Thursday, November 29, 2012

Upeti BUMN Lemah Bukti, ‘Skak Mat’ untuk Dahlan

.
JAKARTA – ‘Peluru’ dugaan pemerasan yang dilakukan DPR ke BUMN kini malah berbalik arah ke Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Pasca dilakukan pemeriksaan marathon oleh Badab Kehormatan (BK) DPR, belum ada bukti kuat yang ditemukan. 

Beberapa nama politisi yang disetorkan Dahlan bersikukuh tak ada permintaan ‘upeti’. Lebih ironis, mantan Direktur Utama (Dirut) PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), Sardjono Jhony Tjitrokusumo malah ikut mementahkan tudingan tersebut. Bila hingga pemeriksaan usaha tak juga ditemukan bukti, posisi Dahlan bisa skak mat.

Terkait ‘upeti’ Merpati, BK DPR akhrinya memanggil lagi Dirut-nya, Rudy Setyopurnomo, Selasa (27/11). "Tentunya ada hal yang harus kami klarifikasi dari Pak Rudy," ungkap Ketua BK M Prakosa pagi tadi.Saat ditanya mengapa tidak langsung dikonfrontir dengan keterangan yang berbeda karena Rudy sudah pernah dipanggil sebelumnya, Prakosa menjelaskan klarifikasi masih perlu dilakukan sebelum konfrontir."Tidak, konfrontir nanti dilakukannya. Kita mintai klarifikasi dahulu," jawab politikus PDIP itu.


Sebagaimana diketahui, pada Selasa (20/11) BK DPR sudah pernah memanggil Rudy Setyopurnomo untuk dimintai keterangan terkait keterangan Menteri BUMN Dahlan Iskan kepada BK DPR tentang upaya pemerasan dari anggota DPR kepada Dirut Merpati.
Berdasarkan keterangan, Dahlan Iskan melaporkan upaya pemerasan yang terjadi pada PT Merpati Nusantara Airlines berdasarkan laporan Rudy Setyopurnomo di mana pemerasan terjadi pada saat Merpati dipimpin oleh Dirut sebelumnya Sardjono Jhony Tjitrokusumo.
Namun, mantan dirut yang akrab disapa Jhony itu justru membantah telah terjadi upaya pemerasan terhadap PT Merpati dibawah kepemimpinannya. "Tidak ada yang minta upeti dan tidak ada yang bayar-bayar," ujar Jhnoy Senin, (26/11).

Jhony bahkan melaporkan Rudy Setyopurnomo kepada Polda Metro Jaya pada Jumat (2/11), karena ia merasa namanya telah tercemar lantaran tuduhan dirinya menyetorkan uang ke DPR. "Dalam pertemuan itu, dia (RSP) menyampaikan bahwa saya sebagai Direktur lama menjanjikan uang Rp 18 Miliar pada DPR dan telah membayar Rp 5 miliar," kata Jhony di Mapolda Metro Jaya.

Sementara, Wakil Ketua Komisi IX DPR Zulkifliemansyah tegas mengatakan tak ada pembicaraan permintaan jatah saat bertemu dengan Merpati.

Zulkifliemansyah menceritakan dalam pertemuan 1 Oktober 2012 di ruang pimpinan Komisi XI DPR dilakukan sebelum rapat kerja dimulai. "Kan biasa, kalau rapat sebelum dimulai, kita ngobrol dulu di ruang pimpinan. Saat itu, ada kawan yang tanya soal business plan. Saya khawatir pertanyaan soal business plan dianggap memeras," keluh Zul.

Dia menegaskan nama-nama yang disebut Dahlan Iskan sebagai oknum anggota DPR sebagai pihak pemeras seperti Linda Megawati dan Saidi Butar Butar justru tidak bertanya dalam forum itu.

Bantahan Zulkifliemansyah dan Sardjono Jhony ini melengkapi bantahan sebelumnya dari nama-nama yang dituding Dahlan Iskan sebagai pihak pemeras.

