Friday, November 8, 2013

TENTANG PENYADAPAN AMERIKA

Ketika Jonathan Pollard, warga Amerika keturunan yahudi yang bekerja di AL Amerika, ditangkap aparat keamanan setelah ketahuan melakukan kegiatan mata-mata untuk kepentingan Israel tahun 1985, pemerintah Amerika melalui menlu George Schultz menelepon perdana menteri Israel Shimon Peres menyampaikan protes keras Amerika dan meminta penjelasan pemerintah Israel tentang hal itu. Tidak perlu waktu yang lama, Simon Peres pun langsung menyatakan permintaan ma'af.

"Memata-matai Amerika Serikat adalah sangat bertentangan dengan kebijakan kami. Kegiatan seperti ini, sejauh yang telah terjadi, adalah salah, dan pemerintah Israel meminta ma'af." Demikian pernyataan resmi yang disampaikan langsung oleh Simon Peres terkait insiden penyadapan yang dilakukan Pollard.

Tidak hanya itu, dalam pernyataan resmi yang disiarkan ke seluruh dunia itu Peres juga berjanji akan memberi sanksi keras kepada pihak-pihak di dalam negeri Israel yang terlibat dalam kegiatan mata-mata itu, termasuk membubarkan secara permanen lembaga-lembaga yang terlibat demi menjamin kegiatan seperti itu tidak terulang lagi.

Itu adalah sikap Amerika kepada Israel ketika Israel ketahuan melakukan kegiatan mata-mata di Amerika. Padahal Israel adalah "anak emas" Amerika. Ketika terungkap sebuah tindakan ilegal yang dilakukan Israel terhadap Amerika, maka mau tidak mau Amerika harus melakukan tindakan keras kepada Israel. Demikian pula sebaliknya dengan Israel, sang anak emas. Israel bisa saja berdalih macam-macam untuk menolak tuduhan Amerika, toh Israel tahu, pemerintah Amerika tidak akan benar-benar "menghukum" Israel. Namun Israel juga tahu, jika Israel mengelak, maka pemerintah Amerika akan menjadi korban kemarahan rakyatnya yang pada akhirnya akan merugikan Israel sendiri. Misalnya saja, bisa-bisa rakyat, melalui Congress atau melalui aksi-aksi demonstrasi melakukan tekanan politik yang bisa merugikan hubungan Israel dengan Amerika.

Maka Israel pun terpaksa meminta ma'af. Tidak peduli apakah permintaan ma'af serta janji melakukan berbagai tingakan pencegahan itu serius, atau tidak. Dan pemerintah Amerika pun terpaksa menuntut penjelasan dan permintaan ma'af Israel, tidak peduli apakah Israel akan bersungguh-sungguh memenuhi tuntutannya, karena kalau tidak melakukan tuntutan itu pemerintah akan dikecam dan diolok-olok rakyatnya, atau bahkan dikudeta rakyatnya.

Lalu apa yang dilakukan pemerintah Indonesia yang dipimpin Presiden SBY, setelah terbukti Amerika dan Australia melakukan kegiatan mata-mata di Indonesia?

Berbeda dengan pemerintah Amerika dalam kasus Pollard, Presiden SBY justru menunjukkan sikap yang sangat tidak wajar yang justru menimbulkan kebingungan rakyat Indonesia. Atas pelanggaran serius terkait kedaulatan negara itu Presiden SBY hanya meminta Amerika dan Australia untuk "tidak mengulangi perbuatannya". Tidak ada sekedar tuntutan permintaan ma'af, apalagi sanksi diplomatik yang dikeluarkan oleh SBY.

Saling memata-matai antar negara, bahkan antar sesama negara sahabat, adalah hal yang wajar. Namun kalau ketahuan, maka negara yang dimata-matai "berkewajiban" untuk menuntut penjelasan dan permintaan ma'af, dan "kewajiban" negara yang memata-matai adalah meminta ma'af.

Maka sangat wajar jika sebagian rakyat curiga bahwa Presiden SBY "terlibat" dalam aksi spionase tersebut. Sebagaimana dikatakan beberapa narasumber dalam acara talkshow di TVOne hari Kamis malam (7/11) yang membahas isu penyadapan Amerika dan Australia di Indonesia. Jika Presiden Indonesia "diam" atas kasus penyadapan itu, maka hanya ada 2 kemungkinan pada diri presiden: kharakter yang lemah, atau terlibat dalam penyadapan tersebut alias menjadi pengkhianat bangsa untuk melayani kepentingan Amerika dan Australia.

