TNI-AD, Pangkostrad dan Menhan Letjend Ryamizard Ryacudu mengecam pernyataan pernyataan pejabat regim Jokowi yang dianggap sebagai biang kerok isyu kebangkitan PKI.

Senada dengan TNI, Kapolri juga menolak perintah Jokowi untuk membiarkan aktifitas neo-PKI. Jendral Polisi Badrodin Haiti yang berasal dari Jawa Timur tentu memahami sejarah kekejaman PKI dan bahaya dari isyu kebangkitan PKI. Dengan tegas ia menindak penyebaran simbol-simbol PKI.

Jika dibiarkan tanpa perlawanan, isyu PKI selain menyakitkan perasaan rakyat Indonesia yang pernah merasakan kekejaman PKI, juga akan menyandera bangsa Indonesia dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan dan akan menghabiskan energi bangsa untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.

Tanpa bermaksud memperpanjang masalah isyu PKI, TNI yang juga 'jengkel' dengan pemerintahan Jokowi yang jelas-jelas telah mengancam keamanan nasional dengan kebijakannya membuka pintu lebar-lebar bagi pekerja Cina, juga memperlihatkan pembangkangan terhadap pemerintah dalam isyu terorisme. Mengabaikan polisi yang mendapat jatah penanganan teroris, TNI menembak teroris Santoso yang selama berbulan-bulan menjadi 'komoditi politik' isyu terorisme. Tidak berhenti di situ, TNI juga mengumumkan akan meningkatkan operasi penanganan teroris di Poso.

Selain daripada itu, TNI juga telah cukup berpengalaman dalam masalah kudeta terhadap pemerintah. Pada jaman Presiden Soekarno, sekelompok prajurit TNI pernah mengancam presiden dengan mengarahkan meriam-meriam ke Istana Negara. Tumbangnya Presiden Abdurrahman Wahid juga ditentukan oleh pengerahan tank-tank TNI ke depan Istana Negara. Pemberontakan PRRI/Permesta semasa pemerintahan Soekarno sepenuhnya juga dilakukan oleh para tentara.

Lalu, jika TNI benar-benar melakukan kudeta, 'skenario' seperti apakah yang akan terjadi.

Kudeta di Turki mengalami kegagalan setidaknya karena tidak adanya dua faktor, yaitu kepemimpinan yang tidak kuat dan sasaran yang tidak efektif. Ketidak adanya kepimpinan yang menonjol, para prajurit mengalami kegamangan untuk menindak gerakan-gerakan anti-kudeta dari regim penguasa yang akhirnya bisa berujung fatal bagi para pelaku kudeta. Sementara tidak adanya sasaran yang tepat memungkinan regim yang dikudeta mampu melakukan konsolidasi kekuatan dan melakukan serangan balik.

Dalam kasus Turki, para pelaku kudeta membiarkan sarana-sarana vital, terutama media massa, telekomunikasi dan internet, tetap berfungsi. Hal ini memungkinkan Presiden Erdogan menggalang kekuatan pendukung-pendukungnya melalui media internet. Media-media massa yang tetap berjalan juga membuat para pendukung Erdogan tetap mengetahui situasi terakhir untuk menentukan langkah-langkah berikutnya.

Biarkan kami membayangkan bagaimana kudeta militer terjadi di Indonesia. Sebelum melakukan kudeta, Panglima TNI atau pejabat militer di bawahnya yang akan memimpin kudeta jika pejabat militer yang lebih tinggi tidak mendukung kudeta, akan meminta dukungan pada tokoh-tokoh nasional. Dalam kondisi saat ini, Prabowo Subiyanto, mantan presiden SBY dan mantan presiden Habibie adalah tokoh-tokoh utama yang akan dimintai dukungannya, sebagaimana tokoh-tokoh agama terutama Islam.