Sebelumnya, M. Hatta yang juga dikatakan ikut dalam pertemuan malah mengklaim dirinya berada di luar Jakarta kala 1 Oktober 2012 siang itu. Hatta menegaskan pada jam sama, dirinya berada di Klaten untuk menjalankan tugas sebagai anggota DPR untuk melakukan sosialisasi UU Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Baik di rapat panja maupun yang katanya kemudian diteruskan pertemuan di ruang pimpinan, saya tidak bisa hadir karena tepat pada waktu yang bersamaan digelarnya rapat itu saya sedang berada di Klaten juga untuk tugas sebagai anggota DPR. Tidak mungkin saya bisa berada di dua tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Saya lebih tahu diri saya sendiri, saya tidak sesakti yang di bayangkan Dahlan Iskan," lanjut Hatta sembari tertawa.



Ket:
Dicopas dari Surabaya Post Online; 27 November 2012

KAPAL PERANG IRAN KEMBALI KE SUDAN

Kapal-kapal perang Iran bakal kembali merapat ke Sudan Jum'at (29/11). Ini adalah yang kedua kalinya kapal-kapal Iran merapat di Sudan sejak pemerintah Sudan menuduh Israel berada di balik pemboman pabrik senjata miliknya di luar kota Khartoum, bulan lalu. Kunjungan kapal tersebut merupakan bentuk dukungan serius Iran terhadap Sudan dalam konflik yang tengah dihadapi dengan Israel.

Hubungan Sudan dengan Iran kini menjadi perhatian serius Israel dan sekutu-sekutunya, terutama setelah terjadinya serangan terhadap pabrik senjata Sudan tgl 23 Oktober lalu. Sudan menuduh Israel sebagai pelaku serangan pabrik senjata yang dicurigai Israel sebagai pemasok senjata untuk para pejuang Palestina di Gaza. Para diplomat barat menuduh pabrik senjata tersebut dibangun oleh para ahli Iran. Pemerintah Sudan sudah membantah tuduhan tersebut.

"2 kapal perang Iran juga akan mengunjungi Pelabuhan Sudan pada tgl 30 November dan akan tinggal selama 3 hari dalam rangka mengikuti kerjasama maritim dengan Sudan," kata Sawarmi Khaled Saad, jubir militer Sudan kepada kantor berita Sudan, SUNA, Rabu (28/11).

Sebuah kapal perang Pakistan juga bakal mendarat di Sudan pada hari yang sama. Menurut Saad ketiga kapal akan melakukan pengisian bahan bakar dan logistik.

Pada akhir bulan lalu 2 kapal perang Iran juga telah merapat di pelabuhan Sudan selama 2 hari, hanya beberapa hari setelah insiden penyerangan pabrik senjata Sudan. Pemerintah Sudan menyebut kunjungan kapal-kapal perang itu sebagai bentuk "hubungan yang kuat di bidang politik, keamanan dan diplomatik" antara Sudan dan Iran.

Meski pemerintahnya diam, pers Saudi Arabia mengecam keras kunjungan kapal-kapal perang yang mengangkut pasukan khusus Iran tersebut. Kedua kapal tersebut adalah kapal pengangkut logistik "Kharg" dan corvet "Admiral Naghdi". Belum ada keterangan tentang nama-nama tiga kapal Iran yang bakal merapat di Pelabuhan Sudan minggu ini.

Pers Iran menyebut kunjungan kapal-kapal perang "Kharg" dan "Admiral Naghdi" sebagai "pesan perdamaian dari Iran kepada negara-negara di kawasan serta menjaga keamanan jalur laut dari ancaman terorisme".

Seorang pejabat tinggi keamanan Israel, Amos Gilad, secara terbuka menuduh Sudan sebagai penyalur persenjataan Iran untuk para pejuang Palestina melalui wilayah Sinai, Mesir.

Dalam "Perang 8 Hari Gaza" antara Israel dengan para pejuang Palestina di Gaza baru-baru ini, para pejuang Palestina telah mengejutkan Israel dengan kemampuannya menembakkan roket-roket Fajr-5 buatan Iran yang mampu menjangkau ibukota Israel Tel Aviv dan memaksa lebih dari sejuta warga Israel tinggal di lobang perlindungan. Inilah faktor utama penghentian serangan Israel atas Gaza.