Saya (blogger) tidak ingin turut menuduh Presiden SBY dengan tuduhan yang sangat serius itu, namun saya tidak bisa mengelak untuk mengkritik  beliau sebagai "pemimpin yang tidak berkharakter". Saya rindu dengan sosok pemimpin seperti Bung Karno yang berani berkata "Go to hell with your aids!", ketika harga diri bangsa dilecehkan Amerika.

Wednesday, November 6, 2013

IRAN PELOPOR PEMBONGKARAN JARINGAN MATA-MATA AMERIKA

Para pemuda Iran adalah yang pertama kali membongkar jaringan mata-mata Amerika di dunia, ketika mereka menduduki kantor kedubes Amerika di Teheran tgl 4 November 1979. Mereka menamakan kantor kedubes Amerika di Iran sebagai "goa persembunyian mata-mata" (den of espionage). Saat sekarang negara-negara di dunia, termasuk sekutu Amerika sendiri, dikejutkan dengan adanya jaringan mata-mata Amerika di negara mereka, Iran telah lebih dahulu berjalan maju sejauh 30 tahun.

Hal itu dikemukakan oleh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei pada acara peringatan pendudukan kantor kedubes Amerika di Teheran, Senin (4/11).

"Pada hari itu, para pemuda kita menjuluki kedubes Amerika sebagai "goa persembunyian mata-mata", dan saat ini, setelah lebih dari 30 tahun, kantor kedubes Amerika di negara-negara Eropa yang adalah sekutu Amerika, disebut sebagai sarang mata-mata. Ini membuktikan bahwa para pemuda kita lebih maju 30 tahun dibanding penanggalan dunia," kata Khamenei.

"Pendekatan arogan yang dilakukan Amerika telah menyebabkan banyak negara tidak lagi mempercayai dan bahkan membencinya. Lebih jauh, pengalaman membuktikan bahwa negara-negara dan pemerintah-pemerintah yang mempercayai Amerika, akan dirugikan olehnya, bahkan jika mereka adalah sekutu Amerika sendiri," tambah Khamenei. Lebih jauh Khamenei mengingatkan watak Amerika yang tidak bisa dipercaya, dengan menyebutnya sebagai "musuh yang tersenyum, namun tidak bisa dipercaya." Ia me-refer pada langkah-langkah politik Amerika yang "mengesankan" tengah berupaya melakukan pendekatan damai dengan Iran, terutama dalam isu nuklir Iran. Dengan pernyataannya itu secara tidak langsung ia mengingatkan pemerintahan Presiden Rouhani untuk berhati-hati terhadap sikap Amerika.

“Di satu sisi mereka tersenyum kepada kita dan mengajak dialog, namun tiba-tiba saja mengatakan "semua pilihan ada di meja"," kata Khamenei.

"Saya tidak optimis tentang perundingan (nuklir) yang tengah berlangsung, karena kita tidak mengetahui apakah kita akan meraih apa yang kita harapkan. Namun kita percaya bahwa tidak ada salahnya melakukan perundingan selama kita waspada dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi," tambah Khamenei.

Menurut Khamenei isu nuklir hanya merupakan alasan awal saja untuk menekan Iran. Jika Iran menyerah dalam masalah ini, maka isu-isu lain akan terus ditimpakan kepada Iran. Misalnya saja isu rudal-rudal Iran, permusuhan Iran terhadap zionisme Israel serta dukungan Iran terhadap gerakan "Perlawanan" anti-Israel di luar Iran. Meski demikian Khamenai menyerukan rakyat Iran untuk menghargai sikap pemerintah yang bersedia melakukan perundingan nuklir bersama negara-negara anggota tetap DK PBB plus Jerman, yang saat ini masih terus berlangsung. Bagaimana pun perundingan itu akan memberikan pengalaman baru yang berharga bagi negara Iran untuk menganalisa segala masalah yang dihadapi, sebagaimana pengalaman yang diperoleh dengan kesediaan Iran menghentikan program pengayaan uranium antara tahun 2003 sampai 2004.