Kami tidak yakin SBY dan Habibie akan mendukung kudeta, tapi dukungan Prabowo dan tokoh-tokoh Islam, sudah cukup. Selanjutnya, setelah merasa cukup dukungan, TNI segera mengerahkan kekuatannya untuk menguasai sarana-sarana vital seperti bandara dan jalan-jalan utama ibukota, juga media massa milik pemerintah maupun swasta. Sasaran utamanya tentu saja adalah Istana Negara dengan TNI berusaha mengambil alih penanganan keamanan Istana dari Paspampres. Boleh jadi Paspampres melawan dan terjadi tembak-menembak, namun TNI tetap bisa menguasai istana dengan memblokadenya dari dunia luar dan memotong jalur komunikasi keluar. Dengan kata lain, presiden menjadi tahanan rumah.

Selanjutnya, TNI akan mengumumkan negara dalam kondisi darurat perang dan pengambil alihan kekuasaan untuk diserahkan kepada dewan pemerintahan peralihan yang terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat sipil dan militer yang akan menjalankan pemerintahan sementara sampai diselenggarakannya pemilu.

Untuk mendapatkan dukungan internasional, TNI juga mengumumkan kecurangan-kecurangan pemilu 2014 lalu selain alasan pemerintahan Jokowi yang tidak becus. Jokowi baru saja melakukan langkah blunder dengan melakukan campur tangan penegakan hukum dengan melarang penyidik memperkarakan 'kebijakan' Gubernur. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk melindungi Gubernur DKI Ahok yang terjerat dalam beberapa perkara korupsi. Namun hal ini menjadi preseden sangat buruk bagi bangsa ini karena selain merusak sistem hukum, presiden telah menjadi pelindung para koruptor, karena sebagian besar pelaku korupsi adalah aparat pemerintah termasuk kepala daerah seperti Gubernur.

Bila seruan presiden itu dituruti aparat penegak hukum, maka para kepala daerah yang lebih rendah seperti Bupati, Camat dan Lurah, tentu juga berhak mendapatkan perlindungan hukum.

Saya setuju bahwa mayoritas rakyat INdonesia mendukung kudeta. Karena itu, dengan kepemimpinan TNI yang solid dan dukungan publik yang kuat maka hampir pasti kudeta ini akan berjalan lancar. Dunia internasional pun, demi melihat kenyataan ini, akan mendukung.

Kudeta memang tidak menyenangkan karena mencerminkan adanya masalah serius di sebuah negara. Tapi kudeta tetap dibenarkan bila memang didukung rakyat, karena rakyatlah pemilik sebenarnya sebuah negara.(ca)

Wednesday, July 20, 2016

21 Ribu Guru Dipecat Setelah Kudeta Gagal di Turki

Pembersihan besar-besaran oleh rezim Pemerintah Presiden Turki Tayyip Erdogan berlanjut sebagai “ganjaran” atas upaya kudeta militer. Kali ini, Turki mencabut izin 21.000 guru dan memerintahkan 1.577 dekan mengundurkan diri.

Data itu diungkap seorang pejabat Departemen Pendidikan kepada Reuters. Para pekerja di sektor pendidikan itu jadi target pembersihan oleh rezim Erdogan karena dicurigai terkait dengan ulama Fethullah Gulen yang dituduh dalang upaya kudeta.


Gulen saat ini tinggal di pengasingan di Pennsylvania, Amerika Serikat. Pemerintah Turki secara resmi sudah meminta agar Gulen dideportasi ke Ankara.

”Lisensi dari 21.000 guru yang bekerja di lembaga-lembaga swasta telah dibatalkan. Bahwa (dugaan) sebagian besar terkait dengan kegiatan teroris telah dipertimbangkan,” kata pejabat kementerian itu yang menolak diidentifikasi, Rabu (20/7/2016).

Laporan lain dari kantor berita yang dikelola negara Turki, Anadolu, menyatakan bahwa Kementerian Pendidikan telah memecat 15.200 tenaga pendidik.