Khaled Meshaal, pemimpin kelompok perjuangan Palestina HAMAS diketahui kini sering berada di Sudan. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam Sudan tgl 15 November lalu, Meshaal menyebut Sudan sebagai "pendukung terpenting HAMAS".



Ref:
"Iran warships returning to Sudan: military"; the Daily Star Lebanon; 26 November 2012

KUDETA MILITER AMERIKA (4)

Seperti Jendral George Marshall yang pada malam 6 Desember 1941 "pergi bersantai" karena ingin Jepang benar-benar menyerang Pearl Harbour demi menghancurkan kredibilitas Presiden Roosevelt, Petraeus juga tengah bersantai menonton film di kedubes Kanada bersama aktor Ben Afflek, saat serangan ke konsulat Amerika di Benghazi terjadi.

Selain Petraeus yang didepak dari jabatannya sebagai Direktur CIA, sejumlah besar perwira tinggi dan menengah juga mengalami pembersihan. Berikut adalah sebagian di antaranya:

Jendral Marinir John R. Allen. Saat ini adalah komandan tertinggi pasukan Amerika di Afghanistan. Dinomasikan sebagai panglima tertinggi NATO menggantikan Admiral Stavridis, Obama kini menggantungkan nasib kariernya. Ia dituduh menjalin hubungan tidak patut dengan seorang hostess di Tampa, Florida, serta dengan sosialita Jill Kelley.

Kelley, keturunan Lebanon, bernasil masuk dalam lingkaran dalam perwira-perwira tinggi di McDill Air Force Base, lokasi komando tertinggi AB Amerika. Allen dan Petraeus menulis sejumlah besar surat dan e-mail kepada seorang pengacara pembela saudara kembar Kelley yang tengah dilanda kasus perebutan anak. Allen mengirim tidak kurang dari 30.000 halaman surat atau e-mail selama beberapa tahun. Allen menolak tuduhan telah melakukan tindakan yang salah, namun nasibnya telah ditentukan.

Jendral Carter Ham, komandan US Africom, komando pasukan Amerika di Afrika yang membawahi Libya. Ia dianggap turut bertanggungjawab atas kegagalannya memberikan bantuan kepada konsulat Amerika yang diserang. Pada tgl 18 Oktober ia dipecat dari jabatannya meski menhan Leon Panetta mengumumkannya sebagai pengunduran diri.

Admiral James G. Stavridis yang tengah menjabat komandan tertinggi NATO juga bakal mengalami nasib serupa. Ia secara resmi telah dituduh oleh kastaf AL Ray Mabus sebagai "pemboros" yang telah menghambur-hamburkan uang untuk gaya hidup mewahnya, termasuk makan malam di restoran mewah di Perancis.

Jendral William E. “Kip” Ward, komandan US Africom antara Oktober 2007 hingga Maret 2011. Ia dituduh telah menghabiskan ribuan dolar uang negara untuk keperluan pribadi. Pada tgl 13 November lalu ia dihukum denda senilai $82,000 dan diturunkan pangkatnya dari bintang tiga menjadi dua.

Letjend Patrick J. O’Reilly, Direktur Pertahanan Rudal kemenhan Amerika. Ia dituduh telah melakukan tindakan-tindakan kekerasan kepada bawahannya. Ia dicopot dari jabatannya dan diturunkan pangkatnya satu bintang.

Rear Admiral Chuck Gaouette, komandan gugus tugas yang dipimpin kapal induk (Carrier Strike Group) USS John Stennis di Laut Arab dekat Iran. Ia dinyatakan telah menjalankan "komando yang tidak patut" dan ditarik dari posnya.

Brigjen Jeffrey Sinclair, deputi komandan Divisi ke-82 Lintas Udara yang berkedudukan di Fort Bragg, North Carolina, sekaligus menjadi tokoh kunci urusan logistik untuk Afghanistan. Ia dituduh telah memperkosa seorang perwira menengah wanita bawahannya dalam keadaan mabok. Kariernya dipastikan berakhir tragis.