REF:
"Iran youths realized truth about US decades ago: Leader"; Press TV; 3 November 2013

Tuesday, November 5, 2013

MOSSAD DAN CIA PUN KEOK DI HADAPAN HIZBOLLAH

Di tengah hiruk-pikuk tentang isu penyadapan yang dilakukan inteligen Amerika terhadap negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia dan sekutu-sekutu dekatnya sendiri yang dikenal maju, muncul kabar mengejutkan tentang kegagalan CIA melakukan penetrasi inteligen terhadap Hizbollah. Padahal Hizbollah hanyalah sebuah LSM di satu negara kecil dan relatif tertinggal bernama Lebanon.

Kabar mengejutkan ini muncul bertahun-tahun setelah Hizbollah diketahui berhasil melakukan penetrasi inteligen terhadap Israel, negara yang dianggap memiliki inteligen paling maju di dunia. Pada tahun 1997, misalnya, Hizbollah berhasil melacak sebuah gerakan militer satu regu pasukan Israel dan kemudian melakukan serangan dadakan terhadapnya hingga menewaskan 12 pasukan komando elit Israel. Hizbollah juga berhasil mendapatkan data penerbangan drone-drone Israel di Lebanon, termasuk foto-foto udara yang dihasilkan drone-drone itu, yang dilakukan Israel menjelang serangan bom terhadap mantan perdana menteri Rafik Hariri, yang mengindikasikan kuat bahwa Israel berada di belakang serangan teroris itu.

Lebih mengejutkan lagi, beberapa waktu lalu sebuah drone Hizbollah berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel, melayang berpuluh-puluh kilometer melewati tempat-tempat strategis Israel hingga mendekati reaktor nuklir Dimona serta berhasil mengirimkan data-data penting Israel ke markas Hizbollah dan Iran. Tentu saja hal ini tidak mengecilkan kecanggihan inteligen Israel yang "berhasil" melakukan serangkaian serangan mematikan terhadap beberapa pimpinan Hizbollah di luar negeri, atau serangkaian serangan bom mobil di wilayah-wilayah kekuasaan Hizbollah beberapa waktu terakhir.

Seorang mantan pejabat inteligen Israel mengakui ketidakmampuan Amerika dan Israel untuk memata-matai Hizbullah. Kantor berita ISNA pada hari Sabtu (2/11) melaporkan pernyataan Amos Gilboa, mantan Kepala Departemen Riset Badan Intelijen Militer Israel tentang kekebalan inteligen Hizbullah dari serangan Amerika dan Israel. Menurutnya seluruh upaya Washington untuk memata-matai kelompok ini menemui jalan buntu.

Laporan mengejutkan itu juga terjadi setelah Hizbollah dalam setahun terakhir ini berhasil membongkar jaringan mata-mata Israel di Lebanon, menangkap beberapa mata-mata Israel dan menyita peralatan-peralatan inteligen canggih Israel di beberapa tempat di Lebanon. Hancurnya jaringan mata-mata Israel itulah yang memaksa Israel menyerahkan pekerjaan memata-matai Hizbollah itu kepada dinas inteligen Amerika, CIA.

Berbeda dengan Israel yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Hizbollah, Amerika adalah negara yang relatif masih sangat berpengaruh di Lebanon terutama di kalangan orang-orang Sunni dan Kristen Lebanon. Amerika bahkan memiliki Universitas Amerika yang terkenal di Beirut. Hubungan yang relatif dekat itulah yang membuat Amerika memiliki "payung" untuk melakukan kegiatan spionasenya di Lebanon. Namun sebagaimana laporan tersebut di atas, Amerika tetap saja gagal memata-matai Hizbollah.



REF:
"CIA Mengaku tidak Mampu Memata-matai Hizbullah"; IRIB INDONESIA; 2 November 2013

Piagam Anugerah, dan Iran

Aisyah Fadiya* - De Ngaden Awak Bisa


Mungkin hiruk pikuk SARA, pertikaian yang hampir tidak ada habisnya antar pemeluk agama (dalam hal ini Islam dan Kristen) membuat kita terlupa dengan apa yang dipesankan Rasulullah saww jauh sebelum kita lahir. Begitu pula dengan yang disampaikan dengan gamblang di dalam Al-Qur’an (Al-Maidah:82)

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri."