Sementara itu, Dewan Pendidikan Tinggi Turki telah memerintahkan agar 1.577 dekan di seluruh perguruan tinggi—baik negeri maupun swasta—di seluruh negeri untuk mengundurkan diri.

Selain itu, 399 karyawan di Kementerian Keluarga dan Sosial juga telah telah dilucuti dari tanggung jawab mereka pada hari Selasa kemarin. Sebanyak 257 orang yang bekerja di kantor perdana menteri juga dipecat.

Cara Erdogan Lolos dari Bidikan Pesawat Tempur F-16

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan naik pesawat jet pribadi saat terbang pulang dari Marmaris ke Istanbul beberapa jam setelah kudeta militer berlangsung dibidik oleh dua pesawat jet tempur F-16. Namun, pesawat Erdogan tiba-tiba menyelinap hilang dari bidikan jet tempur yang dipiloti militer pengkudeta.

Dua jet tempur F-16 yang membidik pesawat jet mewah Erdogan Gulfsream sejatinya sudah siap dengan tembakan rudal Sidewinder.
Namun, pilot pengkudeta tidak sempat menembakannya dalam momen langka yang hanya beberapa menit itu.

Arda Mevlutoglu, seorang wartawan Turki yang mengkhususkan diri di bidang militer memberikan analisa lolosnya Erdogan dari upaya pembunuhan oleh jet-jet tempur canggih itu.

Menurutnya, pilot Presiden Erdogan sudah mempunya rencana cerdik. Sang pilot, katanya, mengalihkan transponder radio pesawat untuk dicocokkan dengan sebuah pesawat sipil, sehingga pesawat Gulfstream secara efektif "menyamar" sebagai pesawat sipil. Hal ini terjadi, karena saat itu langit di dekat Istanbul juga ramai lalu lalang pesawat sipil atau pesawat komersial.

Ketika penyamaran itu sukses, muncul pesawat pesawat tempur yang dipiloti pasukan loyalis Erdogan. Pilot tempur itu lantas mengejar dua pesawat jet tempur F-16 pemberontak yang sempat membidik pesawat Erdogan.

Erdogan sendiri ketika ditanya soal ancaman penembakan jatuh pesawatnya saat kudeta, menolak menjelaskan “tipu muslihat” pilot pesawatnya. Dia hanya berujar bahwa hanya ada “kecelakaan komunikasi”.

Kudeta militer yang berakhir dengan kegagalan telah menewaskan hampir 300 tentara pemberontak, pasukan loyalis, polisi dan warga sipil. Ketika kudeta pecah, kota Istanbul mirip medan tempur, di mana bermunculan jet tempur, tank dan beberapa helikopter militer.

Setelah Erdogan lolos dari upaya pembunuhan, para pasukan loyalisnya membalas dengan menyerang pesawat-pesawat pemberontak. Laporan sejumlah media Turki menyebut pilot-pilot loyalis Erdogan menembak jatuh helikopter pemberontak dan mengebom landasan pacu untuk mencegah pesawat pemberontak lainnya melakukan lepas landas.

Ada beberapa contoh dalam sejarah kudeta militer di mana pesawat tempur canggih memainkan peran penting. Kini, pasca-kudeta militer gagal, Angkatan Udara Turki—salah satu yang terbesar dan paling modern di Eropa—dalam proses perombakan besar-besaran, sehingga mau tidak mau kekuatan militer Turki akan berkurang.

”Tampaknya para pemberontak sangat teratur, terutama di Angkatan Udara,” kata Arda Mevlutoglu, mengacu pada langkah militer Turki yang memilih opsi Angkatan Udara sebagai “motor” kudeta, kepada The Daily Beast, Selasa (19/7/2016).

Pasukan Anti-Erdogan setidaknya menguasai empat jet tempur F-16, empat KC-135 tanker udara, sepasang helikopter Blackhawk , enam pesawat angkuat C-160 dan C-130 dan banyak pesawat militer lain. Data ini belum termasuk laporan 42 helikopter militer Turki yang hilang dari markas dan sejumlah kapal Angkatan Laut yang bertugas di Laut Merah.