Commander Joseph E. Darlak, komandan kapal frigat USS Vandegrifft. Bersama 2 perwira senior lainnya dituduh melakukan tindakan asusila selama kunjungan ke Vladiwostok, Rusia.

Christopher E. Kubasik, dipecat dari jabatannya sebagai Presiden sekaligus Chief Operating Officer dari Lockheed Martin Corp., perusahaan kontraktor militer terbesar Amerika pada tahun 2008 and 2009. Ia dituduh telah melakukan tindakan asusila dengan bawahannya.

Dan masih banyak lagi kasus pemecatan yang dihubung-hubungkan dengan plot kudeta militer terhadap Presiden Barack Obama.

Tidak lama setelah pemilihan presiden yang dimenangkannya, Barack Obama memerintahkan jendral kesayangannya yang menjabat kepala staff gabungan Jendral Patrick Dempsey, untuk melakukan penyelidikan terhadap sejumlah besar perwira karena tindakan-tindakan pelanggaran kedisiplinan. Publik melihat hal itu sebagai upaya penegakan disiplin semata meski yang terjadi sebenarnya adalah suatu operasi pembersihan terhadap perwira-perwira yang loyalis saingan Obama, Mitt Romney, yang berambisi mengembalikan kepemimpinan nasional ke kalangan "garis keras".

Dengan tersingkirnya figur-figur "gila perang" tersebut di atas, Israel mengalami kesulitan untuk mengkampanyekan serangan atas Iran, sehingga harus "mundur" ke pilihan yang lebih kecil, yaitu Perang Gaza, dengan tujuan mengkonsolidasikan kembali semangat perang bersama antara Amerika-Israel sementara pilihan-pilihan yang lain dikaji kembali.


LUKA PARAH NAMUN MASIH BERBAHAYA

Kelompok "gila perang" memang mengalami luka parah setelah pembersihan Obama, namun tidak bisa dipungkiri, mereka kini menjadi lebih berbahaya.

Kelompok militer garis keras tumbuh solid paska Serangan WTC 11 September 2001 yang hampir dipastikan melibatkan mereka bersama inteligen Israel.

Pada tahun 2007 Wapres Dick Cheney, seorang neokonservatif, menyerukan serangan terhadap Syria, namun tidak disetujui Presiden George W. Bush. Beberapa waktu kemudian, pada bulan Agustus, sebuah pesawat bomber strategis B-52 bermuatan 6 rudal jelajah berkepala nuklir dibajak oleh satu kelompok prajurit "gila perang" dan terbang dari North Dakota ke Louisiana, diperkirakan akan menjalankan misi pemboman di Timur Tengah untuk memicu perang dengan Iran. Pesawat itu dipaksa mendarat di pangkalan udara Barksdale AFB di Louisiana. Beberapa bulan kemudian menhan Robert Gates memecat Kastaf AU Marsekal T. Michael Moseley dan Sekretaris AU Marsekal Michael W. Wynne karena kasus tersebut.

Pada Desember 2009, seorang warga Nigeria ditangkap karena membawa bom di bandara Detroit. Sebulan kemudian MSNBC melaporkan bahwa pemerintahan Obama mengindikasikan keberadaan plot yang terlibat dalam upaya pengeboman di Detroit. Asisten menlu Patrick Kennedy mengatakan kepada Senat bahwa seorang pejabat kemenlu telah mencegah upaya pencabutan visa tersangka.

Barack Obama sempat menghentikan penyelidikan atas keberadaan kelompok "garis keras" yang mengincar jabatan presiden, hanya untuk memberi kesempatan terjadinya serangan konsulat Amerika di Benghazi.