Mengingat kembali Piagam Anugerah

Nabi Muhammad saww pernah menulis surat kepada biarawan gereja Catherine Monastery. Surat beliau saww kepada biarawan gereja ini telah dibuktikan keasliannya oleh ilmuwan sejarah, dan kini disimpan di gereja St. Catherine’s Monastery, Bukit Sinai, Mesir. Surat berjudul “Piagam Anugerah” itu diberikan Nabi Muhammad kepada seorang delegasi Kristen yang mengunjungi Nabi pada tahun 628 di Madinah.

Berikut ini terjemahan dalam bahasa Inggris atas dokumen tersebut:

“This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them.
Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them.
No compulsion is to be on them.
Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries.
No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses.
Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet. Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.
No one is to force them to travel or to oblige them to fight.
The Muslims are to fight for them.
If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray.
Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants. No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world).”


Terjemahan dalam bahasa Indonesia :


Ini adalah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai perjanjian bagi siapapun yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, bahwa kami mendukung mereka.

Sesungguhnya saya, para pelayan, para penolong, dan para pengikut saya membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya; dan karena Allah! Saya bertahan melawan apapun yang tidak menyenangkan mereka.

Tidak ada paksaan yang dapat dikenakan pada mereka. Sekalipun oleh para hakim-hakim mereka, maka akan dikeluarkan dari pekerjaan mereka maupun dari para biarawan-biarawan mereka, maka akan dikeluarkan dari biara mereka.

Tidak ada yang boleh menghancurkan rumah ibadah mereka, atau merusaknya, atau membawa apapun daripadanya ke rumah-rumah umat Islam.

Jika ada yang mengambil hal-hal tersebut,maka ia akan merusak perjanjian Allah dan tidak menaati Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutu saya dan mendapatkan piagam keamanan melawan apapun yang mereka benci.

Tidak ada yang dapat memaksa mereka untuk bepergian atau mengharuskan mereka untuk berperang.

Umat Islam wajib bertempur untuk mereka.

Jika ada perempuan Kristen menikahi pria Muslim, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan perempuan itu. Dia tidak dapat dilarang untuk mengunjungi gerejanya untuk berdoa.

Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang memperbaikinya dan menjaga perjanjian-perjanjian sakral mereka.

Tidak ada dari antara bangsa (Muslim) yang boleh tidak mematuhi perjanjian ini hingga Hari Akhir (akhir dunia).

Iran, contoh negara ideal yang patuh terhadap isi Piagam Anugerah
Kalau saya mengangkat sisi ideal Iran versi orang Iran, mungkin itu adalah hal yang lumrah dan tidak istimewa. Namun jika membaca sebuah pernyataan dari orang yang bukan dari Iran, sungguh saya sangat tergetar dan terharu.

Apa suara rakyat Suriah (Kristen) tentang Iran?

Perawan Maria di Republik Islam Iran
Di mana Anda dapat menemukan syariat (Islam) sejati dan Hukum Nasional
Dan keindahan Islam (?)

Ada lebih dari 700 gereja di Iran. Iran bukanlah Arab Saudi dimana agama Kristen dilarang (penyebarannya). Orang Kristen merasa aman di Iran, mereka hidup berdampingan dengan saudara-saudara Muslim mereka. Iran menghormati Alkitab suci seperti bagaimana mereka menghormati Al-Qur'an

Pernyataan dari seorang yang beragama Kristen di Suriah:

"Hidup Republik Islam Iran. Hidup Hizbullah. Saya akan berjuang untuk Iran seperti bagaimana saya akan berjuang untuk tanah air saya, Suriah. Terima kasih kepada Republik Islam Iran yang telah (membantu) melindungi orang Kristen di Suriah sementara (Kristen) barat mendukung pembunuhan orang-orang Kristen di Suriah."



*Blogger, pemerhati masalah-masalah sosial dan kulinter Indonesia.
Tulisan-tulisannya bisa dilihat di daftar referensi atau di sini http://aisyah-fadiya.blogspot.com/

TURKI AKAN USIR DIPLOMAT SAUDI

(BUNTUT KEGAGALAN PROYEK KONFLIK SYRIA, TURKI AKHIRNYA SADAR)

Turki merencanakan akan menutup kantor perwakilan inteligen Saudi di Turki menyusul perselisihan kedua negara terkait konflik Syria dan Mesir. Demikian laporan media Lebanon Al Akhbar mengutip keterangan seorang pejabat Turki. Selama ini Saudi membuka kantor inteligen di Turki untuk mendukung operasi pemberontakan di Syria yang sebagiannya digerakkan melalui Turki.