Ahli penerbangan Italia, David Cenciotti, menuliskan analisa situasi lalu lintas kontrol udara Ankara dan sekitarnya saat kudeta pecah, dalam sebuah blog di The Aviationist . Menurutnya, pukul 22.00 pada malam hari tanggal 15 Juli 2016, sepasang jet tempur F-16 bersenjata telah lepas landas dari pangkalan udara Akinci, sebelah utara dari Ankara.

Pengendali lalu lintas udara, tampaknya berpihak pada pemberontak, dengan berkomunikasi via radio dengan rekannya di bandara Esenboga di Ankara. Menurutnya, ketika jet-jet F-16 pemberontak terbang tinggi di atas Ankara, koordinasi dengan kontrol lalu lintas udara lokal tidak akan mungkin terjadi.

Seorang mantan perwira militer Turki kepada Reuters, juga pernah mengungkap ancaman dua jet tempur F-16 pemberontak terhadap pesawat Erdogan saat dalam penerbangan pulang dari Marmaris ke Istanbul.

”Setidaknya dua F-16 melecehkan pesawat Erdogan ketika berada di udara,” katanya. Mantan perwira militer yang memiliki pengetahuan tentang peristiwa itu, mengaku tidak tahu mengapa dua jet tempur F-16 pemberontak itu tidak menembak pesawat Erdogan.

Sebaliknya, pesawat Presiden Turki itu mencapai tujuan sebelum fajar tanpa mengalami kerusakan pada hari Sabtu. ”Mengapa mereka tidak menembak itu adalah sebuah misteri,” imbuh mantan pejabat militer Turki yang menolak diidentfikasi itu. - Sindo

India Kirim 100 Tank T-72 ke Perbatasan China

india-kirim-100-tank-t-72-ke-perbatasan-china
Ketegangan diantara dua negara, China dan India, semakin memanas. Terbaru, India mengerahkan hampir 100 tank ke wilayah yang berbatasan dengan China.

Dalam upaya untuk meningkatkan kehadiran militer di daerah, India telah mengirimkan tank T-72 buatan Rusia ke wilayah Ladakh yang berbatasan dengan China.
"Lembah-lembah datar yang luar dai sepanjang pegunungan memingkinkan pergerakan lapis baja, selain itu, telah terjadi peningkatan tingkat kekuatan di perbatasan," ujar seorang pejabat militer yang tidak disebutkan namanya kepada NDTV.

Tank-tank yang dikirimkan telah mengalami peningkatan signifikan yang lebih baik untuk menghadapi iklim di wilayah itu. "Kami telah membeli aditif khusus dan pelumas untuk medang dengan ketinggian tinggi seperti diesel khusus musim dingin dan aditif untuk sistem pelumasan yang mencegah pembekuan," kata Kolonel Vijay Dalal.

Seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (21/7/2016), ini menandai resimen ketiga yang ditempatkan di Ladakh oleh India sejak 2014. Ketegangan diantara ke dua negara tetangga ini terjadi baru-baru ini. Awal bulan ini, Angkatan Laut India mengerahkan tiga kapal perang ke Laut China Selatan.

"Kapal-kapal tersebut tengah melakukan kunjungan untuk melakukan latihan dengan Angkatan Laut Malaysia dengan tujuan untuk meningkatkan interoperabilitas dalam komunikasi serta prosedur SAR," bunyi pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan India.