 

Sumber:
"Coup and Counter-Coup in Washington"; Webster Tarpley; Press TV; 19 November 2012

Wednesday, November 28, 2012

TERIMA KASIH IRAN

Billboard yang menunjukkan penghargaan rakyat Gaza terhadap Iran yang secara nyata telah banyak mendukung perjuangan mereka, terutama dengan pengiriman senjata-senjata dan roket yang membuat Israel menghentikan serangan. Di Gaza kini banyak terdapat berbagai bentuk ekspresi penghargaan terhadap Iran, terutama graffiti, baliho dan billboard.

Sebaliknya kepada negara Arab yang hanya bisa berbicara tanpa bertindak, para pejuang Palestina di Gaza mengolok-olok mereka. Inilah sebagian dari syair lagu perjuangan mereka.

oh negara-negara Teluk, diamlah!
semua kebaikan yg kamu bisa lakukan hanyalah mengadakan konperensi

cara hidup rendahan itu tidak sama dengan darah kami
Kami ingin menghantam Tel Aviv

negara-negara Teluk dan berjuata-juta rakyatnya hanya bisa berarti dengan dukungan NATO
pernyataan-pernyataan mereka tidak berguna bagi kami

Monday, November 26, 2012

TENTANG DONASI UNTUK BLOG INI

Baru-baru ini blogger mendapatkan banyak "cibiran" dari para facebooker group "Save Dahlan Iskan" terkait dengan adanya himbauan pemberian donasi dalam blog ini. Tanpa dasar kuat seorang di antara mereka bahkan menyamakannya dengan tindakan tercela yang berdosa.

Saya faham bahwa sebagian besar dari masyarakat Indonesia, bahkan yang sudah mulai melek internet sekalipun, masih menganggap "tabu" hal ini (himbauan donasi), seolah-olah orang yang melakukannya adalah seperti "pengemis". Namun bagi mereka yang sudah berfikiran maju, hal ini tentu jauh berbeda. Mereka akan menganggap sudah sewajarnya seseorang yang telah memberikan pengorbanan untuk mendapatkan imbalan sewajarnya.

Hampir seluruh media online independen (yg dalam batas tertentu tidak terafiliasi dengan korporet atau kelompok politik tertentu) mengandalkan donasi untuk menghidupi dirinya. Bahkan newsletter online sekaliber Democracy Now, American Free Press atau Counterpunch saja mengandalkan donasi. Apalagi blog-blog yang dikelola oleh individu-individu seperti Jeff Rense, David Duke, David Icke, Incogman, dan masih banyak lagi.

Bagi mereka tentu saja berlaku prinsip profesionalisme. Jika Anda mendapatkan sesuatu yang bermanfaat, sudah sewajarnya Anda memberikan imbalan.

Bagi blogger sendiri tentu saja bukan prinsip profesionalisme yang menjadi dasar himbauan pemberian donasi. Blogger lebih mengedepankan prinsip "pengorbanan" yang menurut pemahaman blogger merupakan salah satu prinsip kehidupan beragama. Bagi agama Islam terdapat kewajiban seseorang untuk berkorban sebagaimana tercantum dalam al Qur'an (ma'af saya lupa nama surat dan ayatnya) yang kira-kira terjemahannya sbb:

"Belum sempurna iman seseorang sebelum ia mengorbankan sebagian harta yang dicintainya."

Allah yang maha kaya tentu saja tidak pernah butuh pengorbanan hamba-hambanya. Namun Allah menghendaki hamba-hambanya untuk bersikap "tahu diri". Menyadari bahwa mereka telah mendapatkan nikmat begitu besar dari Tuhannya, sudah sewajarnya mereka memberikan imbalan berupa pengorbanan yang diatur oleh syariat agama. Dengan sikap "tahu diri" itulah manusia akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul yang peduli dengan sesamanya dan memberikan banyak manfaat kepada lingkungan sekitarnya.

Dalam konteks itulah blogger mengajak para pengunjung setia blog ini untuk mengikuti prinsip pengorbanan dengan menyisihkan sebagian dari hartanya untuk mendukung keberadaan blog ini. Blogger pun telah banyak memberikan pengorbanannya untuk menjaga keberadaan blog ini, mungkin bukan dalam bentuk materi meski terkadang materipun harus dikorbankan dalam kondisi tertentu, melainkan waktu, tenaga dan pikiran.