Menurut sumber Al Akhbar yang tidak disebutkan namanya karena alasan politik, Turki telah menganggap Saudi tidak lagi satu visi dengan Turki dalam masalah konflik Syria di mana Turki cenderung untuk memperbaiki hubungannya dengan Iran dan Syria, sementara Saudi cenderung untuk meningkatkan intensitas konflik Syria.

Hubungan politik Saudi-Turki yang sebelumnya sangat kompak, terutama dalam menyikapi konflik Syria, runtuh seketika setelah tumbangnya kekuasaan Presiden Mesir Mohammad Moersi tgl 3 Juli lalu. Turki dan Saudi mengambil posisi yang berseberangan dalam menyikapi tumbangnya Moersi di mana Turki tetap mendukung Moersi dan mengecam aksi kudeta yang dilakukan militer Mesir, sementara Saudi justru mendukung aksi kudeta tersebut. Namun faktor pemicu utama terputusnya hubungan Saudi-Turki adalah upaya Saudi memarginalkan Turki (dan Qatar) dalam penanganan konflik Syria. Perselisihan tersebut terimplementasikan dalam bentuk pertempuran antara kelompok ISIL dan Al Nusra Front yang didukung Saudi melawan kelompok Free Syrian Army dan Northern Brigade yang didukung Turki. Baru-baru ini ISIL dan Al Nusra berhasil menghancurkan pasukan Northern Brigade dari perbatasan Turki-Syria, meski Turki telah mencoba menyelamatkan pasukan binaannya itu.

Menurut sumber Al Akhbar menlu Saudi Saud al-Faisal telah memperingatkan rekannya dari Turki, Ahmet Davutoglo, bahwa Turki tidak perlu lagi turut campur dalam konflik Syria bahkan seandainya regim Bashar al Assad berhasil ditumbangkan. Saud juga meminta Turki untuk tidak turut campur dalam krisis politik Mesir. Sementara para pejabat Turki melihat Saudi bersama Jordania dan Uni Emirat Arab telah bekerjasama berupaya menghancurkan pengaruh Turki, Qatar, Hamas, dan Muslim Brotherhood.

Konflik Turki-Saudi juga tampak dalam peristiwa tukar tawanan antara Lebanon dan Turki di kota Azzas dekat perbatasan Syria-Turki baru-baru ini. Dalam peristiwa itu para pemberontak Syria dukungan Turki membebaskan warga Lebanon yang diculik mereka dengan imbalan pembebasan 2 pilot Turki yang diculik di Lebanon. Saudi melalui ISIL berusaha menggagalkan pertukaran tersebut karena tidak mendapatkan keuntungan apapun darinya, sebaliknya dengan tetap menahan tawanan Lebanon, Saudi tetap bisa "menekan" Hizbollah.

PRESIDEN TURKI AKHIRNYA SADAR BAHAYA TERORIS

Di sisi lain, semakin berkepanjangannya konflik Syria membuat Presiden Turki Abdullah Gul menyadari bahaya yang dapat ditimbulkannya. Kepada koran Inggris The Guardian, Gul mengingatkan bahwa Syria bisa menjadi Afghanisan di kawasan Mediterania yang mengancam keamanan kawasan tersebut. Peringatan Gul tersebut disampaikannya di sela-sela kunjungan di ibukota Skotlandia, Edinburg, Minggu (3/11).

"Jika atmosfirnya tetap seperti sekarang, maka ini akan semakin menimbulkan radikalisasi yang lebih besar dan beberapa kelompok akan semakin ekstrim. Saya rasa tidak ada yang bisa mentolerir munculnya sesuatu seperti Afghanistan di kawasan pantai Mediterania," kata Gul.

Yang agak mengherankan adalah pengakuan Gul bahwa negaranya telah berusaha mencegah timbulnya konflik bersenjata yang tidak terkendali, sementara pada kenyataannya Turki-lah salah satu pihak yang mendorong timbulnya konflik bersenjata di Syria. Lebih jauh ia bahkan menuduh sekutu-sekutu Turki dalam konflik di Syria telah gagal memberikan dukungan yang cukup bagi Turki untuk melakukan negosiasi dengan pemerintah Syria sebelum terjadinya konflik yang tidak terkendali.