Malaysia saat ini bertentangan dengan China atas klaim teritorial di Selat Malaka. Sedangkan Beijing dan New Delhi bersaing dalam mendapatkan kerjasama dengan Nepal. Perdana Menteri Nepal Khadga Prasad Sharma Oli telah menyatakan minat dalam bekerjasama lebih erat dengan pemerintah Cina, namun India tidak mungkin menyerahkan pengaruhnya atas Kathmandu. - Sindo

Monday, July 18, 2016

Inilah Pendorong Kudeta Turki

Indonesian Free Press -- Militer Turki, setidaknya hingga saat ini dan beberapa tahun ke depan, masih menjadi 'saingan' regim Tayyep Erdogan dan gerakan Islam modern AKP. Idiologinya yang sekuler sangat bertentangan dengan AKP yang menjadi simbol kebangkitan Khilafah Islam Turki, yang menginginkan Islam kembali menjadi dasar negara Turki.

Erdogan dan para pemimpin AKP memang berkali-kali mengatakan kesetiaan pada dasar negara sekularisme Turki, namun semua orang juga tahu, itu hanyalah 'lips service' belaka untuk tidak memberi alasan militer Turki memberontak.

Sampai sebelum percobaan kudeta militer akhir pekan lalu, posisi politik Turki masih pada 'keseimbangan' antara kekuatan sekuler di satu sisi dengan AKP-Islam modern di sisi lainnya. Juga antara AKP dengan para penganut Fethullah Gullen, yang pada awalnya adalah sekutu Erdogan dalam gerakan Islam modern Turki, dan kini menjadi asset Amerika dengan menetap di negara Paman Sam. Namun ketika kekuatan dari luar turut masuk bergerak ke dalam Turki, 'keseimbangan' itupun runtuh.

Dan itu terjadi setelah blok Amerika-Saudi-Israel, yang sebelumnya bersama Turki menyerang Suriah, mendorong militer dan pendukung Fethullah Gullen untuk memberontak.

Harus dicatat bahwa pemimpin kudeta militer minggu lalu adalah Jendral Bekir Ercan Van, komandan pangkalan udara Incirli, yang merupakan pangkalan udara NATO dan menampung hulu-hulu ledak nuklir NATO.

Seperti diketahui, setelah 5 tahun setia dengan rencana Amerika-Saudi untuk menggulingkan regim Bashar al Assad yang pro-Iran dengan regim baru yang pro Amerika, Presiden Erdogan mulai berubah haluan akhir-akhir ini dengan mendekati Suriah dan Rusia. Hal itulah yang membuat Amerika dan Saudi marah dan dengan pengaruhnya mendorong militer dan para Gulenis untuk memberontak.

Hal ini bisa dilacak para pernyataan Menlu Saudi Adel al-Joubeir dua hari sebelum kudeta militer yang berlangsung Jumat malam (15 Juli) hingga Sabtu siang (16 Juli). Setelah pertemuan dengan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Susan Rice di Washington.

"Saya heran dengan posisi Erdogan. Turki tahu bahwa mereka tidak bisa mengalahkan oposisi dengan mudah. Hari ini, Turki terancam oleh orang-orang Kurdi. Jika Erdogan berbuat kesalahan, ia akan membawa negaranya kepada kehancuran. Dalam situasi ini Turki tidak akan mentolerir serangan-serangan oposisi," kata al-Joubeir kepada wartawan seperti dilaporkan Veterans Today, Kamis (15 Juli).

"Orang-orang Kurdi dan 'pemberontak' Suriah memiliki kekuatan yang bisa menggulingkan regim Bashar Assad dan melawan Erdogan. Meski hal ini belum sepenuhnya disetujui dan saya harap salah," tambah al-Joubeir.

"Kami telah memanggil Dubes Turki untuk meminta penjelasan atas masalah ini dan kami menunggu pernyataan resmi dari Ankara," katanya lagi.

Pernyataan tersebut berkaitan dengan pernyataan pemerintah Turki tentang rencana normalisasi hubungan dengan Suriah, setelah sebelumnya Turki juga melakukan normalisasi dengan Rusia. Jelas sekali bahwa pernyataan Al Jubeir tersebut adalah 'ancaman' kepada Turki karena perubahan sikap Turki.(ca)