Demikian atas perhatian dan dukungan para pengunjung blog, saya ucapkan
terima kasih.


Hormat saya,
Blogger,

Cahyono Adi


NB:
* sampai 2 bulan telah adanya pengumuman donasi di blog ini, blogger sudah mendapatkan donasi senilai hampir Rp 2 juta. Terima kasih kepada pengunjung setia yang telah rela mengorbankan sebagian pendapatannya, dan kepada yang belum blogger hanya bisa menyampaikan himbauannya.

** Blog ini juga semakin ramai pengunjung, terutama tambahan dari para Dahlan Iskanis. Dalam beberapa hari terakhir blog ini telah menerima hits sebanyak 4.000 hingga 6.000 per-hari.

KUDETA MILITER AMERIKA (3)

Satu lagi tragedi 11 September (kali ini th 2011), penyerangan kantor konsulat Amerika di Benghazi Libya yang menewaskan dubes Amerika.

Konsulat Amerika di Benghazi merupakan markas besar CIA di Libya yang memiliki pertahanan ketat. Dubes Stevens adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan CIA dan kaki tangannya dan bahkan menjadi "penghubung" antara CIA dengan kelompok-kelompok teroris yang terafiliasi al Qaida di kawasan Benghazi-Derna-Tobruk, yang oleh CIA dijadikan sumber kekuatan dalam penyerangan terhadap Syria.

Stevens sama sekali tidak merasa takut pada para teroris itu karena kedudukannya serta kedekatannya dengna mereka. Namun ternyata nasibnya harus berakhir di tangan sekelompok teroris binaan CIA, Sufiyan Qumu. Sufiyan Qumu adalah anggota Al Qaida yang pernah menjadi tahanan Guantanamo, namun dibebaskan CIA untuk digunakan sebagai alat menjungkalkan Ghadaffi. Sementara sejumlah besar sekutu-sekutu CIA lainnya yang berada di dekat Benghazi justru mendapat perintah untuk diam saat kantor konsulat Amerika diserang. Kaki tangan CIA lainnya, kelompok Brigade 17 yang juga banyak terlibat dalam serangan teroris di Syria dan berada di dekat Benghazi, juga diam membisu.

Direktur CIA Jendral Petraeus saat itu pergi ke bioskop. Tgl 14 September di hadapan anggota senat yang meminta pertanggungjawabannya atas insiden di Benghazi menyebut insiden tersebut sebagai aksi spontan yang berubah menjadi amuk massa.

Petraeus diangkat menjadi Direktur CIA pada tgl 6 September 2011. Dalam waktu 1 bulan saja ia telah mengeluarkan provokasi terhadap Iran berupa kampanye tuduhan rencana pembunuhan dubes Arab Saudi di Amerika oleh anggota-anggota Tentara al Quds Iran. Suatu tuduhan yang sebentar saja terbantah dengan sendirinya karena kecerobohan penyusunan skenarionya. Namun yang jelas adalah provokasi itu dilakukan untuk meningkatkan ketegangan Iran-Amerika dan menyabotase upaya diplomatik yang dilakukan Presiden Obama.

Oleh kalangan politisi Washington, Jendral Petraeus dijuluki sebagai Jendral Betray-US (pengkhianat Amerika), panglima kesayangan Presiden George Bush yang menjadi provokator dilakukannya operasi militer besar-besaran di Irak paska kejatuhan regim Saddam Hussein. Para pengikut kebijakan luar negeri "garis keras" Amerika yang disebut neo-konservatif melihatnya sebagai alat yang tepat untuk mengembalikan kekuasaan Amerika kepada mereka setelah "kekalahan" Amerika di Afghanistan dan Irak.

KUDETA MILITER AMERIKA (2)

Dua orang perwira kembali dicopot dari jabatannya dalam satu "episode" pertikaian antara para politisi melawan perwira Amerika yang kini tengah berlangsung. Satu plot militer "garis keras" dicurigai telah melakukan rencana untuk mengkudeta Barack Obama setelah terpilih sebagai presiden untuk periode kedua, dan kini Obama berupaya membersihkan plot tersebut.