"Kami semua telah bekerja sangat keras (untuk mencegah konflik) dan kami bahkan harus berhadapan dengan sekutu-sekutu kami yang menganggap negosiasi akan berjalan lambat dan tidak memberikan solusi apapun," kata Gul.

Menurut Gul jika saja upaya Turki untuk berunding dengan Bashar al Assad terealisir, maka sebanyak 100 ribu warga Syria tidak akan tewas dan kehancuran pun bisa dihindari.

Sebenarnya Gul tengah menyalahan diri sendiri dan rekannya sesama anggota Partai Keadilan yg menjadi perdana menteri, Recep Erdogan.


REF:
"Turkey Expels Saudi Intelligence over Diplomatic RifT"; ALMANAR.COM.LB; 1 November 2013
"Gul Warns: Syria Becoming “Mediterranean Afghanistan”; ALMANAR.COM.LB; 4 November 2013

Sunday, November 3, 2013

ISRAEL SERANG SYRIA LAGI DAN SYRIA DIAM?

Israel dikabarkan kembali melakukan serangan militer terhadap Syria. Serangan tersebut cukup gencar dikabarkan oleh media-media Timur Tengah, namun media-media barat, kecuali CNN, seolah menyembunyikannya karena maksud tertentu.

CNN dalam laporannya berjudul "Israeli planes strike Syrian military base, US official says" menulis: "Pesawat-pesawat tempur Israel menyerang sebuah pangkalan militer di dekat kota pelabuhan Latakia, Syria, minggu ini. Demikian informasi pejabat Amerika kepada CNN hari Kamis (31/10)".

Serangan tersebut, sebagaimana dilaporkan CNN, ditujukan terhadap rudal-rudal dan senjata-senjata lain yang dikhawatirkan Israel akan dikirimkan Syria kepada Hizbollah. Setelah sebelumnya masih simpang siur tentang waktu terjadinya serangan, laporan terbaru memastikan serangan terjadi Rabu sore (30/10) terhadap pangkalan militer di Snobar yang terletak antara Latakia dan Jableh. Serangan dilakukan dari kawasan Laut Tengah. Hal ini bisa difahami karena Israel memperhitungkin sistem pertahanan udara Syria yang mampu menembak jatuh pesawat-pesawat Israel yang terbang di perbatasan. Belum ada keterangan tentang jumlah korban dalam serangan tersebut.

Meski pemerintah Israel sendiri bungkam tentang laporan itu, media Israel seperti Haaretz menuliskan laporan tentang serangan itu dengan judul "Report: Israel destroyed Hezbollah-bound missile shipment in Syria". Laporan yang sama juga disampaikan media Saudi Al Arabiya hari Kamis (31/10). Ini merupakan serangan ke-lima Israel terhadap Syria tahun ini. Serangan terakhir Israel terjadi tgl 5 Juli lalu terhadap pangkalan militer dekat Samiya, distrik Haffa, Latakia.

Dalam laporannya Haaretz menyebutkan serangan tersebut ditujukan terhadap gudang-gudang penyimpanan rudal SA-8 dan berhasil mengenai sasaran dengan tepat. Rudal SA-8 merupakan rudal anti serangan udara buatan Rusia yang cukup handal dan menjadi batu sandungan yang signifikan dalam setiap misi serangan militer terhadap Syria.

Bungkamnya Syria dan Israel atas insiden serangan tersebut semakin menambah misterius tentang hubungan kedua negara sekaligus menjadi bahan analisa yang sangat menarik. Ini adalah serangan Israel serupa yang ke-sekian kalinya terhadap Syria, di mana setelah serangan-serangan itu kedua negara seolah diam membisu. Meski biasanya pemerintah Syria kemudian mengklaim telah membalas serangan, rakyat Syria umumnya kurang antusias mendengar penjelasan pemerintah dan menuntut pemerintah lebih keras melakukan pembalasan. Media independen Voltaire Net maupun Veterans Today menyebutkan bahwa dalam "Perang Rahasia" itu Syria juga berhasil melakukan tindakan balasan dengan menenggelamkan kapal selam Israel dan menembak jatuh pesawat tempur F-16 Israel.

Saya akan mencoba menganalisanya berdasarkan pengetahuan saya tentang "Perang Rahasia" tersebut. Bungkamnya Israel terhadap aksi militer yang dilakukannya tentu berdasar pertimbangan tidak ingin dicap sebagai agresor yang akan menyulitkan Amerika untuk membantu jika Syria melakukan tindakan balasan besar-besaran. Adapun motif Israel melakukan serangan itu setidaknya ada 2 sasaran: melemahkan kekuatan militer Syria atau memprovokasi Syria untuk melakukan serangan terhadap Israel sehingga Israel dan Amerika memiliki alasan menyerang Syria.

Sementara itu bungkamnya Syria tidak lain karena menghindarkan diri dari terseret dalam perang terbuka melawan Israel dan Amerika yang saat ini tidak mungkin bisa ditanggung Syria, utamanya pada saat harus menghadapi pemberontakan gerombolan-gerombolan mujahilin.

Namun yang lebih menarik perhatian mustinya adalah bungkamnya PBB terhadap aksi Israel yang jelas-jelas melanggar prinsip dasar hubungan internasional, yaitu menyerang negara berdaulat tanpa alasan.

Syria dan Israel secara teknis sebenarnya masih terlibat perang karena usai Perang Yom Kippur tahun 1973 yang melibatkan kedua negara, keduanya belum menyelesaikannya dengan perjanjian damai. Tidak seperti
Mesir, misalnya, yang telah menekan perjanjian damai dengan Israel melalui Perjanjian Camp David. Pada tahun 1982 Syria dan Israel bahkan kembali terlibat perang terbuka setelah Israel menginvasi Lebanon, negara yang waktu itu berada di bawah "perlindungan" Syria yang mendapat mandat dari Liga Arab.

Mengikuti sikap ayahnya (alm) Presiden Haffez al Assad, Presiden Syria saat ini, Bashar al Assad, menolak berdamai dengan Israel sebelum Israel mengembalikan Dataran Golan yang diduduki Israel sejak tahun 1967 melalui Perang 6 Hari, dan nyaris direbut kembali oleh Syria tahun 1973 jika saja Amerika tidak memberikan bantuan tanpa batas (termasuk pesawat dan pilot Amerika yang disamarkan) kepada Israel dalam Perang Yom Kippur. Sejak saat itulah Syria konsisten memilih kebijakan politik anti-Israel meski satu demi satu negara-negara Arab dan Islam jatuh ke dalam cengkeraman pengaruh zionis. Selanjutnya bersama Iran, Hizbollah dan Hamas, Syria membentuk "poros Perlawanan" untuk bersama-sama menghadapi Israel dan sekutu-sekutu Barat dan Arab-nya.

Sebagai wujud kebijakan itu Syria bersekutu dengan Iran, yang dipandang Syria sebagai satu-satunya negara musuh Israel di kawasan Timur Tengah. Tidak heran jika Syria menjadi negara satu-satunya yang membela Iran kala negara itu dikeroyok beramai-ramai oleh negara-negara Arab, Barat dan Israel dalam Perang Iran-Irak tahun 1980-1988. Syria juga bersekutu dengan Iran dalam Perang Lebanon tahun 1982 melawan Israel, Amerika, Perancis dan sekutu-sekutu mereka di Lebanon.



REF:
"Syria: “A Missile from the Sea” Strikes Near Latakia"; AL AKHBAR; 1 NOVEMBER 2013
"Israel’s Syria raid part of US-KSA-Israel strategy"; Tony Cartalucci; PRESS TV; 1 NOVEMBER 2013

MALALA YANG SEBENARNYA? (5)

Keterangan gambar: Malala dan kedua orang tuanya bertemu dengan Richard Helbrooke, pejabat zionis Amerika jauh sebelum penembakan yang menimpa Malala tahun lalu.




Saya (blogger) tentu tidak pernah bermimpi bahwa salah satu situs media terbesar di dunia seperti BBC akan melirik blog ini dan kemudian me-link salah satu tulisan di blog ini di situs mereka. Demikian juga puluhan juta blogger lain di dunia. Namun Malala, seorang bocah perempuan di tempat terpencil yang sulit akses internet, bisa menulis blog yang di-link oleh situs BBC dan bahkan menyediakan kolom khusus untuknya.

Suatu kebetulan atau keajaiban? Saya tidak mempercayai keajaiban, namun saya mempercayai perkataan mantan Presiden Amerika Rossevelt, bahwa dalam politik tidak ada sesuatu yang kebetulan, semuanya adalah rekayasa atau konspirasi. Dan konspirasi itu sudah tampak dari hubungan dekat Malala dengan Amerika dan negara-negara terkooptasi zionis lainnya seperti Inggris.