Kedua perwira yang dicopot dari jabatannya adalah Kapten Ted Williams, komandan kapal komando amphibi USS Mount Whitney, serta komodor Ray Hartman, komandan kapal USS Fort McHenry.

Demikian serius pertikaian yang terjadi antara politisi dan komandan militer hingga kolumnis The Washington Post, David Ignatius harus menulis kolom berjudul "A Modern Witch Hunt" di korannya, 18 November lalu. Ia menyarankan agar pemerintahan Barack Obama untuk memperlunak sikapnya terhadap para perwira, dengan menggambarkan upaya pembersihan Obama sebagai "cahaya matahari yang bisa membahayakan pada kondisi tertentu". Menurut Ignatius, pembersihan yang tidak terkendali akan menyeret Amerika dalam kekacauan yang menghancurkan segalanya.

Sepanjang sejarah manusia, hubungan antara politisi dengan perwira militer dipenuhi banyak warna meski keduanya saling membutuhkan: politisi membutuhkan tentara untuk menjaga kekuasaan mereka, sementara tentara membutuhkan politisi untuk menggaji mereka.

Terkadang hubungan itu memang begitu "mesra" seperti saat Jendral Mundus dan Belisarius mati-matian membela Kaisar Justinianus menghadapi dan mengalahkan pemberontakan rakyatnya. Namun seringkali hubungan itu merupakan tragedi. Terkadang jendral-jendral "menghabisi" para politisi. Sejarah mencatat raja Persia Darius tewas dibunuh jendralnya sendiri saat menghindari kejaran Alexander the Great. Kaisar Romawi Caligula juga tewas dibunuh pengawalnya sendiri. Sementara di era modern Presiden Pakistan Ali Butho dihukum mati oleh jendralnya sendiri, Zia Ul Haq. Sementara Presiden Chili Salvador Allende ditembak mati tentaranya dalam satu kudeta berdarah.

Namun sering juga para politilah yang "menghabisi" para perwira. Hitler mengeksekusi belasan jendralnya yang dianggap kurang loyal selama Perang Dunia 2. Presiden Perancis De Gaulle juga pernah menangkapi para perwiranya yang membangkang perintahnya selama Revolusi Aljazair tahun 1960-an. Dan kini Presiden Amerika Barack Obama meniru langkah De Gaulle.

Tahun ini, sekelompok jendral "garis keras" yang ingin melanjutkan kebijakan neo-conservatif berusaha memenangkan kandidat presiden Mitt Romney dengan merancang insiden penyerangan kantor konsulat Amerika di Benghazi, Libya. Dan jika ternyata Romney kalah, mereka siap untuk melakukan kudeta terhadap Obama.

Pendukung Romney adalah para pengusung George Bush Jr dahulu yang dikenal sebagai orang-orang neo konservatif, orang-orang sipil (sebagian besar keturunan yahudi) yang terobsesi dengan cita-cita "Israel Raya" dengan menghancurkan negara-negara Islam di sekelilingnya. Romney juga didukung oleh Mafia Mormon, sekelompok pejabat inteligen CIA yang menginginkan dominasi militer Amerika di dunia.

Adapun pendukung Obama adalah para pejabat sipil dan militer menginginkan Amerika menerapkan kebijakan "kekuatan yg lembut" yang menjauhi campur tangan langsung militer Amerika dalam berbagai masalah internasional. "Kekuatan lembut" mengandalkan "perang cyber", pengarahan drone, pembunuhan dan terorisme, serangan militer terbatas. Dan jika pendukung Romney mengandalkan aksi militer, pendukung Obama lebih menyukai campur tangan tidak langsung. Libya dan Syria adalah contoh pendekatan yang dilakukan Obama, tanpa campur tangan langsung. Contoh lainnya adalah Revolusi Cedar di Lebanon dan Revolusi Hijau di Iran yang mengalami kegagalan.

(bersambung)