Selain BBC, Malala juga memiliki kedekatan dengan Adam B. Ellick dari New York Times. Lebih dari itu, Malala dan sekeluarga juga memiliki hubungan dengan Richard Helbrooke, utusan khusus Amerika di Pakistan dan Afghanistan. Kedekatan Malala dengan kedua orang itu terkonfirmasi dari foto-foto di atas.

Adam B. Ellick-lah yang turut berjasa membuat nama Malala semakin melambung di dunia dengan menulis laporan khusus di medianya tentang Malala. Dan siapa Ellick? Scott Creighton, seorang pengamat inteligen Amerika menulis di blog American Everyman tgl 17 Oktober lalu tentang Ellick: "Bertemu Adam Ellick, anggota Council on Foreign Relations dan agen CIA yang ditempatkan di New York Times. Ia-lah orang yang pertama kali membantu menciptakan program "Malala Psyop", dengan tujuan mempromosikan sistem sekolah swasta di Pakistan.”

Laporan New York Times tersebut kontan membuat nama Malala melambung ke seluruh dunia bahkan sebelum insiden "penembakan" yang dialaminya. Media-media Pakistan pun beramai-ramai ikut mempublikasikan ketokohan Malala. Sebagaimana media-media Indonesia, media massa "mapan" Pakistan umumnya tidak lebih dari kepanjangan tangan Amerika. Dari bocoran WikiLeaks yang dirilis tahun 2010 lalu terungkap bahwa "para jurnalis Pakistan sangat mudah dibeli dan akan melakukan apapun untuk bisa diundang ke kedubes Amerika."

Maka pada umur 11 tahun, Malala telah menjadi idola internasional. Pada saat itu ia telah diangkat sebagai Ketua "District Child Assembly" di Swat. Disusul kemudian peraih Nobel Uskup Desmond Tutu dari menominasikannya sebagai peraih hadiah International Children’s Peace Prize tahun 2011. Pemerintah Pakistan pun ikut latah dengan memberinya hadiah “National Youth Prize Award" kepada Malala, dan itu adalah hadiah pertama yang diberikan kepada pemuda-pemudi Pakistan.

Namun "skandal" terbesar tentu saja adalah pertemuan Malala dengan Richard Holbrooke, jauh sebelum semua ketenaran itu diraih Malala. Tidak ada sesuatu yang biasa jika orang sepenting Helbrooke menemui seseorang. 

CIA tahu benar bagaimana memanfaatkan Malala. Seorang gadis kecil dengan wajah tak berdosa, tentu akan mengundang simpati besar jika mendapat perlakuan kasar para "teroris", terutama jika dipublikasikan besar-besaran ke seluruh dunia. Dan Malala pun menjalankan tugasnya dengan baik. Secara terbuka dalam setiap wawancara yang dilakukan Malala menyerang kelompok-kelompok militan Pakistan, hal yang bahkan tidak akan dilakukan para politisi dan pejabat tinggi dengan pengamanan ketat sekalipun.

“Dalam situasi dimana larangan bersekolah dilakukan oleh para teroris, bangkit melawan adalah hal yang sangat penting, esensial," kata Malala dalam satu wawancara televisi.

Terpojok oleh "provokasi" Malala, Taliban pun bereaksi.

"Selama satu dekade terakhir Pakistan telah menjadi ajang pertempuran bagi CIA, MI6 Inggris, BND Jerman, dan Mossad Israel, yang agen-agennya menyusup ke seluruh penjuru negeri, sebagian besar dengan menyamar sebagai jurnalis, pekerja sosial, atau pengusaha. Maka tidak mengherankan jika Malala yang malang digunakan sebagai pion oleh monster-monster itu demi mencapai agenda-agenda mereka. Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengetahui apa agenda Amerika-Inggris-Zionis dan sekutu-sekutu mereka di Pakistan: menjerumuskan pemerintahan dalam konflik bersenjata berkepanjangan  melawan rakyatnya sendiri demi memberi alasan bagi penguasaan senjata-senjata nuklir Pakistan." Demikian tulis Zafar Bangash di situs independen crescent-online.net dalam artikelnya berjudul "Was Malala Yousafzai used for a larger US plan?" akhir tahun lalu.


(BERSAMBUNG)